DI BURSA EFEK INDONESIA
C. METODE PENELITIAN 1.Variabel Penelitian
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah konservatisme akuntansi. Sedangkan variabel independen: struktur kepemilikan manajerial, debt convenant, growth
opportunities, dan risiko litigasi. a. Variabel Dependen
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah konservatisme akuntansi. Konservatisme ini diukur dengan ukuran akrual, konsisten dengan penelitian Givoly dan Hayn (2000). Akrual yang dimaksud merupakan laba bersih yang didapat sebelum depresiasi dan arus kas kegiatan operasi. Semakin besar nilai akrual negatif yang didapat maka semakin konservatif akuntansi yang diterapkan karena konservatisme menunda pengakuan pendapatan dan mempercepat pengakuan biaya. Rumus dari proksi konservatisme ini menurut Givoly dan Hyan (2000) dalam Sari 2004 adalah sebagai berikut:
CONACCit = tingkat konservatisme
NIit = net income sebelum extraordinary item ditambah depresiasi dan
amortisasi.
CFOit = cash flow dari kegiatan operasional.
Hasil perhitungan CONACC di atas dikalikan dengan -1, sehingga semakin besar konservatisme ditunjukkan dengan semakin besarnya nilai CONACC (konservatisme akuntansi dengan ukuran akrual).
b. Variabel Independen
(i) Struktur Kepemilikan Manajerial
Struktur kepemilikan manajerial merupakan jumlah saham yang dimiliki oleh pihak manajer dalam suatu perusahaan yang secara aktif ikut dalam pengambilan keputusan dan kebijakan (Wahidahwati, 2002). Jadi pihak manajer tidak hanya sebagai pengelola tetapi juga sebagai pemilik. Dalam penelitian ini kepemilikan Manajerial di ukur dengan menggunakan jumlah saham yang dimiliki pihak manajerial dibagi dengan total jumlah lembar saham yang beredar.
(ii) Debt Covenant
Variabel debt covenant diproksikan dengan rasio leverage. Leverage merupakan perbandingan total utang terhadap total asset yang dimiliki perusahaan. Proksi
debt covenant dalam penelitian ini adalah sama dengan proksi yang digunakan oleh
Defond dan Jiambalvo (1994) dalam Lasdi (2008) yaitu rasio leverage (total utang/total aset).
Pertumbuhan dalam penelitian ini dilihat dari growth opportunities (kesempatan bertumbuh). Collins dan Kothai (1989) dalam Widya (2005) memproksikan growth dengan market to book value equity.
(iv) Risiko Litigasi
Risiko litigasi dapat diartikan sebagai risiko yang melekat pada perusahaan yang mengakibatkan terjadinya ancaman litigasi oleh pihak-pihak yang berkepentingan dengan perusahaan yang merasa telah dirugikan. Pihak-pihak tersebut meliputi kreditor, investor, dan regulator. Penelitian ini mengacu pada Johnson et al., (2001) dan Qiang (2003) dalam Juanda (2007) yang mengukur risiko litigasi dari beberapa indikator yang menimbulkan litigasi. Indikator tersebut berupa (1) beta saham dan perputaran volume saham yang merupakan proksi volatilitas saham; (2) likuiditas dan solvabilitas yang merupakan proksi dari risiko keuangan; (3) ukuran perusahaan yang merupakan proksi dari risiko politik. Adapun tahapan pengukuran risiko litigasi adalah sebagai berikut:
1. Menghitung beta (BETA), perputaran saham (TURNOV), likuiditas (LIK), leverage (LEV), ukuran perusahaan (UKR) dengan rumus:
RETit = α + β RMit + ei
TURNOVit= Rata2 VOLit/LBShit
LIKit = hutang jangka pendek/ asset lancar
LEVit = hutang jangka panjang/total asset
UKRit = LogNatural Total aktiva
Dalam hal ini:
RETit = return saham perusahaan i pada periode t
α = intersep atau return bebas risiko
β = beta saham perusahaan i pada periode t
RMit = return pasar pada periode t
RETKUMit = return kumulatif perusahaan i selama periode n TURNOVit = turnover atau perputaran volume saham
Rata2 VOLit = rata-rata volume saham
LIKit = likuiditas perusahaan i selama periode t
LEVit = leverage perusahaan i selama periode t
UKRit = ukuran perusahaan i selama periode t
Kelima variabel tersebut dikomposit dengan melakukan component factor
analysis untuk menentukan nilai dari risiko litigasi.
2. Populasi dan Penentuan Sampel
Populasi yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia dari tahun 2008-2011. Sedangkan pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling dengan tujuan mendapatkan sampel sesuai kriteria yang ditentukan. Adapun yang menjadi kriteria pemilihan sampel adalah sebagai berikut:
a. Perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2008-2011. Alasan
diambilnya perusahaan manufaktur karena model akrual tidak cocok untuk perusahaan non manufaktur dan walaupun model akrual cocok dengan data yang digunakan, tetapi terdapat koefisien regresi yang tidak signifikan.
b. Periode laporan keuangan perusahaan berakhir pada 31 Desember.
c. Perusahaan yang data struktur kepemilikan manajerialnya diperoleh. d. Perusahaan yang memiliki ekuitas bernilai positif.
Berdasarkan kriteria di atas, maka pada penelitian ini di dapatkan sampel yang memenuhi kriteria adalah sebanyak 35 perusahaan dari tahun 2008-2011, sehingga diperoleh sampel data sebanyak 140.
Tabel 1 Sampel Penelitian
Kriteria Jumlah
Jumlah perusahaan manufaktur yang terdaftar berturut-turut di BEI selama tahun 2008-2011
179
Perusahaan yang tidak memiliki struktur kepemilikan manajerial (94)
Perusahaan yang nilai buku ekuitasnya negatif (29)
Perusahaan yang memiliki data outlier (16)
Perusahaan tidak mempublikasikan laporan keuangan fiskal dan auditan yang berakhir pada 31 Desember.
(5)
3. Pengujian Hipotesis dan Pembahasan a. Analisis Regresi linear Berganda
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian adalah analisis regresi berganda untuk melihat pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Persamaan regresi yang digunakan adalah:
CONACCit = β0 + β1 SKMi,t - β2 DCi,t + β3 GROWTHi,t + β4 RLi,t + ei,t
Keterangan:
CONACCit : Konservatisme akuntansi diukur dengan ukuran berbasis akrual
β1 β2 β3 β4 : Koefisien regresi variabel independen
β0 : Konstanta
SKi,t : Struktur kepemilikan manajerial perusahaan i pada periode t DCi,t : Debt covenant perusahaan i pada periode t
GOi,t : Pertumbuhan perusahaan i pada periode t
RLi,t : Risiko litigasi perusahaan i pada periode t ei,t : Error
b. Analisis Regresi Linear Berganda
Analisis regresi berganda digunakan untuk mendapatkan koefisien regresi yang akan menentukan apakah hipotesis yang dibuat akan diterima atau ditolak.
Tabel 2
Hasil Uji Regresi Linear Berganda Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. Collinearity Statistics B Std.
Error Beta Tolerance VIF
1 (Constant) 16.945 .369 45.885 .000
SKM -1.465 1.466 -.086 -1.000 .319 .857 1.167 DC .580 .476 .104 1.218 .225 .869 1.151 GO .518 .198 .212 2.616 .010 .962 1.039 RL .177 .073 .202 2.431 .016 .922 1.085
c. Pengaruh struktur kepemilikan manajerial terhadap konservatisme akuntansi
Hasil pengujian menunjukkan bahwa struktur kepemilikan manajerial memiliki tingkat signifikansi sebesar 0,319 > 0.05 dan memiliki arah koefisien negatif. Dengan demikian struktur kepemilikan manajerial tidak berpengaruh
terhadap konservatisme akuntansi atau dengan kata lain secara statistis H1 yang
menyatakan struktur kepemilikan manajerial berpengaruh positif terhadap konservatisme akuntansi adalah ditolak, sehingga sebagai implikasinya apabila struktur kepemilikan manajerial meningkat, akan menurunkan konservatisme akuntansi.
Penelitian ini mendukung penelitian Widayati (2011), yang menyatakan bahwa kepemilikan manajerial tidak berpengaruh terhadap konservatisme akuntansi. Namun, penelitian ini tidak sesuai dengan yang dilakukan Widyaningrum (2008) dan Safiq (2010), yang menyatakan terdapat pengaruh yang signifikan dan positif terhadap konservatisme akuntansi, dengan alasan kepemilikan manajerial yang besar di dalam perusahaan dapat menyelaraskan potensi perbedaan kepentingan antara pemegang saham luar dengan manajemen. Sehingga permasalahan keagenen tersebut diasumsikan akan hilang apabila seorang manajer adalah juga sekaligus sebagai seorang pemilik.
d. Pengaruh debt covenant terhadap konservatisme akuntansi
Hasil pengujian menunjukkan bahwa debt covenant memiliki tingkat signifikansi sebesar 0,225 > 0.05 dan memiliki arah koefisien positif. Dengan demikian debt
covenant tidak berpengaruh terhadap konservatisme akuntansi atau dengan kata
lain secara statistis H2 yang menyatakan debt covenant pengaruh negatif terhadap
konservatisme akuntansi adalah ditolak, sehingga sebagai implikasinya apabila
debt covenant perusahaan meningkat, akan meningkatkan konservatisme akuntansi.
Hasil ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Fitriyah (2007), Sari dan Adhariani (2009), dan Widayati (2011) yang menyatakan bahwa debt covenant tidak berpengaruh signifikan terhadap konservatisme akuntansi, dengan alasan perusahaan dengan hutang yang tinggi belum tentu dianggap sebagai perusahaan yang memiliki konservatisme akuntansi yang tinggi, sebab bisa saja perusahaan tersebut dipercaya oleh kreditur, karena mampu menyelesaikan pembayaran hutangnya. Perusahaan tersebut menggunakan hutangnya untuk tambahan modal atau biaya operasi perusahaan, sehingga bisa menghasilkan laba yang berguna untuk membayar hutang dan tidak melakukan pelanggaran perjanjian hutang. Namun, penelitian ini tidak sesuai dengan pendangan yang di kemukakan oleh Lasdi (2008) yang menyatakan bahwa debt covenant berpengaruh negatif dan signifikan terhadap konservatisme akuntansi.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa growth opportunities memiliki tingkat signifikansi sebesar 0.010 < 0.05 dan memiliki arah koefisien positif. Dengan demikian growth opportunities berpengaruh terhadap konservatisme akuntansi atau
dengan kata lain H3 yang menyatakan growth opportunities memiliki pengaruh positif
terhadap konservatisme akuntansi adalah diterima, sehingga sebagai implikasinya apabila growth opportunities meningkat, akan meningkatkan konservatisme akuntansi.
Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Widya (2005), dimana Widya menemukan bahwa growth berpengaruh positif dan signifikan terhadap konservatisme akuntansi, yaitu pada perusahaan yang menggunakan prinsip akuntansi konservatif terdapat cadangan tersembunyi yang digunakan untuk investasi, sehingga perusahaan yang konservatif identik dengan perusahaan yang tumbuh. Namun, penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Fitriyah (2007) dan Widayati (2011) yang menunjukkan bahwa growth
opportunities tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap konservatisme
akuntansi.
f. Pengaruh Risiko litigasi terhadap konservatisme akuntansi
Hasil pengujian menunjukkan bahwa risiko litigasi memiliki tingkat signifikansi sebesar 0.016 < 0.05 dan memiliki arah koefisien positif. Dengan demikian risiko litigasi berpengaruh positif terhadap konservatisme akuntansi atau dengan kata lain
secara statistis H4 yang menyatakan risiko litigasi pengaruh positif terhadap
konservatisme akuntansi adalah diterima, sehingga sebagai implikasinya apabila risiko litigasi perusahaan meningkat, akan meningkatkan konservatisme akuntansi.
Hasil ini juga mendukung penelitian Lasdi (2008), yang menyatakan risiko ligitasi tinggi berpengaruh singnifikan terhadap konservatisme akuntansi. Risiko litigasi merupakan risiko perusahaan berkaitan dengan kemungkinan perusahaan tersebut mengalami litigasi oleh investor dan kreditor sehingga mampu menjadi faktor pendorong terciptanya laporan keuangan konservatif. Namun hasil penelitian ini tidak mendukung penelitian Juanda (2007), yang menyatakan risiko litigasi tidak berpengaruh signifikan terhadap konservatisme akuntansi.
E. SIMPULAN, KETERBATASAN DAN SARAN