• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANDASAN TEORI A.Tinjauan Pustaka

2) Kesegaran Jasmani yang Berhubungan dengan Keterampilan

commit to user

Kesusksesan atau berprestasi yang tinggi dalam olahraga diperlukan lebih dari sekedar suatu tingkat optimal kesegaran jasmani yang berkaitan dengan kesehatan, tetapi perlu dukungan dari kesegaran jasmani yang berhubungan dengan keterampilan. Kesegaran jasmani yang berhubungan keterampilan ini sangat bergantung keadaan dan berfungsinya kondisi fisik. Kesegaran ini merupakan gabungan dari berbagai faktor kondisi fisik seperti, kecepatan, daya ledak (power), keseimbangan, kelincahan, koordinasi dan kecepatan reaksi. Unsur-unsur kesegaran jasmnai yang berhubungan dengan keterampilan diuraikan sebagai berikut:

a) Kecepatan

Kecepatan merupakan kualitas kondisional yang memungkinkan seseorang olahragawan untuk bereaksi secara cepat bila diransang dan untuk menampilkan atau melakukan gerakan secepat mungkin. Berkaitan dengan kecepatan Andi Suhendro (1999: 4.20) menyatakan, “Kecepatan adalah kemampuan seseorang untuk melakukan gerakan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya”. Jadi, kecepatan adalah kemampuan seseorang untuk mengerjakan gerakan berkesinambungan dalam bentuk yang sama dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

Kecepatan dapat pula didefinisikan sebagai laju gerak yang berlaku untuk tubuh baik secara keseluruhan maupun bagian tubuh. Seseorang yang memiliki kecepatan maka tingkat mobilitas dalam kerjanya akan lebih baik. Bagi anak usia sekolah kecepatan yang dimiliki juga memegang peranan penting untuk melakukan aktivitas belajar, bermain baik di sekolah maupun dirumah. Anak pada dasarnya adalah individu yang cukup dinamis. Untuk mempertahankan tingkat mobilitasnya, anak memerlukan kecepatan gerak yang baik.

b) Power

Power disebut juga kekuatan eksplosif yaitu menyangkut kekuatan dan kecepatan kontraksi otot yang dinamis dan eksplosif serta melibatkan pengeluaran kekuatan otot yang maksimal dalam waktu yang secepat mungkin. Power

commit to user

merupakan perpaduan dari dua unsur utama yaitu kekuatan dan kecepatan. Kualitas power akan tercermin dari unsur kekuatan dan kecepatan yang dalam pelaksanaannya dilakukan dalam waktu yang singkat. KONI (1993: 26) menjelaskan, “Power adalah kemampuan otot untuk menggerahkan kekuatan maksimal dalam waktu yang sangat cepat”. Menurut Imam Hidayat (2003: 280) bahwa, “Daya ledak.power ialah besarnya kekuatan yang dikerahkan dengan kecepatan”.

c) Keseimbangan

Keseimbangan merupakan kemampuan untuk mempertahankan sistem neuromuscular dalam kondisi statis atau mengontrol sistem neuromuscular tersebut dalam suatu posisi atau sikap yang efisien selagi bergerak. Berkaitan dengan keseimbangan Suharno HP. (1993: 66) menyatakan, “Keseimbangan adalah kemampuan atlet untuk mempertahankan keseimbangan badan berbagai keadaan tetap seimbang”. Menurut M. Sajoto (1995: 9) bahwa, “Keseimbangan (balance) merupakan kemampuan seseorang mengendalikan organ-organ syaraf otot”.

Keseimbangan merupakan kemampuan seseorang mengendalikan organ-organ syaraf otot selama melakukan gerakan-gerakan cepat, baik dalam keadaan statis maupun dinamis. Keseimbangan juga dapat diartikan kemampuan mempertahankan sikap tubuh yang tepat pada saat melakukan gerakan. Keseimbangan yang dimiliki oleh seseorang tergantung pada kemampuan integrasi antara kerja indra penglihatan, kanalis, semi sirkularis pada telinga dan receptor

otot.

d) Kelincahan

Kelincahan merupakan komponen yang sangat penting dalam penampilan seseorang. Kelincahan adalah kemampuan seseorang mengubah posisi di arena tertentu. Menurut Iskandar Z. Adisapoetra, dkk. (1999: 6) bahwa, "Kelincahan adalah kemampuan untuk mengubah arah atau posisi tubuh dengan cepat yang dilakukan bersama-sama dengan gerakan lainnya". Seseorang yang memiliki kemampuan merubah arah dari satu posisi tertentu ke posisi yang berbeda dengan kecepatan tinggi dan dengan koordinasi yang baik, berarti memiliki kelincahan

commit to user

yang cukup tinggi. Kelincahan tidak hanya diperlukan dalam olahraga tetapi juga situasi kerja dan kegiatan rekreasi.

e) Koordinasi

Koordinasi merupakan suatu kemampuan biomotorik yang sangat kompleks. Karakteristik koordinasi sangat unik. Koordinasi memainkan peranan yang khusus terhadap mobilitas fisik. Koordinasi bukan merupakan kemampuan fisik tunggal, akan tetapi tersusun dari dan saling berinteraksi dengan kualitas-kualitas fisik yang lain. Bompa dalam Harsono (1988: 219) menyatakan “Koordinasi sangat erat hubungannya dengan kecepatan, kekuatan, daya tahan dan fleksibilitas. Menurut M. Sajoto (1995: 9) bahwa, “Kordinasi adalah kemampuan seseorang mengintegrasikan bermacam-macam gerakan yang berbeda ke dalam pola gerakan tunggal secara efektif”.

Koordinasi merupakan kemampuan seseorang mengintegrasikan bermacam-macam gerakan tunggal secara efektif. Koordinasi menyatakan hubungan yang harmonis dari berbagai faktor yang terjadi pada suatu gerakan. Kemampuan koordinasi merupakan unsur dasar yang baik dalam menyelesaikan tugas dalam kehidupan sehari-hari.

e) Waktu Reaksi

Waktu reaksi adalah lamanya waktu yang dibutuhkan untuk menanggapi rangsangan yang diterima oleh indera. Semua informasi yang diterima indera baik dari dalam atau dari luar disebut rangsang. Indera akan mengubah informasi tersebut menjadi impuls saraf dengan bahasa yang dipahami oleh otak. Berkaitan dengan waktu reaksi Ismaryati (2006: 72) menyatakan, “Waktu reaksi adalah periode antara diterimanya rangsang (stimuli) dengan permulaan munculnya jawaban (respon)”. Sedangkan Mulyono B. (2009: 57) berpendapat, “Waktu reaksi adalah lamanya waktu antara perangsangan dan respon”. Secara umum, waktu reaksi dikenal sebagai latensi respons (respone latency) yaitu waktu yang berlalu diantara pemberian stimulus dan munculnya respon. Dengan kata lain, waktu reaksi adalah waktu yang diperlukan untuk suatu respon yang tampak (overt)

commit to user

untuk memulainya. Waktu reaksi menggambarkan kecepatan seseorang untuk dapat merasa dan memberi respon terhadap lingkungan, yaitu waktu reaksi yang pendek dapat disamakan dengan suatu kecepatan reaksi yang tinggi.

c. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesegaran Jasmani

Menurut Junusul Hairy (1989: 56) bahwa, “Kebugaran jasmani bergantung pada dua faktor dasar, yaitu kebugaran organik dan kebugaran dinamik. Kedua faktor tersebut sangat penting di dalam kebugaran jasmani secara keseluruhan, dan interaksi di antara keduanya menentukan tingkat kebugaran jasmani seseorang”

Kebugaran organik adalah kekhususan yang dimiliki seseorang yang bersifat keturunan, yang diwarisi dari orang tuanya, dipengaruhi oleh umur, dan mungkin keadaan sakit yang menetap atau kecelakaan. Keadaan yang berhubungan dengan organisme ini sifatnya statis, dan sulit bahkan tidakmungkin untuk diubah mislanya: tinggi badan, panjang lengan, bentuk tubuh secara keseluruhan, atau cacat tubuh yang dibawa sejak lahir maupun karena sakit yang menahun. Tingkat kebugaran organik menentukan potensi kebugaran jasmani keseluruhan.

Kebugaran dinamik, istilah ini biasanya digunakan untuk hal-hal yang mengarah kepada kesiapan dan kapasitas tubuh untuk bergerak dan bertindak dalam tingkatan tertentu sesuai dengan situasi yang dihadapi. Banyak variabel yang terkait dengan kebugaran dinamik ini di antaranya adalah jantung, paru dan otot. Kebugaran dinamik ini dapat dikembangkan atau ditingkatkan dengan melakukan latihan.

Pada dasarnya kebugaran jasmani tidak berdiri sendiri, tetapi dipengaruhi oleh banyak faktor. Dangsina Moeleok dan Arjatmo Tjokronegoro (1984: 1-4) menyatakan faktor-faktor yang mempengaruhi kebugaran jasmani yaitu: “ (1) keturunan (genetik), (2) usia, (3) jenis kelamin, (4) aktivitas fisik”. Menurut Sarwono, Ismaryati dan M. Mariyanto (2000: 10) bahwa:

Kebugaran jasmani tidak berdiri sendiri, tetapi dipengaruhi oleh faktor-faktor: (1) kesehatan perorangan, (2) diet makanan, (3) pemeliharaan gigi, (4) latihan, (5) jenis pekerjaan, (6) permainan dan rekreasi, (7) istirahat dan tidur, (8) penghindaran dari penyakit, (9) intelektual (10) emosi dan sosial,

commit to user

(11) umur dan jenis kelamin, (12) kedewasaan, dan (13) daya tahan terhadap penyakit”.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kebugaran jamsani tersebut penting untuk diperhatikan dalam usaha menjaga dan memelihara kebugaran jasmani seseorang. Faktor-faktor tersebut merupakan satu kesatuan yang saling berkaitan untuk mencapai kebugaran jasmani secara total.

d. Manfaat Kesegaran Jasmani

Kebugaran jasmani mutlak dibutuhkan bagi setiap orang. Kebugaran jasmani merupakan unsur dasar yang harus dimiliki siswa dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari. Seseorang yang memiliki kebugaran jasmani yang baik, dapat melakukan tugasnya sehari-hari dengan baik pula, sebaliknya siswa yang memiliki kebugaran jasmani yang kurang baik, maka ia tidak dapat melakukan tugasnya dengan baik pula. Santoso Giriwijoyo (1991: 63) menyatakan, “Dihubungkan dengan kegiatan studi yang cukup berat dan pencapaian prestasi akademis yang memerlukan dukungan kemampuan kerja fisik, maka rendahnya kapasitas kerja fisik dapat menjadi penghambat untuk mencapai sukses. Disinilah antara lain sumbangan olahraga bagi para siswa atau mahasiswa yaitu untuk meningkatkan kemampuan kerja fisiknya”. Pendapat lain dikemukakan Mulyono Biyakto Atmojo. (1997: 64) bahwa, “Berdasarkan fungsinya, physical fitness ternyata merupakan kebutuhan bagi pelajar, yang berarti menjadi masalah sekolah dan para pendidiknya, khususnya guru olahraga”.

Berdasarkan pendapat tersebut diketahui bahwa, kebugaran jasmani memiliki manfaat yang besar. Dengan kebugaran jasmani siswa akan mampu melaksanakan tugas dalam belajar tanpa ada kelelahan yang berarti dan masih mampu melakukan aktivitas lainnya. Selain itu, dengan tubuh yang bugar siswa mampu berfikir secara jernih, penuh kreativitas dan memiliki semangat yang tinggi untuk menyelesaikan segala tugas studinya, sehingga dapat mendukung pencapaian prestasi belajarnya lebih optimal.

commit to user

Kebugaran jasmani merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi setiap orang. Kualitas kebugaran jasmani yang dimiliki seseorang akan sangat berpengaruh terhadap penampilan geraknya dan produktivitas kerjanya. Upaya menjaga kebugaran jasmani adalah melakukan kegiatan olahraga secara teratur. Djoko Pekik Irianto (2004: 8) menyatakan, “Berolahraga adalah salah satu alternatif paling efektif dan aman untuk memperoleh kebugaran. Berolahraga secara teratur mempunyai multi manfaat antara lain manfaat fisik (meningkatakan komponen kebugaran), manfaat psikis (lebih tahan terhadap stress, lebih mampu berkonsentrasi) dan manfaat sosial (menambah percaya diri dan sarana berinteraksi)”.

Kegiatan olahraga yang bertujuan untuk meningkatkan kebugaran jasmani yaitu dengan memberikan pembenan pada jantung dan paru. Hal ini karena, tingkat kebugaran jasmani seseoragn akan tercermin dari kemampuan kerja jantung dan paru-paru. Jika kerja jantung dan paru-paru baik maka akan diperoleh tingkat kebugaran jasmani yang baik pula. Cooper yang dikutip Sudarno SP. (1992: 64) menyatakan, "Untuk membina kesegaran jasmani, kita harus memberi beban kepada sistem kardiorespirasi. Latihan yang kita lakukan harus memberi beban kepada sistem jantung dan paru". Latihan yang sangat efektif untuk memberikan beban jantung dan paru adalah latihan aerobik. Latihan aerobik merupakan bentuk latihan yang memberi beban kepada sistem jantung dan paru, sehingga kapasitas jantung dan paru akan menjadi lebih baik. Marta Dinata (2003: 10) berpendapat:

Bentuk latihan aerobik dilakukan dengan intensitas rendah, sehingga dapat menimbulkan efisiensi kerja dari organ-organ tubuh, yaitu jantung dan paru-paru, serta sistem pernafasan. Dengan meningkatkan kapasitas aerobik maka cadangan tenaga menjadi lebih besar sehingga tubuh lebih mampu mempertahan kondisi fisik pada suatu aktivitas. Hal ini disebabkan pada latihan aerobik, sistem pamasukan oksigen berlangsung terus menerus dan seimbang dengan kebutuhan pembetukan energi.

Hal terpenting dan harus diperhatikan dalam latihan kebugaran jasmani adalah adanya tekanan terhadap jantung dan paru-paru untuk bekerja dalam waktu yang relatif lama pada suasana aerobik. Bentuk dan jenis olahraga yang efektif untuk memelihara dan meningkatkan kebugaran jasmani, di antaranya jogging, sepeda santai, dan jalan santai. Di samping melakukan jenis olahraga tersebut

commit to user

dapat pula dengan melakukan olahraga seperti sepakbola, bolabasket, renang, tenis, bulutangkis dan lain sebagainya.

Latihan aerobik yang dilakukan dengan intensitas rendah dalam waktu relatif lama dapat mendorong kerja jantung, peredaran darah dan paru-paru, sehingga dapat merangsang kemampuan kerja jantung, peredaran darah dan paru-paru ke arah yang lebih baik. Latihan aerobik yang dilakukan secara baik dan teratur akan memberikan perubahan-perubahan secara fisiologis. Latihan yang dilakukan secara teratur dan sistematis dapat meningkatkan kapasitas total paru-paru dan volume jantung. Hal ini terjadi sebagai akibat adanya rangsangan yang diberikan terhadap tubuh. Dengan demikian latihan olahraga yang dilakukan secara teratur akan meningkatkan kesegaran jasmani, sehingga penampilannya akan kelihatan selalu bugar.

Dokumen terkait