• Tidak ada hasil yang ditemukan

KESIMPULAN DAN SARAN

Dalam dokumen REPRESENTASI PEREMPUAN DALAM FILM (Halaman 115-121)

5.1. Kesimpulan

1. “Fifty Shades of Grey” mereproduksi gagasan budaya patriarki yang mengkonstruksikan film yang struktur ceritanya menempatkan perempuan sebagai posisi tersubordinasi. Dalam konteks ini, media massa meletakkan perempuan sebagai pihak marjinal yang kepentingannya semata-mata untuk tetap berada di bawah kontrol laki-laki. Dalam konteks ini, symbol-simbol yang dipraktikkan media massa pada akhirnya meletakkan posisi perempuan sebagai pihak marjinal yang kepentingannya semata-mata tetap berada di bawah kontrol laki-laki. Simbol-simbol ini ditandai dengan tindakan perempuan yang tidak bisa hidup tanpa laki-laki yang menjadi pasangannya. Pola perilaku ini membawa perempuan terkurung dalam lingkup feminitas yang ditandai dengan kepasifan dan ketidakberdayaan perempuan.

Perempuan digambarkan sebagai sosok penyayang dalam kehidupan sosialnya. Film ini juga menggambarkan perempuan dapat mengambil keputusannya sendiri, tetapi keputusan yang dibuat itu untuk memberikan dirinya kepada laki-laki yang dicintainya.

2. Film ini juga melanggengkan stereotip dalam masyarakat. Perempuan digambarkan lemah sehingga membutuhkan kehadiran laki-laki untuk membuatnya merasa berarti.

3. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa dalam film “Fifty Shades of Grey”

merepresentasikan perempuan yang terkurung dalam stereotip gender. Dari segi peran, pola perilaku yang identik dengan feminitas. Dari segi busana memang Ana seringkali memakai celana jeans yang notabene ditujukkan untuk kaum maskulin, tetapi jenis jeans yang digunakan adalah jenis skinny yag menonjolkan setiap lekuk tubuh. Busana yang digunakan Ana juga seringkali berjenis kaos, tetapi kaos yang digunakan Ana selalu fit in atau ketat. Seperti celana jeans berbahan skinny, kaos berbentuk fit in ini juga selalu mengikuti lekuk tubuh Ana yang menunjukkan setiap titik bentuk tubuh Ana sebagai perempuan.

4. Perempuan dalam film ini juga digambarkan lebih aktif melakukan perannya jika berada di ruang domestik, seperti memasak, merawat dan menyayangi.

5.2. Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan pengamatan yang telah diperoleh peneliti selama melakukan penelitian, ada beberapa saran yang dianggap perlu, yaitu:

1. Diharapkan ke depannya film-film romansa lainnya tidak melulu mengangkat perempuan sebagai sosok yang termarjinalkan dan selalu bergantung kepada laki-laki.

2. Diharapkan juga film tidak hanya berfokus kepada keuntungan komersial semata, tetapi lebih kepada pesan yang terkandung di dalamnya hendak memberi nilai moral yang lebih kepada masyarakat.

3. Diharapkan perempuan juga tidak selalu dijadikan objek dalam kekerasan sosial dan penggambaran tubuh perempuan dalam media tidak di eksploitasi untuk kepentingan-kepentingan tertentu.

DAFTAR REFERENSI

Apriyanti, Vonny Ayu. (2012). Representasi Perempuan Dalam Film Eat, Pray and Love. Surabaya: Universitas Kristen Petra.

Ardianto, Elvinaro dan Erdinaya. (2004). Komunikasi Massa: Suatu Pengantar.

Bandung: Simbiosa Rekatama Media.

Baran, Stanley J. (2008). Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta: Erlangga.

Barker, Chris. (2000). Cultural Studies: Teori dan Praktik. Bantul: Kreasi Wacana.

Bungin, Burhan. (2010). Penelitian Kualitatif. Jakarta: Kencana

Byerly, Carolyn M. dan Karen Ross. (2004). Women and Media: International Perspectives. UK: Blackwell Publishing.

Byerly, Carolyn M. and Karen Ross. (2004). Women and Media. UK: Blackwell Publishing.

Christandi, Denny Briellian A. (2013). Representasi Perempuan Dalam Film Sang Penari. Salatiga: Universitas Kristen Satya Wacana.

Christomy, Tommy. (2004). Semiotika Budaya. Depok: Universitas Indonesia.

Danesi, Marcel. (2010). Pengantar Memahami Semiotika Media. Yogyakarta: Jalasutra.

_____________. (2012). Pesan, Tanda dan Makna. Yogyakarta: Jalasutra.

Darmaprawira W.A, Sulasmi. (2002). Warna: Teori dan Kreativitas Penggunanya edisi ke-2. Bandung: ITB.

Daulay, Harmona. (2007). Perempuan dalam Kemelut Gender. Medan: USU Press.

Effendy, Heru. (2014). Mari Membuat Film. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Erlina, (2011). Metode Penelitian. Medan: USU Press.

Fatoni, Muhammad. (2013). Konsep Cinta Sesama Dalam Iklan Televisi. Yogyakarta:

Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.

Fiske, John. (2007). Cultural and Communication Studies. Yogyakarta: Jalasutra.

Gauntlett, David. (2008). Media, Gender and Identity. USA: Routledge.

Ghazali, M.Fikri. (2010). Analisis Semiotik 3 Doa 3 Cinta. Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.

Gresia, Gita Fiolanda. (2015). Representasi Pesan Budaya Karo Dalam Film 3 Nafas Likas. Medan: Universitas Sumatera Utara.

Hanafi, Jessica Damayanti. (2010). Representasi Perempuan Dalam Film Twilight.

Surabaya: Universitas Kristen Petra.

Hoed, Benny H. (2007). Semiotik dan Dinamika Sosial Budaya. Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya.

Hollows, Joanne. (2010). Feminisme, feminitas dan budaya populer. Yogyakarta:

Jalasutra.

Ibrahim, I.S. dan H. Suranto. (1998). Konstruksi Ideologi Gender Dalam Ruang Publik Orde Baru. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Irwanto, Budi. (1999). Film Ideologi dan Militer Hegemoni dalam Sinema Indonesia.

Yogyakarta: Media Persindo.

Kriyantono, Rachmat. (2008). Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Prenada Media Group.

Kuhnke, Elizabeth. (2007). Body Language For Dummies. England: John Wiley &

Sons, Ltd.

Lie, Shirley. (2005). Pembebasan tubuh perempuan. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.

Morissan, M.A. (2009). Teori Komunikasi. Bogor: Ghalia Indonesia.

Mulyana, Deddy. (2004). Metodologi Penelitian Kualitatif Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. Bandung: Rosdakarya.

McQuail, Denis. (2011). Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Salemba Humanika.

Nugroho, H. W. (2004). Diskriminasi Gender (Potret Perempuan Dalam Hegemohi Laki-Laki. Yogyakarta: Andi Offset.

Nugroho, Sarwo. (2014). Teknik Dasar Videografi. Yogyakarta: ANDI OFFSET.

Pratista, Himawan. (2008). Memahami Film. Yogyakarta: Homerian Pustaka

Pujileksono, Sugeng. (2015). Metode Penelitian Komunikasi Kualitatif. Malang: Intrans Publishing.

Rakhmat, Jalaluddin. (2007). Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Rayner, Wall dan Kruger. (2001). AS Media Studies: The Essential Introduction. New York: Routledge.

Sobur, Alex. (2004). Semiotika Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

__________. (2006). Analisis Teks Media Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Strinati, Dominic. (2008). Popular Culture: Pengantar Menuju Teori Budaya Populer.

Yogyakarta: Benteng Budaya.

Sudewo, Bambang. (2009). Buku Pintar Hidup Sehat Cara Mas Dewo. Jakarta: PT Agro Media Pustaka.

Sugihastuti. (2000). Wanita di Mata Wanita. Bandung: Penerbit Nuansa.

Sugihastuti dan Saptiawan. (2007). Gender dan Inferioritas Perempuan. Yogyakarta:

Pustaka Pelajar.

Sunarto. (2009). Televisi, Kekerasan, dan Perempuan. Jakarta: Kompas

Tinarbuko, Sumbo. (2008). Semiotika Komunikasi Visual. Yogyakarta: Jalasutra.

Wibowo, Indiwan Seto Wahyu. (2011). Semiotika Komunikasi. Jakarta: Mitra Wacana Media.

Wood, Julia T. (2005). Gendered Lives: Communication, gender, and culture. USA:

Wadsworth.

Vivian, John. (2008). Teori Komunikasi Massa. Jakarta: Kencana.

Wibowo, Indiwan Seto Wahyu. (2011). Semiotika Komunikasi. Jakarta: Mitra Wacana Media.

Williams, Kevin. (2003). Understanding Media Theory. Great Britain: MPG Books, Ltd Yona. (2005). Cara Gampang Nyenengin Pacar. Jakarta: Laba2 Publisher.

@Psiko_POP. (2015). Who are You? 2. Jakarta: Penebar Plus+

Sumber lain:

Arivia, Gadis. (2003). Filsafat Berperspektif Feminis. Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan.

Nur R, Tri Hastuti. (2006). Stereotype dan Komoditisasi Perempuan Dalam Iklan.

Jurnal Perempuan.

https://www.academia.edu/5293960/Sinema_dan_Perempuan?auto=download (diakses tanggal 27 April 2016 pukul 14.00).

https://www.academia.edu/14887653/Introduction_to_the_Second_Sex_oleh_Simone_d e_Beauvoir (diakses tanggal 27 April 2016 pukul 15.40).

http://50shadesgirlportland.com/category/fsog-filming-locations/movie-details/page/4/

(diakses tanggal 10 Juli 2016 pukul 21.40).

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN

Dalam dokumen REPRESENTASI PEREMPUAN DALAM FILM (Halaman 115-121)