Balai Besar Penelitian Dipterokarpa 2014
DAFTAR PUSTAKA
A. Kerapatan dan Nilai Penting Jenis Berdasarkan hasil analisis data
Jenis A
Jenis B Ada Tidak ada Jumlah
Ada a b a + b
Tidak ada c d c + d
Jumlah a + c b + d N = a + b + c + d
Keterangan :
a = Jumlah petak yang mengandung jenis A dan jenis B
b = Jumlah petak yang mengandung jenis A saja, jenis B tidak c = Jumlah petak yang mengandung jenis B saja, jenis A tidak d = Jumlah petak yang tidak mengandung jenis A dan jenis B N = Jumlah semua petak
Untuk mengetahui adanya kecenderungan berasosiasi atau tidak, digunakan Chi-square Test dengan formulasi sebagai berikut:
X2 = (ad – bc)2 x N . (a+b) (c+d) (a+c) (b+d)
Nilai Chi-square hitung, kemudian dibandingkan dengan nilai Chi-square
tabel pada taraf uji 1% dan 5%,
masing-masing dengan nilai 6,63 dan 3,84. Apabila nilai Chi-square hitung > nilai
Chi-square tabel, maka asosiasi bersifat
nyata. Apabila nilai Chi-square hitung < nilai Chi-square tabel, maka asosiasi bersifat tidak nyata. Selanjutnya untuk mengetahui tingkat atau kekuatan asosiasi, maka dihitung koefisien asosiasi (C) menggunakan rumus sebagai berikut: 1. Bila ad ≥ bc, maka C = ad – bc
(a+b) (b+d)
2. Bila bc > ad dan d > a, maka C = ad – bc (a+b) (b+c) 3. Bila bc > ad dan a > c, maka C = ad – bc (a+d) (c+d)
Nilai positif atau negatif dari hasil perhitungan menunjukkan asosiasi positif atau negatif antara pasangan jenis.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Kerapatan dan Nilai Penting Jenis Berdasarkan hasil analisis data vegetasi yang telah dilakukan terdapat sebanyak 123 jenis/ha dengan kerapatan jenis mencapai 537 batang/ha. dengan jumlah bidang dasar 30.58 m2/ha. Untuk jenis dipterokarpa terdapat sebanyak 24 jenis/ha yang terdiri dari 5 marga yaitu
Dipterocarpus (3 jenis), Hopea (1 jenis), Parashorea (2 jenis), Shorea (15 jenis)
dan Vatica (3 jenis), sedangkan untuk jenis tengkawang terdapat 3 jenis meliputi Shorea macrophylla, S.pinanga dan S.seminis. Di areal ini masih banyak ditemukan jenis-jenis dipterokarpa yang merupakan penyusun utama tegakan hutan dipterokarpa. Purwaningsih (2004) yang menyebutkan sebagian besar hutan primer yang masih tersisa di wilayah Kalimantan vegetasinya masih banyak didominasi oleh suku dipterokarpa, sehingga sering disebutnya sebagai Hutan dipterokarpa. Apannah dan Turnbull (1998) menyebutkan bahwa Kalimantan dan Sumatera merupakan pusat pertumbuhan dipterokarpa di hutan tropika basah. Dari 123 jenis pohon yang terdapat areal penelitian tersebut jenis yang mendominasi areal penelitian
Pontianak, 14 Mei 2014
=14.61%), Shorea smithiana (NPJ = 12.39%), Elateriospermum tapos (NPJ =11.53%), Syzygium sp (NPJ =10.72%),
Shorea parvifolia (NPJ = 8.91% dan Shorea macrophylla (NPJ = 8.62%)
seperti tertera pada Tabel 1. Pratiwi dan Garsetiasih (2007) menyebutkan bahwa secara ekologis nilai vegetasi ditentukan oleh fungsi species dominan yang merupakan hasil interaksi dari komponen-komponen yang ada dalam
tertinggi di dalam ekosistem yang bersangkutan, sehingga jenis-jenis tersebut dapat mempengaruhi kestabilan di dalam ekosistem. Jenis yang dominan merupakan jenis yang mampu menguasai tempat tumbuh dan mengembangkan diri sesuai kondisi lingkungannya yang secara keseluruhan atau sebagian besar berada pada tingkat yang paling atas dari semua jenis yang berada dalam suatu komunitas vegetasi.
Tabel 1. 7 (tujuh) jenis pohon yang mempunyai nilai penting terbesar di Hutan Penelitian Labanan, Kalimantan Timur.
Nomor Jenis Nilai Penting
(%) 1 Dipterocarpus tempehes V. Sl. 23.68 2 Mallotus muticus (Muell.Arg.) Airy Shaw 14.61 3 Shorea smithiana Sym. 12.39 4 Elateriospermum tapos Blume 11.53 5 Syzygium sp 10.72 6 Shorea parvifolia Dyer 8.91 7 Shorea macrophylla (de Vriese) Ashton 8.62 B. Asosiasi Jenis
Hasil perhitungan asosiasi jenis tengkawang dengan 7 jenis pohon dominan yang memiliki nilai penting jenis 8 % dan keatas (Tabel 1), menunjukkan bahwa nilai Chi-square hitung lebih kecil dibandingkan nilai
Chi-square tabel baik pada taraf uji 1% dan
5%, hal ini mengindikasikan bahwa tidak ada korelasi yang nyata atau asosiasi bersifat tidak nyata antara 7 jenis pohon dominan tersebut dengan jenis tengkawang. Apabila dilihat dari hasil perhitungan koefisien asosiasi (C) yang digunakan sebagai parameter untuk mengetahui tingkat atau kekuatan asosiasi, nilai koefisien asosiasinya ada yang besifat positif dan negatif seperti tertera pada Tabel 2. Terdapat 9 jenis pohon yang memiliki nilai koefisien asosiasi (C) yang positif yaitu: Shorea
macrophylla dengan Syzygium sp (C=0.31), Shorea macrophylla dengan
Mallotus muticus (C=0.61), Shorea macrophylla dengan Dipterocarpus tempehes (C=1.00), Shorea pinanga
dengan Shorea parvifolia (C=0.17),
Shorea pinanga dengan Elateriospermum tapos (C=0.28) Shorea pinanga dengan Mallotus muticus (C=1.00), Shorea pinanga dengan Dipterocarpus tempehes
(C=1.00), Shorea seminis dengan
Syzygium sp (C=0.85) dan Shorea seminis dengan Mallotus muticus
(C=0.10). Sedangkan yang mempunyai nilai negative antara lain: Shorea macrophylla dengan Shorea parvifolia
(C=-0.25), Shorea macrophylla dengan
Elateriospermum tapos (C=-0.04),
Shorea macrophylla dengan Shorea smithiana (-0.19), Shorea pinanga
dengan Syzygium sp (C=-1.78), Shorea
pinanga dengan Shorea smithiana
(C=-0.19) dan Shorea seminis dengan Shorea
parvifolia (C=-0.41). Adanya nilai koofisien asosiasi (C) positif,
Pontianak, 14 Mei 2014
jenis pohon dominan tersebut dengan jenis tengkawang, tetapi mereka masih bisa hidup secara bersama-sama dan tidak saling mengganggu satu sama lainnya dan secara tidak langsung jenis tersebut mempunyai hubungan baik atau ketergantungan antara satu dengan jenis yang lainnya. Barbour et al. (1999) menyebutkan bahwa apabila jenis berasosiasi secara positif, maka akan menghasilkan hubungan spasial positif terhadap pasangannya. Jika pasangan didapatkan dalam sampling, maka kemungkinan besar akan ditemukan pasangan lainnya tumbuh di dekatnya.
pasangan jenis tersebut tidak menunjukkan adanya toleransi untuk hidup bersama pada area yang sama atau tidak ada hubungan timbal balik yang saling menguntungkan, khususnya dalam pembagian ruang hidup. Fajri dan Saridan (2012), menyebutkan bahwa assosiasi negatif berarti secara tidak langsung beberapa jenis mempunyai kecenderungan untuk meniadakan atau mengeluarkan yang lainnya atau juga berarti dua jenis mempunyai pengaruh atau reaksi yang berbeda dalam lingkungannya.
Tabel 2. Asosiasi jenis pohon tengkawang dengan jenis pohon dominan di Hutan Penelitian Labanan, Berau, Kalimantan Timur
Jenis X2t (1%) X
2t
(5%) X
2t Tipe C asosiasi
Shorea macrophylla (de Vriese) Ashton dengan Shorea parvifolia Dyer
6,63 3,84 1.10 negative - 0.25
Shorea macrophylla (de Vriese) Ashton dengan Syzygium sp
6,63 3,84 0.62 positif + 0.31
Shorea macrophylla (de Vriese) Ashton dengan Elateriospermum tapos Blume
6,63 3,84 0.62 negative - 0.04
Shorea macrophylla (de Vriese) Ashton dengan Shorea smithiana Sym.
6,63 3,84 2.24 negative -0.19
Shorea macrophylla (de Vriese) Ashton dengan Mallotus muticus (Muell.Arg.) Airy Shaw
6,63 3,84 2.06 positif + 0.61
Shorea macrophylla (de Vriese) Ashton dengan Dipterocarpus tempehes V. Sl.
6,63 3,84 2.94 positif + 1.00
Shorea pinanga Scheff dengan Shorea parvifolia Dyer 6,63 3,84 0.09 positif + 0.17 Shorea pinanga Scheff dengan Syzygium sp 6,63 3,84 3.86 negatif -1.78
Shorea pinanga Scheff dengan Elateriospermum tapos
Blume
6,63 3,84 0.22 positif + 0.28 Shorea pinanga Scheff dengan Shorea smithiana Sym. 6,63 3,84 0.41 negative - 0.19 Shorea pinanga Scheff dengan Mallotus muticus
(Muell.Arg.) Airy Shaw
6,63 3,84 1.02 Positif +1.00 Shorea pinanga Scheff dengan Dipterocarpus
tempehes V. Sl.
6,63 3,84 0.54 positif + 1.00
Shorea seminis Sloot. dengan Shorea parvifolia Dyer 6,63 3,84 0.06 negative -0.41
Shorea seminis Sloot. dengan Syzygium sp 6,63 3,84 1.39 positif + 0.85
Shorea seminis Sloot. dengan Elateriospermum tapos
Blume
6,63 3,84 0.49 negative -0.39
Pontianak, 14 Mei 2014
Shorea seminis Sloot. dengan Dipterocarpus tempehes
V. Sl.
6,63 3,84 0.38 negative -0.67 Keterangan: + asosiasi positif, - asosiasi negatif
* Berbeda nyata pada taraf uji 1% ** Berbeda nyata pada taraf uji 5% IV. KESIMPULAN
Berdasarkan uraian tersebut dapat ditarik beberapa kesimpulan bahwa : di areal penelitian terdapat sebanyak 124 jenis pohon per hektar dengan kerapatan 537 batang/ha dengan jumlah bidang dasar sebesar 30.58 m2/ha. Untuk jenis dipterokarpa terdapat sebanyak 23 jenis/ha, sedangkan untuk jenis tengkawang terdapat 3 jenis meliputi
Shorea macrophylla (de Vriese) Ashton, S.pinanga Scheff dan S.seminis Sloot..
Jenis yang mendominasi areal penelitian adalah Dipterocarpus tempehes V.Sl. (NPJ = 23.68%), Mallotus muticus (Muell.Arg.) Airy Shaw (NPJ =14.61%),
Shorea smithiana Sym. (NPJ = 12.39%), Elateriospermum tapos Blume (NPJ
=11.53%), Syzygium sp (NPJ =10.72%),
Shorea parvifolia Dyer (NPJ = 8.91%
dan Shorea macrophylla (de Vriese) Ashton (NPJ = 8.62%). Tidak satupun pasangan jenis yang berasosiasi bersifat nyata atau positif, hal ini ditunjukkan dari hasil uji Chi-square hitung < Chi-squre tabel, dengan demikian asosiasi bersifat tidak nyata. Terdapat 9 pasangan jenis yang mempunyai nilai koefisien asosiasi (C) positif, mengindikasikan bahwa walaupun tidak ada hubungan yang nyata antara ke-7 jenis pohon dominan tersebut dengan jenis tengkawang, tetapi mereka masih bisa hidup secara bersama-sama dan tidak saling mengganggu satu sama lainnya. Demikian juga adanya pasangan jenis yang mempunyai koefisien asosiasi negative yang mengidikasikan bahwa pasangan jenis tersebut tidak menunjukkan adanya toleransi untuk hidup secara bersama dalam suatu ruang tumbuh.
DAFTAR PUSTAKA
Appanah, S. and J.M. Turnbull. 1998. A Review of Dipterocarps: taxonomy, ecology and silviculture. CIFOR, Bogor.
Barbour, B.M., J.K. Burk, and W.D. Pitts. 1999. Terrestrial plant ecology. The Benjamin/Cummings. New york. Bunyavejchewin, S, JV La Frankie, PJ Baker,
M Kanzaki, PS Ashton dan T Yamakura. 2003. Spatial Distribution Patterns of the Dominant Canopy Dipterocarps Species in a Seasonal Dry vergreen Forest in Western Thailand. Forest Ecology and management Journal. Vol. 175. Elsevier.
Ediriweera, S, BMP Singhakumara, MS Ashton. 2008. Variation in Canopy Structure, Light and Soil Nutrition Across Elevation of a Sri Lanka Tropical Rain Forest. Forest Ecology and Management Journal. Vol. 256. Elsevier.
Fajri, M; Saridan, A. 2012. Kajian Ekologi Parashorea melaanonan Merr Di Hutan Penelitian Labanan, Berau. Jurnal Dipterokarpa Volume 6 No.2 Desember 2012. Balai Besar Penelitian Dipterokarpa. Samarinda. Yusliansyah; Supartini; S.E.Prasetya. 2007.
Rangkuman Hasi-Hasil Penelitian dan Non Kayu Dipterokarpa. Balai Besar Penelitian Dipterokarpa. Samarinda.
McNaughton, S.J. and W.L. Wolf. 1992. Ekologi umum. Edisi kedua. Penerjemah: Sunaryono P. dan Srigandono. Penyunting: Soedarsono. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Pontianak, 14 Mei 2014
ecology. John Wiley & Sons Inc. Toronto.
Purwaningsih. 2004. Review: Sebaran ekologi jenis-jenis dipterocarpaceae di Indonesia. Jurnal Biodiversitas Vol. 5 No.2.
Komposisi Vegetasi Di Taman Wisata Alam Tangkuban Parahu, Provinsi Jawa Barat. Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam, Bogor.
Pontianak, 14 Mei 2014
Shorea pinanga ASAL KHDTK LABANAN DI PERSEMAIAN
Karmilasantidan Nilam Sari Balai Besar Penelitian Dipterokarpa
Jl. A. W. Syahrani No. 68 Sempaja, Samarinda; Telp. (0541) 206364, Fax. (0541) 742298 Email: [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis inokulan alami terhadap pertumbuhan semai Shorea pinanga di persemaian dan pengaruh kolonisasi hifa dengan penambahan inokulan alami. Penelitian dilakukan dengan beberapa tahap penyediaan bibit dan inokulasiektomikoriza, penanaman dan pemeliharaan di persemaian.Pengamatan dan pengukuran dilakukan terhadap variabel tanaman yaitu tinggi, diameter, jumlah daun, pembentukan tunas dan kematian semai. Data yang diperoleh dari hasil pengamatan dianalisis dengan menggunakan uji sidik ragam dengan 5 perlakuan dosis inokulan alami yaitu 0 gram, 5 gram, 10 gram, 15 gram dan 20 gram kemudian dilakukan uji lanjut LSD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis memberikan pengaruh terhadap setiap variabel pertumbuhan yang berbeda-beda. Untuk semua variabel pertumbuhan menunjukkan adanya pengaruh perlakuan terhadap pertumbuhan. Dosis 10 gram pada variabel pertambahan tinggi memberikan respon pertumbuhan terbaik, dosis 15 gram untuk pertambahan jumlah daun, dan pada variabel pertambahan diameter, tunas baru dan persentase kematian semai terbanyak pada dosis 0 gram (kontrol/tanpa inokulan alami). Sedangkan pengaruh terhadap kolonisasi hifa menunjukan bahwa dosis inokulan alami sebesar 20 gram memberikan penambahan jumlah hifa delapan belas kali lipat lebih banyak dibanding dengan kontrol.
Kata kunci : Dosis inokulan alami, pertumbuhan semai, mikoriza, Shorea pinanga.
I. PENDAHULUAN
Salah satu Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang potensial untuk dikembangkan di pulau Kalimantan adalah biji tengkawang sebagai bahan baku lemak nabati (Suharisno, 2009). Karena sifatnya yang khas, lemak tengkawang berharga lebih tinggi dibanding minyak nabati lain seperti minyak kelapa dan digunakan sebagai bahan pengganti minyak coklat, bahan lipstik, minyak makan dan bahan obat-obatan (Anggraeni et al ., 1995). Di Indonesia terdapat 13 jenis pohon penghasil tengkawang yang tersebar terutama di Kalimantan dan sebagian kecil di Sumatera (Al Rasyid et al., 1991).
Shorea pinanga Scheff, tingginya
dapat mencapai 23,5 m, batang bebas
cabang tinggi, tumbuh baik pada punggung-punggung bukit (Soeprijadi et
al., 2008). Nama daerah dari S.pinanga
adalah Brunai : kawang, meranti langgai bukit; Indonesia : awang boi (Kalimantan Selatan bagian Timur), tengkawang biasa, tengkawang rambai (Kalimantan Barat); Malaysia : kawang pinang (Sabah), meranti langgai bukit (Serawak). Pohon berukuran sedang hingga besar, banir kecil dengan tinggi 1,5 meter, daun jorong hingga bulat telur menyempit, benang sari 15, kepala sari seperti bola memanjang (Riniarti, 2002).
Beberapa jenis meranti dan pohon penghasil tengkawang diantaranya
Shorea pinanga tidak berbuah setiap
tahun. Secara periodik panen raya terjadi setelah musim kemarau yang kering sekitar empat tahun sekali. Apabila pengambilan bibit dilakukan setelah masa
Pontianak, 14 Mei 2014 dengan sistem cabutan.
Berdasarkan hasil analisis mikrobiologi, fungi ektomikoriza merupakan salah satu jenis mikroorganisme yang dapat berasosiasi dengan tengkawang (S.pinanga) yaitu jumlah koloni dalam satu gram sampel fungi ektomikoriza berjumlah 1.100.000 koloni. Dengan adanya asosiasi fungi ektomikoriza ini dapat meningkatkan serapan N,P, dan K, meningkatkan ketahanan terhadap senyawa beracun, juga ketahanan terhadap berbagai pathogen tanah dengan terbentuknya mantel hifa yang melindungi akar secara fisik sehingga berpengaruh baik terhadap pertumbuhan tanaman (Zuliana, 2008).
Tanah mempunyai sifat fisik yang baik dan sering mengandung populasi seimbang mikrosimbion yang telah beradaptasi, sehingga anakan/cabutan dimungkinkan terinokulasi secara alami dan disebut sebagai inokulan alami. Lebih dari itu tanah akan melekat pada jaringan mikoriza sehingga dapat menyerap guncangan ketika anakan dipindahkan ke lapangan. Khususnya pada anakan berakar telanjang, mikoriza dapat juga mengurangi resiko pengeringan pada akar selama pengangkutan (Schmidt, 2000).
Hifa eksternal pada mikoriza dapat menyerap unsur fosfat dari dalam tanah, dan segera diubah menjadi senyawa polifosfat. Senyawa polifosfat kemudian dipindahkan ke dalam hifa dan dipecah menjadi fosfat organik yang dapat diserap oleh sel tumbuhan secara tidak langsung (Dewi, 2007).
Beberapa pustaka yang ada diperkuat dengan pendapat R. Nussbaum
et al (1995), yang menyatakan sejumlah
kecil top soil dari tanah sekitar pohon induk diberikan pada setiap polybag untuk memastikan adanya infeksi mikoriza pada anakan/cabutan. Dan cara efesien agar tanaman bagian akarnya bermikoriza adalah dengan cara inokulan
dengan spora yang sesuai dengan inangnya/pohon induknya.
Menurut Omon (2009) pemberian inokulan tablet mikoriza yang dikemas dari satu jenis fungi mikoriza terhadap pertumbuhan kelima jenis Shorea, belum efektif mengingat setiap fungi mikoriza memiliki peran spesifik. Artinya pemberian inokulan tablet mikoriza dengan hanya spesifik satu fungi untuk lima jenis Shorea belum memberikan pertumbuhan efektif karena setiap spesies memiliki karakteristik dan kebutuhan hara yang berbeda dibanding dengan inokulan alami yang dapat menularkan langsung fungi mikoriza yang sesuai dengan karakteristik pohon induknya.
Dengan kondisi tersebut, maka penularan mikoriza dengan pemberian inokulan alami pada anakan/cabutan yang disemai di persemaian diharapkan mampu mengurangi keperluan akan pupuk di persemaian sehingga mengurangi biaya pemeliharaan di persemaian dan efek negatif terhadap serangan hama dan penyakit akibat penggunaan pupuk.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dosis inokulan alami terhadap pertumbuhan semai Shorea pinanga di persemaian dan pengaruh kolonisasi hifa pada akar dengan penambahan inokulan alami. Melalui penelitian ini diharapkan tersedia informasi standar dosis pemberian inokulan alami yang mampu memberikan pertumbuhan terbaik yang menghasilkan bibit bermutu secara generatif di persemaian.
II. METODOLOGI
A. Lokasi dan Waktu Penelitian