• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV PELAKSANAAN PENELITIAN DAN ANALISIS DATA

F. Analisis Data Tertulis

6. Kesalahan Teknis

Berikut adalah penjelasan dari keenam jenis kesalahan di atas:

1. Kesalahan Data (Misused Data)

Kesalahan ini meliputi kesalahan-kesalahan yang dihubungkan

dengan ketidaksesuaian antara data yang diketahui pada soal dengan data

yang dikutip oleh siswa. Kesalahan ini dapat dilakukan baik saat pertama

kali siswa memasukkan data bersama-sama atau saat siswa pengolahan data.

a. Menambah data asing yang tidak diperlukan ke dalam penyelesaian.

b. Mengabaikan data pada soal yang diperlukan dalam penyelesaian.

c. Menguraikan syarat-syarat (contoh: dalam pembuktian, perhitungan)

yang tidak dibutuhkan dalam masalah.

d. Mengartikan informasi tidak sesuai dengan maksud teks yang

sebenarnya.

e. Memaksakan syarat yang tidak sesuai dengan informasi lain yang

diberikan

f. Menggunakan nilai sama untuk satu variabel dan variabel lain.

g. Salah dalam menyalin informasi dari soal.

2. Kesalahan dalam Mengintepretasikan Bahasa (Misinterpreted Language)

Kesalahan ini meliputi kesalahan yang berkaitan dengan

ketidaktepatan menerjemahkan suatu pernyataan matematika yang

dideskripsikan dalam suatu bahasa ke bahasa lain. Karakteristik kesalahan

jenis ini meliputi:

a. Menerjemahkan bahasa sehari-hari ke dalam bahasa matematika atau

bentuk persamaan matematika tetapi artinya yang berbeda.

b. Menunjuk suatu simbol pada suatu konsep matematika yang artinya

berbeda dan beroprasi dengan simbol tersebut.

3. Kesalahan Penggunaaan Logika dalam Penarikan Kesimpulan (Logically

Invalid Inference)

Kesalahan ini meliputi kesalahan-kesalahan siswa yang berhubungan

dengan pemikiran yang keliru dalam menarik kesimpulan dari suatu

informasi yang diberikan atau dari kesimpulan sebelumnya. Karakteristik

kesalahan ini adalah sebagai berikut:

a. Dari pernyataan implikasi ⇒ , siswa menarik kesimpulan sebagai berikut:

 Jika diketahui terjadi maka pasti terjadi (Konvers, ⇒ )

 Jika diketahui tidak maka tidak (Invers, ~ ⇒ ~ )

b. Dari pernyataan implikasi ⇒ , siswa menarik kesimpulan sebagai berikut:

 Diperoleh sebagai akibat dari .

 Diperoleh tidak ~ sebagai akibat dari tidak ~ .

c. Menarik kesimpulan dari pernyataan implikasi ⇒ , saat tidak serta mengikuti .

d. Kesalahan dalam menggunakan istilah “semua”, “ada”, dan “beberapa”. e. Berdasarkan pernyataan di atas, siswa membuat kesimpulan tanpa

menjelaskan urutan pembuktian yang benar.

4. Kesalahan dalam Menggunakan Teorema atau Definisi (Distorted Theorem

Kesalahan jenis ini meliputi penyimpangan dari prinsip, aturan,

teorema, ataupun definisi yang telah ada. Karakteristik yang terlihat

berdasarkan jenis kesalahan ini meliputi:

a. Menerapkan suatu teorema pada kondisi yang tidak sesuai.

Contoh:

Menerapkan aturan sinus:

sin = sin

Dimana a dan tidak mengacu pada segitiga yang sama yang

memuat b dan .

b. Menerapkan sifat distributif pada fungsi atau operasi yang bukan

distributif. Contoh:

sin + = sin + sinlog =loglog

(a + b)n = an + bn

c. Tidak tepat dalam mengutip sebuah definisi, teorema, atau rumus.

Contoh:

Xmin = yang seharusnya adalah Xmin=−  (a – b)2 = a2 + 2ab – b2

5. Penyelesaian yang Tidak Diperiksa Kembali (Unverified Solution)

Kesalahan jenis ini meliputi siswa telah memahami setiap proses

yang diberikan siswa tidak sesuai dengan jawaban akhir yang diminta oleh

soal. Hal itu terjadi karena siswa kurang teliti dan tidak memeriksa kembali

hasil pekerjaannya.

6. Kesalahan Teknis (Technical Error)

Kesalahan jenis ini meliputi kesalahan dalam proses perhitungan,

kesalahan dalam mengutip data pada tabel, kesalahan dalam memanipulasi

simbol aljabar dasar (misal: menulis − . − yang seharusnya −

− , tetapi melanjutkan proses seperti tanda kurung di sana, yang mana adalah suatu kecerobohan/kelalaian tanda kurung) dan kesalahan lain

pada algoritma yang biasanya dikuasai di sekolah dasar atau sekolah

menengah pertama.

Contoh kesalahan adalah:

 Kekeliruan mengalikan dua bilangan

Contoh: × =

 Ketidaktelitian dalam menulis

Berdasarkan hasil penelitiannya, Hadar menyatakan jenis kesalahan

dalam menggunakan teorema atau definisi adalah jenis kesalahan yang paling

banyak dilakukan siswa-siswa di sekolah menengah di Israel. Menurut Hadar,

klasifikasi kesalahan yang diusulkannya untuk kemudian dapat membantu guru

dalam meramalkan kesulitan dan kendala, serta menggunakannya dalam

dilakukan siswa. Guru dapat menggunakan klasifikasi kesalahan untuk

mengidentifikasi kecenderungan dari seorang siswa dalam membuat jenis

kesalahan tertentu di beberapa topik matematika. Di sisi lain, diharapkan dapat

bermanfaat bagi guru, pengembang kurikulum, dan para peneliti dapat tertarik

dalam diagnosis, remediasi, dan pemberantasan kesalahan matematika pada

siswa.

C. Kesalahan-Kesalahan yang Sering Dilakukan Siswa dalam Menyelesaikan Soal Persamaan Linear Satu Variabel

Richard D. G. Hall (2002) melakukan penelitian dalam menemukan

kesalahan umum yang dilakukan siswa sekolah menengah dalam

menyelesaikan soal matematika pada topik persamaan linear sederhana. Dalam

artikel “Analysis of Errors Made in the Solution of Simple Linear Equation”,

Hall melakukan penelitian dalam menyelidiki kesalahan yang biasa dilakukan

siswa-siswa sekolah menengah di Bermuda saat memecahkan persamaan linear

sederhana. Tujuan penelitian yang dilakukannya adalah mengidentifikasi dan

mengklasifikasikan dengan frekuensi relatif, kesalahan paling umum yang

dilakukan siswa dalam menyelesaikan persamaan linear sederhana, sehingga

berdasarkan mekanisme kesalahan tersebut guru dapat meningkatkan kualitas

pengajaran matematika di kelas.

Hall melakukan dua jenis penelitian dengan metode penelitian yang sama,

yang pertama adalah penelitian uji coba dalam skala kecil dan kedua adalah

pertama hingga tingkat keempat dengan tiga hingga enam pertanyaan seputar

persamaan linear sederhana. Data-data yang dikumpulkan Hall berasal dari

pemeriksaan akhir yang telah dianalisis dengan mengacu pada literatur terbaru.

Hall menemukan sembilan jenis kesalahan dalam penelitian uji coba yang

dilakukannya dalam penelitian skala kecil. Tiga jenis kesalahan telah

diidentifikasi dalam literatur, dan diperoleh enam jenis kesalahan baru yang

sampai saat itu tidak dibahas dalam literatur, selanjutnya Hall mengidentifikasi

enam kesalahan tersebut. Tiga kesalahan yang telah diidentifikasi dalam

literatur adalah kesalahan penghapusan, kesalahan penukaran penjumlahan, dan

kesalahan perulangan distribusi. Sedangkan enam kesalahan lainnya yang

ditemukan dalam penelitian uji coba adalah kesalahan kelalaian, kesalahan

penyalahgunaan invers aditif, kesalahan ketidakmampuan mengisolasi variabel,

kesalahan pembagian, dan kesalahan ketiadaan struktur. Berikut adalah uraian

dari sembilan kesalahan yang diidentifikasi dalam penelitian uji coba yang

dilakukan oleh Hall:

1. Kesalahan Penghapusan (Deletion Error)

Contoh kesalahan penghapusan yang sering terlihat adalah

menyatakan:

− =

Siswa menyamakan persamaan di atas dengan:

+ − =

Dalam studi yang dilakukan oleh Carry, Lewis, dan Bernard (dalam Hall,

umum dilakukan siswa pada berbagai langkah dalam proses

menyederhanakan persamaan. Matz (dalam Hall, 2002) memasukkan

kesalahan penghapusan dalam tiga puluh daftar kesalahan, seperti:

+ = + − + = + −

+ =

Siswa cenderung menyamakan proses penyelesaian persamaan aljabar

dengan proses penyelesaian aritmatika saat menyederhanakan persamaan

aljabar (Matz dalam Hall, 2002). Berikut adalah kesalahan penghapusan

yang ditemukan oleh Hall dalam penelitian uji coba:

+ =

− + = −

+ =

Pada pekerjaan di atas terlihat bahwa siswa menyatakan:

− =

Mengacu pada literatur yang telah ada pada saat itu, kemudian Hall

menyatakan kesalahan di atas sebagai kesalahan penghapusan.

2. Kesalahan Perulangan Distribusi (Redistribution Error)

Kesalahan perulangan distribusi muncul ketika murid mencoba untuk

memberi perlakuan sama terhadap kedua ruas pada persamaan, namun

perlakuan yang diberikan tidak tepat. Misal persamaan:

Siswa menganggap bahwa persamaan di atas memiliki solusi sama dengan

persamaan berikut ini:

+ − = +

Berikut ini adalah contoh kesalahan perulangan distribusi yang

ditemukan Hall dalam penelitian uji coba:

+ = +

+ − = + −

+ + = −

Pada baris ketiga terlihat bahwa siswa kurang tepat dalam memberi

perlakuan pada kedua ruas. Siswa menambahkan pada persamaan di ruas

kiri dengan , namun pada ruas kanan, siswa mengurangkan persamaan

dengan .

3. Kesalahan Penukaran Penjumlahan (Switching Addends Error)

Sama dengan kesalahan perulangan distribusi, kesalahan penukaran

penjumlahan muncul ketika siswa mencoba memberi perlakuan sama

terhadap kedua ruas pada persamaan. Misal persamaan:

+ =

Siswa menganggap persamaan di atas memiliki solusi sama dengan

persamaan berikut ini:

= +

Berikut ini adalah contoh kesalahan penukaran penjumlahan yang

+ = + =

Berikut ini adalah mekanisme penyelesaian persamaan di atas yang dibuat

oleh siswa:

+ = +

+ = +

=

Menurut Hall, kesalahan perulangan distribusi dan kesalahan

penukaran penjumlahan dapat terjadi karena kurangnya pemahaman aspek

struktural dalam menyelesaikan persamaan linear.

4. Kesalahan Kelelahan (Exhaustion Error)

Kesalahan kelelahan adalah kategori kesalahan baru, Hall

mengidentifikasi dalam penelitian yang dilakukannya. Kesalahan jenis ini

dibuat siswa saat menjelang tahap akhir penyelesaian soal. Meskipun jika

dilihat dari pola kesalahannya, jenis kesalahan ini memiliki kesempatan

terjadi di awal penyelesaian soal. Hall mengemukakan bahwa kesalahan ini

mungkin terjadi cukup sering dan layak menjadi kategori kesalahan. Berikut

ini contoh kesalahan kelelahan yang ditemukan oleh Hall:

+ + = +

+ − = + −

= +

Pada baris kedua sampai ketiga terlihat bahwa siswa telah cukup baik

menyederhanakan persamaan baris pertama dengan memberi perlakuan

sama pada kedua ruas. Pada baris keempat, siswa mencoba

menyederhanakan persamaan dengan cara berikut:

= +

− = + +

Pada langkah sebelumnya siswa telah cukup baik menggunakan aturan

“memberi perlakuan sama pada kedua ruas”, namun pada baris keempat,

siswa justru melakukan kesalahan dalam menggunakan aturan tersebut. Hall

menyebut kesalahan yang dilakukan siswa itu sebagai kesalahan kelelahan.

Dimungkinkan bahwa kesalahan ini dapat digabungkan dengan jenis

kesalahan lain, seperti kesalahan: penghapusan, penukaran penjumlahan,

perulangan distribusi, dan transpose.

5. Kesalahan Kelalaian (Omissions Error)

Pada kategori kesalahan ini siswa telah cukup baik dalam

menyelesaikan suatu persamaan aljabar, namun karena kondisi tertentu

seperti kerumitan masalah dan tekanan dalam ujian, menyebabkan siswa

melakukan kesalahan. Contoh kesalahan kelalaian yang ditemukan Hall

dalam penelitian uji coba:

+ + = +

Pada pekerjaan di atas, siswa mencoba mengurangkan kedua ruas

persamaan dengan , namun siswa lalai mengurangkan ruas kanan dengan

. Kerumitan masalah dan tekanan dalam ujian dapat menjadi penyebab

siswa melakukan kesalahan, seperti pada contoh kesalahan siswa di atas.

6. Kesalahan dalam Penggunaan Invers Aditif (Misuse of Additive Inverse

Error)

Di bawah ini adalah kesalahan dalam penggunaan invers aditif yang

paling umum dilakukan siswa:

+ = + + = +

=

Pada pekerjaan di atas terlihat bahwa siswa memberikan perlakuan

yang sama pada kedua ruas. Siswa di atas mungkin berpikir bahwa lawan

dari + adalah + . Kesalahan jenis ini memiliki mekanisme kesalahan yang sama dengan kesalahan penukaran penjumlahan (Switching Addends

Error), sehingga pada penelitian skala besar, kedua kesalahan tersebut

digabungkan.

7. Kesalahan Ketidakmampuan Mengisolasi Variabel (Inability to Isolate

Variable Error)

Berikut ini adalah contoh kesalahan yang berupa ketidakmampuan

+ + = +

+ = +

=

Langkah Penyelesaian Berhenti

Langkah awal hingga menjelang akhir sudah cukup baik dilakukan

oleh siswa, namun langkah terhenti hanya sampai baris ketiga. Kesalahan

ini muncul karena siswa tidak tahu apa yang harus dilakukan pada bagian

akhir, siswa tidak menyadari bahwa siswa perlu memberikan perlakuan

yang sama pada kedua ruas. Kesalahan jenis ini hampir sama dengan

kesalahan kelelahan, yaitu siswa kebingungan dalam menghilangkan

variabel. Kesalahan ini juga terjadi karena siswa tidak mampu

mengidentifikasi operasi perkalian dalam persamaan:

=

Bahwa persamaan itu memiliki arti dikali sama dengan . Selain itu

dapat dimungkinkan bahwa siswa tidak mampu melakukan operasi

pembagian.

8. Kesalahan Pembagian (Division Error)

Kesalahan ini lebih mengarah pada bagaimana siswa menggunakan

pembagian dalam menentukan penyelesaian suatu persamaan linear. Hall

mengemukakan bahwa bagi siswa yang kurang menguasai pembagian, akan

penyelesaian persamaan linear. Contoh kesalahan pembagian yang

ditemukan Hall dalam penelitian uji coba:

= = ,

Kesalahan pada pekerjaan di atas adalah siswa salah menentukan hasil

dari operasi pembagian. Siswa belum menguasai operasi pembagian

bilangan, ada kemungkinan bahwa siswa demikian akan membutuhkan alat

bantu hitung (kalkulator) dalam menentukan suatu solusi.

9. Kesalahan Ketiadaan Struktur (Absence of Structure Error)

Kesalahan ini terjadi karena siswa kurang paham untuk melakukan

operasi dengan bilangan yang sama pada kedua ruas persamaan (memberi

perlakuan sama terhadap kedua ruas persamaan). Kesalahan ketiadaan

struktur merupakan kategori kesalahan yang tidak dapat terkategorikan pada

kesalahan-kesalahan lain karena pola kesalahan tidak jelas. Kesalahan

ketiadaan struktur dimungkinkan untuk menghubungkannya dengan

beberapa bentuk kebingungan struktural, baik dari penggunaan tanda

samadengan atau penerapan algoritma. Contoh kesalahan ketiadaan struktur

yang ditemukan Hall dalam penelitian uji coba:

− = − − = −

− − = − −

Langkah penyelesaian pada pekerjaan di atas perlu diselidiki lagi

dalam wawancara dengan siswa yang bersangkutan. Pada baris kedua dapat

dimungkinkan bahwa siswa melakukan pemindahan pada suku-suku

persamaan ruas sebelah kiri, dimana siswa menganggap:

− = −

Pada baris ketiga menunjukkan bahwa siswa mungkin mengurangkan

masing-masing ruas persamaan dengan , kemudian menyatukan − dan (pada ruas kiri). Berikut ini adalah mekanisme penyelesaian persamaan

baris kedua sehingga memperoleh persamaan baris ketiga:

− − = − −

− + − = − −

− − = − −

Hall memperluas penelitiannya dengan melakukan penelitian pada skala

yang lebih besar, penelitian ini dimaksudkan untuk menguji lebih lengkap

hipotesis bahwa (a) kesalahan dapat dikelompokkan ke dalam set jenis dan (b)

jenis kesalahan dapat dimasukkan ke dalam urutan frekuensi relatif, dengan

ukuran sampel diperluas. Seluruh siswa di sekolah, tanpa pengecualian

berpartisipasi dalam penelitian skala besar. Desain penelitian uji coba dan

pemikiran di dalamnya dievaluasi setelah analisis data dan beberapa perbaikan

diusulkan, misalnya beberapa jenis kesalahan yang digabung untuk

memudahkan analisis.

pengulangan distribusi, dan penukaran penjumlahan tetap dipertahankan karena

telah diidentifikasi dalam literatur. Kesalahan kelelahan tidak bertahan sebagai

jenis kesalahan, karena hanya ditemukan dua kesalahan kelelahan pada semua

pekerjaan siswa dalam penelitian skala besar. Kesalahan kelalaian semula

dipertahankan karena ditemukan dalam penelitian uji coba. Kesalahan

ketidakmampuan mengisolasi variabel dapat dimasukkan sebagai kesalahan

pembagian. Kesalahan ketiadaan struktur tidak bisa digabungkan dengan jenis

kesalahan lain, dirasa penting karena mungkin untuk menghubungkannya

dengan beberapa bentuk kebingungan struktural, baik dari penggunaan tanda

samadengan atau penerapan algoritma. Kesalahan invers yang lain dan

kesalahan menghitung melengkapi daftar 9 jenis kesalahan yang diidentifikasi.

Selain itu muncul kesalahan transpose, kesalahan ini paling sering diamati

selama bertahun-tahun oleh peneliti. Berikut ini kesalahan baru yang

diidentifikasi Hall dalam penelitian skala besar:

1. Kesalahan Transpose (Transposing Error)

Transpose adalah teknik “ubah ruas – ubah tanda”. Kesalahan

transpose terjadi karena penerapan pendekatan “ubah ruas - ubah tanda” tanpa adanya pemahaman lebih mendalam. Menurut Kieran (dalam Hall,

2002), siswa melakukan penerapan transpose namun tidak memandang

bahwa objek matematika yang digunakan adalah sebuah persamaan,

kemudian siswa secara asal memindahkan bilangan atau variabel. Contoh

kesalahan transpose adalah:

+ =

Kesalahan di atas terjadi karena siswa sering menyamakan aturan

penyelesaian di atas dengan aturan penyelesaian berikut ini:

= =

2. Kesalahan Invers yang Lain (Other Inverse Error)

Kesalahan ini muncul ketika siswa perlu menyelesaikan persamaan

aljabar dengan menggunakan invers, namun siswa salah dalam menentukan

invers suatu bentuk persamaan aljabar tersebut. Contoh kesalahan invers

yang lain:

= = −

Menurut analisis kesalahan yang dikemukan oleh Sleeman (dalam

Hall, 2002), bahwa mekanisme kesalahan di atas dapat terjadi karena siswa

menganggap sebagai + . Hall mengemukan bahwa kesalahan penghapusan dan kesalahan penukaran penjumlahan juga memiliki

mekanisme yang sama dengan kesalahan invers yang lain. Dimana

kesamaan dari kesalahan invers yang lain dengan kesalahan penghapusan

yang dilakukan oleh siswa yaitu siswa mengoperasikan setiap konstanta

tanpa memperhatikan variabel yang mengikatnya, contoh:

Sedangkan kesamaan kesalahan invers lain dengan kesalahan penukaran

penjumlahan adalah siswa tidak tepat dalam memberi perlakuan pada kedua

ruas. Kesalahan penghapusan dan kesalahan penukaran penjumlahan dapat

dikurangi dengan memberi penekanan tentang invers.

3. Kesalahan Menghitung

Jenis kesalahan ini ditandai seperti:

− + = −

Ada banyak penjelasan tentang mengapa siswa melakukan kesalahan ini.

Siswa mungkin bingung (− + dengan − + , atau ia mungkin manyalahgunakan aturan urutan operasi. Siswa berpikir bahwa hal pertama

yang dilakukan adalah menjumlahkan dan , kemudian tanda negatif

ditangani hanya dengan menempatkannya di depan . Salah satu alasan

siswa melakukan hal tersebut adalah kurangnya penguasaan siswa terhadap

materi manipulasi angka (negatif), dan keterampilan dalam

menyederhanakan persamaan yang telah diajarkan sebelum topik

persamaan linear. Kurangnya penguasaan materi tersebut menjadi hambatan

keberhasilan dalam memecahkan persamaan linear.

D. Persamaan Linear Satu Variabel

1. Persamaan Linear dengan Satu Variabel

Materi matematika yang dibahasa dalam penelitian ini adalah

yang perlu dikuasai siswa adalah membuat dan menyelesaikan model

matematika dari masalah yang berkaitan dengan Persamaan Linear Satu

Variabel.

Dalam setiap pembelajaran, materi Persamaan Linear Satu Variabel

diawali dengan Kalimat Terbuka. Kalimat Terbuka adalah kalimat yang

belum dapat ditentukan benar-salahnya, sebab masih mengandung variabel.

Contoh kalimat terbuka diantaranya:

(i) A adalah faktor dari .

(ii) + =

Kalimat (i) bernilai benar jika lambang A diganti dengan , , , atau dan

bernilai salah jika lambang A diganti dengan 3.

Variabel (peubah) banyak digunakan dalam kalimat terbuka.

Penyelesaian atau jawab adalah pengganti dari variabel (peubah) yang

menyebabkan kalimat terbuka menjadi kalimat pernyataan yang benar.

Persamaan adalah kalimat terbuka yang menyatakan hubungan sama

dengan “=”. Contoh persamaan:

+ =

+ =

– = +

Persamaan linear satu variabel adalah kalimat terbuka dengan satu variabel yang memiliki hubungan sama dengan “=”, dan variabelnya hanya

berpangkat satu. Persamaan Linear Satu Variabel mempunyai bentuk

+ =

Dimana dan adalah konstanta real dan ≠ . Penyelesaian persamaan tersebut diberikan oleh:

= −

2. Himpunan Penyelesaian Persamaan Linear Satu Variabel

Himpunan penyelesaian adalah himpunan semua penyelesaian dari

suatu kalimat terbuka. Salah satu cara yang dapat digunakan siswa dalam

menemukan himpunan penyelesaian Persamaan Linear Satu Variabel

adalah substitusi. Cara substitusi artinya menyelesaikan persamaan dengan

cara mengganti variabel dengan bilangan yang sesuai sehingga persamaan

tersebut menjadi kalimat yang bernilai benar. Berikut ini adalah contoh

penyelesaian Persamaan Linear Satu Variabel dalam menentukan himpunan

penyelesaian dengan cara substitusi:

Contoh:

Tentukan himpunan penyelesaian dari persamaan:

+ =

Jika variabel pada himpunan bilangan cacah.

Penyelesaian:

Jika diganti bilangan cacah, diperoleh:

 substitusi = , maka + = (kalimat salah)  substitusi = , maka + = (kalimat salah)

 substitusi = , maka + = (kalimat salah)  substitusi = , maka + = (kalimat benar)  substitusi = , maka + = (kalimat salah)

Ternyata untuk = , persamaan + = menjadi kalimat yang benar. Jadi, himpunan penyelesaian persamaan + = adalah { }.

3. Persamaan-Persamaan yang Ekuivalen

Dua persamaan atau lebih dikatakan ekuivalen jika mempunyai

penyelesaian atau akar yang sama. Notasi untuk ekuivalen pada persamaan

adalah “⇔”. Contoh:

(i) + =

Jika diganti bilangan , maka persamaan tersebut menjadi:

+ =

yang merupakan kalimat benar.

Jadi, penyelesaian persamaan + = adalah .

(ii) + =

Jika diganti bilangan , maka persamaan tersebut menjadi:

× + =

yang merupakan kalimat benar.

Jadi, penyelesaian persamaan + = adalah .

(iii) + =

Jika diganti bilangan , maka persamaan tersebut menjadi:

yang merupakan kalimat benar.

Jadi, penyelesaian persamaan + = adalah .

Berdasarkan uraian di atas tampak bahwa ketiga persamaan

mempunyai penyelesaian yang sama, yaitu . Dengan demikian, persamaan

(i), (ii), dan (iii) dapat dituliskan sebagai:

+ = ⇔ + = ⇔ + =

Suatu persamaan dapat dinyatakan ke dalam persamaan yang

ekuivalen dengan cara:

a. Menambah atau mengurangi, mengkali atau membagi kedua ruas

persamaan dengan bilangan yang sama;

Persamaan linear dapat dianalogikan sebagai timbangan

keseimbangan. Ruas kiri dan ruas kanan dari sebuah persamaan adalah

dua wadah keseimbangan. Jika dengan menambah atau mengurangi

berat yang sama pada kedua wadah, maka timbangan akan tetap

seimbang. Demikian juga dengan persamaan, jika kedua ruas

ditambahkan atau dikurangkan, dikalikan atau dibagi (asalkan bilangan

yang dikali atau dibagi tersebut bukan bilangan nol) dengan bilangan

yang sama, persamaan tersebut tetap ekuivalen. Untuk menyelesaikan

sebuah persamaan, dapat menambahkan, mengurangkan, mengalikan,

atau membagi (asalkan bilangan yang dikali atau dibagi tersebut bukan

nol) dengan suatu bilangan yang sama pada kedua ruas sehingga

Di lapangan ditemukan bahwa beberapa guru menggunakan cara

“pindah ruas –ganti tanda” dalam menyederhanakan atau menemukan

persamaan yang ekuivalen. Cara tersebut merupakan variasi dari

langkah “memberi perlakuan yang sama pada kedua ruas” (lebih dikenal dengan “menambah atau mengurangi, mengkali atau membagi kedua

ruas persamaan dengan bilangan yang sama”). Beberapa guru mengajarkan cara “pindah ruas – ganti tanda” di kelas untuk lebih

memudahkan siswa dalam menggunakan cara “memberi perlakuan yang

sama pada kedua ruas” dalam menemukan persamaan yang ekuivalen.

“Pindah ruas – ganti tanda” dapat dilakukan dengan mengubah urutan suku persamaan dari ruas kiri ke ruas kanan atau sebaliknya. Aturan

perubahan urutan dengan memindahkan suku persamaan pada satu ruas

dan menuliskan kebalikannya pada ruas yang lain dari persamaan

tersebut. Langkahnya sebagai berikut:

1) Pindahkan bagian konstanta dari ruas kiri ke ruas kanan untuk

membiarkan semua variabelnya tetap di ruas kiri.

2) Sederhanakan ruas kanan dan kiri untuk mendapat jawabannya.

4. Penyelesaian Persamaan Linear Satu Variabel Bentuk Pecahan

Langkah awal yang perlu dilakukan siswa dalam menyelesaikan

PLSV bentuk pecahan adalah mengubah persamaan linear bentuk pecahan

menjadi bentuk persamaan linear biasa. Caranya adalah dengan mengalikan

diperoleh persamaan linear bentuk biasa. Selanjutnya menentukan

penyelesaian persamaan linear dengan aturan penyelesaian yang telah ada.

Contoh:

Tentukan penyelesaian dari persamaan:

− = −

jika variabel pada himpunan bilangan rasional.

Penyelesaian:

− = −

⇔ − = − (kedua ruas dikalikan KPK dari

2 dan 5, yaitu 10)

⇔ − = −

⇔ − + = − + (kedua ruas ditambah 20)

⇔ = +

⇔ − = + − (kedua ruas dikurangi )

⇔ − =

⇔ − : − = ∶ − (kedua ruas dibagi dengan − )

⇔ = −

Jadi, himpunan penyelesaian persamaan − = − adalah {–5}.

5. Model Matematika dan Penerapan Persamaan pada Soal Cerita

Langkah awal yang perlu dibuat siswa dalam menyelesaikan soal

berdasarkan pada informasi yang terdapat pada soal tersebut, yang disebut

Dokumen terkait