7% Aktor Perubahan Penggunaan Lahan
VI. KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
1. Perubahan penggunaan lahan yang dominan pada periode 2001-2007 adalah konversi TPLK menjadi Perumahan/permukiman, Industri dan Bisnis. Konversi TPLK menjadi Perumahan/permukiman, Industri, dan Bisnis masih mendominasi perubahan penggunaan lahan periode 2007-2010. Pola perubahan penggunaan lahan yaitu dari TPLB, Empang/Tambak, Tubuh Air (Rawa) menjadi TPLK, Perumahan/permukiman, Industri, dan Bisnis. Konversi TPLK menjadi perumahan/permukiman merupakan perubahan penggunaan lahan terluas di wilayah penelitian.
2. Peningkatan luas tipe fragmentasi core, edge, dan patch menjadi indikasi pengembangan area perumahan/permukiman dan bisnis yang tidak tertata dengan baik. Proses fragmentasi penggunaan lahan dicirikan oleh peningkatan luasan tipe perforated. Penurunan luas tipe perforated menandakan konversi penggunaan lahan menjadi perumahan/permukiman telah sangat berkembang, dengan kemungkinan segera menuju ke tahap leveling off dengan laju perubahan yang semakin menurun karena tidak adanya lahan yang dapat dikonversi. Penurunan luasan tipe fragmentasi patch pada penggunaan lahan industri menjadi indikasi terjadinya aglomerasi. Proses fragmentasi penggunaan lahan sangat intensif terjadi di Kecamatan Biringkanaya dibandingkan dengan empat kecamatan lainnya di wilayah studi.
3. Aktor perubahan penggunaan lahan TPLK dan TPLB menjadi Perumahan/permukiman dilakukan oleh etnis/suku Makassar, Bugis, Toraja, dan pembangunan kantor camat oleh pemerintah. Etnis/suku Tionghoa umumnya melakukan perubahan penggunaan lahan dari TPLB dan TPLK menjadi Industri. Pembangunan sarana Bisnis dengan mengkonversi Empang/tambak, Tubuh Air (Rawa), dan TPLK dilakukan oleh aktor perubahan penggunaan lahan dengan identitas etnis/suku Bugis, Makassar, dan Luar Sulawesi. Perubahan penggunaan lahan dari TPLB menjadi TPLK dilakukan oleh etnis/suku Bugis dan Tionghoa. Perubahan penggunaan lahan dari TPLB menjadi Perumahan/permukiman dilakukan oleh aktor dengan tingkat pendidikan SMP. Aktor dengan tingkat pendidikan S1 dan kepentingan pemerintah melakukan perubahan penggunaan lahan dari TPLK
menjadi Perumahan/permukiman. Perubahan penggunaan lahan dari TPLK dan Tubuh Air (rawa) menjadi Bisnis dilakukan oleh aktor dengan tingkat pendidikan SD. Konversi TPLB menjadi TPLK dilakukan oleh aktor dengan tingkat pendidikan SMA.
4. Landscape Fragmentation Analysis (LFA) mampu dimanfaatkan dalam mengkaji proses fragmentasi dan perubahan penggunaan lahan di wilayah studi.
6.2. Saran
1. Penelitian yang terkait model proyeksi fragmentasi penggunaan lahan perkotaan dirasakan perlu dilakukan sebagai alat kajian dalam menyusun peraturan zonasi dan pengendalian pemanfaatan ruang.
2. Kajian terkait aktor perubahan penggunaan lahan berbasis mata pencaharian utama dan tingkat pendapatan rumah tangga dengan menambah arah transek dari pusat kota atau menggunakan metode sampling yang lain di Kawasan Metropolitan Mamminasata.
Arsyad S, Rustiadi E. 2008. Penyelamatan tanah, air, dan lingkungan. Crestpent Press dan Yayasan Obor Indonesia. Jakarta
Arsyad S, 2010. Konservasi tanah dan air. IPB Press. Bogor
[BPS] Badan Pusat Statistik Kota Makassar. 2002. Kota Makassar dalam Angka 2002. Makassar: BPS Kota Makassar.
[BPS] Badan Pusat Statistik Kota Makassar. 2007. Kota Makassar dalam Angka 2007. Makassar: BPS Kota Makassar.
[BPS] Badan Pusat Statistik Kota Makassar. 2010. Kota Makassar dalam Angka 2010. Makassar: BPS Kota Makassar.
[BPS] Badan Pusat Statistik Kota Makassar. 2011. Kota Makassar dalam Angka 2011. Makassar: BPS Kota Makassar.
Burgess R. 2007. Technological determinism and urban fragmentation: a critical analysis. School of the Built Environment, Oxford Brookes University. [Dep.PU] Departemen Pekerjaan Umum 2007. Undang-Undang No. 26 Tahun
2007, Tentang Penataan Ruang. Jakarta: Dep.P.U
Gao J, Li S. 2011. Detecting spatially non-stationary and scale-dependent relationships between urban landscape fragmentation and related factors using geographically weighted regression. Applied Geography 31: 292-302.
Habibi S, Asadi N. 2011. Causes, results and methods of controlling urban sprawl. Procedia Engineering 21: 133 -141.
Huang S-L, Wang S-H, Budd WW. 2009. Sprawl in Taipei’s peri-urban zone: responses to spatial planning and implications for adapting global environment change. Landscape and Urban Planning 90: 20-32.
Hurd J, Parent J, Civco D. 2006. Forest fragmentation in Connecticut: what do we know and where are we headed?. Center for Land use Education And Research (CLEAR) Department of Natural Resources Management & Engineering The University of Connecticut.
Lillesand MT, Kiefer RW. 1997. Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra. Dulbahri, Suharsono P, Hartono, Suharyadi, Penerjemah; Sutanto, Editor. Terjemahan dari Remote Sensing and Image Interpretation. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Lin M-W, Ben T-M. 2009. Impact of government and industrial agglomeration on industrial land prices: a Taiwanese case study. Habitat International 33: 412-418.
Liu M, Hu Y, Zhang W, Zhu J, Chen H, Xi F. 2011. Application of land-use change model in guiding regional planning: a case study in Hun-Taizi river watershed, Northeast China. Chinese Geograpichal Science 21: 609-618.
Martinuzzi S, Gould WA, Gonzales OMR. 2007. Land development, land use, and urban sprawl in Puerto Rico integrating remote sensing and population census data. Landscape and Urban Planning 79: 288-297. Munibah K. 2008. Model spasial perubahan penggunaan lahan dan arahan
penggunaan lahan berwawasan lingkungan: studi kasus DAS Cidanau, Provinsi Banten [disertasi]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Nurmani NE. 2007. Keterkaitan pajak lahan dengan penggunaan lahan: studi kasus Kecamatan Cibinong dan Cileungsi Kabupaten Bogor [tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Parent J, Hurd J. 2008. An Improved Method for Classifying Forest Fragmentation. Center for Land use Education And Research. Department of Natural Resources Management & Engineering The University of Connecticut.
[Pemprov] Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. 2003. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan No. 10 Tahun 2003 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Metropolitan Mamminasata. Makassar.
[Pemprov] Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan. 2009. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Selatan No. 9 Tahun 2009 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Sulawesi Selatan 2009 - 2029. Makassar.
[Pemkot] Pemerintah Kota Makassar. 2006. Peraturan Daerah Kota Makassar No. 6 Tahun 2006 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Makassar 2005 – 2015. Makassar.
[Pemkot] Pemerintah Kota Makassar. 2009. Peraturan Daerah Kota Makassar No. 6 Tahun 2009 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Makassar 2009-2014. Makassar.
[PP] Peraturan Pemerintah Republik Indonesia. 2008. Peraturan Pemerintah No. 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional. Jakarta. [Perpres] Peraturan Presiden Republik Indonesia. 2011. Peraturan Presiden No.
55 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan Makassar, Maros, Sungguminasa, dan Takalar. Jakarta
Poelmans L, Romapey AV. 2009. Detecting and modelling spatial patterns of urban sprawl in highly fragmented Areas: a case study in the Flanders-Brussels region. Landscape and Urban Planning 93: 10-19.
Prenzel B, Treitz P. 2004. Remote sensing change detection for a watershed in North Sulawesi, Indonesia. Progress in Planning 61: 349-363.
Rustiadi E, Saefulhakim S, Panuju DR. 2009. Perencanaan dan pengembangan wilayah. Jakarta: Crestpent Press dan Yayasan Obor Indonesia.
Ruswandi A, Rustiadi E, Mudikdjo K. 2007. Dampak konversi lahan pertanian terhadap kesejahteraan petani dan perkembangan wilayah: studi kasus di daerah Bandung Utara. Jurnal Agro Ekonomi 25: 207-219.
Saefulhakim S, Panuju DR, Rustiadi E, Suryaningtyas DT. 2003. Pengembangan model sistem interaksi antar aktifitas sosial ekonomi dengan perubahan penggunaan lahan. Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor.
Sancar C, Turan SO, Kadiogullari AL. 2009. Land use-cover change processes in urban fringe areas: Trabzon case study, Turkey. Scientific Research and Essay 4: 1454-1462.
Shrestha MK, York AB, Boone CG, Zhang S. 2012. Land fragmentation due to rapid urbanization in the Phoenix Metropolitan Area: analyzing the spatiotemporal patterns and drivers. Applied Geography 32: 522-531. Sitorus S.R.P. 2011. Penataan Ruang. Program Studi Ilmu Perencanaan
Wilayah Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Tadjang HS. 2001. Klimatologi Dasar. Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian dan Kehutanan Universitas Hasanuddin. Makassar.
Tokairin T, Sofyan A, Kitada T. 2010. Effect of land use changes on local meteorological conditions in Jakarta, Indonesia: toward the evaluation of the thermal environment of megacities in Asia. International Journal of Climatology 30: 1931-1941.
Trisasongko BH, Panuju DR, Iman LS, Harimurti, Ramly AF, Anjani V, Subroto H. 2009. Analisis Dinamika Konversi Lahan di Sekitar Jalur Tol Cikampek. Publikasi Teknis DATIN. Kementerian Negara Lingkungan Hidup. Jakarta. Useng D, Prawitosari T, Achmad M, Salengke. 2011. Urban sprawl on
Jeneberang delta of Makassar: a remote sensing and GIS perspective. International Seminar on Sustainable Urban Development (ISOSUD2011) Jakarta 24-27 July. 2011.
Vogt P, Riitters KH, Estreguil C, Kozak J, Wade TG, Wickham JD. 2007. Mapping spatial patterns with morphological image processing. Landscape Ecology 22: 171-177.
Wicke B, Sikkema R, Dornburg V, Faaij A. 2011. Exploring land use changes and the role of palm oil production in Indonesia and Malaysia. Land Use Policy 28: 193-206.
Xie D, Liu Y, Chen J. 2011. Mapping urban environmental noise: a land use regression method. Environmental Science & Technology 45: 7358-7364. Zhao P. 2010. Suistainable urban expansion and transportation in a growing
megacity: consequences of urban sprawl for mobility on the urban fringe of Beijing. Habitat International 34: 236-243.
Lampiran 4. Identitas responden perubahan penggunaan lahan berbasis etnis/suku, tingkat pendidikan, dan status terhadap lahan di wilayah peri urban Kota Makassar
No. Sampel Penggunaan Lahan 2001 Penggunaan Lahan 2007 Penggunaan
Lahan 2010 Jalur Etnis/suku
Tingkat
Pendidikan Status 1 Tubuh Air Tubuh Air Tubuh Air 1 Pemerintah Pemerintah P
2 Empang/Tambak Empang/Tambak Empang/Tambak 1 Tionghoa S1 BP 3 TPLK Industri Industri 1 Tionghoa S1 BP 4 PLL PLL PLL 1 Makassar TT SD BP 5 TPLK TPLK TPLK 1 Makassar SD P 6 TPLB TPLB TPLB 1 Tionghoa SMP BP 7 PP PP PP 1 Makassar TT SD P 8 Industri Industri Industri 1 Tionghoa SMA BP 9 PP PP PP 1 Pemerintah Pemerintah P 10 TPLB TPLB TPLB 1 Tionghoa TT SD BP 11 PP PP PP 1 Makassar S1 P 12 TPLK TPLK TPLK 1 Makassar TT SD P 13 TPLB TPLB PP 1 Makassar SMP P 14 TPLB TPLK TPLK 1 Tionghoa SD BP 15 TPLB TPLB TPLB 1 Makassar SD P 16 TPLB Industri Industri 1 Tionghoa SD BP
17 PP PP PP 1 Bima SD P
18 TPLK TPLK TPLK 1 Makassar SD P 19 TPLB TPLB TPLB 1 Makassar SMP P 20 Hutan Hutan Hutan 2 Pemerintah Pemerintah P 21 TPLK TPLK TPLK 2 Makassar TT SD BP
22 PP PP PP 2 Makassar SMA P
23 Tubuh Air Tubuh Air Tubuh Air 2 Toraja SMA P 24 TPLK TPLK TPLK 2 Pemerintah Pemerintah P 25 PP PP PP 2 Pemerintah Pemerintah P 26 TPLK Bisnis Bisnis 2 Bugis SMP BP 27 TPLB TPLB TPLB 2 Makassar TT SD BP
28 PP PP PP 2 Bugis D3 P
29 TPLK TPLK TPLK 2 Pemerintah Pemerintah P 30 Tubuh Air Tubuh Air Tubuh Air 2 Pemerintah Pemerintah P 31 TPLB TPLB TPLB 2 Makassar SMA P 32 TPLK TPLK TPLK 2 Makassar SMP P
33 PP PP PP 3 Bugis S1 P
34 Tubuh Air Tubuh Air Tubuh Air 3 Makassar SMA BP
35 PP PP PP 3 Bugis S3 P 36 PP PP PP 3 Toraja SMA BP 37 TPLK TPLK TPLK 3 Jawa S2 P 38 PP PP PP 3 Pemerintah Pemerintah P 39 TPLK TPLK TPLK 3 Jawa S1 BP 40 PP PP PP 3 Bugis SMA BP 41 TPLB TPLB TPLB 3 Bugis SD BP
Lanjutan Lampiran 4.
42 PP PP PP 3 Makassar SD BP
43 PP PP PP 3 Makassar S1 BP
44 TPLB TPLB TPLB 3 Makassar SD P 45 PLL PLL PLL 4 Pemerintah Pemerintah P 46 Tubuh Air Bisnis Bisnis 4 Bugis SD P 47 Tubuh Air Tubuh Air Tubuh Air 4 Pemerintah Pemerintah P
48 PP PP PP 4 Bugis SMA P
49 Tubuh Air Tubuh Air Tubuh Air 4 Pemerintah Pemerintah P
50 PP PP PP 4 Makassar SMA BP
51 TPLK TPLK TPLK 4 Tionghoa SMA BP 52 TPLK TPLK TPLK 4 Tionghoa SD BP 53 TPLB TPLB TPLB 4 Tionghoa SD BP 54 TPLK TPLK TPLK 4 Tionghoa SD BP 55 Empang/Tambak Empang/Tambal Empang/Tambak 5 Tionghoa SD BP 56 Empang/Tambak Empang/Tambak Bisnis 5 Batak SD BP 57 TPLK TPLK TPLK 5 Bugis SD BP 58 Empang Bisnis Bisnis 5 Jawa SD BP 59 Empang TPLK TPLK 5 Sengketa SMA BP 60 TPLK TPLK TPLK 5 Tionghoa SMA BP 61 TPLK Bisnis Bisnis 5 Makassar SD P
62 PP PP PP 3 Tionghoa S1 P
63 TPLK PP PP Kantor Camat Pemerintah Pemerintah P 64 PP PP PP Kantor Camat Pemerintah Pemerintah P 65 PP PP PP Kantor Camat Pemerintah Pemerintah P 66 PP PP PP Kantor Camat Pemerintah Pemerintah P 67 TPLK TPLK PP Kantor Camat Pemerintah Pemerintah P 68 TPLK PP PP Acak Toraja S1 P
69 PP PP PP Acak Bugis S2 P
70 TPLB TPLB TPLB Acak Makassar S1 P 71 TPLB TPLK PP Acak Bugis SMA P 72 TPLB TPLB TPLB Acak Makassar SMP BP
Lampiran 5. Curah hujan (mm) Stasiun Paotere BMG Wilayah IV Makassar.
Tahun Bulan Tahunan SF
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des BB BK BL
1997 529 846 193 189 21 4 14 0 0 0 25 176 1997 5 7 0 1998 167 110 240 220 87 23 257 110 56 174 684 862 2990 9 2 1 1999 1277 994 433 580 140 76 31 6 12 126 225 836 4736 8 3 1 2000 823 778 1114 338 337 37 180 67 0 47 84 303 4108 7 3 2 2001 445 893 813 687 163 11 92 0 0 6 20 550 3680 6 5 1 2002 1042 813 435 617 139 87 31 2 0 0 2 97 3265 5 5 2 2003 492 695 534 157 110 147 5 15 0 7 20 104 2286 7 5 0 2004 928 618 690 624 54 59 33 0 0 0 24 129 3159 5 7 0 2005 531 718 235 200 139 6 2 35 0 0 165 225 2256 7 5 0 2006 398 587 649 353 265 26 137 1 0 0 0 20 2436 6 6 0 2007 694 486 283 197 36 130 4 3 0 16 215 869 2933 7 5 0 2008 639 721 559 440 145 56 50 9 0 2 46 188 2855 6 6 0 2009 922 738 196 71 48 35 41 0 0 15 17 474 2557 5 7 1 2010 873 429 279 230 144 124 100 57 231 223 238 760 3688 10 1 1 2011 562 529 595 386 162 8 1 0 0 40 183 827 3293 7 5 0 Rata-Rata 688 664 483 353 133 55 65 20 20 44 130 428 3,083 100 72 Bulan BB BB BB BB BL BK BK BK BK BK BL BB 6.667 4.8 72
SF : D : daerah sedang dengan ciri vegetasi musim
BB : 5 BB : > 200 mm BB : >100 mm
BL : 2 BL : 100 - 200 mm BL :60-100 mm
BK : 5 BK : < 100 mm BK : <60 mm