• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kerja Otak

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN TEORITIS (Halaman 63-72)

2. Mengaplikasikan energi kreatif

2.1.5.4. Kerja Otak

Area terpenting otak yang perlu dipahami dalam mengenali kekuatan otak adalah serebrum, atau yang sering disebut sebagai otak “kiri dan kanan”. Serebrum mengendalikan semua ingatan utama dan keterampilan pembelajaran yang kita andalkan untuk membuat diri kita cemerlang.

Pada tahun 1950-an dan 1960-an, Profesor Roger Sperry dan timnya melakukan beberapa percobaan yang luar biasa pada korteks serebral bersamaan dengan Profesor Robert Ornstein. (Kelak Profesor Sperry menerima hadiah Nobel untuk karyanya ini). Mereka meminta para mahasiswa untuk melakukan berbagai tugas mental seperti melamun, menghitung, membaca, menggambar, berbicara, menulis, memberi warna berbagai bentuk, dan mendengarkan musik, sementara mereka mengukur gelombang otak mereka. Hasilnya, bahwa pada umumnya korteks serebral membagi tugas ke dalam dua kategori utama: tugas otak kiri dan tugas otak kanan. Tugas otak kanan antara lain: irama, kesadaran ruang, imajinasi, melamun, warna, dimensi, dan tugas-tugas yang membutuhkan kesadaran holistik atau gambaran keseluruhan. Tugas-tugas otak kiri termasuk: kata-kata, logika, angka, urutan, daftar, dan analisis.

Gambar keterampilan otak kiri dan kanan:

Gambar 2.2 Gambar keterampilan otak kiri dan kanan Sumber: Buzan, Tony. Buku Pintar Mind Map. Jakarta: Gramedia. 2006.

Juga menjadi tampak bahwa orang-orang yang telah dilatih dalam keterampilan-keterampilan yang lebih mengandalkan salah satu “sisi” otak, melanjutkannya dengan membentuk kebiasaan-kebiasaan dominan yang lebih memilih kegiatan yang dikendalikan sisi otak tersebut. Terlebih lagi, mereka bahka menggambarkan dirinya dengan istilah-istilah dari sisi otak ini. Istilah-istilah populer yang meliputi kegiatan belahan kiri otak adalah “akademik”, “intelektual”, dan

“bisnis”, sementara “artistik”, “kreatif”, dan “naluriah” untuk kegiatan belahan kanan otak.

Kajian lanjutan mengungkapkan bahwa kekuatan dan kelemahan yang berkelanjutan dari keterampilan kortikal pada setiap orang lebih merupakan fungsi kebiasaan daripada desain dasar otak. Bila seseorang yang memiliki kelemahan pada area tertentu dilatih oleh pakar, keterampilan dan kekuatan mereka pada area tersebut akan meningkat, dan hebatnya lagi, kinerja mereka di area-area lain ikut menguat.

Misalnya, jika seseorang yang lemah dalam keterampilan menggambar dilatih menggambar dan melukis, maka kinerja akademisnya akan meningkat secara keseluruhan, terutama pada bidang-bidang seperti geometri di mana persepsi dan imajinasi berperan penting.

Contoh lain adalah keterampilan yang dimiliki otak kanan yaitu melamun, yang sangat penting bagi ketahanan hidup otak. Melamun memberi istirahat yang diperlukan kepada bagian-bagian otak yang telah melakukan pekerjaan analitis dan pengulangan, melatih pemikiran proyektif dan imajinatif, dan memberi kita kesempatan untuk mengintegrasikan dan mencipta. Kebanyakan jenius besar menggunakan lamunan yang diarahkan untuk membantu mereka memecahkan masalah, menghasilkan ide, dan mencapai tujuan.

Sayangnya, sistem pendidikan modern memiliki kecenderungan untuk lebih memilih keterampilan-keterampilan “otak kiri” seperti: matematika, bahasa, dan ilmu pengetahuan daripada seni, musik, dan pengajaran keterampilan berpikir, terutama keterampilan berpikir secara kreatif. Ketika hanya berfokus pada setengah bagian otak, sistem pendidikan kita hanya menciptakan orang-orang yang setengah pintar. Ini disebabkan karena otak bekerja menurut dua prinsip penting: sinergi dan pengulangan. Jika kita hanya mengandalkan salah satu sisi otak dan melalaikan sisi lainnya, kita mengurangi potensi keseluruhan otak secara drastis.

Untuk membebaskan potensi kreatif kita perlu menumbuhkan suatu lingkungan pemikiran bagi otak yang akan membebaskan cara pikir sinergisnya. Seperti yang telah disebutkan di atas, bahwa otak tidak berpikir secara linier atau berurutan seperti komputer, tetapi berpencar ke luar dan “meledak” seperti yang terdapat di gambar di bawah ini.

Gambar otak berpikir secara radial (memancar) dan “meledak”.

Gambar 2.3 Gambar otak berpikir secara radial (memancar) dan ”meledak”

Sumber: Buzan, Tony. Buku Pintar Mind Map. Jakarta: Gramedia. 2006.

Pemikiran kreatif melibatkan penggunaan seluruh keterampilan mental otak kiri dan kanan, termasuk:

Belahan Otak Kiri Belahan Otak Kanan

Kata-kata Logika Angka Urutan Linieritas Analisis Daftar

Irama

Kesadaran ruang Dimensi

Imajinasi Melamun Warna

Kesadaran holistik (gestalt) Tabel 2.2 Belahan otak kanan dan kiri dikutip dari Buku Pintar Mind Map Sumber: Buzan, Tony. Buku Pintar Mind Map. Jakarta: Gramedia. 2006.

Belahan Otak Kiri Belahan Otak Kanan

Tabel 2.3 Belahan otak kanan dan kiri dikutip dari Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat ditulis oleh Prof. Dr. Utami.

Sumber: Munandar, Prof.Dr.Utami. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. 2004. Jakarta:PT.Rineka Cipta

Sistem pendidikan cenderung berfokus pada keterampilan otak kiri dan kurang menekankan keterampilan otak kanan, yang langsung berdampak pada kemampuan berpikir kita secara kreatif. Metode Mind Map melibatkan setiap aspek dari korteks kiri dan kanan, dan karenanya merupakan alat pikir yang melibatkan seluruh bagian otak. Metode ini dapat diandalkan untuk membantu kita berpikir secara ekspansif (divergent thinking), menemukan asosiasi pada hal-hal baru, sehingga kita bisa berpikir secara kreatif.

2.1.5.5.. Kreativitas dan Ingatan

Untuk menjadi kreatif, kita perlu membebaskan imajinasi dan mendorong otak untuk membuat asosiasi-asosiasi yang baru dan lebih kuat di antara ide-ide yang sudah ada

kita, kita bukan hanya memperbaiki kemampuan untuk menghasilkan ide-ide yang inovatif dan jalan keluar yang mengilhami, tetapi keterampilan kreatif yang kuat juga akan meningkatkan kemampuan kita untuk mengingat segala sesuatu. Hal ini karena kreativitas dan ingatan adalah dua proses mental yang persis sama yaitu mereka mencapai titik terbaik ketika kita menggunakan imajinasi dan asosiasi.

2.5.1.6. Produktivitas Kreatif

Kelancaran dalam pemikiran kreatif mengacu pada jumlah ide yang bisa kita ciptakan, dan kecepatan menciptakannya. Ketika kuantitas dan kecepatan ide menaik, kualitas keseluruhan ide juga menaik. Hal ini membalikkan dugaan kita sebelumnya yang berpikir bahwa semakin cepat kita menghasilkan ide atau gagasan, maka kualitasnya akan semakin menurun.

Mungkin akan terdapat banyak ide yang kurang cemerlang sewaktu kita berusaha berpikir secara kreatif dan meningkatkan kecepatan berpikir kreatif kita. Tetapi dari ide yang kurang cemerlang itu akan memungkinkan untuk munculnya ide yang cemerlang, melalui pengembangan ide ataupun memilih yang terbaik dari ide-ide yang sudah dikeluarkan tersebut.

Contoh metode Mind Map:

Gambar 2.4 Gambar Mind Map

c. Memilih suatu domain khusus.

Setiap individu kreatif memilih sebuah domain khusus yang menurutnya sesuai dan cocok untuk dirinya. Selain itu karena individu tersebut tertarik kepada domain tertentu. Karena ketertarikannya ini, maka individu kreatif tersebut akan berkembang di dalam domain tersebut dan membuatnya menghasilkan suatu karya yang kemudian dianggap sebagai karya yang kreatif oleh bidang tertentu (field).

2.1.6. Tahapan-tahapan Proses Kreasi

Secara garis besar teori-teori tentang proses kreasi dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:

a. Teori yang mendasarkan pada inspirasi, aspek ketidaksadaran (unconscious). Di sini kreativitas dipandang sebagai suatu peristiwa tak sadar, yang tidak dapat diprediksi.

Kreativitas dianggap berkorelasi dengan inspirasi atau ilham.

Contoh: Mozart-komponis, Louis Pasteur-ahli kimia dan mikrobiologi Perancis, Gauss-ahli matematika dari Jerman, Wagner-komponis.

b. Teori yang mendasarkan pada kehendak atau kemauan sadar (conscious) yang kuat.

Dalam teori ini kreativitas dianggap berdasar pada pola perilaku yang disadari, dapat dilatih atau direkayasa, dan dapat ditumbuhkan.

Contoh: para ilmuwan seperti Thomas Edison, Alfred Nobel, Albert Einstein, pelukis Delacroix, penulis Edgar Allan Poe, komedian Charlie Chaplin.

Sehingga ada dua kecenderungan dalam proses berpikir kreatif, yaitu:

1. Proses berpikir kreatif tak sadar.

2. Proses berpikir kreatif sadar.

Ada yang berpendapat bahwa proses berpikir kreatif itu tidak sadar seperti misalnya Max Ernst, pelukis surealis, yang menyatakan bahwa dalam menciptakan sebuah karya ia merasa seperti seorang penonton yang mengamati kelahiran dari karyanya. Hal ini diumpamakannya seperti melihat proses kelahiran bayi, di mana hanya sedikit kesadaran yang terlibat. Tetapi berbeda dengan pendapat Edgar Allan Poe, seorang penulis, yang mengatakan bahwa proses kreasi sepenuhnya sadar, dapat diperhitungkan dan rasional. Sebagian besar seniman dan ilmuwan berpendapat lain

lagi. Bahwa menurut mereka proses berpikir mereka terdapat di antara kedua hal tersebut, misalnya: setelah mereka melakukan berbagai usaha dan percobaan, hingga pada suatu saat ketika mereka tidak dapat menemukan penyelesaian masalah.

Kemudian mereka mencoba untuk mengalihkan pikiran mereka dari hal-hal tersebut, dan pada saat itulah tiba-tiba muncul bibit-bibit penyelesaian dari masalah mereka itu.

Meskipun begitu, inspirasi yang tiba-tiba muncul itu masih merupakan awal dari sebuah karya, yang harus diikuti dengan usaha sadar untuk menciptakan karya akhir dari inspirasi tersebut.

Jadi ada dua hal yang dapat diambil dari proses kreasi ini, yaitu:

1. Sebuah inspirasi harus diikuti dengan kerja keras untuk menghasilkan sebuah karya.

2. Sebuah kerja keras dapat memunculkan inspirasi.

a.Wallas8 mengemukakan bahwa proses kreasi melibatkan empat tahap berurutan, yaitu:

1. Preparation (tahap persiapan atau masukan).

Tahap ini adalah tahap pengumpulan informasi atau data yang diperlukan untuk memecahkan suatu masalah. Dengan bekal bahan pengetahuan maupun pengalaman, individu mengalami bermacam-macam kemungkinan, penyelesaian masalah. Di sini belum ada arah yang pasti/

tetap, akan tetapi alam pikirannya mengeksplorasi macam-macam alternatif. Pada tahap ini pemikiran divergen dan pemikiran kreatif sangat penting.

2. Incubation (tahap pengeraman).

Tahap ini adalah tahap ketika individu seakan-akan melepaskan diri untuk sementara dari masalah tersebut, dalam arti bahwa ia tidak sedang memikirkan masalahnya secara sadar, tetapi “mengeraminya” dalam alam pra-sadar. Seperti dilaporkan dari analisa biografi maupun laporan tokoh-tokoh seniman dan ilmuwan, tahap ini penting artinya dalam proses timbulnya inspirasi. Mereka melaporkan bahwa inspirasi yang merupakan titik awal dari suatu penemuan atau kreasi baru berasal dari daerah pra-sadar atau timbul dalam keadaan ketidakpra-sadaran penuh.

Contoh: A.E. Housman, seorang penyair Inggris, yang mendapat ide ketika sedang berjalan-jalan dan minum the.

3. Illumination (tahap ilham atau inspirasi).

Tahap ini adalah tahap timbulnya insight atau Aha-Erlebnis, saat timbulnya inspirasi atau gagasan baru beserta proses-proses psikologis yang mengawali dan mengikuti munculnya inspirasi/gagasan baru.

Contoh: A.E. Housman mendapatkan dua bait puisinya ketika melintasi Hampstead Heath, antara Spaniard’s Inn dan jalan kecil menuju Temple Fortune, Inggris.

4. Verification (tahap pembuktian atau pengujian).

Tahap ini disebut juga tahap evaluasi adalah tahap ketika ide atau kreasi baru tersebut harus diuji terhadap realitas. Di sini diperlukan pemikiran yang kritis dan konvergen. Dengan kata lain, proses divergensi (pemikiran kreatif) harus diikuti oleh proses konvergensi (pemikiran kritis). Pemikiran dan sikap spontan harus diikuti oleh pemikiran selektif. Akseptasi total harus diikuti oleh kritik. Firasat harus diikuti oleh pemikiran yang logis.

Keberanian harus diikuti oleh sikap hati-hati. Imajinasi harus diikuti oleh pengujian terhadap realitas (reality-testing).

Contoh: Willem de Kooning, seorang pelukis abstrak, membuat sebuah lukisan yang menghabiskan waktu dua tahun dan beratus-ratus kali perbaikan. Setiap kali melukis, ia akan merenungi karyanya. Jika belum puas, ia lalu menggantinya dengan kanvas baru dan membuat perbaikannya.

Dukungan teori terhadap pandangan Wallas dimunculkan dari hasil kerja psikoanalitik Ernst Kris (1952) dan Lawrence Kubie (1958). Menurut Kris, suatu kerja kreatif melibatkan suatu fase inspirasi yang diikuti oleh suatu periode elaborasi.

Masing-masing tahap memiliki kegiatan mental dan tingkat kesadaran yang berbeda.

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN TEORITIS (Halaman 63-72)

Dokumen terkait