B. Rencana Pembangunan Dan Pengembangan Kawasan
2. Kesesuaian Lahan Perumahan dan Permukiman
a. Pengembangan Permukiman Perkotaan dalam Rencana Tata Ruang 1) Permukiman Perkotaan – RTRW Kabupaten Tahun 2002-2012
Berdasarkan arahan tata ruang Sub Wilayah Pengembangan (SWP) RTRW Tabalong, pengembangan pusat permukiman perkotaan diarahkan pada fungsi SWP I (Tengah) dengan pusat pelayanan Kota Tanjung, dan fungsi SWP III (Selatan) dengan pusat pelayanan Kota Kelua. Sedangkan pada fungsi SWP II (Utara) tidak diarahkan atau dikembangkan menjadi permukiman perkotaan.Merupakan ruang yang diperuntukan bagi pengelompokan perumahan termasuk didalamnya sarana/prasarana sosial ekonomi, dengan dominasi kegiatan usaha non pertanian (pemerintahan, perdagangan, jasa, industri), untuk menampung penduduk yang ada saat ini maupun perkembangannya, dengan kriteria :
Dominasi penggunaan lahan adalah permukiman perkotaan Kecenderungan perkembangan pembangunan permukiman baru
Daya tampung perkembangan penduduk dan sarana/prasarana yang dibutuhkan
Usaha-usaha/kebijaksanaan yang ada
Mengalihkan penggunaan pertanian lahan kering yang berada disekitar permukiman perkotaan menjadi permukiman perkotaan.
Pengaturan yang harus dilakukan meliputi :
Perlu pengaturan ruang untuk fasilitas lingkungan
Perlu memperhatikan kepadatan lingkungan dan Koefisien dasar bangunan (KDB) dalam rangka menunjang fungsi peresapan air
Kerapatan bangunan perlu juga diperhitungkan
Kebijaksanaan pemanfaatan ruangnya didasarkan pada tujuan untuk mengembangkan kawasan permukiman kota sebagai tempat pemusatan penduduk yang meliputi :
Penataan ruang kota (RTRK, RDTRK, RTRK) yang mencakup penyusunan dan peninjauan kembali rencana tata ruang kota.
Pengembangan permukiman perkotaan diprioritaskan di empat kecamatan (Kelua, Tanjung, Murung Pudak, Muara Uya) yang ditunjang ibukota kecamatan lainnya, mengingat saat ini keempat kecamatan tersebut telah memiliki desa- urban. Rencana pengembangan Kota Tanjung kearah selatan hingga kawasan Mabuun (Tanjung Baru), dilakukan dengan tahapan pengembangan :
a) Pada tahap awal dilakukan dengan pemberian “insentif” berupa pengembangan sarana dan prasarana umum skala pelayanan kabupaten (kantor pemerintahan, bangunan umum, pendidikan, kesehatan, jalan, listrik, air, telepon) sebagai penarik/pancingan timbulnya kegiatan lain.
b) Dengan lengkapnya sarana/prasarana sosial yang memadai diharapkan akan merangsang berkembangnya permukiman (yang tertata dan terencana), baik yang dilakukan oleh pengembang, perorangan maupun pemerintah/swasta. c) Dengan berkembangnya permukiman akan meningkatkan intensitas kegiatan
dan interaksi masyarakat dalam kawasan dan dengan kawasan lain, sehingga akan tumbuh kegiatan pelayanan jasa/perdagangan yang pada tahap awal masih sebatas pelayanan internal.
d) Dengan sudah berkembangnya kegiatan dalam kawasan, akan menimbulkan multiplier effect dari kegiatan perdagangan dan jasa yang ada dalam skala yang lebih besar (grosir) atau turunannya (skala lingkungan) yang ditunjang dengan bertambah intensifnya interaksi kawasan dalam konstelasi regional yang terkait dengan posisi strategis kawasan dalam lintas Trans Kalimantan. Luas kawasan permukiman direncanakan sebesar 17.656 Ha atau 4,90 % dari luas wilayah Kabupaten Tabalong, yang terdiri dari kawasan permukiman perkotaan seluas 9.7883 Ha (2,75 %) & kawasan permukiman pedesaan seluas 7.773 Ha (2,16 %).
2) Permukiman Perkotaan – RP4D Kabupaten Tabalong
a) Arahan Penetapan Kawasan Prioritas Perumahan dan Permukiman
Ada beberapa kawasan yang perlu didorong pertumbuhannya dan perlu adanya penanganan yang lebih intensif. Berdasarkan kondisi tersebut maka perlu penetapan prioritas penanganan wilayah/kawasan perumahan dan permukiman, antara lain :
Wilayah permukiman yang mempunyai prospek pengembangan yang tinggi
Wilayah perumahan dan permukiman yang termasuk kurang berkembang Pertumbuhan pusat-pusat kegiatan ekonomi yang cukup pesat
Kawasan strategis permukiman dan memiliki prospek pengembangan yang baik
Tabel 3.5. Rekomendasi Prioritas Lokasi Pengembangan Lokasi Permukiman Kondisi Kawasan Status
Permukiman
Rekomendasi Pengembangan Prioritas 1 :
Kota Tanjung dan
kawasan Puri Mawar Prioritas 2 :
Pusat Pengembangan
(Pusat kecamatan)
Ruang terbuka hijau kota
Pertumbuhan permukiman penduduk yang pesat
Berkembang Perencanaan, pemanfaatan dan
pengendalian terhadap Kota Tanjung
Penataan Sistem transpor-tasi dan jaringan utilitas
Pendistribusian pusat-pusat pelayanan
Perencanaan, pemanfaatan, pengendalian & pembangunan perumahan (real estate) melalui pola pengem-bangan1 : 3 : 6
b) Wilayah Permukiman yang Mempunyai Prospek Pengembangan Tinggi
Rencana pengembangan wilayah prioritas perumahan dan permukiman di kabupaten Tabalong diarahkan pada wilayah yang memiliki aksesibilitas tinggi sehingga perlu mendapat perhatian tersendiri. Di Kabupaten Tabalong, wilayah yang mempunyai prospek tinggi tersebut adalah wilayah di sekitar jalan arteri primer serta kawasan industri. Wilayah dengan akses tinggi tersebut antara lain :
Menurut rencana pengembangan jaringan jalan Propinsi, salah satu pengembangan jaringan jalan yang penting di Kalimantan Selatan adalah jalan arteri primer.
Dampak dari keberadaan jaringan jalan arteri primer Kabupaten Tabalong adalah semakin berkembangnya kawasan disekitar kawasan tersebut, meningkatnya nilai lahan serta akses semakin cepat dan mudah.
Pengembangan kegiatan dan pembangunan kawasan terbangun di sepanjang jalan arteri primer.
Wilayah yang mempunyai prospek pengembangan yang tinggi adalah Kecamatan Tanjung, Murung Pudak, Tanta, Haruai, Muara Uya, Jaro, Kelua dan Pugaan.
c) Pertumbuhan Pusat-Pusat Kegiatan Ekonomi yang Cukup Pesat
Kegiatan ekonomi yang selama ini terpusat dan terkonsentrasi di Kota Tanjung dan sekitarnya, merupakan salah satu penyebab adanya kesenjangan dan wilayah yang kurang berkembang. Perlu adanya pemerataan pusat-pusat kegiatan ekonomi yang perlu dikembangkan khususnya pada pusat-pusat kecamatan, yang bertujuan untuk melayani
wilayah sekitarnya. Diharapkan dengan adanya pengembangan kegiatan perekonomian di masing-masing pusat kecamatan dapat meniadakan kesenjangan antar wilayah.
d) Kawasan Strategis dan Memiliki Prospek Pengembangan Baik
Kawasan yang strategis di Kabupaten Tabalong adalah daerah yang berdekatan langsung dengan Kota Tanjung dan mempunyai akses langsung dengan keberadaan jaringan jalan arteri primer kabupaten Tabalong. Wilayah yang menjadi kawasan strategis untuk kegiatan permukiman dan memiliki prospek pengembangan yang baik adalah Kecamatan Tanjung, kecamatan Murung Pudak dan kawasan yang mempunyai prospek pengembangan yang baik karena keberadaan jaringan jalan arteri primer.
Tabel 3.6. Rekomendasi Rencana Lokasi Pengembangan Lokasi
(Kecamatan) Kondisi Permukiman Status Kawasan Permukiman Pengembangan Rekomendasi Tanjung Murung Pudak Kawasan permukiman tumbuh pesat di sekitar wilayah kota serta disepanjang koridor jalan arteri primer
Berkembang Daerah yang Mempunyai akses baik dengan Kota
Tanjung
Kawasan permukiman yang tumbuh pesat di
sekitar pusat kota me-rupakan kawasan permukiman yang strategis dan memiliki prospek pengembangan yang baik.
Wilayah yang menjadi kawasan strategis memiliki prospek pengem-bangan permukiman yang baik
Kawasan permukiman yang berada disepanjang koridor jaringan jalan arteri primer merupakan kawasan yang sangat potensial, hal ini menyebabkan kawasan permukiman ini memiliki
nilai strategis dan memiliki prospek
pengembangan yang baik
b. Pola Pengembangan Permukiman Perkotaan
Adapun pola pengembangan kawasan permukiman perkotaan yang dapat dilaksanakan di Kabupaten Tabalong antara lain :
1) Pola Pengembangan Kawasan
a) Pengembangan Kawasan Permukiman Berkepadatan Rendah b) Pengembangan Kawasan Permukiman Berkepadatan Sedang c) Pengembangan Kawasan Komersial
d) Pengembangan kawasan perumahan dan permukiman pada kawasan skala besar, dengan penataan prasarana kawasan dan penyiapan lahan perumahan e) Pengembangan Kawasan yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas tampung atau hunian, dengan tetap mempertimbangkan dan menjaga tingkat kepadatan bangunan sedang atau serasi.
f) Pengembangan Kawasan Permukiman Baru, seperti yang telah dilaksanakan melalui Konsolidasi Tanah Perkotaan di Desa Pembataan dan Desa Mabu`un. Pengembangan melalui cara seperti ini dapat dilaksanakan untuk lebih memberikan garansi dalam pengendalian perencanaan tata ruang kawasan perkotaan yang telah disusun sebelumnya.
Di Kawasan Perkotaan Tanjung Kabupaten Tabalong, teridentifikasi 2 (dua) lokasi pengembangan kawasan permukiman perkotaan baru, yaitu Konsolidasi Tanah Perkotaan (KTP) yang berlokasi di Desa Pembataan dan Desa Mabuun. Lokasi KTP Desa Pembataan pada saat ini sampai pada tahap sertifikasi 50 Ha. Sedangkan Lokasi KTP Desa Mabuun seluas 100 Ha, terdiri lebih dari 1.100 persil.
2) Pola Penataan Kawasan, dilaksanakan berdasarkan prioritas penanganan
a) Penataan Kembali Kawasan Permukiman Bantaran Sungai/ Kawasan Rawan Bencana Banjir dan Longsor
b) Kawasan Permukiman Kumuh Perkotaan Berkepadatan Tinggi c) Kawasan Permukiman Berkepadatan Tinggi
Dalam melaksanakan pengembangan dan penataan kawasan, diperlukan adanya keserasian pada kawasan yang dikembangkan, baik skala besar maupun kawasan khusus atau juga dalam penerapan lingkungan hunian berimbang. Penataan kawasan permukiman kumuh perkotaan dapat dilakukan melalui program peremajaan lingkungan pada beberapa kawasan, seperti :
a) Kawasan Andalan
b) Permukiman di Pusat Kota Tanjung
c) Kawasan Bantaran Sungai / Banjir yang akan/ sedang ditata kembali karena berkembangnya hunian tidak resmi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.
d) Penanganan Kawasan Permukiman Kumuh Perkotaan, termasuk kota-kota kecamatan dan kawasan yang memiliki tingkat kecenderungan untuk kumuh di seputar ibukota kecamatan
e) Kota-Kota di Kabupaten Tabalong yang merupakan Pusat Pengembangan Wilayah (PPW), Pusat Pengembangan Lokal (PPL), Pusat Pertumbuhan Kecil, dan beberapa Pusat Permukiman Tepian Air.
Perwujudan kondisi lingkungan permukiman yang sehat, aman, harmonis dan berkelanjutan melalui strategi operasional, sebagai berikut :
a) Peningkatan kualitas lingkungan permukiman dengan priorirtas, meliputi : Penataan dan rehabilitasi kawasan permukiman kumuh.
Pengembangan rumah sewa, termasuk rumah susun sederhana sewa (rusunawa) di perkotaan.
b) Pengembangan penyediaan prasarana dan sarana dasar permukiman, yang meliputi :
Pengembangan kawasan siap bangun (Kasiba) dan Lingkungan siap bangun (Lisiba).
Pengembangan lingkungan siap bangun yang berdiri sendiri. c) Penerapan tata lingkungan permukiman, yang meliputi :
Pelembagaan rencana pembangunan dan pengembangan perumahan dan permukiman di daerah (RP4D).
Pelestarian bangunan yang dilindungi dan lingkungan permukiman tradisional.
Revitalisasi lingkungan permukiman strategis.
Pengembangan penataan lingkungan permukiman dan pemantapan standar pelayanan minimal lingkungan permukiman.
c. Strategi Pemberdayaan Masyarakat dalam Pengembangan Permukiman Perkotaan
Kebijakan dan strategi terkait pemberdayaan masyarakat yang dapat ditempuh dalam pengembangan perumahan dan permukiman di Kabupaten Tabalong adalah :
1) Melembagakan sistem penyelenggaraan perumahan dan permukiman dengan pelibatan masyarakat sebagai pelaku utama.
Dari kelembagaan yang telah ada ditingkat pemerintahan dan swasta, dilakukan pendekatan dan kerjjasama dengan kelompok-kelompok masyarakat yang membutuhkan dan memerlukan perumahan atau penataan perumahannnya. 2) Pemantapan kelembagaan perumahan dan permukiman yang handal dan
responsif dilingkungan Pemerintah Kabupaten, Badan Usaha Milik Daerah/ Swasta dan Masyarakat.
Dapat dilaksanakan melalui pengembangan akses pembiayaan perumahan swadaya.
Untuk Pola Pengembangan dan Penanganan Masyarakat, dapat dilaksanakan melalui berbagai Peraturan Perundangan dan menyesuaikan dengan kondisi Kabupaten Tabalong, sebagai contoh pembangunan perumahan yang bertumpu pada kelompok masyarakat, sehingga permintaan atau “demand” dapat dipenuhi sendiri oleh dari persediaan atau “supply” yang difasilitasi oleh kelembagaan pemerintah dan swasta
melalui beberapa pola pembiayaan, beberapa insentif regulasi dan retribusi serta kemudahan dalam mendapatkan stimulan-stimulan lainnya.
d. Arahan Pengembangan Permukiman Perkotaan
Kawasan permukiman perkotaan di Kota Tanjung, dikembangkan melalui beberapa prioritas. Kawasan Prioritas Pengembangan Perumahan dan Permukiman dulakukan untuk mengisi dan memanfaatkan lahan kosong kota berdasarkan rencana tata ruang yang ada dan potensi kecenderungannya. Adapun kawasan prioritas tersebut adalah :
1) Kawasan Prioritas Pengembangan Perumahan I, terdapat di kawasan sekitar pasar Tanjung, Kecamatan Tanjung.
2) Kawasan Prioritas Pengembangan Perumahan II, terdapat di Kawasan Desa Mabuun, Kecamatan Marung Pudak.
3) Kawasan Prioritas Pengembangan Perumahan III, terdapat di Kawasan Desa Pembataan, Kecamatan Marung Pudak.
4) Kawasan Prioritas Pengembangan Perumahan IV, terdapat di Kawasan Desa Sulingan, Kecamatan Marung Pudak.
5) Kawasan Prioritas Pengembangan Perumahan V, terdapat di kawasan Desa Belimbing, Kecamatan Marung Pudak.
Pemenuhan terhadap permintaan perumahan dan permukiman pada pusat pengembangan permukiman perkotaan Kota Tanjung diarahkan kepada pengembangan lahan ke arah Kota Balikpapan berdasarkan potensi lahan untuk pengembangan pusat permukiman perkotaan, untuk ke arah Kota Barabai pengembangan dibatasi karena kawasan tersebut berbatasan dengan kegiatan pertambangan, dan jasa pelayanan pendukungnya.
Sedangkan untuk memenuhi kekurangan persediaan “supply” unit-unit rumah tinggal kedepan di kota-kota kecamatan selain Kota Tanjung (Pusat SWP I) dan Kota Kelua (Pusat SWP III), pengembangannya dilakukan di kota-kota kecamatan antara lain Jaro, Muara Uya, Upau, Haruai, Tanta, Banua Lawas, Pugaan dan Muara Harus.