BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.2 Saran
Berdasarkan pembahasan dan kesimpulan, maka disarankan:
a. untuk menjadi sumber informasi dan masukan bagi rumah sakit melakukan workshop ataupun seminar tentang interaksi obat khususnya antidiabetik oral.
b. bagi dokter sebagai sumber informasi sehingga dapat meminimalisir potensi interaksi obat terutama yang bersifat berat dan sedang pada peresepan khususnya antidiabetik oral untuk seterusnya.
c. bagi apoteker menjadi sumber informasi untuk meningkatkan pengetahuan tentang potensi interaksi obat khususnya antidiabetik oral sehingga dapat meminimalisir potensi interaksi obat pada saat pengkajian resep.
d. bagi peneliti selanjutnya sebagai acuan dan masukan untuk mengembangkan penelitian ini seperti DRP (Drugs Related Problem).
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, A., Mast, M. R., Nijpels, G., Elders, P. J., Dekker, J. M., Hugtenburg, J. G.
(2014). Identification Of Drug-Related Problems Of Elderly Patients Discharged From Hospital. Dove Press Journal. VU University Medical Center.
Amsterdam: The Netherlands.
American Diabetes Association. (2019). Standards of Medical Care in Diabetes.
Pharmacologic Approaches to Glycemic Treatment. 44(1). Halaman S111-S124.
Andriane, Y., Sastramiardja, H.S., dan Ruslami, R. (2016). Determinan Peresepan POlifarmasi pada Resep Rawat Jalan di Rumah Sakit Rujukan. Global Medical and Health Communication. Universitas Padjadjaran. Bandung.
4(1). Halaman 66-68.
Annisa, B.S., Puspitasari, C.E. dan Aini, S. R. (2021). Profil Penggunaan Obat Antidiabetes Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Instalasi Rawat Jalan RSUD Provinsi NTB Tahun 2018. Sasambo Journal of Pharmacy. 2(1).
Annisa, N., dan Rizky, A. (2012). Potensi Interaksi Obat Resep Pasien Geriatri:
Studi Retrospektif pada Apotek di Bandung. 1(3). Halaman 96-97.
Aziz, A., Putra, S., dan Patria, S. (2018). Peran Dokter Dalam Pencegahan Dan Penanggulangan Medication Error Di Rumah Sakit (Studi di RSI NU Kabupaten Demak). Universitas 17 Agustus Semarang. Semarang. 6 (1).
Betteng, R., Pangemanan, D., Mayulu, N. (2014). Analisis Faktor Risiko Penyebab Terjadinya Diabetes Melitus Tipe 2 Pada Wanita Usia Produktif Di Puskesmas Wawonasa. Jurnal e-Biomedik (eBM). Universitas Sam Ratulangi: Fakultas Kedokteran. Makasar. 2(2).
Bucsa, C., Farcas, A., Cazacu, I., Leucuta, D., et al. (2012). How Many Potential Drug-Drug Interactions Cause Adverse Drug Reactions in Hospitalized Patients?. European Journal of Internal Medicine. Romania. Halaman 24.
Chatsisvili, A.,Sapounidis, I., Pavlidou, G., Zoumpouridou, E., Spanakis, M., Teperikidis, L., Niopas, I. (2010). Potential Drug-Drug Interactions in Prescriptions Dispensed in Community Pharmacies in Greece. Aristotle University: Departemen Farmasi. Halaman 187-193.
Churi, S., Nag, K.A., Umesh, M. (2011). Assesment Of Drug - Drug Interactions In Hospitalised Patients In India. Asian Journal of Pharmaceutical and Clinical Research. 4(1). Halaman 63.
Dasopang, E. S., Harahap, U., Lindarto, D. (2015). Polifarmasi dan Interaksi Obat Pasien Usia Lanjut Rawat Jalan dengan Penyakit Metabolik. Jurnal Farmasi
Klinik Indonesia. Universitas Sumatera Utara: Fakultas Farmasi. Medan.
4(4).
Drugs.com. Diakses Mei 2021. http://www.drugs.com/drug_interaction.php.
Fantaye, T., Teklay, G., Ayalew E., Thesome, T. (2016). Potential Drug-Drug Interactions among Elderly Patients Admitted to Medical Ward of Ayder Referral Hospital, Northern Ethiopia: a Cross Sectional Study. BMC Research Notes. 9(431).
Fatimah, R.N. (2015). Diabetes Melitus Tipe 2. Jurnal Majority. Universitas Lampung. 4(5). Halaman 95-100.
Fitriani, S. W., Mutiara, R., Malik, A., Andriastuti, M. (2016). Angka Kejadian dan Faktor yang Mempengaruhi Potensi Interaksi Obat dengan Obat pada Pasien Leukimia Akut Anak yang Menjalani Rawat Inap. Universitas Indonesia: Fakultas Farmasi. 18 (2).
Handayani, K. (2015). Analisis Potensi Interaksi Obat Diabetes Melitus Pada Resep Obat Pasien Rawat Jalan Di RSAL DR. Mintohardjo. UIN Syarif Hidayatullah. Jakarta.
Hendera dan Sri Rahayu. (2018). Interaksi Antar Obat pada Peresepan Pasien Rawat Inap Pediatrik Rumah Sakit X dengan Menggunakan Aplikasi Medscape. Journal Of Current Pharmaceutical Sciences. Vol 1(2).
Halaman 75-80.
Herawati, F., Yuni, N., dan Made, A. (2016). Tingkat Kesepahaman Masalah Terkait Oba tantara Dokter dan Apoteker di Apotek. Universitas Surabaya:
Fakultas Farmasi. 1(2).
Johansson, T., Abuzahra, M.E., Keller, S., Mann, E., Faller, B., Sommerauer, C.
(2016). Impact of Strategies to reduce Polypharmacy on Clinically relevant Endpoint: a Systematic review and meta-analysis. Br J Clin Pharmacol.
(82). Halaman 532-48.
Menteri Kesehatan RI. (2008). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 129MENKES/SK/II/2008 Tentang Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Menteri Kesehatan RI. (2011). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2052/MENKES/PER/X/2011 Tentang Izin Praktik Dan Pelaksanaan Praktik Kedokteran. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Menteri Kesehatan RI. (2016). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 72 Tahun 2016 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Medscape.com. Diakses Mei 2021. http://www.medscape.com.interaction checker.
Murtaza, G., Ghani Khan, M. Y., Azhar, S.,Ali Khan, S., M. Khan, T. (2015).
Assessment of Potential Drug-Drug Interactions and its Associated Factors in The Hospitalized Cardiac Patients. Saudi Pharmaceutical Journal.
Nabila, K.F. dan Muhtadi, A. (2014). Review Artikel: Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan Di Rumah Sakit Dengan Six Sigma. Bandung: Universitas Padjadjaran. Fakultas Farmasi. 15(3).
Nurlaelah, I., Mukaddas, A., dan Faustine, I. (2015). Kajian Interaksi Obat Pada Pengobatan Diabetes Melitus Dengan Hipertensi Di Instalasi Rawat Jalan RSUD UNDATA Periode Maret-Juni 2014. Universitas Tadulako: Fakultas MIPA. Jurusan Farmasi. 1(1). Halaman 35-41.
Notoatmojo. (2014). Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Pusdatin (Pusat Data dan Informasi) Kementerian Kesehatan RI. (2018). Infodatin:
Hari Diabetes Sedunia. Jakarta. ISSN 2442-7659.
Parkeni. (2011). Konsensus Pengelolaan Dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 Di Indonesia 2011.
Rahman, V. H. (2017). Studi Interaksi Obat Antihipertensi Oral pada Pasien Hipertensi dengan Penyakit Penyerta di Instalasi Rawat Inap RSUD Bumi Panua Pohuwato Tahun 2016. Jurusan Farmasi. Gorontalo.
Rambadhe, S., Chakarborty, A., Shrivastava, A., Ptail, UK. (2012). A survey on Polypharmacy and Use of Inappropriate Medications. Toxicol Int. 19(1).
Halaman 68-73.
Rasdianah, N. (2011). Apotek Tanpa Pelayanan Apoteker. Jurnal Health and Sport.
3(2). Halaman 285-362.
Rochjana, A. U. H., Jufri, M., Andrajati, R., Sartika, R. A. D. (2019). Masalah Farmasetika dan Interaksi Obat pada Resep Racikan Pasien Pediatri: Studi Retrospektif pada Salah Satu Rumah Sakit di Kabupaten Bogor. Depok:
Universitas Indonesia. Program Studi Magister Farmasi. 8(1). Halaman 42-48.
Sari, A., Wahyono, D., Raharjo, B. (2012). Identifikasi Potensi Interaksi Obat pada Pasien Rawat Inap Penyakit Dalam di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto dengan Metode Observasional Retrospektif Periode November
2009- Januari 2010. Jurnal Ilmiah Kefarmasian. Universitas Ahmad Dahlan: Fakultas Farmasi. 2(2). Halaman 195-203.
Sihotang, R. C., Ramadhani, R., Tahapary, D. L. (2018). Efikasi Dan Keamanan Obat Antidiabetik Oral Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Dengan Penyakit Ginjal Kronik. Jurnal Penyakit Dalam Indonesia. Universitas Indonesia: Fakultas Kedokteran. Depok. 5(3).
Stockley, I.H. (2013). Stockley’s Drug Interaction. Edisi kesepuluh. Great Britain:
Pharmaceutical Press. Halaman 1-9.
Sindhu, M.S., Kannan, B. (2013). Investigating The Factors Affecting Drug-Drug Interactions. International Journal of Pharma and Bio Science. 4(4).
Halaman 468.
Utami, M.G. (2013). Analisis Potensi Interaksi Obat Antidiabetik Oral Pada Pasien Di Instalasi Rawat Jalan ASKES Rumah Sakit Dokter Soedarso Pontianak Periode Januari-Maret 2013. Pontianak: Universitas Tanjungpura.
Widiyoga, R. C., Saichudin, A. O. (2020). Hubungan Tingkat Pengetahuan Tentang Penyakit Diabetes Melitus Pada Penderita Terhadap Pengaturan Pola Makan dan Physical Activity. Journal Sport Science and Health. Universitas Negeri Malang. 2(2).
Yuliani, E. (2013). Interaksi Obat Pada Pasien Geriatri Yang Menderita Penyakit Jantung dan Penyakit Dalam di Instalasi Rawat Inap B Teratai Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Fatmawati Periode Oktober-November 2012. UIN Syarif Hidayatullah. Jakarta.
Zhou, x. Chan, K., dan Yeung, J. H. K. (2012). Herb-Drug Interactions with Danshen: a review on the role of Cytochrome P450 Enzymes. Journal of Drug Interaction and Drug Metabolism. 27(1). Halaman 9-18.
Lampiran 1. Hasil Analisis Bivariat Beberapa Variabel Bebas Terhadap Kejadian Potensi Interaksi Obat Dengan Menggunakan Uji Chi-Square Pada Program SPSS Advanced 26.0
Crosstabs
Faktor Penyakit * Potensi Interaksi Obat
Case Processing Summary Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
Faktor Penyakit * Potensi Interaksi
5246 100.0% 0 .0% 5246 100.0%
Faktor Penyakit * Potensi Interaksi Crosstabulation
Potensi Interaksi
Total Berinteraksi
Tidak Berinteraksi Faktor
Penyakit
Tanpa Penyakit Penyerta Count 735 238 973
% within Faktor Penyakit 75.5% 24.5% 100.0%
% within Potensi Interaksi 17.9% 21.0% 18.5%
% of Total 14.0% 4.5% 18.5%
Dengan Penyakit Penyerta Count 3378 895 4273
% within Faktor Penyakit 79.1% 20.9% 100.0%
% within Potensi Interaksi 82.1% 79.0% 81.5%
% of Total 64.4% 17.1% 81.5%
Total Count 4113 1133 5246
% within Faktor Penyakit 78.4% 21.6% 100.0%
% within Potensi Interaksi 100.0% 100.0% 100.0%
% of Total 78.4% 21.6% 100.0%
Lampiran 1. Hasil Analisis Bivariat Beberapa Variabel Bebas Terhadap Kejadian Potensi Interaksi Obat Dengan Menggunakan Uji Chi-Square Pada Program SPSS Advanced 26.0 (Lanjutan)
Chi-Square Tests
Value df
Asymp. Sig.
(2-sided)
Exact Sig. (2-sided)
Exact Sig. (1-sided)
Pearson Chi-Square 5.783a 1 .016
Continuity Correctionb 5.577 1 .018
Likelihood Ratio 5.650 1 .017
Fisher's Exact Test .018 .010
Linear-by-Linear Association 5.782 1 .016
N of Valid Cases 5246
a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 210,14.
b. Computed only for a 2x2 table
Jumlah Obat * Potensi Interaksi Obat
Case Processing Summary
Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
Jumlah Obat * Potensi Interaksi
5246 100.0% 0 .0% 5246 100.0%
Lampiran 1. Hasil Analisis Bivariat Beberapa Variabel Bebas Terhadap Kejadian Potensi Interaksi Obat Dengan Menggunakan Uji Chi-Square Pada Program SPSS Advanced 26.0 (Lanjutan)
Jumlah Obat * Potensi Interaksi Crosstabulation Potensi Interaksi
Total Berinteraksi
Tidak Berinteraksi
Jumlah Obat Dua Obat Count 610 97 707
% within Jumlah Obat 86.3% 13.7% 100.0%
% within Potensi Interaksi 14.8% 8.6% 13.5%
% of Total 11.6% 1.8% 13.5%
Tiga Obat Count 829 146 975
% within Jumlah Obat 85.0% 15.0% 100.0%
% within Potensi Interaksi 20.2% 12.9% 18.6%
% of Total 15.8% 2.8% 18.6%
Empat Obat Count 1073 357 1430
% within Jumlah Obat 75.0% 25.0% 100.0%
% within Potensi Interaksi 26.1% 31.5% 27.3%
% of Total 20.5% 6.8% 27.3%
> Lima Obat Count 1601 533 2134
% within Jumlah Obat 75.0% 25.0% 100.0%
% within Potensi Interaksi 38.9% 47.0% 40.7%
% of Total 30.5% 10.2% 40.7%
Total Count 4113 1133 5246
% within Jumlah Obat 78.4% 21.6% 100.0%
% within Potensi Interaksi 100.0% 100.0% 100.0%
% of Total 78.4% 21.6% 100.0%
Lampiran 1. Hasil Analisis Bivariat Beberapa Variabel Bebas Terhadap Kejadian Potensi Interaksi Obat Dengan Menggunakan Uji Chi-Square Pada Program SPSS Advanced 26.0 (Lanjutan)
Chi-Square Tests
Value df Asymp. Sig. (2-sided)
Pearson Chi-Square 75.135a 3 .000
Likelihood Ratio 79.434 3 .000
Linear-by-Linear Association 61.332 1 .000
N of Valid Cases 5246
a. 0 cells (,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 152,69.
Lampiran 2. Data Potensi Interaksi Antidiabetik Oral pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di RSUD Kumpulan Pane Kota Tebing Tinggi No. Pasangan harus di beri arahan tepat jika terjadi
Lampiran 2. Data Potensi Interaksi Antidiabetik Oral pada Pasien Diabetes
Sedang 53 Efikasi dari antidiabetik
Sedang 97 Antibiotik
kuinolon
Lampiran 2. Data Potensi Interaksi Antidiabetik Oral pada Pasien Diabetes
Ringan 32 Golongan PPI
akan
Sedang 63 Efikasi dari antidiabetik
Lampiran 2. Data Potensi Interaksi Antidiabetik Oral pada Pasien Diabetes
Unknown Sedang 60 Terjadi efek
hipoglikemik. seperti ini maka harus diberitahukan kepada
Sedang 550 Berpotensi
risiko
Lampiran 2. Data Potensi Interaksi Antidiabetik Oral pada Pasien Diabetes
Berat 40 Moxifloxacin
dapat secara teratur dan tepat diperlukan.
Unknown Sedang 26 Efikasi
glimepiride
Lampiran 2. Data Potensi Interaksi Antidiabetik Oral pada Pasien Diabetes
Unknown Sedang 89 Terjadi efek
hipoglikemik. tanda seperti ini maka harus diberitahukan mual, lapar dan sesak.
Lampiran 2. Data Potensi Interaksi Antidiabetik Oral pada Pasien Diabetes tanda seperti ini maka harus diberitahukan
Farmakokinetik Sedang 37 Ranitidine dapat seperti sakit kepala, pusing, kantuk, mual, tremor, lapar, Lelah, palpitasi. Dan segera beritahu dokter. Dosis glimepiride perlu untuk diturunkan.
Lampiran 2. Data Potensi Interaksi Antidiabetik Oral pada Pasien Diabetes
Farmakokinetik Sedang 55 Peningkatan Ph lambung dua jam sebelum atau setelah menggunakan
Sedang 18 Salisilat
mengurangi tanda seperti ini maka harus diberitahukan
Sedang 50 Diuretik tiazid
dapat
Lampiran 2. Data Potensi Interaksi Antidiabetik Oral pada Pasien Diabetes
Unknown Sedang 88 Furosemide
dapat
Sedang 216 Terjadi
peningkatan tanda seperti ini maka harus diberitahukan
Berat 194 Levofloxacin
dapat pada pasien usia lanjut, gamgguan ginjal atau
Lampiran 2. Data Potensi Interaksi Antidiabetik Oral pada Pasien Diabetes
Unknown Sedang 112 Pemberian
bersamaan
Unknown Sedang 150 Pemberian
bersamaan terjadi asidosis laktat.
Lampiran 2. Data Potensi Interaksi Antidiabetik Oral pada Pasien Diabetes
Sedang 132 Antibiotik kuinolon
Lampiran 2. Data Potensi Interaksi Antidiabetik Oral pada Pasien Diabetes
Sedang 203 Diuretik dapat meningkatkan
Sedang 202 Antibiotic
kuinolon
Lampiran 2. Data Potensi Interaksi Antidiabetik Oral pada Pasien Diabetes
Sedang 294 Antibiotik
kuinolon
Farmakokinetik Sedang 292 Suspensi oral sukralfat
Lampiran 2. Data Potensi Interaksi Antidiabetik Oral pada Pasien Diabetes
Sedang 282 Pemberian
bersamaan
Sedang 126 Pemberian
bersamaan
Lampiran 2. Data Potensi Interaksi Antidiabetik Oral pada Pasien Diabetes
Farmakokinetik Sedang 211 Nifedipine meningkatkan tanda asidosis laktat ( malaise, myalgia, sesak, hiperventilasi, denyut jantung lambat dan tidak teratur, tidur, sakit perut dan tanda gejala yang tidak biasa lainnya.
Lampiran 2. Data Potensi Interaksi Antidiabetik Oral pada Pasien Diabetes
Farmakokinetik Sedang 542 Ranitidine mengurangi
Waspada titrasi dari dosis metformin tidur, sakit perut) dan tanda gejala yang tidak biasa lainnya.
33. Metformin - Captopril
Unknown Sedang 183 Utilisasi
glukosa dan
Unknown Sedang 231 Jika digunakan
Bersama,
Lampiran 2. Data Potensi Interaksi Antidiabetik Oral pada Pasien Diabetes
Sedang 302 Antibiotik
kuinolon
Sedang 490 Efikasi dari
antidiabetik
Lampiran 2. Data Potensi Interaksi Antidiabetik Oral pada Pasien Diabetes
Ringan 340 Itrakonazol, penghambat
Lampiran 3. Uraian Wawancara Mendalam (Indepth Interview) kepada Dokter dan Apoteker
NO. HASIL WAWANCARA
1. Pengertian penyakit Diabetes Melitus ? Dokter A : “…suatu penyakit yang ditandai dengan kenaikan KGD (peningkatan KGD), bisa ada hubungannya dengan idiopatik, kemudian bisa karena perusakan masalah pankreas…”
Dokter B : “…suatu penyakit degeneratif yang ditandai dengan peningkatan KGD di dalam darah bisa karena kekurangan hormon insulin sehingga glukosa darah meningkat, bisa juga karena peningkatan resistensi insulin. Jadi secara jumlah dia oke cuma terjadi resistensi insulin terhadap reseptornya jadi kadar gula di darah tetap tinggi atau bisa juga karena keduanya…”
Dokter C : “…penyakit yang ditandai dengan kenaikan KGD yang tinggi pada pasien…”
Dokter D : “…penyakit metabolik dengan karakteristik resistensi insulin, kelainan sekresi insulin dan atau keduanya…”
Apt. E : “…DM adalah penyakit yang disebabkan karena kelenjar pankreas tidak dapat mensekresi insulin lagi ataupun dia sudah tidak ada lagi sensitivitas insulinnya…”
Apt. F : “…Penyakit degeneratif yang bisa terjadi akibat 2 hal. DM tipe 1 terjadi karena kerusakan pankreas, tipe 2 terjadi disebabkan gaya hidup yang kurang baik…”
Apt. G : “…penyakit degeneratif ada yang memang sudah bawaan dari lahir dan ada juga karena pola hidup…”
Apt. H : “…DM itu penyakit degeneratif akibat dari kerusakan pankreas sehingga tidak bisa memproduksi insulin atau sedikit…”
Apt. I :”…keadaan dimana pankreas sudah tidak bisa menghasilkan insulin lagi…”
Apt. J :”…DM itu adalah penyakit degeneratif yang disebabkan oleh tingginya kadar insulin didalam darah melebihi normal…”
Lampiran 3. Uraian Wawancara Mendalam (Indepth Interview) kepada Dokter dan Apoteker (lanjutan)
NO. HASIL WAWANCARA
2. Faktor Penyebab Diabetes Melitus (DM) ? Dokter A : “…penyebabnya bisa karena obesitas salah satunya, kemudian bisa karena adanya faktor genetik, sama faktor idiopatik (tidak diketahui penyebabnya), penyebab lain dan bisa juga karena masalah pengerusakan pankreas…”
Dokter B : “…penyebabnya adalah faktor genetik (keturunan), kemudian bisa karena faktor lingkungan misalnya konsumsi makanan dan minuman yang mengandung index glikemik yg berlebihan, KGD tinggi, gaya hidup (lifestyle pada orang-orang yang malas bergerak sehingga glukosa darah tidak dirubah menjadi glikogen sehingga tidak menjadi gula otot sehingga glukosa di darah menjadi banyak, pada orang merokok, penggunaan obat-obat jangka panjang (steroid), pada orang-orang dengan gangguan imun
sehingga menyebabkan
hiperglikemik dalam darah.”
Dokter C : “…penyebabnya ada beberapa antara lain kerusakan pankreas, faktor karena adanya resistensi insulin..”
Dokter D : “…DM tipe 1 itu karena faktor genetik, tipe 2 penyebabnya karena pola makan yang salah…”
Apt. E : “…faktor genetik, perokok, makanan, gaya / pola hidup dan DM termasuk degeneratif…”
Apt. F : “…kalau DM tipe 1 itu kerusakan pankreas biasanya adalah penyakit bawaan dari lahir sudah ada terjadi kerusakan pankreas dan harus memakai insulin. DM tipe 2 biasanya akibat gaya hidup yang terlampau banyak konsumsi gula, kurang olah raga…”
Lampiran 3. Uraian Wawancara Mendalam (Indepth Interview) kepada Dokter dan Apoteker (lanjutan)
NO. HASIL WAWANCARA
3. Jenis-jenis DM ? penyakit, kegemukan, kerusakan pankreas sedikit dan masih bisa ditangani dengan obat oral…”
Dokter B : “…DM itu ada 4. Pertama DM tipe 1 yaitu kekurangan insulin secara absolut artinya benar-benar di dalam tubuh kadar insulinnya rendah.
Kedua DM tipe 2 adalah kondisi DM yang disebabkan karena terjadinya resistensi insulin. Ketiga DM pada kehamilan yang sering disebut DM gestasional. Keempat DM tipe lain, ini biasanya pada penyaki-penyakit seperti fibrosis kistik, bisa juga pada pankreatitis, bisa juga pada kasus penggunaan obat-obatan seperti steroid di pakai jangka Panjang…”
Dokter C : “…Tipe 1, tipe 2, gestasional…”
Dokter D : “…DM itu ada banyak macam tipenya yaitu tipe 1, tipe 2 dan tipe lain…”
Apt. E : “…ada 2. DM tipe 1 dan tipe 2…”
Apt. F: “…DM tipe 1 dan Tipe 2…”
Apt. G : “…ada 2 yaitu tipe 1 dan 2. Tipe 1 biasanya akibat pankreas sudah tidak bekerja. Tipe 2 pankreas tidak bekerja atau kurang fungsi sensitivitasnya…”
Apt. H: “…tipe 1 dan tipe 2. Tipe 1 itu produksi insulinnya sedikit atau tidak ada sedangkan tipe 2 ada insulinnya tapi mungkin reseptornya tidak sensitif atau kesalahan dari tubuh yang masih bisa diperbaiki lagi…”
Apt. I :”…ada 2 jenis. Tipe 1 pankreas sudah tidak bisa menghasilkan insulin lagi. Tipe 2 masih bisa diperbaiki dengan menjaga pola hidup sehat…”
Apt. J :”…ada diabetes tipe 1 dan diabetes tipe 2…”
Lampiran 3. Uraian Wawancara Mendalam (Indepth Interview) kepada Dokter dan Apoteker (lanjutan)
NO. HASIL WAWANCARA
4. Perbedaan DM tipe 1 dan 2 ?
Dokter A :”… DM tipe 1 itu kerusakan di pankreas (sudah parah) bisa karena faktor dan kerusakan sudah mutlak makanya harus dapat insulin. Kalau tipe 2 yaitu tadi karena masalah penyakit, kegemukan, kerusakan pankreas sedikit dan masih bisa ditangani dengan obat oral…”
Dokter B : “… DM tipe 1 yaitu kekurangan insulin secara absolut artinya benar-benar di dalam tubuh kadar insulinnya rendah. DM tipe 2 adalah kondisi DM yang disebabkan karena terjadinya resistensi insulin…”
Dokter C : “…DM tipe 1 karena autoimun jadi mulai dari bayi gitu lahir pankreasnya sudah tidak ada.
Tapi kalau pada DM tipe 2 pada orang-orang dewasa karena pankreasnya itu sudah terganggu dalam proses produksi insulin sudah mulai terganggu karena usia…”
Dokter D : “…biasa tipe 1 dari anak-anak dan usia muda. Kalau tipe 2 seperti dewasa muda…”
Apt. E : “…tipe 1 pengobatannya harus pakai insulin karena tidak bisa lagi memproduksi insulin sehingga harus pake insulin sebagai terapinya. Tipe 2 itu masih bisa dengan obat-obatan yaitu obat-obat yg bisa memicu sekresi insulin, obat-obat yg menaikkan sensitivitas reseptor insulin…” pankreas tidak bekerja atau kurang fungsi sensitivitasnya…”
Apt. H : “…tipe 1 itu produksi insulinnya sedikit atau tidak ada sedangkan tipe 2 ada insulinnya tapi mungkin reseptornya tidak sensitif atau kesalahan dari tubuh yang masih bisa diperbaiki lagi…”
Apt. I:”…tipe 1 pankreas sudah tidak bisa menghasilkan insulin lagi. Tipe 2 masih bisa diperbaiki dengan menjaga pola hidup sehat…”
Apt. J :”…tipe 1 dia memang insulinnya sama sekali tidak bisa mengubah glukosa menjadi glikogen jadi harus di bantu dengan sediaan insulin. Tipe 2 masih bisa dibantu denagn obat…”
Lampiran 3. Uraian Wawancara Mendalam (Indepth Interview) kepada Dokter dan Apoteker (lanjutan)
NO. HASIL WAWANCARA
5. Nilai KGD puasa, sesaat, sesudah makan ? Dokter A : “… kalau puasa di bawah 126 mg/dl, kalau setelah makan di bawah 200 mg/dl dan sesaat di bawah 200 mg/dl juga…”
Dokter B : “… kalau gula normal saat puasa itu diharapkan ≤ 126 mg/dl, kalau sewaktu sama dengan 2 jam postprandial ≤ 200 mg/dl …”
Dokter C: “…sewaktu dan setelah makan dibawah 200 mg/dl, puasa dibawah 120 mg/dl …”
Dokter D : “…2 jam setelah makan di bawah 200 mg/dl, puasa dibawah 140 mg/dl, namun ada juga yang di bawah 126 mg/dl tergantung apa yang dia makan…”
Apt. E: “…puasa dibawah 100 mg/dl, sesaat dan 2 jam setelah makan dibawah 200 mg/dl …”
Apt. F : “…saat puasa dibawah 100 mg/dl, setelah makan diatas 120-130 mg/dl, sewaktu diantara 100-130 mg/dl …”
Apt. G: “…kalau setelah makan dibawah 200 mg/dl, puasa dibawah 100 mg/dl …”
Apt. H : “…puasa dibawah 120 mg/dl, setelah makan dibawah 200 mg/dl, sewaktu di bawah 200 mg/dl juga…”
Apt. I :”…puasa dibawah 100 mg/dl, setelah makan 120 mg/dl, sewaktu 140 mg/dl …”
Apt. J :”…puasa dibawah 120 mg/dl, setelah makan dibawah 200 mg/dl, sewaktu dibawah 200 mg/dl …”
Lampiran 3. Uraian Wawancara Mendalam (Indepth Interview) kepada Dokter dan Apoteker (lanjutan)
NO. HASIL WAWANCARA
6. Kalau Obat Antidiabetik Oral golongannya apa saja ? Dokter A : “…golongan sulfonilurea
untuk pasien seperti glibenklamid, glimepiride. Kemudian golongan biguanid seperti metformin.
Kemudian ada juga obat yang kerjanya di usus…”
Dokter B : “…obat-obat golongan sulfonilurea seperti glimipiride jadi obat ini fungsinya memicu sel beta pankreas untuk mengeluarkan insulin lebih banyak sehingga insulin yang lebih banyak itu diharapkan bisa merubah gula darah menjadi gula otot atau glikogen, golongan obat yang bisa meningkatkan sensitivitas reseptor insulin seperti metformin atau seperti thiazolidindion, kemudian golongan yang lain itu seperti obat ini kerja di usus misalnya alpha glukosidase inhibitor, akarbose…”
Dokter C : “…golongan biguanid contoh metformin untuk meningkatkan sensitivitas insulin diotot, kemudian sulfonilurea ( bekerja dengan memaksa pankreas untuk meningkatkan produksi insulin contoh glibenklamid, glimepiride), akarbose (menghambat penyerapan gula di usus, sitagliptin / vitagliptin
…”
Dokter D : “…kalau pertama kali si pasien belum pernah minum obat gula maka akan diberikan golongan biguanid (metformin)…”
Apt. E : “…ada 4. Golongan sulfonilurea dengan meningkatkan sekresi insulin sehingga aktivitas sel beta pankreas meningkat. Contoh metformin (2 x 1), akarbose dan pioglitazone (1 x 1)…”
Apt. F : “…ada glibenklamid, glimepiride, akarbose, glikazid, glikuidon…”
Apt. G : “…golongan biguanid (metformin), golongan meglitinid, golongan sulfonilurea, golongan tiazolidindion, golongan inhibitor DPP4, inhibitor alpha glukosidase, agonis reseptor GTP2…”
Apt. H : “…ada golongan biguanid seperti metformin, kemudian sulfonilurea (glimepiride, glikazid), inhibitor alpha glukosidase, golongan pioglitazone…”
Apt. I :”…setau saya ada 3. Golongan biguanid (metformin), golongan sulfonilurea (glimepiride), golongan inhibitor alpha glukosidase, akarbose…”
Apt. J:”…sulfonilurea (glimepiride), biguanid (metformin)…”
Lampiran 3. Uraian Wawancara Mendalam (Indepth Interview) kepada Dokter dan Apoteker (lanjutan)
NO. HASIL WAWANCARA
7. DRP merupakan masalah terkait obat. Nah, salah satunya ada interaksi obat.
Apakah Interaksi Obat merugikan atau tidak ? Dokter A :”… ada yang merugikan
dan ada juga yang menguntungkan.
Ada yang meningkatkan obat satu dengan yang lain, ada juga menurunkan satu dengan yang lain pada obat. Intinya ada merugikan dan ada yang menguntungkan…”
Dokter B : “…DRP itu merupakan
Dokter B : “…DRP itu merupakan