• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINGGI Inventarisasi data keragaman genetik tengkawang

MONITORING DAN EVALUASI

(70) Monitoring dan evaluasi terhadap seluruh kegiatan yang berkaitan dengan pembuatan kebijakan, pelaksanaan, dan dampaknya terhadap kelestarian eksosistem alami tengkawang serta kelestarian hutan tanaman produksi. Utama sebagai pembuat kebijakan dan fasilitator Utama sebagai pelaksana dan penerima Utama sebagai penerima Utama sebagai pelaksana

17

Pontianak, 14 Mei 2014

NO INDIKATOR

PEMERINTAH SWASTA MASYARAKAT PERGURUAN

TINGGI

(71) Monitoring dan evaluasi terhadap seluruh kegiatan yang berhubungan dengan konservasi genetik tengkawang dan

pemasaran, meliputi budidaya, penanaman dan pemanenan tengkawang serta terhadap seluruh kegiatan pemeliharaan dan

pengayaan plot korservasi in-situ dan eks-situ untuk mengetahui pengaruhnya terhadap keragaman genetik

Utama sebagai fasilitator dan penerima Utama sebagai pemberi informasi Utama sebagai pemberi informasi Utama sebagai pelaksana Tim Perumus :

 Ir. Augustine Lumangkun, M.Sc (Universitas Tanjung Pura)

 Dr. Sapto Indrioko (Universitas Gajah Mada)

13

Pontianak, 14 Mei 2014

NO INDIKATOR

PEMERINTAH SWASTA MASYARAKAT PERGURUANTINGGI

(51) Pemberian pemahaman kesesuaian habitat

untuk berbagai jenis tengkawang. Utama sebagaifasilitator Utama sebagaipelaksana dan penerima

Utama sebagai

penerima Utama sebagaipelaksana

(52) Pemberian pemahaman bahwa pemanfaatan tengkawang hanya boleh dilakukan pada tegakan hutan tanaman produksi yang dikelola berdasarkan prinsip kelestarian hutan.

Utama sebagai

fasilitator Utama sebagaipelaksana dan penerima

Utama sebagai

penerima Utama sebagaipelaksana

(53) Pelatihan teknik silvikultur intensif

tengkawang. Utama sebagaifasilitator Utama sebagaipelaksana dan penerima

Utama sebagai

penerima Utama sebagaipelaksana

(54) Pelatihan teknik pemanenan buah

tengkawang yang ramah lingkungan. Utama sebagaifasilitator Utama sebagaipelaksana dan penerima

Utama sebagai

penerima Utama sebagaipelaksana

(55) Pelatihan pengolahan lemak tengkawang untuk meningkatkan nilai tambah dan kesejahteraan masyarakat.

Utama sebagai

fasilitator Utama sebagaipelaksana dan penerima

Utama sebagai

penerima Utama sebagaipelaksana

(56) Pelaksanaan workshop tingkat nasional parapenyusun kebijakan konservasi genetik tanaman

Utama sebagai fasilitator dan pelaksana

Utama sebagai

14

Pontianak, 14 Mei 2014

NO INDIKATOR

PEMERINTAH SWASTA MASYARAKAT PERGURUANTINGGI

(57) Pertemuan multi pihak di tingkat kabupatendalam bentuk Lokakarya dan Diskusi terfokus tentang prospek tengkawang dari aspek konservasi, aspek multiguna dan aspek ekonomi dan pemasaran

Utama sebagai

pelaksana Utama sebagaipenerima Utama sebagaipenerima Utama sebagaifasilitator

(58) Sosialisasi tentang kebijakan pemerintahdan peraturan yang terkait kepada para pelaksana konservasi genetik tengkawang tentang perlindungan tengkawang dengan segala konsekuensinya ditingkat

masyarakat, swasta dan para terkait

Utama sebagai fasilitator dan pelaksana

Utama sebagai

penerima Utama sebagaipenerima Utama sebagaipelaksana dan evaluator

(59) Sosialisasi tentang peran penting konservasigenetik tengkawang terhadap kegiatan konservasi tengkawang secara keseluruhan

Utama sebagai fasilitator dan pelaksana

Utama sebagai

penerima Utama sebagaipenerima Utama sebagai p

(60) Penyusunan manual pembangunan plotkonservasi eks-situ dan in-situ tengkawang Utama sebagaifasilitator dan pelaksana

Utama sebagai

penerima Utama sebagaipenerima Utama sebagaipelaksana (61) Pembuatan buku saku mengenai Peraturan-peraturan yang berhubungan dengan

konservasi genetik

Utama sebagai fasilitator dan pelaksana

Utama sebagai

15

Pontianak, 14 Mei 2014

NO INDIKATOR

PEMERINTAH SWASTA MASYARAKAT PERGURUANTINGGI

(62) Penyusunan metode pemanenan berbasiskonservasi genetik Utama sebagaifasilitator dan pelaksana

Utama sebagai

penerima Utama sebagaipenerima Utama sebagaipelaksana (63) Tersedianya guideline untuk pemantauandan inventarisasi populasi tengkawang Utama sebagaifasilitator dan

pelaksana

Utama sebagai

penerima Utama sebagaipenerima Utama sebagaipelaksana

(64) Pembuatan website tentang konservasitengkawang yang memuat berbagai informasi tentang tengkawang, termasuk peraturan, buku/manual dan hasil pertemuan

Utama sebagai fasilitator dan pelaksana

Utama sebagai

penerima Utama sebagaipenerima Utama sebagaipelaksana

(65) Lokakarya dan Diskusi terfokus diKampung/ Desa tentang prospek tengkawang dari aspek konservasi, aspek multiguna dan aspek ekonomi dan pemasaran

Utama

Sebagai Pelaksana dan Penerima

Utama

Sebagai Penerima UtamaSebagai Penerima Utama sebagaiPelaksana (Masyarakat sipil dan Prguruan Tinggi)

(66) Pertemuan multi pihak di tingkat kabupatendalam bentuk Lokakarya dan Diskusi terfokus tentang prospek tengkawang dari aspek konservasi, aspek multiguna dan aspek ekonomi dan pemasaran

Utama sebagai

Pelaksana UtamaSebagai Penerima UtamaSebagai Penerima UtamaSebagai Fasilitator

16

Pontianak, 14 Mei 2014

NO INDIKATOR

PEMERINTAH SWASTA MASYARAKAT PERGURUANTINGGI

tengkawang dari aspek konservasi, aspek multiguna dan aspek ekonomi dan pemasaran agar dapat mendorong pembuatan PERDA Tengkawang

(68) Pembuatan dokumen dalam bentuk bukulaporan ini dari bidang pengembangan budidaya yaitu bidang provenance, bidang genetik, dan bidang sosial ekonomi perlu dikritisi untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat.

Utama Utama

Sebagai Penerima UtamaSebagai Penerima UtamaSebagai Pelaksana; Balai Besar

Penelitian Dipterokarpa Samarinda (69) Menyebar-luaskan dokumen: Peraturan-peraturan, PERDA, buku-laporan UtamaSebagai Pelaksana

dan Penerima

Utama

Sebagai Penerima UtamaSebagai Penerima UtamaSebagai Penerima

MONITORING DAN EVALUASI

(70) Monitoring dan evaluasi terhadap seluruh kegiatan yang berkaitan dengan pembuatan kebijakan, pelaksanaan, dan dampaknya terhadap kelestarian eksosistem alami tengkawang serta kelestarian hutan tanaman produksi. Utama sebagai pembuat kebijakan dan fasilitator Utama sebagai pelaksana dan penerima Utama sebagai

17

Pontianak, 14 Mei 2014

NO INDIKATOR

PEMERINTAH SWASTA MASYARAKAT PERGURUANTINGGI

(71) Monitoring dan evaluasi terhadap seluruhkegiatan yang berhubungan dengan konservasi genetik tengkawang dan pemasaran, meliputi budidaya, penanaman dan pemanenan tengkawang serta terhadap seluruh kegiatan pemeliharaan dan

pengayaan plot korservasi in-situ dan eks-situ untuk mengetahui pengaruhnya terhadap keragaman genetik

Utama sebagai fasilitator dan penerima

Utama sebagai

pemberi informasi Utama sebagaipemberi informasi Utama sebagaipelaksana

Tim Perumus :

Ir. Augustine Lumangkun, M.Sc (Universitas Tanjung Pura) Dr. Sapto Indrioko (Universitas Gajah Mada)

Pontianak, 14 Mei 2014

Pembicara:

• Ir. Augustine Lumangkun, M.Sc (Universitas Tanjung Pura) • Dr. Sapto Indrioko (Universitas Gajah Mada)

• Dr. Anthonius YPBC Widyatmoko (BPPTH Yogyakarta) Fasilitator:

• Imanul Huda

Sejak jaman dahulu kita sudah sering mendengar dan akrab dengan tengkawang, mungkin orang tua kita jaman dulu ada yang petani, pengumpul pengolah atau pemasar tengkawang dan pemakai. Saat ini jika kita bicara tentang tengkawang seperti bernostalgia, karena dulu cerita dan berita tentang tengkawang sangat sering kita dengar, misalnya penelitian tentang tengkawang, seminar tentang tengkawang, penebangan hutan tengkawang dll. Kondisi sekarang, tengkawang digunakan secara lebih luas misalnya untuk kosmetik, bahan pencampur farmasi dan coklat, pelumas dan bahkan untuk bahan bakar pesawat.

Pemaparan materi akan disampaikan oleh 3 pemateri tentang formulasi perlindungan tengkawang berdasarkan prioritas dan beberapa indikatornya:

• Bidang Ekonomi : Ir. Augustine Lumangkun, M.Sc • Bidang Konservasi Ekosistem : Dr. Sapto Indrioko

• Bidang Konservasi Genetik : Dr. Anthonius YPBC Widyatmoko

A. Bidang ekonomi

Generasi sekarang sudah mengkonversi hutan tengkawang dengan tanaman lain karet dan bahkan sawit, tanaman pangan, hal ini didasarkan pada pemenuhan kebutuhan. Pertumbuhan tengkawang di asia tenggara terutama di hutan Indonesia masih banyak, ada 10 s/d 13 jenis tengkawang yang potensial untuk dikembangkan (lampiran slide). Proses penyalaian yang sangat sederhana menyebabkan buah salai tidak terlalu bersih dan kering betul sehingga hasil akhirnya masih ada aroma tengik. Ini berpengaruh pada harga jual, selain itu ditingkat petani rantai pemasarannya sangat panjang belum lagi soal pungutan pembayaran di dalam perjalanan.

Kontrak penjualan dari pedagang antara, ada perjanjian di Sanggau, di Bodok, sistem kontraknya harga Rp 9000/kg kalau perjanjiannnya bisa menghasilkan 1000 ton, ini dilihat dari hasil panen, tapi bagaimana kalau tidak bisa memenuhi kontrak, sangat variatif sekali baik di tingkat petani maupun di penyalur (lihat lampiran slide).

Pontianak, 14 Mei 2014

tengkawang tumbuh di tembawang yang mereka miliki secara adat. Artinya ini bisa dikelola dengan kelembagaan yang diperkuat sistem administrasi dan manajemennya. Unsur penunjang ini sudah cukup kuat, ada potensi, ada pengelolaan dan dilengkapi lagi dengan adanya pemasaran yang terkelola dengan baik, sehingga kita bisa sekaligus melakukan pelestarian tengkawang yang bisa menjamin sektor ekonominya. Oleh karena itu perlu disusun suatu formulasi strategi perlindungan tengkawang.

Perlu memperluas jejaring kerjasama pengelolaan tengkawang, baik dalam maupun luar, kemitraan antar dinas terkait dan pelaksana di lapangan dipandang penting. Matriks formulasi mencakup 5 indikator, yaitu:

• Membangun komitmen

- Kebijakan dan regulasi tengkawang berbasis masyrakat

- Pembentukan, pemantapan lembaga ekonomi untuk tata niaga tengkawang - Kerjasama parapihak diatur dalam nota kesepemahaman di tingkat provinsi - Rehabilitasi dan pengembangan pohon tengkawang pada target lokasi • Sosialisasi

- Lokakarya dan diskusi terfokus di desa - Lokakarya multipihak di tingkat kabupaten - Pertemuan multipihak di tingkat provinsi • Penyusunan dokumen dan Deseminasi

- Pembuatan dokumen dalam bentuk laporan - Menyebar luaskan dokumen

• Perbaikan atau pemantapan data - Perbaikan up dating data tengkawang - Penelusuran informasi2 sebelumnya

- Di tingkat petani pengumpul, pedagang antara dan exporter - Produksi biji tengkawang ditingkat petani

• Monitoring dan evaluasi

- Kegiatan budidaya pemasaran dan konservasi terus dipantau dan dievaluasi

B. Bidang Konservasi Ekosistem

Beberapa indikator terkait bidang konservasi ekosistem mencakup 3 indikator berdasarkan prioritas:

• Membangun komitmen

- Penegakan aturan terkait pelestarian sumber daya hayati pada umumnya dan tengkawang pada khususnya

- Pembaharuan aturan yang lebih berpihak pada rakyat dengan tetap berdasarkan prinsip kelestarian sumberdaya hayati

- Menghilangkan tekanan atau gangguan antropogenik terhadap sebaran alam tengkawang

Pontianak, 14 Mei 2014

produksi

• Sosialisasi dan Diseminasi

Sosialisasi dan diseminasi kebijakan dan berbagai hasil penelitian untuk mendukung kelestarian sumberdaya hayati dan produksi

• Monitoring dan evaluasi

Bidang konservasi Pengelolaan Sumber Daya Alam perlu dikelola dan dijaga pada semua tingkatan mulai dari ekosisten, spesies dan genetik. Di hutan khusus seperti di Kalimantan dengan potensi terbesar tengkawang memiliki ekosistem yang menunjang untuk pemuliaan tanaman, walaupun demikian di Kalimantan pun beberapa tipe daerah yang tergenang air, ditepi sungai, di daerah yang tapak agak atas, tengkawang hidup dengan beberapa jenis tanaman lain, diperlukan hara dan penyinaran matahari penuh. Kalau ingin melestarikan tengkawang, dibuat kondisi hutan alam tegakan yang hampir sama dengan ekosistem yang bagus.

Sudah ada aturannya bahwa tidak boleh melakukan penebangan jenis-jenis Shorea, ada 13 jenis, semestinya bisa ditegakkan, jika sudah aturan bahwa jenis tanaman yang dilindungi, maka setiap yang mengusahakan tengkawang harus memperhatikan hal ini, perguruan tinggi akan memfasilitasinya. Tengkawang termasuk spesies yang dilindungi dan tidak boleh di tebang, oleh karena itu sangat diistimewakan harus dilindungi. Keputusan Menteri Kehutanan melindungi kawasan pelestarian plasma nutfah, yang dikelola untuk KPH, meliputi pengawasan dan pengecekan, ada study mengenai pemanenan. Ada pengusaha pemilik HPH di dalam kawasan ada potensi tengkawang sehingga perlu pengamanan, saat penebangan, penyaradan sehingga anakan alam tengkawang baik tingkat semai, tiang dan pancang, tidak akan rusak akibat pembalakan, terutama soal keragaman genetik. Kalau ada yang mati maka akan berpengaruh pada keragaman genetik, sehingga berakibat pada kelestariannya. Perlu juga penerbitan aturan yang mencakup apakah semua shorea, termasuk tengkawang, karena ada sekitar 13 Shorea penghasil tengkawang yang ada di Indonesia.

Tentang pengelolaan dan pemanfaatan kawasan pelestarian plasma nutfah di hutan produksi. Dengan demikian keberadaan populasi tengkawang dalam hutan alam perlu dimasukkan ke dalam kawasan pelestarian plasma nutfah. Tengkawang dihutan alam, maka ekosistemnya harus di jaga, aturan tentang ini sebenarnya dalam keputusan Kemenhut sudah termaktub dalamnya ex-situ, in-situ, seed-bank, dan sumber benih. Pengawasan disertai pengecekan melalui studi tentang pengaruh pemanenan di hutan alam produksi terhadap kerusakan habitat alami tengkawang, serta dampaknya terhadap regenerasi, pertumbuhan serta keragaman genetiknya.

Kalau kita bicara tentang kelestarian hasil, maka kita melakukan pemuliaan dengan memperhatikan kelestarian hasil, dengan adanya pelarangan terhadap penebangan tengkawang perlu diwadahi dengan aturan yang khusus, perspektif ke depan mengenai

Pontianak, 14 Mei 2014

tanaman produksi. Misalnya ada log trading, maka perlu peredaran hasil hutan kayu non tengkawang, pemerintah mempunyai tanggung jawab dalam pembuat kebijakannya.

Memberikan data aktual kepada lembaga IUCN untuk merevisi status kelangkaan semua species tengkawang (revisi IUCN redlist). Kita perlu menghilangkan tekanan, pengaruh manusia secara langsung dan tidak langsung, terutama terhadap hutan alam, sebagai penyanggah kehidupan, secara optimun hutan bisa dilestarikan, mestinya kita plot hutan tanaman, perlu memberikan data aktual kepada lembaga IUCN. Lembaga ini menerbitkan berbagai jenis tumbuhan yang termasuk katagori langka dan memiliki prospek punah atau tidak dan kritis. Supaya kita semua memberikan perhatian bahwa sebetulnya tengkawang kita dalam kondisi bagaimana, secara umum di Kalimantan di Indonesia bagaimana kondisinya. Dikatakan jika dalam kondisi kritis maka dikhawatirkan dalam 10 thn kedepan punah, maka probility kepunahannya, ada beberapa kriteria dari daftar kondisi. Perlu upaya konservasi, kita juga mengupayakan pembudidayaan supaya tidak berharap saja pada hutan alam untuk melakukan pemuliaan. Inventarisasi potensi tengkawang di hutan alam dan tanaman untuk menetapkan base line sumberdaya genetik. Menetapkan base line, supaya punya gambaran kondisinya sekarang, dulu bisa menjadi maskot dan kondisi sekarang bagaimana sebarannya, sehingga bisa memastikan apa yang akan dilakukan ke depan. Penunjukan/penetapan areal konservasi sumberdaya genetik in situ yang representatif. Penanaman kembali areal bekas kegiatan pembalakan dengan tanaman tengkawang kembali atau areal lain dengan tengkawang harus memperhatikan hara tanah. Pengelolaan areal konservasi sumberdaya genetik in situ dengan memperhatikan komponen ekosistem alami. Pengelolaan areal dengan kondisi ekologis dan genetis secara alami, semua komponen harus di jaga, sementara jenis-jenis yang mengganggu harus dihilangkan. Pembangunan areal konservasi sumberdaya genetik ex situ yang representatif. Diperlukan untuk melihat kemampuan tanaman beradaptasi dengan lingkungannya untuk tumbuh dan berkembang.

Perumusan strategi pemuliaan tengkawang untuk tujuan produksi kayu, buah dan kandungan lemak nabati, perlu penanganan yang serius dan komitmen yang tinggi. Penetapan populasi dasar tengkawang dengan basis genetik yang luas. Jika dalam jumlah banyak ketersediaan jenisnya di alam maka akan mudah. Pembangunan populasi pemuliaan dan populasi propagasi / sumber benih termuliakan. Pengembangan hutan tanaman produksi tengkawang. Memberdayakan masyarakat melalui pembangunan hutan tanaman rakyat tengkawang. Pemberian pemahaman bahwa pemanfaatan tengkawang hanya boleh dilakukan pada tegakan hutan tanaman produksi yang dikelola berdasarkan prinsip kelestarian hutan. Pelatihan teknik silvikultur intensif tengkawang. Pelatihan teknik pemanenan buah tengkawang yang

Pontianak, 14 Mei 2014

tambah dan kesejahteraan masyarakat.

Monitoring dan evaluasi terhadap seluruh kegiatan yang berkaitan dengan pembuatan kebijakan, pelaksanaan, dan dampaknya terhadap kelestarian eksosistem alami tengkawang serta kelestarian hutan tanaman produksi. Pemberian pemahaman mengenai seluk beluk tengkawang, yang masuk dalam daftar kemenhut diperjelas jenis-jenisnya sehingga bisa diketahui dengan jelas mana yng terancam punah dan tidak

C. Bidang Konservasi Genetik

Konservasi genetik merupakan indikatornya. Strategi konservasi genetik untuk tengkawang pasti berbeda dengan konservasi jenis tanaman lainnya. Karena tengkawang di ambil buahnya sehingga strategi konservasinya juga berbeda, kalau tengkawang diambil buahnya sehingga kalau buahnya banyak kita lupa menanam atau meninggalkan buah dengan variasi yang baik untuk pemuliaan tanaman, harus disisakan yang terbaik.

Variasi genetik dilihat dari : • Pertumbuhan

• Daya Tahan/adaptasi • Kandungan

• Sifat kayu • Morfologi

Variasi genetik dimulai dari : • Antar genis

• Satu jenis • Antar populasi • Dalam populasi • Antar individu

Status suatu jenis, tanaman yang punah biasanya memiliki 4 faktor • Jumlahnya /ukuran populasinya sedikit

• Jumlah individunya • Meregenerasinya lemah

• Penebangan/pemanenn yang besar tidak sebanding dengan kemampuan meregenerasi/budidayanya lambat

Variasi genetiknya, kalau semua klon artinya tidak ada variasinya, jika terserang hama maka akan lama, tapi jika variasinya besar ada atau tinggi maka kita tidak khawatir Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam konservasi genetik:

• Besaran variasi genetik, • Distribusi variasi genetik

• Degradasi variasi genetik. Umumnya semakin tinggi tanaman di atas tanahnya, semakin banyak populasi tingkat semainya,

Pontianak, 14 Mei 2014

baik dari sebaran individunya dan populasi maupun sebaran alamnya antar populasi misalnya Ramin, Ulin, Kalau keragaman genetiknya sudah berkurang, maka lihat lagi distribusinya, jarak genetiknya, kalau tinggi maka kita masih bisa merasa aman. Contohnya:

• keragaman dan jarak genetik ramin berdasarkan penanda RAPD • keragaman dan jarak genetik ulin

Formulasi kebijakan Bidang Konservasi Genetik perlu keterlibatan baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, akademisi, peneliti, pelaku, pendamping, sehingga kita tidak perlu takut lagi tengkawang hilang dari bumi Borneo ini. Indikatornya:

• Pemutakhiran data, inventarisasi sebaran populasi dan potensi tengkawang • Membangun komitmen, membangun kesepahaman tentang konservasi genetik • Kegiatan konservasi genetik, pembangunan dan penetapan konservasi insitu dan

eksitu, pembentukan desa konservasi, membangun plot pemanenan berbasis konservasi genetik

• Sosialisasi, workhsop para penyusun kebijakan nasional dan provinsi/kabupaten, sosialisasi peraturan pemerintah, peran penting konservasi,

• Penyusunan buku dan deseminasi, manual pembangunan plot insitu dan eksitu, guidline untuk pemantauan inventarisasi, website ttg konservasi tengkawang

• Monitoring dan evaluasi, kegiatan budidaya penananman, dan pemanenan tengkawang

Pontianak, 14 Mei 2014

A. Sesi Pertama

• Pertanyaan dan tanggapan peserta Disperindagkop Sanggau:

Bagaimana hasil pertemuan hari ini bisa ditindaklanjuti dengan masyarakat, yang kita sampaikan hari ini sangat baku, teoritis, kita lupa bagaimana mempraktekkannya di luar. Jika tidak salah tengkawang di larang eksport, lalu apa opsi yang dilakukan masyarakat, mau suplai kemana, harga tidak terlalu tinggi, sejak ada pembatasa berupa pasal yang mengatakan hasil hutan pertanian dan hasil hutan lainnya sebenarnya free. Jadi artinya dilematis, kalau semua warga Sanggau tanam tengkawang kemana menjualnya, opsinya bagaimana kalau sudah menanam. Khawatir menjadi persoalan, kita anti sawit tapi ternyata sawit mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, masyarakata perlu solusi, apa jalan keluarnya, jangan hanya ada litbang (sulit berkembang) analisis sosialnya bagaimana menjadikan masyarakat sejahtera.

Bagaimana hasil hari ini bisa ditindaklanjuti, jangan hanya menjadi konsep formulasi yang tidak ditindaklanjuti.

Pak Sugiri (Disperindag Provinsi):

Menarik karena buah ini dikatakan akan punah karen tidak ada aksi konservasinya, tengkawang tentunya menjadi ellip nut mengapa menjadi komuditi yang tinggi karena diminati pasar, karena bisa menjadi kebutuhan hidup untuk kosmetik, lipgloss, di Malaysia 3300/kg di Amerika 75 rb berarti mempunyai nilai, sementara itu pemerintah melarang eksport biji tengkawang, minyak boleh, karena masuk dalam PP no 7 dasar utama untuk memayungi itu, kita perlu atur tataniaga minyak tengkawng dari petani sampai ekportir, perlu hasil riset, yang mendorong kebijakan-kebijakan baik tingkat perda dari petani sampai provinsi sampai ekspor, pola pikir petani dan pedagang berbeda. Petani genjot di produksi sedangkan penjual di pasarnya yang digenjot. Peluang kerjasama dengan Malaysia yang bisa menghambat transaksi bebas, tapi jika ada pelarangan maka ada penyelundupan, karena permintaan terus ada.

Kemarin ada kunjungan dari buyer Belanda dan Malaysia, yang datang bertamu dengan kami, maka perlu pembinaan kerjasama di kabupaten, difasilitasi stakeholder baik tingkat kabupaten dan pusat. Jangan ekspor kalau banjir berlimpah, harga bisa turun nilainya 4 000 an kalau sudah dalam bentuk minyak skala industri ikm saja jangan industri besar kita kejar, nah yang untung besar pasti masyarakat/petani pengolahnya. Sebelumnya saya mengharapkan ada tata niaga, kebijakan nasional provinsi dan daerah bagaimana mengerem yang keluar ke Malaysia tanpa ijin dan dokumen, apalagi menghadapi MEA 2015, kita harus bisa menelorkan kegiatan nyata

Harus komitmen dan kesepemahaman, untuk bersama, petani dimainkan oleh pasar tidak ada protek.

Pontianak, 14 Mei 2014

kedepannya, ada pasar /permintaan tengkawang dari Belanda dan Malaysia, hanya saja kita belum tahu kualitas, kwantitas dan kontinuitas produksi tengkawang secara pasti shng belum bisa menjamin dan memastikan kerjasamanya.

Pak Khairul (desa Nanga Yen):

Kalau dibilang hampir punah, memang sudah hampir punah, sekarang kami sebagai masyarakat menanyakan bagaiman mengembangkan itu lagi, kami sudah membentuk koperasi Produsen, kami fokuskan penelitian tengkawang, tengkawang yang ada yang berumur 40 thn, kami menginginkan penelitian buahnya, kalau pokok-pokoknya di dalam hutan masih banyak menurut kami, pihak pemerintah mau mendampingi kami agar harga lebih baik.

Lemaknya kemarin di tempat saya dibuat, jadi untuk lemaknya bagaiman caranya kami mengolahnya, kami minta pihak pemerintah turun ke masyarakat langsung bagaimana pengempresnya yang dijepit dengan kayu kami tidak mampu kalau jumlahnya berton-ton. Potensi masih banyak di daerah, hanya saja perlu pendampingan baik dari NGO maupun pemerintah soal pemasaran produk dan pengolahan hasil yang masih menggunakan cara tradisional.

• Tanggapan pembicara Ibu Augustine:

Analisa sosial dan formulasinya, nanti kita lihat sama-sama pas diskusi kelompok kita akan kemas semuanya satu persatu, termasuk siapa melakukan apa, supaya jelas tupoksinya.

Pertanyaan Pak sugiri: Jangan sampai menjual dalam bentuk buah supaya ada nilai tambah, jangan sampai nanti harga jatuh karena kwalitasnya yang sudah menurun, jadi kita harus bisa buat rambu-rambu, wilayah pembuat kebijakan nantinya.

Sawit karet dan hutan, saat ini sawit paling seksi, karet yang diinginkan, tengkawang

Dokumen terkait