YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA
E. SIMPULAN DAN SARAN 1. Simpulan
Dengan adanya temuan empiris dalam penelitian ini maka persentase kredit kurang lancar, diragukan dan macet yang dapat memprediksi kredit bermasalah terhadap profitabilitas dan likuiditas dihitung dengan menggunakan angka yang terdapat dalam laporan tahunan 2007 sampai dengan 2010, kemudian hasil dari persentase tersebut dianalisis secara statistik dengan bantuan SPSS untuk mengetahui pengaruhnya terhadap tingkat profitabilitas dan likuiditas pada industri perbankan. Dari hasil uji regresi linear berganda diperoleh kesimpulan :
a. Hasil pengujian secara bersama-sama pengaruh Kredit Kurang Lancar, Diragukan dan Macet terhadap profitabilitas yang menggunakan rasio Return On Equity menunjukkan bahwa seluruh variabel independen secara bersama-sama
berpengaruh terhadap profitabilitas (variabel dependen) pada industri perbankan di Indonesia.
b. Sedangkan hasil pegujian pengaruh Kredit Kurang Lancar, Diragukan dan Macet terhadap likuiditas yang menggunakan rasio Loan to Deposit Ratio menunjukkan bahwa seluruh variabel independen secara bersama-sama tidak berpengaruh terhadap tingkat likuiditas (variabel dependen) pada industri perbankan Indonesia.
c. Hasil pengujian secara individu menunjukkan bahwa variabel Kredit Kurang Lancar memiliki hubungan negatif tidak signifikan terhadap Return On Equity. Dengan demikian variabel Kredit Kurang Lancar mempunyai pengaruh yang tidak signifikan terhadap tingkat profitabilitas pada industri perbankan.
d. Sedangkan variabel Kredit Diragukan dan Kredit Macet berpengaruh negatif dan signifikan terhadap Return On Equity. Dengan demikian, variabel Kredit Diragukan dan Kredit Macet mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap tingkat profitabilitas pada bank industri perbankan.
2. Saran
Mengacu pada kesimpulan yang telah diperoleh dari hasil penelitian skripsi ini, maka diajukan saran-saran sebagai berikut :
a. Sebaiknya untuk penelitian yang akan datang digunakan sampel yang lebih banyak sehingga dapat memberikan hasil yang lebih akurat.
b. Menggunakan time series data yang panjang sehingga akan memberikan hasil yang lebih akurat.
c. Industri Perbankan disarankan untuk lebih berhati – hati dalam pelaksanaan pemberian kredit dan pengelolaan perkreditannya. Karena bila dalam pengelolaan kredit terjadi adanya kegagalan pihak debitur dalam mengembalikan pinjamannya maka berdampak pada kredit bermasalah. Kredit bermasalah akan berdampak negatif baik bagi kelangsungan hidup bank itu sendiri maupun perekonomian negara. Kredit bermasalah akan mengurangi tingkat profitabilitas bank terutama bila terjadi kredit macet. Karena bila terjadi
peningkatan Non Performing Loan, hal ini akan mengurangi
kepercayaan/reputasi dari masyarakat, Bank Indonesia, bank/lembaga lain dan dunia Internasional. Selain itu jika NPL mengalami peningkatan, maka akan
berdampak pada biaya Biaya Pencadangan kredit
bermasalah (PPAP/Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif) yang semakin
tinggi.
DAFTAR PUSTAKA
Kasmir. 2007. Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya. Edisi Keenam. Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Mahmoeddin, As. 2002. Melacak Kredit Bermasalah, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta. Muljono, Teguh Pudjo. 1996. Bank Budgeting Profit Planning &Contro BPFE.
Yogyakarta.
Munawir, S. 1995. Analisis Laporan Keuangan. Edisi Empat. Liberty. Yogyakarta. Peraturan Bank Indonesia No. 7/2/PBI/2005 tanggal 27 November 2005.
Riyanto, Bambang. 2001. Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan : Edisi Keempat. Yogyakarta : BPFE
Sugiyono. 2003. Statistik Untuk Penelitian. CV. Alfabeta. Bandung.
Walpole, Ronald. E. 1992. Pengantar Statistik. Edisi ke-3. PT. Gramedia. Jakarta.
---.1998. Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1998. Badan Penerbit Cipta Jaya. Jakarta.
--- http://www.bi.go.id/biweb/utama/peraturan/skdir31147.pdf diunduh
tanggal 28 Februari 2010 pukul 19.00 WIB
--- http://www.bi.go.id/web/id/Peraturan/Perbankan/se_121110.htm
diunduh tanggal 19 September 2012 pukul 19.00 WIB ---www.bi.go.id
---www.idx.co.id ---www.google.co.id
(Studi Empiris pada Perusahaan di Bursa Efek Indonesia Tahun 2007-2011)
Alma’wa1 Agrianti Komalasari2
ABSTRACT
This study aimed to test empirically whether underwriter reputation variables, auditor reputation, return on assets, earnings per share negative effect on underpricing. And firm size as control variables. The samples in this study were obtained by using purposive judgment sampling. Based on predetermined criteria, then there are 70 samples were selected as sample to the period 2007-2011. Hypothesis testing is performed using multiple linear regression analysis. Prior to multiple linear regression analysis first tested the classical assumptions.
The results showed that the variables negatively affect the reputation of underwriters underpricing while the auditor's reputation, return on assets, earnings per share and firm size has no effect on underpricing.
Keywords: Underpricing, Underwriter reputation, Auditor reputation, Return On Assets, Earning Per Share, and Firm Size.
A. PENDAHULUAN
Dalam menjalankan kegiatan operasional suatu perusahaan tidak akan terlepas dari masalah pemenuhan kebutuhan dana untuk pembiayaan operasionalnya. Kebutuhan akan pembiayaan dapat dipenuhi dari berbagai sumber, baik sumber pendanaan internal maupun sumber pendanaan eksternal. Sumber pendanaan internal dapat berasal dari laba yang ditahan perusahaan, sedangkan sumber pendanaan eksternal dapat berasal dari hutang pada bank, pengeluaran surat hutang, atau dari emisi saham, untuk pendanaan yang berasal dari saham, pada umumnya perusahaan akan menawarkan sahamnya kepada publik atau masyarakat dengan melakukan penawaran saham perdana kepada publik atau sering disebut initial public offering (IPO).
UU RI No 8 tahun 1995 tentang pasar modal mendefinisikan penawaran umum sebagai kegiatan penawaran yang dilakukan oleh emiten untuk menjual efek kepada masyarakat (Syukri;1999 dalam Ariawati; 2005). Dengan beredarnya
1 Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis Jurusan Akuntansi Universitas Lampung.
saham perusahaan ke tangan publik mengindikasikan bahwa perusahaan tersebut telah berubah dari perusahaan pribadi menjadi perusahaan publik atau lebih dikenal dengan Go public.
Menurut Suyatmin dan Sujadi (2006) dalam Wulandari (2011), permasalahan yang dihadapi perusahaan ketika melakukan penawaran saham perdana di pasar modal adalah penentuan besarnya harga penawaran perdana. Di satu pihak perusahaan ingin menerapkan harga jual tinggi agar memperoleh penerimaan dari hasil penawaran (proceeds) yang tinggi pula. Di sisi lain, harga saham yang mahal mempengaruhi minat investor untuk membeli saham tersebut, harga yang tinggi menyebabkan minat investor untuk membeli saham tersebut menjadi rendah dan besar kemungkinan saham yang ditawarkan menjadi kurang menarik karena investor ingin mendapatkan initial return dari selisih antara harga saham di pasar sekunder dengan pembelian saham di pasar perdana tersebut, sehingga kondisi ini tidak menguntungkan bagi emiten, karena emiten telah mengorbankan return yang seharusnya didapat. Adanya initial return mengindikasikan terjadi fenomena underpricing di pasar perdana.
Underpricing terjadi ketika terdapat selisih positif antara harga saham yang ditawarkan perusahaan pada pasar primer dengan harga yang terbentuk di pasar sekunder, sehingga menyebabkan investor memperoleh initial return yang tinggi pada awal perdagangan. Kondisi underpricing merugikan untuk perusahaan yang melakukan go public, karena dana yang diperoleh dari publik tidak maksimum.
Underwriter adalah pihak yang membuat kontrak dengan emiten untuk melakukan
penawaran umum bagi kepentingan emiten dengan atau tanpa kewajiban untuk membeli sisa efek yang tidak terjual. Dalam proses go public, pertama saham perusahaan yang akan go public dijual di pasar perdana. Kemudian saham tersebut akan diperdagangkan di pasar sekunder (bursa efek). Harga saham pada penawaran perdana ditentukan berdasarkan kesepakatan antara peusahaan emiten dengan underwriter, sedangkan harga saham di pasar sekunder ditentukan oleh mekanisme pasar. Underwriter dalam hal ini memperoleh informasi lebih baik mengenai permintaan saham-saham emiten, dibandingkan emiten itu sendiri. Oleh karena itu, underwriter akan memanfaatkan informasi yang dimiliki untuk memperoleh kesepakatan optimal dengan emiten. Dapat dikatakan reputasi underwriter yang lebih tinggi diharapkan akan memperoleh pendapatan yang lebih tinggi juga karena penyediaan pelayanan yang lebih baik dari underwriter.
Fungsi auditor dalam proses go public adalah sebagai pihak yang ditunjuk oleh perusahaan untuk melakukan pemeriksaan laporan keuangan perusahaan sebagai calon emiten. Penggunaan auditor yang bereputasi tinggi dapat memberikan hasil pelaporan yang sesuai dengan laporan keuangan perusahaan, dengan demikian penggunaan auditor yang bereputasi tinggi dapat digunakan sebagai tanda petunjuk terhadap kualitas perusahaan emiten. Oleh karena itu, perusahaan yang akan melakukan IPO akan memilih KAP yang memiliki reputasi yang baik.
ROA merupakan suatu rasio penting yang dapat dipergunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dengan investasi yang telah ditanamkan untuk mendapat laba. ROA yang semakin besar berarti bahwa perusahaan tersebut
dapat memanfaatkan seluruh asetnya dalam memperoleh laba sehingga tingkat underpricing yang diharapkan akan rendah. Menurut Wijayanto (2009) Variabel EPS merupakan proxy bagi laba per saham perusahaan yang diharapkan dapat memberikan gambaran bagi investor mengenai bagian keuntungan yang dapat diperoleh dalam suatu periode tertentu dengan memiliki suatu saham. Pada umumnya pemegang saham dan calon investor akan tertarik pada EPS, karena EPS menggambarkan jumlah uang yang diperoleh untuk setiap lembar saham dan EPS yang besar menjadi indikator keberhasilan dari emiten. Dengan memperhatikan pertumbuhan laba perlembar saham tersebut dapat dilihat prospek perusahaan di masa yang akan datang sehingga akan mempengaruhi keputusan investor dalam berinvestasi.
Masalah yang akan diteliti di dalam penelitian ini adalah apakah reputasi
underwriter berpengaruh signifikan negatif terhadap underpricing? Selain itu juga,
permasalahan apakah reputasi auditor berpengaruh signifikan negatif terhadap
underpricing, apakah return on assets berpengaruh signifikan negatif terhadap underpricing, dan apakah earning per share berpengaruh signifikan negatif terhadap underpricing.
B. LANDASAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS