BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.5 Kerangka Teori Penelitian
Penelitian ini dimulai dengan pemahaman apoteker dan dokter terhadap potensi interaksi antidiabetik oral pada pasien DM tipe 2 menggunakan metode kualitatif melalui wawancara mendalam. Kemudian dilanjutkan dengan melakukan analisis potensi interaksi antidiabetik oral pada resep menggunakan metode kuantitatif dan dianalisis berdasarkan literatur dan situs aplikasi terpercaya. Jika pemahaman apoteker dan dokter kurang maka pada resep banyak ditemukan potensi interaksi obat terutama yang bersifat sedang dan berat (atau sebaliknya). Kerangka teori penelitian dapat lebih jelas dilihat pada Gambar 2.2.
Gambar 2.2 Kerangka Teori Penelitian
Kualitatif
Apoteker
Dokter Spesialis Penyakit Dalam
Indepth Interview/
Wawancara Mendalam
Pemahaman Terkait Interaksi Antidiabetik
Oral
kurang cukup
Rawat Inap Rawat Jalan
Resep Pasien dengan Terapi Antidiabetik oral
Analisis Potensi Interaksi Obat menggunakan Medscape dan Drugs.com
- Frekuensi Interaksi - Mekanisme Interaksi - Jenis Obat yang Berinteraksi - Tingkat Keparahan Interaksi
Jumlah Obat
Kejadian Potensi Interaksi Obat Antidiabetik Oral
Kecil Besar
Kuantitatif
Resep Pasien
Dengan atau Tanpa Penyakit Penyerta
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ada dua jenis bagian yaitu :
a. persepsi apoteker dan dokter terhadap potensi interaksi antidiabetik oral merupakan penelitian dengan metode kualitatif. Metode ini bersifat mendeskripsikan dan cenderung menggunakan analisis dan lebih menampakan proses maknanya. Metode kualitatif merupakan metode yang menekankan pada aspek pemahaman lebih mendalam terhadap suatu masalah daripada melihat sebuah permasalahan. Metode kualitatif dapat memudahkan peneliti untuk mendeskripsikan persepsi apoteker dan dokter terhadap potensi interaksi antidiabetik oral DM tipe 2. Penelitian ini menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang maupun perilaku yang dapat diamati.
b. analisis potensi interaksi antidiabetik oral pada resep pasien DM tipe 2 menggunakan metode penelitian kuantitatif bersifat deskriptif retrospektif yaitu suatu metode pengambilan data yang berhubungan dengan masa lalu.
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di RSUD Kumpulan Pane Kota Tebing Tinggi.
Penelitian menggunakan data resep periode Januari – Desember 2020.
3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti (Notoatmodjo, 2012). Populasi target penelitian ini adalah:
a. populasi penilaian Persepsi apoteker dan dokter terhadap potensi interaksi antidiabetik oral yaitu apoteker dan dokter spesialis penyakit dalam yang ada di RSUD Kumpulan Pane Kota Tebing Tinggi.
b. populasi pada analisis potensi interaksi antidiabetik oral pada resep pasien DM tipe 2 adalah Semua data resep obat pasien 1 tahun terakhir.
3.3.2 Sampel
Sampel adalah objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2012). Sampel dalam penelitian ini ada 2 jenis:
a. sampel menilai Persepsi apoteker dan dokter terhadap potensi interaksi antidiabetik oral yaitu Subjek penelitian dipilih dengan metode purposive sampling. Sampel dalam penelitian ini seluruh apoteker dan dokter spesialis penyakit dalam yang ada di RSUD Kumpulan Pane kota Tebing Tinggi.
b. sampel pada analisis potensi interaksi antidiabetik oral pada resep pasien DM tipe 2 adalah populasi studi dan memenuhi kriteria inklusi.
Adapun kriteria inklusi yaitu :
i. resep seluruh pasien rawat jalan dan rawat inap periode Januari – Desember 2020 yang mendapat antidiabetik oral
ii. resep obat pasien DM tipe 2
iii. pasien dengan resep dan Rekam Medis iv. mendapat terapi ≥ 2 obat dalam resep Kriteria eksklusi :
i. lembar resep pasien rawat jalan dan rawat inap di luar periode Januari – Desember 2020
ii. lembar resep yang tidak mendapatkan obat antidiabetik oral iii. pasien DM tipe 2 yang tidak ada rekam medis
iv. lembar resep tidak terbaca atau tidak jelas
3.4 Instrumen Penelitian 3.4.1 Sumber Data
Penelitian ini terdiri dari 2 jenis sumber data berupa:
a. sumber data penilaian persepsi apoteker dan dokter terhadap potensi interaksi antidiabetik oral berupa indepth interview (wawancara secara mendalam) dengan apoteker dan dokter.
b. sumber data analisis potensi interaksi antidiabetik oral pada resep pasien DM tipe 2 berupa resep pasien DM tipe 2 yang ada di RSUD Kumpulan Pane.
3.4.2 Teknik Pengumpulan Data
a. penilaian persepsi apoteker dan dokter terhadap potensi interaksi antidiabetik oral. Pengumpulan data dilakukan dengan indepth interview (wawancara mendalam) dan observasi lapangan. Dalam hal ini apoteker dan dokter disebut sebagai informan. Peneliti melakukan wawancara secara mendalam terhadap informan dan selanjutnya dilakukan analisis.
b. analisis potensi interaksi antidiabetik oral pada resep pasien DM tipe 2.
Pengambilan data dilakukan dengan mengumpulkan lembar resep pasien DM tipe 2 yang mendapat antidibetik oral beserta rekam medis . Adapun data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah:
i. mengelompokkan data lembar resep dan rekam medis pasien berdasarkan kriteria inklusi.
ii. mengelompokkan data penggunaan obat pasien berdasarkan karakterisik obat dan karakteristik pasien
iii. menyeleksi data berdasarkan ada tidaknya potensi interaksi obat yang terjadi berdasarkan studi literatur.
3.5 Analisis Data
a. penilaian persepsi apoteker dan dokter terhadap potensi interaksi antidiabetik oral. Analisis dilakukan dengan membuat matriks hasil wawancara berbentuk tabel yang berisi hasil wawancara apoteker dan dokter dan dirangkum menjadi informasi berupa persepsi apoteker dan dokter.
b. analisis potensi interaksi antidiabetik oral pada resep pasien DM tipe 2.
Evaluasi data interaksi obat menggunakan situs internet terpercaya http://www.medscape.com/druginfo/druginter checker (Medscape.com) dan http://www.drugs.com/drug_interaction.php (Drugs.com). Analisis data menggunakan metode statistik deskriptif. Ditentukan frekuensi interaksi obat resep pasien diabetes melitus secara keseluruhan, dihitung juga presentase mekanisme interaksi obat baik yang meliputi mekanisme interaksi farmakokinetik, farmakodinamik, dan unknown, serta ditentukan jenis-jenis obat yang sering berinteraksi dan tingkat keparahan interaksinya. Analisis korelasi menggunakan uji Chi-Square pada program SPSS versi 26.0.
3.6 Prosedur Operasional
Prosedur kerja yang dilakukan pada penelitian ini adalah sebagai berikut : a. meminta izin Dekan Fakultas Farmasi USU untuk melakukan penelitian di
RSUD Kumpulan Pane Kota Tebing Tinggi.
b. membawa surat pengantar yang dikeluarkan oleh Fakultas Farmasi USU ke bagian manajemen yang ada di RSUD Kumpulan Pane Kota Tebing Tinggi.
c. membawa surat izin yang dikeluarkan manajemen ke bagian Instalasi Farmasi Rumah Sakit dan dokter spesialis penyakit dalam untuk dapat dilakukan penelitian.
d. selanjutnya melakukan pengumpulan dan pencatatan data yang diperlukan serta wawancara kepada dokter spesialis penyakit dalam.
e. menganalisis data dan informasi yang diperoleh sehingga didapatkan kesimpulan dari penelitian.
3.7 Definisi Operasional Penelitian
Definisi Operasional merupakan penjelasan dari masing–masing variabel yang ada dalam penelitian. Berdasarkan uraian permasalahan di atas maka definisi operasional dapat dilihat pada Tabel 3.1.
Tabel 3.1 Definisi Operasional
NO. OPERASIONAL DEFINISI
1 Persepsi Apoteker dan Dokter
Tanggapan langsung dari Apoteker dan Dokter terkait pemahaman potensi interaksi antidiabetik oral pada resep.
2 Pemahaman Apoteker dan Dokter
Kemampuan untuk menjelaskan tentang interaksi antidiabetik oral yang diketahui dan diinterpretasikan secara benar sesuai fakta.
3 Potensi interaksi antidiabetik oral
Keadaan yang dapat mempengaruhi efek terapi antidiabetik oral namun belum tentu terjadi pada pasien (dapat dicegah) dan diketahui saat analisis resep.
4 Interaksi obat–obat Interaksi yang terjadi antara obat satu dengan obat lainnya.
5 Frekuensi potensi interaksi Jumlah potensi interaksi antidiabetik oral yang terjadi.
6 Mekanisme interaksi Bagaimana interaksi obat terjadi apakah farmakokinetik, farmakodinamik, atau unknown.
7 Jenis antidiabetik oral Golongan antidiabetik oral yang berinteraksi.
8 Tingkat keparahan interaksi obat
Potensi interaksi apakah ringan, sedang, berat.
Tabel 3.1 Definisi Operasional (Lanjutan)
NO. OPERASIONAL DEFINISI
9 Jumlah obat Berapa banyak obat yang diberikan dalam satu resep, jumlah obat ditentukan menjadi ≥ 2 obat.
10 Interaksi unknown Interaksi obat yang mekanismenya belum diketahui secara pasti.
11 Interaksi farmakokinetik Interaksi pada proses absorpsi, interaksi pada proses distribusi, interaksi pada proses metabolisme, interaksi pada proses eksresi.
12 Interaksi farmakodinamik Interaksi antara obat-obat yang mempunyai khasiat atau efek samping yang serupa atau berlawanan.
13 Interaksi yang menguntungkan
Kombinasi obat yang bisa meningkatkan efek terapi dari antidiabetik oral baik aditif, potensiasi maupun sinergis.
14 Interaksi yang merugikan Kombinasi obat yang bisa mengurangi atau bahkan meniadakan efek terapi antidiabetik oral serta membahayakan kondisi pasien.
15 Analisis Resep Penelitian analisis resep yang dilakukan sebatas potensi interaksi obat yang mengacu pada Medscape dan Drugs.com tanpa secara detail mempertimbangkan hasil-hasil laboratorium pasien.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Penilaian Persepsi Apoteker dan Dokter Terhadap Potensi Interaksi Antidiabetik Oral Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan kepada apoteker dan dokter sebagai sumber informan melalui wawancara mendalam maka diperoleh berbagai pandangan dan pendapat. Hal ini dapat dilihat pada lampiran (Lampiran 2).
Hasil wawancara yang dilakukan kepada informan memiliki persepsi yang berbeda-beda terhadap potensi interaksi antidiabetik oral pada penyakit diabetes melitus. Wawancara dimulai dengan menggali pengetahuan dan pemahaman informan terkait penyakit diabetes melitus (pengertian diabetes melitus, faktor penyebab, jenis-jenis diabetes melitus, nilai KGD normal), kemudian pengetahuan dan pemahaman informan terhadap obat-obat antidiabetik oral, interaksi obat (mekanisme, tingkat keparahan, efek yang diakibatkan interaksi obat, kejadian interaksi obat, cara pengatasan masalah interaksi obat), serta interaksi obat-obat DM dengan obat lain.
4.1.1 Definisi Diabetes Melitus
Informan dalam memberikan jawaban terkait pengertian penyakit diabetes melitus seluruhnya paham dan mengetahui hal tersebut. Mereka mengatakan bahwa penyakit diabetes melitus merupakan penyakit degeneratif dan metabolik yang ditandai adanya kenaikan KGD (kadar gula darah) yang diakibatkan kerusakan pankreas atau penurunan sensitivitas insulin, idiopatik, resistensi insulin, kelainan sekresi insulin.
“…suatu penyakit yang ditandai dengan kenaikan KGD (peningkatan KGD), bisa ada hubungannya dengan idiopatik, kemudian bisa karena perusakan masalah pankreas…”
“…suatu penyakit degeneratif yang ditandai dengan peningkatan KGD di dalam darah bisa karena kekurangan hormon insulin sehingga glukosa darah meningkat, bisa juga karena peningkatan resistensi insulin. Jadi secara jumlah dia oke cuma terjadi resistensi insulin terhadap reseptornya jadi kadar gula di darah tetap tinggi atau bisa juga karena keduanya…”
“…penyakit yang ditandai dengan kenaikan KGD yang tinggi pada pasien…”
“…penyakit metabolik dengan karakteristik resistensi insulin, kelainan sekresi insulin dan atau keduanya…”
“…DM itu penyakit degeneratif akibat dari kerusakan pankreas sehingga tidak bisa memproduksi insulin atau sedikit…”
”…DM itu adalah penyakit degeneratif yang disebabkan oleh tingginya kadar insulin didalam darah melebihi normal…”
Menurut American Diabetes Association (ADA) tahun 2010, Diabetes Melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau kedua-duanya (Parkeni, 2011).
4.1.2 Faktor Penyebab Diabetes Melitus
Faktor penyebab diabetes melitus menurut informan adalah akibat obesitas, faktor genetik, faktor idiopatik, faktor lingkungan, gaya hidup yang salah, pola makan, tingkat stres yang tinggi, penggunaan obat-obat jangka panjang (steroid), merokok, terlalu banyak konsumsi gula dan karena kurang olah raga. Sehingga dapat dikatakan bahwa seluruh informan mengerti dan memahami faktor penyebab diabetes melitus.
“…penyebabnya bisa karena obesitas salah satunya, kemudian bisa karena adanya faktor genetik, sama faktor idiopatik (tidak diketahui penyebabnya), penyebab lain dan bisa juga karena masalah pengerusakan pankreas…”
“…penyebabnya adalah faktor genetik (keturunan), kemudian bisa karena faktor lingkungan misalnya konsumsi makanan dan minuman yang mengandung index glikemik yg berlebihan, KGD tinggi, gaya hidup (lifestyle pada orang-orang yang malas bergerak sehingga glukosa darah tidak dirubah menjadi glikogen sehingga tidak menjadi gula otot sehingga glukosa di darah menjadi banyak, pada orang merokok, penggunaan obat-obat jangka panjang (steroid), pada orang-orang dengan gangguan imun sehingga menyebabkan hiperglikemik dalam darah.”
“…penyebabnya ada beberapa antara lain kerusakan pankreas, faktor karena adanya resistensi insulin..”
“…faktor genetik, perokok, makanan, gaya / pola hidup dan DM termasuk degeneratif…”
“…gaya hidup, pola makan dan stres…”
”…bisa karena keturunan, pola hidup yang terlampau banyak konsumsi gula, kurang olah raga…”
Diabetes melitus merupakan penyakit multifaktorial dengan komponen genetik dan lingkungan yang sama kuat dalam proses timbulnya penyakit tersebut.
Pengaruh faktor genetik terhadap penyakit ini dapat terlihat jelas dengan tingginya penderita diabetes yang berasal dari orang tua yang memiliki riwayat diabetes melitus sebelumnya. Diabetes melitus tipe 2 sering juga disebut diabetes life style karena penyebabnya selain faktor keturunan, faktor lingkungan meliputi usia, obesitas, resistensi insulin, makanan, aktifitas fisik dan gaya hidup penderita yang tidak sehat juga berperan dalam terjadinya diabetes ini. Perkembangan diabetes melitus tipe 2 yang lambat, sering kali membuat gejala dan tanda-tandanya tidak jelas (Betteng dkk., 2014).
4.1.3 Jenis Diabetes Melitus
Jenis-jenis dari diabetes melitus berdasarkan tanggapan informan, satu diantaranya mengatakan ada 4 jenis (tipe 1, tipe 2, DM kehamilan, DM tipe lain), dua informan mengatakan ada 3 jenis (tipe 1, tipe 2, gestasional) (tipe 1, tipe 2, tipe lain ) sedangkan 7 informan lainnya mengatakan ada 2 jenis (tipe 1 dan tipe 2).
Sehingga dapat disimpulkan bahwa mayoritas informan tidak mengetahui pembagian jenis diabetes melitus secara umum.
“…DM itu ada 4. Pertama DM tipe 1 yaitu kekurangan insulin secara absolut artinya benar-benar di dalam tubuh kadar insulinnya rendah. Kedua DM tipe 2 adalah kondisi DM yang disebabkan karena terjadinya resistensi insulin. Ketiga DM pada kehamilan yang sering disebut DM gestasional. Keempat DM tipe lain, ini biasanya pada penyaki-penyakit seperti fibrosis kistik, bisa juga pada
pankreatitis, bisa juga pada kasus penggunaan obat-obatan seperti steroid di pakai jangka Panjang…”
“…Tipe 1, tipe 2, gestasional…”
“…DM itu ada banyak macam tipenya yaitu tipe 1, tipe 2 dan tipe lain…”
“…Itu ada DM tipe 1 dan tipe 2. DM tipe 1 itu kerusakan di pankreas (sudah parah) bisa karena faktor dan kerusakan sudah mutlak makanya harus dapat insulin. Kalau tipe 2 yaitu tadi karena masalah penyakit, kegemukan, kerusakan pankreas sedikit dan masih bisa ditangani dengan obat oral…”
“…ada 2. DM tipe 1 dan tipe 2…”
“…DM tipe 1 dan Tipe 2…”
“…ada 2 yaitu tipe 1 dan 2. Tipe 1 biasanya akibat pankreas sudah tidak bekerja.
Tipe 2 pankreas tidak bekerja atau kurang fungsi sensitivitasnya…”
“…tipe 1 dan tipe 2. Tipe 1 itu produksi insulinnya sedikit atau tidak ada sedangkan tipe 2 ada insulinnya tapi mungkin reseptornya tidak sensitif atau kesalahan dari tubuh yang masih bisa diperbaiki lagi…”
”…ada 2 jenis. Tipe 1 pankreas sudah tidak bisa menghasilkan insulin lagi. Tipe 2 masih bisa diperbaiki dengan menjaga pola hidup sehat…”
”…ada diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2…”
Menurut Parkeni (2011), Klasifikasi Diabetes Melitus (DM) berdasarkan etiologis yaitu Tipe 1 (destruksi sel beta, umumnya menjurus ke defisiensi insulin absolut seperti autoimun dan idiopatik, Tipe 2 (bervariasi, mulai yang dominan resistensi insulin disertai defisiensi insulin relative sampai yang dominan defek sekresi insulin disertai resistensi insulin), Diabetes Melitus Gestasional, dan Tipe Lain (defek genetik fungsi sel beta, defek genetik kerja insulin, penyakit eksokrin pankreas, endokrinopati, karena obat atau zat kimia, infeksi, sebab imunologi yang jarang, sindrom genetik lainyang berkaitan dengan DM).
4.1.4 Perbedaan DM Tipe 1 Dan Tipe 2
Perbedaan DM tipe 1 dengan tipe 2 menurut informan adalah tipe 1 akibat kerusakan pankreas dan bawaan lahir sehingga sudah tidak bisa menghasilkan insulin dan harus mendapatkan insulin dari luar tubuh. Sedangkan untuk tipe 2
disebabkan karena masalah penyakit, kegemukan, resistensi insulin, karena faktor usia, sensitivitas reseptor insulin yang rendah, pola hidup yang tidak baik, dan pengatasan masalahnya masih bisa menggunakan obat-obat oral. Sehingga dapat disimpulkan bahwa seluruh informan memahami dan mengetahui perbedaan DM tipe 1 dan tipe 2.
”… DM tipe 1 itu kerusakan di pankreas (sudah parah) bisa karena faktor dan kerusakan sudah mutlak makanya harus dapat insulin. Kalau tipe 2 yaitu tadi karena masalah penyakit, kegemukan, kerusakan pankreas sedikit dan masih bisa ditangani dengan obat oral…”
“… DM tipe 1 yaitu kekurangan insulin secara absolut artinya benar-benar di dalam tubuh kadar insulinnya rendah. DM tipe 2 adalah kondisi DM yang disebabkan karena terjadinya resistensi insulin…”
“…DM tipe 1 karena autoimun jadi mulai dari bayi gitu lahir pankreasnya sudah tidak ada. Tapi kalau pada DM tipe 2 pada orang-orang dewasa karena pankreasnya itu sudah terganggu dalam proses produksi insulin sudah mulai terganggu karena usia…”
“…biasa tipe 1 dari anak-anak dan usia muda. Kalau tipe 2 seperti dewasa muda…”
“…tipe 1 pengobatannya harus pakai insulin karena tidak bisa lagi memproduksi insulin sehingga harus pake insulin sebagai terapinya. Tipe 2 itu masih bisa dengan obat-obatan yaitu obat-obat yang bisa memicu sekresi insulin, obat-obat yg menaikkan sensitivitas reseptor insulin…”
“…DM tipe 1 itu bawaan dari lahir dan Tipe 2 akibat pola hidup yang tidak baik…”
“…tipe 1 biasanya akibat pankreas sudah tidak bekerja. Tipe 2 pankreas tidak bekerja atau kurang fungsi sensitivitasnya…”
“…tipe 1 itu produksi insulinnya sedikit atau tidak ada sedangkan tipe 2 ada insulinnya tapi mungkin reseptornya tidak sensitif atau kesalahan dari tubuh yang masih bisa diperbaiki lagi…”
”…tipe 1 pankreas sudah tidak bisa menghasilkan insulin lagi. Tipe 2 masih bisa diperbaiki dengan menjaga pola hidup sehat…”
”…tipe 1 dia memang insulinnya sama sekali tidak bisa mengubah glukosa menjadi glikogen jadi harus di bantu dengan sediaan insulin. Tipe 2 masih bisa dibantu denagn obat…”
Perbedaan diabetes melitus tipe 1 dengan tipe 2 yaitu, tipe 1 karena sel beta pankreas kurang dalam memproduksi insulin atau sama sekali tidak bisa
memproduksi insulin akibat kerusakan oleh pankreas itu sendiri. Sedangkan diabetes melitus tipe 2 karena sel resistensi terhadap insulin (Widiyoga dkk., 2020).
4.1.5 Nilai Kadar Gula Darah Normal Puasa, Sewaktu, 2 Jam Setelah Makan Nilai KGD normal puasa, sesaat, 2 jam sesudah makan menurut informan berbeda-beda. Ada yang mengatakan puasa dibawah 126 mg/dl, ≤ 126 mg/dl, dibawah 120 mg/dl, dibawah 100 mg/dl. Nilai KGD sesaat ada yang mengatakan di bawah 200 mg/dl, ≤ 200 mg/dl, 100 – 130 mg/dl, di bawah 140 mg/dl. Nilai KGD 2 jam setelah makan ada yang mengatakan di bawah 200 mg/dl, ≤ 200 mg/dl, 120 – 130 mg/dl. Sehingga dapat disimpulkan bahwa dari 4 informan dokter seluruhnya mengetahui dan memahami nilai KGD normal puasa, sesaat dan 2 jam setelah makan. Dan untuk 6 informan apoteker diperoleh dari 6 orang hanya 4 orang yang memahami dan mengetahui nilai KGD normal puasa, sesaat dan 2 jam setelah makan.
“… kalau puasa di bawah 126 mg/dl, kalau setelah makan di bawah 200 mg/dl dan sesaat di bawah 200 mg/dl juga…”
“… kalau gula normal saat puasa itu diharapkan ≤ 126 mg/dl, kalau sewaktu sama dengan 2 jam postprandial ≤ 200 mg/dl …”
“…sewaktu dan setelah makan dibawah 200 mg/dl, puasa dibawah 120 mg/dl …”
“…2 jam setelah makan di bawah 200 mg/dl, puasa dibawah 140 mg/dl, namun ada juga yang di bawah 126 mg/dl tergantung apa yang dia makan…”
“…puasa dibawah 100 mg/dl, sesaat dan 2 jam setelah makan dibawah 200 mg/dl
…”
“…saat puasa dibawah 100 mg/dl, setelah makan diatas 120-130 mg/dl, sewaktu diantara 100-130 mg/dl …”
“…kalau setelah makan dibawah 200 mg/dl, puasa dibawah 100 mg/dl …”
“…puasa dibawah 120 mg/dl, setelah makan dibawah 200 mg/dl, sewaktu di bawah 200 mg/dl juga…”
”…puasa dibawah 100 mg/dl, setelah makan 120 mg/dl, sewaktu 140 mg/dl …”
”…puasa dibawah 120 mg/dl, setelah makan dibawah 200 mg/dl, sewaktu dibawah 200 mg/dl …”
Menurut WHO kadar gula darah normal seseorang ketika puasa 4 – 7 mmol/l atau 72 – 126 mg/dl. Nilai normal 90 menit setelah makan 10 mmol/l atau 180 mg/dl. Nilai normal gula darah sewaktu normal 2 jam setelah makan 80 – 180 mg/dl. Nilai gula darah sewaktu normal kondisi ideal 80 – 144 mg/dl. Sedangkan kriteria diagnosis diabetes melitus menurut pedoman American Diabetes Association (ADA) 2011 dan Konsensus Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) 2011 yaitu glukosa plasma puasa ≥ 126 mg/dl dengan gejala klasik penyerta maka dengan demikian nilai normal untuk KGD puasa <126 mg/dl, glukosa 2 jam setelah makan ≥ 200 mg/dl maka dengan demikian nilai normal untuk KGD 2 jam setelah makan < 200 mg/dl, glukosa plasma sewaktu ≥ 200 mg/dl maka dengan demikian nilai normal untuk KGD sewaktu <200 mg/dl (Pusdatin Kemenkes RI, 2018).
4.1.6 Golongan Antidiabetik Oral
Berdasarkan hasil wawancara mendalam dengan informan dokter dan apoteker mengenai golongan antidiabetik oral. Dari 4 orang dokter hanya 1 orang dokter yang memahami dan mengetahui golongan obat antidiabetik oral sedangkan 3 lainnya hanya mengetahui nama obat nya saja. Informan dokter menyebutkan golongan obat antidiabetik oral yaitu golongan sulfonilurea yang fungsinya memicu sel beta pankreas untuk mengeluarkan insulin lebih banyak sehingga diharapkan bisa gula darah menjadi gula otot atau glikogen (glibenklamid, glimepiride), golongan obat yang bisa meningkatkan sensitivitas reseptor insulin seperti golongan biguanid (metformin) dan golongan thiazolidindion, golongan yang bekerja di usus yaitu alpa glucosidase inhibitor, akarbose (menghambat penyerapan
gula di usus, golongan sitagliptin / vitagliptin. Pertama sekali pasien diberikan golongan biguanid ketika terindikasi diabetes melitus.
“…golongan sulfonilurea untuk pasien seperti glibenklamid, glimepiride.
Kemudian golongan biguanid seperti metformin. Kemudian ada juga obat yang kerjanya di usus…”
“…obat-obat golongan sulfonilurea seperti glimipiride jadi obat ini fungsinya memicu sel beta pankreas untuk mengeluarkan insulin lebih banyak sehingga insulin yang lebih banyak itu diharapkan bisa merubah gula darah menjadi gula otot
“…obat-obat golongan sulfonilurea seperti glimipiride jadi obat ini fungsinya memicu sel beta pankreas untuk mengeluarkan insulin lebih banyak sehingga insulin yang lebih banyak itu diharapkan bisa merubah gula darah menjadi gula otot