BAB 4. HASIL PENELITIAN
4.4 Efektifitas Promosi Kesehatan dengan Media Flip Chart dan
4.4.3 Perbedaan Efektifitas Promosi Kesehatan Media Flip
Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut
Perbedaan efektifitas promosi kesehatan media flip chart media poster terhadap pengetahuan, sikap dan tindakan sebelum dan sesudah promosi kesehatan tentang menjaga kesehatan gigi dan mulut dengan menggunakan uji Mann-Whitney adalah sebagai berikut:
Tabel 4.18 Efektifitas Promosi Kesehatan Media Flip Chart dan Media Poster terhadap Pengetahuan, Sikap dan Tindakan (Posttest I) Siswa tentang Menjaga
Kesehatan Gigi dan Mulut
Tidak terdapat perbedaan perubahan pengetahuan, sikap dan tindakan tentang menjaga kesehatan gigi da mulut antara media flip chart dengan media poster pada posttest I dengan nilai p > 0,05.
Tabel 4.19 Efektifitas Promosi Kesehatan Media Flip Chart dan Media Poster terhadap Pengetahuan, Sikap dan Tindakan (Posttest II) Siswa tentang Menjaga
Kesehatan Gigi dan Mulut
Tidak terdapat perbedaan perubahan pengetahuan, sikap dan tindakan tentang menjaga kesehatan gigi dan mulut antara media flip chart dengan media poster pada posttest II dengan nilai p > 0,05.
BAB 5 PEMBAHASAN
5.1 Efektifitas Promosi Kesehatan dengan Media Flip Chart dan Media Poster Dalam Peningkatan Pengetahuan Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut pada Siswa SDN 060799 dan SDN 060953 Medan Tahun 2015
Pengetahuan adalah hasil dari tahu, yang akan terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu, seperti melihat, mendengar, mencium, merasa, dan juga meraba. Namun, sebagian besar pengetahuan itu sendiri diperoleh melalui mata dan telinga. Jadi, dengan kata lain dari hasil mendengar dan juga melihat (Notoatmodjo, 2010). Salah satu cara meningkatkan pengetahuan sehingga menimbulkan kesadaran dan pada akhirnya orang akan berperilaku sesuai dengan pengetahuannya tersebut yaitu dengan promosi kesehatan.
Promosi kesehatan tentang menjaga kesehatan gigi dan mulut merupakan tindakan pencegahan primer sebelum terjadinya penyakit. Oleh karena itu promosi kesehatan harus dilakukan sejak dini terutama pada anak. Promosi kesehatan pada penelitian ini dilakukan dengan dua media yaitu media flip chart pada siswa SDN 060799 dan media poster pada siswa SDN 060953.
Media flip chart adalah media yang biasanya berbentuk buku, setiap lembar (halaman) berisi gambar yang diinformasikan dan lembar baliknya (belakangnya) berisi kalimat sebagai pesan atau informasi yang berkaitan dengan gambar tersebut (Maulana, 2009).
67
Hasil penelitian menunjukkan pengetahuan siswa pada promosi kesehatan dengan media flip chart terjadi peningkatan pengetahuan terutama pada waktu menyikat gigi dan hal yang dilakukan setelah makan dan minum manis. Jumlah responden yang menjawab benar pada pertanyaan waktu menyikat gigi dari 8 orang menjadi 17 orang dan hal yang dilakukan setelah makan dan minum manis dari 7 orang menjadi 16 orang. Pengetahuan siswa sebelum promosi kesehatan dengan media flip chart sebanyak 12 orang (60,0%) memiliki pengetahuan baik dan setelah dilakukan promosi kesehatan sebanyak 2 kali maka pengetahuan semua siswa yaitu 20 orang (100%) dalam kategori baik. Berdasarkan uji Wilcoxon didapatkan nilai p=0,000 dan p=0,020 maka dapat disimpulkan bahwa promosi kesehatan dengan media flip chart efektif untuk merubah pengetahuan.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Hanany (2007), yang memperlihatkan bahwa ada perbedaan daya tangkap siswa terhadap materi kesehatan gigi dan mulut antara metode penyuluhan dengan menggunakan media kartu cerdas dengan flip chart, perbedaan pengetahuan dengan media flip chart menunjukkan bahwa penyuluhan yang dilakukan dengan media flip chart dapat meningkatkan pengetahuan siswa tentang kesehatan gigi dan mulut. Hasil penelitian yang tidak jauh berbeda didapatkan oleh Nurhidayat (2012) yang mengungkapkan terdapat perbedaan peningkatan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut pada siswa sekolah dasar yang signifikan antara posttest kelompok I (media power point) dan kelompok kontrol (flip chart). Flip chart telah lama digunakan sebagai media
intervensi dan terbukti dapat meningkatkan pengetahuan dengan baik. Menurut Sharrar (2012) bahwa penyuluhan dengan menggunakan media flip chart dapat meningkatkan pengetahuan peserta dengan baik.
Penelitian Hyden et al. (2012) di Amerika menjelaskan bahwa terdapat perbedaan signifikan pengetahuan ibu setelah intervensi menggunakan media flip chart dan brosur. Terdapat peningkatan pengetahuan pada kelompok perlakuan dan kontrol yang berbeda nyata (p<0.05). Rata-rata skor pengetahuan kelompok intervensi 2,17 sedangkan kelompok kontrol 0,47.
Media poster adalah bentuk media yang berisi pesan-pesan atau informasi kesehatan yang biasanya ditempel di dinding, tempat-tempat umum, atau kendaraan umum. Biasanya bersifat pemberitahuan dan propaganda (Maulana, 2009). Poster dalam penelitian ini adalah berupa poster yang tidak ditempel untuk dijadikan media penyuluhan yaitu poster interaktif, dimana poster interaktif dapat berupa gambar dan tulisan yang penyampaiannya dipandu oleh petugas kesehatan untuk sekelompok orang. Menurut Depkes (2003) bahwa poster interaktif merupakan salah satu media yang dapat digunakan sebagai media penyuluhan.
Hasil penelitian menunjukkan pengetahuan siswa pada promosi kesehatan dengan media poster terjadi peningkatan pengetahuan terutama pada waktu menyikat gigi dan pasta gigi yang bagus. Jumlah responden yang menjawab benar pada pertanyaan waktu menyikat gigi dari 8 orang menjadi 20 orang dan pasta gigi yang bagus dari 11 orang menjadi 19 orang. Pengetahuan siswa sebelum promosi kesehatan dengan media poster sebanyak 12 orang (60,0%) memiliki pengetahuan
baik dan setelah dilakukan promosi kesehatan sebanyak 2 kali maka pengetahuan semua siswa yaitu 20 orang (100%) dalam kategori baik. Berdasarkan uji Wilcoxon didapatkan nilai p=0,000 dan p=0,034 maka dapat disimpulkan bahwa promosi kesehatan dengan media poster efektif untuk merubah pengetahuan.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Tirahinigrum (2013) menyebutkan bahwa penyuluhan dengan menggunakan media poster dapat meningkatkan pengetahuan anak Sekolah Dasar tentang kesehatan gigi dan mulut. Hasil penelitian yang tidak jauh berbeda diungkapkan dalam penelitian Siregar (2014) yang menyebutkan bahwa terdapat perbedaan pengetahuan sebelum dan sesudah penyuluhan tentang kebersihan gigi dengan media poster yaitu pada kelas III meningkat lebih baik yaitu dari 8 menjadi 19 dan pada kelas IV juga meningkat lebih baik yaitu dari 10 menjadi 22.
Secara keseluruhan promosi kesehatan yang dilakukan dua kali baik yang menggunakan media flip chart ataupun media poster didapatkan hasil pengetahuan pada promosi kesehatan yang kedua kalinya lebih baik dibandingkan dengan hasil pengetahuan pada promosi kesehatan yang pertama. Hal ini disebabkan karena dua kali promosi kesehatan memperoleh pengulangan pada saat promosi kesehatan kedua apalagi ditambah dengan demonstrasi sehingga materi yang dilupakan pada promosi kesehatan pertama dapat diingatkan kembali dan materi yang telah diingat mendapat penekanan atau pengulangan kembali sehingga pengetahuan dan retensi ingatan menjadi lebih baik. Oleh karena itu sebaiknya diberikan promosi kesehatan berkala secara terus menerus agar siswa mampu meningkatkan pengetahuan dalam menjaga
kesehatan gigi dan mulut mereka. Hal ini sejalan dengan hukum Jost yang menyatakan bahwa 10x2 adalah lebih baik daripada 2x10.
Berdasarkan hasil keefektifan dengan menggunakan uji Mann-Whitney didapatkan hasil media flip chart dan poster memiliki keefektifan yang sama dalam perubahan pengetahuan tentang menjaga kesehatan gigi dan mulut nilai p (0,356) >
0,05 pada posttest I dan p (0,444) > 0,05 pada posttest II. Hasil yang didapat yaitu media flip chart dan poster memiliki efektifitas yang sama dalam perubahan pengetahuan tentang menjaga kesehatan gigi dan mulut pada siswa.
Riyana (2008), media pembelajaran flip chart memiliki kelebihan: (1) mampu menyajikan pesan pembelajaran secara ringkas dan praktis, karena pada umumnya berukuran sedang, lebih kecil dari standar ukuran whiteboard, maka pembelajaran yang disajikan secara ringkas mencakup pokok-pokok materi pembelajaran, (2) dapat digunakan di dalam atau di luar ruangan, media ini tidak membutuhkan arus listrik sehingga jika digunakan di luar ruangan yang tidak ada saluran listrik tidak menjadi masalah, (3) bahan pembuatan relatif mudah, bahan dasar flip chart adalah kertas sebagai media untuk menuangkan gagasan, ide dan informasi pembelajaran, (4) mudah dibawa ke mana-mana (moveable karena berukuran antara 60 sampai 90 cm, dan (5) meningkatkan aktivitas belajar siswa.
Menurut Notoatmodjo (2005), kelebihan poster dari media yang lainnya adalah tahan lama, mencakup banyak orang, biaya tidak tinggi, tidak perlu listrik, dapat dibawa kemana-mana, dapat mengungkit rasa keindahan, mempermudah pemahaman, dan meningkatkan gairah belajar.
5.2 Efektifitas Promosi Kesehatan dengan Media Flip Chart dan Media Poster Dalam Peningkatan Sikap Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut pada Siswa SDN 060799 dan SDN 060953 Medan Tahun 2015
Sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Hal ini juga dipengaruhi oleh pengetahuan, pikiran dan keyakinan serta emosi. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus.
Sikap dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut sangat perlu ditanamkan semenjak dari anak-anak sehingga dapat mempengaruhi tindakan mereka dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut. Dalam membentuk sikap yang ada pada diri anak diperlukan suatu stimulus seperti promosi kesehatan. Promosi kesehatan pada penelitian ini dilakukan dengan dua media yaitu media flip chart pada siswa SDN 060799 dan media poster pada siswa SDN 060953.
Hasil penelitian menunjukkan sikap siswa pada promosi kesehatan dengan media flip chart secara keseluruhan terjadi penurunan pernyataan yang disetujui pada pernyataan negatif dan terjadi peningkatan pernyataan positif yang disetujui. Sikap siswa sebelum promosi kesehatan dengan media flip chart sebanyak 15 orang (75,0%) yang bersikap positif dan setelah dilakukan penyuluhan sebanyak 2 kali maka sikap semua siswa yaitu 20 orang (100%) dalam kategori positif. Berdasarkan uji Wilcoxon didapatkan nilai p=0,001 dan p=0,013 maka dapat disimpulkan bahwa promosi kesehatan dengan media flip chart efektif untuk merubah sikap.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sri Brian (2009) yang menunjukkan bahwa konseling dan pendidikan sebaya menggunakan media flip chart meningkatkan sikap remaja putri tentang pencegahan anemia. Hal yang tidak jauh berbeda diungkapkan dalam penelitian Astuty (2009) yang memperlihatkan bahwa pembelajaran yang digunakan dengan alat bantu media flip chart dapat meningkatkan sikap anak yang seharusnya dilakukan saat menghadapi anjing dalam usaha pencegahan penyakit rabies. Penelitian yang dilakukan Ekayanti (2013) juga menunjukkan bahwa media penyuluhan flip chart dapat meningkatkan sikap ibu dalam memberikan sarapan kepada anaknya. Perubahan sikap pada dasarnya dipengaruhi oleh faktor pengetahuan dan keyakinan/kepercayaan yang didapatkan dari hasil penginderaan, salah satunya didapatkan pada pendidikan atau proses belajar. Peningkatan pengetahuan siswa tentang menjaga kesehatan gigi dan mulut yang didapatkan dalam penyuluhan dengan media flip chart akan turut meningkatkan sikap siswa tentang menjaga kesehatan gigi dan mulut.
Hasil penelitian menunjukkan sikap siswa pada promosi kesehatan dengan media poster secara keseluruhan terjadi penurunan pernyataan yang disetujui pada pernyataan negatif dan terjadi peningkatan pernyataan positif yang disetujui. Sikap siswa sebelum promosi kesehatan dengan media poster sebanyak 19 orang (95,0%) yang bersikap positif dan setelah dilakukan promosi kesehatan sebanyak 2 kali maka sikap semua siswa yaitu 20 orang (100%) dalam kategori positif. Berdasarkan uji Wilcoxon didapatkan nilai p=0,001 dan p=0,012 maka dapat disimpulkan bahwa promosi kesehatan dengan media poster efektif untuk merubah sikap.
Hasil penelitian yang tidak jauh berbeda didapatkan dalam penelitian Hamadalah (2013) yang menyatakan promosi kesehatan dapat meningkatkan pengetahuan, sikap dan praktik dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut pada siswa kelas 3 SDN Patrang 02. Penelitian yang dilakukan Bagus (2014) menunjukkan bahwa penyuluhan status kesehatan gigi anak sekolah yang dilakukan dengan media poster dapat meningkatkan sikap anak SD tentang kesehatan gigi sebagai usaha meningkatkan kecerdasan spiritual siswa.
Teori Difusi Inovasi yang dikemukakan oleh Rogers (1983) berhubungan dengan hasil penelitian yang menyatakan bahwa sumber media melalui gagasan baru melalui penyebaran informasi untuk mempengaruhi motivasi dan sikap. Tahapan yang harus dilalui sebelum terbentuknya sikap dari sebuah gagasan baru adalah dengan terbentuknya pengetahuan. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh terdapat proses yang sejalan antara peningkatan pengetahuan dengan kenaikan dalam perubahan siswa tentang menjaga kesehatan gigi dan mulut dan hal ini menunjukkan bahwa antara hasil penelitian sejalan dengan teori yang menjadi landasan penelitian.
Berdasarkan hasil keefektifan dengan menggunakan uji Mann-Whitney didapatkan hasil media flip chart dan poster memiliki keefektifan yang sama dalam perubahan sikap tentang menjaga kesehatan gigi dan mulut dengan nilai p (0,773)>
0,05 pada posttest I dan p (0,638) > 0,05 pada posttest II. Keefektifan yang sama dalam perubahan sikap siswa baik dengan media flip chart dan poster karena konsep dasar pembentuk sikap atau pemikiran yang diberikan pada kedua media itu sama, yaitu bahwa perilaku menjaga kesehatan gigi dan mulut pada siswa sangatlah penting,
apalagi kemasan informasi yang diberikan pada kedua media ini sama yaitu menggunakan media berupa gambar dan tulisan yang disampaikan atau dijelaskan langsung oleh petugas kesehatan.
Pada dasarnya, secara fisik, media pembelajaran flip chart tidak jauh berbeda dengan media poster yang membedakan hanyalah cara menggunakan dan ukurannya.
Flip chart memiliki dudukan atau penyangga khusus, atau dapat digantung pada sebuah paku dengan menggunakan tali (Susilana dan Riyana, 2008). Dalam penggunaannya dapat dibalik jika pesan pada lembaran depan sudah ditampilkan dan digantikan dengan lembaran berikutnya yang sudah disediakan. Flip chart hanya cocok untuk pembelajaran kelompok kecil yaitu 30 orang. Flip chart merupakan salah satu media cetakan yang sangat sederhana dan cukup efektif. Sederhana dilihat dari proses pembuatannya dan penggunaannya yang relatif mudah, dengan memanfaatkan bahan kertas yang mudah dijumpai di sekitar kita. Efektif karena flip chart dapat dijadikan sebagai media pesan pembelajaran yang secara terencana.
Sedangkan media poster interaktif dapat berupa gambar dan tulisan yang penyampaiannya dipandu oleh petugas kesehatan untuk sekelompok orang.
Poster interaktif itu sendiri tidak ditempel dan tidak dibiarkan berdiri sendiri tetapi dipakai sebagai alat bantu petugas saat melakukan kegiatan penyuluhan kepada masyarakat dan kelompok sasaran lainnya. Poster interaktif ini menjadi media yang baik untuk penyuluhan karena dapat membantu proses belajar menjadi lebih menarik dan lebih mudah. Jumlah kelompok ideal untuk media poster interaktif adalah 15
orang. Berdasarkan jumlah peserta yang mengikuti penyuluhan kesehatan gigi dan mulut sebanyak 20 orang lebih diarahkan untuk menggunakan media flip chart.
Media flip chart dan poster merupakan media yang baik sebagai alat bantu petugas saat melakukan penyuluhan. Susilana dan Riyana (2009) mengemukakan bahwa flip chart merupakan salah satu media cetakan yang sederhana dan cukup efektif. Sederhana dilihat dari proses pembuatannya yang relatif mudah dan efektif karena flip chart dijadikan sebagai media penyampai pesan pembelajaran secara terencana maupun secara langsung dan menjadikan percepatan ketercapaian tujuan dengan menghemat waktu. Sedangkan menurut Depkes (2003) media poster interaktif menjadi media yang baik untuk penyuluhan karena dapat membantu proses belajar menjadi lebih menarik dan lebih mudah. Media poster interaktif ini tidak ditempel dan tidak dibiarkan berdiri sendiri tetapi dipakai sebagai alat bantu petugas saat melakukan kegiatan penyuluhan.
Media promosi kesehatan yang baik adalah media yang mampu memberikan informasi atau pesan-pesan kesehatan yang sesuai dengan tingkat penerimaan sasaran, sehingga sasaran mau dan mampu untuk mengubah perilaku sesuai dengan pesan-pesan yang disampaikan. Pada penelitian ini media flip chart dan media poster sudah mampu memberikan informasi yang sesuai dengan karakteristik anak SD dan promosi kesehatan di sekolah merupakan langkah yang strategis dalam upaya peningkatan kesehatan masyarakat, khususnya dalam mengembangkan perilaku hidup sehat (Notoatmodjo, 2010).
Promosi kesehatan dengan menggunakan media flip chart dan media poster sering dilakukan dengan harapan dapat menyampaikan informasi dan meneguhkan sikap yang positif dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut. Keberhasilan media flip chart dan poster ini ditentukan oleh kemampuan penyuluh untuk menyampaikan
informasi tentang pentingnya kesehatan gigi dan mulut pada murid-murid Sekolah Dasar sehingga harapan yang dituju dapat tercapai.
5.3 Efektifitas Promosi Kesehatan dengan Media Flip Chart dan Media Poster Dalam Peningkatan Tindakan Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut pada Siswa SDN 060799 dan SDN 060953 Medan Tahun 2015
Perilaku manusia merupakan refleksi dari berbagai gejala kejiwaan, seperti keinginan, minat, kehendak, pengetahuan, emosi, berpikir, sikap, motivasi, reaksi, dan sebagainya. Terbentuknya perilaku dapat terjadi karena proses kematangan dan proses interaksi dengan lingkungan. Terbentuknya perubahan perilaku karena interaksi antara individu dengan lingkungan ini melalui suatu proses yakni proses belajar.
Perilaku menjaga kesehatan gigi dan mulut merupakan salah satu proses belajar yang sebaiknya dilakukan sejak usia dini. Usia sekolah dasar merupakan saat yang ideal untuk melatih kemampuan motorik seorang anak, termasuk di antaranya menyikat gigi. Kemampuan menyikat gigi secara baik dan benar merupakan faktor yang cukup penting untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut. Keberhasilan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut juga dipengaruhi oleh faktor penggunaan alat, metode penyikatan gigi, serta frekuensi dan waktu penyikatan yang tepat. Proses
pembelajaran dapat dilakukan dengan promosi kesehatan. Promosi kesehatan pada penelitian ini dilakukan dengan dua media yaitu media flip chart pada siswa SDN 060799 dan media poster pada siswa SDN 060953.
Hasil penelitian menunjukkan tindakan siswa pada promosi kesehatan dengan media flip chart terjadi peningkatan tindakan terutama pada menyikat gigi bawah bagian dalam dan menyikat gigi atas bagian dalam. Tindakan siswa sebelum promosi kesehatan dengan media flip chart sebanyak 15 orang (75,0%) yang melakukan dan setelah dilakukan promosi kesehatan sebanyak 2 kali maka tindakan semua siswa yaitu 20 orang (100%) dalam kategori melakukan. Berdasarkan uji Wilcoxon didapatkan nilai p=0,000 dan p=0,007 maka dapat disimpulkan bahwa promosi kesehatan dengan media flip chart efektif merubah tindakan.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Riyanti (2011) pada siswa-siswi Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Imam Bukhari yang memperlihatkan bahwa terdapat perbedaan antara indeks plak sebelum dan sesudah dilakukannya pendidikan penyikatan gigi. Hasil penelitian Brigita (2014) menyatakan hal yang sama yaitu menunjukan ada efektifitas yang bermakna dari penyuluhan cara menyikat gigi terhadap indeks plak gigi pada siswa SD Inpres Lapangan.
Hasil penelitian menunjukkan tindakan siswa pada promosi kesehatan dengan media poster terjadi peningkatan tindakan terutama pada menyikat gigi bawah bagian dalam dan menyikat gigi atas bagian dalam. Tindakan siswa sebelum promosi kesehatan dengan media poster sebanyak 14 orang (70,0%) yang melakukan dan setelah dilakukan promosi kesehatan posttest I sebanyak 17 orang (85,0%) yang
melakukan dan pada promosi kesehatan posttest II sebanyak yaitu 20 orang (100%) dalam kategori melakukan. Berdasarkan uji Wilcoxon didapatkan nilai p=0,000 dan p=0,003 maka dapat disimpulkan bahwa promosi kesehatan dengan media poster efektif merubah tindakan.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Putri (2012) menyatakan pemberian penyuluhan kesehatan gigi dan mulut dengan demonstrasi cara menyikat gigi kepada murid sekolah dasar merupakan upaya yang cukup efektif untuk menurunkan indeks plak pada gigi. Hasil penelitian yang tidak jauh berbeda didapatkan Kayati (2014) yang membuktikan bahwa tindakan menyikat gigi berdampak kepada penurunan skor plak gigi yang disebabkan oleh promosi kesehatan dilakukan secara berulang dengan menggunakan media poster di Pondok Pesantren Ibnul Qoyyim Yogyakarta.
Berdasarkan hasil keefektifan dengan menggunakan uji Mann-Whitney didapatkan hasil media flip chart dan poster memiliki keefektifan yang sama dalam
perubahan tindakan tentang menjaga kesehatan gigi dan mulut dengan nilai p (0,884) > 0,05 pada posttest I dan p (0,745) > 0,05 pada posttest II. Hasil yang
didapat yaitu media flip chart dan media poster memiliki keefektifan yang sama dalam perubahan tindakan tentang menjaga kesehatan gigi dan mulut pada siswa SD disebabkan karena baik media flip chart maupun media poster pada promosi kesehatan posttest II ditambah dengan metode demonstrasi atau memberikan peragaan cara menyikat gigi yang benar sehingga mempermudah siswa dalam memahami dan mempraktekkan dengan benar cara menyikat gigi.
Promosi kesehatan tidak dapat lepas dari media karena melalui media, pesan -pesan yang disampaikan dapat dengan mudah dipahami dan lebih menarik. Media juga dapat menghindari kesalahan persepsi, memperjelas informasi, mempermudah pengertian. Di samping itu, dapat mengurangi komunikasi yang verbalistik dan memperlancar komunikasi sehingga sasaran dapat mempelajari pesan tersebut dan mampu memutuskan mengadopsi perilaku sesuai dengan pesan-pesan yang disampaikan (Notoatmodjo, 2010). Menurut Vera (2010) metode peragaan membantu anak mengingat bagian-bagian gigi yang biasa disikat sewaktu dirumah sehingga anak lebih mengerti ketika ditunjukkan bagian-bagian gigi yang harus disikat di alat peraga.
Pada prinsipnya perbedaan media poster dan media flip chart adalah pada jumlah lembaran yang ditampilkan. Poster terdiri hanya dari satu lembaran yang dalam penyajiannya kita harus memilih urutannya, sedangkan flip chart merupakan kumpulan beberapa lembaran yang disajikan secara berturut-turut. Jika harus memilih salah satunya yang lebih bisa meningkatkan perubahan dan lebih memungkinkan untuk nalar anak Sekolah Dasar, maka media flip chart lebih tepat karena mempunyai urutan penyajian.
Demonstrasi adalah suatu cara menyajikan bahan penyuluhan dengan cara menunjukkan secara langsung obyeknya atau cara memperlihatkan suatu proes menggunakan alat bantu peraga. Demonstrasi membuat proses penerimaan sasaran terhadap materi penyuluhan akan lebih berkesan secara mendalam sehingga mendapatkan pemahaman atau pengertian yang lebih baik dan sempurna, dapat
mengurangi kesalahan dibandingkan membaca atau mendengar karena persepsi yang
mengurangi kesalahan dibandingkan membaca atau mendengar karena persepsi yang