• Tidak ada hasil yang ditemukan

DI BURSA EFEK INDONESIA

E. KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan

Penelitian ini menguji pengaruh ukuran perusahaan, return on equity dan debt to equity

ratio terhadap equity risk premium. Dalam penelitan ini terdapat tiga hipotesis yang

diajukan dan ketiga hipotesis tersebut diterima secara statistik. Berikut adalah simpulan yang dapat diambil dari penelitian ini:

a. Hasil penelitian membuktikan bahwa secara statistik ukuran perusahaan

berpengaruh negatif dan signifikan terhadap equity risk premium. Hasil pengujian menunjukan nilai sebesar - 4.227 yang berarti setiap kenaikan 1 kali ukuran perusahaan akan menurunkan equity risk premium sebesar 4.227 kali dengan asumsi variabel lain konstan.

b. Hasil penelitian membuktikan bahwa secara statistik return on equity

berpengaruh negatif dan signifikan terhadap equity risk premium. Hasil pengujian menunjukkan nilai sebesar -0.339 yang berarti bahwa setiap kenaikan 1 kali

return on equity, akan menurunkan equity risk premium sebesar 0.339 kali dengan

mengasumsikan variabel yang lain konstan.

c. Hasil penelitian membuktikan bahwa secara statistic debt to equity ratio berpengaruh positif dan signifikan terhadap equity risk premium. Hasil pengujian menunjukkan nilai sebesar 0.145 yang berarti bahwa setiap kenaikan 1 kali debt

to equity ratio akan menaikkan equity risk premium sebesar 0.145 kali dengan

mengasumsikan variabel yang lain konstan.

2. Saran

a. Penelitian ini hanya menggunakan perusahaan manufaktur sebagai sampel sehingga diperlukan kehati-hatian dalam melakukan generalisasi. Penelitian

selanjutnya disarankan untuk mengambil sampel pada jenis industri lain diluar manufaktur atau mengelompokan perusahaan manufaktur berdasarkan subsector manufaktur.

b. Berdasarkan hasil regresi, besarnya nilai adjusted R square sebesar 0.131. Hal ini berarti bahwa 13,1 % equity risk premium dapat dijelaskan oleh variasi variabel independen yaitu ukuran perusahaan, return on equity, debt to equity ratio. Sedangkan sisanya sebesar 86.9% merupakan pengaruh dari variabel bebas lainnya yang tidak diikutsertakan dalam penelitian ini.Penelitian selanjutnya disarankan untuk menambah atau mengganti dengan variabel bebas lainnya yang diduga berpengaruh terhadap equity risk premium seperti pertumbuhan perusahaan, resiko bencana, nilai perusahaan.

c. Investor seharusnya dapat melihat peluang tambahan return yang akan didapat jika berani menanamkan modalnya di perusahaan yang memiliki resiko tinggi. Resiko tidak selalu dikaitkan dengan sesuatu yang buruk. Di bidang keuangan, resiko memilik arti yang berbeda dan lebih luas. Resiko lebih berkaitan dengan kemungkinan mendapatkan return yang tidak sesuai dengan apa yang investor inginkan. Ketika anda mendapatkan return yang lebih kecil atau sebaliknya itulah yang dinamakan resiko (Damodaran, 2001).

DAFTAR PUSTAKA

Agus Wahyudin. 2004. Jurnal Akuntansi dan Manajemen Fakultas Ekonomi. Universitas Widyatama: Bandung

Andri Rachmawati dan Hanung Triatmoko. 2007. “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Laba dan Nilai Perusahaan”. Simposium Nasional

Akuntansi X Makassar, 26-28 Juli.

Annin, Michael and Dominic, Falaschetti. 1998.” Equity Risk Premium Article.” IL: Ibbotson Associates.

Aswath, Damodaran, 2001, Corporate Finance: Theory and Practice, International Edition, Willey, New York.

Banz, Rolf W.1981.” The Relationship between Return and Market Value of Common Stock.”

Journal of Financial Economics. Vol. 9.

Baroto,Arjo (2008), Valuasi Bisnis Unit Perusahaan dengan menggunakan option analisis: option to abandon: studi kasus pada PT CI.Skripsi. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

Basu, S. 1977.” Investment performance of Common Stocks in Relation to Their Price- Earning

Ratios: A Test of the Efficient Market Hypotesis”. Journal of Finance, 12

Boone, Jeff P., Khurana, Inder K. and Raman, K. K. 2008.” Audit Firm Tenure and the

Equity Risk Premium, Journal of Accounting Auditing and Finance, Forthcoming”.

Damodaran, Aswath. 2 008.” Estimating The Equity Risk Premium, Journal of Accounting

and Economics.”

http://www.stern.nyu.edu/fin/workpapers/papers99/wpa99021.pdf

Brigham, Eugene F. dan Houston, Joel F., (2006), Dasar-Dasar Manajemen Keuangan, Alih Bahasa: Yulianto, Akbar, Ali, Buku Satu, Salemba Empat, Jakarta.

Fatony M,Gadhavai (2010), Analisis kelayakan Investasi Bioethanol di Jawa Timur.

Skripsi. Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia

Easton, P. 2004. “ PE Ratios, PEG Ratios, and Estimating the Implied Expected Rate of

Return on Equity Capital”. The Accounting Review 79 (1). Pp 73-95.

Erb, Claude, Campbell R. Harvey and Tadas Viskanta, 1995, Country risk and global

equity selection, Journal of Portfolio Management, 21, Winter, 74-83.

Francis, J, LaFond, R, Olsson, PM & Schipper, K 2004, ‘Costs of Equity and Earnings

Attributes’, The Accounting Review, Vol. 79, No. 4, pp. 967-1011.

Gebhardt, W., Lee, C., dan Swaminathan, B. 2000. “Toward and Implied Cost of

Capital”.Journal of Accounting Research 39 (1): 135-176

Ghozali, Imam. 2009. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponogoro.

Hartono. 2009.” Pertimbangan Return dan Risiko dalam Keputusan Investasi”.

Rohaeni,Heni .2009.” Analsis dana pihak ketiga dan kredit bermasalah terhadap laba ( study kasus PT Bank X).Skripsi. Jurusan Manajemen. IPB

Husnan,Saud.2001.Manajemen Keuangan Teori dan Penerapan, Edisi Ketiga, Penerbit : Gajah Mada. Yogyakarta.

Jogiyanto. 2003. “Teori Potofolio dan Analisis Investasi”. Edisi Ketiga. Yogyakarta: BPFE UGM.

Leuz, C. and Verrechhia., R. 2005. “Firms’ Capital Allocation Choices, Information

Quality,and The Cost of Capital”. Working Paper, University of Pennsylvania.

Levingsohn,A (2001, Maret), ” FABS weigh the value of voluntary disclosure”, Strategic Finance (NAA), Vol 82.(9)

Mamduh M. Hanafi dan Abdul Halim, 2000, Analisis Laporan Keuangan, cetakan kedua, Yogyakarta: UPP AMP YKPN

Martin, J. Rudrigo, Fuentes, San and Lilo, Salvador, Zurita. (2003). The Equity Risk

Premium in Emerging Market: The Case of Chile.

Mas’ud Machfoedz (1994), Financial Ratio Analysis and The Predictions of Earnings Changes

in Indonesia, 114 -137.

Miswanto dan Suad Husnan. 1999. The Effect of Operating Leverage, Cyclicality, and Firm

Size on Business Risk. Gadjah Mada International Journal of Business. Vol 1

No 1 (Mei) : 29-43.

Monteiro,A (2006), A quick guide to financial ratio the citizen, Moneyweb Business Insert,6.

Natarsyah, Syahib, 2000, Analisis Pengaruh beberapa Faktor Fundamental dan Risiko Sistematik terhadap Harga Saham, Journal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, Vol 15, No. 3.

Saiful dan Erlina. 2010.” Equity Risk Premium Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya” Simposium

Nasional Akuntansi XIII

Sujoko dan Subiantoro .2007. Pengaruh Struktur Kepemilikan Saham, Leverage,Faktor Intern dan Faktor Ekstern Terhadap Nilai Perusahaan (Studi Empirik Pada Perusahaan Manufaktur dan Non-Manufaktur di Bursa Efek Jakarta).Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan, Vol 9, No.1, hal 41-48. Availaible

from: http://www.petra.ac.idpulit/journals/dir.php?DepartementID=MAN

Sembiring, E. R. 2005. "Karakteristik Perusahaan dan Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial: Studi Empiris pada Perusahaan yang Tercatat di Bursa Efek Jakarta". Simposium Nasional Akuntansi 8. Solo

Ross, A Stephen. Westerfield, W. Randolph & Jordan, D. Branford. 2002.Essentials of

Corporate Finance, 3rd ed., McGraw-Hill Irwin.

Tandelilin, Eduardus. 2001.”Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio”. Edisi Pertama.Yogyakarta: BPFE.

Widodo,Saniman.2007. “Analisis pengaruh rasio aktivitas, rasio Profitabilitas, dan rasio pasar terhadap return saham syariah dalam Kelompok jakarta islamic index (jii) tahun 2003 – 2005”.Tesis. Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro

AKUNTANSI

Agus Abdur Rohim1 Harsono Edwin Puspita2

ABSTRACT

Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris: (1) pengaruh struktur kepemilikan manajerial terhadap konservatisme akuntansi, (2) pengaruh debt covenant terhadap konservatisme akuntansi, (3) pengaruh growth opportunities terhadap konservatisme akuntansi, (4) pengaruh risiko litigasi terhadap konservatisme akuntansi.

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama tahun 2008-2011. Metode pemilihan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling. Adapun sampel yang digunakan adalah 140 data sampel perusahaan. Penelitian ini menggunakan regresi berganda untuk analisis data.

Hasil dari penelitian membuktikan bahwa: (1) struktur kepemilikan manajerial tidak berpengaruh positif terhadap konservatisme akuntansi, (2) debt covenant tidak berpengaruh negatif terhadap konservatisme akuntansi, (3) growth opportunities berpengaruh positif terhadap konservatisme akuntansi, (4) risiko litigasi berpengaruh positif terhadap konservatisme akuntansi. Kata kunci: Konservatisme Akuntansi, Struktur Kepemilikan Manajerial, Debt Covenant, growth

opportunities, Risiko Litigasi.

A. PENDAHULUAN

Laporan keuangan adalah laporan yang dibuat oleh perusahaan yang menggambarkan kinerja manajemen dalam mengelola sumber daya perusahaan. Laporan keuangan tersebut harus memenuhi tujuan, aturan serta prinsip akuntansi yang berlaku secara umum agar menghasilkan laporan keuangan yang dapat dipertanggungjawabkan dan bermanfaat bagi penggunanya, yaitu pihak internal maupun pihak eksternal.

Standar Akuntansi Keuangan (SAK) memberikan kebebasan kepada perusahaan dalam memilih metode akuntansi yang akan digunakan dalam menyusun laporan keuangan, kebebasan tersebut salah satunya yaitu konservatisme. Konsep ini mengakui biaya dan rugi lebih cepat, mengakui pendapatan dan untung lebih lambat, menilai asset dengan nilai terendah, dan menilai kewajiban dengan nilai tertinggi (Almilia, 2005). Konservatisme merupakan prinsip akuntansi yang menghasilkan laba

1 Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Jurusan Akuntansi Universitas Lampung.

dan asset cenderung rendah, serta menghasilkan biaya dan utang cenderung tinggi, karena pada dasarnya konservatisme memperlambat pengakuan pendapatan serta mempercepat pengakuan biaya. Sehingga laba yang dilaporkan cenderung rendah atau

understatement (Sari dan Adhariani, 2009).

Di kalangan beberapa peneliti, prinsip konservatisme akuntansi masih dianggap sebagai prinsip yang kontroversial. Di satu sisi, konservatisme akuntansi dianggap sebagai kendala yang akan mempengaruhi kualitas laporan keuangan, misalnya laba yang dihasilkan dari prinsip ini cenderung bias dan tidak mencerminkan kejadian sebenarnya. Di sisi lain, konservatisme akuntansi bermanfaat untuk menghindari perilaku oportunistik manajer berkaitan dengan kontrak-kontrak yang menggunakan laporan keuangan sebagai media kontrak (Fitriyah, 2007).

Ada banyak faktor yang mempengaruhi manajemen dalam melakukan tindakan konservatisme, diantaranya adalah struktur kepemilikan manajerial. Menurut Ross et al., (1999) dalam Tarjo (2002), semakin besar kepemilikan saham manajer dalam perusahaan maka manajer cenderung berusaha lebih giat untuk kepentingan pemegang saham dalam meningkatkan nilai perusahaan salah satunya dengan cara menerapkan konservatisme akuntansi. Debt covenant merupakan perjanjian untuk melindungi pemberi pinjaman dari tindakan yang dilakukan manajer terhadap kepentingan kreditor, seperti pembagian dividen yang berlebihan, atau membiarkan ekuitas di bawah tingkat yang telah ditentukan. Leverage merupakan proksi dari debt

covenant. Rasio ini membandingkan antara total utang dan total asset perusahaan

(Sunarto, 2004).

Lasdi (2008) menyatakan bahwa leverage merupakan proksi kecenderungan perusahaan untuk melanggar perjanjian utang. Semakin tinggi leverage menunjukkan semakin tinggi terjadinya pelanggaran utang, sehingga semakin kuat insentif untuk menaikkan laba. Perusahaan yang selalu meningkatkan jumlah investasi merupakan perusahaan growth. Perusahaan tersebut akan memilih prinsip konservatisme yang akan menghasilkan laba yang rendah, alasannya karena perusahaan menggunakan dana cadangan untuk meningkatkan investasi dan mengurai laba. Saputro dan Setiawati (2004) menyatakan bahwa perusahaan dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi memiliki motivasi untuk meminimalkan laba.

Risiko litigasi sebagai faktor ekternal yang dapat mendorong manajer untuk melaporkan keuangan perusahaan secara konservatif. Dorongan manajer untuk menerapkan akuntansi konservatif semakin kuat apabila ancaman risiko litigasi pada perusahaan tinggi (Cao dan Narayanamoorthy, 2005; dalam Juanda (2007).

B. LANDASAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 1. Teori yang Mendasari

Jensen dan Meckling (1976) dalam Widayati (2011) teori agensi pada dasarnya merupakan teori yang muncul karena adanya konflik kepentingan antara prinsipal dan agen, yang mana prinsipal mengontrak agen untuk melakukan pengelolaan sumber daya dalam perusahaan dan berkewajiban untuk memberikan imbalan kepada agen sedangkan agen berkewajiban melakukan pengelolaan sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan dan bertanggungjawab atas tugas yang dibebankan kepadanya.

Hubungan antara prinsipal dan agen dapat mengarah pada kurang lengkapnya informasi (asymmetrical information) karena agen memiliki informasi yang lebih banyak tentang perusahaan daripada prinsipal (Elqorni, 2009). Dengan informasi yang banyak tersebut agen dapat melakukan tindakan sesuai dengan keinginan dan kepentingannya sendiri. Sedangkan bagi prinsipal, akan sulit untuk mengawasi tindakan yang dilakukan oleh agen karena hanya memiliki sedikit informasi yang didapat.

b. Konservatisme Akuntansi

Menurut FASB Statement of Concept No.2 dalam Sari (2004): “Konservatisme adalah reaksi hati-hati untuk menghadapi ketidakpastian dalam mencoba memastikan bahwa ketidakpastian dan risiko pada situasi bisnis telah

dipertimbangkan.” Menurut Wibowo (2002) dalam Widya (2005):

“Konservatisme merupakan prinsip yang penting dalam pelaporan keuangan agar pengakuan dan pengukuran asset serta laba dilakukan dengan penuh kehati-hatian, karena aktivitas ekonomi dan bisnis dilingkupi oleh ketidakpastian.” Givoly dan Hayn (2000) dalam Lasdi (2008) konservatisme akuntansi sebagai pengakuan awal untuk biaya dan rugi serta menunda pengakuan untuk pendapatan dan untung yang menyebabkan rendahnya laba pada periode berjalan.

c. Struktur kepemilikan manajerial

Kepemilikan manajerial adalah kepemilikan saham perusahaan oleh manajer atau dengan kata lain manajer tersebut sekaligus sebagai pemegang saham perusahaan. Dalam teori keagenan, hubungan antara manajer dan pemegang saham dapat digambarkan sebagai hubungan antara agent dan principal (Rachmawati dan Triatmoko, 2007). Dalam hal pengambilan keputusan dan kebijakan dalam perusahaan dengan adanya kepemilikan manajerial, yang

manajernya sekaligus pemegang saham tentun akan menyelaraskan

kepentingannya sebagai manajer dan pemegang saham. Hal ini berbeda jika manajernya tidak sekaligus sebagai pemegang saham, kemungkinan manajer tersebut akan mementingkan kepentingannya sebagai manajer saja (Christiawan dan Tarigan, 2007).

Debt covenant merupakan perjanjian untuk melindungi pemberi pinjaman dari

tindakan-tindakan manajer terhadap kepentingan kreditor, seperti diveden yang berlebihan, pinjaman tambahan, atau membiarkan modal dan kekayaan pemilik berada di bawah tingkat yang telah ditentukan. Kontrak ini didasarkan pada teori akuntansi positif, yaitu hipotesis debt covenant yang menyatakan bahwa semakin dekat perusahaan melanggar perjanjian hutang, maka manajer akan memilih prosedur akuntansi yang dapat memindahkan laba periode mendatang ke periode berjalan (Sari dan Adhariani, 2009).

Debt covenant dalam penelitian ini diproksikan dengan leverage sesuai yang

dilakukan oleh Qiang (2003) dalam Lasdi (2008) memprediksikan bahwa manajer ingin meningkatkan laba dan asset untuk mengurangi biaya kontrak utang ketika perusahaan memutuskan perjanjian utangnya.

e. Growth Opportunities

Pertumbuhan merupakan elemen yang terjadi dalam siklus perusahaan. Ukuran pertumbuhan dalam perusahaan tergantung dari kegiatan perusahaan. Pengertian pertumbuhan pada umumnya menunjukkan kemampuan perusahaan dalam meningkatkan sizenya (Kaliapur dan Trombley, 200; dalam Widya, 2005). Perusahaan dengan growth opportunities yang tinggi memerlukan dana yang besar untuk membiayai pertumbuhan. Oleh karena itu, perusahaan akan selalu mempertahankan earning untuk diinvestasikan kembali pada perusahaan dan mengandalkan pendanaan melalui utang yang lebih besar (Rachmatika, 2006).

Perusahaan yang menganut prinsip konservatisme terdapat suatu cadangan tersembunyi yang digunakan untuk investasi, sehingga perusahaan konservatif identik dengan perusahaan yang tumbuh (Mayangsari dan Wilopo, 2002). Pertumbuhan tersebut dapat dinilai responsif oleh investor sehingga nilai pasar pada perusahaan konservatif lebih besar daripada nilai bukunya sehingga akan menciptakan goodwill. Pasar akan menilai positif atas investasi yang telah dilakukan oleh perusahaan karena dari investasi yang dilakukan saat ini diharapkan perusahaan akan mendapatkan kenaikan arus kas dimasa depan (Fitriyah, 2007)

f. Risiko Litigasi

Risiko litigasi dapat diartikan sebagai risiko yang melekat pada perusahaan yang mengakibatkan terjadinya ancaman litigasi oleh pihak-pihak yang berkepentingan dengan perusahaan yang merasa dirugikan. Pihak-pihak tersebut meliputi kreditor, investor, dan regulator. Risiko litigasi bisa timbul dari pihak kreditor maupun investor. Dari kreditor, karena perusahaan tidak menjalankan operasinya sesuai dengan kontrak yang telah disepakati. Misalnya, ketidakmampuan perusahaan membayar utang-utang yang telah diberikan kreditor. Dari investor, karena perusahaan menjalankan operasi yang mengakibatkan kerugian bagi pihak investor yang tercermin dari pergerakan harga dan volume saham. Misalnya, menyembunyikan beberapa informasi negatif yang seharusnya dilaporkan (Juanda, 2007).

2. Pengembangan Hipotesis

a. Pengaruh struktur kepemilikan manajerial terhadap konservatisme akuntansi

Jensen dan Meckling (1976) dalam Wardhani (2008) menyatakan apabila kepemilikan saham manajerial semakain banyak akan menurunkan permasalahan agensi maka akan semakin kuat motivasi mereka untuk bekerja dalam meningkatkan nilai saham perusahaan. Perusahaan menerapkan prinsip akuntansi konservatif apabila kepemilikan manajerial yang semakin tinggi atas saham yang ada dalam perusahaan. Hal ini dikarenakan perusahaan tidak hanya mementingkan laba ditonjolkan besar tetapi lebih mementingkan kontinuitas perusahaan jangka panjang sehingga manajer tertarik untuk mengembangkan perusahaan. Sebaliknya, jika kepemilikan manajerial rendah, maka manajer cenderung melaporkan laba yang optimis agar kinerja yang telah mereka capai dinilai baik oleh pemegang saham eksternal dan manajer akan mendapat bonus yang lebih banyak (Suaryana, 2008).

Penelitian Wu (2006), Suaryana (2008) dan Safiq (2010) menyatakan perusahaan yang memiliki persentase kepemilikan manajerial yang tinggi menunjukkan pola yang lebih konservatif dalam pelaporan keuangan. Oleh karena itu, di dalam penelitian ini dibentuklah hipotesis sebagai berikut:

H1: Struktur kepemilikan manajerial berpengaruh positif terhadap pilihan perusahaan menggunakan konservatisme akuntansi

b. Pengaruh debt covenant terhadap konservatisme akuntansi

Dalam teori akuntansi positif Watts dan Zimmerman (1986) dalam Widya (2005) menyatakan tiga hipotesis yaitu, bonus plan hypothesis, debt covenant hypothesis, dan political cost hypothesis. Debt covenant hypothesis menyatakan bahwa ketika suatu perusahaan mulai mendekati terjadinya pelanggaran perjanjian hutang, maka manajer akan berusaha untuk menghindari terjadinya perjanjian hutang dengan cara memilih metode akuntansi yang dapat meningkatkan laba. Dengan adanya pelanggaran terhadap perjanjian hutang tersebut mengakibatkan timbulnya suatu biaya yang dapat menghambat kerja manajemen, sehingga manajemen berusaha untuk mencegah atau menunda hal tersebut untuk meningkatkan laba.

Debt covenant menjelaskan semakin tinggi jumlah utang yang diperoleh

perusahaan, maka semakin besar kemungkinan perusahaan akan menggunakan prosedur yang meningkatkan laba yang dilaporkan (Sari dan Adhariani, 2009). Sehingga penelitian ini memprediksi debt covenant berpengaruh negatif terhadap akuntansi konservatif.

H2: Debt Covenant berpengaruh negatif terhadap pilihan perusahaan menggunakan konservatisme akuntansi

Konservatisme cenderung dengan perusahaan yang berkembang karena terdapat cadangan tersembunyi yang biasa digunakan untuk investasi, yang mana nilai pasar perusahaan yang konservatif lebih tinggi dari nilai bukunya sehingga terjadi goodwill. Menurut Saputro dan Setiawati (2004) menemukan bahwa perusahaan dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi juga memiliki motivasi untuk meminimalkan laba.

Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Widya (2005) menunjukkan bahwa

growth opportunities berpengaruh postif terhadap konservatisme akuntansi. Oleh

karena itu, penelitian ini memprediksi perusahaan yang tumbuh berpengaruh positif terhadap akuntansi konservatif.

H3: Growth opportunities berpengaruh positif terhadap pilihan perusahaan menggunakan konservatisme akuntansi.

d. Pengaruh risiko litigasi terhadap konservatisme akuntansi

Berbagai peraturan dan penegakan hukum yang berlaku dalam lingkungan akuntansi, menuntut manajer untuk lebih mencermati praktik-praktik akuntansi yang akan digunakan agar terhindar dari ancaman ketentuan hukum. Tuntutan tersebut berpotensi menimbulkan litigasi bila perusahaan melakukan pelanggaran sehingga akan semakin mendorong manajer untuk bersikap hati-hati dalam menerapkan akuntansinya (Juanda, 2007) Di negara dengan tingkat litigasi yang tinggi mempunyai tingkat konservatisme yang lebih tinggi di bandingkan negara dengan tingkat litigasi yang rendah. Oleh karena itu, perusahaan dituntut untuk merumuskan strategi yang tepat dalam menghadapi lingkungan tersebut (Ball et al., 2000; dalam Lasdi, 2008).

Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Lasdi (2008) menunjukkan bahwa risiko litigasi berpengaruh postif dan signifikan terhadap konservatisme akuntansi. Dengan demikian risiko litigasi yang semakin besar berpengaruh positif terhadap pilihan perusahaan menggunakan akuntansi konservatif.

H4: Risiko litigasi berpengaruh positif terhadap pilihan perusahaan menggunakan konservatisme akuntansi

C. METODE PENELITIAN