• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manfaat Penelitian

BAB 1. PENDAHULUAN

1.5. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian diharapkan dapat bermanfaat bagi :

1. Bagi Dinas Kesehatan Kota Medan hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dalam melakukan promosi kesehatan gigi dan mulut.

2. Sebagai bahan masukan bagi pihak sekolah SD Negeri 060799 dan SDN 060953 untuk meningkatkan kesehatan gigi dan mulut.

3. Sebagai bahan masukan dan referensi untuk penelitian berikutnya yang terkait media promosi kesehatan dan kesehatan gigi dan mulut.

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Promosi Kesehatan

Menurut Piagam Ottawa (1986) promosi kesehatan merupakan suatu proses yang bertujuan memungkinkan individu meningkatkan kontrol terhadap kesehatannya. Demi mencapai derajat kesehatan yang sempurna, baik dari fisik, mental, maupun sosial, masyarakat harus mampu mengenal dan mewujudkan aspirasi dan kebutuhannya, dan mampu mengubah atau mengatasi lingkungannya (Notoatmodjo, 2012).

Menurut Green dan Ottoson (1998) promosi kesehatan adalah kombinasi berbagai dukungan menyangkut pendidikan, organisasi, kebijakan, dan peraturan perundang-undangan untuk perubahan lingkungan dan perilaku yang menguntungkan kesehatan. Batasan ini menekankan bahwa promosi kesehatan adalah program masyarakat yang menyeluruh, bukan hanya perubahan perilaku, melainkan juga perubahan lingkungan. Perubahan perilaku tanpa diikuti perubahan lingkungan tidak akan efektif, dan juga dapat dipastikan tidak akan bertahan lama (Maulana, 2009).

Menurut WHO (2003) ruang lingkup promosi kesehatan bukan hanya kegiatan intervensi terhadap perilaku dan lingkungan saja, tetapi mencakup semua determinan atau faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan (Notoatmodjo, 2012).

12

2.2. Media Promosi Kesehatan

Media merupakan sarana untuk menyampaikan pesan kepada sasaran sehingga mudah dimengerti oleh sasaran/pihak yang dituju. Media promosi kesehatan adalah semua sarana atau upaya untuk menampilkan pesan atau informasi yang ingin disampaikan oleh komunikator, baik itu melalui media cetak, elektronik dan media luar ruang, sehingga sasaran dapat meningkat pengetahuannya yang akhirnya diharapkan dapat berubah perilakunya ke arah positif terhadap kesehatannya (Notoatmodjo, 2010).

Media pendidikan kesehatan disebut juga sebagai alat peraga karena berfungsi membantu dan memeragakan sesuatu dalam proses pendidikan atau pengajaran.

Prinsip pembuatan media bahwa pengetahuan yang ada pada setiap orang diterima atau ditangkap melalui pancaindra.

Semakin banyak pancaindra yang digunakan, semakin banyak dan semakin jelas pula pengertian atau pengetahuan yang diperoleh. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan alat peraga dimaksudkan mengerahkan indera sebanyak mungkin pada suatu objek sehingga memudahkan pemahaman. Menurut penelitian para ahli, pancaindra yang paling banyak menyalurkan pengetahuan ke otak adalah mata (kurang lebih 75% sampai 87%), sedangkan 13% sampai 25% pengetahuan manusia diperoleh atau disalurkan melalui indera lainnya

Alat peraga atau media mempunyai intensitas yang berbeda dalam membantu permasalahan seseorang. Dale menggambarkan intensitas setiap alat peraga dalam suatu kerucut. Berturut-turut intensitas alat peraga mulai dari yang paling rendah

sampai paling tinggi adalah kata- kata, tulisan, rekaman/radio, film, televisi, pameran, field trip, demonstrasi, sandiwara, benda tiruan, benda asli (Maulana, 2009).

Media promosi kesehatan yang baik adalah media yang mampu memberikan informasi atau pesan-pesan kesehatan yang sesuai dengan tingkat penerimaan sasaran, sehingga sasaran mau dan mampu untuk mengubah perilaku sesuai dengan pesan yang disampaikan.

2.3. Media Poster

2.3.1. Pengertian Media Poster

Media poster adalah bentuk media yang berisi pesan-pesan atau informasi kesehatan yang biasanya ditempel di dinding, tempat-tempat umum, atau kendaraan umum. Biasanya bersifat pemberitahuan dan propaganda (Maulana, 2009). Poster adalah pesan singkat dalam bentuk gambar dengan sajian kombinasi visual yang jelas dan menyolok yang bertujuan untuk mempengaruhi seseorang atau kelompok agar tertarik pada objek materi yang diinformasikan (Effendy, 1997). Ukuran poster biasanya sekitar 50x60 cm. Ukurannya yang terbatas menyebabkan tema dalam poster tidak terlalu banyak, sedapat-dapatnya hanya ada satu tema dalam satu poster. Tata letak kata dan warna dalam poster hendaknya menarik (Efendi, 2009).

Menurut Depkes (2003) terdapat poster yang tidak ditempel untuk dijadikan media penyuluhan yaitu poster interaktif dan poster simulasi, dimana poster interaktif dapat berupa gambar dan tulisan yang penyampaiannya dipandu oleh petugas kesehatan untuk sekelompok orang. Poster interaktif itu sendiri tidak ditempel dan

tidak dibiarkan berdiri sendiri tetapi dipakai sebagai alat bantu petugas saat melakukan kegiatan penyuluhan kepada masyarakat dan kelompok sasaran lainnya.

Poster interaktif ini menjadi media yang baik untuk penyuluhan karena dapat membantu proses belajar menjadi lebih menarik dan lebih mudah. Jumlah kelompok ideal untuk media poster interaktif adalah 15 orang.

2.3.2. Kelebihan Media Poster

Kelebihan media poster adalah dapat meningkatkan kesadaran terhadap kesehatan dan merangsang kepercayaan, sikap dan perilaku, dapat menyampaikan informasi, mengarahkan orang melihat sumber lain, dapat dibuat dengan biaya murah (Ewles, 1994).

Sebagai salah satu media pembelajaran, poster memiliki kelebihan, diantaranya adalah dapat membantu guru dalam menyampaikan pelajaran dan membantu peserta didik belajar, menarik perhatian, dengan demikian mendorong peserta didik untuk lebih giat belajar, dapat dipasang atau ditempelkan dimana-mana, sehingga memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mempelajari dan mengingat kembali apa yang telah dipelajari, dapat menyarankan perubahan tingkah laku kepada peserta didik yang melihatnya (Sukirman, 2012).

Menurut Notoatmodjo (2005), kelebihan poster dari media yang lainnya adalah tahan lama, mencakup banyak orang, biaya tidak tinggi, tidak perlu listrik, dapat dibawa kemana-mana, dapat mengungkit rasa keindahan, mempermudah pemahaman, dan meningkatkan gairah belajar.

Beberapa penelitian atau pembelajaran media poster efektif dilakukan dari pada media lain, diantaranya yaitu:

1. Penelitian yang dilakukan oleh Dinatia (2011) menyebutkan bahwa penyuluhan dengan metode ceramah dan poster berpengaruh dalam meningkatkan perilaku konsumsi makanan jajanan murid.

2. Penelitian yang dilakukan oleh Tampubolon (2009) menyebutkan bahwa penyuluhan dengan poster berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan perilaku konsumsi makanan jajanan murid di SD Kelurahan Pincuran Kerambil Kecamatan Sibolga Sambas Kota Sibolga.

3. Penelitian yang dilakukan oleh Amir (2012) menyebutkan bahwa penyuluhan dengan menggunakan media poster meningkatkan pengetahuan 71 siswa dan sikap positif 33 siswa tentang jajanan sehat.

4. Penelitian dilakukan oleh Priyono (2012) menyebutkan bahwa penyuluhan dengan menggunakan media poster mempengaruhi pengetahuan maupun perilaku ibu menyusui.

5. Penelitian dilakukan oleh Mohamad (2011) menyebutkan bahwa metode pendidikan kesehatan dengan poster partisipatori lebih baik digunakan untuk meningkatkan pengetahuan siswa tentang bahaya rokok daripada sikap.

6. Penelitian dilakukan oleh Tirahinigrum (2013) menyebutkan bahwa penyuluhan dengan menggunakan media poster dapat meningkatkan pengetahuan anak Sekolah Dasar tentang kesehatan gigi dan mulut.

2.3.3. Kekurangan Media Poster

Kekurangan media poster adalah untuk audiens terbatas, sangat lokal karena pengaruhnya hanya di tempat pemasangan poster, umumnya hanya dibaca sekilas sehingga seringkali pesan tidak terbaca secara utuh, mudah rusak, dan diacuhkan.

Untuk materi yang berkualitas tinggi memerlukan ahli grafis dan peralatan cetak yang baik sehingga memerlukan biaya yang mahal (Suiraoka, 2012). Sangat dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan orang yang melihatnya, karena tidak adanya penjelasan yang terinci, maka dapat menimbulkan interpretasi yang bermacam-macam dan mungkin merugikan, suatu poster akan banyak mengandung arti atau makna bagi kalangan tertentu tetapi dapat juga tidak menarik bagi kalangan yang lainnya, bila poster terpasang lama di suatu tempat, maka akan berkurang nilainya, bahkan akan membosankan orang yang melihatnya (Sukirman, 2012). Menurut Brieger (1992) bahwa masa waktu peletakkan poster maksimal selama 1 bulan karena jika terlalu lama maka akan membuat kelompok sasaran akan menjadi bosan dan mengacuhkannya.

2.4. Media Flip Chart

2.4.1. Pengertian Media Flip Chart

Media flip chart adalah media yang biasanya berbentuk buku, setiap lembar (halaman) berisi gambar yang diinformasikan dan lembar baliknya (belakangnya) berisi kalimat sebagai pesan atau informasi yang berkaitan dengan gambar tersebut (Maulana, 2009). Dalam pengertian lebih sederhana adalah lembaran-lembaran

kertas menyerupai album atau kalender berukuran 50x75 cm yang disusun dalam urutan yang diikat pada bagian atasnya. Flip chart dapat digunakan sebagai media penyampai pesan pembelajaran. Dalam penggunaannya dapat dibalik jika pesan pada lembaran depan sudah ditampilkan dan digantikan dengan lembaran berikutnya yang sudah disediakan. Flip chart merupakan media cetakan yang sangat sederhana dan cukup efektif. Sederhana dilihat dari proses pembuatannya dan penggunaannya yang relatif mudah, dengan memanfaatkan bahan kertas. Efektif karena dapat dijadikan sebagai media pesan pembelajaran secara terencana ataupun secara langsung disajikan pada flip chart (Susilana, 2009).

Beberapa penelitian atau pembelajaran media flip chart efektif dilakukan dari pada media lain, diantaranya yaitu:

1. Penelitian dilakukan oleh Nurhidayat (2012) menyebutkan bahwa penyuluhan dengan menggunakan media flip chart dapat meningkatkan pengetahuan anak Sekolah Dasar tentang kesehatan gigi dan mulut.

2. Penelitian dilakukan oleh Setiawan (2014) menyebutkan bahwa penyuluhan dengan menggunakan media flip chart dapat meningkatkan penguasaan materi siswa tentang pertumbuhan dan perkembangan.

3. Penelitian dilakukan oleh Chamdi (2010) menyebutkan bahwa penyuluhan dengan menggunakan media flip chart dapat meningkatkan pengetahuan dan sikap PUS tentang MOW di Kelurahan Poncol Kecamatan Pekalongan Timur.

4. Penelitian dilakukan oleh Astuty (2009) menyebutkan bahwa penyuluhan dengan menggunakan media flip chart dapat meningkatkan pengetahuan tentang rabies pada siswa SD di Provinsi Sumatera Barat.

2.4.2. Jenis Media Flip Chart

Dilihat dari bentuk penyajian dan desain, maka flip chart secara umum terbagi dalam dua sajian, pertama flip chart yang hanya berisi lembaran-lembaran kertas kosong yang siap diisi pesan pembelajaran, seperti halnya whiteboard namun flip chart berukuran kecil dan menggunakan spidol sebagai alat tulisnya. Kedua, flip chart yang berisi pesan-pesan pembelajaran yang telah disiapkan sebelumnya yang isinya bisa berupa gambar, teks, grafik, bagan dan lain-lain.

2.4.3. Kelebihan Media Flip Chart

Kelebihan media flip chart adalah mampu menyajikan pesan pembelajaran secara ringkas dan praktis yang bertujuan untuk memfokuskan perhatian siswa dan membimbing alur materi yang disajikan, dapat digunakan di dalam ruangan atau luar ruangan karena tidak membutuhkan arus listrik, bahan pembuat relatif murah karena bahan dasarnya adalah kertas, mudah dibawa kemana-mana, meningkatkan aktivitas belajar siswa. Bagus untuk curah pendapat dan melibatkan kelompok secara aktif dalam membuat ide, mudah dibawa, dapat dipakai dalam ruang yang tidak ada papan tulisnya, murah (Suiraoka, 2012).

2.4.4. Kekurangan Media Flip Chart

Kekurangan media lembar balik adalah media ini tidak dapat menstimulir efek suara dan efek gerak, mudah terlipat. Terlalu kecil untuk sasaran lebih dari 25 orang, mudah robek (Suiraoka, 2012).

2.5. Demonstrasi

Demonstrasi adalah suatu cara menyajikan bahan penyuluhan dengan cara mempertunjukkan secara langsung obyeknya atau cara memperlihatkan suatu proses menggunakan alat bantu peraga. Tujuannya adalah untuk memperlihatkan kepada kelompok bagaimana cara melakukan sesuatu dengan prosedur yang benar, menyakinkan kepada kelompok bahwa ide baru tersebut dapat dilaksanakan setiap orang, meningkatkan minat orang untuk belajar dan mencoba sendiri dengan prosedur yang didemonstrasikan (Herijulianti, 2002).

Keuntungan demonstrasi adalah proses penerimaan sasaran terhadap materi penyuluhan akan lebih berkesan secara mendalam sehingga mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan sempurna, mengurangi kesalahan dibandingkan membaca atau mendengar karena persepsi yang jelas diperoleh dari hasil pengamatan, benda-benda yang digunakan benar nyata sehingga hasrat untuk mengetahui lebih dalam dapat dikembangkan, peragaan dapat diulang dan dicoba oleh peserta, dengan mengamati demonstrasi masalah atau pertanyaan yang ada dapat terjawab (Herijulianti, 2002).

2.6. Kesehatan Gigi dan Mulut

2.6.1. Pengertian Kesehatan Gigi dan Mulut

Menurut WHO, pengertian kesehatan rongga mulut adalah keadaan bebas dari nyeri wajah dan mulut, kanker oral dan tenggorokan, infeksi dan luka oral, penyakit periodontal, karies gigi, kehilangan gigi dan penyakit-penyakit serta gangguan oral lain yang membatasi kapasitas individu untuk menggigit, mengunyah, tersenyum, berbicara, dan kesejahteraan psikososial.

2.6.2. Jenis Penyakit Gigi dan Mulut 1. Karies gigi

Karies merupakan suatu penyakit pada jaringan keras gigi yang disebabkan oleh aktivitas jasad renik yang ada dalam suatu karbohidrat yang diragikan. Proses karies ditandai dengan terjadinya demineralisasi pada jaringan keras gigi, diikuti dengan kerusakan bahan organiknya. Hal ini akan menyebabkan terjadinya invasi bakteri dan kerusakan pada jaringan pulpa serta penyebaran infeksi ke jaringan periapikal dan menimbulkan rasa nyeri (Pintauli, 2012).

Karies terjadi bukan disebabkan karena satu kejadian saja tetapi disebabkan serangkaian proses yang terjadi selama beberapa kurun waktu. Ada tiga faktor utama yang memegang peranan, yaitu faktor host atau tuan rumah, agen atau mikroorganisme, substrat atau diet ditambah faktor waktu. Untuk terjadinya karies, maka kondisi setiap faktor tersebut harus saling mendukung, yaitu tuan rumah yang rentan yang meliputi morfologi gigi, struktur enamel, faktor kimia dan kristalografis, mikroorganisme yang kariogenik yang mampu menghasilkan asam, seperti

Streptococcus, substrat yang sesuai adalah makanan yang mengandung karbohidrat terutama sukrosa, dan waktu yang lama (Pintauli, 2012).

Proses terjadinya karies diawali adanya proses demineralisasi pada email. Sisa makanan akan menempel pada permukaan email dan berakumulasi membentuk plak, yaitu media pertumbuhan yang menguntungkan bagi mikroorganisme.

Mikroorganisme yang menempel pada permukaan tersebut akan menghasilkan asam dan melarutkan permukaan email sehingga terjadi proses demineralisasi.

Demineralisasi mengakibatkan proses awal karies pada email, yang ditandai dengan bercak putih (white spot). Bila proses ini sudah terjadi maka progresivitas tidak akan dapat berhenti sendiri, kecuali dilakukan pembuangan jaringan karies dan dilakukan penambalan pada permukaan gigi yang terkena karies atau dilakukan pencabutan bila tidak dapat ditambal lagi (Pintauli, 2012).

2. Karang gigi (Kalkulus)

Karang gigi adalah lapisan kerak berwarna kuning yang menempel pada gigi dan terasa kasar, yang dapat menyebabkan masalah pada gigi. Karang gigi dapat terletak di leher gigi dan terlihat oleh mata sebagai garis kekuningan atau kecoklatan yang melekat cukup kuat pada permukaan gigi sehingga tidak dapat dihilangkan dengan menyikat gigi (Irma, 2013). Karang gigi umumnya terbentuk di bawah gusi karena daerah tersebut sulit dijangkau oleh bulu sikat gigi (Susanto, 2007).

3. Penyakit periodontal

Penyakit periodontal merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang terakumulasi dalam plak yang menyebabkan gingival mengalami

peradangan. Ada dua tipe penyakit periodontal yang biasa dijumpai yaitu gingivitis dan periodontitis (Pintauli, 2012).

a. Gingivitis

Gingivitis merupakan penyakit periodontal stadium awal berupa peradangan pada gingival, termasuk penyakit paling umum yang sering ditemukan pada jaringan mulut. Faktor penyebab terjadinya gingivitis adalah faktor lokal dan sistemik. Faktor penyebab lokal adalah plak, kalkulus, impaksi makanan, karies dan tambalan yang berlebih. Plak merupakan deposit berisi mikroorganisme mulut beserta eksudatnya memegang peranan penting terhadap terjadinya inflamasi tersebut. Tingkat keparahan dan kerusakan jaringan yang terjadi tergantung pada daya tahan tubuh dan kualitas reparasi jaringan. Adanya penyakit atau kondisi penurunan daya tahan tubuh penderita dapat menambah keparahan penyakit.

Gingivitis dapat disebabkan beberapa hal, diantaranya kebersihan mulut yang buruk, penumpukan karang gigi (kalkulus), dan efek samping dari obat-obatan tertentu yang diminum secara rutin. Sisa-sisa makanan yang tidak dibersihkan secara seksama menjadi tempat pertumbuhan bakteri. Meningkatnya kandungan mineral dari air liur membuat plak mengeras menjadi karang gigi (kalkulus) dan dapat menyebabkan radang gusi sehingga gusi mudah berdarah (Irma, 2013).

b. Periodontitis

Periodontitis terjadi jika gingivitis menyebar ke struktur penyangga gigi (Irma, 2013). Pada tahap ini, tulang penyangga gigi dan jaringan yang menyangga gigi di tempat yang terinfeksi tersebut sudah mengalami kerusakan. Jika keadaan ini

bertambah parah, jaringan dan tulang yang menyangga gigi telah hancur. Hal ini dapat menyebabkan gigi tanggal (Susanto, 2007). Periodontitis merupakan salah satu penyebab utama lepasnya gigi pada orang dewasa dan lanjut usia. Sebagian besar periodontitis merupakan akibat dari penumpukan plak dan karang gigi di antara gigi dan gusi (Irma, 2013).

2.6.3. Faktor-faktor yang Memengaruhi Kesehatan Gigi 1. Makanan dan Minuman

Sisa-sisa makanan dalam rongga mulut terutama makanan lengket dan manis dapat menyebabkan timbulnya plak gigi. Plak yang menumpuk kemudian akan menyebabkan karies gigi. Pada awalnya kerusakan terjadi pada email dan proses biasanya tidak disadari oleh penderita. Plak berwarna putih seperti gigi sehingga lapisan ini tidak begitu jelas terlihat. Kerusakan gigi baru diketahui setelah proses perlubangan gigi sampai ke daerah pulpa. Untuk menjaga kesehatan rongga mulut, sebaikanya kita memperhatikan pola makanan kita (Susanto, 2007).

Minuman kopi dan teh kurang baik untuk kesehatan gigi. Terlalu banyak minum kopi dan teh dapat menimbulkan plak berwarna cokelat pada permukaan gigi.

Minuman soft drink (minuman bersoda) juga dapat menyebabkan kareis gigi karena mengandung banyak gula (Susanto, 2007).

Beberapa cara mencegah kerusakan gigi sehubungan dengan makanan yang dikonsumsi sehari-hari:

a. Mengurangi makanan serba manis

Permen, coklat, roti yang diberi selai merupakan contoh makanan penyebab kerusakan gigi. Makanan tersebut bersifat manis dan lengket. Kandungan gula dalam makanan tersebut sangat tinggi, Dengan demikian, bakteri akan mengubah sisa-sisa makanan yang mengandung gula tersebut menjadi asam. Akhirnya, terjadi kerusakan gigi. Semakin lama sisa-sisa makanan itu menempel pada gigi, semakin mudah juga gigi mengalami karies.

Berkumur menggunakan air putih dapat mengurangi sisa makanan yang lengket pada permukaan gigi. Selain itu, makan buah-buahan berair dan mengandung serat tinggi baik untuk kesehatan gigi. Gesekan antara buah dengan permukaan gigi dapat mengurangi jumlah plak yang menempel pada gigi.

b. Menghindari makanan yang terlalu asam

Asam bersifat merusak gigi, demikian juga dengan makanan yang serba asam.

Contohnya asam cuka yang biasanya digunakan dalam kuah empek-empek, dan buah-buahan yang rasanya asam.

c. Menghindari makanan keras, terlalu panas, dan terlalu dingin

d. Makan makanan yang mengandung mineral, kalsium, fluor, dan fosfor serta vitamin A, C, D, dan E yang diperlukan untuk pertumbuhan gigi.

2. Menyikat gigi

Kuman akan aktif merusak gigi jika ada sisa-sisa makanan dalam rongga mulut (Susanto, 2007). Plak dapat disingkirkan dengan menyikat gigi. Oleh karena itu, menyikat gigi harus dilakukan secara teratur, pada waktu yang tepat dan cara

yang benar. Selain itu perlu juga diperhatikan pemilihan sikat gigi dan pasta gigi yang tepat.

Menyikat gigi yang benar adalah dengan menyikat seluruh permukaan gigi.

Tahapan menyikat gigi secara sistematis adalah sebagai berikut: Penyikatan gigi dimulai dari gigi paling belakang di permukaan dalam gigi yang menghadap lidah rahang bawah kiri sampai ke gigi paling belakang di permukaan yang menghadap lidah rahang bawah kanan. Penyikatan kemudian dilanjutkan ke permukaan yang menghadap langit-langit gigi paling belakang di rahang atas kanan, terus sampai ke gigi paling belakang di rahang atas kiri. Seterusnya dilanjutkan dengan menyikat permukaan yang menghadap pipi gigi paling belakang di rahang atas kiri sampai ke permukaan yang menghadap pipi gigi paling belakang di rahang atas kanan.

Penyikatan dilanjutkan ke permukaan yang menghadap pipi gigi paling belakang di rahang bawah kanan sampai ke permukaan yang menghadap pipi gigi paling belakng di rahang bawah kiri. Setelah itu penyikatan dilakukan pada permukaan kunyah gigi belakng rahang bawah kiri, dilanjutkan dengan permukaan kunyah gigi belakang rahang bawah kanan. Tahap terakhir adalah penyikatan permukaan kunyah gigi belakang rahang atas kanan, dan diakhiri pada permukaan kunyah gigi belakang rahang atas kiri (Daliemunthe, 1996).

2.7. Perilaku Kesehatan

Perilaku kesehatan adalah respons seseorang terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sehat-sakit seperti lingkungan, makanan, minuman, dan

pelayanan kesehatan (Notoatmodjo, 2010). Ada tiga tingkat ranah perilaku, yaitu:

kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), psikomotor (tindakan).

2.7.1. Ranah Kognitif

Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Ranah kognitif berhubungan dengan kemampuan berpikir, termasuk di dalamnya kemampuan menghafal, memahami, mengaplikasi, menganalisis, mensintesis, dan kemampuan mengevaluasi. Menurut Revisi Taksonomi Bloom (2001), ada enam aspek atau jenjang proses berpikir mulai dari jenjang terendah sampai dengan jenjang yang paling tinggi, yaitu:

1. Mengingat (remember)

Mengingat merupakan usaha mendapatkan kembali pengetahuan dari memori atau ingatan yang telah lampau, baik yang baru saja didapatkan maupun yang sudah lama didapatkan. Mengingat berperan penting dalam proses pembelajaran yang bermakna dan pemecahan masalah. Mengingat meliputi mengenali dan memanggil kembali. Mengenali berkaitan dengan pengetahuan masa lampau yang berkaitan dengan hal-hal yang konkret, misalnya tanggal lahir, alamat, dan usia, sedangkan memanggil kembali adalah proses kognitif yang membutuhkan pengetahuan masa lampau secara cepat dan tepat.

2. Memahami / mengerti (understand)

Memahami berkaitan dengan membangun sebuah pengertian dari berbagai sumber seperti pesan, bacaan, dan komunikasi. Memahami meliputi mengklasifikasikan dan membandingkan. Mengklasifikasikan berawal dari suatu

contoh atau informasi yang spesifik kemudian ditemukan konsep dan prinsip umumnya. Membandingkan berkaitan dengan proses kognitif menemukan satu persatu ciri-ciri dari obyek yang diperbandingkan.

3. Menerapkan (apply)

Menerapkan menunjuk pada proses kongitif memanfaatkan atau mempergunakan suatu prosedur untuk melaksanakan percobaan atau menyelesaikan permasalahan. Menerapkan meliputi kegiatan menjalankan prosedur dan mengimplementasikan. Menjalankan prosedur merupakan proses kognitif dalam menyelesaikan masalah dan melaksanakan percobaan. Mengimplementasikan muncul apabila memilih dan menggunakan prosedur untuk hal-hal yang belum diketahui atau masih asing.

4. Menganalisis (analyze)

Menganalisis merupakan memecahkan suatu permasalahan dengan memisahkan tiap-tiap bagian dari permasalahan dan mencari keterkaitan dari tiap-tiap bagian tersebut dan mencari tahu bagaiman keterkaitan tersebut dapat menimbulkan masalah. Menganalisis berkaitan dengan memberi atribut dan mengorganisasikan.

5. Mengevaluasi (evaluate)

5. Mengevaluasi (evaluate)

Dokumen terkait