• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV : ANALISA DATA

LAND ASAN TEORI

B. Kesalehan Sosial

1. Pengertian

Kesalehan sosial merupakan gabungan dari dua kata yaitu kesalehan dan sosial untuk lebih jelasnya peneliti uraikan satu per satu.

17 Abdurrahman Mas’ud, Menuju Paradigma Islam Humanis, Gramedia Yogyakarta, 2003 him. 12

Kesalehan merupakan kata serapan dari bahasa Arab yaitu saleh. Dalam Al-Qur’an kata saleh disebut sebayak 180 kali.18

Saleh dalam kamus bahasa Indonesia mempunyai arti yaitu taat dan bersungguh-sungguh dalam menjalankan amal ibadah, suci dan beriman.19 Sementara kesalehan berarti kepatuhan dalam beribadah.20 Sosial dalam kamus sosiologi ditulis sosial mempunyai arti yang biasanya digunakan dengan referensi pada hubungan seorang individu dengan yang lainnya. Dari jenis yang sama atau, pada sejumlah individu yang membentuk lebih banyak atau lebih sedikit kelompok-kelompok yang terorganisir, juga tentang kecenderungan-kecenderungan yang berhubungan dengan yang lainnya.21 22 K.H Ahmad Dahlan dalam ijtihadnya memberikan penjelasan bahwa tauhid meliputi dua aspek yaitu; (1) Persaudaraan berdasar ketunggalan aqidah dan syariah. (2) Persaudaraan kemanusiaan walaupun beda agama misalnya. Jadi di sini ditentukan bahwa orang yang beriman harus mampu berbuat baik dengan sesama manusia (kesalehan sosial). Pada era orde baru dirumuskan tri kerukunan umat beragama yang meliputi:

a Kerukunan intern umat beragama b Kerukunan antar umat beragama

18 Abu Zahra’ An-Nadji, Al-Q ur’an dan Rahasia Angka-Angka, Pustaka Hidayah, cet. VII,2001, him. 79

19 Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, him. 725 20 Ibid. 725

21 Hartini, G. Sapoetra, Kamus Sosiologi dan Kependudukan, Bumi Aksara Jakarta, 1992, him. 382

22 Muhammad Dam am, Akar Gerakan Muhammadiyah, Fajar Pustaka Baru, Yogyakarta 2000, him. 97

c Kerukunan antar negara.

Amin Rais merumuskan bahwa tauhid mengandung pelajaran moral {moral lesson). Tingkat pertama yaitu “tauhid” berarti keberanian untuk mengatakan “tidak” terhadap setiap hal yang batil dan tidak benar. Tingkat kedua, “tauhid” berarti memiliki keyakinan kepada Allah SWT. Tingkat ketiga “tauhid” berarti mendeklarasikan diri tentang kehidupan yang dituntun oleh Al-Qur’an. Tingkat keempat “tauhid” berarti menerjemahkan keyakinan ke-Esa-an Allah SWT dan petunjuk-Nya.

Dalam Al-Qur’an wujud sikap budaya untuk mengembangkan amal saleh. Tingkat terakhir tingkat kelima “tauhid” dari “tercela” di dasarkan pada para meter Allah SWT, tentu saja menurut Al-Qur'an dan As-Sunah yang sahih.23

Puasa Ramadhan merupakan indikator keimanan, dalam puasa Ramadhan tersebut berisi berbagai pelajaran, salah satunya yaitu mengingat kepada orang kaya betapa lemahnya kaum tertindas (proletan). Sehingga di sini Allah menuntut kepada m uallaf agar mampu untuk menumbuhkan kesalehan sosial, baik ke dalam dan keluar agamanya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kesalehan sosial adalah di mana manusia mampu berhubungan baik dengan sesamanya tanpa mengenal batasan herarki dan status sosial.

23 M. Amien Rais, Tauhid Sosial, Formula Menggempur Kesenjangan. Penyunting Okkie F Muttaqien (Bandung, Mizan 1998) him. 38-44

2. Ciri-ciri kesalehan sosial

Islam yang sesungguhnya adalah agama yang hendak menegaskan bahwa Islam agama pembebasan dalam pengertian yang sebenar-benarnya sejak kelahirannya, Islam datang untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, terlemahkan al-mustadllafun dan dizalimi oleh sistem sosial yang tidak adil. Islam adalah agama pembebasan, dalam arti bahwa keseluruhan ajaran yang dimuatnya ditetapkan untuk melahirkan suatu pembebasan, oleh dan untuk pribadi-pribadi yang memeluknya.24 Agama Islam nabi-nabi sebelumnya sama sebagaimana tercantum dalam Q.S Asy- Syu'ara : 13 x * / / z' / / / / / / z' " } y y y y £ £ i j* ' 'y ?

V

b

!****' o'

y y s y y y y 5

4

'• & y

4 J v » 4 t

z' z' z' ^ z ' /

“Dia telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya) ”25

24 Abad Badruzaman, Kiri Islam Hassan Hanafi Menggugat Kemapanan Agama dan Politik, PT Tiara Wana, Yogyakarta, 2005, hlm.7

25

Jelas dan gamblang Islam adalah agama yang selaras dengan fitrah manusia sebagaimana yang tertulis dalam Q.S Ar-Rum : 30

jJnn

& ' j * j i \

4si s > \L^ 4'jis

S S S * S S / / / s /

( r i ' / \ p \ a s i A iil

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitra h Allah yang Telah menciptakan manusia menurut fitra h itu. tidak ada perubahan pada fitra h Allah. (Itulah) agama yang

lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” 26

Dalam berbagai kisah telah banyak diungkap bahwa Islam adalah pembebas dari kaum terlantar. Sebagai contoh, musa membebaskan kaumnya dari cengkraman raja diktator yaitu Fira’un, begitu juga Ibrahim. Kemudian di sini akan dibahas bagaimana ciri-ciri orang yang saleh secara sosial dan baik. Di bawah ini peneliti uraikan satu demi satu

a. Memaafkan kesalahan orang lain

Manusia yang baik adalah manusia yang mampu menjadikan dua hubungan yaitu kepada Allah dan sesama makhluk. Sehingga di sini ditekankan bahwa manusia yang baik bukan saja dekat kepada sang Khalik, namun juga mampu berhubungan dengan sesama.

Dalam keseharian hidup manusia pasti selalu berdekatan dengan baik dan buruk. Lalu bagaimana orang yang baik itu? Apakah orang tersebut tidak pernah bersentuhan dengan kesalahan? Pastinya orang yang baik adalah orang yang pernah melakukan salah dan

menyadari kesalahan kemudian meminta maaf, dan apabila ada orang yang minta maaf segera dimaafkan,

b. Berderma baik lapang maupun sempit

Sebagai seorang muslim maka hendaknya selalu berderma baik kala lapang maupun sempit. Dalam konsep Islam dirumuskan di antaranya ada istilah zakat, sedekah, dan infak. Sebelum menjelaskan hal ini penulis mengutip hadis Nabi sebagai berikut:

Artinya : "Diriwayatkan dari Abu Hurairah r. a dari Nabi SAW. Beliau bersabda “Barang siapa yang menghilangkan dari orang suatu kesusahan di antara macam-macam kesusahan di dunia maka Allah akan mengilangkan darinya suatu kesusahan dari kesusahan-kesusahan kelak pada hari kiamat. Dan barang siapa membuat kemudahan terhadap orang yang sedang kesulitan, maka Allah memudahkan kepadanya di dunia akhirat. Barang siapa yang menutup cela orang Islam, maka Allah akan menutup cela di dunia dan akhirat. Dan Allah akan menutup cela di dunia dan akhirat. Dan Allah akan tetap menolong hamba-Nya selama dia mau menolong saudaranya... ” (HR.Muslim).

Kemudian peneliti akan menjelaskan apa itu zakat, sedekah, dan infak.

1) Zakat

Zakat menurut bahasa berarti tumbuh (nummuw) dan bertambah

(ziyadah) sedang menurut syara’ berarti hak yang wajib (dikeluarkan dari) harta. Sebagimana dalam firman Allah Q.S. At

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiw a bagi mereka, dan Allah Maha mendengar lagi Maha

M engetahui".27 28

Maksudnya, zakat itu akan menyucikan orang yang mengeluarkanya dan akan menumbuhkan pahalanya.

Kata infak dapat berarti mendermakan atau memberi rezeki (karunia Allah SWT) atau menafkahkan sesuatu kepada orang lain berdasarkan rasa ikhlas dan karena Allah semata.29

Dalam Al-Qur'an dapat dilihat dalam surat Al-Baqorah: 195

27 Wahbah Al-Zuhayly, Zakat Kajian Sebagai Madzhab. Terj. Agus Efendi. PT Remaja Rosda Karya, Bandung, 1995, him. 82-83

28 Departemen Agama RI, op.cit., him. 297

29 Anatomi Fiqih Zakat Potert Pemahaman Badan Am il Zakat Sumatera Selatan, Pustaka Pelajar, cet I, 2005, him. 12

Taubah: 103

5) j ‘k. J, $ ij ii j ii4

S s s y y y s s s * s s

f r j * :m

L^an

/ / /

“D a« belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan,

dan berbuat baiklah, Karena Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” 30

3) Shadaqoh

Shadaqoh berasal dari kata shadaqa yang berarti benar, dan dapat dipahami dengan memberikan atau mendermakan sesuatu kepada orang lain. Dalam konsep ini, shadaqah merupakan wujud dari keimanan dan ketaqwaan seseorang, artinya orang yang suka bersedekah adalah orang yang benar pengakuan im annya.31

c. Menahan amarah

Dalam penciptaan manusia di antaranya terdapat unsur tanah, udara air dan api. Sehingga manusia suatu saat berwatak lembut dan di saat yang lain mampu berbuat beringas melebihi binatang buas. Keadaan demikian karena kurangnya unsur iman dalam diri manusia. Maka orang yang beriman mampu menahan dirinya untuk berbuat brutal. Kebrutalan adalah tindakan yang ditentang dalam Islam, karena suasana tersebut dapat membuat manusia terperosok ke lembah kehinaan.

30 Departemen Agama RI, op.cit., him. 47 31 Ibid, him. 15

Nabi Muhmmad SAW. Berpesan sebagai berikut i

j l K S ' * J j* ( j ) j *

d ljj) )l l j 6 ^ I J 6 *jU-y«J

Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a sesungguhnya ada seorang lelaki bertanya kepada Nabi SAW “Berkenanlah kiranya baginda berpuasa kepadaku!” jaw ab beliau ‘janganlah engkau m arah” laki-laki tersebut senantiasa mengulangi permintaan berulang kali, beliau menjawab

“janganlah engkau marahP” (HR.Bukhari)32

Islam agama yang tinggi, hal ini terbukti dari aturan-aturannya yang tidak mengatur urusan besar saja melainkan urusan yang paling pelik, semisal dilarangnya marah, karena orang marah terlihat tidak baik. Berbeda dengan orang yang banyak tersenyum, mukanya terlihat sejuk dan menyenangkan.

d. Berbicara sopan dengan orang lain

Islam sebagaimana arti bahasa yaitu selamat. Maka orang yang memeluk agama ini seharusnya dalam gerak-gerik tingkah-lakunya selalu menuntun pada hidup selamat. Keselamatan seseorang berpangkal pada ucapan, orang jaw a mengatakan “terplesetnya kaki dari berjalan itu masih enak dari pada terplesetnya mulut dari berbicara”. Ungkapan orang Jawa tersebut mengandung filosofi yang amat mendalam. Karena jika jatuh karena terpleset, yang sakit dirinya

32 Al-Imam An-Nawawi, Arbain An-Nawawiyah..., Terj. Lilik Rachmat Nurchalisho, Ziyad Books, Lawean Surakarta, 2006, him. 94

sendiri dan menyangkut tubuh fisiknya saja, namun jika teijatuhnya disebabkan karena ucapan yang merasakan sedih/ sakit bukan dirinya sendiri bahkan orang lain ikut terkena imbasnya. Nabi Muhammad SAW menjelaskan dalam hadisnya sebagai berikut:

Artinya: "Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a sesungguhnya Rosullullah SAW bersabda “barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah berkata baik atau diam s a j a . . .(H.R Bukhori Muslim)

e. Kasih Sayang Sesama Teman

Allah SWT mempunyai sifat kasih sayang, sebagaimana tercermin dalam Q.S al-Faatihah: 1

“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”33

Sehingga manusia perlu meneladani-Nya. Karena dalam hadis

La>- J> H \ -Uil ^ J '

juga disebutkan, ^ yang dapat diartikan berprilakulah dengan prilaku Allah.

33

3. Penerapan Sikap Kesalehan Sosial

Ketika teori tidak diterapakan dalam bentuk nyata maka hanya terlihat hambar. Puasa Ramadhan adalah sebuah teori dari Allah, guna mendidik kepada para hambanya supaya menjadi orang yang bertakwa. Hal ini dijelaskan oleh Allah dalam surat al-Baqarah: 183 sebagai b erik u t:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa ”34

Dalam Q.S Ali Imran: 134, dijelaskan pula sebagai berikut:

“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan ”.35

Dari uraian ayat di atas, jelas bahwa Ramadhan adalah bentuk

tarbiyah yang diberikan oleh Allah kepada manusia supaya menjadi orang yang betul-betul baik, secara vertikal maupun horizontal. Maka pengalaman menahan diri yang telah diperoleh selama satu bulan (29/30 hari) perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

34 Ibid., him. 44 35 Ibid., him. 98

C. Hubungan antara Puasa Ramadhan dengan Kesalehan Sosial.

Muhammad SAW bersabda puasalah kamu supaya

kamu sehat.36 Allah SWT mensyariatkan kepada ibadah kepada hambanya tidak serta merta uji coba uji-coba, atau sekedar main-main, namun secara jelas ada tujuan yang baik. Sejarah telah mencatat bahwa Bangsa Arab sebelum datangnya Islam terkenal sebagai orang bodoh (Jahiliyah) dan setelah Islam berkembang secara pesat maka wilayah tersebut menjadi daerah yang berperadaban.

Dalam sebuah hadis diriwayatkan sebagai berikut:

*■ \

•!'j j ) ^ ** j - 4 5 * f j *

«•

Artinya: “Barang siapa tidak meninggalkan pembicaraan dan perbuatan dusta, maka sedikitpun Allah tidak memerlukan perbuatanya meninggalkan makan dan minumnya” (H.R Bukhori dan Abu Dawud)37

Hadis di atas menunjukkan bahwa, Allah menyuruh manusia untuk berpuasa tidak ada lain supaya menjadi baik. Ibadah puasa mengandung makna yang multi dimensi. Salah satunya adalah ajaran puasa untuk tidak makan dan minum atau mengkonsumsi apa saja selama lebih kurang 13 jam yang dilakukan secara berulang-ulang ternyata akan membentuk perilaku baru

36 Aslim D. Sibatang, Hubungan Puasa Dengan Kesehatan Jasmani dan Rohani,

Srigunting, Jakarta, 2001, him. 250

37 M. Thalib, Panduan Kuliah Ramadhan, CV Ramadhan, Solo, Pustaka LSI, Yogyakarta, 1993, hlm.75

yaitu terjadinya proses aktualisasi sifat kecerdasan pada manusia.38 Maka setelah berpuasa yang di dalamnya ada rasa keprihatinan pada kemudian hari muncul pemikiran jernih yaitu berani berbuat baik dengan sesama makhluk terutama pada manusia.

38 M. Ridwan Lubis, Puasa Sebagai Upaya Pencerahan Fungsi Kemanusiaan, Srigunting, Jakarta, him 101

Dokumen terkait