1.6.1. Kerangka Teori.
Sutan Remy Sjahdeini berpendapat bahwa yang dimaksudkan dengan teori adalah serangkaian proposisi atau keterangan yang saling berhubungan dan tersusun dalam sistem deduksi yang mengemukakan penjelasan atas suatu gejala.40 Teori juga digunakan untuk menggali
39
Ibid, halaman 155.
40
lebih mendalam aturan hukum dengan memasuki teori hukum demi mengembangkan suatu kajian hukum tertentu41, yang diperinci lagi oleh Soerjono Soekanto dalam kegunaan teori sebagai berikut :42 1. Untuk mempertajam atau lebih mengkhususkan fakta yang hendak
diselidiki atau diuji kebenarannya.
2. Sebagai suatu ikthisar daripada hal-hal yang telah diketahui serta diuji kebenarannya yang menyangkut objek yang diteliti.
3. Sebagai kemungkinan prediksi pada fakta mendatang, oleh karena telah diketahui sebab-sebab terjadinya fakta tersebut dan mungkin faktor-faktor tersebut akan timbul lagi pada masa-masa mendatang.
Penulisan tesis ini, akan terfokus pada urgenitas asas keseimbangan dalam pembuatan/penyusunan perjanjian kredit di bank dan pengakomodiran kepentingan para pihak secara seimbang dalam perjanjian kredit bank. Perjanjian kredit yang mengakomodir kepentingan pihak-pihak secara seimbang diharapkan akan memberikan manfaat dan keadilan bagi para pihak yang bermuara pada tercapainya tujuan hukum, yakni berubahnya kehidupan masyarakat dari keadaan sebelumnya yang terkesan “pasrah” atas
klausula perjanjian kredit yang memberatkannya menjadi masyarakat yang memperjuangkan kepentingan perdatanya dalam suatu perjanjian kredit. Karena itu, teori Roscoe Pound bahwa hukum itu keseimbangan kepentingan dimana apabila keseimbangan kepentingan telah tercapai akan merubah kehidupan masyarakat dan terciptanya kemajuan hukum, dianggap penulis tepat digunakan sebagai landasan teori dalam penulisan tesis ini.
Roscoe Pound (1870-1964) dari aliran Neo-Positivisme adalah tokoh teori hukum abad ke-20, mengemukakan teori tentang
hukum itu keseimbangan kepentingan.43 Bagi Pound, hukum tidak boleh dibiarkan mengawang dalam konsep-konsep logis-analitis
41
Peter Mahmud Marzuki, Op.Cit, halaman 73.
42
Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Cetakan ke-3, UI Press, Jakarta, 2006, halaman 121.
43
Bernard L. Tanya, Yoan N. Simanjuntak dan Markus Y. Hage, Teori Hukum Strategi Tertib Manusia Lintas Ruang dan Generasi, Genta Publishing, Yogyakarta : 2010, halaman 154.
ataupun tenggelam dalam ungkapan-ungkapan teknis yuridis yang terlampau eksklusif. Sebaliknya, hukum itu mesti didaratkan di dunia nyata, yaitu dunia sosial yang penuh sesak dengan kebutuhan dan kepentingan-kepentingan yang saling bersaing.44 Karena itu perlu langkah progresif yaitu memfungsikan hukum untuk menata ketimpangan-ketimpangan struktural dalam pola keseimbangan yang proporsional sebagai langkah perubahan menciptakan dunia yang beradab dalam masyarakat.45 Dari sinilah muncul teori Pound tentang
law is a tool of social engineering46.
Fokus utama Pound dalam konsep social engineering adalah keseimbangan kepentingan. Menurut Pound, antara hukum dan masyarakat terdapat hubungan yang fungsional. Hukum tidaklah menciptakan kepuasan tetapi hanya memberi legitimasi atas kepentingan manusia untuk mencapai kepuasan tersebut dalam keseimbangan.47 Tujuannya ialah untuk sebaik-baiknya mengimbangi kebutuhan-kebutuhan sosial dan individual yang satu dengan yang lain. Cita-cita keadilan yang hidup dalam hati rakyat dan yang ditujui oleh pemerintah merupakan simbol dari harmonisasi yang tidak memihak antara kepentingan-kepentingan individual yang satu terhadap yang lain. Ideal keadilan ini didukung oleh paksaan. Paksaan digunakan oleh negara demi kontrol sosial, yaitu untuk menjamin keamanan sosial, dan dengan demikian memajukan kepentingan umum sebaik-baiknya.48
44
Ibid.
45
Gurvitch Georges dalam Mertodipuro Sumantri dan Moh. Radjab (Penerjemah), Sosiologi Hukum, Penerbit Bhratara, Jakarta, 1996, halaman 142, mengemukakan bahwa pikiran Pound dibentuk oleh konfrontasi terus-menerus dari masalah sosiologis (masalah pengawasan sosial dan kepentingan sosial), masalah flsafat (pragmatisme serta teori eksperimental tentang nilai-nilai), masalah sejarah hukum (berbagai kemantapan dan keluwesan dalam tipe sistem hukum) dan masalah sifat pekerjaan pengadilan Amerika (unsur kebijaksanaan administratif dalam proses pengadilan).
46
Bernard L.Tanya, Yoan N. Simanjuntak dan Markus Y. Hage, Op.Cit, halaman 155.
47
Ibid, halaman 161.
48
Theo Huijbers, Filsafat Hukum dalam Lintasan Sejarah, Yayasan Kanisius, Yogyakarta, 1982, halaman 180.
Lebih lanjut Pound mengemukakan bahwa dalam perkembangannya telah terjadi perubahan sistem hukum yaitu meliputi :49 (1) pembatasan penggunaan kekayaan; (2) pembatasan kebebasan perjanjian; (3) pembatasan kekuasaan memiliki kekayaan; (4) pembatasan kekuasaan pemiutang (creditor) atau pihak yang dirugikan untuk menjamin kepuasannya; (5) perubahan gagasan tentang pertanggungjawaban dalam arti adanya dasar yang lebih objektif; (6) keputusan pengadilan mengenai kepentingan masyarakat, dengan pembatasan peraturan umum untuk lebih mengutamakan pedoman yang luwes dan kebijaksanaan; (7) pengadaan dana umum untuk mengganti kerugian individu yang dirugikan oleh alat kekuasaan negara; (8) perlindungan anggota rumah tangga yang hidupnya masih bergantung.
Dalam tulisan-tulisannya, Roscoe Pound berusaha menjelaskan
social engineering dengan formulasi social interest yaitu perimbangan kepentingan-kepentingan masyarakat akan menghasilkan perubahan kehidupan masyarakat dan kemajuan hukum.
Pound dalam Lili Rasjidi (1985)50 mengklasifisir interest-interest yang dilindungi oleh hukum dalam 3 kategori pokok :
1. Public interest (kepentingan umum);51 2. Social interest (kepentingan masyarakat);52
49
Gurvitch Georges dalam Mertodipuro Sumantri dan Moh. Radjab (Penerjemah), Op.Cit, halaman 145.
50
Lili Rasjidi, Dasar-Dasar Filsafat Hukum, Alumni, Bandung, 1985, halaman 130.
51
Public interest yang terutama adalah : pertama : kepentingan dari negara sebagai badan hukum dalam mempertahankan kepribadian dan substansinya, dan kedua, kepentingan-kepentingan dari negara sebagai penjaga kepentingan-kepentingan masyarakat.
52
Social interest menurut Pound dalam Bernard L.Tanya, Yoan N. Simanjuntak dan Markus Y. Hage, Op.Cit, halaman 156-157, meliputi enam jenis kepentingan, pertama¸kepentingan sosial dalam soal keamanan umum meliputi kepentingan dalam melindungi ketenangan dan ketertiban, kesehatan dan keselamatan, keamanan atas transaksi-transaksi dan pendapatan, kedua, kepentingan sosial dalam hal keamanan institusi sosial meliputi : a) perlindungan hubungan-hubungan rumah tangga dan lembaga-lembaga politik serta ekonomi yang sudah lama diakui dalam ketentuan-ketentuan hukum yang menjamin lembaga perkawinan atau melindungi keluarga sebagai lembaga sosial, b) keseimbangan antara kesucian perkawinan dan hak untuk bercerai, c)
3. Private interest (kepentingan pribadi);
Kepentingan-kepentingan yang diklasifikasikan Pound tersebut sifatnya tidak absolut karena sangat bergantung pada sistem politik dan sosial masyarakat. Titik kekuatan Pound terletak pada kerangka pengelompokan yang dibangunnya serta peran sentral dari pengelompokan itu, pertama, hukum perlu didayagunakan sebagai sarana menuju tujuan sosial dan sebagai alat dalam perkembangan sosial, kedua, pengelompokan semacam itu sangat membantu untuk memperjelas kategori kepentingan yang ada dalam masyarakat secara keseluruhan, berikut bagaimana menyeimbangkannya secara tepat sesuai dengan aspirasi dan tuntutan yang berkembang kini dan di sini.53
Tentang private interest, Pound membedakannya atas tiga macam yaitu :54
1. Interest of personality, meliputi perlindungan terhadap integritas (keutuhan) fisik, kemerdekaan kehendak, reputasi (nama baik) terjaminnya rahasia-rahasia pribadi, kemerdekaan keyakinan agama dan kemerdekaan pendapat. Oleh Pound hal-hal tersebut mencakup cabang-cabang hukum seperti hukum pidana mengenai serangan dan penganiayaan, hukum tentang fitnah, prinsip-prinsip kontrak atau pembalasan kekuasaan polisi bercampur tangan
perbuatan-perbuatan yang tidak diinginkan antara suami dan isteri terhadap hak bersama untuk menuntut ganti rugi karena perbuatan yang tidak patut, d) keseimbangan antara perlindungan lembaga-lembaga keagamaan dan tuntutan akan kemerdekaan beragama, e) menyangkut kepentingan keamananan lembaga-lembaga politik, maka perlu ada keseimbangan antara jaminan kebebasan berbicara dan kepentingan keselamatan negara, ketiga, kepentingan-kepentingan sosial menyangkut moral umum meliputi perlindungan masyarakat terhadap merosotnya moral seperti korupsi, judi, fitnah, transaksi-transaksi yang bertentangan dengan kesusilaan, serta ketentuan-ketentuan yang ketat mengenai tingkah laku wali, keempat, kepentingan sosial menyangkut pengamanan sumber daya sosial termasuk penyalahgunaan hak atas barang yang dapat merugikan orang, kelima, kepentingan sosial menyangkut kemajuan sosial berkaitan dengan keterjaminan hak manusia memanfaatkan alam untuk kebutuhannya, tuntutan agar rekayasa sosial bertambah banyak dan lain sebagainya, keenam, kepentingan sosial menyangkut kehidupan individual (pernyataan diri, kesempatan, kondisi kehidupan).
53
Ibid, halaman 157-158.
54
dalam rapat-rapat, proses-proses, jaminan hak milik, dan sebagainya;
2. Interest in domestic meliputi kepentingan dalam hubungan rumah tangga terutama mengenai perlindungan hukum bagi perkawinan, tuntutan bagi pemeliharaan keluarga dan hubungan hukum antara orang tua dan anak-anak yang meliputi pula masalah-masalah nafkah dari anak-anak dan kekuasaan pengawasan pengadilan-pengadilan anak-anak terhadap hubungan hukum antara orang tua dan anak-anak;
3. Interest of substance meliputi perlindungan terhadap harta, kemerdekaan penggantian mewaris dalam penyusunan testament, kemerdekaan industri dan kontrak dan pengharapan legal akan keuntungan-keuntungan yang akan diperoleh. Juga dimasukkan hak untuk berserikat yang masih dipolemikkan tergolong interest of personality dari pada interest of substance.
Dalam konteks perjanjian kredit perbankan maka konsep pendekatan interest Pound yang bertalian dengan obyek kajian adalah
private interest sebagai lingkup keperdataan yakni hubungan hukum antara orang sebagai nasabah atau debitur dengan badan hukum bank sebagai kreditur, khususnya interest of personality mengenai prinsip-prinsip kontrak dan interest of substance mengenai kemerdekaan berkontrak.
Pound mengemukakan bahwa pada awalnya kontrak berupa pertukaran janji secara lisan diantara dua belah pihak. Dalam pertukaran janji lisan tersebut, moral55 selalu dikedepankan dalam bentuk selalu berfikir positif bahwa para pihak yang saling bertukar
55 Kaum Puritein mengemukakan doktrin bahwa manusia ialah “a free moral agent”, dengan kemampuan untuk memilih apa yang akan ia perbuat dan suatu tanggung jawab yang mengiringi kemampuan itu. Ia mengutamakan kesadaran batin individual dan penilaian individual. Tak ada kekuasaan yang diperbolehkan memaksanya, tetapi tiap-tiap orang patut menduga dan menanggung segala konsekuensi tentang pilihan yang bebas dilakukannya. (Ibid, halaman 74).
janji tersebut memiliki itikad yang baik dalam bertukar janji.
Pertukaran janji lisan tersebut didasarkan pada “saling percaya”.56
Dalam pemikiran-pemikiran sarjana-sarjana Romawi, dikenal dua macam janji, yaitu :57
1. Janji-janji formal,
a. Dengan ketentuan, mempergunakan perkataan penyucian spandeo dan demikian menganggap bahwa dengan upacara pencurahan air suci dewa-dewa akan memperhatikan janji itu. b. Dengan upacara umum yang rupanya melambangkan satu
transaksi sejati di depan seluruh rakyat.
c. Dimasukkan ke dalam buku belanja rumah tangga.
2. Janji-janji formal saja yang tidak diakui oleh hukum dan bergantung seluruhnya kepada itikad baik dari orang yang berbuat janji.
Menurut teori equivalent sebagai rasionalisasi dari causa debendi58 hukum Jerman Kuno, model janji lisan diistilahkan sebagai janji abstrak59 yang tidak dikenakan equivalent, tidak mengikat secara otomatis dan karena itu tidak mengikat secara hukum, kecuali hal yang terlebih dulu telah diakui hukum.
Pound mengemukakan tiga alasan tidak mengikatnya secara hukum model janji abstrak, sebagai berikut :
1. Alasan pertama, mempercayai janji abstrak adalah suatu kecerobohan dan tidak dapat dimintakan jaminan kecuali apa yang dijamin oleh hukum. Artinya bahwa jika sesuatu yang diperjanjikan tersebut sebelumnya tidak diatur oleh hukum
56
Bandingkan pula dengan pendapat Charles Fried dalam tulisannya Contract as Promise, dalam Craswell, Richard dan Alan Schwartz (editor) dalam Foundations of Contract Law, Oxford University Press, New York, 1994.
57
Roscoe Pound dalam Mohamad Radjab (Penterjemah), Pengantar Filsafat Hukum, Bhratara Karya Aksara, Jakarta, 1982, halaman 150.
58
Causa debendi merupakan alasan untuk mengutang pelaksanaan yang dijanjikan. Bila sesuatu ditukar untuk satu janji, maka sesuatu itu adalah satu causa debendi. Jadi, causa debendi adalah reason dari penundaan pelaksanaan kewajiban dalam perjanjian.
59
Menurut Hegel, janji abstrak hanyalah satu kualifikasi subyektif dari kemauan seseorang, yang mempunyai kebebasan untuk mengubahnya.
sebagai hal yang diperjanjikan maka tidak ada jaminan perlindungan hukum atas perjanjian tersebut. Karena janji abstrak di luar yang telah diatur hukum tidak dijamin oleh hukum maka tidak ada kepentingan dalam janji abstrak tersebut dan karena itu kita tidak dapat membuktikan kepentingan hukumnya.
2. Alasan kedua, suatu janji abstrak tanpa equivalent menunjukkan bahwa janji tersebut dibuat secara tidak sungguh-sungguh dan tanpa pemikiran yang matang, karena itu janji seperti itu tidak dapat dipercayai. Hanya janji yang dibuat melalui pemikiran yang matang dan dengan niat yang sungguh-sungguh saja yang dapat diuji secara equivalent.
3. Alasan ketiga, apabila janji abstrak tidak ditepati maka akan menerbitkan kerugian pada pihak lainnya dan tidak ada sarana untuk menuntut ganti kerugian atas tidak dilaksanakannya janji tersebut.
Menurut Pound, unsur yang paling menentukan dalam pemikiran abad ke-17 mengenai kontrak adalah gagasan hukum alam; gagasan tentang deduksi dari sifat manusia sebagai salah satu makhluk bersusila, dan dari kaidah hukum dan lembaga hukum yang menyatakan cita-cita sifat manusia ini60 dimana pada abad ke-19 telah terjadi pergeseran paradigma, yaitu menekankan pada kebebasan dalam membuat kontrak ketimbang memaksakan pelaksanaan kontrak sebagai deduksi dari hukum kebebasan.61 Tiap orang agar dibebaskan untuk memakai kekuasaan alamiah dengan merdeka dalam melakukan penawaran dan pertukaran serta dalam mengadakan perjanjian (kontrak), dengan ketentuan bahwa kebebasan tersebut tidak boleh
60
Roscoe Pound dalam Mohamad Radjab (Penerjemah), Op.Cit, halaman 154.
61
Menurut Theo Huijberg dalam Abdul Ghofur Anshori, Filsafat Hukum, Gadja Mada University Press, Yogyakarta, 2006, halaman 117-118, inti sari kebebasan adalah bahwa manusia dapat bertindak menurut inisiatif sendiri dan pilihan sendiri atas dasar pandangannya yang universal. Tiap-tiap tindakan terdiri dari tiga unsure : 1) tindakan itu sendiri, 2) asal tindakan, 3) tujuan tindakan. Makna kebebasan adalah bila manusia mampu mengarahkan dirinya kea rah suatu tujuan yang bernilai baginya. Makna kebebasan semacam inilah yang disebut sebagai kebebasan eksistensial, karena kebebasan dipandang sebagai sarana untuk mencapai tujuan hidupnya, dan dengan demikian mengembangkan eksistensinya sesuai dengan cita-cita inti pribadinya.
mengganggu kebebasan orang lain (kebebasan terbatas).62 Kebebasan sebagai satu gagasan etis yang menjelmakan dirinya di dalam satu kebebasan yang lebih besar dari pengemukaan diri (self-assertion) dan penentuan sendiri (self-determination) melalui janji dan persetujuan, dan memberikan satu efek yang lebih luas kepada kehendak yang dikemukakan dan diperjanjikan tersebut.63
Aliran utilitarianism sebagai gagasan hukum alam dan laissez faire sebagai paham ekonomi klasik memiliki pengaruh yang besar dalam perkembangan hukum perjanjian abad ini, yaitu menempatkan kebebasan berkontrak sebagai prinsip umum dalam pembuatan perjanjian.
Kebebasan berkontrak adalah refleksi dari perkembangan paham pasar bebas yang dipelopori oleh Adam Smith dimana teori ekonomi klasik yang dikemukakannya telah didasarkan pada ajaran hukum alam. Hal yang sama menjadi dasar pemikiran Jeremy Bentham yang dikenal dengan utilitarianism. Itulah sebabnya
Utilitarianism dan teori klasik laissez faire dianggap saling melengkapi dan sama-sama menghidupkan pemikiran liberal individualistis.64 Demikian halnya, dalam konsep Laissez-Faire, individu harus diberikan kebebasan untuk menetapkan langkahnya, dengan sekuat akal dan tenaganya, untuk mencapai kesejahteraan yang
62
Menurut Theo Huijberg, Ibid, halaman 117, kebebasan manusia tidak tanpa batas. Tiap-tiap pilihan adalah terbatas, baik karena faktor eksternal maupun internal. Terbatasnya pilihan disebabkan halangan-halangan baik yang bersifat eksternal maupun yang bersifat internal. Dalam filsafat tradisional, ada empat halangan yang dimaksud : a. Halangan yang berasal dari batin, yaitu ketidakpengetahuan (ignorantia), ketakutan
(metus) dan nafsu (passio).
b. Halangan yang berasal dari luar batin, yaitu kekerasan (violentia) atau tekanan atau paksaan.
63
Roscoe Pound dalam Muhammad Radjab (Penerjemah), Tugas Hukum, Bhratara, Jakarta, 1965, halaman 23, mengemukakan bahwa ahli-ahli filsafat hukum dari abad ke-19 yang beriktiar mendasarkan seluruh teorinya di atas gagasan kebebasan, memandang persetujuan atau kontrak sebagai lembaga-lembaga hukum yang penting. Lembaga-lembaga ini menyadari kebebasan itu sebagai ide. Dikatakan bahwa penyelenggaraan kontrak, persetujuan, penyelesaian perkara dan akte penyerahan adalah legislatif sifatnya. Pihak-pihak peserta perjanjian adalah membuat undang-undang untuk mereka sendiri.
64
seoptimal mungkin. Jika individu berhasil mencapai kesejahteraan, masyarakat yang merupakan kumpulan individu tersebut akan sejahtera pula. Dalam mencapai kesejahteraan ekonomi individu harus mempunyai kebebasan dan raja serta pejabatnya tidak boleh campur
tangan.”65
Dalam kebebasan berkontrak terdapat kebebasan seluas-luasnya yang oleh undang-undang diberikan kepada masyarakat untuk mengadakan perjanjian tentang apa saja, asalkan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan, kepatutan dan ketertiban umum.66 Dengan demikian, kebebasan berkontrak bukanlah keadaan sebebas-bebasnya membuat perjanjian tanpa memperhatikan undang-undang, kepatutan dan kepentingan umum, melainkan kebebasan berkontrak yang bertanggung jawab dan dibatasi oleh undang-undang, kepatutan dan kepentingan umum. Karena itu, meskipun para pihak memiliki kebebasan dalam berkontrak, namun perjanjian tersebut hendaknya tidak memuat unsur yang bertentangan dengan undang-undang, kepatutan dan kepentingan umum. Dalam hal ini Nili Cohen dalam tulisannya Pre-Contractual Duties mengemukakan sebagai berikut :
no legal system would legitimize use of violence, fraud or other
unlawful menas in negotiating process; … A contract concluded
by violence or fraud is not a product of the free will of the contracting parties.67
Menurut hukum perjanjian Indonesia, asas kebebasan berkontrak meliputi ruang lingkup sebagai berikut :68
1. Kebebasan untuk membuat atau tidak membuat perjanjian.
65
Kennnet Lux dalam Dewi Tenty Septi Artiany, Op.Cit, halaman 24.
66
Rahman Hasanudin, Aspek-Aspek Hukum Pemberian Kredit Perbankan di Indonesia, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1995, halaman 148.
67
Nili Cohen dalam Jack Beatson and Daniel Friedman (editor), Good Faith and Fault in Contract Law, Clarendon Press Oxford, New York, 1995, halaman 25.
68
2. Kebebasan untuk memilih pihak dengan siapa ia ingin membuat perjanjian.
3. Kebebasan untuk menentukan atau memilih causa dari perjanjian yang akan dibuatnya.
4. Kebebasan untuk menentukan obyek perjanjian. 5. Kebebasan untuk menentukan bentuk suatu perjanjian.
6. Kebebasan untuk menerima atau menyimpangi ketentuan undang-undang yang bersifat opsional (aanvulled, optional).
Kebebasan berkontrak yang merupakan „roh‟ dan „napas‟
sebuah kontrak atau perjanjian, secara implisit memberikan panduan bahwa dalam berkontrak pihak-pihak diasumsikan mempunyai kedudukan yang seimbang. Selanjutnya masing-masing pihak akan merasa saling membutuhkan dan perjanjian dapat dipandang sebagai kerjasama mencapai tujuan bersama yang memberi kebahagiaan bersama, ada saling menghormati dan memiliki tanggung jawab bersama menjalankan ikhtisiar janji yang diikat bersama. Dengan demikian, diharapkan akan muncul kontrak yang adil dan seimbang pula bagi para pihak.69
Namun demikian, dalam praktik masih banyak ditemukan model kontrak standar (kontrak baku) yang dianggap cenderung berat sebelah dan tidak seimbang. Agus Yudha Hernoko mengibaratkan kontrak yang demikian sebagai pertarungan antara David vs Goliath, dimana berhadapan dua kekuatan yang tidak seimbang, antara pihak yang mempunyai bargaining position kuat yang diposisikan sebagai Goliath dengan pihak yang lemah bargaining position-nya yang diposisikan sebagai David. Dengan demikian pihak yang lemah
bargaining position hanya sekedar menerima segala isi kontrak dengan terpaksa (taken for granted), sebab apabila ia mencoba menawar dengan alternatif lain kemungkinan besar akan menerima konsekuensi kehilangan apa yang dibutuhkan. Jadi hanya ada dua alternatif pilihan bagi pihak yang lemah bargaining position-nya untuk menerima atau menolak (ta ke it or leave it).70
69
Agus Yudha Hernoko, Op.Cit, halaman 2.
70
Mengenai keadaan tersebut, Sutan Remy Sjahdeini mengemukakan pendapatnya bahwa bila dalam perjanjian dimana tidak adanya keseimbangan kedudukan para pihak maka yang saling berhadapan adalah dua lawan janji dan bukan dua mitra janji.71 Kebebasan berkontrak hanya dapat mencapai keadilan jika para pihak memiliki bargaining power yang seimbang. 72 Dalam literatur lain,
Tan Kamello berpendapat bahwa “…tekanan dari salah satu pihak
melalui posisi inequality of bargaining power dapat mengakibatkan prestasi perjanjian tidak seimbang, dan hal ini melanggar asas iustum pretium”.73
Menyikapi ketidakseimbangan dalam perjanjian baku tentunya diperlukan sikap dan pemahaman yang objektif serta komprehensif dalam menilai isi kontrak. Akan lebih fair dan obyektif apabila menilai keberadaan suatu kontrak terutama dengan mencermati substansinya.74
1.6.2. Kerangka Konsep.
Konsepsi adalah pengembangan image untuk menerjemahkan suatu ide atau gagasan, yang biasanya berbentuk kata sebagai usaha menerjemahkan sesuatu yang abstrak menjadi sesuatu yang konkrit yang disebut operational definition.
Dalam penulisan tesis ini, terdapat beberapa istilah yang sering terdapat dalam bidang hukum perjanjian yaitu asas keseimbangan dan posisi tawar (bargaining position) yang lebih kuat. Sebagai upaya menghindari kesimpangsiuran pengertian mengenai istilah-istilah tersebut, maka perlu penulis memberikan batasan arti dari kedua istilah di atas sebagai berikut :
71
Sutan Remy Sjahdeini, Op.Cit, halaman 2.
72
Ibid, halaman 204.
73
Tan Kamello, Karakter Hukum Perdata dalam Fungsi Perbankan Melalui Hubungan Antara Bank dengan Nasabah, Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap dalam Bidang Ilmu Hukum Perdata pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Tahun 2006, halaman 11.
74
1. Asas keseimbangan adalah keadaan hening atau keselarasan karena dari pelbagai gaya yang bekerja tidak satupun mendominasi yang lainnya atau karena tidak satu elemen menguasai yang lainnya.75 2. Posisi tawar (bargaining position) yang lebih kuat adalah posisi
salah satu pihak yang karena hal-hal tertentu dapat memaksakan kehendaknya agar pihak yang lain menerima klausula-klausula yang diinginkan sehingga perjanjian itu menguntungkan dirinya sendiri dan sebaliknya merugikan pihak yang lain.76