HASIL, ANALISIS DAN PEMBAHASAN
C. Kesimpulan Hasil Analisis
Berdasarkan hasil analisis sebagaimana telah diuraikan di atas, maka dapat diambil beberapa kesimpulan. Hasil analisis data berdasarkan data yang diperoleh di lapangan menyimpulkan bahwa:
1. Konseling berpengaruh signifikan terhadap tingkat kecemasan pada pasien sebelum operasi sesarea, yang ditunjukkan dengan harga t hitung sebesar -2,850 dengan harga signifikansi sebesar 0,006 < 0,05.
2. Konseling berpengaruh signifikan terhadap tingkat kecemasan pada pasien sesudah operasi sesarea, yang ditunjukkan dengan harga t hitung sebesar -2,480 dengan harga signifikansi sebesar 0,016 < 0,05.
3. Tingkat pendidikan berpengaruh signifikan terhadap tingkat kecemasan pada pasien yang diberi konseling, yang ditunjukkan dengan harga F hitung sebesar -4,641 dengan harga signifikansi sebesar 0,039 < 0,05.
4. Tingkat usia tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat kecemasan pada pasien yang diberi konseling, yang ditunjukkan dengan harga F hitung sebesar -1,148 dengan harga signifikansi sebesar 0,345 > 0,05.
5. Kehamilan tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat kecemasan pada pasien yang diberi konseling, yang ditunjukkan dengan harga F hitung sebesar 0,418 dengan harga signifikansi sebesar 0,662 > 0,05.
6. Faktor penyulit tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat kecemasan pada pasien yang diberi konseling, yang ditunjukkan dengan harga F hitung sebesar 0,421 dengan harga signifikansi sebesar 0,859 > 0,05.
D. Pembahasan
Proses melahirkan pada setiap ibu berbeda-beda, pada umumnya proses pembukaan sampai lahirnya bayi dalam persalinan tidak begitu lama, sebaliknya ada juga proses persalinan sampai berjam-jam sudah merasakan tanda-tanda mulai mulas-mulas, keluar cairan atau bercak darah melalui jalan lahir namun sikecil tak kunjung lahir, dengan suasana psikologis yang kurang mendukung seperti kecemasan yang berlebihan, khawatir dan takut tanpa sebab, hingga akhirnya berujung pada stres sehingga ibu merasakan sakit yang semakin menjadi-jadi, dan berujung dengan penentuan untuk melakukan operasi sesarea.
Tidak ada referensi yang menganjurkan langsung seksio sesarea untuk terminasi kehamilan pada kecemasan ringan hingga berat, kecuali jika ada kontraindikasi persalinan vaginal dan seksio sesarea dilakukan berdasarkan indikasi obstetri atau jika ada hambatan atau kegagalan induksi persalinan.
Lagrew, dkk. melaporkan dari satu rumah sakit di California Amerika Srikat tahun 1998-2004, bahwa ada dua indikasi untuk “seksio sesarea emergensi atau
crash cesarean delivery” yang sering dijumpai di rumah sakit tersebut, yaitu gawat janin sebesar 78,5% yang didiagnosa pada saat tanda-tanda persalinan
belum timbul, dan pada saat persalinan (intrapartum); indikasi kedua adalah tali pusat menumbung sebesar 7,9% sedangkan untuk “seksio sesarea emergensi” indikasi utamanya adalah partus tak maju atau distosia.
Sedangkan dalam penelitian ini, penyebab dilakukannya operasi sesarea dari 70 responden sebagaimana dalam tabel dibawah ini:
Indication Sesarea Freq % 1. Perdarahan Antepartum 1 1,43 2. Preeklamsi berat 8 11,43
3. Gawat janin 13 18,57
4. Induksi gagal 14 20,00
5. Disporposio kepala panggul 5 7,14
6. Kelainan letak 19 27,14
7. Kala II tak maju 9 12,86 8. Syarat vakum tak terpenuhi 1 1,43
Total : 70 100
Kelompokibu yang mengalami seksio sesarea emergensi pada penelitian ini, sebanyak 70 pasien, penyebab terbanyakdikarenakan kelainan letak kemudian dikarenakan induksi gagal dan gawat janin.
Seksio sesaria atau lebih dikenal oleh masyarakat dengan istilah operasi sesar merupakan salah satu alternative bagi ibu yang mengalami kesulitan untuk melahirkan. Berbagai macam kesulitan untuk melahirkan yang dialami oleh ibu hamil disebabkan oleh banyak hal. Beberapa di antaranya karena memang kondisi ibu yang tidak memungkinkan untuk melahirkan secara normal, kurangnya perawatan semasa kehamilan, karena adanya penyakit tertentu, adanya kejadian tertentu yang memaksa melahirkan sebelum waktunya, dan banyak sebab lainnya. Namun, tidak dipungkiri bahwa ada sebagian ibu yang menjalani operasi seksio
sesaria karena tidak ingin melahirkan secara normal dengan berbagai alasan, terutama alasan agar tetap seksi atau alasan lainnya.
Operasi seksio sesaria mungkin bukan pilihan bagi kebanyakan wanita yang sedang hamil. Biaya yang tinggi mungkin merupkan salah satu alasan kebanyakan itu yang tidak ingin menjalani operasi seksio sesaria. Keinginan ibu dapat melahirkan secara normal agar merasakan kepuasan sebagai seorang ibu mungkin menjadi pilihan mengapa tidak memilih operasi seksio sesaria. Apapun alasan seornag ibu menjalani operasi seksio sesaria, tentunya akan berpengaruh padanya secara psikologis. Secara psikologis, seseorang yang akan menjalani operasi, tidak terkecuali operasi seksio sesaria, akan mengalami kecemasan. Kecemasan muncul karena adanya pikiran yang mengarah pada sesuatu yang negative yang mungkin terjadi akibat dilakukannya operasi. Misalnya saja, kegagalan operasi, atau dampak yang sangat negative seperti kematian. Munculnya beberapa pikiran negative dari para pasien operasi karena memang beberapa kejadian operasi berakibat fatal, seperti koma yang berkepanjangan, kematian, atau resiko lainnya.
Terkait dengan munculnya kecemasan pada penelitian ini, operasi seksio sesaria yang terjadi di RSU Muhammadiyah Delanggu, kebanyakan berpendidikan rendah. Dalam penelitian ini, pendidikan rendah adalah pasien yang berpendidikan SLTA ke bawah. Perlu diketahui bahwa lulusan SLTA ke bawah tentunya tidak banyak memahami atau mengetahui tentang operasi seksio sesaria, atau operasi pada umumnya. Ketidakpahaman atau ketidaktahuan mereka tentunya terkait dengan resiko dari operasi tersebut. Perlu diketahui pula bahwa informasi mengenai hal-hal yang terkait dengan masalah operasi sangat minim. Apalagi para
ibu yang lulusan SLTA ke bawah juga diperkirakan memiliki minat baca tentang kesehatan yang kecil, sehingga mereka tidak memperoleh informasi yang banyak tentang operasi. Karena itu pula, penelitian ini berusaha untuk mengetahui sejauh mana efek dari pemberian konseling terhadap pasien yang menjalani operasi seksio sesaria.
Hasil penelitian tentang kecemasan dilihat dari tingkat pendidikan dapat digambarkan pada diagram di bawah ini:
Pend. Tinggi Pend. Rendah Tk. Pendidikan 40 35 30 25 20 15 10 5
Dari grafik tersebut menunjukkan tingkat kecemasan pasien seksio sesaria dari dua kelompok, yaitu kelompok yang berpendidikan rendah dan kelompok yang berpendidikan tinggi. Kelompok yang berpendidikan rendah, memiliki rentang skor yang cukup tinggi, dengan skor rata-rata yang lebih tinggi dibandingkan dengan kecemasan pada pasien yang berpendikan tinggi. Hal ini menggambarkan bahwa pasien seksio sesaria dari kelompok berpendidikan rendah memiliki tingkat kecemasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pasien yang berpendidikan tinggi. Kecemasan pasien yang berpendidikan rendah memang beralasan karena ketidaktahuan mereka tentang operasi seksio sesaria. Apalagi jika tingkat ekonominya juga rendah, barangkali akan menambah kecemasan
mereka karena terbentur dengan sumber biaya yang harus dikeluarkan untuk membiayai operasi seksio sesaria.
Pemberian konseling terhadap pasien seksio sesaria ternyata berpengaruh terhadap tingkat kecemasan pasien. Pemberian konseling merupakan usaha untuk memberikan informasi objektifp, yang dilakukan secara sistimatis dengan bekal konselor ketrampilan komunikasi, tehnik bimbingan dan pengetahuan klinik yang bertujuan untuk membantu pasien mengenali kondisinya saat ini, masalah yang sedang dihadapi dan dapat menentukan jalan keluarnya. Pemberian informasi ini pula sebagai bentuk motivasi kepada pasien agar pasien tidak merasa was-was tentang operasi yang akan dijalaninya.
Hasil analisis tentang pengaruh konseling menunjukkan bahwa konseling memberikan pengaruh terhadap tingkat kecemasan pasien. Hasil analisis yang menunjukkan adanya perbedaan tersebut yaitu analisis t test yang dilakukan untuk membandingkan rata-rata kelompok pasien yang memperoleh konseling dan pasien yang tidak memperoleh konseling.
Hasil t test menunjukkan harga yang cukup signifikan, yaitu t-test sebesar 2,85 dengan signifikansi sebesar 0,006 lebih kecil dari taraf alpha 0,05, untuk kecemasan pasien sebelum operasi. Hasil t test tingkat kecemasan setelah operasi juga diperoleh harga t test sebesar 2,48 dengan signifikansi 0,016 juga lebih kecil dari tarfa alpha 0,05. Kedua hasil t-test tersebut signifikan yang berarti pula bahwa ada perbedaan signifikan rata-rata kelompok pasien yang memperoleh konseling dan kelompok pasien yang tidak memperoleh konseling.
Perbedaan kedua kelompok pasien yang diberi konseling dan yang tidak diberi konseling sebelum dilakukan operasi terlihat pada diagram di bawah ini:
Konseling Tanpa Konseling Pemberian Konseling 40 30 20 10
Gambar di atas terlihat kelompok tanpa konseling dan kelompok konseling. Garis rata-rata menunjukkan bahwa kelompok tanpa konseling lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok yang memperoleh konseling. Rata-rata kelompok tanpa konseling yaitu sebesar 25,4, sedangkan rata-rata kelompok pasien yang diberi konseling sebesar 20,21. Dengan adanya perbedaan tersebut, dimana rata-rata kelompok pasien yang diberi konseling lebih kecil dibandingkan dengan kelompok yang tidak diberi konseling, menunjukkan bahwa dengan adanya konseling, rata-rata tingkat kecemasan lebih kecil dibandingkan dengan kelompok yang tidak diberi konseling.
Setelah operasi, kelompok pasien yang diberi konseling dan kelompok pasien yang tidak diberi konseling juga memiliki perbedaan yang signifikan. Secara grafis, perbedaan kedua kelompok dapat dilihat pada diagram di bawah ini:
Konseling Tanpa Konseling Pemberian Konseling 40 30 20 10
Pada gambar tersebut terlihat bahwa bahwa kelompok tanpa konseling memiliki garis rata-rata lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok yang memperoleh konseling. Rata-rata kelompok tanpa konseling diketahui sebesar 22,66, sedangkan rata-rata kelompok pasien yang diberi konseling sebesar 18,29. Dengan adanya perbedaan tersebut, dimana rata-rata kelompok pasien yang diberi konseling lebih kecil dibandingkan dengan kelompok yang tidak diberi konseling, menunjukkan bahwa dengan adanya konseling, rata-rata tingkat kecemasan lebih kecil dibandingkan dengan kelompok yang tidak diberi konseling.
Tingkat kecemasan sebelum operasi juga memiliki perbedaan dengan kecemasan setelah operasi. Kecemasan sebelum operasi dapat disebabkan adanya perasaan yang terlalu takut dengan resiko yang mungkin terjadi. Karena itulah tingkat kecemasan sebelum operasi akan lebih tinggi dibandingkan dengan kecemasan setelah operasi.
Hasil penelitian ini membuktikan bahwa penjelasan tersebut benar adanya. Berdasarkan rata-rata yang diperoleh dari skor penelitian, tingkat kecemasan pasien sebelum operasi lebih tinggi dibandingkan dengan kecemasan pasien
setelah operasi. Rata-rata kecemasan pasien sebelum operasi diketahui sebesar 22,99, sedangkan rata-rata kecemasan pasien setelah operasi sebesar 20,47. Demikian pula secara terperinci, rata-rata kecemasan pasien yang tidak diberi konseling sebelum operasi sebesar 25,4, sedangkan setelah operasi memiliki rata-rata tingkat kecemasan sebesar 22,66. Rata-rata-rata tingkat kecemasan pasien yang diberi konseling sebelum operasi sebesar 20,21 dan rata-rata tingkat kecemasan setelah operasi sebesar 18,29. Dengan melihat skor rata-rata tersebut jelas menunjukkan bahwa kelompok yang diberi konseling memiliki rata-rata tingkat kecemasan lebih rendah dibandingkan dengan pasien yang tidak diberi konseling.
Pemberian konseling terhadap pasien seksio sesaria sangat penting untuk menumbuhkan kekuatan psikhis. Dengan kata lain bahwa dengan konseling akan memberikan motivasi kepada pasien agar dapat menghadapi resiko yang mungkin terjadi. Konseling bertujuan pula untuk meningkatkan pengetahuan pasien tentang operasi seksio sesaria yang tentu baginya hal tersebut tidak diketahuinya. Apalagi jika melihat bahwa kebanyakan pasien adalah berpendidikan rendah tentang masalah kesehatan, apalagi menyangkut masalah operasi sesaria secara mendetail, tentunya mereka banyak yang tidak mengetahuinya.
Dengan pemberian konseling, mereka para pasien akan memiliki pengetahuan yang banyak tentang operasi sesaria. Dengan mengetahui banyak tentang masalah operasi sesaria, maka pasien akan menyadari segala sesuatu yang mungkin hendak ditemuinya nanti. Dengan kesadaran yang tinggi tentang resiko yang mungkin ditemuinya nanti, maka pasien akan berkurang tingkat kecemasannya. Dan hal tersebut telah dibuktikan dari hasil penelitian, dimana pasien yang diberi konseling memiliki skor rata-rata kecemasan lebih rendah dibandingkan dengan skor
kecemasan pasien yang tidak diberi konseling, baik sebelum maupun sesudah operasi dilakukan.
Hasil analisis tingkat kecemasan berdasarkan tingkat usia, ternyata diperoleh kesimpulan bahwa tingkat usia tidak berpengaruh terhadap tingkat kecemasan pasien operasi seksio sesaria. Hasil analisis varians menunjukkan harga F sebesar 1,148 dengan signifikansi sebesar 0,345 lebih besar dari taraf alpha 0,05. Usia sering dikaitkan dengan masalah kedewasaan seseorang. Demikian pula bagi pasien seksio sesaria, usia juga menjadi salah satu indicator tentang kedewasaan pasien. Namun perlu diingat bahwa pasien seksio sesaria merupakan pasien yang sudah berkeluarga, sehngga berapapun usianya, mereka sudah termasuk dalam kategori dewasa. Apalagi bila dilihat umur terendah dari pasien seksio sesaria adalah 20 tahun, merupakan usia yang sudah lebih dari 17 tahun sebagai batas usia antara remaja dengan dewasa. Jadi, berapapun umurnya seorang ibu yang menjalani operasi seksio sesaria, kesemuanya mengalami kecemasan yang seimbang. Jadi tidak ada perbedaan yang mencolok tingkat kecemasan pasien seksio sesaria jika dilihat dari kelompok umur.
Pasien seksio sesaria merupakan pasien yang menghadapi kesulitan saat melahirkan. Ada berbagai macam kesulitan dalam melahirkan, sehingga secara terpaksa pasien tersebut harus menjalani operasi seksio sesaria. Secara teori ada 8 macam factor penyulit yang mengharuskan seorang ibu menjalani operasi seksio sesaria dalam melahirkan bayinya. Hasil penelitian ini tidak membuktikan adanya kecemasan yang disebabkan oleh factor penyulit. Tidak adanya pengaruh factor penyulit terhadap tingkat kecemasan pasien seksio sesaria tentunya merupakan hal yang wajar. Artinya apapun sebabnya seorang yang menjalani operasi seksio
sesaria, memiliki kecemasan yang merata. Tidak ada factor penyulit yang benar-benar membedakan tingkat kecemasan secara ekstrim, karena apapun penyebabnya semua operasi seksio sesaria memiliki resiko yang hampir sama.
E. Keterbatasan
Sebuah penelitian yang dilakukan dengan sebaik-baiknya, tentunya akan tetap memiliki keterbatasan. Keterbatasan dalam penelitian pada umumnya disebabkan oleh situasi dan kondisi objek penelitian yang hampir tidak mungkin dikendalikan oleh peneliti. Demikian pula dengan penelitian ini, ada beberapa keterbatasan apalagi dari peneliti yang belum banyak berpengalaman dalam penelitian.
Keterbatasan penelitian antara lain dari segi waktu penelitian, yaitu selama dua bulan. Penelitian dalam dua bulan dapat memberikan data yang masih belum sempurna, sehingga akan lebih baik bila dapat dilakukan dalam waktu yang lebih lama. Keterbatasan penelitian juga dapat dilihat dari segi ketersediaan data dokumen, dimana data tentang latar belakang kesehatan pasien yang tidak tercatat, yang dapat menjadi salah satu factor penyebab terjadinya factor penyulit sehingga pasien harus menjalani operasi sesaria. Disamping faktor riwayat kesehatan pasien juga perlu adanya latar belakang sosial, budaya dapat dijadikan sebagai pelengkap dalam penelitian yang akan datang.
Dari factor pasien juga menjadi salah satu keterbatasan, dimana dalam mengisi kuesioner, pasien terkadang kurang serius yang disebabkan oleh kondisi fisik pasien yang terlihat kurang sehat dan sering mengeluh kesakitan dan keluhan fisik lainnya seperti pegal, pusing dan lainnya, batas waktu untuk memberikan
konseling sebelum operasi sangatlah pendek sehingga sedikit banyak akan mempengaruhi hasil konseling tidak sesuai harapan.
Dengan adanya berbagai keterbatasn tersebut, setidaknya hasil penelitian ini dapat dijadikan inspirasi bagi peneliti yang akan datang untuk mengadakan penelitian yang lebih mendalam.
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis sebagaimana telah diuraikan di atas, maka dapat kesimpulan penelitian sebagai berikut:
1. Konseling berpengaruh signifikan terhadap tingkat kecemasan pada pasien sebelum dan sesudah operasi sesarea. Karena itu disimpulkan bahwa hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa “Konseling berpengaruh terhadap tingkat kecemasan pada pasien sebelum dan sesudah seksio sesarea” dapat diterima.
2. Tingkat pendidikan berpengaruh signifikan terhadap tingkat kecemasan pada pasien, jumlah kehamilan tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat kecemasan, usia tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat kecemasan, dan faktor penyulit tidak berpengaruh signifikan terhadap tingkat kecemasan pada pasien yang diberi konseling. Dengan demikian hipotesis yang menyatakan bahwa “Konseling berpengaruh terhadap tingkat kecemasan pada konstribusi faktor : tingkat pendidikan, jumlah persalinan, usia, dan faktor penyulit seksio sesarea” tidak diterima kebenarannya.
3. Berdasarkan analisis ditemukan bahwa tingkat kecemasan pasien operasi sesaria sebelum operasi lebih tinggi dibandingkan tingkat kecemasan pasien operasi sesaria setelah operasi. Demikian pula bahwa tingkat kecemasan pasien operasi sesaria yang tidak diberi konseling lebih tinggi
dibandingkan dengan tingkat kecemasan pasien operasi sesaria yang diberi konseling. Yakni cemas karena menghadapi operasi sesarea (responden kontro 20.00%; responden perlakuan 11.43%)
B. Implikasi
Berdasarkan kesimpulan penelitian, maka dapat diimplikasikan bahwa konseling merupakan pemberian konsultasi kepada pasien untuk memberikan pemahaman terhadap masalah dan pemecahannya dirinya. Pemberian konseling bertujuan agar pasien memiliki kesadaran tentang apa yang akan dihadapinya. Bagi pasien yang menjalankan operasi, pemberian konseling sangat diperlukan. Pasien yang hendak menjalankan operasi tentunya memiliki perasaan was-was terutama terhadap resiko yang mungkin dihadapinya.
Operasi merupakan salah satu tindakan medis yang termasuk tindakan yang beresiko tinggi. Apalagi di mata orang awam, tindakan medis operasi merupakan tindakan akhir dalam rangka usaha memperoleh kesembuhan. Karena merupakan tindakan medis yang dianggap cukup berat, maka kebanyakan orang merasa takut untuk menjalani operasi tersebut.
Bagi orang yang benar-benar sakit dan harus dioperasi mungkin akan lebih menyadari bahwa kesembuhannya hanya dapat diperoleh bila ia menjalani operasi. Berbeda dengan ibu hamil yang hendak melahirkan bayi. Pada umumnya, kelahiran bayi tidak memerlukan tindakan operasi terkecuali bila menghadapi kendala tertentu. Karena itu, ibu yang hendak melahirkan melalui operasi menjadi sangat takut atau cemas jika ia harus menjalaninya, sementara orang lain tidak harus menjalani operasi tersebut. Adanya kondisi yang memaksa
terjadinya operasi, maka ibu yang hendak menjalani operasi atau biasa disebut pasien operasi sesaria mengalami kecemasan. Kecemasan yang muncul dapat terkait dengan dirinya dan juga bayinya. Kecemasan muncul karena pasien merasa takut akan keselamatan jiwanya maupun bayinya. Karena itulah maka pasien operasi sesaria memerlukan motivasi yang tinggi dan pengetahuan yang tepat agar tidak mengalami kecemasan yang sangat.
Pemberian konseling terhadap pasien operasi sesaria merupakan salah satu usaha untuk memberikan bantuan kepada pasien tersebut agar dapat memahami sepenuhnya tentang operasi sesaria berikut resiko yang mungkin terjadi. Pemberian konseling bertujuan agar kecemasan yang timbul pada pasien dapat terkurangi dan bila mungkin dapat dihilangkan dari perasaannya. Kecemasan yang muncul pada pasien juga dapat menambah tingginya resiko operasi.
Karena itu, penanaman pengertian tentang operasi sesarea adalah merupakan operasi yang dilakukan oleh tim yang profesional dan melaksanakannya sesuai prosedur standar operasional dan etika kedokteran, sehingga resiko dapat ditekan seminim mungkin dan proses operasi dapat dilakukan dengan anestesi lokal sehingga akan mengurangi kecemasan. Dan dapat juga di kenalkan dengan memutaran film operasi seksio sesarea dengan anestesi lokal, sehingga pasien merasa siap dan tenang untuk melakukan operasi.
C. Saran
Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian, maka pada penelitian ini dapat diajukan beberapa saran sebagai berikut:
Kepada pihak rumah sakit, diharapkan agar selalu memberikan konseling kepada pasien yang akan menjalani operasi khususnya pada pasien yang mempunyai pendidikan rendah atau kurang sembilan tahun. Perlu disadari bahwa setiap orang yang hendak melakukan operasi pasti akan mengalami kecemasan meskipun sedikit. Kecemasan muncul karena mental psikhisnya tidak kuat menghadapi kenyataan bahwa ia harus menjalani operasi. Karena itu, kepada pihak rumah sakit hendaknya dapat menyediakan konsultan khusus bagi pasien yang hendak menjalani operasi. Selain itu, manajemen rumah sakit juga memberikan beban konsultasi tersebut kepada setiap tenaga medis, baik dokter. bidan maupun tenaga perawat dan tenaga lainnya sesuai bidang profesinya. Di sela-sela menjalankan tugasnya memungkinkan untuk melaksanakan konseling masalah promosi kesehatan khususnya pasien yang akan melakukan operasi.
Tanpa disadari, hal ini akan menambah tingkat kenyakinan, kepuasan mutu pelayanan kesehatan masyarakat terhadap profesionalisme di RSU PKU Muhammadiyah.
2. Kepada tenaga kesehatan
Kepada tenaga kesehatan di rumah sakit, hendaknya dapat menambah pengetahuan, ketrampilan komunikasi interpersonal, bimbingan dan penguasaan pengetahuan klinik yang bertujuan untuk setiap tenaga kesehatan mampu dan bersedia untuk memberikan konseling pada setiap pasien yang berobat ke rumah sakit.
Untuk pasien yang akan melakukan seksio sesarea, diinformasikan secara sistematis tentang maksud tujuan dilakukannya operasi, resiko-resikonya bila dilakukan atau tidak operasi, serta yakinkan bahwa kasus seksio sudah memasyarakat dan menjadi minat utama untuk persalinan sekalipun tanpa indikasi medis (permintaan sendiri) dan Tim Operator di rumah sakit sudah biasa melakukan secara profesional dan resiko sangat kecil karena mempunyai SOP (standar operasional prosedur) dan etika kesehatan.
3. Kepada pasien dan keluarganya
Kepada pasien diharapkan untuk menyadari dan menerima kenyataan dari hasil pemeriksaan sampai rencana tindakan yang telah melalui prosedur pemeriksaan terhadap indikasi medis yang secara ilmiah harus dilakukan operasi.
Menyakinkan bahwa operasi dilakukan secara profesional dan dilakukan dengan prosedur yang baik atau dengan standar operasional prosedur (SOP) sehingga segala kemungkinan resiko dapat ditekan dan dihindarkan.
Pasien dan keluarganya dapat dilihatkan prosedur yang akan dilakukan sebelum dan sesudah operasi serta memungkinkan diperlihatkan video file atau sejenisnya tentang operasi sesarea.
Pasien dan keluarganya ditanamkan bahwa manusia berhak berusaha dengan segala kemampuannya, namun ketentuan berada di kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa, sehingga pasien dan keluarganya diharapkan agar
selalu berharap dan berserah diri kepada-Nya dan menyadari bahwa hal ini merupakan salah satu cobaan-Nya.
4. Kepada Peneliti yang Akan Datang
Kepada peneliti yang akan datang, penelitian ini dapat dijadikan sebagai inspirasi bagi penelitian sejenis. Selain itu, penelitian dengan topik