REPRESENTASI PEREMPUAN DALAM FILM
(Analisis Semiotika Representasi Perempuan Dalam Film “Fifty Shades of Grey”)
SKRIPSI
Oleh:
FRISKA AVIOMEITA 120904046
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI
MEDAN 2016
REPRESENTASI PEREMPUAN DALAM FILM
(Analisis Semiotika Representasi Perempuan Dalam Film “Fifty Shades of Grey”)
Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Menyelesaikan Pendidikan Sarjana (S Pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
REPRESENTASI PEREMPUAN DALAM FILM
(Analisis Semiotika Representasi Perempuan Dalam Film “Fifty Shades of Grey”)
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Menyelesaikan Pendidikan Sarjana (S Pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Departemen Ilmu Komunikasi
Disusun Oleh:
FRISKA AVIOMEITA 120904046
DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2016
REPRESENTASI PEREMPUAN DALAM FILM
(Analisis Semiotika Representasi Perempuan Dalam Film “Fifty Shades of Grey”)
Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan Menyelesaikan Pendidikan Sarjana (S-1)
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
KATA PENGANTAR
Dengan segala kerendahan hati, puji dan syukur peneliti panjatkan kepada kehadiran Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya saya dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Representasi Perempuan Dalam Film (Analisis Semiotika Representasi Perempuan Dalam Film “Fifty Shades of Grey”)” dengan baik.
Penulisan skripsi ini bertujuan untuk memenuhi salah satu persyaratan yang harus dilengkapi dalam memperoleh gelar Sarjana Ilmu Komunikasi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. Dalam menyelesaikan skripsi ini, tentunya banyak hal yang saya terima selama mengikuti perkuliahan di Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Sumatera Utara. Dalam penyusunan skripsi ini, saya banyak mendapat saran, bimbingan dan arahan baik dari segi moril maupun materi serta dorongan semangan dari berbagai pihak yang sangan berguna bagi saya. Saya menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, saya tidak dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini.
Secara khusus penelitimengucapkan terimakasih sedalam-dalamnya kepada keluarga saya terutama Almarhum ayahanda Benteng Hermanto Bangun dan Ibunda saya Malem Ate Tarigan serta abang saya Benni dan Sofyan Bangun, kakak saya Ida, kakak ipar saya Marni Sihombing serta abang ipar saya Fery Tarigan atas setiap dukungan baik materil maupun moril dan doa yang tak henti- hentinya diberikan kepada penelitiselama proses penyusunan skripsi ini.
Tidak lupa juga saya menyampaikan ucapan terimakasih yang sebesar- besarnya kepada:
1. Bapak Dr. Muryanto Amin, M.Si selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.
2. Ibu Dra. Fatma Wardy Lubis, M.A selaku Ketua Departemen Ilmu Komunikasi.
3. Ibu Dra. Dayana, M.Si selaku Sekretaris Departemen Ilmu Komunikasi atas segala bantuan serta dukungannya yang sangat berguna dan bermanfaat bagi peneliti.
4. Bapak Haris Wijaya, S.Sos, M.Comm selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan, nasehat dan saran yang luar biasa bagi peneliti selama pengerjaan skripsi ini.
5. Para dosen Ilmu Komunikasi FISIP USU yang selalu memberikan contoh dan masukan serta teladan yang patut untuk ditiru oleh peneliti berupa semangat untuk terus belajar dan meraih cita-cita.
6. Staf Departemen Ilmu Komunikasi, Kak Maya, Pak Tangkas yang membantu peneliti dengan segala urusan dokumen-dokumen dan berkas-berkas lainnya.
7. Sahabat-sahabat seperjuangan yang selalu mendukung dan saling bertukar pikiran, yang selalu mendengarkan keluh kesah peneliti dalam pengerjaan skripsi ini, Andrina Desita Pardede, Sarah Karolina Sitorus, Andini Nur Andweny dan Klara Siscania, Riva Dasuha, Hileri Saragih, Adelina Tambunan, Monica Tarigan dan Desy Siagian.
8. CK yang selalu ada dan senantiasa memotivasi peneliti selama masa-masa terpuruk pengerjaan skripsi ini, Eunike Stepahanie Purba, Selvio Sianipar, Argindo Tampubolon, Deodo Siahaan, Quinnery Situmeang, Rizal Pasaribu dan Fernando Anderson.
9. Seluruh Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP USU stambuk 2012 yang telah menjadi teman-teman yang baik selama perkuliahan
Peneliti menyadari kekurangan dalam penulisan skripsi ini. Untuk itu peneliti menerima kritik dan saran yang dapat membangun. Akhir kata, terima kasih sebesar-besarnya penelitiucapkan kepada semua pihak yang membantu dan menjalani hingga selesainya skripsi ini. Besar harapan penelitisemoga skripsi ini dapat bermanfaat dalam menambah pengetahuan kita semua.
Medan, Juli 2016 Peneliti,
(Friska Aviomeita)
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Sebagai civitas akademik Universitas Sumatera Utara, saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Friska Aviomeita NIM : 120904046 Departemen : Ilmu Komunikasi
Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas : Universitas Sumatera Utara Jenis Karya : Skripsi
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Sumatera Utara Hak Bebas Royalti Non Eksklusif (non-exclusive Royalty-Free Rights) atas karya ilmiah saya yang berjudul
“Representasi Perempuan Dalam Film (Analisis Semiotika Roland Barthes Dalam Film “Fifty Shades of Grey”) ”
Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Noneksklusif ini Universitas Sumatera Utara berhak menyimpan, mengalihmedia/format-kan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat dan mempublikasikan tugas akhir saya tanpa menerima izin dari saya selama tetap mencantuman nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.
Demikian pernyataan in saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di : Medan Pada Tanggal : Juli 2016 Yang Menyatakan
Friska Aviomeita
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS
Skrispsi ini adalah karya saya sendiri, semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk telah saya cantumkan sumbernya dengan benar. Jika di kemudian hari saya terbukti melakukan pelanggaran (plagiat) maka saya
bersedia diproses sesuai dengan hukum yang berlaku
Nama : FRISKA AVIOMEITA
NIM : 120904046
Tanda Tangan :
Tanggal : Juli 2016
REPRESENTASI PEREMPUAN DALAM FILM
(ANALISIS SEMIOTIKA ROLAND BARTHES DALAM “FILM FIFTY SHADES OF GREY”)
Abstrak
Penelitian ini berjudul “Representasi Perempuan Dalam Film (Analisis Semiotika Roland Barthes Dalam Film Fifty Shades of Grey)”. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana perempuan direpresentasikan dalam film “Fifty Shades of Grey” berdasarkan denotasi, konotasi dan mitos yang ada. Film selalu mempengaruhi dan membentuk masyarakat berdasarkan isi pesan di baliknya.
Pesan-pesan atau nilai-nilai yang terkandung dalam film dapat mempengaruhi penonton. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan beberapa teori relevan, yaitu: Komunikasi Massa, Semiotika, Semiotika Roland Barthes, Film Sebagai Media Komunikasi Massa, Sejarah Film, Karakteristik Film, Unsur-unsur Film, Jenis-Jenis Film, Sinematografi, Perempuan Dalam Film dan Televisi Hollywood, Stereotype Perempuan Dalam Masyarakat serta Representasi. Penelitian ini menggunakan analisis semiotika dengan perangkat analisis semiologi Roland Barthes berupa signifikasi dua tahap (two order of signification); denotasi dan konotasi, yang kemudian dibagi dalam penanda, petanda, level denotasi dan konotasi. Hasil penelitian ini menemukan bahwa dalam film ini, perempuan yang menjadi tokoh utama mengalami kekerasan dalam berhubungan intim dengan pasangannya yang memiliki selera agak berbeda. Dalam “Fifty Shades of Grey”, tokoh utama perempuan yaitu Ana ditampilkan dengan mereproduksi gagasan ideologi patriarki di mana perempuan ditempatkan dalam posisi tersubordinasi.
Perempuan digambarkan lemah sehingga membutuhkan kehadiran laki-laki sebagai pelindung dan pelengkap hidupnya.
Kata Kunci : Representasi, Film, Semiotika, Perempuan
REPRESENTATION OF WOMEN IN THE MOVIE
(SEMIOTIC ANALYSIS OF ROLAND BARTHES IN FIFTY SHADES OF GREY THE MOVIE)
Abstract
This study entitled "Representation of Women In Film ( Roland Barthes Semiotics Analysis In the film Fifty Shades of Grey ) " . The purpose of this study to find out how women are represented in the film " Fifty Shades of Grey " by denotation , connotation and myths . Film has always influenced and shaped the public based on the contents of the message behind it. Messages or values contained in the film may affect the audience. In this study, researchers used several theories are relevant , namely : Mass Communication , Semiotics , Semiotics Roland Barthes , Film As the Media of Mass Communication , History of Film , Characteristics of Film , Elements of Film Types Film, Cinematography , Women In Film and Television Hollywood , stereotypes and Representation of Women in Society . This study uses a semiotic analysis by Roland Barthes
semiology analysis tools such as the significance of the two stages (two orders of signification ) ; denotation and connotation , which is then divided into markers , markers , levels of denotation and connotation . The results of this study found that in this film , the main character of women who experience violence in sexual intercourse with a partner who has a slightly different taste . In " Fifty Shades of Grey " , heroine is Ana displayed by reproducing the idea of patriarchal ideology in which women are placed in a subordinate position . Women portrayed weak and thus require the presence of men as protectors and complementary life.
Keywords : Representation , Film , Semiotics , Women
DAFTAR ISI
HALAMAN COVER LEMBAR PERSETUJUAN HALAMAN PENGESAHAN
KATA PENGANTAR ... i
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... iii
HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS ... iv
ABSTRAK ... v
ABSTRAK CT ... vi
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR GAMBAR ... x
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Konteks Masalah ... 1
1.2 Fokus Masalah ... 5
1.3 Batasan Masalah ... 6
1.4 Tujuan Penelitian ... 6
1.5 Manfaat Penelitian ... 6
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Paradigma ... 7
2.2 Kajian Pustaka ... 10
2.2.1 Komunikasi Massa ... 10
2.2.2 Semiotika ... 13
2.2.2.1 Semiotika Roland Barthes ... 18
2.2.3 Film ... 22
2.2.3.1 Film Sebagai Media Komunikasi Massa ... 22
2.2.3.2 Sejarah Film ... 23
2.2.3.3 Karakreristik Film ... 25
2.2.3.4 Unsur-Unsir Film ... 27
2.2.3.5 Jenis-Jenis Film ... 30
2.2.4 Sinematografi ... 31
2.2.5 Perempuan Dalam Film dan Televisi Hollywood... 32
2.2.6 Stereotype Perempuan dalam Masyarakat... 35
2.2.7 Representasi ... 38
2.3 Kerangka Pemikiran ... 41
BAB II METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian ... 42
3.2 Objek Penelitian ... 43
3.3 Subjek Penelitian ... 43
3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 43
3.5 Teknik Analisis Data ... 44
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Film Fifty Shades of Grey ... 47
4.1.1 Poster Film Fifty Shades of Grey ... 47
4.1.2 Sinopsis Film Fifty Shades of Grey ... 48
4.1.3 Profil, Pemeran dan Kru Film Fifty Shades of Grey ... 51
4.2 Penyajian Data dan Analisis Data ... 54
4.2.1 Analisis Sequence Pertama ... 56
4.2.2 Analisis Sequence Kedua ... 61
4.2.3 Analisis Sequence Ketiga ... 66
4.2.4 Analisis Sequence Keempat ... 69
4.2.5 Analisis Sequence Kelima ... 75
4.2.6 Analisis Sequence Keenam ... 81
4.2.7 Analisis Sequence Ketujuh ... 86
4.2.8 Analisis Sequence Kedelapan ... 90
4.2.9 Analisis Sequence Kesembilan ... 94
4.3 Mitos dan Temuan Data ... 98
BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan ... 99
5.2 Saran ... 100 DAFTAR REFERENSI
LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Teknik Dalam Pengambilan Gambar ... 32
Tabel 2. Tabel Stereotype Perempuan Dalam Televisi Amerika ... 34
Tabel 3. Unit dan Level analisis ... 46
Tabel 4. Teknik Dalam Menyunting Gambar ... 58
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Kategori Tipe Tanda dari Pierce ... 15
Gambar 2. Elemen-Elemen Makna dari Saussure ... 16
Gambar 3. Konsep Semiotika Roland Barthes ... 20
Gambar 4. Scene Pertama ... 56
Gambar 5. Scene Kedua ... 61
Gambar 6. Scene Ketiga ... 66
Gambar 7. Scene Keempat ... 69
Gambar 8. Scene Kelima ... 75
Gambar 9. Scene Keenam ... 81
Gambar 10. Scene Ketujuh ... 86
Gambar 11. Scene Kedelapan ... 90
Gambar 12. Scene Kesembilan ... 94
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Konteks Masalah
Film adalah karya cipta seni dan budaya yang merupakan salah satu media komunikasi massa audiovisual yang dibuat berdasarkan asas sinematografi yang direkam pada pita seluloid, pita video dan bahan hasil penemuan teknologi lainnya dalam segala bentuk, jenis dan ukuran melalui proses kimiawi, proses elektronik, atau proses lainnya, dengan atau tanpa suara, yang dapat dipertunjukkan dan ditayangkan dengan sistem proyeksi mekanik, elektronik dan sistem lainnya (UU Nomor 8 Tahun 1992 pasal 1 ayat 1).
Film, sebagai salah satu media massa mempunyai kekuatan untuk menjangkau banyak segmen sosial, karena film dianggap mampu memenuhi permintaan dan selera hiburan masyarakat. Film dapat memproduksi pesan yang akan dikomunikasikan lewat pemanfaatan teknologi kamera, warna, dialog, sudut pengambilan gambar, musik dan suara menjadi tampilan audio dan visual yang terekspresikan menjadi sebuah karya seni dan sastra yaitu bagaimana adegan satu dengan adegan yang lain dirangkai membentuk cerita film sehingga isi pesan dalam film yang disampaikan mudah dipahami oleh penonton.
Pertama kali film lahir di pertengahan abad ke-19 dibuat dengan bahan dasar seluloid yang sangat mudah terbakar (Effendy, 2014: 11). Perjalanan film juga melalui saat yang panjang, dimulai dari film hitam-putih dan tanpa suara atau
“film bisu” sampai pada film berwarna serta bersuara seperti umumnya film saat ini. Perkembangan film saat ini semakin pesat seiring dengan berkembangnya teknologi yang menunjang pembuatan dan penyimpanan sebuah film. Film pun sudah mendapatkan perhatian yang lebih di mata masyarakat. Tidak heran semakin banyak sutradara yang berlomba menunjukkan kepiawaiannya menciptakan film semenarik mungkin untuk mendapatkan hati para penggemar film. Pesatnya perkembangan film dapat dilihat dari semakin banyaknya genre film yang bermunculan seperti action, adventure, animation, comedy, romance, mistery, crime, documentary, horror, biography, thriller dan lain-lain.
Animo masyarakat besar terhadap film, karena film merupakan salah satu media komunikasi dengan menampilkan peran-peran yang merupakan refleksi dari kehidupan yang ada. Film juga berperan sebagai sarana penyampaian pesan kepada masyarakat. Film dapat dikatakan sebagai transformasi kehidupan masyarakat, karena film adalah potret dari masyarakat di mana film selalu merekam realitas yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat dan kemudian memproyeksikan ke dalam layar (Sobur, 2004: 127). Jika dilihat dari fungsi film, film tidak hanya berfungsi sebagai entertainment (hiburan) semata. Banyak film yang sudah menjalankan fungsi yang lain dan menjadi gambaran realita kehidupan sehari-hari yang mengandung pesan tersirat untuk mendidik, menyatakan pesan moral, bahkan sebuah film pun bisa merepresentasikan kisah- kisah yang ada di kehidupan seperti cinta dan kasih sayang.
Negara Amerika Serikat sudah terkenal dengan kepiawaiannya dalam membuat film dengan berbagai genre. Apalagi jika berbicara mengenai genre romantis, sudah banyak film Hollywood yang sudah terbukti mendapatkan banyak apresiasi. Kepiawaian memunculkan efek romantis dan melukiskan cinta yang menyentuh melalui sebuah film sudah tidak diragukan lagi. Sudah banyak film yang terbukti mendapat apresiasi yang mengagumkan dan masih nyata dalam ingatan penikmat film seperti film Titanic, Twillight and the sequel, Romeo and Juliet, dan The Fault in Our Star yang sudah tak asing di telinga dan menciptakan image romantis. Kisah romantis yang terdapat di dalam film tidak jarang membuat para penikmatnya tersentuh dan ikut merasakan apa yang terjadi di di dalam film tersebut. Dalam film romantis tidak terlepas dari pemeran laki-laki dan perempuan. Berbicara mengenai perempuan, pada umumnya karakter perempuan yang terbentuk dalam film romantis digambarkan sebagai perempuan yang lemah, bergantung kepada laki-laki, lembut, butuh kasih sayang dan sebagainya.
Terlepas dari genre romantis, sudah banyak film yang mulai menggambarkan perempuan bukan lagi sebagai makhluk yang lemah bahkan pelengkap di suatu cerita, tetapi perempuan sudah digambarkan sebagai sosok yang tanguh, bukan sebagai makhluk yang harus berlindung di belakang laki-laki.
Beberapa contoh film seperti “Kill Bill”, “Tomb Rider” dan “The Hunger
Games” menggambarkan perempuan merupakan sosok yang tangguh dan bukan makhluk lemah dan manja yang harus menunggu pertolongan laki-laki. Mulai sejak tahun 2008 juga sudah mulai muncul berbagai film yang berasal dari kisah nyata perjuangan perempuan seperti “Julie and Julia”, “The Queen”, “Amelia”
hingga “Coco Before Chanel”. Perempuan menjadi sebuah topik yang menarik untuk dibicarakan terutama di dalam media massa, terutama film. Pandangan masyarakat mengenai perempuan sebagian besar juga terbentuk oleh apa yang selama ini digambarkan oleh media massa, yang di dalamnya termasuk film.
Perempuan selalu digambarkan sebagai tokoh yang lemah dan sering sekali ditindas, walaupun sesekali juga perempuan digambarkan sebagai tokoh yang kuat (Sunarto, 2009: 13).
Freud mengemukakan adanya determinasi biologis antara anak laki-laki dan perempuan karena adanya perbedaan organ anatomis biologis, terlihat dari fisik yang dimiliki oleh laki-laki dan prempuan di mana kebanyakan perempuan memiliki fisik yang lebih kecil dari seorang laki-laki, sehingga perempuan sering dianggap lebih lemah daripada laki-laki. Stigma mengenai perempuan sebagai makhluk lemah lembut, halus, perasa, dilimpahkan kepada perempuan (Nugroho, 2004: 75). Problem pokok yang menampilkan sosok perempuan adalah keberadaan perempuan dalam dunia laki-laki. Hal tersebut dapat ditandai oleh pelecehan, diskriminasi, ketidakberdayaan, dan semua hal tersebut didominasi oleh laki-laki. Apalagi bila dikaitkan dengan budaya patriarki yang masih mendominasi posisi perempuan di bawah posisi laki-laki, dengan keadaan demikian maka tidak heran masih banyak terjadi pelecehan terhadap derajat maupun martabat perempuan. Negara Amerika Serikat sudah lama menggembar- gemborkan mengenai kesetaraan gender baik laki-laki dan perempuan. Tetapi pada kebanyakan film, dapat dilihat bahwa penempatan posisi perempuan masih di bawah laki laki. Seringkali ditemukan dalam film bahwa perempuan masih menjadi “pelengkap” dalam film yang tetap menonjolkan laki-laki yang berperan penting.
Tahun 2015 lalu, baru dirilis oleh Negara Amerika Serikat film yang berjudul Fifty Shades of Grey. Film yang bergenre erotic romance ini diadaptasi
dari novel trilogi yang ditulis oleh E.L James yang diterbitkan pada tahun 2011 lalu. Film ini resmi dirilis oleh Universal Pictures pada tanggal 13 Februari 2015 di Amerika. Sayangnya film ini tidak mendapat izin oleh pemerintah untuk masuk ke bioskop seluruh Indonesia dikarenakan film ini tidak lulus sensor dari Lembaga Sensor Indonesia. Dalam film ini memang terdapat adegan-adegan yang erotis, tetapi di luar kesan erotis dari film ini, terdapat unsur cinta antara sepasang kekasih yang menjadi pemeran utama di dalam film.
Film ini bercerita mengenai seorang pengusaha sukses yang bernama Christian Grey (Jamie Dornan) yang memiliki kelainan seksual yang dikenal dengan nama sadomasokisme di mana sang pria berperan sebagai sadis (pemberi rasa sakit/aktif), dan wanitanya menjadi masokis (pihak yang disakiti/pasif).
Perjalanan film ini dimulai setelah Grey bertemu dengan mahasiswi cantik dan sederhana yang bernama Anastasia Steele (Dakota Jhonson) saat mewawancarai Grey di perusahaannya untuk majalah kampus tempat Ana mengenyam pendidikan. Ana menggantikan teman sekamarnya yang sedang sakit. Teman sekamar Ana adalah seorang jurnalis di universitas tersebut, sedangkan Ana adalah mahasiswi jurusan sastra Inggris.
Grey merasa sangat tertarik terhadap Ana saat ia mulai mewawancarai Grey mengenai kehidupan pribadi pria tersebut. Grey merasa ingin memiliki Ana sepenuhnya. Keinginan memiliki yang dirasakan Grey bukanlah hanya ingin memiliki tubuh Ana dan menjadikanya sebagai “pemuas” kebutuhan biologisnya semata, Grey merasa ada sesuatu dalam diri Ana yang menarik dirinya sehingga ia sangat tidak ingin jauh dari Ana. Grey mengikuti ke mana Ana pergi dan bersikap protektif kepada Ana. Sampai suatu saat, Grey meminta Ana menandatangani kontrak untuk menjadi pacarnya dan berhubungan intim dengan cara Grey yang di mana caranya berhubungan intim tidak seperti umumnya. Di dalam fim ini juga diceritakan bagaimana Ana dijadikan objek seks oleh Grey untuk memuaskan nafsunya dalam berhubungan intim.
Film ini disutradarai oleh Sam Taylor - Jhonson yang mengambil lokasi di Amerika Serikat dengan pemeran utamanya yaitu Jamie Dornan dan Dakota Jhonson dan didukung oleh artis-artis lainnya seperti Eloise Mumford, Luke
Grimes, Victor Rasuk dan masih banyak lagi. Menurut situs penjualan tiketFandango, “Fifty Shades of Grey”menjadi film dengan rating R yang paling cepat terjual tiketnya dalam sejarah 15 tahun situs ini berdiri, melewati rekor sebelumnya yang dipegang olehSex and the City 2 (www.chicagotribune.com).
Menurut laporan Hollywoodlife pada hari Selasa 17 Februari 2015, film ini sukses meraup pendapatan sebesar US$94 juta pada hari pertama rilisnya 13 Februari 2015 (www.hollywoodlife.com). Film ini juga sempat mendapatkan nominasi Golden Globe pada tahun 2016 ini (www.goldenglobes.com).
Film mengandung sebuah teks yang tersusun atas tanda dan lambang yang akan memperoleh suatu makna atau pesan yang ingin disampaikan oleh sang sutradara, sehingga pendekatan yang relevan dengan penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis deskriptif. Sedangkan metode yang digunakan adalah semiotika roland Barthes. Dalam penelitian ini, peneliti membatasi hanya merepresentasikan Anastasia Steele saja selaku tokoh utama perempuan, karena tokoh utama yang berkuasa atas jalannya sebuah cerita (Freud, 2009: 15).
Representasi perempuan yang akan dilakukan pada penelitian ini juga hanya sebatas adegan saat Ana dan Christian sedang bersama dan melakukan percakapan. Peneliti sengaja mengambil hanya bagian mereka sedang bersama saja, karena peneliti ingin melihat bagaimana perempuan digambarkan saat bersama dengan laki-laki.
1.2.Fokus Masalah
Berdasarkan konteks masalah yang diuraikan di atas, maka dapat dirumuskan fokus permasalahan dalam penelitian ini adalah: “Bagaimanakah Representasi Perempuan Dalam Film “Fifty Shades of Grey” ?“
1.3. Batasan Masalah
Untuk menghindari ruang lingkup penelitian terlalu luas, sehingga dapat mengaburkan penelitian, maka peneliti membatasi masalah yang akan diteliti.
Adapun pembatasan masalah yang diteliti adalah:
1. Perempuan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah Anastasia Steele.
2. Objek penelitian ini adalah scene yang dianggap mendukung representasi perempuan (Ana).
3. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan analisis semiotika Roland Barthes.
1.4. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui representasi perempuan di dalam film “Fifty Shades of Grey”melalui semiotika Roland Barthes.
2. Mengetahui scene apa saja yang merepresentasikan perempuan dalam film
”Fifty Shades of Grey”.
1.5. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah:
1. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat menambah serta memperluas wawasan di bidang ilmu komunikasi khususnya tentang analisis semiotika.
2. Secara akademis, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya bahan bacaan mahasiswa serta dapat memberikan kontribusi dalam perkembangan Ilmu Komunikasi FISIP USU.
3. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbangan pikiran dan masukan kepada pihak yang membutuhkan pengetahuan yang berkenaan dengan penelitian ini.
BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1. Paradigma Penelitian
Thomas Khun dikenal sebagai orang pertama yang mempopulerkan istilah paradigma. Paradigma atau dalam bidang keilmuwan sering disebut sebagai perspektif (perspective), terkadang disebut mazhab pemikiran (school of thought) atau teori. Paradigma secara sederhana dapat diartikan sebagai kacamata atau cara pandang untuk memahami dunia nyata. Patton mengatakan (dalam Mulyana, 2004: 9) bahwa paradigma adalah:
“A paradigm is a world view, a general perspective, a way of breaking down the complexity of the real world. As such, paradigms are deeply embedded in the socialization of adherents and practitioners: paradigms tell them what is important, legitimate and reasonable. Paradigms are also normative, telling the practitioner what to do without the necessity of long existential orepistimological consideration. But it is this aspect of paradigms the constitutes bith their strength in that it makes action possible, their weakness in that the very reason foraction is hidden in the unquestioned assumptions of paradigm”.
Seperti yang dikatakan di atas, bahwa paradigma adalah suatu pandangan dunia, suatu perspektif yang umum, suatu cara mematahkan kompleksitas dalam dunia nyata. Dengan demikian, paradigma sangat tertanam dalam sosialisasi pengikut dan praktisi: paradigma memberitahu mereka apa yang penting, sah dan masuk akal. Paradigma juga normatif, memberitahu praktisi apa yang harus dilakukan tanpa perlu pertimbangan eksistensial atau epistemologis yang panjang. Tapi itu adalah aspek paradigma yang merupakan kedua kekuatan dalam membuat tindakan yang mungkin, kelemahan mereka bahwa alasan untuk tindakan tersembunyi dalam asumsi diragukan paradigma.
Paradigma penelitian merupakan kerangka berfikir yang menjelaskan bagaimana cara pandang peneliti terhadap fakta kehidupan sosial dan perlakuan peneliti terhadap ilmu atau teori. Paradigma penelitian merupakan perspektif penelitian yang digunakan oleh peneliti tentang bagaimana peneliti (Pujileksono, 2015:26):
a. Melihat realita (world views) b. Bagaimana mempelajari fenomena
c. Cara-cara yang digunakan dalam penelitian
d. Cara-cara yang digunakan dalam menginterpretasikan temuan.
Paradigma itu sendiri bermacam-macam. Guba dan Lincoln menyebutkan ada empat macam paradigma yaitu, positivisme, post positivisme, konstruktivisme, dan kritis. Sedangkan Cresswel membedakan dua macam paradigma, yaitu kuantitatif dan kualitatif. Paradigma kuantitatif menekankan pada pengujian teori melalui pengukuran variabel penelitian dengan angka dan melakkan analisis data dengan prosedur statistik. Paradigma kualitatif merupakan paradigma penelitian yang menekankan pada pemahaman mengenai masalah- masalah dalam kehidupan sosial berdasarkan kondisi realitas yang holistis, kompleks dan rinci. Paradigma kualitatif disebut juga dengan pendekatan konstruktivis, naturalistik atau interpretatif, atau perspektif post modern (Erlina, 2011: 14).
Teori konstruktivisme adalah pendekatan secara teoritis untuk komunikasi yang dikembangkan tahun 1970-an oleh Jesse Deli dan rekan- rekannya. Teori konstruktivisme menyatakan bahwa individu melakukan interpretasi dan bertindak menurut kategori konseptual yang ada dalam pikirannya. Dalam teori ini, realitas tidak menunjukkan dirinya dalam bentuknya yang kasar, tetapi harus disaring terlebih dahulu melalui bagaiana cara seseorang melihat sesuatu (Morissan, 2009: 107). Paradigma konstrukivisme ialah paradigma dimana kebenaran suatu realitas sosial dilihat sebagai konstruksi sosial, dan kebenaran suatu realitas sosial bersifat relatif.
Menurut paradigma konstruktivisme, realitas sosial yang diamati oleh seseorang tidak dapat digeneralisasikan pada semua orang. Konstruktivisme menolak pandangan positivisme yang memisahkan subjek dan objek komunikasi.
Bahasa tidak lagi dilihat sebagai alat untuk memahami realitas objektif belaka dan dipisahkan dari subjek sebagai penyampai pesan, tetapi konstruktivisme menganggap subjek sebagai faktor sentral dalam kegiatan komunikasi serta
hubungan-hubungan sosialnya. Subjek mampu melakukan kontrol terhadap maksud-maksud tertentu dalam setiap wacana.
Weber menerangkan bahwa substansi bentuk masyarakat tidak hanya dilihat dari penilaian objektif saja, melinkan dilihat dari tindakan perorangan yang timbul dari alasan-alasan subjektif. Dalam proses sosial, individu manusia dipandang sebagai pencipta realitas sosial yang relatif bebas di dalam dunia sosialnya. Realitas sosial itu memiliki makna manakala realitas sosial tersebut dikonstruksikan dan dimaknakan secara subjektif oleh individu lain, sehingga memantapkan realitas itu secara objektif. Littlejohn mengatakan bahwa paradigma konstruktivis berlandaskan pada ide bahwa realitas bukanlah bentukan yang objektif, tetapi dikonstruksi melalui proses interaksi dalam kelompok, masyarakat, dan budaya (Wibowo, 2011: 27).
Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivis. Di dalam penelitian semiotika, banyak peneliti yang menggunakan paradigma konstruktivis, walaupun terdapat beberapa orang yang juga menggunakan paradigma kritis. Paradigma konstruktivis dianggap lebih relevan bila digunakan untuk melihat realitas signifikasi objek yang diteliti. Melalui paradigma konstruktivis, dapat dijelaskan 4 dimensi seperti yang tertulis (dalam Wibowo, 2011: 28):
1. Ontologis: relativism, relativitas merupakan konstruksi sosial. Kebenaran suatu realitas bersifat relatif, berlaku sesuai konteks spesifik yang dinilai relevan oleh pelaku sosial.
2. Epstemologis: transactionalist/subjectivist, pemahaman tentang suatu realitas atau temuan suatu penelitian merupakan produk interaksi antara peneliti dengan yang diteliti.
3. Axiologis: Nilai, etika dan pilihan moral merupakan bagian tak terpisahkan dari suatu penelitian. Peneliti sebagai passionate participant, fasilitator yang menjebatani keragaman subjektivitas pelaku sosial. Tujuan penelitian lebih kepada rekonstruksi realitas sosial secara dialektis antara peneliti dengan pelaku sosial yang diteliti.
4. Metodologis: menekankan empati dan interaksi dialektis antara peneliti dengan responden untuk merekonstruksi realitas yang diteliti, melalui metode-metode kualitatif seperti participant observasion. Kriteria kualitas penelitian authenticity dan relectivty: sejauh mana temuan merupakan refleksi otentik dari realitas yang di hayati oleh para pelaku sosial.
2.2. Kajian Pustaka
Dalam setiap penelitian, diperlukan teori yang mendukung. Seorang peneliti harus terlebih dahulu menyusun teori yang bersangkutan dengan topik penelitian sebagai landasan berpikir untuk menggambarkan dari sudut pandang mana penelitian tersebut dilihat. Teori adalah suatu set dari hubungan antara konstruk, konsep, definisi/batasan dan preposisi yang menyajikan suatu pandangan sistematis tentang fenomena dengan merinci hubungan-hubungan antar variabel, dengan tujuan menjelaskan dan memprediksi fenomena tersebut (Pujileksono, 2015:11). Teori dapat membantu memfokuskan perhatian dan peneliti akan mampu memahami fenomena-fenomena yang terjadi di dalamnya.
Dalam hal ini, peneliti menggunakan beberapa teori yang relevan dengan topik yang menjadi permasalahan yang akan diteliti yaitu:
2.2.1. Komunikasi Massa
Dalam pembahasan komunikasi massa, perlu dibedakan definisi massa dalam arti umum dengan komunikasi massa. Massa dalam pembahasan komunikasi massa lebih menunjuk kepada si penerima pesan yang berkaitan dengan media massa. Oleh karena itu, massa disini menunjuk kepada khalayak, audiens, penonton, pemirsa, atau pembaca. Komunikasi massa juga dapat didefinisikan sebagai proses penggunaan sebuah media massa untuk mengirim pesan kepada audiens yang luas untuk tujuan memberi informasi, menghibur, atau membujuk (Vivian, 2008: 450). Menurut Tan dan Wright, komunikasi massa merupakan komunikasi yang menggunakan saluran (media) dalam menghubungkan komunikator dan komunikan secara massal, berjumlah banyak, bertempat tinggal yang jauh (terpencar), sangat heterogen dan menimbulkan efek tertentu (Ardianto, 2004: 3). Definisi komunikasi massa yang paling sederhana
dirumuskan oleh Bittner (dalam Rakhmat, 2007:188): “Mass communication is messages communicated through a mass medium to a large number of people”
yang berarti komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang.
Definisi-definisi komunikasi massa yang telah dipaparkan secara prinsip mengandung makna yang sama, bahkan antara definisi yang satu dan definisi yang lain saling melengkapi. Melalui definisi-definisi tersebut, dapat diketahui karakteristik komunikasi massa sebagai berikut (Ardianto, 2004: 7):
1. Komunikator Terlembagakan
Ciri komunikasi massa yang pertama adalah komunikatornya. Komunikasi massa itu mengunakan media massa, baik media cetak maupun elektronik.
2. Pesan Bersifat Umum
Komunikasi massa itu bersifat terbuka, artinya komunikasi massa ditujukkan untuk semua orang dan tidak ditujukkan untuk sekelompok orang saja.
3. Komunikannya Anonim dan Heterogen
Dalam komunikasi massa, komunikator tidak mengenal komunikan (anonim), karena cara berkomunikasinya menggunakan media sehingga tidak bertatap muka secara langsung. Selain anonim, komunikan komunikasi massa juga bersifat heterogen karena terdiri dari berbagai lapisan masyarakat yang berbeda dan berada di mana saja.
4. Media Massa Menimbulkan Keserempakan
Jumlah sasaran khalayak atau komunikan dalam komunikasi massa relatif dalam jumlah banyak dan tak terbatas. Komunikan yang banyak tersebut secara serempak pada waktu yang bersamaan memperoleh pesan yang sama pula.
5. Komunikasi Mengutamakan Isi Ketimbang Hubungan
Dalam komunikasi massa, isi harus disusun sedemikian rupa dan disesuaikan dengan karakteristik media massa yang akan digunakan.
6. Komunikasi Massa bersifat Satu Arah
Komunikasi massa adalah komunikasi dengan atau melalui media massa.
Karena melalui media massa, maka komunikator dan komunikannya tidak dapat melakukan kontak langsung. Dengan demikian, komunikasi massa bersifat satu arah.
7. Stimulasi Alat Indra Terbatas
Stimulasi alat indra bergantung pada jenis media massa yang digunakan.
Pada suratkabar dan majalah pembaca hanya melihat, radio dan rekaman auditif, khalayak hanya mendengar, sedangkan pada media televisi dan film, menggunakan indra penglihatan dan pendengaran.
8. Umpan Balik Tertunda
Umpan balik dalam komunikasi massa tidak terjadi secara langsung karena komunikator tidak dapat melihat reaksi atau tanggapan dari komunikan secara langsung.
Komunikasi massa memiliki fungsi-fungsi penting terhadap masyarakat.
Dominick membagi fungsi komunikasi massa sebagai berikut (Ardianto, 2004:
15):
1. Surveillance (Pengawasan)
Fungsi pengawasan komunikasi massa dibagi dalam dua bentuk utama, yaitu:
a. Fungsi pengawasan peringatan yaitu menginformasikan berbagai hal terutama tentang ancaman kepada masyarakat.
b. Fungsi pengawasan instrumental yaitu menyampaikan atau menyebarkan informasi yang berguna dan dapat membantu khalayak/masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
2. Interpretation (Penafsiran)
Media massa tidak hanya mencari dan menyimpang data serta fakta, tetapi juga memberikan penafsiran terhadap kejadian-kejadian penting. Media memilih dan memutuskan peristiwa-peristiwa yang dimuat atau layak ditayangkan.
3. Linkage (Pertalian)
Media massa mampu menyatukan anggota masyarakat yang beragam, sehingga membentuk suatu pertalian berdasarkan kepentingan dan minat yang sama tentang sesuatu.
4. Transmission of values (Penyebaran nilai-nilai)
Media massa memberikan nilai-nilai kepada masyarakat dan berharap nilai-nilai ini bisa diadopsi oleh masyarakat.
5. Entertainment (Hiburan)
Hampir semua media massa menjalankan fungsinya sebagai hiburan.
Walaupun ada beberapa media yang tidak memberikan fungsi tersebut tetapi memberikan fungsi informasi kepada masyarakat seperti majalah Tempo, Gatra dan lainnya. Fungsi dari media massa sebagai fungsi menghibur adalah untuk mengurangi ketegangan pikiran khalayak.
2.2.2. Semiotika
Semiotika adalah suatu ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda.
Manusia dengan perantara tanda-tanda, dapat melakukan komunikasi dengan sesamanya. Pada dasarnya, suatu tanda memiliki hubungan antara tanda dengan makna yang terkandung di dalam tanda tersebut. Tanda-tanda adalah perangkat yang kita pakai dalam upaya berusaha mencari jalan di dunia, di tengah-tengah manusia dan bersama-sama manusia. Semiotika pada dasarnya hendak mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity) memaknai hal-hal (things) (Barthes dalam Sobur, 2004: 15). Semiotika berusaha menjelaskan tentang tanda, secara sistematik, menjelaskan esensi, ciri-ciri dan bentuk suatu tanda, serta proses signifikasi yang menyertainya.
Secara etimologis, istilah semiotik berasal dari kata yunani Semeion yang berarti tanda dan dalam bahasa Inggris itu adalah ilmu yang mempelajari sistem tanda seperti: bahasa, kode, sinyal dan sebagainya. Tanda itu sendiri didefinisikan sebagai suatu –yang atas dasar konvensi sosial yang terbangun sebelumnya – dapat mewakili sesuatu yang lain. Tanda pada awalnya dimaknai sebagai sesuatu hal yang menunjuk adanya hal lain (Wibowo, 2011: 5). Christomy (2004: 77) mengatakan semiotik adalah teori dan analisis berbagai tanda (sign) dan
pemaknaan (signification). Semiotika atau semiologi merupakan terminologi yang merujuk pada ilmu yang sama. Istilah semiologi lebih banyak digunakan di Eropa sedangkan semiotika lazim dipakai oleh ilmuwan Amerika. Secara substansial, semiotika adalah kajian yang concern dengan dunia simbol. Alasannya, seluruh isi media massa pada dasarnya adalah bahasa (verbal), sementara itu bahasa merupakan dunia simbolik (Sobur, 2006: 140). Menurut Morissan, semiotika merupakan studi mengenai tanda (signs) dan simbol yang menggunakan tradisi penting dalam pemikiran tradisi komunikasi. Tradisi semiotika mencakup teori utama mengenai bagaimana tanda mewakili objek, ide, situasi, keadaan, perasaan dan sebagainya yang berada di luar diri (Morissan, 2009: 27).
Memahami semiotika tentu tidak bisa lepas dari pengaruh peran dua orang penting ini yaitu Charles Sanders Pierce (1839-1914) dan Ferdinand De Saussure (1857-1913). Keduanya meletakkan dasar-dasar bagi kajian semiotika. Kedua tokoh tersebut mengembangkan ilmu semiotika secara terpisah dan tidak mengenal satu sama lain. Saussure di Eropa sedangkan Pierce di Amerika Serikat.Latar belakang keilmuan Saussure adalah linguistik sedangkan Peirce adalah filsafat. Saussure menyebut ilmu yang dikembangkannya semiologi (semiology) (Tinarbuko, 2008: 11). Teori dari Pierce seringkali disebut sebagai
“grand theory” dalam semiotika, karena gagasan Pierce bersifat menyeluruh, deskripsi struktural dari sistem penandaan. Sebuah tanda atau representamen menurut Charles S Pierce adalah sesuatu yang bagi seseorang mewakili sesuatu yang lain dalam beberapa hal atau kapasitas (Wibowo, 2011: 13).
Dalam konsep semiotika Pierce, Pierce membagi tanda atas ikon (icon), indeks (index) dan simbol (symbol). Ikon adalah tanda yang hubungan antara penanda dan petandanya bersifat bersamaan bentuk alamiah atau bersifat kemiripan, indeks adalah tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah antara tanda dan petanda yang bersifat kausal, sementara simbol adalah tanda yang menunjukkan hubungan alamiah antara penanda dengan petandanya dan hubungan diantaranya bersifat arbiter atau semena (Sobur, 2004: 41).
Kategori tipe tanda menurut Pierce digambarkan sebagai berikut:
Gambar 1.
Kategori Tipe Tanda dari Pierce Ikon
Indeks Simbol
Sumber dari Burhan Bungin, Penelitian Kualitatif (Jakarta: Kencana, 2010) hal: 168
Pierce mendefinisikan semiotika sebagai suatu hubungan antara tanda, objek, dan makna (Morrisan, 2009: 28). Dalam kajian komunikasi, pusat perhatian semiotika adalah menggali makna-makna tersembunyi di balik penggunaan simbol-simbol yang lantas dianalogikan sebagai teks atau bahasa.
Sedangkan menurut John Fiske (2007: 60-61) semiotika mempunyai tiga bidang studi utama, yaitu:
1. Tanda. Hal ini terdiri atas studi tentang berbagai tanda yang berbeda, cara tanda-tanda yang berbeda itu dalam menyampaikan makna, dan cara tanda-tanda itu terkait dengan manusia yang mengunakannya. Tanda adalah konstruksi manusia dan hanya bisa dipahami dalam artian manusia yang menggunakannya.
2. Kode atau sistem yang mengorganisasikan tanda. Studi ini mencakup cara berbagai kode dikembangkan guna memenuhi kebutuhan suatu masyarakat atau budaya untuk mengeksploitasi saluran komunikasi yang tersedia untuk mentrasmisikannya.
3. Kebudayaan tempat kode dan tanda bekerja. Ini pada gilirannya bergantung pada penggunaan kode-kode dan tanda-tanda itu untuk keberadaan dan bentuknya sendiri.
Semua model makna memiliki bentuk yang mirip secara luas.Masing-masing memperhatikan tiga unsur yang harus ada di dalam setiap studi tentang makna.
Ketiga unsur tersebut adalah:
a. Tanda
b. Acuan tanda dan c. Penggunaan tanda.
Tanda merupakan sesuatu yang bersifat fisik, bisa di persepsikan sebagai indra kita. Tanda mengacu kepada sesuatu yang ada di luar tanda itu sendiri dan bergantung pada pengenalan oleh penggunaannya sehingga bisa disebut tanda (Fiske, 2007: 61).
Sedangkan Saussure memasukkan semiotika sebagai hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan langsung. Saussure mengemukakan bahwa seseorang menggunakan tanda untuk mengirim makna tentang objek dan orang lain akan menginterpretasikan tanda tersebut. Menurut Saussure, bahasa itu merupakan suatu sistem tanda (sign). Tanda adalah kesatuan dari suatu bentuk penanda (signifier) dengan sebuah ide atau petanda (signified). Penanda adalah “bunyi yang bermakna” atau coretan bermakna (Sobur, 2004: 46). Saussure menggambarkan tanda terdiri atas signifier dan signified itu sebagai berikut:
Gambar 2.
Elemen-Elemen Makna dari Saussure Sign
Composed of
Signification
Signifier plus Signified external reality
(physical existence (mental concept) of meaning of the sign)
Sumber dari Alex Sobur, Analisis Teks Media (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), hal.:
125
Saussure mengatakan signifier adalah bunyi atau coretan bermakna dan signified adalah gambaran mental atau konsep sesuatu dari signifier. Kedua unsur ini seperti dua sisi dari sekeping mata uang ataupun selembar kertas. Tanda bahasa dengan demikian menyatukan bukan hal dengan nama, melainkan konsep
dan gambaran akustis. Hubungan antara keberadaan fisik tanda dan konsep mental tersebut dinamakan signification. Dengan kata lain, signification menurut Fiske adalah upaya dalam memberi makna terhadap dunia (Sobur, 2006: 125).
Selanjutnya ada seorang tokoh semiotika juga yang terkenal, yaitu Roland Barthes. Teori semiotik Barthes hampir secara harfiah diturunkan dari teori bahasa menurut de Saussure (Hoed, 2007: 9). Barthes melontarkan konsep tentang konotasi dan denotasi sebagai kunci analisisnya. Dengan mengabaikan bentuk dan substansi, Barthes mendefinisikan sebuah tanda sebagai sebuah ekspresi atau signifier dalam hubungannya dengan content atau signified (Wibowo, 2011:16).
Fiske mengatakan bahwa model penelitian Barthes tersebut merupakan signifikasi dua tahap (two order of signification). Signifikasi tahap pertama merupakan hubungan antara signifier (ekspresi) dan signified (content) di dalam sebuah tanda terhadap realitas eksternal. Itulah yang dikatakan Barthes sebagai denotasi yaitu makna paling nyata dari tanda. Signifikasi tahap kedua digunakan Barthes dengan istilah konotasi, yang menggambarkan interaksi yang terjadi ketika tanda bertemu dengan perasaan atau emosi dari pembaca serta nilai-nilai dari kebudayaannya.
Dalam pandangan George Rixer (dalam Ghazali, 2010:11), Barthes adalag pengembang utama ide-ide Saussure pada semua area kehidupan sosial. Barthes mengembangkan gagasan Saussure ke seluruh bidang kehidupan sosial. Tidak hanya bahasa semata, tetapi juga perilaku sebagaimana menjadi perwakilan atau tanda. Sementara itu Charles Sanders Pierce, manusia hanya dapat berkomunikasi lewat sarana tanda (Tinarbuko, 2008: 16).
Charles Morris memudahkan dalam memahami ruang lingkup kajian semiotika. Menurutnya, kajian semiotika pada dasarnya dibedakan ke dalam tiga cabang penyelidikan (branches of inquiry) yaitu sintatik, semantik, dan pragmatik (Wibowo, 2011: 4):
1. Sintatik
Adalah cabang penyelidikan semiotika yang mengkaji hubungan formal diantara satu tanda dengan tanda yang lain. Dengan begitu hubungan- hubungan formal ini merupakan kaidah yang mengendalikan tuturan dan interpretasi. Dalam hal ini, tanda tidak pernah mewakili dirinya, tanda
selalu menjadi bagian dari sistem tanda yang lebih besar atau kelompok yang diorganisir melalui cara tertentu.
2. Semantik
Adalah cabang penyelidikan semiotika yang mempelajari hubungan di antara tanda-tanda dengan designata atau objek-objek yang diacunya.Yang dimaksud designata adalah tanda-tanda sebelum digunakan dalam tuturan tertentu. Semantik membahas bagaimana tanda berhubungan dengan referennya, atau apa saja yang diwakili tanda. Prinsip dasar semiotika adalah bahwa representasi selalu diperantarai atau dimediasi oleh kesadaran interpretasi seorang individu, dan setiap interpretasi atau makna dari suatu tanda akan berubah dari suatu situasi ke situasi lainnya.
3. Pragmatik
Adalah cabang penyelidikan semiotika yang mempelajari hubungan di antara tanda-tanda dengan interpreter-interpreter atau para pemakai- pemakai tanda. Tanda tidak dapat dipisahkan dari pemakainya, atau keberadaan suatu tanda dapat dipahami hanya dengan mengembalikan tanda itu ke dalam masyarakat dalam masyarakat pemakainya. Aspek pragmatik dari tanda memiliki peran penting dalam komunikasi, khususnya untuk mempelajari mengapa terjadi kepahaman dan kesalahpahaman dalam berkomunikasi.
2.2.2.1. Semiotika Roland Barthes
Kancah semiotika tidak bisa terlepas dari nama Roland Barthes. Roland Barthes lahir tahun 1915 dari keluarga menengah Protestan di Cherbourg dan dibesarkan di Bayonne, kota kecil dekat pantai Atlantik di sebelah barat daya Prancis. Barthes adalah seorang ahli semiotika yang mengembangkan kajian yang sebelumnya punya warna kental strukturalisme kepada semiotika teks. Dia dikenal sebagai salah seorang pemikir strukturalis yang getol mempraktekkan model linguistik dan semiologi Saussuren (Sobur, 2004: 63). Ia menghabiskan waktu untuk menguraikan dan menunjukkan bahwa konotasi yang terkandung dalam mitologi biasanya merupakan hasil konstruksi yang cermat. Saussure tertarik pada cara kompleks pembentukan kalimat dan cara bentuk-bentuk kalimat yang sama
bisa menyampaikan makna yang berbeda kepada orang yang berbeda situasinya.
Roland Barthes meneruskan pemikiran tersebut dan dikenal dengan istilah “order of signification” (Kriyantono, 2008: 268).
Semiotika, atau dalam istilah Barthes disebut semiologi pada dasarnya hendak mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity) memaknai hal-hal (things). Memaknai berarti bahwa objek-objek tidak hanya membawa informasi, dalam hal mana objek-objek itu hendak berkomunikasi, tetapi juga mengkonstitusi sistem terstruktur dari tanda. Barthes merupakan orang terpenting dalam tradisi semiotika Eropa pasca Saussure. Pemikirannya bukan saja melanjutkan pemikiran Saussure tentang hubungan bahasa dan makna, namun ia justru melampaui Saussure terutama ketika ia menggambarkan tentang makna ideologis dari representasi jenis lain yang ia sebut sebagai mitos. Barthes menekankan pada cara tanda-tanda di dalam teks berinteraksi dengan pengalaman personal dan kultural penggunanya dan memperhatikan konvensi pada teks yag berinteraksi dengan konvensi pada teks yang berinteraksi dengan konveksi yang dialami (Kriyantono, 2008:268).
Konsep konotasi dan denotasi menjadi kunci dari analisis Barthes.
Konsep ini dinamakan Two orders of signification (signifikasi dua tahap atau dua tatanan pertandaan) Barthes yang terdiri dari first order of signification yaitu denotasi, dan second orders of signification yaitu konotasi. Tatanan yang pertama mencakup penanda dan petanda yang membentuk tanda. Tanda inilah yang disebut makna denotasi. Denotasi adalah tingkat pertandaan yang menjelaskan hubungan antara tanda dan rujukannya pada realitas, yang menghasilkan makna yang eksplisit, langsung, dan pasti. Bisa dikatakan bahwa denotasi yaitu makna paling nyata dari tanda, sedangkan konotasi adalah tingkat pertandaan yang menjelaskan hubungan antara penanda dan petanda yang di dalamnya beroperasi makna yang bersifat implisit dan tersembunyi (Christomy, 2004: 94). Konotasi mempunyai makna yang subjektif atau paling intersubjektif. Dengan kata lain, denotasi adalah apa yang digambarkan tanda terhadap suatu objek dan makna konotasi adalah bagaimana cara menggambarkannya (Wibowo, 2011: 17).
Salah satu area penting yang dimasukkan Barthes dalam studinya tentang tanda adalah peran pembaca (the reader). Walaupun konotasi merupakan sifat asli dari tanda, tetapi sangat dibutuhan keaktifan para pembaca agar makna suatu tanda tersebut dapat berfungsi. Barthes memperjelas konsepnya dengan peta sebagai berikut ini:
Gambar 3.
Konsep semiotika Roland Barthes
Tatanan pertama Tatanan kedua
realitas tanda kultur
Sumber: John Fiske, Cultural and Communication Studies (Yogyakarta: Jalasutra, 2007), hal:
122
Menurut Roland Barthes, “pembaca” melalui berbagai tahap dalam mendekonstruksikan makna dari tanda. Tatanan pertandaan Barthes tersebut menggambarkan relasi antara petanda dan penanda di dalam tanda dan antara tanda dengan referennya dalam realitas eksternal (Fiske, 2007: 118). Barthes menyebut tatanan ini sebagai denotasi. Denotasi merupakan image yang terlihat secara nyata, ukan asumsi individual dari “pembaca” (Rayner, 2001: 36). Di tatanan pertandaan kedua atau tahap konotasi merupakan saat “pembaca”
menambah segelintir informasi terkait. Pada tahap inilah beberapa bagian yang tidak dimaknai dalam tahap denotatif dicoba untuk dimaknai. Tahapan konotasi ini adalah di mana makna dari tanda dipengaruhi oleh pengalaman budaya yang
isi bentuk
Denotasi Penanda
Petanda
konotasi
mitos
dibawa oleh “pembaca” (Rayner, 2001:36). Konotasi dipakai untuk menjelaskan salah satu dari tiga cara kerja tanda dalam tahapan kedua. Konotasi menggambarkan interaksi yang berlangsung saat tanda bertemu dengan perasaan atau emosi pengguna dan nilai-nilai kultural. Ini bisa saja terjadi saat makna bergerak menuju subjektif atau tatkala interpretant dipengaruhi sama banyaknya oleh penafsir objek atau tanda (Fiske, 2007: 118).
Konotasi membawa nilai-nilai ekspresif yang muncul dari akumulasi rangkaian kekuatan. Ketika konotasi diterima sebagai sesuatuyang “normal”
maupun “alami”, maka ia bertindak sebagai peta makna konseptual yang dengan dengannya seseorang memahami dunianya. Inilah yang disebut dengan mitos (Barker, 2000: 117). Menurut pandangan Barthes, mitos adalah cara berpikir dari suatu kebudayaan mengenai sesuatu, cara untuk memahami sesuatu. Jika konotasi adalah pemaknaan tatanan kedua dari penanda, maka mitos merupakan pemaknaan tatanan kedua dari petanda. Pada tatanan kedua, sistem tanda dari tatanan pertama disisipkan ke dalam sistem nilai budaya.Barthes menggunakan mitos sebagai orang yang percaya. Mitos adalah cerita yang digunakan suatu kebudayaan untuk menjelaskan atau mencari pemahaman terkait beberapa aspek dari realitas maupun alam (Fiske, 2007: 121).
Barthes menegaskan cara kerja pokok mitos adalah untuk menaturalisasikan sejarah, yang menyatakan bahwa mitos sebenarnya merupakan produk kelas sosial yang mencapai dominasi melalui sejarah tertentu. Maknanya, peredaran mitos turut membawa sejarahnya walau mitos mencoba menyangkal hal tersebut, hingga akhirnya maknanya akan dianggap alami, bukan historis atau sosial. Mitos menyembunyikan asal-usul sejarah dan membuat kesan bahwa mitos tersebut bersifat universal. Konotasi dan mitos merupakan cara pokok-pokok tanda berfungsi dalam tatanan kedua pertandaan, yakni tatanan tempat berlagsungnya interaksi antara tanda dan pengguna/budayanya yang sangat aktif (Fiske, 2007: 124).
Mitos mirip dengan konsep ideologi, karena sama-sama bekerja pada level konotasi. Mitos menjadikan pandangan dunia tertentu tampak tak terbantahkan karena alamiah atau ditakdirkan Tuhan. Barthes mengungkapkan bahwa mitos