• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV : ANALISA DATA

LAND ASAN TEORI

A. Puasa Ramadhan

1. Makna puasa

Pada umumnya puasa dalam agama-agama terdahulu dilakukan sebagai tanda berkabung, kemalangan dan duka cita.1 2 Maksudnya bahwa mereka akan berpuasa ketika menerima musibah hal ini tampak misalnya pada agama Yahudi di mana Nabi Daud menjalankan puasa tujuh hari ketika anaknya masih kecil yang sakit seperti termaktub dalam kitab 11, 12, 16, 18. Juga dalam kitab Samuel 1:31-13 puasa disebut sebagai tanda

•> berkabung.

Islam membawa makna/ konsep baru tentang puasa. Puasa bukan pertanda duka cita, kemalangan atau berkabung dan bukan pula untuk peredam kemurkaan Tuhan serta memohon kasih sayang-Nya.3 Puasa dalam Islam mempunyai makna yang mulia. Puasa dijalankan sebagai suatu ibadah kepada Allah untuk mencapai derajat muttaqin yaitu mencapai derajat rohani yang tinggi. Puasa dalam Islam Merupakan arena tertinggi bagi jasmani, akhlak dan rohani manusia. Makna ini agak berbeda dengan makna kifarat yang disebutkan dalam Al-Qur'an.

Bagi orang yang melakukan puasa dengan ikhlas tentu mereka dapat dikatakan telah membuktikan imannya kepada Allah. Karena iman

1 Proyek Pembinaan Prasarana Perguruan Tinggi Agama/ LAIN, Ilmu Fiqh, Cet. Ke-2, Jakarta, 1983, him. 278

2 Kitab Suci Perjanjian Lama, Nusa Indah, Flores, NTT, cet. III, 1988, him. 451. J Proyek Pembinaan Prasarana Perguruan Tinggi Agama/ IAIN, op.cit, him. 279

itu bukan hanya diucapkan dengan lidah tetapi juga harus diikrarkan dalam

qalbu kemudian dalam perbuatan.4 Maka seseorang yang seperti itu ialah seseorang yang memiliki integritas. Pada dasarnya kehidupan adalah nama lain bagi "peperangan" antara desakan-desakan hawa nafsu saja yang selalu menang sebagaimana yang diduga oleh kebanyakan manusia.5 Tetapi bisa juga kalah ketika kita bentengi diri kita dengan iman. Keimanan inilah yang mendorongnya untuk menentang hawa nafsu kita, terutama nafsu seksual yang sudah kita ketahui bahwa nafsu tersebut adalah senjata setan yang paling ampuh untuk menundukkan manusia, sehingga para psikolog menganggap bahwa ia adalah penggerak utama semua perilaku manusia.

Puasa berpengaruh mematahkan gelora syahwat ini dan mengangkat tinggi nalurinya, khususnya jika terus menerus melakukan puasa dengan mengharap ridha dari Allah, karena itu Rasulullah SAW memerintahkan puasa kepada pemuda yang belum mampu menikah, hingga Allah melimpahkan karunia-Nya.6

Semua orang mengetahui bahwa menahan diri dari makanan dalam beberapa hari itu adalah berguna bagi kesehatan, karena manusia telah berlebih-lebihan di dalam makan dan minuman, sehingga mereka diserang penyakit-penyakit baik badan maupun mental. Itulah sebenarnya makna yang terkandung dalam puasa jika kita mau meresapi dengan sungguh- sungguh.

4 Nasrudin Razak, Dienul Islam, PT Al-Ma’arif, Bandung, 1996, hlm.204 5 Al-Hasan Anadwi, Empat Sendi Agama Islam, Rineka Cipta, 1992, him 212 6 Yusuf Qordawi, Fiqh Puasa, Era Intermedia, Pajang Solo, 2007. him 24-25

Sebagaimana arti puasa dalam bahasa Arab “shaumun” artinya menahan diri dari segala sesuatu, maka berdasarkan dari asal katanya, nabi telah meletakkan nilai-nilai yang sebenarnya tentang puasa. Beliau bersabda : “Bukanlah puasa itu sekedar menahan diri dari segala perbuatan kotor dan keji”. Dari hadis nabi tersebut dapat kita ambil sebuah pelajaran bahwa sebenarnya puasa itu mengandung makna yang luas yaitu selalu menjaga hubungan dengan baik dengan Allah yaitu melaksanakan perintah Allah yang berupa ajaran-ajararan yang wajib maupun sunah, dan juga menjalin hubungan baik dengan sesama yaitu menjaga hawa nafsu kita, serta menahan dari perkataan yang menyakitkan orang lain dan mencaci maki.

2. Syarat dan Rukun Puasa

Bahwa setiap manusia beragama Islam wajib hukumnya melaksanakan puasa Ramadhan sesuai dengan nash Al-Qur'an dan hadist Nabi SAW.

a. Syarat wajib puasa a. Islam

b. Baligh (umur 15 tahun keatas ) atau ada tanda yang lain, anak-anak tidak wajib berpuasa

c. Berakal (orang gila tidak wajib berpuasa) d. Mampu (artinya bahwa kuat berpuasa)

Empat syarat tersebut perlu dikaji yaitu ukuran baligh bagi seseorang ada empat hal: pertama, keluar mani baik dengan mimpi

maupun dengan yang lainya, kedua, tumbuhnya bulu di sekitar kemaluan, ketiga, genap usia 15 tahun bagi laki-laki, yang keempat, sudah haid bagi wanita, maka wajib baginya berpuasa walaupun ia haid sebelum 10 tahun.7

Sedangkan syarat sahnya puasa ada 4: 1) Islam (puasa tidak sah dilakukan orang kafir)

2) Mumayiz yaitu orang dapat membedakan yang baik dan yang buruk

3) Suci dari haid dan nifas

4) Waktu yang layak untuk berpuasa.8 b. Rukun puasa

a. Niat

Yang dimaksud niat di sini adalah, berniat melaksanakan ibadah demi melaksanakan perintah Allah dan taqorrub kepada- Nya.

Sebagian orang terkadang menahan diri dari kegiatan makan dan minum dari fajar hingga magrib, bahkan lebih dari itu, akan tetapi untuk tujuan olahraga, mengurangi berat badan, atau semisalnya. Sebagian ada juga yang mogok makan untuk menuntut sesuatu hal yang mengancam akan bunuh diri secara perlahan, sebagaimana banyak dilakukan oleh para penghuni penjara dan demonstran.

7 Sulaiman Rasyid, Fiqih Islam, Cet ke-4, Sinar Bulan Baru Algensindo, Bandung, him. 186

Semua itu bukanlah puasa yang sya r’i, karena haus dan lapar yang mereka alami tidak diniatkan untuk meraih ridha Allah dan untuk mendapatkan pahala-Nya. Allah SWT tidak menerima ibadah, kecuali dengan disertai niat.

Allah SWT berfirman dalam surat Al- Bayinah: 5.

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allan dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus ” (Al-Bayinah: 5)9

b. Menahan diri dari hal yang membatalkan sejak terbit fajar sampai terbenam matahari.10

3. Hal-Hal Yang Mengurangi Nilai Puasa

Di samping ketentuan yang menyebutkan hal-hal yang dapat membatalkan puasa, tetapi mengurangi nilai puasa yaitu:

a. Bila meninggalkan hal-hal yang sunah dan dianjurkan untuk dilaksanakan oleh seseorang yang menjalankan puasa

b. Bila mata, mulut, telinga, tangan dan kaki tidak dikekang untuk melihat, mendengar dan mengambil atau berjalan kepada hal-hal yang kurang baik

c. Bila hati tidak sepenuhnya tertuju kepada Allah SWT dalam menjalankan ibadah puasa.11 Maka tidak ada artinya puasa seseorang

9 Departemen Agama RI, Al-Qur'an dan Terjemahnya, Toha Putra, Semarang, Edisi Baru Refisi Terjemah, 1989, him. 1084

10 Sulaiman Rasyid, op.cit., him. 230 11 AI-Hasan Nadwi, op.cit. him. 212

yang mengarahkan maksud dan pengarahannya kepada selain Allah. Tidak ada pula arti puasa bagi orang yang menceritakan kesalahan, mengupayakan fitnah dan tipu daya serta memerangi Allah dan Rasul- Nya di dalam lingkungan kaum mukminin.

4. Kesempurnaan Puasa

Dapat dikategorikan menjadi 3 tingkatan yaitu: a. Puasa Umum

Puasa umum adalah menahan perut dan kemaluan dari segala sesuatu yang mengurangi nilai puasa dan yang membatalkan puasa

b. Puasa Khusus

Puasa khusus adalah menahan pandangan, penglihatan, lidah, tangan, dan kaki dari dosa-dosa.

c. Puasa Khususul Khusus

Puasa ini adalah puasanya hati dari cita-cita yang rendah dan fikiran- fikiran duniawi, dan mencegah hati dari apa yang selain Allah SWT secara keseluruhan.12

Dari ketiga tingkatan tersebut di atas maka nilai kesempurnaan puasa juga akan berbeda-beda dengan tingkatan yang lain. Dalam pembahasan ini penulis hanya akan membahas puasa khususul khusus

Kesempurnaan puasa ini ada 4 hal di antaranya:

a. Memejamkan dan menahan mata dari melebarkan pandangan kepada segala sesuatu yang tercela dan dibenci Allah SWT.

b. Memelihara lidah dari berbicara tanpa arah, dusta, menggunjing, mengumpat, berkata buruk, permusuhan dan pertengkaran dan melazimkan diam dan sibuk dengan mengingat Allah yang maha suci dan membaca kitab Al-Qur'an.

c. Menahan pendengaran dari mendengarkan segala sesuatu yang makruh, karena segala sesuatu yang haram diucapkan adalah haram pula didengarkan. Oleh karena itu Allah menyamakan orang yang mencari pendengaran dengan pemakan barang haram.

d. Menahan seluruh anggota badan baik kaki maupun tangan dari dosa- dosa dan makruh. Dan menahan perut dari segala yang subhat pada waktu berbuka puasa, maka tidak ada artinya jika puasa itu mencegah dari makanan yang halal kemudian berbuka dengan barang yang haram.13

5. Macam-Macam Puasa

Macam-macam puasa diantaranya: a. Puasa Wajib

Puasa ini terdiri dari 3 macam yaitu:

1) Puasa yang diwajibkan karena waktu tertentu, yakni puasa pada bulan Ramadhan

2) Puasa yang disebabkan karena suatu sebab (I ’llat) yaitu puasa kafarat.

3) Puasa yang diwajibkan karena seseorang mewajibkan puasa kepada dirinya sendiri yakni puasa nadzar

b. Puasa Haram „

Tidak semua puasa terpuji dan dituntut dalam Islam. Puasa adalah ibadah dan ibadah tidak bisa diterima sesuai dengan ketetapan syariat. Apapun yang dilarang syariat, bukanlah ibadah, tetapi maksiat. Ini jika pelarangannya bersifat larangan yang tegas. Jika larangan itu tidak tegas sifatnya, maka pengamalannya bersifat makruh/ haram. Sedangkan sesuatu yang tidak disyariatkan dan tidak diperintahkan, maka ia bukanlah ibadah, bahkan ia adalah b id ’ah.{4

Puasa jenis ini adalah:

1) Puasa sunah (nafilah) seorang perempuan yang tanpa ijin suaminya.

2) Puasa pada hari yang diragukan

Yaitu puasa pada hari ketiga puluh bulan sya’ban 3) Puasa pada hari raya dan hari tasyrik

Seperti; puasa dua hari raya: Idul Fitri, yakni hari pertama bulan Syawal dan Idul Adha, yakni hari kesepuluh bulan dzulhijah, hari tasyrik yaitu hari ke-11,12 dan 13 dari bulan dzulhijah

4) Puasa wanita yang sedang haid atau nifas hukumnya haram dan tidak sah 14

c. Puasa Makruh (dahr)

Maksudnya dari puasa dahr adalah puasa terus menerus tanpa sela.15 Seperti puasa yang dikhususkan pada hari Jum’at atau Sabtu saja. d. Puasa sunah

Misal: puasa Senin Kamis, puasa 6 hari di bulan Syawal, puasa hari Arafah, puasa Daud (puasa sehari dan berbuka sehari) dan lain-lain.16 6. Hikmah puasa

Puasa menjanjikan para pelakunya satu posisi yang istimewa dengan sebutan muttaqin. Gelar ini hanya Allah yang berhak memberi, akan tetapi bagi mereka yang berhasil meraihnya. Tingkah laku positif yang tercermin dalam sikap dasar dan hubungan manusia kesehariannya. Ada beberapa indikasi bahwa puasa mempersiapkan manusia yang berkualitas.

Pertama, puasa mempertebal kedekatan diri kepada Allah, kekhusukan dalam rangka meraih keridhaannya ini didasarkan pada niat tulus sehingga setiap perilakunya, mencerminkan cinta kepada Allah.

Kedua, puasa mampu mengatasi nafsu besar sekaligus menempatkannya pada posisi yang sesuai dengan petunjuk agama. Penyair muslim terkenal di abad pertengahan penulis Nadzam Burdah, mendendangkan bagaimana cara mengendalikan nafsu: “Nafsu itu bagaikan bayi jika engkau menyusu ibunya, dia akan menyusu ibunya sampai entah kapan. Akan tetapi, jika engkau disiplin memberhentikanya (nyapih-jawa), dia pun berhenti juga”.

15 Ibid, 213

Ketiga, puasa mendorong pelakunya untuk bersikap kasih sayang terhadap sesama yang dibuktikan dengan darma bakti sosial. Tatkala ia lapar ingatlah dia pada kaum lemah, sehingga waktu ia makan tidak berlebih-lebihan, keempat, puasa mengandung ajaran persamaan, ia tidak membedakan antara orang kaya dan orang miskin, pejabat dengan kaum awam, semuanya harus tunduk pada peraturan yang universal, yang membedakan mereka hanya kadar iman dan taqwanya kepada Allah SWT.

Kelima, puasa mengajarkan disiplin yang luar biasa karena melibatkan lahir batin. Jiwa raga terlatih sedemikian rupa sehingga orang ikhlas berpuasa mampu mengemban tugas-tugas berat. Keenam, puasa menambah kekebalan seseorang terhadap penyakit organ-organ tubuh yang bekerja selama setahun membutuhkan istirahat. Ketujuh, puasa bukan menggambarkan manusia sengsara, melainkan manusia mencapai kebahagiaan yang hakiki, perang terhebat adalah melawan hawa nafsu. Melalui puasa seseorang akan terlatih untuk alternatif terbaik antara emosional dan intelektual.17

Dokumen terkait