• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI

7. Kerjasama

93). Instrumen gamelan berbeda-beda bentuk dan cara menabuhnya, oleh sebab itu dibutuhkan kerjasama semua penabuh agar menghasilkan irama musik yang indah.

Dari nilai-nilai diatas menunjukan bahwa dalam memainkan gamelan banyak nilai-nilai yang bagus untuk dikembangkan oleh penabuh. Peneliti juga mengetahui nilai-nilai budi pekerti dalam memainkan gamelan dari data hasil penyebaran angket kepada anak yang pernah mengikuti karawitan, di desa Daleman Gilangharjo Pandak Bantul. Berikut ini akan diuraikan hasil angket yang dibagikan kepada 10 siswa. Dari pertanyaan, sebelum mamainkan gamelan apa yang harus dilakukan, 5 siswa menjawab bersiap-siap, 4 siswa menjawab berdoa, 1 siswa menjawab makan. Dari pertanyaan, saat memainkan gamelan harus, 5 anak menjawab konsentrasi, 4 anak menjawab fokus, 1 anak menjawab kompak. Dari pertanyaan, sesudah memainkan gamelan, 5 anak menjawab merapikan gamelan, 5 anak menjawab pulang(lampiran 3e). Dari data tersebut, peneliti

24 mengambil satu nilai budi pekerti yang akan peneliti kembangkan dari instrumen bonang penerus yaitu nilai konsentrasi yang terdapat pada bonang penerus.

2.1.5 Instrumen Gamelan: Bonang penerus

Bonang terdiri dari bonang panembung dan bonang penerus.Bonang

berasal dari kata “Nong (menunjukkan arah di situ)– Nang (menunjukkan arah di sini)”. Dari asal kata “nong-nang”(Yudoyono1984: 91). Yang akan dibahas dalam penelitian ini hanyalah bonang penerus.

Bonang penerusmasuk ke dalam kelompok tetabuhan keras karena bahan

utama yang digunakan bisa daribesi,kuningan, perunggu sebagai sumber suaranya, bentuk seperti mangkuk dan ada benjolan diatasnya yang disebut pencon, sebagai sumber suara dari bonang penerus. Tempat penyangga pencon

bernama rancak yang terbuat dari kayu dan dalam rancak terdapat tali untuk meletakan pencon yang disebut pluntur. Tabuh bonang bernama bindhi, terbuat dari kayu yang panjangnya sekitar 30cm dan ada balutan kain diujungnya. Cara memainkan bonang penerus harus duduk bersila, kedua tangan memegang bindhi, lalu pukul pencon dengan bindhi.Bonang penerus selalu mengikuti bonang barung dengan variasi yang berbeda, oleh karena itu dibutuhkan konsentrasi dan

ketepatan karena tanpa nilai-nilai itu penabuh bonang penerus akan bingung dan suara yang dihasilkan tidak akan laras didengar.

25 Tabel 2.2 Nilai-nilai budi pekerti dalam memainkan gamelanbonang penerus

No Nilai

Budi Pekerti Nilai karakter

Nilai-nilai dalam memainkan bonang penerus: konsentrasi

1 Pikiran Kognitif Menghafal notasi gendhing dan

menghafal suara setiap pencon dalam bonang penerus

2 Sikap Afektif Dapat mengetahui kapan harus

menabuh dengan halus, kapan harus menabuh dengan keras.

3 Tindakan Psikomotorik Menabuh mengikuti bonang

panembung dengan variasi yang berbeda dari bonang panembung.

Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa dalam memainkan instrumen “bonang penerus” terdapat nilai budi pekerti yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Budi pekerti penting untuk ditanamkan kepada anak sejak usia dini melalui cergam.

2.1.6 Cergam

Menurut Mitchell (dalam Nurgiantoro, 2005: 153) buku cerita bergambar adalah buku yang menampilkan gambar dan teks dan keduanya saling berhubungan. Baik gambar maupun teks secara sendiri belum cukup untuk mengungkapkan cerita secara lebih mengesankan, dan keduanya saling membutuhkan untuk saing mengisi dan saling melengkapi. Huck, dkk (dalam Nurgiantoro, 2005: 153) mengatakan ilustrasi (gambar) dan tulisan yang sama-sama dimaksudkan untuk menyampaikan pesan tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan secara bersama-sama dan saling mendukung untuk mengungkapkan pesan.

26 Dalam setiap buku bacaan cerita anak pasti terdapat berbagai macam gambar ilustrasi yang menarik. Gambar-gambar tersebut bahkan sudah terlihat dihalaman sampul buku, dan hal itu tampaknya sengaja dipakai sebagai salah satu cara penting menarik perhatian anak dan pembaca (Nurgiantoro 2005: 152). Hal didukung oleh Purwanto (2016: 79) anak-anak mungkin tidak bisa dipisahkan dari gambar. Gambar memberinya energi untuk berimajinasi, gambar memberinya keberaniaan untuk berekspresi. Setiap gambar dibuat semenarik mungkin untuk mengajak anak-anak bertamasya ke dunia imajiner. Untuk anak-anak memang perlu penggambaran konkrit dari setiap informasi verbal yang diterima.

Cerita bergambar dalam penelititan ini disajikan secara hitam putih. Menurut Borwn (dalam Wilkinson 1984: 23) warna pada gambar diam biasanya menimbulkan masalah. Sekalipun gambar berwarna lebih memikat perhatian siswa dari pada yang hitam putih, namun tak selalu gambar berwarna merupakan pilihan terbaik untuk mengajar atau belajar. Suatu studi menyarankan agar penggunaan warna haruslah realistik dan bukan sekedar demi memberi warna saja. Gambar hitam putih membuat siswa dapat berimajinasi dengan bebas.

2.1.7 Literasi

Menurut Abidin, dkk (2017: 1) literasi didefinisikan sebagai kemampuan untuk menggunakan bahasa dan gambar dalam bentuk yang kaya dan beragam untuk membaca, menulis, mendengarkan, berbicara, melihat, menyajikan, dan berpikir kritis tentang ide-ide. Hal ini memungkinkan kita untuk berbagai informasi, berinteraksi dengan orang lain. Literasi merupakan proses yang

27 melibatkan pembangunan dan pengetahuan sebelumnya, budaya, dan pengalaman untuk mengembangkan pengetahuan baru dan pemahaman yang lebih mendalam.

Literasi tidak terpisahkan dari dunia pendidikan. Literasi menjadi sarana peserta didik dalam mengenal, memahami, dan menerapkan ilmu yang didapatkan di bangku sekolah. Literasi juga terkait dengan kehidupan peserta didik, baik dirumah maupun di lingkungan sekitarnya.Saat ini minat baca mulai menurun. Oleh karena itu pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengembangkan suatu Gerakan Literasi Sekolah (GLS).GLS merupakan merupakan suatu usaha atau kegiatan yang bersifatpartisipatif dengan melibatkan warga sekolah (peserta didik, guru, kepala sekolah,tenaga kependidikan, pengawas sekolah, Komite Sekolah, orang tua/wali murid peserta didik), akademisi, penerbit, media massa, masyarakat (tokoh masyarakatyang dapat merepresentasikan keteladanan, dunia usaha, dll.), dan pemangkukepentingan di bawah koordinasi Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar danMenengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Upaya yang ditempuh untuk mewujudkannya berupa pembiasaan membacapeserta didik. Pembiasaan ini dilakukan dengan kegiatan 15 menit membaca buku non pelajaran (Pangesti, 2016: 1-6).

GLS bertujuan untuk menumbuhkan minat baca peserta didik dan meningkatkan keterampilan membaca agar pengetahuan dapat dikuasai secara lebih baik. Materi baca berisi nilai-nilai budi pekerti, berupa kearifan lokal, nasional, sesuai tahap perkembangan peserta didik. Oleh sebab itu peneliti

28 mengembangkan prototipe buku pendidikan budi pekerti dalam memainkan gamelan ini bertujuan sebagai sarana literasi.

2.1.8 Penelitian Yang Relevan

Berikut merupakan hasil penelitian yang relevan terkait dengan Prototipe Buku Pendidikan Budi Pekerti dalam Memainkan Instrumen GamelanBonang Penerus (Untuk SD).

Penelitian yang pertama dilakukan oleh Sugiarto (2012) dengan judul “Efektivitas Pembelajaran Gamelan Terhadap Kemampuan Musikalitas Siswa SD Kanisius Sengkan Kentungan Sleman Yogyakarta”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat efektifitas pembelajaran gamelan terhadap musikalitas siswa. Pembelajaran gamelan pada siswa usia sekolah dasar merupakan salah satu cara mempertahankan kesenian di era globalisasi. Pembelajaran gamelan diharapkan mempunyai peranan yang besar dalam meningkatkan kemampuan musikalitas pada diri siswa. Hasil dari penelitian ini yaitu adanya pengaruh peningkatan kemampuan musikalitas siswa melalui pembelajaran gamelan.

Penelitian yang kedua dilakukan oleh Sulthoni (2017) dengan judul “Penanaman Nilai-Nilai Budi Pekerti Di Sekolah Dasar”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penanaman nilai-nilai budi pekerti di sekolah dasar. Hasil dari penelitian ini adalah sekolah sebagai pendidikan formal memiliki peranan penting dalam rangka menanamkan pendidikan budi pekerti yang berlaku bagi semua warga sekolah. Kebersamaan dan kerja sama yang terjalin antara kepala sekolah dan guru yang bertindak sebagai figur yang dapat digugu dan ditiru dalam menciptakan suasana sekolah yang kondusif untuk membudayakan

29 pendidikan budi pekerti dapat memberikan pengalaman belajar yang bermakna serta memberikan pembiasaan kepada peserta didik.

Penelitian yang ketiga yang dilakukan oleh Adipta; Maryaeni; dan Hasanah (2016) yang berjudul “ Pemanfaatan Buku Cerita Bergambar Sebagai Sumber Bacaan Siswa SD”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana pemanfaatan buku cerita bergambar sebagai sumber bacaan siswa. Hasil dari penelitian ini yaitu pemanfaatan buku cerita bergambar cukup efektif untuk menarik minat siswa dalam kegiatan pembelajaran. Buku cerita bergambar dapat memudahkan siswa untuk menerima berbagai sumber informasi yang bermanfaat bagi siswa. Selain itu, buku cerita bergambar dapat menggugah minat baca siswa sehingga siswa senang dengan kegiatan membaca serta dapat meningkatkan budaya literasi siswa.

Ketiga penelitian di atas pada dasarnya memiliki relevansi namun masih sangat terbatas. Peneliti masih belum menemukan penelitian yang berkaitan dengan pengembangan prototipe buku pendidikan budi pekerti dalam memainkan gamelan untuk siswa usia sekolah dasar. Penelitian di atas belum saling berkaitan sehingga peneliti akan mengembangkan prototipe buku pendidikan budi pekerti dalam memainkan gamelan untuk siswa usia sekolah dasar.

30 Gambar 2.1 Penelitian yang Relevan

Penelitian yang berkaitan dengan buku

cerita bergambar

Adipta; Maryaeni; dan Hasanah (2016) Pemanfaatan Buku Cerita

Bergambar Sebagai Sumber Bacaan Siswa SD

Penelitian ini memaparkan manfaat buku cerita bergambar. Sulthoni (2017)

Penanaman Nilai-Nilai Budi Pekerti Di Sekolah

Dasar

Penelitian ini mendeskripsikan penanaman nilai-nilai budi pekerti di sekolah

dasar Sugiarto (2012) Efektivitas Pembelajaran Gamelan Terhadap Kemampuan Musikalitas Siswa SD Kanisius Sengkan Kentungan Sleman Yogyakarta

Penelitian ini mengkaji efektifitas gamelan terhadap kemampuan

musikalitas siswa

Penelitian yang berkaitan dengan pendidikan budi pekerti Penelitian yang

berkaitan dengan gamelan Jawa

Thomas Wahyu Aji Pitaya (2017)

Pengembangan Prototipe Buku Pendidikan Budi Pekerti dalam Memainkan Instrumen Gamelan Bonang Penerus (untuk SD)

31 2.2 Kerangka Berpikir

Gamelan merupakan salah satu dari sekian banyak alat musik tradisional di Indonesia. Gamelan memiliki suara yang khas, yang dihasilkan dari perangkat-perangkat yang khusus.Dalam memainkan gamelan banyak mengandung nilai-nilai budi pekerti. Seperti nilai-nilai kesopanan, ketertiban, kedisiplinan, dan kekompakan. Nilai kesopanan terdapat pada saat akan memainkan gamelan para pemain harus jalan jongkok menuju instrumen yang akan dimainkan. Lalu harus kompak dengan pemain instrumen yang lain dalam memainkan gamelan agar mendapatakan suara yang bagus dan selaras. Kedisiplinan dalam berlatih agar menciptakan gending atau suara yang bagus. Ketertiban dalam memainkan gamelan para pemain tidak diperbolehkan melompati gamelan, jika gamelan menghalangi jalan sang pemain harus menggeser dan tidak boleh melompatinya.Menurut wawancara dengan praktisi gamelan, gamelan adalah alat musik tradisional yang dalam satu perangkat mempunyai bentuk, bahan pembuatan, alat tabuh dan cara membunyikannya berbeda-beda, oleh karena itu kerjasama adalah kunci utama dan merupakan salah satu nilai utama dalam permainan gamelan. Dalam permainan gamelan semua instrumen mempunyai peran masing-masing. Seperti kendang yang berfungsi sebagai pengatur irama tetapi dalam permainan gamelan tidak ada yang dominan, semua setara.Nilai-nilai budi pekerti yang terkandung dalam cara memainkan gamelan baik digunakan untuk membentuk karakter anak yang sebaiknya ditanamkan pada anak sejak dini.

Oleh karena itu, peneliti mendesainkan produk berbentuk prototipe buku yang berisi tentang nilai-nilai budi pekerti yang terkandung dalam memainkan

32 gamelan. Desain produk yang sudah dibuat oleh peneliti kemudian divalidasi kepada tiga praktisi gamelan, dari hasil validasi tersebut diperoleh kritik dan saran dari para praktisi gamelan yang dijadikan acuan peneliti untuk merevisi produk agar menjadi lebih baik. Setelah produk selesai direvisi, kemudian produk siap diujicobakan pada siswa SD kelas V yang mengikuti ekstrakurikuler karawitan di sekolahnya. Produk yang telah direvisi oleh para praktisi gamelan merupakan produk akhir dalam penelitian yang berjudul “Pengembangan Prototipe Buku Pendidikan Budi Pekerti dalam Memainkan Instrumen Gamelan Bonang Penerus (untuk SD)”.

2.3 Pertanyaan Peneliti

Beberapa pertanyaan penelitian yang digunakan yaitu:

1. Bagaimana pengembangan “Prototipe Buku Pendidikan Budi Pekerti dalam Memainkan Instrumen Gamelan Bonang Penerus (untuk SD)”? 2. Bagaimana kualitas“Prototipe Buku Pendidikan Budi Pekerti dalam

Memainkan Instrumen Gamelan Bonang Penerus (untuk SD)” menurut ahli gamelan dan ahli bahasa?

3. Bagaimana kualitas“Prototipe Buku Pendidikan Budi Pekerti dalam Memainkan GamelanBonang Penerus (untuk SD)” menurut siswa?

33

Dokumen terkait