C. Pergi Belanja ke Tempat Istimewa
1. Ke ”Kerfur” Beli Sabun
”Kami kehabisan sabun mandi. Kami mau beli sabun mandi ke kerfur,” ujar Martini mengemukakan alasan kepergiannya ke Carrefour, Ambarrukmo Plaza. Alasan yang terdengar sangat sederhana: membeli sabun mandi! Aktivitas yang sebetulnya bisa mereka lakukan dengan mendatangi toko kecil di sekitar tempat tinggal mereka tanpa harus pergi ke plaza.
Tetapi Martini punya alasan sendiri. Perbedaan harga antara di plaza dan di toko kecil menjadi alasan mendasar mereka memilih berbelanja ke plaza. Barangkali, salah satu alasan kuat mengapa orang dari kalangan orang biasa datang belanja ke tempat ini (Carrefour) adalah persis sama dengan alasan yang mendorong Martini sekeluarga berkemas ke sana, yakni: harga yang murah. Menurut pengakuan Martini sendiri, kalau mau belanja dalam porsi besar, atau belanja kebutuhan bulanan, mereka lebih memilih pergi ke Carrefour. Setidaknya, menurut dia, selisih digit nilai tukar beberapa rupiah dari harga di luar, sudah lumayan besar nominalnya, jika diukur dari harga keseluruhan barang belanjaan. Beberapa hari sebelumnya, ia pernah mengemukakan alasan berikut ini kepada saya:
…blonjo sabun, mendingan neng kerfur. Regone sok iso luwih murah timbangane tuku dek toko-toko. Opo maneh nek blonjo rodo akeh ngono, mendingan neng kerfur, pilihane yo luweh okeh.
…belanja sabun, mendingan ke kerfur. Harganya bisa lebih murah ketimbang beli di toko. Apalagi jika belanjaan kita rada banyak, mendingan ke kerfur, pilihan barangnya juga lebih banyak.2
Hari saat kami akan pergi belanja itu adalah hari Minggu. Hari di mana Martini dan suaminya, Suwarno, tengah jeda dari aktivitas kerja rutin. Sebagaimana banyak orang memanfaatkan hari libur untuk sekedar mencari hiburan, keluarga Suwarno tengah mempersiapkan diri untuk tujuan serupa. Kini tujuannya adalah plaza. Martini sekeluarga tengah mempersiapkan diri belanja ke Carrefour Ambarrukmo Plaza, suatu kegiatan yang biasa mereka lakukan dalam setiap kesempatan.
2
Jarum jam menunjuk pukul 10 pagi ketika mereka tengah mempersiapkan kegiatan belanja. Di luar dugaan saya, persiapan itu cukup memakan waktu.3Lia diminta memandikan dan mendandani adiknya, Tono, dan disarankan memberi sarapan yang banyak. Sarapan yang banyak untuk Tono, kata ibunya, dimaksudkan agar nanti dia tidak banyak permintaan selagi diajak jalan-jalan di plaza. Tono, anak bungsu mereka yang berusia empat tahun ini, dikenal sebagai yang paling banyak mengajukan permintaan terutama untuk jenis jajanan. Melayani permintaan Tono terkadang merepotkan, lantaran terlalu banyak yang diingini. Memberinya sarapan yang banyak sebelum berangkat dimaksudkan untuk menekan ketertarikannya akan barang-barang dari jenis makanan.
Saya teringat kepada penjelasan mengenai tips belanja hemat yang secara kebetulan saya temukan di situs resmi Ambarrukmo Plaza. Di situs itu terdapat informasi tertulis khusus mengenai tips belanja hemat. Poin keempat dari tips belanja hemat itu berbunyi: “Usahakan untuk mengisi perut sebelum pergi belanja. Hal ini demi kenyamanan Anda di saat berbelanja, di samping untuk menghindari pengeluaran tambahan dengan makan di luar.”4
Tips ‘bijak’ ini menganjurkan kepada setiap konsumen untuk terlebih dahulu menutupi salah satu sumber hasrat (perut), agar tidak mengganggu
3Saya semakin dibuat yakin oleh lamanya persiapan itu. Kepergian mereka ke tempat belanja, tidak semata untuk belanja, tapi untuk tujuan yang lain juga. Apalagi kalau bukan jalan-jalan. saat ini aktivitas berbelanja bukan sekedar aktivitas kerja. Masyarakat bahkan sudah sejak lama diperkenalkan kepada istilah wisata belanja. Fenomena belanja sebagai kegiatan wisata menggejala setelah berkembang pusat-pusat perbelanjaan dan kian besarnya pengaruh pasar-pasar moderen ke tengah-tengah masyarakat. Bersamaan dengan hadirnya pasar moderen semacam hyper dan supermarket, mal dan plaza, konsep tentang belanja mengalami perubahan mendasar. Salah satunya ialah masuknya kegiatan belanja ke dalam kategori suatu kegiatan rekreasi, wisata. 4
”Tips Belanja Hemat,” www.plaza-ambarrukmo.co.id/ rubrik news and tips, tt. diakses 15 Juli 2006.
‘stabilitas’ kenyamanan selagi memanjakan hasrat belanja. Perhatikan kata-kata “demi kenyamanan Anda di saat berbelanja.” Dengan tips semacam ini, lembaga-lembaga pasar moderen terkadang menampakkan kepedulian yang besar terhadap persoalan penghematan konsumen. Salah satunya dengan menganjurkan agar jangan sekali-kali membuang-buang uang untuk hal-hal yang tidak seharusnya dibeli, lewat kata-kata “di samping untuk menghindari pengeluaran tambahan”. Seolah-olah lembaga pasar moderen tahu apa saja konsekuensi yang akan ditimbulkan dari kebiasaan konsumen berbelanja secara berlebihan. ”Pengeluaran tambahan” bagi Martini tentu saja berasal dari pengeluaran yang diakibatkan oleh kehendak pemenuhan keinginan Tono yang berlebihan.
Sementara suami Martini, Suwarno, sudah sedari tadi bersiap dengan baju dan celana jeans dalam tampilan yang biasa, Martini sendiri membutuhkan berdandan sedikit lebih lama. Berbeda dari emaknya, Lia yang sudah menganggap plaza ini sebagai tempat ia sesekali menghabiskan waktu bermain dengan kawan-kawannya pada saat senggang, mengatur dandanan seadanya. Boleh dikatakan bahwa salah satu yang menandakan kegiatan belanja ke mal sebagai sebuah kegiatan rekreasi, ditunjukkan dengan adanya sedikit persiapan yang dilakukan oleh pengunjung, sebagaimana biasa dilakukan dalam sebuah kegiatan bernama rekreasi.
Persiapan itu memakan waktu satu setengah jam. Begitu dirasa cukup, saya dan keluarga Suwarno kemudian berangkat. Antara tempat tinggal mereka dengan plaza hanya berjarak lima kali lemparan batu. Sebetulnya, jarak ini dapat ditempuh dengan hanya berjalan kaki. Akan tetapi, karena siang yang terik, kami
memilih mengendarai motor. Dengan kedatangan bersama satu keluarga, kegiatan belanja ini terasa benar-benar seperti sebuah rekreasi.
Sepanjang pengamatan saya, sebagian besar pengunjung Ambarrukmo Plaza datang bersama: berdua atau satu keluarga. Atas dasar ini pula, Ambarrukmo Plaza mengklaim diri sebagai “family mall”, mal untuk seluruh anggota keluarga dari semua usia; dari balita, anak-anak, remaja, dewasa hingga lansia.
Setiba di area plaza, kami menitipkan kendaraan bermotor di tempat parkir luar plaza. Tempat parkir ini dikelola oleh orang-orang kampung sekitar, dengan memanfaatkan petak bagian halaman rumah warga yang masih tersisa. Di tempat parkir, kami menerima karcis parkir sebagai jaminan atas penitipan, tanpa ada jaminan atas segala kemungkinan resiko kerugian, seperti kehilangan misalnya. Karcis yang di atasnya tertulis demikian: Parkir Plaza Ambarrukmo, Kawulo Alit. Ya, lokasi parkir ini diidentifikasi sebagai tempat parkir kalangan orang-orang kecil atau orang-orang biasa.5
Dari lokasi parkir, kami berjalan menyusuri ruas jalan masuk menuju pintu utama bagian selatan plaza. Jumlah pengunjung pada siang hari Minggu tidak sebanyak pada malam harinya. Puncak kepadatan pengunjung di plaza ini terjadi pada akhir pekan, terutama malam Minggu. Akan lebih ramai lagi jika bertepatan dengan tanggal muda. Bahkan para petugas parkir di luar plaza harus
5
menutup jalan masuk di jalan baru menuju plaza bagian utara, dan memanfaatkan ruas jalan itu sebagai lokasi parkir karena pengunjung yang membeludak.6
Di dekat pintu masuk, berdiri dua orang petugas keamanan. Seorang dari mereka, dengan alat metal detector, memeriksa tas punggung bawaan saya. 7 Secara berurutan, kami melewati pintu. Terdengar bunyi mesin sensor otomatis, seperti sedang merekam dan mencatat kehadiran kami. Pintu masuk yang ada di bagian selatan ini tidak dibuka keseluruhan. Hanya seukuran badan satu orang dewasa. Karena itu pengunjung tidak dapat serentak masuk, melainkan satu demi satu. Sebagiannya difungsikan sebagai pintu keluar. Barangkali ini untuk memudahkan berjalannya sistem sensor otomatis.
Pintu bagian selatan merupakan salah satu pintu utama yang paling ramai dilalui pengunjung. Satu pintu utama lainnya terletak di bagian timur. Pelataran pintu timur menjorok ke luar. Atap joglonya disangga pilar-pilar bundar. Di sini pintu dibuka lebar. Terkesan resmi. Di bagian dalam depan pintu, terdapat tempat resepsionis yang difungsikan sebagai pusat informasi. Tempat ini ditunggu oleh dua hingga tiga penjaga perempuan dalam busana rapi. Pengunjung yang ingin
6
Berdasarkan penghitungan yang saya lakukan atas jumlah pengunjung Ambarrukmo Plaza, didapatkan informasi berikut: Pada malam Minggu (identifikasi tanggal 28 April 2007 jam 18.30 – 19.30), setiap satu jam terdapat sekitar 360 – 380 buah mobil yang masuk dari pintu parkir basement sebelah timur. Di luar hari Minggu (identifikasi Rabo sore tanggal 2 Mei 2007 jam 16.30 – 17.30) terdapat 150 buah mobil yang masuk setiap satu jam melalui pintu basement sebelah timur.
7
Barangkali lantaran dianggap mengganggu kenyamanan pengunjung, penggunaan alat metal detektor ini di kemudian hari tidak lagi saya lihat dipakai di pintu utama. Sistem sensor otomatis yang dipasang di pintu masuk, menggantikan penggunaan manual metal detektor. Barangkali penggunaan metal detektor dapat dipakai kembali jika isu terorisme sewaktu-waktu kembali mengemuka.
menanyakan sesuatu atau memerlukan bantuan berkaitan dengan keperluannya berada di plaza tersebut, dapat mendatangi tempat itu.
Sedikit saja pengunjung yang masuk melalui pintu timur. Karena mereka yang tiba dari lokasi parkir luar plaza harus berjalan memutar dulu untuk masuk melalui pintu ini. Jalur pintu timur sering dipakai untuk kedatangan orang-orang penting, terutama untuk kedatangan para artis. Di samping dua jalur utama pintu masuk tersebut, di masing-masing tingkat, terdapat pintu-pintu masuk khusus bagi pengendara roda empat. Karena di setiap lantai, termasuk di bagian atap paling atas (top roof), terdapat tempat parkir khusus mobil. Keberadaan pintu-pintu khusus ini dapat mempermudah pengunjung (dengan kendaraan roda empat) yang bermaksud segera sampai ke lokasi yang hendak dituju.
Ketika kami melewati pintu masuk, suasana sejuk langsung menyergap. Semburan penyejuk ruangan (air conditioner) terasa memanjakan, saat di luar panas siang teramat terik. Meski waktu tengah hari, lampu-lampu terang menyala dari setiap etalase dan dari langit-langit ruangan di tiap lantai bangunan bertingkat tujuh itu. Bangunan plaza didesain dengan bentuk dinding yang minim kaca, sehingga sedikit sekali pantulan cahaya matahari yang dapat masuk ke dalam. Karena keadaan ini, lampu-lampu dari etalase dan rumah belanja dibiarkan terus menyala. Saya tidak dapat memperkirakan berapa besar daya listrik yang diperlukan untuk menghidupkan bola-bola lampu dan mesin pendingin ruangan di seluruh bagian dalam ruangan plaza itu.
Ubin tempat kami berjalan tampak berkilau oleh pantulan cahaya lampu. Tempat ini sangat bersih. Bahkan –jika harus dikatakan berlebihan— seekor lalat
pun enggan terbang melintas di situ. Tidak ada sehelai remah sisa makanan kecil tercecer di lantai. Kalau pun ada bekas debu di atasnya yang ditinggalkan oleh alas kaki para pengunjung, petugas cleaning service segera membersihkan. Mereka disiapkan di masing-masing lantai di setiap sudut, lengkap dengan seragam. Setiap saat mereka menyapu ataupun mengepel lantai dengan kain basah yang telah diberi pengharum. Kadang secara pribadi, saya dibuat merasa sangat terhormat dan benar-benar merasa menjadi orang berpunya, saat tanpa sengaja berjalan melintas di dekat seorang petugas kebersihan yang tengah berjongkok membersihkan lantai plaza, atau membersihkan bekas jejak di lantai yang saya lalui.
Di atas lantai ubin dari batu pualam yang tampak berkilau inilah saya dan keluarga Suwarno berjalan. Saya menyaksikan keluarga ini telah sangat terbiasa dengan suasana di dalam plaza. Tidak ada sesuatu yang terlalu banyak menarik perhatian mereka. Tidak juga deretan etalase yang mengelilingi seluruh ruangan. Sebagaimana yang mungkin dialami oleh mereka yang untuk kali pertama berkunjung ke sana. Barangkali lantaran mereka kerap pergi ke tempat ini. Lebih-lebih karena mereka sendiri sudah mengenal di bagian tempat mana mereka akan berbelanja.
Tujuan kami adalah rumah belanja “kerfur.” Rumah belanja ini terletak di lantai dasar (Ground Floor) dan lantai bawah (Lower Ground) di bagian ujung plaza. Bagi orang-orang biasa, Carrefour adalah tujuan tempat belanja utama mereka. Di plaza itu, tampaknya tidak ada tempat lain yang mau menerima kehadiran keluarga kelas pekerja, orang-orang biasa seperti keluarga Suwarno,
kecuali rumah belanja Carrefour. Sementara outlet-outlet lain dipersiapkan untuk komunitas atau konsumen spesifik dari kalangan middle class dan upper midle class,rumah belanja Carrefour menjadi tempat favorit orang-orang biasa ini.
Carrefour menyediakan diri sebagai tempat yang ‘bersedia’ dikunjungi oleh siapa pun (bandingkan dengan rumah belanja Centro yang terletak satu tingkat di atas Carrefour) karena menyediakan beragam barang-barang kebutuhan sehari-hari. Jenis barang-barang itu mulai dari yang bernilai tukar sangat tinggi menurut ukuran orang biasa, hingga jenis barang-barang yang relatif dapat dijangkau harganya. Tambahan lagi, Carrefour kadang terkesan memanjakan konsumen dengan konsep belanja diskon alias belanja serba murah setiap saat.8
Untuk mencapai rumah belanja yang dimaksud, kami berjalan melewati outlet Belle Jewelry, Watchclub, Polo Ralp Laurent, Valesya Leather, Fashion Park dan berbagai nama-nama outlet lain di Ground Floor yang tidak terlalu familiar buat saya, lebih-lebih bagi keluarga Suwarno, dan karena itu dilalui begitu saja. Di dalam outlet-outlet itu, diam menunggu para penjaga, kebanyakan perempuan. Penampilan mereka di bawah terang lampu bersinar kristal, terlihat anggun. Harga-harga barang di outlet itu terbilang mahal. Jarangnya pengunjung yang masuk ke bilik outlet, menunjukkan betapa tempat itu hanya mungkin didatangi orang-orang tertentu. Barangkali Suwarno dan Martini juga menyadari bahwa sejumlah uang di saku mereka tidak akan cukup memenuhi jika dipakai membeli satu buah barang saja di outlet itu.
8diskon adalah belanja dengan nilai tukar ‘dirasakan’ seolah-olah lebih rendah dari kualitas sebuah barang.
Sepanjang jalan menuju rumah belanja tujuan kami, Tono mulai menunjukkan kegembiraannya secara berlebihan, dengan keceriaan seorang anak yang baru pertama kali diajak pergi ke tempat yang lama diimpikan. Dia berbicara setengah berteriak, melompat dan merebahkan badannya di lantai, tidak hirau terhadap tatapan berpasang mata para karyawan dari outlet-outlet mewah di sekeliling yang memerhatikannya. Beberapa kali dia harus secara paksa ditahan karena ulahnya. Tak kurang ayah, ibu dan kakaknya memarahi Tono. “ Ngisin-ngisini kowe ki. Didelok wong akeh kuwi loh.”(Memalukan, tingkahmu dilihat banyak orang) Seru Suwarno memperingati anak bungsunya. Tindakan Tono dianggap “norak dan memalukan.”
Gambar (10) Beberapa deretan outlet di Ambarrukmo Plaza (dokumentasi Samsul Bahri)
Suasana di dalam plaza sendiri sangat mendukung keceriaan. Aroma semerbak panggangan roti dari remagan di outlet Bread Talk dan Roti Boy, lantai berjalan yang licin dan kemilau, penerangan lampu yang maksimal, semburanair conditioner serta suara alunan musik yang riuh rendah, membuat siapa pun merasakan kenyamanan di tengah suasana ramai. Suasana yang sangat
bersahabat. Suasana yang tidak mereka temukan di tempat sehari-hari mereka bekerja. Bagi anak-anak sendiri, suasana semacam ini sudah barang tentu sangat menyenangkan. Saya berpikir, melalui keluguan tingkah tak terkendali dari anak-anak semacam ulah Tono tadi, sebetulnya dapat menjadi jalan memahami kekuatan ‘sihir’ sebuah tempat belanja di dalam kemampuannya mengintervensi dan mempersuasi sisi terdalam (psikologis) setiap orang.
Kegiatan belanja dimulai dari Ground Floor (menurut pengucapan Lia:
grond flur), tempat tersedianya barang-barang non-pangan di Carrefour. Tas punggung saya titipkan di tempat loker penitipan. Kami mendekati pintu pembatas. Seorang penjaga dengan ramah mempersilahkan. Palang pintu jalur masuk terbuka otomatis, dan menutup kembali setelah kami melewatinya. Di dekat pintu, tidak lupa Lia mengambil secarik brosur belanja yang tersedia di sana. Brosur belanja berisi daftar harga barang-barang bulan itu. Termasuk harga barang-barang murah, atau barang-barang diskon. Kami bersama melewati pintu. Lia mengambil sebuah keranjang belanja yang disediakan di dekat palang pintu itu. Karena saya sendiri juga bermaksud berbelanja, saya mengambil keranjang belanja. Kami berjalan dengan langkah yang sedikit diperlambat. Sebuah lagu berjudul Stars are Blind dalam irama reggae yang dinyanyikan Paris Hilton terdengar mengalun. Sesekali dari pengeras suara di ruangan itu, terdengar bunyi pengumuman info barang-barang diskon dan ajakan untuk berbelanja sebanyak-banyaknya.
Di rumah belanja itu, di hadapan kami, yang terlihat hanya tumpukan barang. Kanan kiri kami barang. Kemana pun pandangan diarahkan, yang ada
hanya barang. Tempat belanja ini memberi kesan bahwa tidak ada barang yang tidak tersedia. Bahkan kalau kita perhatikan saat melewati eskalator yang menghubungkan dua lantai rumah belanja itu, di sisi kiri dan kanan dipenuhi beberapa jenis makanan ringan. Rasanya baru di Carrefour saya menjumpai pemandangan ini: makanan kecil yang memenuhi bagian-bagian eskalator. Pemandangan ini sekedar memberi kesan betapa melimpahnya jumlah barang di tempat itu. Tidaklah terlalu sulit bagi para pengunjung untuk menjumpai barang-barang impor di antara produk lokal. Semua serba ada. Mulai dari barang-barang yang sudah dikenal nama dan fungsinya, sampai berbagai jenis barang yang saya sendiri tidak mengenal nama dan nilai gunanya. Barang-barang disusun di jejeran rak-rak. Deretan rak yang penuh dengan barang itu membentuk lorong-lorong. Sebagian lagi ditaruh di dalam wadah besar. Para pengunjung dengan leluasa dapat memegang barang-barang itu, lalu menaruhnya kembali jika tidak ada niat untuk membeli.
Dari langit-langit ruangan, terjuntai pamflet-pamflet promosi bertulis “bulan promosi harga serba ringan.” Juga terdapat reklame dalam tulisan “harga spesial,” “paling murah”. Pamflet-pamflet promo itu berusaha meyakinkan bahwa lantaran harga yang murah dan spesial, apapun bisa kita beli.
Gambar (11) Display promosi belanja murah rumah belanja Carrefour Ambarrukmo Plaza juga menjadi daya tarik bagi konsumen dari
kalangan kelas bawah. (dokumentasi Samsul Bahri)
Lia dan ibunya, Martini, menjadi pemandu kegiatan belanja itu. Suwarno di belakangnya bersama Tono yang sesekali waktu lepas dari perhatian dan kembali menunjukkan tindakan “memalukan” yang lain. Lia dan Martini tampak memiliki lebih banyak inisiatif dalam kegiatan belanja itu. Mereka terlihat lebih aktif. Keputusan untuk memindahkan dan atau tidak memindahkan barang ke dalam keranjang belanja, berada di tangan mereka berdua. Pembicaraan-pembicaraan kecil yang hanya didengar oleh mereka berdua kerap terlihat.
Sementara Suwarno sendiri, tampak masih terlihat ragu-ragu berada di tempat itu. Padahal ini bukan kali pertama dia ke sana. Ia telah berkali-kali ke tempat itu menemani isteri dan anaknya berbelanja. Tidak ada alasan baginya untuk misalkan merasa canggung memegang-megang barang di bawah pengawasan para penjaga yang berdiri di setiap sudut. Suwarno menggeser langkahnya perlahan-lahan sambil melihat-lihat sekitar. Pandangannya tertuju antara barang-barang dan orang-orang yang lalu lalang dalam beragam penampilan. Penampilan orang-orang yang lalu lalang di rumah belanja itu yang juga menjadi pusat perhatian Suwarno. Di tempat itu tidak sedikit para penjaga
perempuan yang tampil dalam busana seksi dan menarik. Juga tidak kurang para pengunjung perempuan yang berpenampilan demikian: mengenakan baju minimalis yang memperlihatkan bagian-bagian tubuh. Bagi Suwarno, pemandangan ini barangkali menjadi alasan mengapa ia tidak terlalu berkonsentrasi dan memberi perhatian melulu kepada barang-barang di sekitar.
Sesekali Suwarno turut memperhatikan barang yang menjadi perhatian istri dan anak perempuannya. Di lain kesempatan, perhatiannya tertuju kepada lalu lalang orang-orang yang berjalan di sekitar. Ia tampak seperti tidak punya inisiatif. Memperhatikan posisi Suwarno dan Martini di tempat itu, saya seperti melihat adanya pertukaran peran antara mereka. Di dalam rumah tangga, Suwarno menjadi ayah dan kepala rumah tangga, tempat segala keputusan mengenai rencana-rencana keluarga berada. Tetapi, di dalam rumah belanja, peran pengambil keputusan tidak lagi berada di tangan dia, melainkan ada pada wewenang istri dan anak perempuannya.
Di antara beragam merek-merek barang dengan harga yang tertera pada rak, terdapat merek dengan harga yang menarik perhatian mereka (harga murah). Martini dan Lia sesekali mencondongkan badan meraih barang di hadapan mereka, untuk diperhatikan sebentar. Ia beri komentar seperlunya atas barang tersebut, sebelum kemudian diletakkan di tempat semula. Jika letak barang tidak mereka tempatkan di posisi semula, seorang penjaga perempuan mendekat dan membantu merapikannya kembali. Barang-barang itu bagi mereka, lebih sering sekedar menjadi bahan yang enak dipegang, dilihat dan dibicarakan. Belum tentu mereka memutuskan untuk memindahkannya ke dalam keranjang belanja.
Mereka kemudian bergeser menuju tempat barang-barang kebutuhan mandi. Sesuai tujuan mereka: “beli sabun di kerfur”. Beberapa kali hal yang sama dilakukan baik oleh Martini, Lia, juga Suwarno. Barang yang kebetulan menarik