BAB 5. PEMBAHASAN
5.3 Komunikasi
Komunikasi adalah salah satu sarana untuk menyebarluaskan informasi atau perintah dari atasan kepada bawahan maupun dari bawahan kepada atasan. Informasi yang diberikan harus jelas, akurat dalam waktu penyampaian informasi dan informasi yang disampaikan harus konsisten atau tetap atau yang berarti tidak ditambah-tambahkan atau dikurangi.
Menurut Hovland, Janis & Kelley (1953) dalam Widodo (2007) komunikasi adalah suatu proses melalui seseorang (komunikator) menyampaikan stimulus (biasanya dalam bentuk kata-kata) dengan tujuan mengubah atau membentuk perilaku orang-orang lainnya. Sedangkan Harold Laswell (1996) dalam Widodo (2007) menyebutkan komunikasi pada dasarnya merupakan suatu proses yang menjelaskan
“siapa” mengatakan apa dengan saluran apa kepada siapa, dan dengan akibat apa atau hasil apa. Paradigma Laswell menunjukkan bahwa komunikasi meliputi lima unsur yaitu komunikator, pesan, media, komunikan dan efek.
Secara umum Edward membahas tiga hal penting dalam proses komunikasi kebijakan, yakni transmisi, konsistensi dan kejelasan. Persyaratan pertama bagi implementasi kebijakan yang efektif adalah bahwa mereka yang melaksanakan keputusan harus mengetahui apa yang harus mereka lakukan.
a. Transmisi
Untuk menjalankan proses sosialisasi suatu kebijakan dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti seremoni penandatanganan naskah kebijakan publik, pemberitaan di media massa, seminar, ceramah, dialog interaktif melalui media elektronik ataupun melalui sarana promosi lainnya seperti penyebaran booklet, spanduk,poster dan lain sebagainya.
b. Konsistensi
Konsistensi informasi juga merupakan hal penting pada proses komunikasi suatu kebijakan publik. Menurut Subarsono (2005), konsistensi informasi berarti informasi yang disampaikan harus jelas dan tidak berubah-ubah. Informasi yang berubah-ubah akanmeyebabkan kebingungan ataupun penafsiran berbeda dalam mengimplementasikan suatu kebijakan.
c. Kejelasan Informasi
Menurut Edward dalam Winarno (2012), kebijakan akan berjalan efektif apabila informasi yang disampaikan jelas. Ketidakjelasan pesan pada proses komunikasi dapat menyebabkan interpretasi yang salah bahkan bertentangan dengan makna pesan awal.
Pada pelakasanaan program IMD di RSUD Kota Padangsidimpuan komunikasi
belum optimal dilaksanakan, karena belum adanya sosialisasi IMD secara khusus yang diberikan oleh pihak rumah sakit kepada bidan pelaksana IMD. Informasi mengenai IMD hanya diperoleh pada saat pelatihan APN yang diselenggrakan oleh rumah sakit dan Dinas Kesehatan Kota Padangsidimpuan. Menurut Widjaja (2000), unsur-unsur yang terdapat dalam setiap proses komunikasi terdiri dari :
1. Sumber Pesan
Adalah dasar yang digunakan dalam penyampaian pesan dan digunakan dalam rangka memperkuat pesan itu sendiri. Dalam pelaksanaan Program IMD sumber pesan yang dimaksud adalah Keputusan Menteri Kesehatan RI No.
450/MENKES/SK/VI/2004 tentang pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif pada bayi di Indonesia sejak lahir sampai bayi berumur 6 (enam) bulan dan dianjurkan dilanjutkan sampai anak usia 2 (dua) tahun dengan pemberian makanan tambahan yang sesuai.
b. Komunikator
Adalah orang atau kelompok yang menyampaikan pesan kepada orang lain, yang meliputi penampilan, penguasaan masalah dan penguasaan bahasa. Dalam pelaksanaan IMD, seharusnya RSUD Kota Padangsidimpuan telah mempersiapkan anggotanya yang telah terlatih untuk menyampaikan sosialisasi perihal pelaksanaan IMD kepada seluruh bidan termasuk bidan yang bertugas di unit bersalin.
c. Komunikan
Adalah orang yang menerima pesan.Dalam mensosialisasikan pelaksanaan IMD yaitu seluruh bidan di RSUD Kota Padangsidimpuan dan para penanggung
jawab program, yaitu kepala ruang kebidanan dan direktur rumah sakit.
d. Pesan
Adalah keseluruhan dari apa yang disampaikan oleh komunikator, dimana pesan ini mempunyai pesan yang sebenarnya menjadi pengarah dalam usaha mencoba mengubah sikap dan tingkah laku komunikan. Adapun unsur-unsur yang terdapat dalam pesan meliputi : cara penyampaian pesan, bentuk pesan (informatif, persuasif, koersif), merumuskan pesan yang mengena (umum, jelas, gamblang, bahasa jelas, positif, seimbang, sesuai dengan keinginan komunikan).
e. Media
Adalah sarana yang digunakan komunikator dalam penyampaian pesan agar dapat sampai pada komunikan, meliputi media umum dan media massa. Media audio visual merupakan media yang cukup efektif dan dapat dijadikan pilihan dalam pelaksanaan sosialisasi IMD.
f. Efek
Adalah hasil akhir dari suatu komunikasi, yakni apabila sikap dan tingkah laku orang lain itu sesuai, maka komunikasi dianggap berhasil dan demikian sebaliknya. Indikator keberhasilan sosialisasi pelaksanaan IMD salah satunya dapat dilihat dari banyaknya bayi yang dilakukan tindakan IMD oleh bidan pelaksana IMD.
Untuk Standar Pelayanan Prosedur (SOP) sendiri belum terdapat pada RSUD Kota Padangsidimpuan. SOP adalah pedomanan atau acuan untuk melaksanakan tugas dan pekerjaan sesuai dengan fungsi dan alat penilaian kerja instansi pemerintah berdasarkan indikator-indikator teknis dan prosedural dengan tata kerja, prosedur
kerja dan sistem kerja pada unit yang bersangkutan. Adanya SOP dimaksud untuk untuk memberikan konsep yang jelas, bisa dipahami oleh semua orang dan dituangkan pada satu dokumen prosedural dalam setiap kegiatan. SOP merupakan salah satu struktur yang penting dan menjadi pedoman bagi implementer dalam implementasi kebijakan. Pelayanan program IMD seharusnya dipandu oleh pedoman dan prosedur tetap pelaksanaan yang sudah teruji. Sesuai dengan peraturan yang dikeluarkan oleh WHO setiap pelayanan kesehatan termasuk rumah sakit berbasis RSSIB harus melakukan “Sepuluh Langkah Sukses Menyusui” salah satunya adalah memiliki kebijakan tertulis mengenai menyusui yang rutin disampaikan kepada semua staf petugas kesehatan. (UNICEF, WHO 2009)
Dalam rangka memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu, maka hanya dapat diberikan bila memenuhi kriteria baku yaitu protap atau SOP. Pelayanan bermutu hanya dapat diberikan oleh tenaga kesehatan yang berkompeten dari mulai bidan ditingkatan dasar sampai dokter di rumah sakit yang berfungsi penuh sebagai penyelenggara pelayanan SOP atau protap seyogiyanya mengacu pada panduan yang dibuat organisasi profesi.
Hasil penelitian Sari (2008) menunjukkan bahwa pemahaman informan terhadap tujuan dan pentingnya prosedur tetap penting bagi peningkatan kulitas pelayanan dan dalam meningkatkan efektifitas suatu sistem pelayanan.Kecenderungan ini tentunya berpengaruh terhadap pelayanan yang diberikan.Menurut Azwar (2010) mematuhi pedoman atau prosedur tetap semakin baik dalam pencapaiaan standar pelayanan dan kepatuhan dalam melaksanakan prosedur kerja dan dapat meningkatkan
pelayanan Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi sehingga menunjang keberhasilan pelayanan rumah sakit secara menyeluruh.
Penggunaan SOP atau prosedur tetap dalam pelayanan agar memperlancar tugas pegawai, tim atau unit kerja, sebagai unsur hukum apabila terjadi penyimpangan, mengetahui dengan jelas hambatan-hambatannya dan mudah untuk dilacak, mengarahkan petugas atau pegawai untuk sama-sama disiplin dalam bekerja sebagai pedoman melaksanakan pekerjaan rutin. (Nursyamsiah, 2009)
Untuk pemberian informasi mengenai IMD oleh bidan kepada ibu bersalin belum optimal dilaksanakan, karena 3 ibu bersalin menyatakan belum pernah diberikan informasi sebelumnya sekalipun ibu tersebut melakukan pemeriksaan kandungan di rumah sakit.Untuk itu diharapkan kepada bidan pelaksana IMD memberikan informasi mengenai IMD kepada ibu hamil pada saat melakukan pemeriksaan kandungan, agar pada saat bersalin tidak terjadi penolakan secara spontan dari ibu bersalin maupun dari keluarga.