• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sebelum menceritakan pengalaman belanja orang biasa di tempat luar biasa, saya merasa perlu terlebih dahulu mendeskripsikan profil keluarga yang menjadi sumber dari mana cerita pengalaman belanja ini berasal. Di samping itu perlu juga terlebih dahulu menguraikan latar masyarakat dan situasi kawasan di mana mereka tinggal. Penjelasan tentang hal ini saya rasa penting agar dapat diketahui situasi yang melatari pengalaman konsumsi keluarga kecil ini.

1. Latar kawasan domisili

Keluarga ini tinggal dalam kawasan satu wilayah dan satu ruas jalan dengan tempat tinggal saya. Mereka tinggal di kampung N dan saya di kampung D. Jarak antara tempat tinggal kami hanya satu kilometer. Saya mulai tinggal di kampung di kawasan sebelah utara Jalan Solo ini sejak tahun 1999. Hanya terdapat satu bus Kopata warna kuning, A1 dan A2 yang membawa saya pergi pulang dari Jalan Solo ke tempat tinggal saya. Kawasan jalan ini tidak terlalu ramai dibandingkan dengan misalnya Jalan Seturan, Babarsari, beberapa meter ke arah timur. Kawasan Seturan dan Babarsari menjadi pusat keramaian karena di lingkaran itu terdapat beberapa kampus antara lain STIE YKPN, AMIKOM, UII Ekonomi, UPN Veteran, STTNAS, Universitas Proklamasi 45 dan Universitas Atma Jaya II. Dahulu, di sepanjang kawasan ini terdapat lahan persawahan yang cukup luas.

Kini sebagian besar dari lahan itu telah disulap menjadi bangunan, untuk pemukiman dan unit usaha bisnis.

Perubahan terasa berjalan cepat. Tahun demi tahun, saya menyaksikan proses pembukaan lahan-lahan baru –secara terpisah dari kawasan pemukiman penduduk setempat— entah untuk kegiatan berbisnis ataupun untuk sebuah kawasan pemukiman baru. Beberapa komplek perumahan baru yang saya saksikan mulai dibangun semenjak saya berada di kawasan ini antara lain; perumahan Citra Panorama, Citra Grahadika Sejahtera dan Taman Kenari, masing-masing terletak di Jalan Mundu. Jauh ke timur, di kawasan Seturan, sebelah timur kampus STIE YKPN, kawasan yang semula hanya berupa lahan yang ditanami tanaman tebu, nyaris tidak tersisa setelah dua komplek perumahan elit yang luas dibangun, yakni Bumi Seturan Permai 1 dan Bumi Seturan Permai 2. Pada tahun ini juga di sebelah utara kampus Ekonomi UII berlangsung pembangunan perumahan untuk kalangan menengah yang memakan lahan cukup luas.

Pada tahun-tahun selanjutnya, di Jalan Wahid Hasyim (Nologaten) saya menyaksikan separuh kawasan persawahan dan tanah kosong juga telah berubah fungsi menjadi pemukiman-pemukiman elit. Griya Matahari, Town House 1, (Town House 2 dan 3 dibangun belakangan) lalu Tectona House dan Ambarrukmo Residence. Di tahun-tahun yang sama, di sepanjang kawasan Ring Road Utara, berlangsung pembangunan perumahan dan ruko Casa Grande yang sangat mewah dan luas. Karena itu untuk mengetahui lebih lengkap, saya

membuat peta sederhana yang menggambarkan posisi dan letak komplek-komplek perumahan elit di sekitar kawasan tersebut (Lihat lampiran II).1

Bersamaan dengan dibangunnya komplek-komplek perumahan elit, di kawasan itu juga mulai menjamur usaha-usaha di bidang ekonomi. Sepanjang Selokan Mataram kini berubah menjadi sentra ekonomi dengan bangunan-bangunan toko berukuran kecil dan sedang. Sebelah selatan perumahan Bumi Seturan Permai berubah menjadi komplek pertokoan. Cafe-cafe dan warung makan bercita rasa kelas menengah bermunculan sepanjang Jalan Seturan. Warung-warung makan bertambah jumlahnya. Di Jalan Wahid Hasyim berdiri beberapa buah swalayan dan beberapa tahun kemudian sebuah diskotek. Warung-warung internet yang dulu jarang ditemukan di kawasan ini, semakin mudah dijumpai. Studio musik dan pusat kebugaran berdiri. Termasuk yang paling besar adalahDepok Fittnes Centredi Jalan Seturan.

Memasuki tahun 2004, kabar tentang pembangunan Ambarrukmo Plaza mulai terdengar. Seorang arsitek kenamaan diundang mendesain bentuk bangunan plaza. Alat-alat berat mulai didatangkan. Penggalian dilakukan. Tanah-tanah galian sebagian dipindah untuk menutup kolam ikan di sebelah barat Balai Desa Ambarrukmo yang kemudian menjadi lokasi berdirinya SD Ambarrukmo setelah digusur dari tempat semula. Pembangunan plaza itu memakan waktu kurang dari dua tahun.

Pada hari Minggu tanggal 5 Maret 2006, plaza itu diresmikan oleh gubernur, raja dan sekaligus pemilik lahan tempat plaza itu dibangun. Kini 1

Seluruh data mengenai kawasan ini, termasuk mengenai letak lokasi perumahan elit, saya tulis berdasarkan pengamatan langsung.

bangunan plaza itu menjadi sentral di sepanjang kawasan tersebut. Kawasan ini: Gowok, Papringan, Nologaten, Dabag, Pringwulung, Pringgolayan, Cepit, Mundu, Seturan, Babarsari, Puluhdadi, Janti, Maguwoharjo, yang berada di selingkaran tempat belanja “terbesar se-DIY dan Jateng” itu untuk sementara saya namai sebagai kawasan satelit Ambarrukmo Plaza.

2. Latar keluarga

Keluarga Suwarno dan Martini berasal dari sebuah desa di Gunung Kidul. Saya hanya pernah menginap semalam di Desa Gedang Sari, tempat tinggal asal mereka. Mereka tinggal di Kota Yogyakarta sejak tahun 2000. Tahun ketika pertumbuhan gairah ekonomi di kota ini kian pesat. Bersama dua orang anak, Lia dan Tono, saat ini mereka menempati satu bagian dari tiga bagian lain sebuah rumah kontrakan yang terdiri dari ruang keluarga, dapur dan kamar tidur.

Di Yogyakarta, mereka membuka usaha sebagai penjual warung tenda lesehan, usaha yang umumnya dijalani oleh para pendatang dari luar kota ini. Warung tenda lesehan buka pada sore hari menjelang petang. Suwarno dan Martini membuka warungnya di Jalan Wahid Hasyim. Selama tinggal di wilayah ini, mereka turut menyaksikan perkembangan pembangunan yang terus berjalan di sepanjang kawasan tersebut.

Untuk keperluan yang berhubungan dengan usahanya, Martini rutin mengunjungi pasar tradisional Ambarrukmo. Sementara untuk keperluan keluarga, terkadang Martini pergi berbelanja ke swalayan Peni. Jaraknya satu kilometer ke utara tempat tinggal mereka. Pada tahun 2004, keluarga Martini dan

Suwarno sebagaimana keluarga yang lain, mengetahui akan segera berdiri tempat belanja yang tidak terlampau jauh dari tempat tinggal mereka. Kurang dari dua tahun, tempat belanja itu benar-benar berdiri.

Tergerak oleh rasa ingin tahu, mereka sesekali berkunjung ke tempat belanja istimewa tersebut. Menurut pengakuan Martini kepada saya, tempat belanja itu adalah tempat termewah yang pernah ia kunjungi sepanjang umurnya. Tempat belanja itu sebetulnya diperuntukkan bagi kalangan menengah atas. Tetapi, tidak berarti bahwa keluarga “orang biasa” seperti keluarga Suwarno dan Martini tidak memiliki kesempatan ke sana.