• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kesimpulan Hasil Uji Chi-Square

Dalam dokumen BELLA RIDA SAFIRA NIM: (Halaman 66-0)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3.6 Kesimpulan Hasil Uji Chi-Square

Berdsarakan hasil penelitian diketahui bahwa variabel pekerjaan (p=0,002), sikap tenaga kesehatan (p=0,001), dan dukungan keluarga/suami

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(p=0,001) mempunyai hubungan yang bermakna dengan kelengkapan imunisasi.

Sedangkan pengetahuan (p=0,066) dan pendidikan (p=0,822) tidak mempunyai hubungan bermakna dengan kelengkapan imunisasi di wilayah kerja Puskesmas Pining dapat dilihat pada tabel 4.18 di bawah ini.

Tabel 4.12 Hasil Uji Chi-square

No Variabel P value Keterangan

1 Pendidikan 0,822 Tidak Berhubungan

2 Pekerjaan 0,002 Berhubungan

3 Pengetahuan 0,066 Tidak Berhubungan

4

Analisis multivariat dilakukan untuk mengetahui pengaruh variabel independen (pekerjaan, sikap petugas kesehatan dan dukungan keluarga/suami) terhadap variabel dependen (kelengkapan imunisasi) secara bersamaan dengan menggunakan uji regresi logistik ganda. Beberapa langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Melakukan pemilihan variabel yang potensial dimasukkan dalam model.

Variabel yang dipilih sebagai kandidat atau yang dianggap signifikan berdasarkan hasil uji bivariat (uji Chi-square).

2. Pada uji regresi logistik berganda dipilih nilai signifikan (p) kurang dari 0,05 (p<0,05) pada uji bivariat (uji Chi-Square).

3. Selanjutnya dilakukan pengujian secara bersamaan dengan metode Bacward Stepwise untuk mengidentifikasi faktor paling berpengaruh terhadap kelengkapan imunisasi.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Dalam penelitian ini berdasarkan analisis bivariat dengan uji chi-square bahwa variabel independen yang berhubungan dengan kelengkapan imunisasi terdapat tiga variabel yaitu pekerjaan, sikap petugas kesehatan dan dukungan keluarga atau suami dengan nilai p < 0,05, sedangkan dua variabel yaitu pengetahuan dan pendidikan tidak berhubungan karena mempunyai nilai signifikan (p> 0,05). Selanjutnya variabel yang signifikan dimasukkan sebagai kandidat model untuk dilakukan analisis multivariat dengan uji regresi logistik berganda.

Hasil analisis multivariat dengan uji regresi logistik ganda diperoleh hasil bahwa hanya tiga variabel yang berpengaruh signifikan terhadap kelengkapan imunisasi yaitu variabel sikap tenaga kesehatan, dukungan keluarga/ suami, dan pekerjaan responden. Variabel sikap tenaga kesehatan dengan koefisien regresi=

4,008, sig.= 0,001, dan nilai Exp(β)= 55,050. Variabel dukungan keluarga/ suami dengan koefisien regresi= 2,297, sig.=0,016, dan nilai Exp(β)= 9,948. Variabel pekerjaan dengan koefisien regresi= 1,313, sig.=0,153, dan nilai Exp(β)= 3,716.

Nilai konstanta sebesar -3,037. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel 4.19 berikut.

Tabel 4.13 Hasil Analisis Multivariat Uji Regresi Logistik Ganda

Variabel B Sig. Exp(β) OR (95%CI)

Dari hasil uji regresi logistik ganda di atas dari tiga variabel yang paling dominan atau besar pengaruhnya secara signifikan terhadap kelengkapan imunisasi di wilayah kerja Puskesmas Pining adalah sikap tenaga kesehatan dengan nilai OR (odds rate) 55,050 (95%CI: 9,982 – 303,595) artinya responden dengan sikap tenaga kesehatan yang baik berpeluang 55 kali untuk kelengkapan imunisasi bayi dibandingkan dengan responden dengan sikap tenaga kesehatannya yang kurang baik. Variabel kedua yang memengaruhi kelengkapan imunisasi yaitu dukungan keluarga/ suami dengan nilai OR (odds rate) 9,948 (95%CI:

1,537 - 64,411) artinya responden yang mempunyai dukungan keluarga/ suami dengan baik berpeluang 9,9 kali untuk kelengkapan imunisasi dibandingkan dengan responden yang mempunyai dukungan keluarga/ suami kurang baik. Dan Variabel ketiga yang memengaruhi kelengkapan imunisasi yaitu pekerjaan ibu dengan nilai OR (odds rate) 3,716 (95%CI: 0,613 – 22,522) artinya responden yang mempunyai pekerjaan berpeluang 3,7 kali untuk kelengkapan imunisasi dibandingkan dengan responden yang tidak memiliki pekerjaan.

Berdasarkan hasil analisis regresi logistik ganda tersebut dapat ditentukan model persamaan regresi logistik ganda yang dapat menafsirkan faktor sikap tenaga kesehatan, dukungan keluarga atau suami, dan pekerjaan yang memengaruhi variabel dependen (kelengkapan imunisasi bayi) di wilayah kerja Puskesmas Pining adalah sebagai berikut:

( )

( ( ) ( ) ( )

f(z) = Probabilitas kelengkapan imunisasi α = Konstanta

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

ß1- ß4 = Koefisien regresi X1 = Sikap tenaga kesehatan X2 = Dukungan Keluarga/ Suami X3 = Pekerjaan

E = Error (tingkat kesalahan)

Nilai Percentage Correct diperoleh sebesar 88,2% yang artinya variabel sikap tenaga kesehatan, dukungan keluarga atau suami, dan pekerjaan bisa menjelaskan pengaruhnya terhadap kelengkapan imunisasi di wilayah kerja Puskesmas Pining sebesar 88,2%, sedangkan sisanya sebesar 11,8% dipengaruhi oleh faktor lain.

V. PEMBAHASAN

5.1 Kelengkapan Imunisasi

Pengertian kelengkapan imunisasi dasar adalah dalam arti kamus besar Indonesia merupakan segala yang sudah dilengkapkan, sedangkan imunisasi dasar adalah usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak dengan memasukkan vaksin BDG, Hepatitis, Polio, DPT, dan campak ke dalam tubuh agar tubuh membuat zat anti untuk mencegah terhadap penyakit tertentu (Hidayat, 2005).

Imunisasi dasar lengkap adalah pemberian imunisasi BCG 1X, Hepatitis B 3X, DPT 3X, Polio 4X, Campak 1X, sebelum bayi berusia 1 tahun (Ranuh, 2008).

Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui bahwa lebih banyak responden yang tidak melakukan imunisasi dasar secara tidak lengkap kepada bayi mereka.

Hal ini di tunjukkan dengan adanya reponden yang tidak melakukan imunisasi Polio yang seharusnya di lakukan 4 kali tetapi nyata nya dilapangan tidak

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

seluruhnya kembali untuk mengimunisasikan anak mereka. Dari 68 responden hanya ada sebanyak 31 ibu yang melakukan imunisasi Polio 1, dan jumlah nya meningkat yaitu ada sebanyak 44 ibu yang melakukan imunisasi polio 2 kepada bayi mereka. Yang seharunya dilakukan secara berurutan, tetapi para ibu ada juga yang melangkahi imunisasi yang pertama.

Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan terjadinya ketidak lengkapan atau lengkapnya imunisasi dasar pada bayi, yaitu disebabkan faktor pendidikan, pekerjaan, pengetahuan ibu, sikap tenaga kesehatan, dan dukungan dari keluarga/

suami. Hal ini sejalan dengan pendapat dari Notoadmodjo (2007) yang menyatakan bahwa ada pengaruh tingkat pendidikan terhadap penggunaan fasilitas pelayanan kesehatan. Bahwa penggunaan posyandu dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dapat membuat orang menjadi berpandangan lebih luas berfikir dan bertindak secara rasional sehingga latar belakang pendidikan seseorang dapat mempengaruhi penggunaan pelayanan kesehatan.

Hal ini juga sejalan dengan Teori kebutuhan (teori Maslow) mengemukakan nilanya 5 tingkat kebutuhan pokok manusia. Kelima tingkat ilmiah yang kemudian dijadikan pengertian guna dalam mempelajari motivasi manusia.

Kelima tingkatan tersebut adalah kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman dan perlindungan, kebutuhan sosial, kebutuhan penghargaan, kebutuhan aktivitas diri.

Ibu yang mempunyai pekerjaan itu demi mencukupi kebutuhan keluarga (kebutuhan pertama) akan mempengaruhi kegiatan imunisasi yang termasuk kebutuhan rasa aman dan perlindungan sehingga ibu lebih mengutamakan pekerjaan dari pada mengantarkan bayinya untuk di imunisas (Suparyanto, 2011).

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Hal ini juga sejalan dengan Teori lingkungan kebudayaan dimana orang belajar banyak dari lingkungan kebudayaan sekitarnya. Pengaruh keluarga terhadap pembentukan sikap sangat besar karena keluarga merupakan orang yang paling dekat dengan anggota keluarga yang lain. Jika sikap keluarga terhadap imunisasi kurang begitu respon dan bersikap tidak menghiraukan atau bahkan pelaksanaan kegiatan imunisasi. Maka pelaksanaan imunisasi tidak akan dilakukan oleh ibu bayi karena tidak ada dukungan oleh keluarga (Suparyanto, 2011).

Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ketidak lengkapan imunisasi dasar ada yang memiliki hasil yang sama dengan penelitian maupun teori yang telah di ungkapkan di atas. Namun pada kenyataan nya pada penelitian ini ditemukan bahwa total dari responden dengan tingkat pendidikan yang tinggi (11,8%) justru memiliki tingkat kelengkapan imunisasi yang rendah (2,9%). Hal-hal yang mempengaruhi pemberian imunisasi yang lengkap yaitu ibu mempunyai pengetahuan yang baik tentang imunisasi, ibu mempunyai tingkat kesadaran yang tinggi akan pencegahan penyakit untuk anaknya serta ibu merasa pemberian imunisasi sangat penting untuk anaknya. Selain itu masih terdapat pula bayi yang mempunyai status imunisasi tidak lengkap yaitu biasanya ketidaklengkapan imunisasi pada pemberian imunisasi DPT-HB-1, Polio 2 , DPTHB-3, Polio 4 serta campak dikarenakan beberapa faktor antara lain ibu mempunyai pengetahuan yang kurang tentang jadwal pemberian imunisasi sehingga waktu pemberian imunisasi terlambat. Responden yang tidak lengkap melakukan imunisasi bayi

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

bayi kebanyakan dikarenakan lupa jadwal imunisasi atau anak sedang sakit pada saat harus imunisasi.

5.2 Pengaruh Pendidikan Terhadap Kelengkapan Imunisasi

Berdasarkan hasil penelitian ini bahwa pendidikan tidak memilki pengaruh yang signifikan terhadap kelengkapan imunisasi yaitu dengan nilai p=0,822> 0,05.

Dalam penelitian ini juga diketahui bahwa sebanyak 24 responden (35,3%) yang memiliki pendidikan tinggi justru lebih banyak yang tidak lengkap melakukan imunisasi dasar dibandingkan dengan yang melakukan imunisasi dasar secara lengkap. Dan untuk responden yang memiliki pendidikan rendah memang lebih banyak yang tidak melengkapi imunisasi bayi mereka. Pendidikan ibu merupakan salah satu hal yang penting dalam imunisasi, karena dengan tingkat pendidikan yang tinggi seharusnya para ibu lebih mampu memahami pesan-pesan pentingnya diberikan imunisasi lengkap kepada bayi mereka. Berdasarkan hasil data dilapangan, para ibu yang memiliki pendidikan yang tinggi di daerah ini sangat minim dibandingkan dengan para ibu yang memiliki pendidikan yang rendah.

Namun dari total keseluruhan responden yang tidak melakukan imunisasi dasar tidak lengkap lebih banyak yang terjadi pada kelompok ibu yang memiliki pendidikan rendah. Karena melalui pendidikan, seseorang akan mampu berfikir obyektif untuk perubahan perilaku yang lebih baik. Dengan demikian semakin tinggi tingkat pendidikan keluarga diharapkan kemampuan dalam melaksanakan peran dan fungsi keluarga akan lebih baik khususnya dalam melaksanakan kegiatan imunisasi.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Pendidikan adalah proses seseorang mengembangkan kemampuan, sikap, dan bentuk-bentuk tingkah laku manusia di dalam masyarakat tempat ia hidup, proses sosial, yakni orang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol (khususnya yang datang dari sekolah), sehingga dia dapat memperoleh atau mengalami perkembangan kemampuan sosial, dan kemampuan individu yang optimal (Munib, dkk, 2006).

Pada umumnya semakin tinggi pendidikan seseorang maka akan semakin baik pula tingkat pengetahuannya. Ibu dengan pendidikan yang relatif tinggi cenderung memiliki kemampuan untuk menggunakan sumber daya keluarga yang lebih baik dibandingkan dengan ibu yang berpendidikan rendah, karena pengetahuan makanan yang bergizi sering kurang dipahami oleh ibu yang tingkat pendidikannya rendah, sehingga memberi dampak dalam mengakses pengetahuan khususnya dibidang kesehatan untuk penerapan dalam kehidupan keluarga terutama pada pengasuh anak balita (Notoadmodjo, 2007).

Hal ini berbanding terbalik dengan penelitian oleh Rahmawati (2014) yang menyatakan bahwa Ibu yang memiliki bayi atau balita dengan status imunisasi lengkap terbanyak pada ibudengan tingkat pendidikan ≥9 tahun (pendidikan menengah keatas) sebesar 84,1%.Sedangkan ibu yang memiliki bayi atau balita dengan status imunisasi tidak lengkap sebagian besar ada pada tingkat pendidikan

<9 tahun (pendidikan dasar) sebesar 72,7%.

Hal ini berbanding terbalik dengan penelitian oleh Istriyati (2011) yang menyatakan bahwa adanya hubungan antara tingkat pendidikan ibu dengan kelengkapan imunisasi dasar pada bayi di Desa Kumpulrejo Kecamatan

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Argomulyo Kota Salatiga. Hal ini didasarkan pada hasil analisis dengan uji chi square diperoleh p value = 0,008 (p value < 0,05). Perhitungan risk estimate, diperoleh nilai odd ratio (OR) = 4,297, sehingga dapat disimpulkan ibu dengan tingkat pendidikan lanjut cenderung memberikan imunisasi dasar lengkap kepada anaknya, sedangkan ibu dengan tingkat pendidikan dasar memiliki risiko 4,279 kali tidak memberikan imunisasi dasar lengkap kepada anaknya.

5.3 Pengaruh Pekerjaan Terhadap Kelengkapan Imunisasi

Pekerjaan menurut kamus besar Bahasa Indonesia adalah mata pencaharian, apa yang dijadikan pokok kehidupan, sesuatu yang dilakukan untuk mendapatkan nafkah (Anoraga, 2005).

Ibu yang bekerja mempunyai waktu kerja sama seperti dengan pekerja lainnya. Adapun waktu kerja bagi pekerja yang dikerjakan yaitu waktu siang 7 jam satu hari dan 40jam satu minggu untuk 6 hari kerja dalam satu minggu, atau dengan 8 jam satu hari dan 40 jam satu minggu untuk 5 hari kerja dalam satu minggu.Sedangkan waktu malam hari yaitu 6 jam satu hari dan 35 jam satu minggu untuk 6 hari kerja dalam 1 minggu (Anoraga, 2005).

Berdasarkan hasil penelitian pekerjaan memilki pengaruh yang signifikan terhadap kelengkapan imunisasi yaitu dengan nilai p = 0,004 <0,05. Dan saat dilakukan analisis multivariat, pekerjaan memiliki berpengaruh terhadap kelengkapan imunisasi yaitu dengan nilai p = 0,153 < 0,25.

Dalam penelitian ini juga diketahui bahwa sebanyak 38 responden lebih banyak bekerja sebagai ibu rumah tangga. Dari hasil pengamatan di lapangan untuk ibu yang memiliki aktivitas di dalam rumah lebih banyak frekuensinya

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

terhadap pemberian imunisasi. Pemberian imunisasi pada anak sangat berhubungan dengan ibu yang tidak bekerja karena beliau lebih banyak mempunyai waktu di rumah sehingga pemberian imunisasi dapat tepat waktu kualitas informasi yang baik. Karena para ibu di daerah ini di setiap waktu lenggang nya, sering berkumpul sama untuk bercerita satu dengan yang lainnya.

Hal ini berbanding terbalik dengan penelitian oleh Rahmawati (2014) yang menyatakan bahwa Ibu yang memiliki bayi atau balita dengan status imunisasi tidak lengkap maupun lengkap terbanyak pada ibu yang status pekerjaannya tidak bekerja atau sebagai ibu rumah tangga. Hasil uji statistik diperoleh nilai p 0,354 (p

> α) yang berarti tidak ada pengaruh antara tingkat pendapatan terhadap kelengkapan imunisasi pada bayi.

Hal ini berbanding terbalik dengan penelitian yang dilakukan Triana (2015) yang menyatakan bahwa analisis statistik pada variabel pekerjaan diperoleh nilai p-value sebesar 0,66 (p-value > 0,05) ini juga menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara pekerjaan orang tua dengan pemberian imunisasi dasar lengkap pada bayi di Kecamatan Kuranji Kota Padang tahun 2015.

Hal ini sejalan dengan penelitian yang oleh Nugroho (2012) yang menyatakan bahwa berdasarkan hasil analisis dengan uji Chi square menunjukkan nilai (p=0,04<0,05), maka terdapat pengaruh yang bermakna antara pekerjaan ibu dengan kelengkapan status imunisasi dasar bayi. Dengan nilai OR=2,66;(95%CI=1,09-6,46) sehingga dapat diartikan bahwa ibu yang bekerja

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

memiliki risiko status imunisasi bayinya tidak lengkap sebesar 2,68 kali lebih tinggi dibandingkan dengan ibu yang tidak bekerja.

5. 4 Pengaruh Pengetahuan Terhadap Kelengkapan Imunisasi

Pada analisis univariat di ketahui bahwa responden (66,2%) mengetahui jenis dari imunisasi dasar lengkap itu seperti apa saja. Dan dari pertanyaan mengenai untuk apa diberikan imunisasi-imunisasi tersebut rata-rata responden mengetahuinya, misalnya tujuan diberikannya imunisasi DPT ada sebanyak 55 responden (80,9%) dan tujuan diberikannya imunisasi BCG ada sebanyak 42 responden (61,8%). Tempat untuk dilaksanakannya imunisasi, juga banyak responden yang tahu kemana yang harus dituju (64,7%).

Penelitian oleh Afriani (2013) mengatakan bahwa hampir 100% ibu mengetahui (pernah mendengar) tentang program imunisasi dan tujuan imunisasi (agar anak sehat atau tidak sakit). Hal ini menunjukkan bahwa informasi mengenai program imunisasi dasar dan tujuannya telah disebarluaskan dengan berbagai cara, sampai kepada masyarakat. Pada bagian kuesioner mengenai pengetahuan manfaat dari masing-masing vaksin hampir semuanya salah, pertanyaan yang dijawab benar paling banyak ialah mengenai manfaat imunisasi polio (37,1%). Untuk menilai hubungan antara pengetahuan ibu dan kelengkapan imunisasi dasar pada anak akan lebih baik jika pertanyaan mengacu pada pengertian, tujuan, manfaat, jenis dan jadwal imunisasi, sehingga dapat terlihat apakah ibu mengetahui kapan dan berapa kali anak harus mendapat imunisasi.

Hasil penelitian pengetahuan terhadap kelengkapan imunisasi dari 68 responden diperoleh 67,6% yang memiliki pengetahuan baik lebih banyak yang

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

melakukan imunisasi dasar dibandingkan tidak lengkap namun masih ada juga di jumpai responden yang memiliki pengetahuan baik tetapi tidak lengkap memberikan anak mereka imunisasi.

Sedangkan yang memilki pengetahuan tidak baik paling sedikit melakukan imunisasi dasar lengkap kepada bayi mererka. Hasil analisis statistik dengan menggunakan uji Chi Square diperoleh nilai p =0,066 (p value > 0,05) yang artinya tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan kelengkapan imunisasi.

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan itu terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu obyek tertentu. Pengindraan terjadi melalui pancaindra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Nugraheni, 2009). Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (over behavior). Sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni : awareness (kesadaran), interest (tertarik), evaluation (menimbang-nimbang baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya). Trial (orang telah mulai mencoba prilaku baru), adoption (subyek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus) (Notoatmodjo, 2007).

Penelitian ini berbanding terbalik dengan hasil penelitian Mahmudah (2007), yang menyimpulkan bahwa ada hubungan antara tingkat pengetahuan ibu tentang imunisasi polio dengan tingkat kecemasan pasca imunisasi polio.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Pengetahuan yang diperoleh ibu bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain pendidikan, informasi, pengalaman dan pemahaman tentang sesuatu yang dipelajari. Pendidikan sangat mempengaruhi suatu tingkat pengetahuan ibu tentang imunisasi. Tingkat pendidikan di Desa Japanan berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan diperoleh SD yaitu 27 orang (32,1%), SMP yaitu 31 orang (36,9%), SMA yaitu 22 orang (26,2%) dan Perguruan Tinggi yaitu 4 orang (4,8%). Selain dari pendidikan formal pengetahuan ibu juga dapat diperoleh dari pendidikan non formal, misalnya melalui informasi yang diperoleh lewat iklan atau penyuluhan. Informasi juga dapat mempengaruhi pengetahuan ibu tentang imunisasi. Pada jaman modern ini informasi dapat diperoleh dari berbagai media, misalnya media cetak maupun elektronik. Misalnya iklan di televisi yang menayangkan PIN (Pekan Imunisasi Nasional), secara tidak langsung iklan tersebut mengingatkan tentang pentingnya imunisasi (Nugroho, 2012).

Penelitian ini juga berbanding terbalik dengan hasil penelitian oleh Sari (2016) yang mengemukakan bahwa hasil penelitiannya menunjukkan bahwa sebanyak 49,2% bayi mempunyai status imunisasi yang lengkap dengan pengetahuan ibu yang baik sedangkan sebanyak 30,8% bayi mempunyai status imunisasi tidak lengkap dengan pengetahuan ibu yang kurang baik, hal ini menunjukkan sebagian besar ibu yang mempunyai pengetahuan yang baik akan memberikan imunisasi dasar yang lengkap kepada bayinya. Hasil uji statistik dengan menggunakan analisis Chi-square diketahui bahwa nilaip < 0,001, hal ini mempunyai arti bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar dengan kelengkapan imunisasi dasar bayi di wilayah kerja

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Puskesmas Bendo Kabupaten Magetan, artinya semakin baik tingkat pengetahuan ibu tentang imunisasi dasar maka ibu akan memberikan imunisasi secara lengkap kepada bayinya.

Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa responden yang memiliki pengetahuan belum tentu menyadari sepenuhnya mengenai pentingnya pemberian imunisasi lengkap kepada bayi mereka. Para responden di Wilayah Kerja Puskesmas Pining ini lebih sering berkumpul bersama para ibu lain untuk saling berbincang dan mencari informasi. Kualitas informasi sangat menentukan tingkat pengetahuan yang diperoleh. Kualitas informasi yang baik akan dapat diterima oleh pendengarnya sehingga tingkat pengetahuan pendengar akan bertambah serta dapat di aplikasikan secara baik dan benar. Hubungan mereka dengan para tetangganya pun layaknya seperti keluarga. Menurut ibu-ibu di lokasi penelitian pengetahuan diperoleh dari pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain. Seseorang ibu di daerah ini akan mengimunisasikan anaknya setelah melihat anak tetangganya kena penyakit polio sehingga cacat karena anak tersebut belum pernah memperoleh imunisasi polio. Dalam hal tindakan, para responden tidak banyak yang melakukannya namun mereka pada umumnya mengetahui pengertian, jenis imunisasi dan perlunya imunisasi itu sendiri. Di lokasi penelitian ini juga para responden mengungkapkan bahwa para tenaga kesehatan juga sering memberi sosialisasi dan penyuluhan mengenai perlunya posyandu makanya para ibu banyak mengetahui mengenai imunisasi dasar tersebut. Adapula responden yang mengatakan bahwa mereka terkadang terkendala oleh kegiatan rumah dan transportasi untuk pergi ke posyandu.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Pengetahuan diperoleh melalui kenyataan dengan melihat dan mendengar sendiri, serta melalui alat-alat komunikasi, juga diperoleh sebagai akibat pengaruh dari hubungan dengan orangtua, kakak-adik, tetangga, kawan-kawan sekolah dan lain-lain (Soekanto, 2007). Pengetahuan merupakan hasil dari tahu setelah adanya penginderaan terhadap suatu objek dan sangat penting dalam pembentukan tindakan seseorang. mengungkapkan apabila penerimaan perilaku baru atau adopsi perilaku melalui proses seperti ini yang didasari oleh pengetahuan, kesadaran dan sikap yang positif (long lasting).

5.5 Pengaruh Dukungan Keluarga atau Suami Terhadap Kelengkapan Imunisasi

Lingkungan disekitar responden sangat mempengaruhi pengmbilan keputusan untuk melakukan imunisasi kepada bayi seperti dukungan dari keluarga ataupun suami dalam memberikan informasi yang diperolehnya mengenai imunisasi. Istri membutuhkan informasi penting yang berkaitan dengan imunisasi misalnya tentang jadwal imunisasi, informasi, izin dari suami suami harus secara aktif memberikan informasi dan membaginya kepada istrinya.

Berdasarkan hasil penelitian ini bahwa dukungan keluarga atau suami pada istri berpengaruh signifikan terhadap kelengkapan imunisasi dengan nilai p=0,016 < 0,05 dan OR= 2,297 artinya dukungan keluarga atau suami yang baik berpeluang membuat responden melakukan imunisasi dasar secara lengkap kepada bayi sesuai standar sebesar 2,3 kali lebih tinggi dibanding dukungan keluarga atau suami yang tidak baik.

Dalam penelitian ini juga diketahui bahwa sebanyak 41 responden mengatakan bahwa suami atau orang tua tidak memberi izin dan mendukung ibu

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

dalam mengimunisasikan bayi mereka. Sebanyak 46 responden mengatakan bahwa keluarga tidak menganjurkan ibu membawa bayi kepelayanan kesehatan agar diberikan imunisasi dasar lengkap. Sebanyak 47 responden mengatakan bahwa keluarga jarang atau bahkan tidak pernah mendengarkan keluh kesah ibu saat mendapatkan kesulitan dalam memberikan imunisasi lengkap pada bayi.

Sebanyak 43 responden keluarga kurang peduli terhadap kebutuhan ibu dalam upaya pemberian imunisasi lengkap pada bayi. Sebanyak 46 responden keluarga turut mengantar ibu untuk sampai ke tempat pelayanan. Sebanyak 45 responden keluarga tidak memberikan pujian kepada ibu karena menyaranan bayi untuk di imunisasikan lengkap. Lingkungan keluarga adalah tempat paling lama nya ibu untuk berinteraksi dengan yang lain nya,sehingga untuk bertukar pikiran dan saling berbagi informasi, ibu lebih banyak berdiskusi dengan keluarga dan suami.

Dukungan suami merupakan dukungan yang diberikan suami dalam pengambilan keputusan untuk menggunakan pelayanan kesehatan. Suami adalah orang pertama dan utama dalam memberi dorongan dan dukungan kepada istri sebelum pihak lain turut memberikannya. Sebagian besar dari hasil wawancara kepada ibu-ibu yang mempunyai anak usia 12-24 bulan yang berada di Desa Long

Dukungan suami merupakan dukungan yang diberikan suami dalam pengambilan keputusan untuk menggunakan pelayanan kesehatan. Suami adalah orang pertama dan utama dalam memberi dorongan dan dukungan kepada istri sebelum pihak lain turut memberikannya. Sebagian besar dari hasil wawancara kepada ibu-ibu yang mempunyai anak usia 12-24 bulan yang berada di Desa Long

Dalam dokumen BELLA RIDA SAFIRA NIM: (Halaman 66-0)

Dokumen terkait