• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

I.5. Kerangka Teori

Setiap penelitian memerlukan kejelasan titik tolak atau landasan berfikir dalam memecahkan dan menyoroti masalahnya. Untuk itu perlu disusun kerangka teori yang memuat pokok-pokok pikiran yang menggambarkan dari sudut mana masalah penelitian

Menurut Kerlinger, teori merupakan himpunan konstruk (konsep), yang mengemukakan pandangan sistematis tentang gejala dan menjabarkan relasi diantara variable untuk menjelaskan dan meramalkan gejala tersebut. (Rakhmat, 2004 : 6).

Dengan adanya kerangka teori akan membantu peneliti dalam menentukan tujuan dan arah penelitiannya. Adapun teori-teori yang dianggap relevan dengan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Komunikasi dan komunikasi efektif 2. Komunikasi kelompok

3. Sosialisasi program ASEAN goes to school 4. Opini publik

5. Teori S-O-R

I.5.1 Komunikasi dan Komunikasi Efektif

Sebagai makhluk sosial, komunikasi merupakan unsur penting dalam kehidupan manusia. Kegiatan komunikasi akan timbul jika seorang manusia mengadakan interaksi dengan manusia lain, jadi dapat dikatakan bahwa komunikasi timbul sebagai akibat dari adanya hubungan social. Pengertian tersebut mengandung arti bahwa komunikasi tidak dapat dipisahkan dari kehidupan umat manusia, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok.

Kata komunikasi atau communication dalam bahasa inggris berasal dari bahasa latin communis yang artinya “sama”, communico, communication, atau communicare yang berarti “membuat sama” (to make common). Istilah pertama (communis) adalah istilah yang paling sering sebagai asal usul kata komunikasi, yang merupakan akar dari

kata-kata Latin lainnya yang mirip. Komunikasi menyarankan bahwa suatu pikiran, suatu makna, atau suatu pesan dianut secara sama. (Wiryanto,2004:5)

Harold laswell dalam karyanya Strukture and Function of Communication in Society (Effendy, 2000:10), mengatakan bahwa komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang menimbulkan efek tertentu. who says what in which channel to whom and with what effect. Jadi unsur-unsur yang terdapat dalam komunikasi menurut paradigma Laswell ada lima, yaitu:

1. Komunikator (communicator, source, sender) 2. Pesan (Message)

3. Media (channel, media)

4. Komunikan (communicant,communicate,receiver, recipient) 5. Efek (Effect, impact, influence)

Proses komunikasi pada hakikatnya adalah proses penyampaian pikiran atau perasaan oleh seseorang (komunikator) kepada orang lain (komunikan). Pikiran bisa merupakan gagasan, informasi, opini, dan lain-lain yang muncul dari benaknya. Perasaan bisa berupa keyakinan, keragu-raguan, kekawatiran, kemarahan, keberanian, kegairahan, dan sebagainya yang timbul dari lubuk hati.

Unsur-unsur yang terlibat dalam proses komunikasi adalah:

- Sender (komunikator), yang menyampaikan pesan kepada seseorang atau sejumlah orang.

- Encoding (penyandian), yaitu proses pengalihan pikiran kedalam bentuk lambang.

- Media (Saluran), yaitu tempat berlalunya pesan dari komunikator ke komunikan

- Decoding (pengawasandian), yaitu proses dimana komunikan menetapkan makna pada lambing yang disampaikan oleh komunikator kepadanya.

- Receiver, yakni komunikan yang menerima pesan dari komunikator.

- Response (tanggapan), yaitu seperangkat reaksi pada komunikan setelah diterpa pesan.

- Feedback (umpan balik), yaitu tanggapan komunikan apabila tersampaikan atau disampaikan kepada komunikator.

- Noise, yaitu gangguan yang tidak terencana yang terjadi dalam proses komunikasi sebagai akibat diterimanya pesan lain oleh komunikan yang berbeda dengan pesan yang disampaikan oleh komunikator kepadanya.

Agar komunikasi efektif, proses penyandian oleh komunikator harus bertauan dengan proses pengawasandian oleh komunikan. Wilbur Schramm melihat pesan sebagai tanda esensial yang harus dikenal oleh komunikan. Semakin tumpang tindih bidang pengalaman (Field of experience) komunikator dengan bidang pengalaman komunikan, akan semakin efektif pesan yang dikomunikasikan. Komunikator akan dapat menyandi dan komunikan akan dapat mengawasandi hanya dalam istilah- istilah pengalaman yang dimiliki masing-masing.

Dalam teori komunikasi dikenal istilah empathy, yang berarti kemampuan memproyeksikan diri kepada peranan orang lain. Jadi, meskipun antara komunikator dengan komunikan terdapat perbedaan dalam kedudukan, jenis pekerjaan, agama, suku, bangsa, tingkat pendidikan, ideologi, dan lain-lain, jika komunikator bersikap empatik,

komunikasi tidak akan gagal. Komunikasi efektif harus direncanakan dengan memperhatikan situasi, waktu, tempat dan pendengarnya. (Effendy, 2000:18)

I.5.2 Komunikasi Kelompok

Berbeda dengan fenomena sosial lainya, komunikasi merupakan suatu proses, suatu kegiatan manusia yang berlangsung terus menerus secara sinambung. Demikian juga dengan komunikasi yang dilakukan dalam mensosialisasikan Program ASEAN oleh Duta mudanya kepada siswa/i sekolah termasuk kedalam salah satu bentuk komunikasi kelompok.

Komunikasi kelompok (group communication) berarti komunikasi yang berlangsung antara seorang komunikator dengan sekelompok orang yang jumlahnya lebih dari dua orang. Sekelompok orang yang menjadi komunikan itu bisa sedikit, bisa banyak. Apabila jumlah orang yang dalam kelompok itu sedikit yang berarti kelompok itu kecil, komunikasi yang berlangsung disebut komunikasi kelompok kecil (small group communication), jika jumlahnya banyak yang berarti kelompoknya besar dinamakan komunikasi kelompok besar (large group communication).

Berikut, beberapa karakteristik yang membedakan kelompok kecil dengan kelompok besar:

1. Komunikasi kelompok kecil

Komunikasi kelompok kecil (small/micro group communication) adalah komunikasi yang ditujukan kepada kognisi komunikan dan prosesnya berlangsung secara dialogis. Dalam komunikasi kelompok kecil komunikator menunjukkan pesannya kepada

lain-lain. Dalam situasi komunikasi seperti itu logika berperan penting. Komunikan akan dapat menilai logis tidaknya uraian komunikator.

2. Komunikasi kelompok besar

Komunikasi kelompok besar (large/macro group communication) adalah komunikasi yang ditujukan kepada efeksi komunikan dan prosesnya berlangsung secara linear. Pesan yang disampaikan oleh komunikator dalam situasi komunikasi kelompok besar, ditujukan kepada afeksi komunikan, kepada hatinya atau kepada perasaannya. contohnya rapat raksasa di sebuah lapangan. (Effendy,1993 : 75-79)

Program sosialisasi ASEAN goes to school yang dilakukan oleh Duta muda ASEAN kepada siswa/i termasuk kedalam komunikasi kelompok kecil. Hal ini dikarenakan program ini berlangsung secara dialogis, tidak linear melainkan sirkular. Umpan balik secara verbal. Komunikan dapat menanggapi uraian komunikator, bisa bertanya jika tidak mengerti, dapat menyanggah bila tidak setuju dan lain sebagainya. Sosialisasi program ini dilakukan di dalam ruangan kelas ataupun aula dari sekolah-sekolah tersebut.

Komunikasi itu dikatakan efektif bila anggota mampu memberikan informasi kepada kelompok mengenai suatu program secara selektif, atau mengurangi kesimpangsiuran informasi. Efektivitas kelompok dapat dilihat dari aspek produktivitas moral, dan kepuasan para anggotanya. Produktivitas kelompok dapat dilihat dari keberhasilan mencapai tujuan kelompok. Moral dapat diamati dari semangat dan sikap para anggotanya dalam mencapai tujuan pribadinya. (Wiryanto, 2004 : 50)

I .5.3 Sosialisasi Program ASEAN Goes To School

Sosialisasi adalah sebuah proses penanaman atau transfer kebiasaan atau nilai dan aturan dari satu generasi kegenerasi lainnya dalam sebuah kelompok atau masyarakat.

Berdasarkan jenisnya, sosialisasi dibagi menjadi dua: Sosialisasi primer (dalam keluarga) dan sosialisasi sekunder (dalam masyarakat). Menurut goffman kedua proses tersebut berlangsung dalam institusi social, yaitu tempat tinggal dan tempat bekerja. Dalam kondisi institusi tersebut, terdapat sejumlah individu dalam situasi yang sama, terpisah dari masyarakat luas dalam jangka waktu kurun waktu tertentu, bersama-sama menjalani hidup yang terkungkung, dan diatur secara formal.

1. Sosialisasi Primer

Peter L. Berger dan luckmann mendefinisikan sosialisasi primer sebagai sosialisasi pertama yang dijalani individu semasa kecil dengan belajar menjadi anggota masyarakat (keluarga). Sosialisasi primer berlangsung saat anak berusia 1-5 tahun atau saat anak belum masuk ke sekolah. Anak mulai mengenal anggota keluarga dan lingkungan keluarga. Secara bertahap dia mulai mampu membedakan dirinya dengan orang lain disekitar keluarganya.

2. Sosialisasi Sekunder

Sosialisasi sekunder adalah suatu proses sosialisasi lanjutan setelah sosialisasi primer yang memperkenalkan individu kedalam kelompok tertentu dalam masyarakat. Salah satu bentuknya adalah resosialisasi dan desosialisasi. Dalam proses resosialisasi, seseorang diberi suatu identitas diri yang baru. Sedangkan dalam proses desosialisasi seseorang mengalami pencabutan identitas diri yang lama.

a. Tahap persiapan (Preparatory stage).

Tahap ini dialami sejak manusia dilahirkan, saat seorang anak mempersiapkan diri untuk mengenal dunia sosialnya, termasuk untuk memperoleh pemahaman tentang diri. Pada tahap ini juga anak-anak mulai melakukan kegiatan meniru meski tidak sempurna.

b. Tahap meniru (Play stage)

Tahap ini ditandai dengan semakin sempurnanya seorang anak menirukan peran-peran yang dilakukan oleh orang dewasa, kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain juga mulai terbentuk. Sebagian dari orang tersebut merupakan orang-orang yang dianggap penting bagi pembentukan dan bertahannya diri, yakni dari mana anak menyerap norma dan nilai. Bagi seorang anak, orang-orang ini disebut orang-orang yang amat berarti (significant other).

c. Tahap Siap Bertindak

Peniruan yang dilakukan sudah mulai berkurang dan digantikan oleh peran yang secara langsung dimainkan sendiri dengan penuh kesadaran. Kemampuannya menempatkan diri pada posisi orang lain pun meningkat. Pada tahap ini lawan berinteraksi semakin banyak dan hubungannya semakin kompleks. Individu mulai berhubungan dengan teman-teman sebaya di luar rumah. Peraturan-peraturan yang berlaku diluar keluarganya secara bertahap juga mulai dipahami. Bersamaan dengan itu, anak mulai menyadari bahwa ada norma tertentu yang berlaku diluar keluarganya.

d. Tahap Penerimaan Norma Kolektif (Generalized stage)

Pada tahap ini seseorang telah dianggap dewasa. Dia sudah dapat menempatkan dirinya pada posisi masyarakat secara luas. Dengan kata lain, ia dapat bertenggang rasa

tidak hanya dengan orang-orang yang berinteraksi dengannya tapi juga dengan masyarakat luas. Manusia dewasa menyadari pentingnya peraturan, kemampuan bekerja sama, bahkan dengan orang lain yang tidak dikenalnya secara mantap. Manusia dengan perkembangan diri pada tahap ini telah menjadi warga masyarakat dalam arti

sepenuhnya.

ASEAN sebagai organisasi regional di Asia Tenggara ternyata masih kurang dikenal oleh masyarakat negara-negara anggotanya. Padahal, ASEAN telah mencanangkan terbentuknya suatu ASEAN Community pada tahun 2015, dimana organisasi ini tidak lagi semata organisasi antar pemerintah, namun lebih merupakan komunitas masyarakat ASEAN. Alasannya, untuk menjadi organisasi regional yang lebih kuat, dibutuhkan rasa memiliki dan keterlibatan dari masyarakat yang bersangkutan. Duta Muda ASEAN Indonesia (DMAI) bertugas mensosialisasikan segala kegiatan-kegiatan yang dilakukannya selama masa tugasnya, termasuk memberikan informasi bagaimana kiat untuk menjadi duta muda kepada siswa/i sekolah tersebut. Salah satu program DMAI untuk mensosialisasikan ASEAN kepada generasi muda yaitu melalui program ASEAN goes to school. Kegiatan ini bertujuan untuk:

- Memperkenalkan ASEAN sebagai community atau masyarakat

- Menumbuhkan rasa sebagai warga ASEAN (we-feeling) dan semangat ASEAN di kalangan generasi muda Indonesia

- Meningkatkan partisipasi aktif generasi muda di ASEAN

Selain itu, kunjungan akan disertai pemberian informasi mengenai jaringan kegiatan kepemudaan di ASEAN, termasuk dalam bentuk kesempatan mendapat beasiswa dan

Seseorang dapat dikatakan komunikator yang baik apabila komunikator tersebut mempunyai kredibiltas atau kepribadian yaitu keahlian komunikator dan kepercayaan kita kepada komunikator. Dan juga mempunyai atraksi atau daya tarik yaitu komunikator tersebut harus memiliki kesamaan dengan komunikannya dalam arti kesamaan dalam tujuan dan bahasa yang digunakan oleh komunikator tersebut bisa dimengerti oleh komunikannya. Pada umumnya seorang komunikator yang memiliki daya tarik akan lebih efektif daripada komunikator yang tidak menarik. (Effendy,1993 : 43-45)

Proses komunikasi dikatakan berhasil jika mengikuti tahap-tahap komunikasi seperti yang dikemukakan oleh Cultip dan Center yang disebut The 7c’ of Communication, yaitu : Credibility (memulai komunikasi dengan membangun suatu kepercayaan), Context (komunikasi harus berkaitan dengan kehidupan/ keadaan sosial), Content (pesan dan informasi yang diberikan kepada khalayak harus mempunyai arti dan bermanfaat), clarity (pesan komunikasi harus disusun dalam bahasa yang sederhana, kejelasan dari pesan haruslah diutamakan atau pesan tersebut didak akan dapat diterima dengan baik oleh komunikan), continuity and consistency (proses komunikasi adalah proses yang tidak pernah berakhir dan harus ada pengulangan-pengulangan), capability of audience (pertimbangan atas kemampuan dari komunikan untuk menyerap dan mencerna isi pesan), Channel (media dan alat-alat yang digunakan untuk menyampaikan pesan tersebut agar bisa lebih mudah diterima). Dalam setiap kunjungan, DMAI akan memfasilitasi kegiatan : Pemutaran film ‘ASEAN Community 2015’, Pengenalan tentang ASEAN dalam bentuk slide show/ power point dan mitra wicaranya beserta aktivitasnya dalam bentuk dialog dan simulasi, diskusi dan games interaktif bertema peran dan ruang bagi generasi muda di ASEAN serta kontribusi generasi muda terhadap ASEAN &

lingkungan sekitar mereka, berbagi pengalaman bersama Duta Muda ASEAN-Indonesia (Program pemuda di ASEAN, China, Kapal ASEAN, Praha, India, Korea), pembagian selebaran informasi tentang ASEAN dan beasiswa bidang pendidikan (Proposal ASEAN goes to school).

1.5.4 Opini Publik

Cultip dan Center mengemukakan bahwa opini suatu ekspresi tentang sikap mengenai suatu masalah yang kontroversial yang menimbulkan pendapat berbeda-beda. Clyde L.King mengatakan bahwa opini adalah suatu penilaian sosial mengenai suatu hal yang penting dan berarti atas dasar pertukaran pikiran yang dilakukan oleh individu-individu yang sadar rasional. (Sastropoetra, 1990 : 35-53)

Publik dapat didefinisikan sebagai sejumlah orang yang mempunyai minat, kepentingan, atau kegemaran yang sama. Inti dari pendapat umum atau opini publik adalah diakuinya pendapat masyarakat. Pendapat umum diterima dan mampu mempengaruhi kekuasaan dan kebijaksanaan sehingga apa yang dipikirkan masyarakat menjadi penting untuk diketahui. Ekspresi untuk menyatakan pendapat umum itu berbeda-beda, kemajuan teknologi yang menentukan bagaimana pendapat itu harus disuarakan. Secara umum dikenal beberapa teknik ekspresi pendapat umum berturut-turut: orator, cetakan, kerumunan, petisi, ruang diskusi, coffee house, gerakan revolusi, pemogokan, pemilihan umum, strawa pool (pemungutan suara tidak resmi), surat kabar modern, surat untuk pejabat public, perencanaan agenda, dan pooling. (Eriyanto,1999 : 45)

Menurut Kruger Reckles menyatakan bahwa opini publik adalah suatu pendapat hasil pertimbangan seseorang tentang sesuatu hal yang diterima sebagai pikiran publik. Ada perubahan yang terjadi pada diri sikomunikan apabila opini tersebut hadir mengisi kehidupannya yaitu perubahan sikap, dan perubahan ini selalu terjadi pada siapa saja. Sikap adalah kecenderungan bertindak, berpersepsi, berfikir, dan merasa dalam menghadapi objek, ide, situasi dan nilai. Jadi timbulnya opini adalah efek komunikasi dalam bentuk pernyataan yang bersifat kontroversial dan sejumlah orang sebagai pengekspresian sikap

Sikap memiliki tiga komponen, yaitu komponen kognitif, afektif, dan komponen konatif ( Azwar, 2003 : 23):

1. Komponen Kognitif

Perubahan yang terjadi apabila perubahan pada apa yang diketahui, dipahami, atau dipersepsikan oleh khalayak dan perubahan ini berkaitan dengan transmisi pengetahuan,keterampilan, kepercayaan atau informasi dan pemahaman.

2. Komponen Afektif

Perubahan yang terjadi apabila ada perubahan pada apa yang dirasakan, disenangi, atau dibenci khalayak. Dan perubahan ini berkaitan dengan emosi seseorang yang berupa rasa senang, suka, dan juga puas.

3. Komponen Konatif

Perubahan yang terjadi pada tindakan atau perilaku nyata dari khalayak yang dapat diamati, bersangkutan dengan niat, upaya, tekad, usaha, yang cenderung menjadi suatu kegiatan atau tindakan .

Menurut Irish dan Proto (Susanto, 2001 : 91) menyatakan bahwa suatu pendapat harus dinyatakan terlebih dahulu agar dapat dinilai sebagai pendapat umum atau opini publik. Hal ini disebabkan karena sesuatu yang belum dinyatakan terlebih dahulu belum bisa disebut sebagai opini karena belum mengalami proses komunikasi, melainkan masih merupakan sikap. Suatu pendapat akan menjadi suatu isu apabila mengandung unsur kemungkinan pro dan kontra suatu pendapat (tentang suatu kejadian) yang telah dan dengan demikian ia akan menimbulkan pendapat baru yang menyenangkan atau tidak baginya.

Opini mencerminkan suatu pernyataan atau sikap dalam kata-kata. Suatu sikap dapat dinyatakan sebagai disposisi seseorang atau suatu kecenderungan untuk membalas tindakan. Opini menyangkut pandangan pribadi seseorang dalam menghadapi isu yang terjadi disekitarnya. Timbulnya opini pada seseorang atau sejumlah orang disebabkan ia atau mereka menerima suatu pesan dari komunikator. Mula- mula pesan yang diterima merupakan sikap saja tetapi kemudian mereka mengekspresikannya kepada orang lain, terjadilah proses komunikasi yang diantara mereka ada yang pro dan kontra terhadap pesan tersebut.

Selanjutnya, Lonard W.Doob dan bukunya yang berjudul Social Psychology menyatakan bahwa opini adalah penjelmaan dan pertimbangan seseorang tenteng suatu hal, kejadian atau pikiran yang telah diterima sebagai pikiran umum (Sunarjo,1984 : 29).

Opini mencerminkan suatu pernyataan atau sikap dalam kata-kata. Suatu sikap dapat dinyatakan sebagai disposisi seseorang atau suatu kecenderungan untuk membalas tindakan. Opini menyangkut pandangan pribadi seseorag dalam menghadapi suatu isu

Opini sebagai opini pribadi memiliki karakteristik tertentu:

1. Mempunyai isi, artinya opini tersebut berhubungan dengan sesuatu 2. Arah (percaya atau tidak percaya, setuju atau tidak setuju dan sebagainya) 3. Memiliki intensitas (kuat, moderat, atau lemah)

Selama opini itu merupakan opini seseorang (individu opini tidak akan menimbulkan permasalahan). Demikian juga bila opini itu merupakan opini pribadi (Privaat Opinion). Permasalahan akan timbul apabila opini itu menjadi opini publik (public opinion) yang menyangkut orang banyak karena berkaitan dengan kepentingan orang banyak.

I .5.5 Teori S-O-R

Teori S-O-R (Stimulus-Organisme-Respon) beranggapan bahwa organisme menghasilkan perilaku tertentu jika ada stimulus tertentu pula. Jadi efek yang ditimbulkan adalah reaksi khusus terhadap stimulus khusus, sehingga seseorang dapat mengharapkan dan memperkirakan kesesuaian antara pesan dan reaksi komunikan. Menurut Effendy (2000), dalam model ini terdapat tiga unsur penting yaitu:

a. Pesan (stimulus), pesan yang dimaksud disini adalah Program ASEAN Goes To School yang di adakan di empat sekolah di medan pada tangal 22 februari 2008 dan 23 februari 2008.

b. Komunikan (Organisme), yang menjadi sasaran penelitian ini yaitu siswa-siswi SMPN 1,SMK 10, SMAN 4, dan SMA Al’azhar.

c. Efek atau respon, respon yang dimaksud adalah opini terhadap acara ini. Tetapi tidak sampai merubah sikap pada komunikan.

Dalam proses komunikasi berkenaan dengan perubahan sikap adalah aspek ‘how’ bukan ‘what’ atau ‘why’. jelasnya how to communicate, dalam hal ini how to change the attitude bagaimana mengubah sikap komunikan.

Dalam proses perubahan sikap tampak bahwa sikap yang berubah hanya jika stimulus yang menerpa benar-benar melebihi semula. Hovland, Janis dan Kelly (dalam Effendy,2000: 224 - 225), menyatakan bahwa dalam menelaah sikap ada tiga variabel penting, yaitu: Perhatian, Pengertian, Penerimaan.

Menurut Effendy teori S-0-R dapat dirumuskan sebagai berikut:

Gambar 1.1 Teori S-O-R

Gambar diatas menunjukkan bahwa perubahan sikap bergantung kepada proses yang terjadi pada individu. Stimulus atau pesan yang disampaikan kepada komunikan mungkin diterima atau ditolak. Kombinasi akan berlangsung jika ada perhatian dari komunikan. Proses berikutnya komunikan mengerti. Kemampuan komunikan inilah yang melanjutkan proses berikutnya. Setelah komunikan mengolahnya dan menerimanya, maka terjadilah kesediaan untuk mengubah sikap.

Stimulus Organisme: - Perhatian - Pengertian - Penerimaan

Dokumen terkait