DI HUTAN ALAM LABANAN BERAU, KALIMANTAN TIMUR
C. Analisis data
2. Riap Diameter
Perhitungan riap diameter yang didapat berdasarkan dengan menghitung riap tahunan. Hasil perhitungan riap diameter untuk jenis Shorea pinanga Scheff ditunjukkan pada Tabel 2 berikut.
Tabel 2. Nilai rataan, simpangan baku, ragam dan galat baku dari Shorea pinanga Scheff
Peubah Rataan Simpangan baku Ragam Galat baku
Diameter (cm) 0,41 0,30 0.09 0,07
Shorea pinanga Scheff merupakan salah satu jenis dari jenis shorea yang pada umumnya memiliki pertumbuhan yang cukup besar sebagaimana yang dinyatakan oleh Susanty (2013) bahwa Jenis shorea spp. Mempunyai kontribusi besar terhadap rataan diameter kelompok jenis Dipterocarpaceae, untuk hutan bekas tebangan setelah 3 tahun adalah 0,97 – 2,15 cm 2th1.
Nilai riap diameter seperti yang tertera pada Tabel 2 di atas yaitu 0,41 cm/thn sedikit lebih kecil dari nilai riap Shorea spp pada hutan bekas tebangan, hal ini wajar karena niali ini diperoleh dari hutan primer yang memiliki tingkat kerapatan tinggi dan kondisi yang sudah tetap dalam arti untuk membantu percepatan dengan masuknya sinar matahari dan ruang tumbuh dari pohon yang ada didalamnya. Pada penelitian lain Susanty dan Suhendang (2013) yang menyatakan riap diameter rataan setelah penebangan akan lebih besar dibandingkan pada kondisi hutan primer, terutama terjadi karena adanya respon pembukaan ruang tumbuh setelah penebangan.
IV. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian,
Shorea pinanga Scheff di hutan alam
memiliki kecenderungan untuk dapat tetap bertahan yang ditunjukkan dengan sebaran diameter yang bertingkat dari kecil hingga besar yaitu diameter terkecil 10 cm dan terbesar adalah 72,4 cm , bila pohon besar mati maka pohon yang kecil dapat menggantikannya. Adapun riap diameter dari jenis ini adalah 0,41 cm/th dengan galat baku 0,07 cm.
DAFTAR PUSTAKA
Abdurachman, 2013. Model struktur tegakan hutan primer di Sangai, Kalimantan Tengah. Prosiding Restorasi Ekosistem Dipterokarpa Dalam Rangka Peningkatan Produktivitas Hutan. Balai Besar Penelitian Dipterokarpa. Samarinda.
Dephut. 1992. Manual Kehutanan. Departemen Kehutanan. Jakarta. Keputusan Menteri Kehutanan Dan
Perkebunan Nomor : 692/Kpts-Ii/1998 Tentang Perubahan Keputusan Menteri Kehutanan
Pontianak, 14 Mei 2014
Pertanian Nomor
54/Kpts/Um/2/1972 Jo Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 261/Kpts-Iv/1990 Tentang Pohon-Pohon Di Dalam Kawasan Hutan Yang Dilindungi
Newman, M. F., P.F Burgess and T.C Whitmore. 1999. Pedoman Identifikasi Pohon-Pohon Dipterocarpaceae Pulau Kalimantan. Yayasan PROSEA. Bogor.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1999 Tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan Dan Satwa.
Snedecor, G. and W.G. Cochran. 1989. Statistical Methods Eighth Edition. The Iowa State University Press. Ames Iowa. USA
Soerianegara, I. and Lemmens, R.H.M.J. (Eds.). (1994) Timber trees: Major ommercial timbers. Plant resources
Susanty F.H 2013. Keragaan Karakteristik Biometrik Hutan Dipterocarpaceae Campuran di Kalimantan Timur. [disertasi]. Bogor: Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor. Bogor
Susanty F.H dan A. Setiawan 2013. Studi Pemulihan Tegakan Setelah Penebangan Dengan Pendekatan Model Struktur Tegakan. Prosiding Restorasi Ekosistem Dipterokarpa Dalam Rangka Peningkatan Produktivitas Hutan. Balai Besar Penelitian Dipterokarpa. Samarinda Susanty F.H dan E. Suhendang 2013. Riap
Individu Dan Tegakan Periodik Hutan Dipterocarpaceae Setelah Penebangan. Prosiding Restorasi Ekosistem Dipterokarpa Dalam Rangka Peningkatan Produktivitas Hutan. Balai Besar Penelitian Dipterokarpa. Samarinda
Pontianak, 14 Mei 2014
Ngatiman dan Andrian Fernandes Balai Besar Penelitian Dipterokarpa
Jl. A. W. Syahrani No. 68, Sempaja, Samarinda; Telp. (0541) 206364, Fax. (0541) 742298 Email: [email protected]
ABSTRAK
Tengkawang merupakan jenis tanaman kehutanan penghasilkan buah yang dapat digunakan sebagai lemak nabati pengganti coklat. Dalam budidaya jenis Shorea penghasil Tengkawang ditemukan serangan hama pada buah dan daunnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan informasi mengenai serangan hama pada buah dan daun jenis Shorea penghasil tengkawang. Metode yang digunakan adalah pengamatan secara langsung pada buah Shorea mecistopteryx yang terserang hama. Sedangkan pengamatan hama daun dilaksanakan dengan cara mengamati bibit Shorea stenoptera di persemaian. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa serangan hama pada buah S mecistopteryx mengakibatkan biji kehilangan daya kecambah. Sedangkan hama daun di persemaian terdiri atas ulat kantung dan kutu daun. Ulat kantung mengakibatkan daun berlubang-lubang dan kutu daun mengakibatkan daun menjadi kering. Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai informasi awal yang sangat penting dalam rangka membudidayakan jenis Shorea penghasil tengkawang, khususnya di persemaian.
Kata kunci : Tengkawang, hama, ulat kantung, kutu daun
I. PENDAHULUAN
Tengkawang (Shorea spp)
merupakan salah satu jenis tanaman kehutanan yang tumbuh di hutan hujan tropis. Keberadaan tengkawang di habitat alaminya saat ini mulai berkurang dan sulit ditemukan (Istono dan Hidayati, 2010). Buah tengkawang dapat digunakan sebagai sumber lemak nabati pengganti coklat yang bernilai tinggi (Lipp dan Anklam, 1998). Lemak dari buah tengkawang juga dipergunakan sebagai bahan baku kosmetik dan obat-obatan (Rahman, et al., 2011).
Dalam pengembangan (budidaya) tanaman tengkawang ditemukan permasalahan yang perlu diketahui dan dipertimbangkan dengan baik agar tidak menimbulkan kerugian. Kerugian dapat terjadi akibat adanya serangan hama pada buah dan daun tengkawang di persemaian. Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan informasi mengenai hama buah dan daun pada jenis Shorea penghasil Tengkawang. Manfaat dari
penelitian ini adalah untuk mengetahui gejala dan bentuk serangan hama buah dan daun pada jenis Shorea penghasil Tengkawang.
II. BAHAN DAN METODE
PENELITIAN
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah buah tengkawang, bibit tengkawang, kantung plastik, gunting stek, penggaris dan kamera. Buah tengkawang (S mecistopteryx) diperoleh dari Desa Sahan, Kabupaten Bengkayang, Kalbar pada bulan Januari 2014. Buah dikumpulkan dari buah yang jatuh di bawah pohon induk. Buah yang terserang hama dipisahkan dari buah yang baik. Buah yang terserang hama kemudian dimasukkan ke dalam kantung plastik yang lembab dan dibawa ke Lab. Hama Balai Besar Penelitian Dipterokarpa (B2PD). Selanjutnya buah dipindahkan ke toples plastik untuk mengetahui bentuk imago dari hama buah tersebut.
Pontianak, 14 Mei 2014
Desember 2013 hingga Mei 2014. Hama pada daun tengkawang terdiri atas ulat kantung dan kutu daun. Pengamatan dilakukan dengan cara melihat gejala dan bentuk kerusakan daun yang ditimbulkannya.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Hama pada buah tengkawang