EFEKTIFITAS PROMOSI KESEHATAN DENGAN MEDIA POSTER DAN FLIP CHART DALAM PENINGKATAN PERILAKU MENJAGA
KESEHATAN GIGI DAN MULUT PADA SISWA SDN 060799 DAN SDN 060953 MEDAN TAHUN 2015
TESIS
Oleh
KATHERINE EMILY PANGGABEAN 137032070/IKM
PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2015
EFEKTIFITAS PROMOSI KESEHATAN DENGAN MEDIA POSTER DAN FLIP CHART DALAM PENINGKATAN PERILAKU MENJAGA
KESEHATAN GIGI DAN MULUT PADA SISWA SDN 060799 DAN SDN 060953 MEDAN TAHUN 2015
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat
untuk Memperoleh Gelar Magister Kesehatan (M.Kes) dalam Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat
Minat Studi Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku pada Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Sumatera Utara
Oleh
KATHERINE EMILY PANGGABEAN 137032070/IKM
PROGRAM STUDI S2 ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2015
Judul Tesis : EFEKTIFITAS PROMOSI KESEHATAN DENGAN MEDIA POSTER DAN FLIP CHART DALAM PENINGKATAN PERILAKU
MENJAGA KESEHATAN GIGI DAN MULUT PADA SISWA SDN 060799 DAN SDN 060953 MEDAN TAHUN 2015
Nama Mahasiswa : KATHERINE EMILY PANGGABEAN Nomor Induk Mahasiswa : 137032070
Program Studi : S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat
Minat Studi : Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku
Menyetujui Komisi Pembimbing
( Dr. Ir. Zulhaida Lubis, M.Kes ) (Drs. Tukiman, M.K.M ) Ketua Anggota
Dekan
( Dr. Drs. Surya Utama, M.S )
Tanggal Lulus : 28 Agustus 2015
Telah diuji
Pada Tanggal : 28 Agustus 2015
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Dr. Ir. Zulhaida Lubis, M.Kes Anggota : 1. Drs. Tukiman, M.K.M
2. Dr. Drs. R. Kintoko Rochadi, M.K.M 3. dr. Halinda Sari Lubis, M.K.K.K
PERNYATAAN
EFEKTIFITAS PROMOSI KESEHATAN DENGAN MEDIA POSTER DAN FLIP CHART DALAM PENINGKATAN PERILAKU MENJAGA
KESEHATAN GIGI DAN MULUT PADA SISWA SDN 060799 DAN SDN 060953 MEDAN TAHUN 2015
T E S I S
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Medan, September 2015
Katherine Emily Panggabean 137032070/IKM
ABSTRAK
Pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut merupakan salah satu upaya meningkatkan kesehatan. Penanggulangan masalah kesehatan gigi pada anak usia sekolah dapat dilakukan dengan program Upaya Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) yang menekankan pada upaya promotif dan preventif. Kegiatan dengan upaya promotif berupa pendidikan/penyuluhan kesehatan gigi. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui efektifitas promosi kesehatan dengan media poster dan flip chart dalam peningkatan perilaku (pengetahuan, sikap, dan tindakan) menjaga kesehatan gigi dan mulut pada siswa Sekolah Dasar.
Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu (quasi-experiment) dengan rancangan pretest-posttest group design, yang terdiri atas dua kelompok yaitu media poster dan media flip chart. Penelitian dilaksanakan pada siswa Sekolah Dasar Negeri 060799 dan Sekolah Dasar Negeri 060953 Medan pada bulan Mei-Juni 2015 dengan jumlah sampel masing-masing kelompok 20 orang. Analisis data pada penelitian menggunakan uji statistik Wilcoxon dan Mann-Whitney.
Hasil penelitian menunjukkan promosi kesehatan dengan media flip chart efektif terhadap pengetahuan, sikap, dan tindakan. Promosi kesehatan dengan media poster efektif terhadap pengetahuan, sikap, dan tindakan. Media poster dan flip chart merupakan media yang efektif dan memiliki efektifitas yang sama dalam peningkatan perilaku siswa Sekolah Dasar dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut.
Diharapkan bagi Puskesmas Martubung agar melakukan promosi kesehatan dengan menggunakan media flip chart dan poster. Bagi Dinas Kesehatan Kota Medan agar mengadakan penyediaan media promosi kesehatan.
Kata Kunci : Flip Chart, Poster, Kesehatan Gigi dan Mulut, Siswa Sekolah Dasar
i
ABSTRACT
Dental and mouth health care is one of the attempts to increase health. The handling of dental health in school-aged children can be made by using ‘School Dental Health Effort’ which emphasizes on promotional and preventive efforts.
Promotional activities consist of health care education/counseling. The objective of the research was to find out the effectiveness of health promotion by using the media of posters and flip charts in improving school children’s behavior (knowledge, attitude, and action) and in taking care of dental and mouth health.
The research used quasi experiment method with pretest-posttest group design by using the media of posters and flip charts. It was conducted in the students of Sekolah Dasar Negeri 060799 and Sekolah Dasar Negeri 060953 Medan, from May to June 2015, with 20 respondents as the samples. The data were analyzed by using Wilcoxon and Mann-Whitney statistic test.
The results of the research showed that health promotion by using the media of flip charts was effective in knowledge, attitude, and action. Health promotion by using the media of posters was effective in knowledge, attitude, and action. The media of flip charts and posters was effective and had the same effectiveness in improving elementary school children’s behavior in taking care of their dental and mouth health.
It is recommended that the management of Martubung Primary Health Care perform health promotion by using the media of flip charts and posters, and the management of the Health Department of Medan provide health promotion media.
Keywords : Flip Chart, Poster, Dental and Mouth Health, Elementary School Children
ii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis ini dengan judul ―Efektifitas Promosi Kesehatan dengan Media Poster dan Flip Chart dalam Peningkatan Perilaku Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut pada Siswa SDN 060799 dan SDN 060953 Medan Tahun 2015‖.
Tesis ini merupakan salah satu persyaratan akademik untuk menyelesaikan pendidikan Program S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
Dalam penulisan tesis ini, penulis mendapatkan bantuan, dorongan dan bimbingan dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada :
1. Prof. Subhilhar, Ph.D, selaku Pejabat Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Dr. Drs. Surya Utama, M.S selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengikuti pendidikan pada program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
3. Dr. Ir. Evawany Y. Aritonang, M.Si selaku Sekretaris Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
iii
4. Dr. Ir. Zulhaida Lubis, M,Kes, selaku dosen pembimbing I serta Drs. Tukiman, M.K.M selaku dosen pembimbing II yang telah banyak memberi
perhatian, bimbingan dan dukungan dalam penyusunan tesis ini.
5. Dr. Drs. R. Kintoko Rochadi, M.K.M, selaku dosen penguji I serta dr. Halinda Sari Lubis, M.K.K.K selaku dosen penguji II yang telah banyak memberikan arahan dan masukan demi kesempurnaan penulisan tesis ini.
6. Seluruh dosen dan staf di lingkungan Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Minat Studi Promosi Kesehatan dan Perilaku di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan ilmu yang sangat berarti selama penulis mengikuti pendidikan.
7. dr. Nurainun Lubis, selaku Kepala Puskesmas Martubung Kota Medan beserta staf yang telah mendukung dan memberikan masukan kepada saya dalam melakukan penelitian ini.
8. Yusrawati, S.Pd, selaku Kepala Sekolah SDN 060799 Medan yang telah mendukung dan memberikan masukan kepada saya dalam melakukan penelitian.
9. Nurhayati Ritonga, S.Pd, selaku Kepala Sekolah SDN 060953 Medan yang telah mendukung dan memberikan masukan kepada saya dalam melakukan penelitian.
10. Teristimewa kepada kedua orangtua saya Banggas Panggabean, M.A dan drg. Lucina Indriati Utama, untuk cinta, doa, kasih sayang dan dukungannya yang tak tergantikan yang diberikan kepada penulis.
iv
11. Teristimewa juga kepada suamiku Ir. Utuh Januar Sitompul, anakku Francis David Sitompul yang telah memberikan banyak dukungan dan semangat kepada penulis selama menyelesaikan masa studi dan penelitian ini.
12. Rekan – rekan seperjuangan Mahasiswa Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat Angkatan 2013 Minat Studi Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku yang banyak memberikan pelajaran berharga selama masa kuliah sampai dengan penyusunan tesis ini .
Kiranya Tuhan Yang Maha Esa akan membalas semua kebaikan dan bantuan yang telah penulis terima selama ini. Semoga Tuhan Yang Maha Esa melimpahkan berkat dan rahmat-Nya bagi kita semua.
Akhirnya penulis menyadari atas segala keterbatasan dan kekurangan, untuk itu saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan tesis ini dengan penuh harapan, semoga tesis ini bermanfaat bagi semua pihak.
Medan, September 2015 Penulis
Katherine Emily Panggabean 137032070 / IKM
v
RIWAYAT HIDUP
Katherine Emily Panggabean dilahirkan pada tanggal 21 September 1977 di Medan Sumatera Utara. Anak pertama dari dua bersaudara, pasangan orangtua Banggas Panggabean, M.A. dan drg. Lucina Indriati Utama. Saat ini penulis bertempat tinggal di Medan.
Pendidikan dimulai dari Taman Kanak-Kanak tahun 1981-1983 di Santo Yoseph ,Sekolah Dasar tahun 1983 – 1989 di SD Santo Yoseph, tahun 1989-1992 pendidikan di SMP Santo Thomas 1 Medan, tahun 1992-1995 pendidikan di SMA Santo Thomas I, tahun 1995 – 2001 menyelesaikan pendidikan Profesi Dokter Gigi di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara .
Tahun 2013 penulis mengikuti pendidikan lanjutan pada Program Studi S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat di Fakultas Kesehatan Masyarakat Sumatera Utara dengan minat studi Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku.
Penulis bekerja tahun 2001-2004 sebagai Dokter Gigi PTT di Dinas Kesehatan Kota Binjai, tahun 2005-2013 sebagai Dokter Gigi PNS di Puskesmas Martubung, tahun 2013-sekarang sebagai Kasubbag Tata Usaha di Puskesmas Martubung.
vi
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
RIWAYAT HIDUP ... vi
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL... x
DAFTAR GAMBAR ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiii
BAB 1. PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Permasalahan ... 10
1.3. Tujuan Penelitian ... 10
1.4. Hipotesis ... 10
1.5. Manfaat Penelitian ... 11
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ... 12
2.1. Promosi Kesehatan ... 12
2.2. Media Promosi Kesehatan ... 13
2.3. Media Poster ... 14
2.3.1. Pengertian Media Poster ... 14
2.3.2. Kelebihan Media Poster ... 15
2.3.3. Kekurangan Media Poster ... 17
2.4. Media Flip Chart ... 17
2.4.1. Pengertian Media Flip Chart ... 17
2.4.2. Jenis Media Flip Chart ... 19
2.4.3. Kelebihan Media Flip Chart ... 19
2.4.4. Kekurangan Media Flip Chart ... 20
2.5. Demonstrasi ... 20
2.6. Kesehatan Gigi dan Mulut ... 21
2.6.1. Pengertian Kesehatan Gigi dan Mulut ... 21
2.6.2. Jenis Penyakit Gigi dan Mulut ... 21
2.6.3. Faktor-faktor yang Memengaruhi Kesehatan Gigi ... 24
2.7. Perilaku Kesehatan ... 26
2.7.1. Ranah Kognitif ... 27
2.7.2. Ranah Afektif ... 29
2.7.3. Praktik atau Tindakan ... 30
2.8. Karakteristik Anak Sekolah Dasar ... 31
2.9. Landasan Teori ... 32 vii
2.10. Kerangka Konsep ... 35
BAB 3. METODE PENELITIAN... 36
3.1. Jenis Penelitian ... 36
3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 37
3.2.1. Lokasi Penelitian ... 37
3.2.2. Waktu Penelitian ... 38
3.3. Populasi dan Sampel ... 38
3.3.1. Populasi ... 38
3.3.2. Sampel... 38
3.4. Metode Pengumpulan Data ... 39
3.4.1. Data Primer ... 39
3.4.2. Data Sekunder ... 40
3.4.3. Uji Validitas dan Reliabilitas ... 40
3.4.4. Prosedur Pengumpulan Data ... 42
3.5. Variabel dan Definisi Operasional ... 44
3.5.1. Variabel ... 44
3.5.2. Definisi Operasional ... 44
3.6. Metode Pengukuran ... 45
3.7. Metode Analisis Data... 47
BAB 4. HASIL PENELITIAN ... 48
4.1 Gambaran Lokasi Penelitian ……… ... 48
4.2 Karakteristik Responden ……….. ... 49
4.3 Perilaku Siswa SDN 060799 dan SDN 060953 Sebelum dan Sesudah Promosi Kesehatan dengan Media Flip Chart dan Poster tentang Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut…….. . 49
4.3.1 Pengetahuan Siswa SDN 060799 Sebelum dan Sesudah Promosi Kesehatan tentang Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut dengan Media Flip Chart …….. ... 49
4.3.2 Sikap Siswa SDN 060799 Sebelum dan Sesudah Promosi Kesehatan tentang Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut dengan Media Flip Chart …….. ... 51
4.3.3 Tindakan Siswa SDN 060799 Sebelum dan Sesudah Promosi Kesehatan tentang Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut dengan Media Flip Chart …….. ... 53
4.3.4 Pengetahuan Siswa SDN 060953 Sebelum dan Sesudah Promosi Kesehatan tentang Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut dengan Media Poster …….. ... 56
4.3.5 Sikap Siswa SDN 060953 Sebelum dan Sesudah Promosi Kesehatan tentang Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut dengan Media Poster …….. ... 57
viii
4.3.6 Tindakan Siswa SDN 060953 Sebelum dan Sesudah Promosi Kesehatan tentang Menjaga Kesehatan Gigi
dan Mulut dengan Media Poster …….. ... 59
4.4 Efektifitas Promosi Kesehatan dengan Media Flip Chart dan Media Poster terhadap Pengetahuan, Sikap dan Tindakan Siswa Tentang Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut…….. ... 62
4.4.1 Efektifitas Media Flip Chart terhadap Pengetahuan, Sikap dan Tindakan Sebelum dan Sesudah Promosi Kesehatan tentang Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut…….. ... 62
4.4.2 Efektifitas Media Poster terhadap Pengetahuan, Sikap dan Tindakan Sebelum dan Sesudah Promosi Kesehatan tentang Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut…….. ... 64
4.4.3 Perbedaan Efektifitas Promosi Kesehatan Media Flip Chart dan Media Poster terhadap Pengetahuan, Sikap dan Tindakan Siswa tentang Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut ……….. 65
BAB 5. PEMBAHASAN ... 67
5.1 Efektifitas Promosi Kesehatan dengan Media Flip Chart dan Media Poster dalam Peningkatan Pengetahuan Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut pada Siswa SDN 060799 dan SDN 060953 Medan Tahun 2015 ……… ... 67
5.2 Efektifitas Promosi Kesehatan dengan Media Flip Chart dan Media Poster dalam Peningkatan Sikap Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut pada Siswa SDN 060799 dan SDN 060953 Medan Tahun 2015 ……… ... 72
5.3 Efektifitas Promosi Kesehatan dengan Media Flip Chart dan Media Poster dalam Peningkatan Tindakan Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut pada Siswa SDN 060799 dan SDN 060953 Medan Tahun 2015 ……… ... 77
BAB 6. KESIMPULAN DAN SARAN ... 82
6.1 Kesimpulan ……… ... 82
6.2 Saran ……… 82
DAFTAR PUSTAKA ... 84
LAMPIRAN ... 89
ix
DAFTAR TABEL
No. Judul Halaman
3.1. Distribusi Jumlah Siswa SD Negeri Kelas V di SDN 060799 dan SDN
060953 Medan ... 38
3.2 Hasil Uji Validitas Variabel Pengetahuan ……….…... 41
3.3 Hasil Uji Validitas Variabel Sikap ……… ... 42
4.1 Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Umur ... . 49
4.2 Distribusi Frekuensi Jawaban Benar Responden Sebelum dan Sesudah Promosi Kesehatan dengan Media Flip Chart Berdasarkan Pengetahuan tentang Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut di SDN 060799 Medan Tahun 2015 ... 50
4.3 Distribusi Pengetahuan Siswa Sebelum dan Sesudah Promosi Kesehatan dengan Media Flip Chart………..….……… 51
4.4 Distribusi Frekuensi Jawaban Setuju Responden Sebelum dan Sesudah Promosi Kesehatan dengan Media Flip Chart Berdasarkan Sikap tentang Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut di SDN 060799 Medan Tahun 2015 ……….……….. 52
4.5 Distribusi Sikap Siswa Sebelum dan Sesudah Promosi Kesehatan dengan Media Flip Chart………..………..… 53
4.6 Distribusi Frekuensi Observasi Tindakan yang Dilakukan Responden Sebelum Promosi Kesehatan dengan Media Flip Chart dalam Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut di SDN 060799 Medan Tahun 2015 ………..… 54
4.7 Distribusi Tindakan Siswa Sebelum dan Sesudah Promosi Kesehatan Dengan Media Flip Chart………...…….………... 54
4.8 Distribusi Frekuensi Observasi Menyikat Gigi Pagi dan Malam Selama 14 Hari di SDN 060799 Medan Tahun 2015 ... 55
x
4.9 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Sebelum dan Sesudah Promosi Kesehatan dengan Media Poster Berdasarkan Variabel Pengetahuan tentang Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut di SDN 060953 Medan
Tahun 2015 ………..……… 56
4.10 Distribusi Pengetahuan Siswa Sebelum dan Sesudah Promosi Kesehatan dengan Media Poster ……….. 57 4.11 Distribusi Frekuensi Jawaban Setuju Responden Sebelum dan Sesudah Promosi Kesehatan dengan Media Poster Berdasarkan Sikap tentang Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut di SDN 060953 Medan Tahun
2015 ………...……….……….. 58
4.12 Distribusi Sikap Siswa Sebelum dan Sesudah Promosi Kesehatan
dengan Media Poster ………..……….……….. 59 4.13 Distribusi Frekuensi Observasi Tindakan yang Dilakukan Responden
Sebelum Promosi Kesehatan dengan Media Poster dalam Menjaga
Kesehatan Gigi dan Mulut di SDN 060953 Medan Tahun 2015…….…. 60 4.14 Distribusi Tindakan Siswa Sebelum dan Sesudah Promosi Kesehatan Dengan Media Poster……….……..……….. 60
4.15 Distribusi Frekuensi Observasi Menyikat Gigi Pagi dan Malam Selama 14 Hari di SDN 060953 Medan Tahun 2015 …….……….. 61 4.16 Efektifitas Media Flip Chart terhadap Pengetahuan, Sikap dan Tindakan Sebelum dan Sesudah Promosi Kesehatan tentang Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut ... 62 4.17 Efektifitas Media Poster terhadap Pengetahuan, Sikap dan Tindakan Sebelum dan Sesudah Promosi Kesehatan tentang Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut ... 64 4.18 Efektifitas Promosi Kesehatan Media Flip Chart dan Media Poster terhadap Pengetahuan, Sikap dan Tindakan (Posttest I) Siswa tentang Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut ... 66
4.19 Efektifitas Promosi Kesehatan Media Flip Chart dan Media Poster terhadap Pengetahuan, Sikap dan Tindakan (Posttest II) Siswa tentang Menjaga Kesehatan Gigi dan Mulut ... 66
xi
DAFTAR GAMBAR
No. Judul Halaman
2.1. Proses Belajar (Maulana, 2009) ... 33
2.2. Teori Stimulus – Organisme – Respons ... 34
2.3. Kerangka Konsep Penelitian ... 35
3.1. Desain Penelitian ... 36
xii
DAFTAR LAMPIRAN
No. Judul Halaman
1. Kuesioner Penelitian ... 89
2. Master Data ………... 93
3. Realiabilitas dan Validitas ………. 96
4. Normalitas Data ……… 99
5. Output Penelitian ... 101
xiii
ABSTRAK
Pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut merupakan salah satu upaya meningkatkan kesehatan. Penanggulangan masalah kesehatan gigi pada anak usia sekolah dapat dilakukan dengan program Upaya Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) yang menekankan pada upaya promotif dan preventif. Kegiatan dengan upaya promotif berupa pendidikan/penyuluhan kesehatan gigi. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui efektifitas promosi kesehatan dengan media poster dan flip chart dalam peningkatan perilaku (pengetahuan, sikap, dan tindakan) menjaga kesehatan gigi dan mulut pada siswa Sekolah Dasar.
Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu (quasi-experiment) dengan rancangan pretest-posttest group design, yang terdiri atas dua kelompok yaitu media poster dan media flip chart. Penelitian dilaksanakan pada siswa Sekolah Dasar Negeri 060799 dan Sekolah Dasar Negeri 060953 Medan pada bulan Mei-Juni 2015 dengan jumlah sampel masing-masing kelompok 20 orang. Analisis data pada penelitian menggunakan uji statistik Wilcoxon dan Mann-Whitney.
Hasil penelitian menunjukkan promosi kesehatan dengan media flip chart efektif terhadap pengetahuan, sikap, dan tindakan. Promosi kesehatan dengan media poster efektif terhadap pengetahuan, sikap, dan tindakan. Media poster dan flip chart merupakan media yang efektif dan memiliki efektifitas yang sama dalam peningkatan perilaku siswa Sekolah Dasar dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut.
Diharapkan bagi Puskesmas Martubung agar melakukan promosi kesehatan dengan menggunakan media flip chart dan poster. Bagi Dinas Kesehatan Kota Medan agar mengadakan penyediaan media promosi kesehatan.
Kata Kunci : Flip Chart, Poster, Kesehatan Gigi dan Mulut, Siswa Sekolah Dasar
i
ABSTRACT
Dental and mouth health care is one of the attempts to increase health. The handling of dental health in school-aged children can be made by using ‘School Dental Health Effort’ which emphasizes on promotional and preventive efforts.
Promotional activities consist of health care education/counseling. The objective of the research was to find out the effectiveness of health promotion by using the media of posters and flip charts in improving school children’s behavior (knowledge, attitude, and action) and in taking care of dental and mouth health.
The research used quasi experiment method with pretest-posttest group design by using the media of posters and flip charts. It was conducted in the students of Sekolah Dasar Negeri 060799 and Sekolah Dasar Negeri 060953 Medan, from May to June 2015, with 20 respondents as the samples. The data were analyzed by using Wilcoxon and Mann-Whitney statistic test.
The results of the research showed that health promotion by using the media of flip charts was effective in knowledge, attitude, and action. Health promotion by using the media of posters was effective in knowledge, attitude, and action. The media of flip charts and posters was effective and had the same effectiveness in improving elementary school children’s behavior in taking care of their dental and mouth health.
It is recommended that the management of Martubung Primary Health Care perform health promotion by using the media of flip charts and posters, and the management of the Health Department of Medan provide health promotion media.
Keywords : Flip Chart, Poster, Dental and Mouth Health, Elementary School Children
ii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian integral dari kesehatan umum.
Mulut merupakan pintu gerbang pertama dalam sistem pencernaan. Makanan dan minuman akan diproses di dalam mulut dengan bantuan gigi-geligi, lidah, dan saliva.
Pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut merupakan salah satu upaya meningkatkan kesehatan. Rongga mulut yang sehat memungkinkan seseorang untuk berkomunikasi secara efektif, makan berbagai jenis makanan, meningkatkan kualitas hidup, percaya diri dan mempunyai kehidupan sosial yang baik. Sebaliknya, rongga mulut yang tidak sehat dapat berpengaruh pada kehidupan sosial seseorang, keterbatasan fungsi pengunyahan dan fungsi bicara, rasa sakit dan terganggunya waktu bekerja atau sekolah (Pintauli, 2012).
Gigi dan rongga mulut yang tidak sehat dapat menyebabkan bau mulut bahkan beberapa penyakit umum. Infeksi berat seperti periodontitis ternyata dapat mempengaruhi kesehatan secara umum, misalnya menyebabkan beberapa penyakit seperti penyakit pembuluh darah (penyakit jantung koroner dan aterosklerosis), diabetes, pneumonia dan kelahiran prematur. Gigi berlubang yang tidak dirawat dapat menjadi sumber infeksi dan menyebarkan penyakit ke bagian lain di tubuh, seperti pada mata, hidung, jantung, ginjal atau saluran pencernaan (Pintauli, 2012).
1
Masalah utama kesehatan gigi dan mulut yang terjadi adalah karies dan penyakit periodontal. Penyakit gigi dan mulut apabila tidak diobati maka akan bertambah parah, dan gigi tersebut tidak dapat normal kembali dengan sendirinya.
Hal ini dapat dicegah melalui penerapan kebiasaan memelihara kesehatan gigi dan mulut pada anak secara dini dan kontinu. Tindakan pencegahan yang dilakukan sejak dini dapat meminimalkan biaya perawatan dan komplikasi penyakit gigi yang membahayakan.
Dampak yang terjadi pada anak yang mengalami karies adalah anak akan malas beraktivitas karena harus menahan rasa sakit pada gigi dan mulutnya. Rasa sakit itu juga dapat menyebabkan penurunan selera makan yang berdampak pada kekurangan asupan gizi anak. Selain itu, apabila gigi dibiarkan membusuk maka gigi tersebut harus dicabut. Pencabutan gigi pada anak sekolah mengakibatkan ada ruang kosong yang menyulitkan anak dalam mengunyah makanan. Hal tersebut akan mempengaruhi pertumbuhan anak jika berlangsung dalam jangka waktu yang lama (Dewanti, 2012). Dampak lainnya produktivitas anak terganggu. Anak menjadi tidak bisa belajar, tidak masuk sekolah. Hal ini berpengaruh pada prestasi belajar anak.
Penelitian Kusumawati (2010) dan Ghofar (2012) menunjukkan bahwa keparahan karies gigi berhubungan dengan status gizi anak-anak. Anak yang memiliki karies gigi menjadi malas untuk mengkonsumsi makanan karena memiliki rasa sakit ketika mengkonsumsi dan mengunyah makanan.
Kesehatan gigi dan mulut yang optimal dapat dicapai dengan melakukan perawatan gigi secara berkala. Perawatan dimulai dari memperhatikan diet makanan
dengan tidak terlalu banyak makan makanan yang mengandung gula dan makanan yang lengket. Menyikat gigi untuk membersihkan plak dan sisa makanan yang tersisa.
Pembersihan karang gigi dan penambalan gigi yang berlubang oleh dokter gigi, serta pencabutan gigi yang sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Kunjungan berkala ke dokter gigi setiap enam bulan sekali dengan atau tanpa keluhan.
Hasil penelitian Nurafifah (2013) menunjukkan bahwa ada hubungan perilaku pencegahan karies gigi dengan kejadian karies gigi pada anak Sekolah Dasar kabupaten Lamongan. Hasil penelitian Angela (2005) menunjukkan bahwa pencegahan primer yang dilakukan oleh anak berupa menggosok gigi yang benar akan menurunkan terjadinya penyakit karies gigi pada anak. Hasil penelitian Rumini (2006) menunjukkan bahwa pengetahuan dan sikap yang baik terhadap kesehatan gigi dan mulut serta tindakan dalam menggosok gigi berpengaruh terhadap kejadian karies gigi.
Berdasarkan data laporan Riset Kesehatan Dasar Tahun 2013 menunjukkan bahwa prevalensi nasional masalah gigi dan mulut di Indonesia sebesar 25,9 persen, terdapat 14 provinsi mempunyai prevalensi masalah gigi dan mulut di atas angka nasional. Prevalensi nasional menyikat gigi setiap hari adalah 94,2 persen sebanyak 15 provinsi berada dibawah prevalensi nasional (Kemenkes, 2013). Sementara itu hasil studi Depkes RI (2002) bahwa masalah kesehatan gigi dan mulut yang paling dikeluhkan adalah penyakit karies gigi.
Berdasarkan laporan Riset Kesehatan Dasar Tahun 2013 ditemukan sebagian besar penduduk Indonesia menyikat gigi pada saat mandi pagi maupun mandi sore
(76,6%). Menyikat gigi dengan benar adalah setelah makan pagi dan sebelum tidur malam, untuk Indonesia ditemukan hanya 2,3 persen. Keadaan ini menyebabkan perlu ditingkatkan program sikat gigi sesuai anjuran program di sekolah dengan mempertimbangkan sarana dan media informasi terutama pada usia dini, karena perilaku merupakan kebiasaan yang akan lebih terbentuk bila dilakukan pada usia dini .
Pada tahun 2013, Provinsi Sumatera Utara menjadi salah satu daerah yang memiliki prevalensi penduduk yang bermasalah gigi dan mulut dalam 12 bulan terakhir. Berdasarkan laporan Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 yang memperlihatkan bahwa 19,4 % penduduk Provinsi Sumatera Utara memiliki masalah gigi dan mulut. Hal ini tidak terlepas dari adanya anggapan pada anak-anak yang biasanya cenderung untuk membersihkan gigi (menyikat gigi) hanya pada bagian- bagian tertentu saja yang disukai serta masih tingginya konsumsi makanan berat seperti daging pada malam hari dan tidak menyikat gigi ketika akan tidur sehingga makanan tersebut akan lengket ketika anak-anak sedang tidur.
Data pemeriksaan gigi dan mulut pada siswa SD melalui UKGS di wilayah Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2013 sebanyak 7.915 sekolah dengan jumlah SD yang pernah dilakukan sikat gigi massal sebanyak 2.885 sekolah atau sebesar 37,7%.
Provinsi Sumatera Utara memiliki jumlah siswa Sekolah Dasar sebanyak 1.122.037 orang siswa dengan siswa yang pernah melakukan pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut sebanyak 299.002 orang siswa atau sebesar 26,6% dan sebanyak 75.322 orang siswa atau sebesar 25,1% memerlukan perawatan untuk kesehatan gigi dan mulut
sedangkan yang baru mendapatkan perawatan kesehatan gigi dan mulut hanya sebanyak 32.653 orang atau sebesar 41.9% (Dinkes Provinsi Sumatera Utara, 2013).
Tingginya jumlah siswa yang tidak memeriksakan gigi disebabkan karena belum adanya keluhan yang dirasakan. Pemeriksaan gigi baru dilakukan jika sudah timbul keluhan serta masih ada anggapan bahwa kesehatan gigi dan mulut bukanlah merupakan hal yang penting. Penyakit gigi masih dianggap bukan merupakan suatu penyakit serius yang membahayakan. Selain itu juga rasa takut terhadap peralatan gigi yang digunakan membuat seorang anak tidak berkeinginan untuk memeriksakan giginya.
Kota Medan menjadi salah satu daerah yang memiliki permasalahan yang berkaitan dengan kesehatan gigi dan mulut dan termasuk dalam urutan ke-9 dari 10 besar penyakit. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Medan Tahun 2013 diketahui bahwa sebanyak 85.948 kunjungan Puskesmas di Kota Medan dilakukan untuk kunjungan pelayanan kesehatan gigi dan mulut. Kunjungan rawat jalan kesehatan gigi dan mulut di Kota Medan yang dilakukan oleh ibu hamil sebanyak 1.140 atau sebesar 1,32%, anak-anak 1-6 tahun sebanyak 13.425 atau sebesar 15,61%, dan sebanyak 71.383 atau sebesar 83,05% kunjungan rawat jalan kesehatan gigi dan mulut dilakukan oleh golongan penderita lain.
Tingginya jumlah kunjungan rawat jalan kesehatan gigi dan mulut di Kota Medan menunjukkan bahwa kesehatan gigi dan mulut masih menjadi permasalahan kesehatan di masyarakat. Permasalahan kesehatan gigi dan mulut yang terjadi di Kota Medan ternyata sebagian besar disebabkan karena karies gigi dan permasalahan pulpa
sebanyak 33.971 kasus dan sebanyak 18.700 kasus disebabkan permasalahan gusi (Dinkes Kota Medan, 2013).
Penanggulangan masalah kesehatan gigi pada anak usia sekolah dapat dilakukan dengan program Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS). UKGS ditekankan pada upaya promotif dan preventif, kegiatan dengan upaya promotif berupa pendidikan/penyuluhan kesehatan gigi sedangkan preventif berupa pencegahan penyakit gigi (sikat gigi bersama menggunakan pasta gigi yang mengandung fluor) (Kemenkes, 2012).
Promosi kesehatan gigi melalui penyuluhan bertujuan merubah perilaku dari aspek pengetahuan, sikap dan tindakan yang tidak sehat ke arah perilaku yang sehat sehingga terciptanya suatu pengertian yang baik mengenai kesehatan gigi dan mulut (Astoeti, 2006). Dalam pelaksanaannya kegiatan penyuluhan ini tidak dapat terlaksana secara maksimal mengingat banyaknya cakupan jumlah sekolah dan metode dan media yang dipergunakan tidak berubah.
Media promosi kesehatan adalah semua sarana atau upaya untuk menampilkan pesan atau informasi yang ingin disampaikan oleh komunikator, baik itu melalui media cetak, elektronik dan media luar ruang, sehingga sasaran dapat meningkat pengetahuannya yang akhirnya diharapkan dapat berubah perilakunya kearah positif terhadap kesehatan (Notoatmodjo, 2012). Media promosi kesehatan pada hakikatnya adalah alat bantu pendidikan (AVA), alat-alat tersebut merupakan alat untuk memudahkan penyampaian dan penerimaan pesan-pesan kesehatan bagi masyarakat.
Poster adalah sehelai kertas atau papan yang berisikan gambar-gambardengan sedikit kata-kata. Kata-kata dalam poster harusjelas artinya, tepat pesannya dan dapat dengan mudah dibaca. Gambar dalam poster dapat berupalukisan, ilustrasi, kartun, gambar atau photo. Poster terutamadibuat untuk mempengaruhi orang banyak, memberikan pesansingkat. Oleh karena itu cara pembuatannya harus menarik, sederhanadan hanya berisikan satu ide atau satu kenyataan saja.
Hasil penelitian Tirahiningrum (2013) menunjukkan bahwa media poster efektif dalam meningkatkan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut siswa usia 7-10 tahun di MI NU Maudluul Ulum Kota Malang. Hal sejalan diungkapkan dalam penelitian Muin (2011) diketahui bahwa pendidikan kesehatan yang dilakukan yang salah satunya dengan menggunakan media poster dapat menurunkan indeks plak gigi anak Sekolah Dasar di Sekolah Dasar kelurahan Tamalanrea Indah Makasar.
Flip Chart merupakan salah satu media promosi kesehatan yang kerap digunakan untuk melakukan promosi kesehatan. Biasanya dalam bentuk buku, dimana dalam setiap lembaran buku berisi gambar peragaan dan dibaliknya terdapat kalimat yang berisi pesan-pesan dan informasi yang berkaitan dengan gambar tersebut (Maulana, 2009).
Flip Chart akan memudahkan pekerjaan untuk menerangkan dan memberikan informasi dengan gambar tahap demi tahap. Setiap tahapan memiliki satu gambar yang bernomor setelah selesai menyelesaikan isi satu nomor maka lembaran bergambar tersebut dibalikkan begitu sampai seterusnya hingga akhir. Sekumpulan
lembaran balik merupakan suatu pelajaran atau informasi yang lengkap sehingga akan dapat dipilih untuk segera digunakan seperlunya (Sadiman, 2006).
Hasil penelitian Nurhidayat (2012) menunjukkan bahwa media lembar balik (flip chart) menjadi salah satu media yang efektif dalam meningkatkan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut anak Sekolah Dasar. Menurut penelitian Hanany (2007), bahwa ada perbedaan daya tangkap siswa terhadap materi kesehatan gigi dan mulut antara metode penyuluhan dengan menggunakan media kartu cerdas dengan flip chart. Hal tersebut berarti bahwa dengan bantuan media penyuluhan kesehatan dapat meningkatkan pengetahuan siswa tentang pengetahuan kesehatan gigi dan mulut.
Puskesmas Martubung terletak di Kecamatan Medan Labuhan dengan 2 cakupan kelurahan yaitu Kelurahan Besar dan Kelurahan Tangkahan. Wilayah Kerja Puskesmas Martubung memiliki 22 Sekolah Dasar dengan rincian 12 Sekolah Dasar Negeri dan 10 Sekolah Dasar Swasta. Puskesmas Martubung merupakan salah satu daerah yang memiliki jumlah kasus karies yang tinggi di Kota Medan. Data UKGS Selektif tahun 2010 menunjukkan bahwa Puskesmas Martubung berada di urutan ke 5 dari 39 Puskesmas yang ada di Kota Medan dalam hal karies gigi. Berdasarkan Data Rekapitulasi Penjaringan Kesehatan Gigi dan Mulut Tenaga Kesehatan di Puskesmas Martubung Tahun 2014 memperlihatkan bahwa semua Sekolah Dasar di wilayah kerja Puskesmas Martubung memiliki anak Sekolah Dasar yang mengalami permasalahan kesehatan gigi dan mulut, terdapat 16 sekolah yang memiliki anak karies gigi dengan persentase di atas 70% bahkan terdapat sekolah yang lebih dari 80% anak Sekolah Dasarnya mengalami karies gigi.
SDN 060799 dan SDN 060953 merupakan sekolah yang terdapat di wilayah kerja Puskesmas Martubung. SDN 060799 dan SDN 060953 menjadi salah satu sekolah yang memiliki siswa dengan permasalahan kesehatan gigi dan mulut.
Berdasarkan laporan Penjaringan Kesehatan Gigi dan Mulut Tenaga Kesehatan di Puskesmas Martubung Tahun 2014 ditemukan bahwa dari 47 orang siswa SDN 060799 yang diperiksa, terdapat 41 orang siswa yang memiliki karies gigi. SDN 060953 dari 41 orang siswa yang diperiksa, terdapat 33 orang yang memiliki karies gigi.
Berdasarkan survey pendahuluan yang dilakukan penulis ke SDN 060799 dan SDN 060953 kepada 10 orang anak Sekolah Dasar mereka mengungkapkan bahwa mereka selalu mengkonsumsi makanan manis seperti permen, coklat dan jajanan baik pagi, siang dan malam hari, hanya terdapat 5 orang anak yang menyatakan orangtua mereka selalu mengingatkan untuk selalu menggosok gigi sebelum tidur dan setelah bangun pagi tetapi tetap saja anak tidak menggosok gigi secara teratur sementara 4 orang anak menyatakan orangtua mereka kadang-kadang mengingatkan menggosok gigi sebelum tidur dan setelah bangun pagi sedangkan 1 orang lainnya tidak pernah diingatkan untuk menggosok gigi. Padahal sepatutnya menggosok gigi itu dilakukan setidaknya pada pagi hari sesudah sarapan dan ketika malam hari pada saat mau tidur.
Banyaknya terdapat anak-anak yang mengalami permasalahan kesehatan gigi dan mulut tidak terlepas dari pengetahuan dan sikap yang kurang baik dalam melakukan pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut. Hal ini dapat terjadi karena anak- anak Sekolah Dasar sangat minim mendapatkan sosialisasi dan informasi melalui
pendidikan kesehatan gigi dan mulut bahkan menurut guru di SDN 060799 dan 060953 yang menyatakan bahwa pendidikan kesehatan gigi dan mulut yang dilakukan oleh tenaga kesehatan Puskesmas Martubung hanya sekali setahun serta promosi kesehatan yang dilakukan tanpa menggunakan media penyuluhan sehingga anak-anak cenderung tidak memperhatikan petugas kesehatan yang memberikan promosi kesehatan.
1.2. Permasalahan
Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah belum diketahuinya efektifitas promosi kesehatan dengan media poster dan flip chart dalam peningkatan perilaku menjaga kesehatan gigi dan mulut pada siswa SDN 060799 dan SDN 060953 Medan Tahun 2015.
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui efektifitas promosi kesehatan dengan media poster dan flip chart dalam peningkatan perilaku (pengetahuan, sikap, dan tindakan) menjaga kesehatan gigi dan mulut pada siswa Sekolah Dasar.
1.4. Hipotesis
1. Promosi kesehatan dengan media flip chart lebih efektif dalam meningkatkan pengetahuan anak SD dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut dibandingkan media poster.
2. Promosi kesehatan dengan media flip chart lebih efektif dalam meningkatkan sikap anak SD dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut dibandingkan media poster.
3. Promosi kesehatan dengan media flip chart lebih efektif dalam meningkatkan tindakan anak SD dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut dibandingkan media poster.
1.5. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian diharapkan dapat bermanfaat bagi :
1. Bagi Dinas Kesehatan Kota Medan hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dalam melakukan promosi kesehatan gigi dan mulut.
2. Sebagai bahan masukan bagi pihak sekolah SD Negeri 060799 dan SDN 060953 untuk meningkatkan kesehatan gigi dan mulut.
3. Sebagai bahan masukan dan referensi untuk penelitian berikutnya yang terkait media promosi kesehatan dan kesehatan gigi dan mulut.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Promosi Kesehatan
Menurut Piagam Ottawa (1986) promosi kesehatan merupakan suatu proses yang bertujuan memungkinkan individu meningkatkan kontrol terhadap kesehatannya. Demi mencapai derajat kesehatan yang sempurna, baik dari fisik, mental, maupun sosial, masyarakat harus mampu mengenal dan mewujudkan aspirasi dan kebutuhannya, dan mampu mengubah atau mengatasi lingkungannya (Notoatmodjo, 2012).
Menurut Green dan Ottoson (1998) promosi kesehatan adalah kombinasi berbagai dukungan menyangkut pendidikan, organisasi, kebijakan, dan peraturan perundang-undangan untuk perubahan lingkungan dan perilaku yang menguntungkan kesehatan. Batasan ini menekankan bahwa promosi kesehatan adalah program masyarakat yang menyeluruh, bukan hanya perubahan perilaku, melainkan juga perubahan lingkungan. Perubahan perilaku tanpa diikuti perubahan lingkungan tidak akan efektif, dan juga dapat dipastikan tidak akan bertahan lama (Maulana, 2009).
Menurut WHO (2003) ruang lingkup promosi kesehatan bukan hanya kegiatan intervensi terhadap perilaku dan lingkungan saja, tetapi mencakup semua determinan atau faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan (Notoatmodjo, 2012).
12
2.2. Media Promosi Kesehatan
Media merupakan sarana untuk menyampaikan pesan kepada sasaran sehingga mudah dimengerti oleh sasaran/pihak yang dituju. Media promosi kesehatan adalah semua sarana atau upaya untuk menampilkan pesan atau informasi yang ingin disampaikan oleh komunikator, baik itu melalui media cetak, elektronik dan media luar ruang, sehingga sasaran dapat meningkat pengetahuannya yang akhirnya diharapkan dapat berubah perilakunya ke arah positif terhadap kesehatannya (Notoatmodjo, 2010).
Media pendidikan kesehatan disebut juga sebagai alat peraga karena berfungsi membantu dan memeragakan sesuatu dalam proses pendidikan atau pengajaran.
Prinsip pembuatan media bahwa pengetahuan yang ada pada setiap orang diterima atau ditangkap melalui pancaindra.
Semakin banyak pancaindra yang digunakan, semakin banyak dan semakin jelas pula pengertian atau pengetahuan yang diperoleh. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan alat peraga dimaksudkan mengerahkan indera sebanyak mungkin pada suatu objek sehingga memudahkan pemahaman. Menurut penelitian para ahli, pancaindra yang paling banyak menyalurkan pengetahuan ke otak adalah mata (kurang lebih 75% sampai 87%), sedangkan 13% sampai 25% pengetahuan manusia diperoleh atau disalurkan melalui indera lainnya
Alat peraga atau media mempunyai intensitas yang berbeda dalam membantu permasalahan seseorang. Dale menggambarkan intensitas setiap alat peraga dalam suatu kerucut. Berturut-turut intensitas alat peraga mulai dari yang paling rendah
sampai paling tinggi adalah kata- kata, tulisan, rekaman/radio, film, televisi, pameran, field trip, demonstrasi, sandiwara, benda tiruan, benda asli (Maulana, 2009).
Media promosi kesehatan yang baik adalah media yang mampu memberikan informasi atau pesan-pesan kesehatan yang sesuai dengan tingkat penerimaan sasaran, sehingga sasaran mau dan mampu untuk mengubah perilaku sesuai dengan pesan yang disampaikan.
2.3. Media Poster
2.3.1. Pengertian Media Poster
Media poster adalah bentuk media yang berisi pesan-pesan atau informasi kesehatan yang biasanya ditempel di dinding, tempat-tempat umum, atau kendaraan umum. Biasanya bersifat pemberitahuan dan propaganda (Maulana, 2009). Poster adalah pesan singkat dalam bentuk gambar dengan sajian kombinasi visual yang jelas dan menyolok yang bertujuan untuk mempengaruhi seseorang atau kelompok agar tertarik pada objek materi yang diinformasikan (Effendy, 1997). Ukuran poster biasanya sekitar 50x60 cm. Ukurannya yang terbatas menyebabkan tema dalam poster tidak terlalu banyak, sedapat-dapatnya hanya ada satu tema dalam satu poster. Tata letak kata dan warna dalam poster hendaknya menarik (Efendi, 2009).
Menurut Depkes (2003) terdapat poster yang tidak ditempel untuk dijadikan media penyuluhan yaitu poster interaktif dan poster simulasi, dimana poster interaktif dapat berupa gambar dan tulisan yang penyampaiannya dipandu oleh petugas kesehatan untuk sekelompok orang. Poster interaktif itu sendiri tidak ditempel dan
tidak dibiarkan berdiri sendiri tetapi dipakai sebagai alat bantu petugas saat melakukan kegiatan penyuluhan kepada masyarakat dan kelompok sasaran lainnya.
Poster interaktif ini menjadi media yang baik untuk penyuluhan karena dapat membantu proses belajar menjadi lebih menarik dan lebih mudah. Jumlah kelompok ideal untuk media poster interaktif adalah 15 orang.
2.3.2. Kelebihan Media Poster
Kelebihan media poster adalah dapat meningkatkan kesadaran terhadap kesehatan dan merangsang kepercayaan, sikap dan perilaku, dapat menyampaikan informasi, mengarahkan orang melihat sumber lain, dapat dibuat dengan biaya murah (Ewles, 1994).
Sebagai salah satu media pembelajaran, poster memiliki kelebihan, diantaranya adalah dapat membantu guru dalam menyampaikan pelajaran dan membantu peserta didik belajar, menarik perhatian, dengan demikian mendorong peserta didik untuk lebih giat belajar, dapat dipasang atau ditempelkan dimana-mana, sehingga memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mempelajari dan mengingat kembali apa yang telah dipelajari, dapat menyarankan perubahan tingkah laku kepada peserta didik yang melihatnya (Sukirman, 2012).
Menurut Notoatmodjo (2005), kelebihan poster dari media yang lainnya adalah tahan lama, mencakup banyak orang, biaya tidak tinggi, tidak perlu listrik, dapat dibawa kemana-mana, dapat mengungkit rasa keindahan, mempermudah pemahaman, dan meningkatkan gairah belajar.
Beberapa penelitian atau pembelajaran media poster efektif dilakukan dari pada media lain, diantaranya yaitu:
1. Penelitian yang dilakukan oleh Dinatia (2011) menyebutkan bahwa penyuluhan dengan metode ceramah dan poster berpengaruh dalam meningkatkan perilaku konsumsi makanan jajanan murid.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Tampubolon (2009) menyebutkan bahwa penyuluhan dengan poster berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan perilaku konsumsi makanan jajanan murid di SD Kelurahan Pincuran Kerambil Kecamatan Sibolga Sambas Kota Sibolga.
3. Penelitian yang dilakukan oleh Amir (2012) menyebutkan bahwa penyuluhan dengan menggunakan media poster meningkatkan pengetahuan 71 siswa dan sikap positif 33 siswa tentang jajanan sehat.
4. Penelitian dilakukan oleh Priyono (2012) menyebutkan bahwa penyuluhan dengan menggunakan media poster mempengaruhi pengetahuan maupun perilaku ibu menyusui.
5. Penelitian dilakukan oleh Mohamad (2011) menyebutkan bahwa metode pendidikan kesehatan dengan poster partisipatori lebih baik digunakan untuk meningkatkan pengetahuan siswa tentang bahaya rokok daripada sikap.
6. Penelitian dilakukan oleh Tirahinigrum (2013) menyebutkan bahwa penyuluhan dengan menggunakan media poster dapat meningkatkan pengetahuan anak Sekolah Dasar tentang kesehatan gigi dan mulut.
2.3.3. Kekurangan Media Poster
Kekurangan media poster adalah untuk audiens terbatas, sangat lokal karena pengaruhnya hanya di tempat pemasangan poster, umumnya hanya dibaca sekilas sehingga seringkali pesan tidak terbaca secara utuh, mudah rusak, dan diacuhkan.
Untuk materi yang berkualitas tinggi memerlukan ahli grafis dan peralatan cetak yang baik sehingga memerlukan biaya yang mahal (Suiraoka, 2012). Sangat dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan orang yang melihatnya, karena tidak adanya penjelasan yang terinci, maka dapat menimbulkan interpretasi yang bermacam-macam dan mungkin merugikan, suatu poster akan banyak mengandung arti atau makna bagi kalangan tertentu tetapi dapat juga tidak menarik bagi kalangan yang lainnya, bila poster terpasang lama di suatu tempat, maka akan berkurang nilainya, bahkan akan membosankan orang yang melihatnya (Sukirman, 2012). Menurut Brieger (1992) bahwa masa waktu peletakkan poster maksimal selama 1 bulan karena jika terlalu lama maka akan membuat kelompok sasaran akan menjadi bosan dan mengacuhkannya.
2.4. Media Flip Chart
2.4.1. Pengertian Media Flip Chart
Media flip chart adalah media yang biasanya berbentuk buku, setiap lembar (halaman) berisi gambar yang diinformasikan dan lembar baliknya (belakangnya) berisi kalimat sebagai pesan atau informasi yang berkaitan dengan gambar tersebut (Maulana, 2009). Dalam pengertian lebih sederhana adalah lembaran-lembaran
kertas menyerupai album atau kalender berukuran 50x75 cm yang disusun dalam urutan yang diikat pada bagian atasnya. Flip chart dapat digunakan sebagai media penyampai pesan pembelajaran. Dalam penggunaannya dapat dibalik jika pesan pada lembaran depan sudah ditampilkan dan digantikan dengan lembaran berikutnya yang sudah disediakan. Flip chart merupakan media cetakan yang sangat sederhana dan cukup efektif. Sederhana dilihat dari proses pembuatannya dan penggunaannya yang relatif mudah, dengan memanfaatkan bahan kertas. Efektif karena dapat dijadikan sebagai media pesan pembelajaran secara terencana ataupun secara langsung disajikan pada flip chart (Susilana, 2009).
Beberapa penelitian atau pembelajaran media flip chart efektif dilakukan dari pada media lain, diantaranya yaitu:
1. Penelitian dilakukan oleh Nurhidayat (2012) menyebutkan bahwa penyuluhan dengan menggunakan media flip chart dapat meningkatkan pengetahuan anak Sekolah Dasar tentang kesehatan gigi dan mulut.
2. Penelitian dilakukan oleh Setiawan (2014) menyebutkan bahwa penyuluhan dengan menggunakan media flip chart dapat meningkatkan penguasaan materi siswa tentang pertumbuhan dan perkembangan.
3. Penelitian dilakukan oleh Chamdi (2010) menyebutkan bahwa penyuluhan dengan menggunakan media flip chart dapat meningkatkan pengetahuan dan sikap PUS tentang MOW di Kelurahan Poncol Kecamatan Pekalongan Timur.
4. Penelitian dilakukan oleh Astuty (2009) menyebutkan bahwa penyuluhan dengan menggunakan media flip chart dapat meningkatkan pengetahuan tentang rabies pada siswa SD di Provinsi Sumatera Barat.
2.4.2. Jenis Media Flip Chart
Dilihat dari bentuk penyajian dan desain, maka flip chart secara umum terbagi dalam dua sajian, pertama flip chart yang hanya berisi lembaran-lembaran kertas kosong yang siap diisi pesan pembelajaran, seperti halnya whiteboard namun flip chart berukuran kecil dan menggunakan spidol sebagai alat tulisnya. Kedua, flip chart yang berisi pesan-pesan pembelajaran yang telah disiapkan sebelumnya yang isinya bisa berupa gambar, teks, grafik, bagan dan lain-lain.
2.4.3. Kelebihan Media Flip Chart
Kelebihan media flip chart adalah mampu menyajikan pesan pembelajaran secara ringkas dan praktis yang bertujuan untuk memfokuskan perhatian siswa dan membimbing alur materi yang disajikan, dapat digunakan di dalam ruangan atau luar ruangan karena tidak membutuhkan arus listrik, bahan pembuat relatif murah karena bahan dasarnya adalah kertas, mudah dibawa kemana-mana, meningkatkan aktivitas belajar siswa. Bagus untuk curah pendapat dan melibatkan kelompok secara aktif dalam membuat ide, mudah dibawa, dapat dipakai dalam ruang yang tidak ada papan tulisnya, murah (Suiraoka, 2012).
2.4.4. Kekurangan Media Flip Chart
Kekurangan media lembar balik adalah media ini tidak dapat menstimulir efek suara dan efek gerak, mudah terlipat. Terlalu kecil untuk sasaran lebih dari 25 orang, mudah robek (Suiraoka, 2012).
2.5. Demonstrasi
Demonstrasi adalah suatu cara menyajikan bahan penyuluhan dengan cara mempertunjukkan secara langsung obyeknya atau cara memperlihatkan suatu proses menggunakan alat bantu peraga. Tujuannya adalah untuk memperlihatkan kepada kelompok bagaimana cara melakukan sesuatu dengan prosedur yang benar, menyakinkan kepada kelompok bahwa ide baru tersebut dapat dilaksanakan setiap orang, meningkatkan minat orang untuk belajar dan mencoba sendiri dengan prosedur yang didemonstrasikan (Herijulianti, 2002).
Keuntungan demonstrasi adalah proses penerimaan sasaran terhadap materi penyuluhan akan lebih berkesan secara mendalam sehingga mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan sempurna, mengurangi kesalahan dibandingkan membaca atau mendengar karena persepsi yang jelas diperoleh dari hasil pengamatan, benda-benda yang digunakan benar nyata sehingga hasrat untuk mengetahui lebih dalam dapat dikembangkan, peragaan dapat diulang dan dicoba oleh peserta, dengan mengamati demonstrasi masalah atau pertanyaan yang ada dapat terjawab (Herijulianti, 2002).
2.6. Kesehatan Gigi dan Mulut
2.6.1. Pengertian Kesehatan Gigi dan Mulut
Menurut WHO, pengertian kesehatan rongga mulut adalah keadaan bebas dari nyeri wajah dan mulut, kanker oral dan tenggorokan, infeksi dan luka oral, penyakit periodontal, karies gigi, kehilangan gigi dan penyakit-penyakit serta gangguan oral lain yang membatasi kapasitas individu untuk menggigit, mengunyah, tersenyum, berbicara, dan kesejahteraan psikososial.
2.6.2. Jenis Penyakit Gigi dan Mulut 1. Karies gigi
Karies merupakan suatu penyakit pada jaringan keras gigi yang disebabkan oleh aktivitas jasad renik yang ada dalam suatu karbohidrat yang diragikan. Proses karies ditandai dengan terjadinya demineralisasi pada jaringan keras gigi, diikuti dengan kerusakan bahan organiknya. Hal ini akan menyebabkan terjadinya invasi bakteri dan kerusakan pada jaringan pulpa serta penyebaran infeksi ke jaringan periapikal dan menimbulkan rasa nyeri (Pintauli, 2012).
Karies terjadi bukan disebabkan karena satu kejadian saja tetapi disebabkan serangkaian proses yang terjadi selama beberapa kurun waktu. Ada tiga faktor utama yang memegang peranan, yaitu faktor host atau tuan rumah, agen atau mikroorganisme, substrat atau diet ditambah faktor waktu. Untuk terjadinya karies, maka kondisi setiap faktor tersebut harus saling mendukung, yaitu tuan rumah yang rentan yang meliputi morfologi gigi, struktur enamel, faktor kimia dan kristalografis, mikroorganisme yang kariogenik yang mampu menghasilkan asam, seperti
Streptococcus, substrat yang sesuai adalah makanan yang mengandung karbohidrat terutama sukrosa, dan waktu yang lama (Pintauli, 2012).
Proses terjadinya karies diawali adanya proses demineralisasi pada email. Sisa makanan akan menempel pada permukaan email dan berakumulasi membentuk plak, yaitu media pertumbuhan yang menguntungkan bagi mikroorganisme.
Mikroorganisme yang menempel pada permukaan tersebut akan menghasilkan asam dan melarutkan permukaan email sehingga terjadi proses demineralisasi.
Demineralisasi mengakibatkan proses awal karies pada email, yang ditandai dengan bercak putih (white spot). Bila proses ini sudah terjadi maka progresivitas tidak akan dapat berhenti sendiri, kecuali dilakukan pembuangan jaringan karies dan dilakukan penambalan pada permukaan gigi yang terkena karies atau dilakukan pencabutan bila tidak dapat ditambal lagi (Pintauli, 2012).
2. Karang gigi (Kalkulus)
Karang gigi adalah lapisan kerak berwarna kuning yang menempel pada gigi dan terasa kasar, yang dapat menyebabkan masalah pada gigi. Karang gigi dapat terletak di leher gigi dan terlihat oleh mata sebagai garis kekuningan atau kecoklatan yang melekat cukup kuat pada permukaan gigi sehingga tidak dapat dihilangkan dengan menyikat gigi (Irma, 2013). Karang gigi umumnya terbentuk di bawah gusi karena daerah tersebut sulit dijangkau oleh bulu sikat gigi (Susanto, 2007).
3. Penyakit periodontal
Penyakit periodontal merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang terakumulasi dalam plak yang menyebabkan gingival mengalami
peradangan. Ada dua tipe penyakit periodontal yang biasa dijumpai yaitu gingivitis dan periodontitis (Pintauli, 2012).
a. Gingivitis
Gingivitis merupakan penyakit periodontal stadium awal berupa peradangan pada gingival, termasuk penyakit paling umum yang sering ditemukan pada jaringan mulut. Faktor penyebab terjadinya gingivitis adalah faktor lokal dan sistemik. Faktor penyebab lokal adalah plak, kalkulus, impaksi makanan, karies dan tambalan yang berlebih. Plak merupakan deposit berisi mikroorganisme mulut beserta eksudatnya memegang peranan penting terhadap terjadinya inflamasi tersebut. Tingkat keparahan dan kerusakan jaringan yang terjadi tergantung pada daya tahan tubuh dan kualitas reparasi jaringan. Adanya penyakit atau kondisi penurunan daya tahan tubuh penderita dapat menambah keparahan penyakit.
Gingivitis dapat disebabkan beberapa hal, diantaranya kebersihan mulut yang buruk, penumpukan karang gigi (kalkulus), dan efek samping dari obat-obatan tertentu yang diminum secara rutin. Sisa-sisa makanan yang tidak dibersihkan secara seksama menjadi tempat pertumbuhan bakteri. Meningkatnya kandungan mineral dari air liur membuat plak mengeras menjadi karang gigi (kalkulus) dan dapat menyebabkan radang gusi sehingga gusi mudah berdarah (Irma, 2013).
b. Periodontitis
Periodontitis terjadi jika gingivitis menyebar ke struktur penyangga gigi (Irma, 2013). Pada tahap ini, tulang penyangga gigi dan jaringan yang menyangga gigi di tempat yang terinfeksi tersebut sudah mengalami kerusakan. Jika keadaan ini
bertambah parah, jaringan dan tulang yang menyangga gigi telah hancur. Hal ini dapat menyebabkan gigi tanggal (Susanto, 2007). Periodontitis merupakan salah satu penyebab utama lepasnya gigi pada orang dewasa dan lanjut usia. Sebagian besar periodontitis merupakan akibat dari penumpukan plak dan karang gigi di antara gigi dan gusi (Irma, 2013).
2.6.3. Faktor-faktor yang Memengaruhi Kesehatan Gigi 1. Makanan dan Minuman
Sisa-sisa makanan dalam rongga mulut terutama makanan lengket dan manis dapat menyebabkan timbulnya plak gigi. Plak yang menumpuk kemudian akan menyebabkan karies gigi. Pada awalnya kerusakan terjadi pada email dan proses biasanya tidak disadari oleh penderita. Plak berwarna putih seperti gigi sehingga lapisan ini tidak begitu jelas terlihat. Kerusakan gigi baru diketahui setelah proses perlubangan gigi sampai ke daerah pulpa. Untuk menjaga kesehatan rongga mulut, sebaikanya kita memperhatikan pola makanan kita (Susanto, 2007).
Minuman kopi dan teh kurang baik untuk kesehatan gigi. Terlalu banyak minum kopi dan teh dapat menimbulkan plak berwarna cokelat pada permukaan gigi.
Minuman soft drink (minuman bersoda) juga dapat menyebabkan kareis gigi karena mengandung banyak gula (Susanto, 2007).
Beberapa cara mencegah kerusakan gigi sehubungan dengan makanan yang dikonsumsi sehari-hari:
a. Mengurangi makanan serba manis
Permen, coklat, roti yang diberi selai merupakan contoh makanan penyebab kerusakan gigi. Makanan tersebut bersifat manis dan lengket. Kandungan gula dalam makanan tersebut sangat tinggi, Dengan demikian, bakteri akan mengubah sisa-sisa makanan yang mengandung gula tersebut menjadi asam. Akhirnya, terjadi kerusakan gigi. Semakin lama sisa-sisa makanan itu menempel pada gigi, semakin mudah juga gigi mengalami karies.
Berkumur menggunakan air putih dapat mengurangi sisa makanan yang lengket pada permukaan gigi. Selain itu, makan buah-buahan berair dan mengandung serat tinggi baik untuk kesehatan gigi. Gesekan antara buah dengan permukaan gigi dapat mengurangi jumlah plak yang menempel pada gigi.
b. Menghindari makanan yang terlalu asam
Asam bersifat merusak gigi, demikian juga dengan makanan yang serba asam.
Contohnya asam cuka yang biasanya digunakan dalam kuah empek-empek, dan buah-buahan yang rasanya asam.
c. Menghindari makanan keras, terlalu panas, dan terlalu dingin
d. Makan makanan yang mengandung mineral, kalsium, fluor, dan fosfor serta vitamin A, C, D, dan E yang diperlukan untuk pertumbuhan gigi.
2. Menyikat gigi
Kuman akan aktif merusak gigi jika ada sisa-sisa makanan dalam rongga mulut (Susanto, 2007). Plak dapat disingkirkan dengan menyikat gigi. Oleh karena itu, menyikat gigi harus dilakukan secara teratur, pada waktu yang tepat dan cara
yang benar. Selain itu perlu juga diperhatikan pemilihan sikat gigi dan pasta gigi yang tepat.
Menyikat gigi yang benar adalah dengan menyikat seluruh permukaan gigi.
Tahapan menyikat gigi secara sistematis adalah sebagai berikut: Penyikatan gigi dimulai dari gigi paling belakang di permukaan dalam gigi yang menghadap lidah rahang bawah kiri sampai ke gigi paling belakang di permukaan yang menghadap lidah rahang bawah kanan. Penyikatan kemudian dilanjutkan ke permukaan yang menghadap langit-langit gigi paling belakang di rahang atas kanan, terus sampai ke gigi paling belakang di rahang atas kiri. Seterusnya dilanjutkan dengan menyikat permukaan yang menghadap pipi gigi paling belakang di rahang atas kiri sampai ke permukaan yang menghadap pipi gigi paling belakang di rahang atas kanan.
Penyikatan dilanjutkan ke permukaan yang menghadap pipi gigi paling belakang di rahang bawah kanan sampai ke permukaan yang menghadap pipi gigi paling belakng di rahang bawah kiri. Setelah itu penyikatan dilakukan pada permukaan kunyah gigi belakng rahang bawah kiri, dilanjutkan dengan permukaan kunyah gigi belakang rahang bawah kanan. Tahap terakhir adalah penyikatan permukaan kunyah gigi belakang rahang atas kanan, dan diakhiri pada permukaan kunyah gigi belakang rahang atas kiri (Daliemunthe, 1996).
2.7. Perilaku Kesehatan
Perilaku kesehatan adalah respons seseorang terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sehat-sakit seperti lingkungan, makanan, minuman, dan
pelayanan kesehatan (Notoatmodjo, 2010). Ada tiga tingkat ranah perilaku, yaitu:
kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), psikomotor (tindakan).
2.7.1. Ranah Kognitif
Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Ranah kognitif berhubungan dengan kemampuan berpikir, termasuk di dalamnya kemampuan menghafal, memahami, mengaplikasi, menganalisis, mensintesis, dan kemampuan mengevaluasi. Menurut Revisi Taksonomi Bloom (2001), ada enam aspek atau jenjang proses berpikir mulai dari jenjang terendah sampai dengan jenjang yang paling tinggi, yaitu:
1. Mengingat (remember)
Mengingat merupakan usaha mendapatkan kembali pengetahuan dari memori atau ingatan yang telah lampau, baik yang baru saja didapatkan maupun yang sudah lama didapatkan. Mengingat berperan penting dalam proses pembelajaran yang bermakna dan pemecahan masalah. Mengingat meliputi mengenali dan memanggil kembali. Mengenali berkaitan dengan pengetahuan masa lampau yang berkaitan dengan hal-hal yang konkret, misalnya tanggal lahir, alamat, dan usia, sedangkan memanggil kembali adalah proses kognitif yang membutuhkan pengetahuan masa lampau secara cepat dan tepat.
2. Memahami / mengerti (understand)
Memahami berkaitan dengan membangun sebuah pengertian dari berbagai sumber seperti pesan, bacaan, dan komunikasi. Memahami meliputi mengklasifikasikan dan membandingkan. Mengklasifikasikan berawal dari suatu
contoh atau informasi yang spesifik kemudian ditemukan konsep dan prinsip umumnya. Membandingkan berkaitan dengan proses kognitif menemukan satu persatu ciri-ciri dari obyek yang diperbandingkan.
3. Menerapkan (apply)
Menerapkan menunjuk pada proses kongitif memanfaatkan atau mempergunakan suatu prosedur untuk melaksanakan percobaan atau menyelesaikan permasalahan. Menerapkan meliputi kegiatan menjalankan prosedur dan mengimplementasikan. Menjalankan prosedur merupakan proses kognitif dalam menyelesaikan masalah dan melaksanakan percobaan. Mengimplementasikan muncul apabila memilih dan menggunakan prosedur untuk hal-hal yang belum diketahui atau masih asing.
4. Menganalisis (analyze)
Menganalisis merupakan memecahkan suatu permasalahan dengan memisahkan tiap-tiap bagian dari permasalahan dan mencari keterkaitan dari tiap-tiap bagian tersebut dan mencari tahu bagaiman keterkaitan tersebut dapat menimbulkan masalah. Menganalisis berkaitan dengan memberi atribut dan mengorganisasikan.
5. Mengevaluasi (evaluate)
Evaluasi berkatain dengan proses kognitif memberikan penilaian berdasarkan criteria dan standar yang sudah ada. Evaluasi meliputi mengecek dan mengkritisi.
Mengecek mengarah pada penetapan sejauh mana suatu rencana berjalan dengan baik. Mengkritisi berkaitan erat dengan berpikir kritis.
6. Menciptakan (create)
Menciptakan berkaitan erat dengan pengalaman belajar sebelumnya.
Menciptakan mengarahkan untuk dapat melaksanakan dan menghasilkan karya.
Menciptakan meliputi menggeneralisasikan dan memproduksi.
2.7.2. Ranah Afektif
Ranah afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai, mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi dan nilai.
Seperti halnya ranah kognitif, ranah afektif juga mempunyai tingkat-tingkat berdasarkan intensitasnya, sebagai berikut:
1. Menerima (receiving)
Menerima adalah kepekaan seseorang dalam menerima rangasangan dari luar yang datang kepada dirinya dalam bentuk masalah, situasi, gejala, dan lain-lain.
2. Menanggapi (responding)
Menanggapi berarti kemampuan seseorang untuk mengikutsertakan dirinya secara aktif dalam fenomena tertentu dan membuat reaksi terhadapnya.
3. Menghargai (valuing)
Menghargai diartikan seseorang memberikan penghargaan terhadap suatu kegiatan atau obyek, sehingga apabila kegiatan itu tidak dikerjakan, dirasakan akan membawa kerugian atau penyesalan.
4. Mengorganisasikan (organization)
Mengorganisasikan artinya mempertemukan perbedaan nilai sehingga terbentuk nilai baru yang universal, yang membawa pada perbaikan umum.