• Tidak ada hasil yang ditemukan

KESIMPULAN DAN SARAN

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN PUSTAKA (Halaman 55-59)

6.1 Kesimpulan Penelitian

Komunikasi interpersonal merupakan komunikasi antara individu dengan orang lain yang berguna untuk saling mengenal satu sama lain juga bertukar informasi serta mengelola hubungan. Anak dan orang tua tidak luput dari jangkauan komunikasi interpersonal. Dalam beberapa kasus, kegagalan komunikasi interpersonal dapat menyebabkan perceraian. Perceraian sendiri memiliki dampak tersendiri bagi orang tua maupun anak. Hal ini membuktikan bahwa komunikasi interpersonal berperan dalam sebuah keluarga yang berarti termasuk komunikasi interpersonal anak dan orang tua yang didalamnya juga pembahasan mengenai pemilihan pasangan bagi si anak. Proses Komunikasi Internpersonal pada anak broken home dengan orang tuanya dalam memilih pasangan berdasarkan hasil pembahasan penelitian yang dilakukan oleh peneliti, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

Proses komunikasi anak dari keluarga broken home dalam memilih pasangan dengan orang tuanya telah berlangsung secara baik, terjadi pada anak yang masih tinggal dengan salah satu orang tuanya dalam penelitian ini didominasi oleh anak yang tinggal dengan Ibunya. Melalui proses komunikasi interpersonal secara baik, pesan mengenai pemilihan pasangan juga berjalan dengan lancar juga tersampaikan. Terdapat tahapan-tahapan komunikasi interpersonal seperti keinginan untuk berkomunikasi baik dari pihak anak maupun orang tua, lalu selanjutnya pesan yang disampaikan secara tatap muka (encoding) tersebut diterima dan terdapat beberapa respon seperti terkejut dalam diri komunikan yaitu orangtua sebagai bentuk diterimanya isi pesan komunikasi dari anakya perihal pemilihan pasangan atau mengenalkan pasangan juga ketakutan dalam memuali hubungan itu sendiri. Selanjutnya pesan yang orang tua terima dari anak diproses serta dipahami hingga sampai pada titik timbal balik yang berupa wejangan, nasihat, juga motivasi untuk menguatkan prinsip juga keyakinan sang anak untuk tidak terbebani status perceraian orang tuanya. Respon atau tumbal balik dari proses komunikasi interpersonal ini ditujukkan melalui komunikasi verbal juga non verbal.

64

Pendekatan komunikasi melalui pembicaraan tatap muka, saat sedang berkegiatan sehari-hari atau saat senggang di dalam rumah. Namun karen kebanyakan dari anak subjek penelitian tinggal bersama ibu, maka lebih sering terjadi komunikasi tatap muka dengan ibu. Untuk komunikasi dengan ayah, tidak terjadi secara tatap muka karena ayah dari masing-masing anak tidak lagi bertempat tinggal di desa atau lingkungan yang sama.

Pada keluarga broken home tentu saja komunikasi interpersonal berjalan tidak akan sama dengan komunikasi dalam keluarga utuh. Hambatan komunikasi yang terlihat ialah hambatan secara personal, yaitu berkaitan dengan psikologis anak yang berasal dari broken home, mendapati perasaan ragu saat akan mengutarakan keluh kesah perihal pasangan ditambah perasaan terbebani akan status perceraian orang tua juga trauma untuk memulai hubungan sebab ketakutan akan mengulangi kisah orang tuanya terutama pada subjek penelitian anak yang berjenis kelamin perempuan . Bukan hambatan berarti sebab anak dan orang tua dengan cepat menciptakan suasana nyaman dalam berkomunikasi hingga proses komunikasinya berjalan efektif.

Tidak semua anak maupun orang tua yang memiliki kenyamanan dalam hal keterbukaan komunikasi interpersonal terlebih tentang memilih pasangan, namun sesuai dengan aspek komunikasi interpersonal keterbukaan yang tujuannya untuk pengembangan hubungan hubungan maka keterbukaan dicapai dengan cara salah satu anak atau orang tua membuka akan informasi diri sendiri untuk saling berbagi. Keterbukaan membutuhkan kesiapan masing-masing individu terutama bagi anak juga orang tua perihal memilih pasangan sebab kedua belah pihak saling membutuhkan informasi dan kepedulian sebagai keluarga. Keterbukaan yang dilakukan oleh anak dan orang tua yang bercerai ketika akan memilih pasangan memiliki respon yang berbeda ketika membahas tentang calon pasangan. Namun pada akhirnya keterbukaan komunikasi dapat berjalan efektif karena anak sudah nyaman dan percaya untuk membagi informasi dalam dirinya yang tidak diketahui termasuk orang tua serta orang tua yang menganggap bahwa informasi yang disampaikan anak perihal pasangan adalah penting dan berusaha mengurangi kecemasan anak akan status orang tuanya yang bercerai.

Rasa empati antara anak dan orang tua setelah anak merasakan kenyamanan dan orang tua yang fokus menceritakan keluh kesahnya perihal pasangan. Orang tua pun berempati pada anak karena tidak ingin anaknya merasa status perceraian orang tuanya menjadi beban bagi anak dan calon pasangan untuk memulai hubungan. Rasa empati yang terjadi diantara keduanya juga tidak

65

terbatas pada komunikasi verbal saja tapi juga didukung komunikasi non verbal seperti menatap mata lawan bicara sehingga komunikasi berjalan efektif.

Sikap saling mendukung merupakan sikap yang deskriptif bukan menghakimi juga suportif nukan defensif dimana anak membutuhkan dukungan baik secara materi maupun moril dan orang tua memiliki tanggung jawab akan hal tersebut salah satunya komunikasi interpersonal dalam memilih pasangan. Beberapa anak yang mengeluarkan keluh kesahnya tentang memilih pasangan mendapat sikap mendukung dari orang tua bahkan akhirnya dapat lebih yakin tentang pasangannya. Orang tua bahkan menganggap anak-anak mereka saat ini sudah dewasa untuk menentukan pilihannya dan mendukung apapun keputusan akhirnya.

Sikap positif muncul antara anak dan orang tua ketika mereka sebab mereka sadar saling membutuhkan dan saling memiliki. Orang tua menunjukkan sikap positifnya terhadap anak maka anak merasa nyaman dan aman lalu membalas sikap positif orang tuanya dan menjadikan pembicaraan efektif. Sikap positif orang tua tidak hanya ditujukkan kepada sang anak. Bahkan sikap positif itu juga diberikan orang tua kepada calon pasangan anak tanpa membedakan.

Kesetaraan dipahami sebagai kesepahaman juga pengakuan tanpa sadar bahwa saling membutuhkan, menghargai, serta menyayangi satu sama lain. Dalam prosesnya, antara anak dan orang tua menyamakan kedudukannya dalam komunikasi. Orang tua memberikan sikap yang menghargai pesan yang dilontarkan anaknya serta anak yang mengakui peran penting orang tua dalam pemilihan pasangan.

Kesimpulan menyeluruh yang diperoleh ialah proses komunikasi interpersonal yang meliputi lima aspek komunikasi yaitu keterbukaan, empati, sikap mendukung, sikap positif, serta kesetaraan sudah terjadi antarab orang tua dan anak. Walau terdapat sedikit hambatan namun proses diantara mereka sudah mampu menggambarkan bagaimana berjalannya komunikasi interpersonal dalam memilih pasangan. Peneliti menemukan bahwa pada keluarga broken home yang kurang memiliki kedekatan antara orang tua dan anak membutuhkan dorongan kemauan dari anak untuk membukan diri kepada orang tua, yang dimana orang tua kurang memiliki inisiatif untuk mengetahui keadaan anak terlebih soal pasangan. Sedang pada orang tua dan anak yang memiliki kedekatan juga keaktifan orang tua dalam bertanya dan mendekati anak terlebih dahulu, anak menjadi lebih terbuka serta nyaman bahkan isi pesan komunikasi diantara keduanya jauh lebih beragam . Status perceraian dan broken home memang berimplikasi pada kedekatan

66

antara anak dan orang tua, namun sebagai manusia yang saling berkomunikasi, serta berlandaskan saling membutuhkan satu sama lain. Memilah pasangan menjadi hal krusial bagi anak dan orang tua ]nya karena menyangkut masa depan sang buah hati tidak terkecuali anak dari keluarga broken home. Dalam proses komunikasinya antara anak dari keluarga broken home dengan orang tua nya, orang tua sudah berusaha untuk memberikan nasihat juga wejangan dalam memilih pasangan agar tidak mengalami kegagalan seperti yang dialaminya serta anak yang menyampaikan perihal memilih pasangan berikut masalah yang dialaminya termasuk trauma akan perceraian orang tuanya melalui komunikasi interpersonal.

6.2 Saran

Orang tua sebagai pilar pertama anak sebisa mungkin untuk lebih mengembangkan kedekatan dengan anak. Terlebih pada anak yang orang tuanya bercerai. Komunikasi tetap harus berjalan selayaknya sebelum perceraian orang tua terjadi apalagi ketika anak beranjak dewasa dan sudah siap memilih pasangan peran orang tua dibutuhkan. Hal tersebut juga harus didukung oleh sikap anak yang terbuka kepada orang tuanya dan diharapkan status orang tuanya tidak menjadi ketakutan dan keraguan yang menghalangi masa depan dirinya juga pasangan karena status perceraian orang tua tidak menentukan masa depan percintaan anak akan berakhir sama dengan yang dialami orang tua.

67

DAFTAR PUSTAKA

Dalam dokumen BAB II TINJAUAN PUSTAKA (Halaman 55-59)

Dokumen terkait