• Tidak ada hasil yang ditemukan

IMPLEMENTASI PROGRAM INISIASI MENYUSU DINI DI RSUD KOTA PADANGSIDIMPUAN TESIS. Oleh HAMIDA HARAPAN SIREGAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "IMPLEMENTASI PROGRAM INISIASI MENYUSU DINI DI RSUD KOTA PADANGSIDIMPUAN TESIS. Oleh HAMIDA HARAPAN SIREGAR"

Copied!
144
0
0

Teks penuh

(1)

IMPLEMENTASI PROGRAM INISIASI MENYUSU DINI DI RSUD KOTA PADANGSIDIMPUAN

TESIS

Oleh

HAMIDA HARAPAN SIREGAR 157032084

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2018

(2)

IMPLEMENTATION OF EARLY BREASTFEEDING PROGRAM IN RSUD PADANGSIDIMPUAN

THESIS

By

HAMIDA HARAPAN SIREGAR 157032084

MASTER IN PUBLIC HEALTH SCIENCE STUDY PROGRAM FACULTY OF PUBLIC HEALTH

UNVERSITY OF SUMATERA UTARA MEDAN

2018

(3)

IMPLEMENTASI PROGRAM INISIASI MENYUSU DINI DI RSUD KOTA PADANGSIDIMPUAN

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat

untuk Memperoleh Gelar Magister Kesehatan Masyarakat (M.K.M) dalam Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Peminatan Adminsitrasi Kebijakan dan Kesehatan

pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara

Oleh

HAMIDA HARAPAN SIREGAR 157032084

PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2018

(4)

Judul Tesis : Implementasi Program Inisiasi Menyusu Dini di RSUD Kota Padangsidimpuan

Nama Mahasiswa : Hamida Harapan Siregar Nomor Induk Mahasiswa : 157032084

Program Studi : S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Peminatan : Administrasi dan Kebijakan Kesehatan

Menyetujui Komisi Pembimbing :

(Dr. Juanita, SE, M.Kes)

Ketua Anggota

(Ir. Etti Sudaryati, M.K.M, Ph.D)

Ketua Program Studi Dekan

(Ir. Etti Sudaryati, M.K.M, Ph.D) (Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si)

Tanggal Lulus : 5 Februari 2018

(5)

Telah diuji

Pada Tanggal : 5 Februari 2018

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Dr. Juanita, SE, M.Kes

Anggota : 1. Ir. Etti Sudaryati, M.K.M, Ph.D

2. Destanul Aulia, S.K.M, M.B.A, M.Ec, Ph.D 3. Dr. Asfriyati, S.K.M, M.Kes

(6)

ABSTRAK

Rumah sakit umum kota Padangsidimpuan merupakan RSSIB yang terdapat program IMD (Inisiasi Menyusu Dini). Data yang diperoleh dari RSUD Kota Padangsidimpuan pada tahun 2014 terdapat 14,24% persalinan normal dengan IMD sedangkan persalinan normal dengan IMD pada tahun 2015 sebesar 9,74%. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis implementasi program IMD di RSUD Kota Padangsidimpuan. Pelaksanaan penelitian di unit ruang bersalin dengan menggunakan penelitian kualitatif deskriptif dengan jumlah informan 10 orang yang terdiridari 5informan utama dan 5 informan triangulasi.

Hasil penelitian menunjukkan cakupan bayi yang di IMD cenderung mengalami penurunan. Pada variabel komunikasi, proses komunikasi belum berjalan dengan baik karena belum adanya sosialiasi mengenai IMD dari rumah sakit kepada para bidan pelaksana IMD dan belum terdapat pedoman kerja yang tertulis dari pihak rumah sakit. Pada variabel sumber daya jumlah SDM (Sumber Daya Manusia) sudah mencukupi dengan baik dan kualitas bidan sudah cukup baik yaitu pendidikan rata- rata D3 Kebidanan dan sudah mendapatkan pelatihan APN yang diberikan oleh pihak rumah sakit yang bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Padangsidimpuan, pada ketersediaan fasilitas dan saran prasarana belum terpenuhi seutuhnya karena tidak tersedianya selimut dan topi bayi, belum terdapat Klinik Laktasi dan KP ASI, untuk ketersediaan dana yaitu pengajuan dana program IMD diajukan setiap tahunnya kepada pemerintah melalui kegiatan musrembang yang diadakan oleh pemerintah Kota Padangsidmpun dan sejauh ini tidak terdapat kendala dalam pendanaan namun pengajuan dana belum sesuai dengan kebutuhan program IMD. Pada faktor disposisi bidan belum memahami sepenuhnya mengenai tatalaksana IMD sesuai yang ditetapkan oleh pemerintah dan komitmen rumah sakit terhadap program IMD belum terpenuhi 100%

karena tidak terdapat SOP sebagai petunjuk kerja bidan dalam melaksanakan program IMD. Pada faktor struktur birokrasi, Direktur Rumah Sakit sebagai pemegang kebijakan program, Kepala Ruang Kebidanan sebagai monitoring program, dan bidan sebagai pelaksana, untuk koordinasi berjenjang belum adanya kegiatan monitoring kondisi dan situasi ruang bersalin yang dilakukan oleh Kapala ruang kebidanan namun pertemuan rutin mengenai program IMD dilakukan 6 bulansekali.

Oleh sebab itu, diperlukan kesinambungan pelaksanaan program IMD secara rutin oleh semua pihak, dan komitmen para setiap penanggungjawab program IMD di RSUD Kota Padangsidimpuan, termasuk pemerintah Kota Padangsidimpuan dengan mengadakan monitoring dan evaluasi program IMD.

Kata Kunci :Implementasi, Program IMD, Rumah Sakit

(7)

ABSTRACT

The General Hospital of Padangsidimpuan is contained program EIB (Earl yof Initiation Breastfeeding). Data obtained from the provincial hospital of Padangsidimpuan in 2014 there are14.24% vaginal births with EIB and 2015 are 9.74%. The purpose of this research is to analyze the implementation of EIB inprovincial hospitalof Padangsidimpuan. Implementation research on maternity room unit by using a descriptive qualitative researcher with 10 informants consisting of 5 main informants and 5 triangulation informants.

The results showed coverage of newborn babies in the EIB tends to decline.

On variable communication, communication process has not worked well because the existence of socializing on EIB from the hospital to the midwife there yet and the EIB managing guidelines written work from the hospital. On the variable amount of the resources the HR (human resources) is insufficient and the quality of the midwife had enough good namely average educational D3 obstetrics and already get training the APN given by the hospital in cooperation with the Department of health, on the availability of facilities and infrastructures have not been fulfilled due to the unavailability of blankets and baby hats, yet there was a Lactation Clinic and KP ASI, to the availability of funds, namely the filing of funds based on the needs of the program at EIB annually then filed on musrembang activities organized by the City Government Padangsidimpuan and so far there are no constraints in funding EIB. On disposition of a midwife is not yet fully understanding regarding governance EIB as set by the Government and hospital policies regarding EIB has not been fully implemented, and the commitment of the hospital's response to the program has not met 100% of IMD since there were no SOP work instructions as a midwife in carrying out IMD programs. so that the executor is not yet 100% of EIB. On the factor structure of the bureaucracy, the Director of the hospital as the holder of the policy program, the head of Midwifery as a Space monitoring program, and a midwife as executors, for coordinating the monitoring activities of the existence of yet tiered conditions and situation room maternity conducted by Early obstetric room but regular meetings about EIB conducted 6 months.

Therefore, the necessary continuity of the implementation program EIB routinely by all parties, and the commitment each responsible Provincial Hospital of Padangsidmpuan for EIB Program, including with The Government of Padangsidmpuan held a monitoring and evaluation EIB program

Keywords: Implementation, Early Initiation of Breastfeeding Program, Hospital

(8)

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, atas segala Rahmat dan KaruniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan Tesis ini dengan judul

“Implementasi Program Inisiasi Menyusu Dini di RSUD Kota Padangsidimpuan”

Penulisan Tesis ini merupakan salah satu persyaratan akademik untuk menyelesaikan pendidikan pada program S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Peminatan Kesehatan Kerja pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

Penulis menyadari penulisan Tesis ini tidak dapat terlaksana tampa bantuan dan kerjasama dari berbagai pihak.

Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan banyak terimah kasih yang tidak terhingga kepada :

1. Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H, M.Hum selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si selaku Dekan Fakultas Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

3. Ir. Etti Sudaryati, M.K.M, Ph.D selaku Ketua Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utaradanjugaselaku Komisi Pembimbing yang dengan penuh perhatian dan kesabaran membimbing, mengarahkan dan

(9)

meluangkan waktu untuk membimbing penulis mulai dari pengajuan judul hingga penulisan Tesis ini selesai.

4. Destanul Aulia, S.K.M, M.B.A, M.Ec, Ph.D, selaku Sekretaris Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara dan juga selaku Dewan Penguji yang telah bersedia menguji dan mengarahkan guna penyempurnaan Tesis ini.

5. Dr. Juanita, SE,M.Kes selaku Komisi Pembimbing yang dengan penuh perhatian dan kesabaran membimbing, mengarahkan dan meluangkan waktu untuk membimbing penulis mulai dari pengajuan judul hingga penulisan Tesis ini selesai.

6. Dr. Asfriyati, S.K.M, M.Kes selaku Dewan Penguji yang telah bersedia menguji dan mengarahkan guna penyempurnaan Tesis ini.

7. Seluruh staf pengajar Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara, yang telah memberikan ilmu pengetahuan yang sangat berarti selama penulis mengikuti pendidikan.

8. Rumah Sakit Umum Daerah Kota Padangsidimpuan dan seluruh staf yang telah bersedia membantu peneliti dalam mengumpulkan data atau pun informasi terkait dengan penelitian yang dibutuhkan dengan penuh perhatian dan kesabaran.

9. Secara khusus ucapan terima kasih yang tulus penulis tujukan kepada ayah dan ibu tercinta H. Baginda Lobi Siregar dan Hj. Mastohong Tanjung atas perhatian, semangat, waktu, dukungan moral dan juga materil, serta doa yang terus

(10)

dipanjatkan kepada penulis sehingga tesis selesai. Ayah dan ibu adalah motivasi terbesar penulis dalam menyelesaikan tesis ini.

10. Kepada Keluarga Aman yaitu seluruh saudara, kakak, abang adik dan keponakan yang tidak bisa disebutkan satu persatu yang tidak henti-hentinya memberikan dukungan dan semangat kepada penulis.

11. Rekan-rekan mahasiswa Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat angkatan 2015 secara umum dan Peminatan Administrasi dan Kebijakan Kesehatan dan khususnya untuk sahabat penulis Lily Eriska Sianturi, Sari Julianti, Riri Astika atas semangat dukungan dan kebersamaannya selama ini.

12. Tidak lupa penulis ucapkan terimakasih kepada Rudy Syuman atas semangat, motivasi, canda, tawa dan dukungan yang tidak hentinya diberikan serta doa yang tulus yang terus dipanjatkan kepada penulis sehingga tesis ini selesai.

Penulis menyadari bahwa Tesis ini masih terdapat banyak kekurangan, untuk itu kritik dan saran yang konstruktif sangat penulis harapkan demi kesempurnaan tesis ini. Akhirnya penulis berharap semoga Tesis ini dapat bermanfaat.

Medan, 5 Februari 2018 Penulis

Hamida Harapan Siregar 157032084

(11)

RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama Hamida Harapan Siregar yang dilahirkan pada tanggal 10Maret 1990 di Padangsidimpuan. Beragama Islam, tinggal di Jalan ST.SP.Mulia No. 66 Padangsidimpuan. Penulis merupakan anak dari pasangan Bapak H. Baginda Lobi Siregar dan IbuHj. Mastohong Tanjung.

Pendidikan formal penulis di mulai dari Sekolah Dasar Negeri 10/142426 Padangsidimpuan pada tahun 1996dan selesai tahun 2002, MTsN Model Padangsidimpuan pada tahun 2002 dan selesai 2005, SMA Negeri 4 Padangsidimpuan pada tahun 2005 dan selesai tahun 2008, pada tahun 2008 melanjutkan kejenjangan perkuliahan yaitu Fakultas Kesehatan Masyararakat Universitas Diponegoro Semarang dan selesai tahun 2013. Kemudian pada tahun 2015 penulis melanjutkan pendidikan di Pasca Sarjana Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara Peminatan Administrasidan Kebijakan Kerja.

Pengalaman bekerja penulis yaitu pada tahun 2014 – 2015 di RSUD Kota Padangsidmpuan tepatnya di bagian Evaluasi dan Perencanaan RSUD Kota Padngsidimpuan

(12)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

RIWAYAT HIDUP ... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

DAFTAR ISTILAH ... xiii

BAB 1. PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Permasalahan ... 7

1.3 Tujuan Penelitian ... 7

1.4 Manfaat Penelitian ... 7

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 9

2.1 Landasan Teori ... 9

2.2 Inisiasi Menyusu Dini ... 10

2.2.1 Tata Laksana Inisiasi Menyusu Dini ... 16

2.2.2 Kontra Indikasi Inisiasi Menyusu Dini ... 22

2.2.3 Penghambat Inisiasi Menyusu Dini ... 25

2.2.4 Beberapa Penelitian Tentang IMD ... 27

2.2.5 Program Pemerintah Dalam Pelaksanaan IMD ... 29

2.2.6 Inisiasi Menyusu Dini dan MDGS ... 30

2.2.7 Kebijakan WABA Tentang IMD ... 30

2.2.8 Bidan dan Inisiasi Menyusu Dini ... 31

2.3 Penelitian Terdahulu ... 33

2.4 Kebijakan Publik ... 34

2.5 Analisis Kebijakan ... 37

2.6 Model Teoritis Implementasi Kebijakan ... 38

2.7 Implementasi Kebijakan ... 40

2.8 Kerangka Pikir ... 45

(13)

BAB 3. METODOLOGI PENELITIAN ... 47

3.1 Jenis Penelitian ... 47

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 47

3.3 Informan ... 48

3.4. Sumber Data ... 49

3.5 Instrumen Penelitian ... 50

3.6 Metode Pengumpulan Data ... 50

3.7 Definisi Konsep ... 51

3.8 Metode Pengumpulan Data ... 52

3.9 Metode Analisa Data ... 53

BAB 4. HASIL PENELITIAN ... 55

4.1. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 55

4.1.1. Sejarah Rumah Sakit Umum Daerah Kota Padangsidimpuan ... 56

4.1.2. Visi dan Misi Rumah Sakit Umum Daerah Kota Padangsidimpuan ... 57

4.1.3. Fasilitas Pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah Kota Padangsidimpuan ... 57

4.2 Karakteristik Informan ... 60

4.3 Wawancara tentang Implementasi Program Inisiasi Menyusu Dini di RSUD Kota Paangsidimpuan ... 60

4.3.1. Pernyataan Informan tentang Faktor Komunikasi terhadap Implementasi Program Inisiasi Menyusu Dini di RSUD Kota Padangsidimpuan ... 60

4.3.2. Pernyataan Informan tentang Faktor Sumber Daya terhadap Implementasi Program Inisiasi Menyusu Dini di RSUD Kota Padangsidimpuan ... 63

4.3.3. Pernyataan Informan tentang Faktor Disposisi terhadap Implementasi Program Inisiasi Menyusu Dini di RSUD Kota Padangsidimpuan ... 66

4.3.4. Pernyataan Informan tentang Struktur Birokrasi terhadap Implementasi Program Inisiasi Menyusu Dini di RSUD Kota Padangsidimpuan ... 70

BAB 5. PEMBAHASAN ... 74

5.1 Inisiasi Menyusu Dini ... 74

5.2 Implementasi Kebijakan ... 77

5.3 Komunikasi ... 82

(14)

5.4 Sumber Daya ... 87

5.5 Disposisi ... 92

5.6 Faktor Struktur Birokrasi ... 94

5.7. Analisis Kendala dalam Implementasi IMD di RSUD Kota Padangsidmpuan ... 96

5.8 Implikasi Penelitian ... 99

5.9 Keterbatasan Penelitian ... 102

BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN ... 103

6.1 Kesimpulan ... 103

6.2 Saran ... 104

DAFTAR PUSTAKA ... 107 LAMPIRAN

(15)

DAFTAR TABEL

No Judul Halaman

2.1 Penelitian Terdahulu ... 33

2.2. Pendekatan “Top-down” dan “Bottom-up” ... 39

4.1 Karakteristik Informan Utama (Bidan) ... 58

4.2 Karakteristik Informan Triangulasi ... 59

4.3 Karakteristik Informan Triangulasi (Ibu Bersalin) ... 59

4.4 Daftar Check List Fasilitas IMD di RSUD Kota Padangsidimpuan ... 66

(16)

DAFTAR GAMBAR

No. Judul Halaman

2.1. Teori Implementasi George Edward III ... 9 2.2. Model Implementasi Menurut Geoarge Edward III ... 43 2.3. Kerangka Pikir ... 46

(17)

DAFTAR LAMPIRAN

No Judul Halaman 1. Pedoman Wawancara Mendalam Implementasi Program Inisiasi

Menyusu Dini di RSUD Kota Padangsidimpuan ... 111 2. Pedoman Wawancara Mendalam Implementasi Program Inisiasi

Menyusu Dini di RSUD Kota Padangsidimpuan ... 113 3. Pedoman Wawancara Mendalam Implementasi Program Inisiasi

Menyusu Dini di RSUD Kota Padangsidimpuan ... 115 4. Pedoman Wawancara Mendalam Implementasi Program Inisiasi

Menyusu Dini Di Rsud Kota Padangsidimpuan ... 117 5. Matriks Wawancara Implementasi Program Inisiasi Menyusu Dini

di RSUD Koata Padangsdidimpuan ... 118 6. Surat Izin Survey ... 125 7. SK Dosen Pembimbing ... 126

(18)

DAFTAR ISTILAH

ACNKB : Antenatal Care

AKB : Angka Kematian Bayi AKI : Angka Kematian Ibu ASI : Air Susu Ibu

IMD : Inisiasi Menyusu Dini

Kemenkes : Kementerian Kesehatan Republik Indonesia KP-ASI : Kelompok Pendukung Air Susu Ibu

MDG’s : Millenium Development Goal’s PP : Peraturan Pemerintah

RSUD : Rumah Sakit Umum Daerah SDG’s : Suistanable Development Goal’s

SDKI : Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia SOP : Standar Operasional Prosedur

UNICEF : United Nation Children’s Fund WHO : World Health Organization

(19)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kasus kematian ibu dan bayi sebenarnya dapat dicegah melalui pemberian Air Susu Ibu (ASI) segera atau dikenal dengan istilah Inisiasi Menyusu Dini (IMD). IMD adalah proses permulaan menyusu dini yaitu dengan memberikan kesempatan pada bayi untuk mencari dan menghisap ASI sendiri dalam 1 jam pertama pada awal kehidupannya. Pemberian ASI pada 1 jam pertama segera, bermanfaat bagi bagi ibu dan bayi dan IMD juga dapat membantu mengurangi terjadinya perdarahan pada ibu pasca melahirkan sehingga angka kematian ibu dapat ditekan.

Menurut penelitian yang dilakukan Edmond tahun 2004 terhadap hampir 11.000 bayi di Ghana, jika bayi diberikan kesempatan menyusu dalam satu jam pertama dengan dibiarkan kontak kulit ke kulit ibu selama satu jam maka 22% nyawa bayi di bawah 28 hari dapat diselamatkan (Roesli, 2008). Laporan UNICEF menyebutkan bahwa Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dalam satu jam pertma kelahiran telah menyelamatkan 300.000 bayi di Indonesia. Pencapaian ini penting mengingat angka kematian bayi di Indonesia yang masih sangat tinggi. (UNICEF, 2013).

Laporan UNICEF tahun 2013 menyebutkan bahwa angka cakupan praktik menyusu dini di dunia sebesar 42% dalam kurun waktu 2005-2010. Prevalensi inisiasi menyusu dini di Indonesia sendiri lebih rendah yaitu 39%. Angka ini sangat rendah jika dibandingkan dengan negara lain di sebagian negara Asia Tenggara misalnya

(20)

Myanmar (76%), Thailand (50%) dan Filipina (54%) (UNICEF 2013).

Pembangunan kesehatan di Indonesia dewasa ini masih diwarnai oleh rawannya derajat kesehatan ibu dan anak, terutama pada kelompok yang paling rentan yaitu ibu hamil, ibu bersalin dan ibu nifas, serta bayi pada masa perinatal, yang ditandai dengan masih tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Menurut SDKI tahun 2012 AKI mencapai 359/100.000 kelahiran hidup.

Padahal target yang ingin dicapai sesuai tujuan SDG’s dalam 1,5 dekade ke depan AKI turun menjadi 70/100.000 kelahiran hidup.

Pada tahun 2014 penyumbang tertinggi AKI adalah Provinsi Jawa Barat yaitu sebesar 765/100.000 angka kelahiran hidup dan Provinsi Sumatera Utara sendiri AKI masih tergolong tinggi yaitu 249/100.000 kelahiran hidup, Sumatera Utara termasuk salah satu kontributor terbesar AKI di Indonesia. (Kemenkes, 2014) Penyebab langsung kematian ibu di Indonesia adalah perdarahan (42%), eklampsi (13%), infeksi (10%), dan penyebab tidak langsung kematian ibu adalah tingkat pendidikan ibu terutama yang ada di pedesaan masih rendah, 4 Terlalu (terlalu sering, terlalu banyak, terlalu muda, terlalu tua) dan 3 Terlambat yaitu terlambat mengambil keputusan, terlambat untuk dikirim ke tempat pelayanan kesehatan dan terlambat mendapat pelayanan kesehatan.

Angka kematian ibu yang tinggi diikuti juga dengan angka kematian bayi yang tinggi yaitu 32/100.000 kelahiran hidup menurut SDKI tahun 2012. Sebagian besar kasus kematian bayi dan balita adalah masalah yang terjadi pada baru lahir/neonatal (umur 0-28 hari). Angka ini sudah mengalami penurunan dari target

(21)

sebelumnya tetapi di lain pihak angka ini masih jauh dari target SDG’s dimana AKB diharapkan turun menjadi 12/100.000 kelahiran hidup.

Inisiasi Menyusu Dini (IMD) telah menyelamatkan 300.000 bayi di Indonesia.

Pencapaian ini penting mengingat angka kematian bayi di Indonesia yang masih sangat tinggi. Kebijakan pemerintah mengenai IMD diatur dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2012 pada Pasal 129 ayat (2) meskipun regulasi tentang IMD telah ada akan tetapi implementasinya belum optimal.

Hasil Riskesdes menunjukkan proses IMD mengalami kenaikan dari 29,3%

pada tahun 2010 menjadi 34,5% pada tahun 2013, sedangkan di Provinsi Sumatera Utara sendiri persentasi IMD mengalami penurunan yaitu 34% pada tahun 2010 menjadi 22,9% pada tahun 2013. Menurut WHO IMD dengan persentasi 30-49%

dikategorikan sedang dan masih perlu ditingkatkan untuk mencapai kategori baik (Kemenkes, 2014).

Mengingat besarnya keuntungan positif yang didapat IMD, maka pemerintah memberikan respon positif pada program IMD dan ASI Eksklusif dengan mengeluarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 450/MENKES/SK/VI/2004 tentang pemberian Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif pada bayi di Indonesia sejak lahir sampai bayi berumur 6 (enam) bulan dan dianjurkan dilanjutkan sampai anak usia 2 (dua) tahun dengan pemberian makanan tambahan yang sesuai.

Pemerintah dalam rangka menurunkan AKI menetapkan program Safe Motherhood yang kemudian berubah menjadi Making Pregnancy Safer yang

(22)

selanjutnya diaplikasikan dalam beberapa program termasuk program Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi, dimana asuhan persalinan normal dengan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan ASI Eksklusif menjadi salah satu intervensinya. Rumah Sakit Sultan Agung Semarang merupakan salah satu rumah sakit yang berhasil dalam melaksanakan IMD yaitu sebesar 80%. Keberhasilan IMD bergantung pada kualitas bidan yang melaksanakan praktek IMD (Desi, 2013).

Berdasarkan data yang didapatkan dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera pada tahun 2013 cakupan pelaksanaan IMD di Kota Padangsidimpuan hanya sebesar 1,23%, padahal cakupan yang ditargetkan dalam Program Pembangunan Nasional dan Strategi Nasional Program Peningkatan Cakupan Air Susu Ibu adalah sebesar 80%.

Rumah Sakit Umum Daerah Kota Padangsidimpuan merupakan rumah sakit pemerintah yang dikenal oleh masyarakat umum sebagai rumah sakit sayang ibu dan bayi yang memiliki komitmen untuk meningkatkan kesejahteraan ibu dan bayi termasuk salah satunya adalah pelaksanaan program Inisasi Menyusu Dini (IMD).

Pada tahun 2014 terdapat 351 persalinan normal namun hanya 14,24% melaksanakan IMD sedangkan pada tahun 2015 sebanyak 308 persalinan normal namun hanya 9,74% yang melaksanakan IMD. Angka tersebaut menunjukkan bahwa cakupan persalinan normal dengan IMD di RSUD Padangsidimpuan cenderung mengalami penurunan dan masih jauh dari standar nasional.

Bedasarkan pengamatan dalam studi pendahuluan di RSUD Padangsidimpuan pada 3 ibu bersalin yang persalinannya melakukan IMD hanya satu bidan yang

(23)

melaksanakan IMD sesuai dengan SOP yang ditetapkan oleh pemerintah, dan dua bidan melaksanakan IMD tidak sesuai dengan SOP yang ditetapkan oleh pemerintah yaitu terlebih dahulu membersihkan kedua telapak tangan bayi, bayi diberikan vitamin K dan membawa bayi ke ruang terpisah untuk mengukur bayi terlebih dahulu sebelum diletakkan di atas perut ibu. Dari pengematan tersebut bidan yang menolong persalinan belum sesuai dengan pedoman pelaksanaan IMD yang dikeluarkan oleh pemerintah.

Regulasi hukum pelaksanaan IMD diatur dalam pasal 9 Peraturan Pemerintah ASI bahwa tenaga kesehatan wajib menfasilitasi ibu dan bayi, khususnya untuk bidan yang membantu ibu dalam proses persalinan (PP no 33 Tahun 2012). Bidan yang mempunyai pengetahuan yang kurang mengenai pelaksanaan IMD akan berpengaruh pada kualitas pelaksanaan IMD dan juga akan mempengaruhi kompetensi bidan itu sendiri baik dari tanggungjawab maupun keterampilan bidan dalam melaksanakan tugasnya. Pendidikan dan dukungan menyusui dari bidan yang profesional dapat menghasilkan beberapa perbaikan dan peningkatan dalam pelaksanaan IMD dan ASI Eksklusif (WHO, 2014)

Keberhasilan persalinan dengan IMD juga ditentukan adanya fasilitas- fasilitas sebagai pendukung. UNICEF dan WHO bekerja sama mendorong negara- negara di seluruh dunia untuk menerapkan Pemasaran ASI, yaitu dengan membuat kebijakan cuti keluarga di tempat kerja, dan memperbaiki akses terhadap dukungan menyususi yaitu fasilitas kesehatan (WHO, 2016). Kemenkes dalam bukunya Pedoman Rumah Sakit Sayang Ibu dan Anak mencantumkan bahwa

(24)

rumah sakit yang berbasis sayang ibu dan anak diwajibkan mempunyai Komunitas KP-ASI (kelompok pendukung ASI) yaitu kelas yang terdiri dari ibu hamil, ibu menyusui, ibu sukses menyusui yang akan saling berbagi dan memberikan dukungan mengenai sukses menyusui. Klinik Laktasi (sebagai pendukung IMD dan ASI Eksklusif) dimana di dalamnya termasuk fasilitas donor ASI kelas ANC berupa senam hamil yang di dalamnya menginformasikan mengenai persalinan dengan IMD dimana manajemen klinik laktasi adalah tatalaksana yang diperlukan untuk menunjang keberhasilan menyusui terutama dimulai pada masa kehamilan, segera setelah persalinan dan pada masa menyusui selanjutnya.

Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan 3 bidan saat studi pendahuluan, menyatakan bahwa RSUD Padangsidimpuan belum memiliki senam hamil, KP-ASI dan Klinik Laktasi. Pertemuan untuk rapat koordinasi atau pertemuan terprogram setiap bulan belum rutin dilaksanakan, petugas kesehatan lebih fokus pada kegiatan fungsional di ruangan unit bersalin dan ruangan yang terkait akan kegiatan fungsional bidan.

Mengingat hal-hal tersebut di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai implementasi pelaksanaan program IMD di RSUD Padangsidimpuan. Diharapkan melalui penelitian ini dapat memberikan masukan untuk pengembangan dan perbaikan pelaksanaan program IMD.

1.2 Perumusan Masalah dan Pernyataan Penelitian

Bagaimanakah implementasi pelaksanaan pada program IMD di unit ruang

(25)

bersalin yang dilakukan oleh bidan sebagai pelaksana IMD di RSUD Padangsidimpuan.

1.3 Tujuan Penelitian

Untuk menganalisis implementasi program IMD di RSUD Kota Padangsidimpuan.

1.4 Manfaat Penelitian

1. Bagi Rumah Sakit Umum Daerah Padangsidimpuan

Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam mengambil kebijakan sehubungan dengan penigkatan pelayanan persalinan normal demgan Inisiasi Menyusu Dini yang menjadi langkah menuju keberhasilam Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi

2. Bagi Petugas Kesehatan dalam Pelaksanaan IMD

Hasil penelitian ini daiharpkan setiap petugas kesehatan di RSUD Padangsidimpuan dapat meningkatkan kualitas pelayanan terutama dalam pelaksanaan IMD sehingga mendukung terwujudnya kesejahteraan ibu dan bayi serta mendukung RSUD Padangsidimpuan sebagai Rumah Sakit Sayang Ibu dan Bayi.

3. Bagi Fakultas Kesehata Masyarakat Universitas Sumatera Utara

Penelitian ini dapat menambah pustaka di Perpustakaan Fakultas Pasca Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara serta dapat dijadikan sumber perbandingan bagi peneliti serupa.

(26)

4. Bagi Peneliti

Proses penelitian ini dapat menambah pengalaman belajar dan pengetahuan terutama dalam bidang evaluasi program terutama mengenai pelaksanaan IMD pada program sakit saying ibu dan bayi

(27)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

Dalam penelitian ini diperlukan adanya kumpulan teori-teori yang akan menjadi landasan teoritis dan menjadi pedoman dalam melaksanakan penelitian.

Setelah masalah penelitian dirumuskan maka langka selanjutnya adalah mencari teori-teori, konsep-konsep, dan generelasi-generelasi hasil penelitian yang dapat dijadikan sebagai landasan teoristis untuk melaksnakan penelitian.

Menurut Kerlinger, teori adalah serangkaian asumsi, konsep, konstruk, defenisi, dan proporsi untuk menerangkan suatu fenomena sosial secara sistematis dengan cara mengkonstruksi hubungan antar konsep dan proposisi dengan menggunakan asumsi dan logika tertentu. Adapun kerangka teori dalam penelitian adalah sebagai berikut:

Komunikasi

Implementasi Sumberdaya

Disposisi

Struktur Birokrasi

Gambar 2. 1 Teori Implementasi George Edward III Sumber: Buku Analisis Kebiajakan Publik Subarsono, 2009

(28)

2.2 Inisiasi Menyusu Dini (IMD)

Melahirkan merupakan pengalaman menegangkan, tetapi sekaligus menggembirakan. Ada satu hal yang selama ini tidak disadari dan tidak dilakukan orangtua dan tenaga medis tapi begitu vital bagi kehidupan bayi selanjutnya, yaitu memberi kesempatan bagi bayi untuk memulai menyusu pertama kali (inisiasi menyusu dini) dalam kehidupannya.

Selama berpuluh-puluh tahun, baik tenaga kesehatan maupun orangtua berpendapat bahwa bayi baru lahir tidak mungkin dapat menyusu sendiri. Kita berpikir untuk mendapat ASI pertama kalinya, kita harus membantu bayi dengan memasukkan puting susu ke mulut bayi atau menyusuinya. Padahal bayi baru lahir belum siap menyusu sehingga jika ibu ingin menyusui bayi untuk pertama kali, kadang ia hanya melihat dan menjilat puting susu, bahkan kadang menolak tindakan yang mengganggunya ini. Faktanya, saat dilahirkan, bayi mungkin lebih mengerti akan hal ini daripada ibu dan kita.

1. Definisi

Inisiasi menyusu dini (early initiation) atau permulaan menyusu dini adalah bayi mulai menyusu sendiri segera setelah lahir. Jadi, sebenarnya bayi manusia seperti juga bayi mamalia lain mempunyai kemampuan untuk menyusu sendiri.

Asalkan dibiarkan kontak kulit bayi dengan kulit ibunya, setidaknya selama satu jam segera setelah lahir (Roesli, 2008).

Sesaat setelah ibu melahirkan maka biasanya bayi akan dibiarkan atau diletakkan di atas dada si ibu agar sang anak mencari sendiri puting ibunya, ini

(29)

disebut dengan inisiasi menyusu dini/IMD (Kodrat, 2010). Pemberian ASI secara dini juga membiasakan bayi agar terbiasa mengkonsumsi ASI untuk pertumbuhan dan perkembangannya, sebab untuk ASI merupakan makanan yang memiliki nilai gizi yang tinggi yang didalam ASI mengandung unsur-unsur gizi lengkap yang diperlukan bayi dalam pertumbuhan dan perkembangannya kelak (Saleha, 2008).

2. Manfaat Inisiasi Menyusu Dini

Manfaat Inisiasi menyusu dini bagi bayi adalah memenuhi kebutuhan nutrisi bayi karena ASI merupakan makanan dengan kualitas dan kuantitas yang optimal;

memberi kekebalan pasif kepada bayi melalui kolostrum sebagai imunisasi pertama bagi bayi, meningkatkan kecerdasan, membantu bayi mengkoordinasikan hisap, telan dan nafas, meningkatkan jalinan kasih sayang ibu dan bayi, mencegah kehilangan panas, serta merangsang kolostrum segera keluar. Sedangkan manfaat inisiasi menyusu dini bagi ibu adalah merangsang produksi oksitosin dan prolaktin, meningkatkan keberhasilan produksi ASI dan meningkatkan jalinan kasih sayang ibu dan bayi (Sidi et all, 2004).

3. Manfaat Kontak Kulit Antara Ibu-Bayi

Manfaat kontak kulit antara ibu dan bayi adalah: dada ibu mampu menghangatkan bayi dengan tepat selama bayi merangkak mencari payudara sehingga akan menurunkan kematian karena kedinginan (hypothermia), baik ibu maupun bayi akan merasa lebih tenang, pernapasan dan detak jantung bayi lebih stabil dan bayi akan jarang menangis sehingga mengurangi pemakaian energy; saat merangkak mencari payudara, bayi memindahkan bakteri dari kulit ibunya melalui

(30)

jilatan dan menelan bakteri menguntungkan dikulit ibu sehingga bakteri ini akan berkembang biak membentuk koloni disusu dan kulit bayi, menyaingi bakteri yang merugikan.

Bonding (ikatan kasih sayang) antara ibu dan bayi akan lebih baik karena pada 1-2 jam pertama, bayi dalam keadaan siaga dan setelah itu bayi akan tidur dalam waktu yang lama; makanan yang diperoleh bayi dari ASI sangat diperlukan bagi pertumbuhan bayi dan kemungkinan bayi menderita alergi dapat dihindari lebih awal;

bayi yang diberi kesempatan menyusu dini lebih berhasil menyusu eksklusif dan lebih lama disusui; hentakan kepala bayi ke dada ibu, sentuhan tangan bayi di puting susu ibu dan sekitarnya, emutan, dan jilatan bayi pada puting ibu merangsang pengeluaran hormon oksitosin.

Bayi mendapat ASI/kolostrum yang pertama kali keluar, cairan ini kaya akan zat yang meningkatkan daya tahan tubuh, penting untuk ketahanan infeksi, penting untuk pertumbuhan, bahkan kelangsungan hidup bayi. Kolostrum akan membuat lapisan yang melindungi usus bayi yang masih belum matang sekaligus mematangkan dinding usus (Roesli, 2007).

4. Alasan Pentingnya Inisiasi Menyusu Dini

Menurut Maryunani (2009), alasan penting melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) adalah karena suhu dada ibu dapat menyesuaikan suhu ideal (thermogulator) yang diperlukan bayi. Kulit dada ibu yang melahirkan 1oC lebih panas dari ibu yang tidak melahirkan. Jika bayinya kedinginan, suhu tubuh ibu otomatis naik 2oC untuk

(31)

menghangatkan bayi, sehingga dapat menurunkan resiko hipotermia dan menurunkan kematian bayi akibat kedinginan.

Kehangatan dada ibu saat bayi diletakkan didada ibu, akan membuat bayi merasakan getaran cinta sehingga merasakan ketenangan, merasa dilindungi dan kuat secara psikis. Bayi akan lebih tenang, karena dengan mendengar pernapasan dan detak jantung ibu dapat menenangkan bayi, menurunkan stress akibat proses kelahiran dan meningkatkan kekebalan tubuh bayi.

Bayi yang dibiarkan merayap diperut ibu dan menemukan puting susu ibunya sendiri, akan tercemar bakteri yang tidak berbahaya terlebih dahulu sebagai anti ASI ibu, sehingga bakteri baik ini membentuk koloni disusu dan kulit bayi. Hal ini berarti mencegah kolonisasi bakteri yang lebih ganas dari lingkungan. Pada saat bayi dapat menyusu segera setelah lahir, maka kolostrum makin cepat keluar sehingga bayi akan lebih cepat mendapatkan kolostrum ini, yaitu cairan pertama yang kaya akan antibody dan sangat penting untuk pertumbuhan usus dan ketahanan terhadap infeksi yang dibutuhkan bayi demi kelangsungan hidupnya.

Bayi akan belajar menyusu dengan nalurinya sendiri. Sentuhan, kuluman/emutan dan jilatan pada puting ibu akan merangsang oksitosin ibu yang penting dalam menyebabkan kontraksi rahim, sehingga membantu pengeluaran plasenta dan mengurangi perdarahan, merangsang hormon lain yang membuat ibu merasa tenang, rileks dan merangsang pengaliran ASI dari payudara.

Secara psikologis pemberian ASI pada satu jam pertama akan memberikan manfaat yaitu bayi akan mendapat terapi psikologis berupa ketenangan dan kepuasan.

(32)

Terpenuhinya rasa aman dan nyaman akibat kelelahan selama proses persalinan karena kepala bayi harus melewati pintu atas panggul, panggul dalam dan dasar panggul yang membuat bayi stress. Dengan menemukan puting susu ibu, bayi mendapatkan ketenangan kembali. Pelukan ibu membuat bayi merasa aman dan nyaman seperti dalam rahim ibu. Hal ini merupakan terapi bagi bayi yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan psikologis, karena ia mendapat modal pertama membentuk kepercayaan diri terhadap lingkungan.

5. Inisiasi Menyusu Dini Yang Kurang Tepat

Menurut Roesli (2008), praktek inisiasi menyusu dini selama ini kurang tepat, dimana penanganan bayi baru lahir sebagai berikut: begitu lahir bayi diletakkan diperut ibu yang sudah dialasi kain kering; bayi segera dikeringkan dengan kain kering, tali pusat dipotong lalu diikat; karena takut kedinginan, bayi dibungkus (dibedong) dengan selimut bayi, kemudian diletakkan didada ibu (tidak terjadi kontak kulit antara bayi dan ibu). Bayi dibiarkan didada ibu (bonding) untuk beberapa lama (10-15 menit) atau sampai tenaga kesehatan selesai menjahit perineum. Selanjutnya diangkat dan disusukan pada ibu dengan cara memasukkan puting ibu ke mulut bayi;

setelah itu bayi dibawa ke kamar transisi, atau kamar pemulihan (recovery room) untuk ditimbang, diukur, dicap, diazankan oleh ayah, diberi suntikan vitamin K dan diberi tetes mata.

6. Inisiasi Menyusu Dini yang Dianjurkan

Keberhasilan inisiasi menyusu dini, sangat tergantung pada petugas kesehatan yang menanganinya. Karena petugaslah yang akan membimbing ibu dan bayi

(33)

melakukan langkah-langkah yang tepat. Untuk itu, Roesli (2008) menganjurkan petugas melakukan langkah-langkah sebagai berikut: begitu lahir bayi diletakkan diperut ibu yang sudah dialasi kain kering; keringkan seluruh tubuh bayi termasuk kepala secepatnya, kecuali kedua tangannya; vernix (zat lemak putih) yang melekat ditubuh bayi sebaiknya tidak dibersihkan, karena zat ini membuat nyaman kulit bayi;

tali pusat dipotong lalu diikat; tanpa dibedong, bayi langsung ditengkurapkan didada atau perut ibu dengan kontak kulit bayi dan kulit ibu. Jika perlu, bayi diberi topi untuk mengurangi pengeluaran panas dari kepalanya.

7. Perilaku Bayi Saat Inisiasi Menyusu Dini

Saat inisiasi menyusu dini, dimana bayi baru lahir langsung dikeringkan, diletakkan di perut ibu (kontak kulit) kemudian dibiarkan setidaknya satu jam/sampai bayi berhasil menyusu, semua bayi akan mengalami beberapa tahapan perilaku (pre- feeding behaviour). Perilaku bayi saat inisiasi menyusu dini terdiri dari 5 tahap.

Tahap pertama merupakan stadium istirahat/diam dalam keadaan siaga, bayi diam tidak bergerak sesekali matanya terbuka lebar melihat ibunya. Hal ini berlangsung sekitar 30 menit. Masa tenang yang istimewa ini merupakan penyesuaian peralihan dari keadaan dalam kandungan ke keadaan diluar kandungan. Bonding (hubungan kasih sayang) ini merupakan dasar pertumbuhan bayi dalam suasana aman. Hal ini meningkatkan kemampuan menyususi dan mendidik bayinya.

Tahap kedua, bayi mulai mengeluarkan suara, gerakan mulut seperti mau minum, mencium dan menjilat tangan. Tahap ini berlangsung antara 30 – 40 menit.

Bayi mencium dan merasakan cairan ketuban yang ada ditangannya. Bau ini sama

(34)

dengan bau cairan yang dikeluarkan dari payudara ibu. Bau dan rasa ini akan membimbing bayi untuk payudara puting susu ibu.

Tahap ketiga, bayi mengeluarkan air liur. Saat menyadari bahwa ada makanan disekitarnya, bayi mengeluarkan air liurnya. Tahap ke empat, bayi mulai bergerak kearah payudara ibu, dengan kaki menekan perut ibu. menoleh kekanan dan kekiri, serta menyentuh dan meremas daerah puting susu dan sekitarnya dengan tangannya yang mungil. Tahap kelima, bayi mulai menemukan puting ibu, menjilat, mengulum dan membuka mulut lebar sehingga melekat dengan baik (Saleha, 2008).

2.2.1 Tatalaksana Inisiasi Menyusu Dini

1. Tatalaksana Inisiasi Menyusu Dini Secara Umum.

Pelaksanaan inisiasi menyusu dini dimulai dengan memberitahu ibu dan keluarga tentang asuhan yang akan diberikan, suami atau keluarga dianjurkan untuk mendampingi ibu saat persalinan, biarkan ibu menentukan cara melahirkan yang diinginkan (normal, dengan posisi jongkok atau melahirkan di dalam air), dan hindari penggunaan obat kimiawi saat persalinan, dapat diganti dengan cara non-kimiawi (pijat, aroma terapi, gerakan atau hypnobirthing).

Setelah bayi lahir, keringkan seluruh badan dan kepala bayi (kecuali kedua tangan) secepatnya, biarkan lemak putih (vernix) karena dapat menyamankan kulit bayi. Lakukan pemotongan dan pengikatan talipusat kemudian tengkurapkan bayi di dada atau perut ibu dan biarkan kulit bayi melekat diperut ibu, posisi kontak kulit dengan kulit ini dipertahankan minimal satu jam atau setelah menyusu awal selesai.

Selimuti ibu dan bayi, jika perlu gunakan topi bayi. Biarkan bayi mencari sendiri

(35)

puting ibu, ibu dapat merangsang bayi dengan sentuhan lembut, tetapi tidak boleh memaksakan bayi ke puting susu. Hal ini dapat berlangsung selama beberapa menit atau satu jam, bahkan lebih.

Selanjutnya, anjurkan suami/keluarga untuk mendukung ibu dan membantu ibu untuk mengenali tanda-tanda atau perilaku bayi sebelum menyusu, karena dukungan ini akan meningkatkan rasa percaya diri ibu. Biarkan bayi dalam posisi kulit bersentuhan dengan kulit ibunya setidaknya selama satu jam, walaupun ia telah berhasil menyusu pertama sebelum satu jam. Jika belum menemukan puting payudara ibunya dalam waktu satu jam, biarkan kulit bayi tetap bersentuhan dengan kulit ibunya sampai berhasil menyusu pertama. Kesempatan kontak kulit dengan kulit juga dianjurkan pada ibu yang melahirkan dengan tindakan, misalnya operasi caesar.

Bayi hanya boleh dipisahkan dari ibu untuk ditimbang, diukur dan dicap setelah satu jam atau menyusu awal selesai. Prosedur yang invasif, misalnya suntikan vitamin K dan tetesan mata bayi dapat ditunda. Rawat gabung ibu dan bayi dirawat dalam satu kamar selama satu jam ibu-bayi tidak dipisahkan dan bayi selalu dalam jangkauan ibu. Hindari pemberian minuman pre-laktal (cairan yang diberikan sebelum ASI keluar) (Baskoro, 2008).

2. Tatalaksana Inisiasi Menyusu Dini Pada Operasi Caesar

Usaha bayi merangkak mencari payudara secara standar pasti tidak dapat dilakukan pada persalinan operasi caesar. Namun, jika diberikan anastesi spinal atau epidural, ibu dalam keadaan sadar sehingga dapat segera memberi respon pada bayi.

(36)

Bayi dapat segera diposisikan sehingga terjadi kontak kulit ibu dan kulit bayi.

Usahakan menyusu pertama dilakukan dikamar operasi. Jika keadaan ibu dan bayi belum memungkinkan, bayi diberikan pada ibu pada kesempatan yang tercepat. Jika dilakukan anestesi umum, kontak dapat terjadi diruang pulih saat ibu sudah dapat merespon walaupun masih mengantuk atau dalam pengaruh obat bius (Roesli, 2008).

Inisiasi menyusu dini tetap dapat dilakukan pada persalinan caesar, namun perlu dukungan ekstra, yaitu harus ada tenaga dan pelayanan kesehatan yang suportif.

Jika mungkin, diusahakan suhu ruangan 20-50 o

Jika inisiasi menyusu dini belum terjadi di kamar bersalin atau kamar operasi, atau bayi harus dipindah sebelum satu jam maka bayi tetap diletakkan didada ibu, ketika dipindahkan kekamar perawatan ibu atau kamar pulih (Kristyansari, 2009).

C, sediakan selimut untuk menutupi punggung bayi dan badan ibu, siapkan topi bayi untuk mengurangi hilangnya panas dari kepala bayi. Bayi dibiarkan mencari puting susu ibu. Ibu dapat merangsang bayi dengan sentuhan lembut, tetapi tidak memaksakan bayi ke puting susu. Biarkan bayi dalam posisi sulit, bersentuhan dengan kulit ibunya setidaknya selama satu jam.

3. Standar Operasional Prosedur (SOP) IMD a. Langkah

Lahirkan, keringkan, dan lakukan penilaian bayi 1) Saat lahir, catat waktu kelahiran.

2) Kemudian letakkan bayi di perut ibu.

3) Nilai usaha dan nafas dan pergerakan bayi apa diperlukan resusitasi atau tidak (2 detik)

(37)

4) Setelah itu keringkan bayi. Setelah kering diselimuti bayi dengan kain kering untuk menunggu 2 menit sebelum tali pusat di klem. Keringkan tubuh bayi dimulai dari muka, kepala dan bagian tubuh lainnya dengan halus tanpa membersihkan verniks. Verniks akan membantu mengahangatkan tubuh bayi.

5) Hindari mengeringkan tangan bayi. Bau cairan amonium pada tangan bayi juga membantu mencari puting ibunya yang berbau sama.

6) Lendir cukup dilap dengan kain bersih. Hindari hisap lendir di dalam mulut atau mulut bayi karena menghisap dapat merusak selaput lendir hidung bayi dan meningkatkan resiko infeksi pernafasan.

7) Lakukan rangsangan taktil dengan menekuk atau menyentil telapak kaki.

Menggosok punggung, perut, dada, atau tungkai bayi dengan telapak tangan.

Rangsangan ini dapat memulai pernafasan bayi serta membantu bayi dapat bernafas lebih baik.

Setelah satu menit mengeringkan dan menilai bayi, periksa kembali uterus untuk memastikan tidak ada lagi bayi dalam uterus (hamil tunggal) kemudian suntikkan intramuskuler 10 UI oksitosin pada ibu. Biarkan bayi di atas handuk atau kain bersih di perut ibu.

b. Langkah 2

Lakukan kontak kulit dengan kulit selama paling sedikit satu jam.

1) Setelah 2 menit pasca persalinan, lakukan penjepitan tali pusat dengan klem pada sekitar 3 cm dari dinding perut bayi, kemudian dari titik jepitan, tekan tali pusat dengan 2 jari, kemudian dorong isi tali pusat ke arah ibu. Pemotongan tali

(38)

pusat ditunda sampai tali pusat berhenti berdenyut agar nutrient dan oksigen yang mengalir dari plasenta ibu ke bayi lebih optimal.

2) Kemudian pegang tali pusat di antara dua klem tersebut. Satu tangan menjadi landasan tali pusat sambil melindungi bayi, dan tangan yang lainnya memotong tali pusat diantara kedua klem tersebut.

3) Ikat puntung tali pusat dengan jarak kira-kira 1 cm dari dinding perut bayi dengan tali yang steril. Lingkarkan tali di sekeliling puntung tali pusat dan ikat kedua kalinya dengan simpul mati dibagian yang berlawanan.

4) Letakkan bayi tengkurap di dada ibu. Luruskan bahu bayi sehingga bayi menempel di dada ibu. Kepala bayi harus berada di antara payudara ibu, tapi lebih rendah dari puting.

5) Kemudian selimuti bayi dan ibu dengan kain hangat dan pasang topi di kepala bayi.

6) Biarkan bayi tetap melakukan kontak kulit dengan kulit di dada ibu paling sedikit satu jam. Mintalah ibu untuk memeluk dan membelai bayinya. Bila perlu letakkan bantal di bawah kepala ibu untuk mempermudah kontak visual antara ibu dan bayi. Sebagian besar bayi akan berhasil melakukan IMD dalam waktu 30-60 menit.

7) Hindari membasuh atau menyeka payudara ibu selama bayi menyusu.

8) Selama kontak kulit ke kulit tersebut, lanjutkan dengan langkah manajemen aktif kala 3 persalinan.

(39)

Langkah 3

1) Biarkan bayi mencari dan menemukan puting dan mulai menyusu.

2) Anjurkan ibu dan orang lainnya untuk tidak menginterupsi menyusu misalnya memindahkan bayi daru satu payudara ke payudara lainnya. Menyusu pertama biasanya berlangsung sekitar 10-15 menit. Bayi cukup mnyusu dari satu payudara.

3) Menunda semua asuhan bayi baru lahir normal lainnya hingga bayi selesai menyusu. Tunda pula memandikan bayi 6-26 jam setelah bayi lahir untuk mencegah terjadinya hipotermia.

4) Usaha untuk tetap menempatkan ibu dan bayi di ruang bersalin hingga bayi selesai menyusu.

5) Segera setelah bayi lahir selesai menghisap, bayi akan berhenti menelan dan melepaskan puting. Bayi dan ibu akan merasa mengantuk, bayi kemudian dibungkus dengan kain bersih lalu lakukan penimbangan dan pengukuran bayi, memberikan suntikan vitamin K, dan mengoleskan salep antibiotik pada mata bayi

1. Jika bayi belum melakukan IMD dalam waktu 1 jam, posisikan bayi lebih dekat dengan puting ibu biarkan kontak kulit dengan kulit selama 30-60 menit berikutnya.

2. Jika bayi masih melakukan IMD dalam waktu 2 jam pindahkan ibu ke ruang pemulihan dengan bayi tetap di dada ibu. Lanjutkan asuhan bayi baru lahir dan kemudian kembalikan bayi kepada ibu untuk menyusu.

(40)

3. Kenakan pakaian pada bayi atau tetap diselimuti untuk menjaga kehangatan. Tetap tutupi kepala bayi dengan topi selama beberapa hari pertama. Bila suatu saat kaki bayi terasa dingin saat disentuh, buka pakaiannya kemudikan telungkupkan kembali di dada ibu sampai bayi hangat kembali.

6) Satu jam kemudian, berikan suntikan hepatitis B pertama.

7) Lalu tempatkan ibu dan bayi di ruang yang sama. Letakkan kembai bayi dengan ibu sehingga mudah terjangkau dan bayi bisa menyusu sesering mungkin.

2.2.2 Kontra Indikasi Inisiasi Menyusu Dini.

Ada beberapa kondisi yang tidak memungkinkan untuk pelaksanaan inisiasi menyusu dini, baik kondisi ibu maupun kondisi bayi. Namun biasanya kondisi seperti ini hanya ditemui di Rumah Sakit karena kondisi ini merupakan kondisi kegawatdaruratan yang penanganan persalinannya pun hanya dapat dilakukan oleh dokter-dokter yang ahli dibidangnya (Roesli, 2008).

1. Kontra Indikasi Pada Ibu.

Kontra indikasi pada ibu antara lain: yang pertama, ibu dengan fungsi kardio respiratorik yang tidak baik, penyakit jantung klasifikasi II dianjurkan untuk sementara tidak menyusu sampai keadaan jantung cukup baik. Bagi pasien jantung klasifikasi III tidak dibenarkan untuk menyusu. Penilaian akan hal ini harus dilakukan dengan hati-hati. Jika penyakit jantungnya tergolong berat, tak dianjurkan memberi ASI. Mekanisme oksitosin dapat merangsang otot polos. Sementara organ jantung bekerja dibawah pengaruh otot polos. Jadi, menyusu dapat memunculkan kontraksi

(41)

karena kelenjar tersebut terpacu hingga kerja jantung jadi lebih keras sehingga bisa timbul gagal jantung.

Kedua, ibu dengan eklamsia dan pre-eklamsia berat. Keadaan ibu biasanya tidak baik dan dipengaruhi obat-obatan untuk mengatasi penyakit. Biasanya menyebabkan kesadaran menurun sehingga ibu belum sadar betul. Tidak diperbolehkan ASI dipompa dan diberikan pada bayi. Sebaiknya pemberian ASI dihentikan meski tetap perlu dimonitor kadar gula darahnya. Konsultasikan pada dokter mengenai boleh-tidaknya pemberian ASI pada bayi dengan mempertimbangkan kondisi ibu serta jenis obat-obatan yang dikonsumsi.

Ketiga, ibu dengan penyakit infeksi akut dan aktif. Bahaya penularan pada bayi yang dikhawatirkan. Tuberkulosis paru yang aktif dan terbuka merupakan kontra indikasi mutlak. Pada sepsis keadaan ibu biasanya buruk dan tidak akan mampu menyusu. Banyak perdebatan mengenai penyakit infeksi apakah dibenarkan menyusu atau tidak. Ibu yang positif mengidap AIDS belum tentu bayinya juga positif AIDS.

Itu sebabnya ibu yang mengidap AIDS, sama sekali tak boleh memberi ASI pada bayi.

Keempat, ibu dengan karsinoma payudara, harus dicegah jangan sampai ASInya keluar karena mempersulit penilaian penyakitnya. Apabila menyusu, ditakutkan adanya sel-sel karsinoma yang terminum si bayi. Kalau semasa menyusu ibu ternyata harus menjalani pengobatan kanker, disarankan menghentikan pemberian ASI. Obat-obatan antikanker yang dikonsumsi, bersifat sitostatik yang prinsipnya mematikan sel. Jika obat-obatan ini sampai terserap ASI lalu diminumkan ke bayi,

(42)

dikhawatirkan mengganggu pertumbuhan sel-sel bayi.

Kelima, ibu dengan gangguan psikologi. Keadaan jiwa si ibu tidak dapat dikontrol bila menderita psikosis. Meskipun pada dasarnya ibu sayang pada bayinya, tetapi selalu ada kemungkinan penderita psikosis membuat cedera pada bayinya.

Keenam, ibu dengan gangguan hormon. Bila ibu menyusu mengalami gangguan hormon dan sedang menjalani pengobatan dengan mengonsumsi obat- obatan hormon, sebaiknya pemberian ASI dihentikan. Dikhawatirkan obat yang menekan kelenjar tiroid ini akan masuk ke ASI lalu membuat kelenjar tiroid bayi jadi terganggu.

Ketujuh, ibu dengan tuberculosis. Pengidap tuberkulosis aktif tetap boleh menyusu karena kuman penyakit ini tak akan menular lewat ASI, agar tak menyebarkan kuman ke bayi selama menyusu, ibu harus menggunakan masker.

Tentu saja ibu harus menjalani pengobatan secara tuntas.

Kedelapan, ibu dengan hepatitis. Bila ibu terkena hepatitis selama hamil, biasanya kelak begitu bayi lahir akan ada pemeriksaan khusus yang ditangani dokter anak. Bayi akan diberi antibodi untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya agar tidak terkena penyakit yang sama. Sedangkan untuk ibunya akan ada pemeriksaan laboratorium tertentu berdasarkan hasil konsultasi dokter penyakit dalam. Dari hasil pemeriksaan tersebut baru bisa ditentukan, boleh-tidaknya ibu memberi ASI. Bila hepatitisnya tergolong parah, umumnya tidak dibolehkan memberi ASI karena dikhawatirkan bisa menularkan pada si bayi.

(43)

2. Kontra Indikasi Pada Bayi

Kontra indikasi pada bayi, antara lain: pertama, bayi kejang. Kejang-kejang pada bayi akibat cedera persalinan atau infeksi tidak memungkinkan untuk menyusu.

Ada bahaya aspirasi, bila kejang timbul saat bayi menyusu. Kesadaran bayi yang menurun juga tidak memungkinkan bayi untuk menyusu.

Kedua, bayi yang sakit berat. Bayi dengan penyakit jantung atau paru-paru atau penyakit lain yang memerlukan perawatan intensif tidak memungkinkan untuk menyusu, namun setelah keadaan membaik tentu dapat disusui. Misalnya bayi dengan kelainan lahir dengan Berat Badan Lahir Sangat Rendah (Very Low Birth Weight) . Refleks menghisap dan refleks lain pada BBLSR belum baik sehingga tidak memungkinkan untuk menyusu.

Ketiga, bayi dengan cacat bawaan. Diperlukan persiapan mental si ibu untuk menerima keadaan bahwa bayinya cacat. Cacat bawaan yang mengancam jiwa si bayi merupakan kontra indikasi mutlak. Cacat ringan seperti labioskhisis, palatoskisis bahkan labiopalatoskisis masih memungkinkan untuk menyusu.

2.2.3 Penghambat Inisiasi Menyusu Dini

Banyak pendapat yang beredar dimasyarakat yang dapat menghambat terjadinya kontak dini kulit ibu dengan bayi, padahal tidak terbukti kebenarannya, justru sebaliknya harus melaksanakan inisiasi menyusu dini. Berikut pendapat di masyarakat dan bantahannya.

Pendapat yang pertama adalah karena bayi kedinginan, hal ini tidak benar.

Bergman, N (2005) menjelaskan bahwa suhu dada ibu yang melahirkan satu

(44)

derajatlebih panas daripada suhu dada ibu yang tidak melahirkan. Jika bayi yang diletakkan didada ibu ini kepanasan, suhu dada ibu akan turun satu derajat dan jika bayi kedinginan, suhu dada ibu akan meningkat dua derajat untuk menghangatkan bayi.

Pendapat yang kedua adalah suntikan vitamin K dan tetes mata untuk mencegah penyakit gonorrhea harus segera diberikan setelah lahir. Menurut American College of Obstetrics and Gynecology dan Academy Breastfeeding Medicine (2007), tindakan pencegahan ini dapat ditunda setidaknya selama satu jam sampai bayi menyusu sendiri tanpa membahayakan bayi.

Pendapat yang ketiga, bayi harus segera dibersihkan, dimandikan, ditimbang dan diukur. Padahal, menunda memandikan bayi berarti menghindarkan hilangnya panas badan bayi. Selain itu kesempatan vernix meresap, melunakkan dan melindungi kulit bayi lebih besar. Bayi dapat dikeringkan segera setelah lahir. Penimbangan dan pengukuran dapat ditunda sampai menyusu awal selesai. Pendapat yang keempat, bayi masih kurang siaga, padahal tidak demikian. Justru pada 1-2 jam pertama kelahirannya, bayi sangat siaga (alert). Setelah itu bayi tidur dalam waktu yang lama.

Jika bayi mengantuk akibat obat yang di asup ibu, kontak kulit akan lebih penting lagi karena bayi memerlukan bantuan lebih untuk bonding.

Pendapat yang kelima, kolostrum tidak baik, bahkan berbahaya untuk bayi. Hal ini tidak benar, kolostrum sangat diperlukan untuk tumbuh-kembang bayi. Selain sebagai imunisasi pertama dan mengurangi kuning pada bayi baru lahir, kolostrum melindungi dan mematangkan dinding usus yang masih muda. Kolostrum tidak

(45)

keluar atau jumlah kolostrum tidak memadai sehingga diperlukan cairan lain/cairan pre-laktal (tidak benar). Kolostrum cukup dijadikan makanan pertama bayi baru lahir.

Bayi dilahirkan membawa bekal air dan gula yang dapat dipakai pada saat itu.

Pendapat yang keenam, setelah melahirkan, ibu terlalu lelah untuk segera menyusui bayinya. Hal ini tidak benar, seorang ibu jarang terlalu lelah untuk memeluk bayinya segera setelah lahir, keluarnya oksitosin saat kontak kulit ke kulit serta saat bayi menyusu dini membantu menenangkan ibu. Pendapat yang ketujuh, ibu harus dijahit.

Sebenarnya tidak masalah, kegiatan merangkak mencari payudara terjadi di area payudara sedangkan yang dijahit adalah bagian bawah perut ibu.

Pendapat yang selanjutnya, tenaga kesehatan kurang tersedia untuk menemani ibu. Hal tidak jadi masalah, karena saat bayi di dada ibu, penolong persalinan dapat melanjutkan tugasnya, bayi dapat menemukan sendiri payudara ibu. Libatkan ayah atau keluarga terdekat untuk menjaga bayi sambil memberi dukungan pada ibu.

Pendapat yang terakhir, kamar bersalin atau kamar operasi sibuk. Hal ini juga tidak masalah, karena dengan bayi di dada ibu, ibu dapat dipindahkan ke ruang pulih atau kamar perawatan. Beri kesempatan pada bayi untuk meneruskan usahanya mencari payudara dan menyusu dini.

2.2.4 Beberapa Penelitian Tentang IMD

Penelitian yang dilakukan oleh Righard L dan Alade M (1990), dalam kutipan Roesli (2008) terhadap pasangan ibu-bayi baru lahir, untuk melihat keberhasilan IMD pada bayi yang lahir normal atau dengan tindakan menjelaskan bahwa bayi baru lahir yang dibiarkan melakukan kontak kulit dengan kulit ibunya, dapat menyusu sendiri

(46)

dengan baik, sedangkan bayi yang lahir dengan obat-obatan dan segera dipisahkan dari ibunya tidak dapat menyusu sendiri.

Penelitian Sose dkk (1978) dalam kutipan Roesli (2008) tentang pengaruh kontak kulit dengan kulit antara ibu dan bayi segera setelah bayi lahir terhadap lama menyusui. Bayi yang diberi kesempatan menyusu dini dengan melakukan kontak kulit ke kulit ibu setidaknya satu jam, hasilnya dua kali lebih lama disusui.

Sekitar 59% bayi yang diberi kesempatan untuk menyusu dini masih menyusu setelah berumur 6 bulan dan 38% masih menyusu setelah berumur satu tahun, sedangkan bayi yang tidak diberi kesempatan menyusu dini tinggal 29% saja yang masih menyusu saat berumur 6 bulan dan 8% saat berumur satu tahun.

Penelitian mengenai hubungan inisiasi menyusu dini dengan keberhasilan ASI Eksklusif yang dilakukan oleh Fika dan Syafiq (2003) dalam Roesli (2008) menunjukkan, bayi yang diberi kesempatan menyusu dini delapan kali lebih berhasil ASI Eksklusif daripada yang tidak diberi kesempatan menyusu dini.

Hasil penelitian Edmond dkk (2003) dalam kutipan Roesli (2008) menyimpulkan bahwa menunda permulaan/ inisiasi menyusu meningkatkan kematian bayi. Edmond menjelaskan bahwa dengan memberi kesempatan menyusu dalam satu jam pertama dengan dibiarkan kontak kulit ke kulit ibu (setidaknya selama satu jam), dapat menyelamatkan 22% bayi dibawah 28 hari.

Dan jika menyusu pertama dilakukan setelah bayi berusia diatas 2 jam dan dibawah 24 jam pertama, hanya 16% bayi dibawah 28 hari yang bisa diselamatkan.

(47)

Dari hasil penelitian tersebut dapat diketahui bahwa selain menyukseskan pemberian ASI Eksklusif, inisiasi menyusu dini juga dapat menyelamatkan nyawa bayi.

2.2.5 Program Pemerintah Dalam Pelaksanaan IMD

Salah satu dukungan pemerintah dalam mewujudkan keberhasilan inisiasi menyusu dini dapat kita lihat dari program persiapan yang dilakukan pemerintah berkaitan dengan pelaksanaan inisiasi menyusu dini. Persiapan yang dilakukan pemerintah adalah mengadakan pertemuan rumah sakit, dokter kebidanan, dokter anak, dokter anastesi, bidan, tenaga kesehatan yang bertugas di kamar bersalin, kamar operasi dan kamar perawatan ibu melahirkan, untuk mensosialisasikan Rumah Sakit Sayang Bayi yang direvisi tahun 2006 (Kristiyansari, 2009).

Selain itu, pemerintah juga mengadakan pelatihan tenaga kesehatan terkait yang dapat menolong, mendukung ibu menyusui, termasuk menolong inisiasi menyusu dini yang benar. Setidaknya antenatal (ibu hamil), dua kali pertemuan dengan tenaga kesehatan bersama orangtua, membahas keuntungan ASI dan menyusui, tatalaksana menyusui yang benar, inisiasi menyusu dini termasuk inisiasi dini pada kelahiran dengan obat-obatan atau tindakan yaitu pertemuan bersama-sama beberapa keluarga membicarakan secara umum dan pertemuan dengan satu keluarga membicarakan secara khusus. Di Rumah Sakit Ibu Sayang Bayi, inisiasi dini termasuk langkah ke empat dari sepuluh langkah keberhasilan menyusui.

(48)

2.2.6 Inisiasi Menyusu Dini dan MDGS

Inisiasi menyusu dini berperan dalam pencapaian tujuan Millenium Development Goals (MDGS), khususnya pada tujuan keempat, yakni membantu mengurangi angka kematian bayi. Menurut The World Health Report (2005), angka kematian bayi baru lahir di Indonesia adalah 20 per 1000 kelahiran hidup.

Berdasarkan penelitian WHO (2000) di enam negara berkembang yakni Brazil, Ghana, India, Oman Norwegia dan Amerika Serikat, resiko kematian bayi antara 9-12 bulan meningkat 40% jika bayi tersebut tidak disusui. Untuk bayi berusia dibawah dua bulan, angka kematian ini meningkat menjadi 48%.

Sekitar 40% kematian balita terjadi di usia bayi baru lahir (di bawah satu bulan). Jika bayi menyusu sejak dini, maka akan mengurangi 22% kematian bayi 28 hari. Berarti inisiasi menyusu dini mampu mengurangi 8,8% angka kematian balita (Roesli, 2008).

2.2.7 Kebijakan WABA Tentang IMD

Kebijakan The World Alliance for Breastfeeding Action (WABA) tentang Inisiasi Menyusu Dini terutama dalam satu jam setelah kelahiran, merupakan tahap penting untuk mengurangi kematian bayi dan mengurangi banyak kematian neonatal.

Menyelamatkan 1 juta bayi dimulai dari satu tindakan, satu pesan dan satu dukungan yaitu dimulai inisiasi dini dalam satu jam pertama kelahiran.

WHO/UNICEF merekomendasikan inisiasi menyusu dini dalam satu jam pertama kelahiran, menyusu secara eksklusif selama 6 bulan, diteruskan dengan makanan pendamping ASI sampai usia 2 tahun. Konferensi tentang hak anak

(49)

mengakui bahwa setiap anak berhak untuk hidup dan bertahan untuk melangsungkan hidup dan berkembang setelah persalinan. Wanita mempunyai hak untuk mengetahui dan menerima dukungan yang diperlukan untuk melakukan inisiasi menyusu dini yang sesuai.

WABA mengeluarkan beberapa kebijakan tentang inisiasi menyusu dini dalam pekan ASI sedunia (World Breasfeeding Week, 2007), antara lain:

menggerakkan dunia untuk menyelamatkan satu juta bayi dimulai dengan satu tindakan sederhana yaitu dengan memberi kesempatan pada bayi untuk melakukan inisiasi menyusu dini dalam satu jam pertama kehidupannya;

menganjurkan segera terjadi kontak kulit antara ibu dan bayi dan berlanjut dengan menyusui selama 6 bulan secara eksklusif; mendorong Menteri Kesehatan atau orang yang mempunyai kebijakan untuk menyatukan pendapat bahwa inisiasi menyusu dini dalam satu jam pertama adalah indikator penting untuk kesehatan;

memastikan keluarga mengetahui pentingnya satu jam pertama untuk bayi dan memastikan mereka untuk melakukan kesempatan yang baik ini pada bayi mereka; memberikan dukungan perubahan baru dan peningkatan kembali Rumah Sakit Sayang Bayi dengan memberi perhatian dalam penggabungan dan perluasan tentang inisiasi menyusu dini.

2.2.8 Bidan dan Inisiasi Menyusu Dini

Persalinan normal ialah terjadinya kelahiran bayi aterm dengan proses pervaginam alami dan tanpa komplikasi. Aspek pelayanan yang penting dalam partus normal ialah kasih sayang, keamanan dan kepuasan pasien. Hal ini lebih bayak

(50)

dibuktikan oleh para bidan, baik dalam praktek mandiri maupun kolaborasi dengan dokter Obgyn di rumah sakit (Soepardan, 2008).

Angka kematian bayi baru lahir di Indonesia masih tinggi, sebagian penyebab kematian tersebut dapat dicegah dengan penanganan yang kuat yang salah satunya adalah dengan pelaksanaan inisiasi menyusu dini. Bidan, sebagai petugas kesehatan yang menangani pertolongan persalinan secara langsung banyak berinteraksi dengan neonatal, sehingga sangat berperan penting dalam promosi dan pelaksanaan inisiasi menyusu dini (Sulistyawati, 2009).

Sesuai dengan protokol evidence–based yang telah diperbaharui oleh WHO dan UNICEF tentang asuhan bayi baru lahir untuk satu jam pertama kehidupannya, inisiasi menyusu dini menjadi program yang mendukung perubahan paradigma kebidanan yaitu mencegah terjadinya komplikasi, khususnya pada bayi baru lahir.

Dengan dilaksanakannya inisiasi menyusu dini, diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam penurunan angka kematian bayi baru lahir (JNPK-KR, 2008).

Untuk memudahkan kinerja bidan, JNPK-KR bekerjasama dengan POGI telah menerbitkan buku asuhan persalinan normal dan inisiasi menyusu dini sebagai acuan, serta bekerja sama dengan IBI, IDAI, P2KP-KR dibawah naungan Bakti Husada mengadakan pelatihan-pelatihan terkait, bagi seluruh bidan yang menangani persalinan di Indonesia.

Proses melakukan IMD oleh bidan dalam asuhan bayi baru lahir adalah sebagai berikut:

(51)

1. Memberikan informasi tentang asuhan yang akan diberikan;

2. Mengeringkan tubuh dan kepala kecuali tangan bayi;

3. Memotong dan mengikat tali pusat bayi;

4. Melakukan kontak kulit bayi dengan kulit ibu dengan cara menelungkupkan bayi diatas perut atau dada ibu (tanpa alas /dibedong).

5. Menyelimuti ibu dan bayi (memasang topi pada bayi jika perlu);

6. Membiarkan bayi mencari sendiri puting susu ibu;

7. Menganjurkan suami/keluarga untuk mendukung ibu;

8. Membiarkan ibu dan bayi sampai 1 jam atau sampai bayi berhasil menyusu.

9. Melakukan asuhan bayi baru lahir setelah bayi selesai menyusu.

10. Melakukan rawat gabung (menempatkan ibu dan bayi dalam ruangan yang sama).

2.3 Penelitian Terdahulu

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

Nama Judul Penelitian Hasil

1. Heddy Sitanggang

Implementasi Kebijakan PP No. 33 Tahun 2012 Tentang ASI Eksklusif Di Wilayah Kerja Patumbak Kabupaten Deli Serdang

Ketersediaan fasilitas yang cukup dalam pelaksanaan IMD menunjang

keberhasilan program IMD.

1. Khiyarotun Niswah 2. Noveri Aisyaroh

Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Sikap Bidan

tentang Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dengan praktik Inisiasi Menyusu Dini di Puskesmas Kota Semarang

Ada hubungan antara

sikap dan pengetahuan para

pelaksana IMD dalam praktik IMD

(52)

Tabel 2.1 (Lanjutan)

Nama Judul Penelitian Hasil

1. H.H Siregar 2. Ayun Sriatmi 3. Lucia Ratnadewi

Evaluasi Pelaksanaan Program IMD oleh Bidan Di RS Panti Wilasa Citarum Semarang

Ketersediaan SDM, fasilitas, dan dana yang cukup mempengaruhi kualitas pelaksanaan IMD

1. Saifuddin Sirajudidin 2. Tahir Abdullah 3. Sutriyani N Lumula

Determinan Pelaksanaan IMD

Pendidikan dan sikap bidan mempengaruhi pelaksanaan IMD

1. Desi Arumawati Evaluasi Pelaksanan IMD di RS Sultan Agung Semarang

Kualitas pelaksanaan IMD mempengaruhi program IMD

1. Wahyu Maliki

Analisis Implementasi Kebijakan Kurikulum Seni Budaya Keterampilan Sekolah Dasar Nasional 1, Bekasi, Jawa Barat

Disposisi dan sistem birokrasi kebijakan mempengaruhi

pelaksanaan program kurikulum sekolah dasar nasional1, Bekasi, Jawa Barat

2.4 Kebijakan Publik

Secara etimiologis, istilah kebijakan atau policy berasal dari bahasa Yunani

“poli” berarti negara, kota yang kemudian masuk ke dalam bahasa Latin menjadi

“politia” yang bersal berrati negara. Akhirnya masuk ke dalam bahasa Inggris

“police” yang artinya berkenan dengan pengendalian masalh-masalah publik atau administrasi pemerintah. Istilah “kebijakan” atau “policy” dipergunakan untuk menunjuk perilaku seorang aktor (misalnya seorang pejabat, suatu kelompok maupun suatu badan pemerintah) atau sejumlah aktor dalam suatu bidang kegiatan tertentu.

Pengertian kebijakan seperti ini dapat kita gunakan dan relatif memadai untuk keperluan pembicaraan-pembicaraan biasa, namun menjadi kurang memadai untuk

(53)

pembicaraan-pembicaraan yang lebih bersifat ilmiah dan sistematis menyangkut analisis kebijakan publik.

Budi Winarno (2007) menyebutkan secara umum istilah “kebijkan” atau

“policy” digunakan untuk menunjuk perilaku seorang aktor (misalnya seorang pejabat, suatu kelompok maupun suatu lembaga pemerintahaan) atau sejumlah actor dalam suatu bidang kebijakan tertentu. Pengertian kebijakan seperti ini dapat kita gunakan dan relatif memadai untuk pembicaraan-pembicaraan biasa, namun menjadi kurang memadai untuk pembicaraan-pembicaraan yang lebih bersifat ilmiah dan sistematis menyangkut analisis kebijakan public yang lebih tepat.

Makna kebijakan menurut Friedrich (1997) yang dikutip oleh Solichin Abdul Wahab (2012) adalah:

“Kebijakan merupakan suatu tindakan yang mengarah pada tujuan yang diusulkan oleh seseorang, kelompok atau pemerintah dalam lingkungan tertntu sehubungan dengan hambatan-hambatan tertentu seraya mencari peluang-peluang untuk mencapai tujuan atau sesuatu yang diinginkan.”

Fredrickson dan Hart Tangkilisan (2003), mengemukakan kebijakan adalah suatu tindakan yang mengarah pada tujuan yang diusulkan oleh seseorang, kelompok atau pemerintah dalam lingkungan tertentu. Sehubungan adanya hambatan-hambatan tertentu sambil mencari peluang-peluang untuk mencapai tujuan atau mewujudkan sasaran yang diinginkan (Wahab, 2012).

Dari penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa kebijakan adalah suatu tindakan yang bermaksud untuk mencapi tujuan, sedangkan kebijakan tentang pelaksanaan program IMD adalah suatu kebijakan yang dibuat pemerintah untuk

(54)

menekan dan menurunkan angka kematian ibu dan anak di Indonesia.

Carl I. Friedrick dalam Nugroho (2013) mendefinisikan kebijakan publik sebagai serangkaian tindakan yang diusulkan seseorang, kelompok, atau pemerintah dalam suatu lingkungan tertentu, dengan ancaman dan peluang yang ada, di mana kebijakan yang diusulkan tersebut ditujukan untuk memanfaatkan potensi sekaligus mengatasi hambatan yang ada dalam rangka mencapai tujuan tertentu.

Nugroho (2013) membagi kebijakan publik ke dalam empat jenis, yaitu : 1. Kebijakan Formal, keputusan-keputusan yang dikodifikasikan secara tertulis dan

disahkan atau diformalkan agar dapat berlaku. Kebijakan formal dikelompokkan menjadi tiga, yaitu perundang-undangan, hukum, dan regulasi.

2. Konvensi atau kebiasaan atau kesepakatan umum, kebijakan ini biasanya ditumbuhkan dari proses manajemen organisasi public, contohnya standar operasional prosedur (SOP) tidak tertulis atau tertulis tetapi tidak diformalkan.

3. Pernyataan pejabat publik yang harus dan selalu mewakili lembaga publik yang diwakili atau dipimpinnya.

4. Perilaku pejabat, Gesture pimpinan ditirukan oleh bawahannya.

Kebijakan publik merupakan suatu proses yang terdiri dari bagian-bagian tahapan yang kompleks karena melibatkan banyak proses maupun variabel yang harus dikaji. Menurut Dunn dalam Winarno (2014) tahapan kebijakan publik adalah sebagai berikut:

Gambar

Gambar 2. 1 Teori Implementasi George Edward III  Sumber: Buku Analisis Kebiajakan Publik Subarsono, 2009
Gambar 2.2 Model Implementasi Menurut Geoarge Edward III  Sumber: Buku Analisis Kebijakan Publik Subarsono, 2009  b
Gambar 2.3 Kerangka Pikir
Gambar 5.1 Model Implementasi menurut Geoarge Edward III  Sumber: Buku Analisis Kebijakan Publik Subarsono, 2009
+4

Referensi

Dokumen terkait

1) Sumber daya manusia sebagai pelaksana dan sumber daya fisik yang berupa fasilitas pendukung pelaksanaan program Jampersal sudah cukup memadai, baik dari segi

Sistem yang berjalan pada Desa Kebon IX sudah cukup Baik, Desa sudah memiliki Aplikasi perkantoran dan Alat-alat yang memadai, dan dalam segi Sumber Daya Manusia

Sehubungan dengan akan dilaksanakan penelitian yang berjudul “Analisis Faktor Yang Memengaruhi Pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini Pada Bidan Praktek Swasta di Kota Binjai Tahun

Natsir Solok diperoleh pelaksanaan pengodean diagnosa sudah berjalan baik, namun masih ditemui beberapa hambatan bagian sumber daya manusia (SDM) seperti kurangnya

Pada aspek sumber daya dalam penerapan E-Suket sudah berjalan dengan baik, hal tersebut dapat dilihat dari sumber daya manusia yang sudah cukup untuk melaksanakan E-Suket

Bagi Dispenda, perlu diadakannya pembinaan SDM (Sumber Daya Manusia terkait dalam membina pegawai untuk dapat lebih berkoordinasi dengan baik antar bidangnya, Dalam

Sumber daya manusia dalam kebijakan Implementasi Kebijakan Anak Terlantar di Kecamatan Indralaya Utara Kabupaten Ogan Ilir sudah cukup bersinergi namun permasalahan

Sumber daya dapat diketahui bahwa Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Tanjungpinang sudah memiliki pegawai atau sumber daya manusia yang baik kemudian KPA juga