Usahausaha dalam djangka pandjang dan djangka pendek untuk mentju kupi perumahan bagi: a. pegawai sipil dan militer. b. Pendirian kantorkantor pemerintah. c. rakjat (kota dan desa) d. persediaan dan pemakaian bahanbahan untuk perumahan. Perluasan Kotakota jang perlu.
Perentjana Kotakota baru, termasuk rentjana IBUKOTA R. I., kota kota satelit, pembangunan pedusunan dan desadesa baru. Masalah: Perumahan Pegawai sipil dan militer Pendirian Kantor2 Pemerintah. Perumahan Rakjat (Kota dan desa) Persediaan dan pemakaian bahan untuk perumahan. tidak dapat ditindjau atau dipetjahkan terlepas dari pada: Masalah: Perluasan kotakota jang perlu. Perentjanaan kotakota baru, termasuk
rentjana IBUKOTA R.I., kotakota satelit, pembangunan pe dusunan dan desadesa baru.
Oleh karena dalam Pembangunan Semesta tahapan pertama hampir seluruh tenaga akan dipusatkan kepada pembangunan ekonomi dan pembangunan peramahan/gedung2 lainnja hanja akan dapat dilakukan se djauh sesuatu adalah bagian mutlak dari projek2 ekonomi atau bilamana sesuatu dapat dibiajai daripada keuangan2 jang tidak diambil dari pem biajaan Projek2 Ekonomi itu, maka dari sekarang telah nampak bahaja, bahwa seluruh pembangunan perumaban/gedung2 lainnja tidak akan sesuai dengan rentjana jang bersifat overall dan bertanggung djawab, melainkan berupa pembangunan2 sekelompok2 jang tidak ada hubungan satu sama lain, baik ditilik dari sudut planologi, maupun dari sudut ekonomis, apalagi ditilik dari sudut kebudajaan nasional (arsitectonis). Sebabnja ialah, bahwa hingga saat ini belum ada rentjana pembangunan kotakota, daerah2 pe dusunan atau desadesa jang bersifat overall dan tjukup gedetailleerd dan pembangunan kotakota kita selama ini hanja berupa landjutan daripada rentjana2 lama, setelah disesuaikan sekedarnja dengan kebutuhan2 terachir. Akan tetapi perentjanaan2 jang memperhitungkan hari kemudian Indonesia untuk 100 — 500 tahun jang akan datang belum ada pada dewasa ini.
Masalah perentjanaan perluasan kota2 jang perlu, kotakota baru, IBU KOTA, kotakota satelit, pembangunan pedusunan2, desadesa baru adalah terlalu luas dan complex sifatnja untuk dikerdjakan oleh alat2 Peme rintah Pusat dan Daerah jang ada sekarang, karena alat2 tersebut sangat ku rangnja dan seharihari telah terlibat dalam pelaksanaan tugas2 routine, se hingga kesempatan untuk memikirkan dan mentjiptakan rentjana2 besar dan melihat djauh kedepan sesungguhnja tidak ada sama sekali.
Berhubung dengan uraian diatas, maka untuk mendjamin baiknja dan tepatnja perkembangan pembangunan kota2 di Indonesia, maka pertama tama Djawatan Planologi Pusat harus segera diperbesar dan diperkuat dengan tenaga2 kenamaan dan jang berwatak geniaal dan dalam hal ini Pe merintah tidak boleh rage2 menarik tenaga2 dari Luar Negeri dengan membajar honorarium2 internasional, bila bantuan melalui P.B.B. tidak memuaskan atau tidak setaraf dengan kebutuhan2 sebenarnja.
Dalam hubungan ini perlu disediakan sedjumlah biaja dalam devie zen dan bukan sadja dalam rupiah.
Untuk melantjarkan pekerdjaan perentjanaan perluasan2 atau perbaikan2 Kota, maka di Kota2 Besar harus ditetnpatkan suatu team perentjana Kota jang teknis dikoordineer oleh Djawatan Planologie Pusat akan tetapi admi nistratip adalah alat daripada Kotapradja2 jang bersangkutan.
Pun untuk Kabupaten2 harus disediakan team2 perentjana kota2 ketjil dan pedusunan serta desadesa.
Dengan demikian aspirasi berbagai Daerah akan dapat tertampung sebaikbaiknja.
Untuk perentjanaan IBUKOTA R.I. dan perkembangan dan per baikan2 Kota Djakarta Raya harus dibentuk suatu Kantor istimewa jang setjara administratip mendjadi alat dari Kotapradja Djakarta Raya, akan tetapi setjara teknis dikoordineer oleh Djawatan Planologi Pusat. Maka sebelum tahun 1960 berachir harus sudah direaliseer; a) Perluasan dan perkuatan Djawatan Planologi Pusat; b) Kantor Perentjana IBUKOTA R.I. jang mempunjai ahli2 termasjhur dan ternama, dan bertugas menjusun rentjana Pembangunan IBUKOTA R.I. Berta rentjana perkembangan dan perbaikan2, KOTA DJAKARTA RAYA, hingga daerah2 sekelilingnja (djurusan Tanggerangdjurusan Pantai2, djurusan Krawang dan djurusan Bogor). Perumusan diatas mengandung idee pembentukan kota kedudukan Pemerintah Pusat R.I. disamping IBUKOTA sebagai Kota Indonesia jang terbesar dan berupa pemusatan kegiatan manusia jang terbesar pula (DJAKARTARAYA);
c) Team2 Perentjana Kota serta pedusunan untuk tiap2 IBU Kota Daswati I. Team2 Perentjana untuk Kota2 Iainnja serta Daswati' II dibentuk setjara berangsur' selama tahun2 1961 dan 1962.
Tudjuan Kantor dan team2 Perentjana tersebut diatas ialah penjelesaian seluruh rentjana2 IBUKOTA2, Kota2 pedusunan dan desa2, baik berupa pembangunan2 baru maupun berupa perluasan2 atau perbaikan2 jang telah ada, dalam hubungan erat serta sesuai dengan perentjanaan dan pembangun an ekonomi nasional, harus sudah terbentuk paling lambat pada achir tahun 1965, agar supaja mulai tahun 1966 seluruh pembangunan dapat dikendali kan setjara integraal, baik jang bernaung dibawah tata pembangunan sosial ekonomi (,,socioeconomic development planning") maupun jang bernaung dibawah tata ruang pembangunan („physical development planning").
Sudah barang tentu, bahwa sesuai dengan jang telah dinjatakan dalam Laporan SEKSI KEMASJARAKATAN, dalam pada itu harus sudah di realisir pula produksi bahwn' pembangunan jang effisien serta ekonomis dalam artikata jang termodern, jakni melalui research jang tersebar diseluruh
tanah air dan melalui penaklukan alam dengan tiaras ilmiah dan bila perlu melalui pembelian pengetaltuan2 teknis (penemuan2 jang dilindungi oleh hak ,,patent' tsb) dari dunia internasional. Pun keadaan2 specifik jang ter dapat diberbagai daerah harus diperhitungkan sepenuhnja, tanpa keketjuali an.
Untuk menetapkan bahan2 atau dasar2 penjusunan rentjana bagi semua team2 perentjana, baik di Pusat maupun di Daerah2, harus segera dibentuk Panitia Keahlian Perentjanaan Istimewa, sebelum Pola Pembangunan se mesta tersusun atau segera setelah hari tg. 17 Agustus 1960, agar supaja semua fikiran2 para ahli dapat dihimpun, sebelum pekerdjaaan perentjana an dimulai.
"Biaja2jang dibutuhkan pada achir tahun 1960 untuk realisasi perluasan Badan2 dan team2 Perentjana jang dimaksudkan diatas dapat ditaksir sebagai berikut: a) Perluasan dan perkuatan Djawatan Planologi Pusat: Belandja Kantor Rp. 12.000.000,— + $ 1.000.000,— Honorarium para 24.000.000,— + $ 1.000.000,— ahli Perluasan Gedung : Rp. 6000.000,— +__________________ Djumlah Rp. 42.000.000,— + $ 2.000.000,— b) Kantor Perentjana IBUKOTA. R.I. Gedung I tanah Rp. 10.000.000,— Pegawai assisten Rp. 2.000.000,— Pegawai bawahan Rp. 2.000.000,— Pegawai pengukuran pekarangan2 Rp. 5.000.000, honorarium ahli' Rp. 12.000.000,— + $ 1.000.000,— Djumlah Rp. 31.000.000,— + $ 1.000.000,— c) Team2 Perentjana Kota serta pedusunan untuk tiap2 IBUKOTA DAS WATT I Ditaksir Rp. 200.000.000,— + $ 2.000.000,— Biaja untuk tahun: 1960 mendjadi : Rp. 271.000.000,— + $ 4.000.000,— 1961 ditaksir (+ Daswati2 II) : Rp. 300.000.000,— + $ 8.000.000,— 1962 : Rp. 300.000.000,— + $ 8.000.000,— 1963 (ditaksir seluruh bekerdja) : Rp. 300.000.000,— + $ 8.000.000,— 1964 „ : Rp. 300.000.000,— + $ 8.000.000,— 1965 „ : Rp. 300.000.000,— + $ 8.000.000,— Djumlah Rp. 1.771.000.000,— + $ 44.000.000,— 4309
MASALAH ANAK TERLANTAR DI INDONESIA.