• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manfaat Penelitian

Dalam dokumen BELLA RIDA SAFIRA NIM: (Halaman 23-0)

BAB I PENDAHULUAN

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian yang dilakukan adalah : a. Bagi pihak Dinas Kesehatan Gayo Lues

Sebagai bahan masukan dan informasi mengenai cakupan imunisasi dasar lengkap pada bayi dalam rangka untuk meningkatkan upaya cakupan imunisasi dasar lengkap pada bayi.

b. Sebagai bahan masukan bagi Puskesmas Pining di Kecamatan Pining Kabupaten Gayo Lues

Melaksanakan program Imunisasi dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan untuk cakupan imunisasi dasar lengkap pada bayi.

c. Bagi masyarakat umum

Penelitian ini dapat memberikan pengetahuan dan ilmu tentang Imunisasi dasar lengkap pada bayi.

d. Sebagai bahan referensi untuk penelitian selanjutnya.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Imunisasi

Imunisasi berasal dari kata imun, kebal, atau resisten. Anak diimunisasi berarti diberikan kekebalan terhadap suatu penyakit tertentu. Anak kebal atau resisten terhadap suatu penyakit, tetapi belum tentu kebal terhadap penyakit yang lain (Notoatmodjo, 2007).

Imunisasi bertujuan untuk memberikan kekebalan terhadap tubuh anak.

Caranya dengan pemberian vaksin. Vaksin ini berasal dari bibit penyakit tertentu yang dapat menimbulkan penyakit, tetapi penyakit ini terlebih dahulu dilemahkan atau dimatikan sehingga tidak berbahaya lagi terhadap kelangsungan hidup manusia (Riyadi.s & Sukarmin, 2009).

Imunisasi suatu upaya yang dilakukan untuk mencegah terjadinya suatu penyakit dengan cara memberikan mikroorganisme bibit penyakit berbahaya yang telah dilemahkan dalam bentuk vaksin kedalam tubuh sehingga merangsang sistem kekebalan tubuh terhadap jenis antigen. Imunisasi dasar lengkap memberikan upaya imunisasi pada bayi berusia 0-12 bulan agar terhindar dari berbagai penyakit, imunisasi ini meliputi Polio, HB, DPT, BCG, dan Campak (Depkes RI, 2016).

Imunisasi yang wajib diberikan pada balita dibawah 12 bulan adalah BCG, Hepatitis B, polio, DPT dan campak. Berfungsi untuk menangkis penyakit-penyakit yang menimbulkan kematian serta kecacatan. Seperti TBC, Hepatitis dan Polio. Sedangkan reaksi masing-masing imunisasi juga berbeda-beda pada

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

setiap anak, tergantung pada penyimpanan vaksin dan sensutivitas tubuh tiap anak.

Imunisasi dasar adalah imunisasi pertama yang perlu diberikan pada semua orang, terutama bayi dan anak sejak lahir untuk melindungi tubuhnya dari peyakitpenyakit yang berbahaya. Lima jenis imunisasi dasar yang diwajibkan pemerintah adalah imunisasi terhadap tujuh penyakit, yaitu TBC, difteri, tetanus, pertusis (batuk rejan), poliomyelitis, campak dan hepatitis B. Kelima jenis imunisasi dasar yang wajib diperoleh bayi sebelum usia setahun tersebut adalah:

imunisasi BCG, yang dlakukan sekali pada bayi usia 0-11 bulan. Imunisasi DPT, yang diberikan 3 (tiga) kali pada bayi usia 2-11 bulan dengan interval minimal 4 minggu. Imunisasi polio, diberikan 4(empat) kali pada bayi 0-11 bulan dengan interval minimal 4 minggu. Imunisasi campak, yang diberikan 1 (satu) kali pada bayi usia 9-11 bulan. Imunisasi hepatitis B, yang diberikan 3 (tiga) kali pada bayi usia 1-11 bulan, dengan interval minimal 4 minggu (Maryunani, 2010).

2.1.1 Tujuan Imunisasi

Tujuan imunisasi adalah Program imunisasi bertujuan untuk memberikan kekebelan kepada bayi agar dapat mencegah penyakit dan kematian bayi serta anak yang disebabkan oleh penyakit yang sering berjangkit. Secara umum tujuan imunisasi, antara lain : 1. Melalui imunisasi, tubuh tidak mudah terserang penyakit menular, 2. Imunisasi sangat efektif mencegah penyakit menular, 3.

Imunisasi menurunkan angka mordibitas (angka kesakitan) dan mortalitas (angka kematian) pada balita. Sedangkan manfaat imunisasi adalah 1. Untuk anak:

mecegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit, dan kemungkinan cacat atau

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

kematian, 2. Untuk keluarga: menghilangkan kecemasan dan psikologi pengobatan bila anak sakit. Mendorong pembentukan keluarga apabila orang tua yakin bahwaa anaknya akan menjalani masa kanak-kanak yang nyaman , 3.

Untuk negara: memperbaiki tingkat kesehatan, menciptakan bangsa yang kuat dan berakal untuk melanjutkan pembangunan negara (Proverawati, 2014).

2.1.2 Manfaat Imunisasi

Manfaat imunisasi bagi anak yaitu mencegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit, dan kemungkinan cacat atau kematian. Bagi keluarga yaitu menghilangkan kecemasan dan psikologi pengobatan bila anak sakit. Mendorong pembentukan keluarga apabila orang tua yakin bahwa anaknya akan menjalani masa kanak-kanak yang nyaman. Bagi negara yaitu memperbaiki tingkat kesehtan, menciptakan bangsa yang kuat dan berakal untuk melanjutkan pembangunan negara (Marimbi, 2016).

2.2 Sasaran Imunisasi 1. Imunisasi Rutin

Diberikan pada bayi di bawah umur 1 tahun, wanita usia subur yaitu wanita usia 15 hingga 39 tahun termasuk ibu hamil dan calon pengantin.

Vaksin yang diberikan pada imunisasi rutin pada bayi meliputi hepatitis B, BCG,polio, DPT, dan campak. Pada usia anak sekolah meliputi DT campak, dan tetanus toksoid, sedangkan pada wanita usia subur diberikan tetanus toksoid.

2. Imunisasi Tambahan

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Imunisasi tambahan akan diberikan bila diperlukan. Imunisasi tambahan diberikan kepada bayi dan anak usia sekolah dasar. Imunisasi tambahan sering dilakukan misalnya ketika terjadi suatu wabah penyakit tertentu dalam wilayah dan waktu tertentu, misalnya pemberian polio pada Pekan Imunisasi Nasional (PIN) dan pemberian imunisasi campak pada anak sekolah. Pekan Imunisasi Nasional, dilaksanakan serentak secara nasional untuk mempercepat pemutusan mata rantai penularan virus polio importasi dengan cara memberikan vaksin polio kepada setiap balita (usia 0-5 tahun) termasuk bayi baru lahir tanpa mempertimbangkan status imunisasi sebelumnya. Pemberian imunisasi dilakukan dua kali masing-masing dua tetes selang waktu dua bulan. Pemberian imunisasi polio pada waktu PIN disamping untuk memutus mata rantai penularan, juga berguna sebagai booster atau imunisasi ulangan polio (Achmadi, 2006).

2.3 Jenis-jenis Imunisasi

Imunisasi merupakan suatu tindakan dasar untuk memberikan perlindungan atau kekebalan di dalam tubuh bayi, serta untuk mencegah terpaparnya anak dari berbagai penyakit yang berpotensi menggangu tumbuh kembang anak bahkan dari penyakit yang bisa menyebabkan kematian. Berikut adalah jadwal imunisasi nasional berdasarkan ketetapan menteri kesehatan RI nomor 1059/Menkes/SK/IX/2004:

1. Hepatitis B-0 diberikan satu kali (diberikan 0-7 hari setelah kelahiran) 2. BCG diberikan satu kali (pada usia 1 bulan)

3. DPT/HB diberikan tiga kali (pada usia 2,3,4 bulan)

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

4. Polio diberikan 4 kali (pada usia 1,2,3,4 bulan) 5. Campak diberikan 1 kali (pada usia 9 bulan)

Tabel 2.1 Jadwal Imunisasi Dasar Nasional Berdasarkan Golongan Umur

Umur Jenis Imunisasi

Sumber: Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1059/Menkes/SK/IX/2004 Cara Pemberian Imunisasi

Tabel 2.2 Cara pemberian imunisasi dasar Vaksin Dosis Cara pemberian

Campak 0,5 ml Subkutan, biasanya dilengan kiri atas Hepatitis B 0,5 ml Intramuscular pada anterolateral paha

Bayi dikatakan telah mendapatkan imunisasi lengkap jika bayi telah mendapatkan imunisasi yang meliputi imunisasi BCG (Bacillus ClamatereGuerin) Imunisasi DPT (difteri, pertusis, tetanus), imunisasi polio, imunisasi campak dan imunisasi hepatitis B.

Tempat Mendapatkan Pelayanan Imunisasi 1) Puskesmas

a) KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) b) UKS (Usaha Kesehatan Masyarakat) c) Posyandu

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

d) Balai pengobatan 2) Non Puskesmas, meliputi :

a) Rumah sakit

b) Rumah sakit bersalin c) Rumah bersalin d) Dokter praktek anak e) Dokter umum praktek f) Dokter spesialis kebidanan g) Bidan praktek

h) Balai kesehatan masyarakat 2.4 Kelengkapan Imunisasi

2.4.1 Imunisasi Hepatitis B

Imunisasi hepatitis B gunanya untuk pemberian kekebalan aktif terhadap infeksi yang disebabkan oleh virus hepatitis B. Vaksin hepatitis B adalah vaksin virus rekombinan yang telah diinaktivasikan dan bersifat non-infectious, berasal dari HbsAg yang dihasilkan dalam sel ragi (Hansenula Polymorpha) menggunakan teknologi DNA rekombinan (Ditjen PP & PL Depkes RI, 2005).

1. Cara Pemberian dan Dosis

Sebelum digunakan vaksin harus dikocok terlebih dahulu agar suspensi menjadi homogen. Vaksin disuntikkan dengan dosis 0,5 ml atau 1 buah HB PID, pemberian suntikan secara intra muskuler sebaiknya pada anterolateral paha.

Pemberian sebanyak 3 dosis, dosis pertama

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2. Kontraindikasi

Hipersensitif terhadap komponen vaksin sama halnya seperti vakisn-vaksin lain, vakisn-vaksin ini tidak boleh diberikan kepada penderita infeksi berat yang disertai kejang (Ditjen PP & PL Depkes RI, 2005).

3. Efek Samping

Reaksi lokal seperti rasa sakit, kemerahan, dan pembengkakan di sekitar tempat penyuntikan. Reaksi yang terjadi bersifat ringan dan biasanya hilang setelah 2 hari (Ditjen PP & PL Depkes RI, 2005).

2.4.2 Imunisasi BCG (Bacillus Calmette-Guerin)

Bacillus Calmette-Guerin adalah vaksin hidup yang dibuat dari Mycobacterium bovis yang dibiak berulang selama 1-3 tahun sehingga

didapatkan hasil yang tidak virulen tetapi masih mempunyai imunogenitas (Ranuh, 2008).

Imunisasi BCG adalah imunisasi yang diberikan untuk menimbulkan kekebalan aktif terhadap penyakit TBC. Pemeberian imunisasi BCG dan usia pemberian, frekuensi pemeberian imunisasi BCG adalah 1 kali dan tidak perlu diulang (booster). Cara pemberian imunisasi BCG sesuai anjuran WHO adalah melalui internal dengan lokasi penyuntikan pada lengan kanan atas atau penyuntikan pada paha. Tanda keberhasilan, adalah timbulnya indurasi (benjolan) kecil dan eritema (merah) di daerah bekas suntikan, setelah 1 atau 2 minggu kemudan yang berubah menjadi pustula, kemudian pecah menjadi ulkus (luka).

Tidak menimbulkan nyeri dan panas. Luka ini akan sembuh sendiri dan meninggalkan tanda parut.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

1. Cara Pemberian dan Dosis

Pemberian imunisasi BCG sebaiknya diberikan kepada bayi umur < 2 bulan. Pada bayi yang kontak erat dengan pasien TB dengan bakteri tahan asam (BTA) +3 sebaiknya diberikan INH profilaksi dulu, apabila pasien kontak sudah tenang bayi dapat diberi BCG (Ranuh, 2008).

Sebelum disuntikan, vaksin BCG harus dilarutkan terlebih dahulu, melarutkan dengan menggunakan alat suntik steril (ADS 5 ml). Dosis pemberian

0,05 ml sebanyak 1 kali. Disuntikan secara intrakutan di daerah lengan kanan atas (insertion musculas deltoideus), dengan menggunakan ADS 0,05 ml.

Vaksin yang sudah dilarutkan harus digunakan sebelum lewat 3 jam (Ditjen PP & PL Depkes RI, 2005).

2. Kontraindikasi

Imunisasi BCG tidak boleh digunakan pada orang yang reaksi uji tuberkulin >5 mm, menderita infeksi HIV atau dengan risiko tinggi infeksi HIV, imunokompromais akibat pengobatan kortikosteroid, obat imuno-supresif, mendapat pengobatan radiasi, penyakit keganasan yang mengenai sumsum tulang atau sistem limfe, menderita gizi buruk, menderita demam tinggi, menderita infeksi kulit yang halus, pernah sakit tuberkulosis, kehamilan (Ranuh, 2008).

3. Efek Samping

Imunisasi BCG tidak menyebabkan reaksi yang bersifat umum seperti demam 1-2 minggu kemudian akan timbul indurasi dan 16 kemerahan di tempat suntikan yang berubah menjadi pustula, kemudian pecah menjadi luka. Luka tidak perlu pengobatan, akan sembuh secara spontan dan meninggalkan tanda parut.

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Kadang-kadang terjadi pembesaran kelenjar regional di ketiak dan atau leher,

terasa padat, tidak sakit, dan tidak menimbulkan demam. Reaksi ini normal, tidak memerlukan pengobatan, dan akan menghilang dengan sendirinya (Ditjen PP & PL Depkes RI, 2005).

2.4.3 Imunisasi DPT/HB

Imunisasi DPT gunanya untuk pemberian kekebalan secara simultan terhadap difteri, pertusis, dan tetanus (Ditjen PP & PL Depkes RI, 2005).

Imunisasi DPT/HB adalah imunisasi yang diberikan untuk mencegah terjadinya penyakit difteri, pertusi, dan tetanus. Serta penyakit hepatitis. Pemeberian imunisasi dan usia pemeberian, imunisasi DPT/HB diberikan sebanyak 3 kali yaitu pada usia 2 bulan untuk dosis pertama, dosis selanjutnya dengan interval minimal 4 minggu. Sehingga pada bulan ke 3 dan bulan ke 4, cara pemberian:

disuntikkan melalui intramuskuler (IM). Efek samping imunisasi ini biasanya hanya demam dan rewel selama 1-2 hari, kemerahan, pembengkakan, agak nyeri atau pegal-pegal pada daerah penyuntikan yang akan hilang sendiri dalam beberapa hari. Bila demam dapat diberikan pada bayi yang sedang demam, mudah kejang, dan menderita infeksi otak.

1. Cara Pemberian dan Dosis

Sebelum digunakan vaksin harus dikocok terlebih dahulu agar suspensi menjadi homogen. Disuntikkan secara intramuskuler dengan dosis pemberian 0,5 ml sebanyak 3 dosis. Dosis pertama diberikan pada umur 2 bulan, dosis selanjutnya diberikan dengan interval paling cepat 4 minggu (1 bulan). Di unit

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

pelayanan statis, vaksin DPT yang telah dibuka hanya boleh digunakan selama 4 minggu, dengan ketentuan :

a. Vaksin belum kadaluwarsa

b. Vaksin disimpan dalam suhu 20C – 80C c. Tidak pernah terendam air

d. Sterilitasnya terjaga Sedangkan di posyandu, vaksin yang

sudah terbuka tidak boleh digunakan lagi untuk hari berikutnya (Ditjen PP & PL Depkes RI, 2005).

2. Kontraindikasi

Gejala-gejala keabnormalan otak periode bayi baru lahir atau gejala serius keabnormalan pada saraf merupakan kontraindikasi pertusis. Anak yang mengalami gejala-gejala parah pada dosis pertama, komponen pertusis harus dihindarkan pada dosis kedua, dan untuk meneruskan imunisasinya dapat diberikan

DT (Ditjen PP & PL Depkes RI, 2005).

3. Efek Samping

Gejala-gejala yang bersifat sementara seperti lemas, demam, kemerahan pada tempat suntikan. Kadang-kadang terjadi gejala berat seperti demam tinggi,iritabilitas, dan meracau yang biasanya terjadi 24 jam setelah imunisasi (Ditjen PP & PL Depkes RI, 2005).

2.4.4 Imunisasi Polio

Vaksin oral polio hidup adalah vaksin polio trivalent yang terdiri dari suspensi virus poliomyelitis tipe 1, 2, dan 3 (strain sabin) yang sudah dilemahkan,

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

dibuat dalam biakan jaringan ginjal kera dan distabilkan dengan sukrosa.

Imunisasi polio ini memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit poliomyelitis (Ditjen PP & PL Depkes RI, 2005).

Imunisasi polio adalah imunisasi yang diberikan untuk menimbulkan kekebalan terhadap penyakit poliomielitis, yaitu penyakit radang yang menyerang saraf dan dapat mengakibatkan kelumpuhan. Waktu pemberian adalah pada bayi usia 0-11 bulan, namun biasanya pemberian vaksin diberikan pada bulan 1-4 bulan bersama dengan imunisasi BCG d bulan pertama dan imunisasi DPT/HB di bulan selanjutnya (2,3,4). Cara pemberian imunisasi polio melalui oral/mulut 1 dosis adalah sebanyak 2 tetes sebanyak 4 kali (dosis) dengan interval dosis minimal 4 minggu

1. Cara Pemberian dan Dosis

Diberikan secara oral (melalui mulut), 1 dosis adalah 2 tetes sebanyak 4 kali(dosis) pemberian, dengan interval setiap dosis minimal 4 minggu. Setiap membuka vial baru harus menggunakan penetes (dropper) yang baru. Di unit pelayanan statis polio yang telah dibuka, hanya boleh digunakan selama 2 minggu dengan ketentuan :

a. Vaksin belum kadaluwarsa

b. Vaksin disimpan dalam suhu +20C - +80C c. Tidak pernah terendam air

d. Sterilitasnya terjaga Sedangkan di posyandu, vaksin yang sudah terbuka tidak boleh digunakan lagi untuk hari berikutnya

(Ditjen PP & PL Depkes RI, 2005).

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2. Kontraindikasi

Pada individu yang menderita “immune deficiency” tidak ada efek yang berbahaya yang timbul akibat pemberian polio pada anak yang sedang sakit.

Namun jika ada keraguan, misalnya sedang menderita diare, maka dosis ulangan dapat diberikan setelah sembuh (Ditjen PP & PL Depkes RI, 2005).

3. Efek Samping

Pada umumnya tidak terdapat efek samping berupa paralisis yang disebabkan oleh vaksin sangat jarang terjadi (Ditjen PP & PL Depkes RI, 2005).

2.4.5 Imunisasi Campak

Vaksin campak merupakan vaksin virus hidup yang dilemahkan. Setiap dosis (0,5 ml) mengandung tidak kurang dari 1000 infective unit virus strain CAM 70 dan tidak lebih dari 100 mcg residu canamycindan 30 mcg residu erythromycin. Imunisasi campak ini untuk pemberian kekebalan aktif terhadap penyakit campak (Ditjen PP & PL Depkes RI, 2005).

Imunisasi campak adalah imunisasi yang diberikan untuk mencegah penyakit campak pada anak karena penyakit ini sangat menular pemberian imunisasi dan usia pemberian, frekuensi pemberian imunisasi campak adalah 1 kali dan diberikan pada usia bayi 9 bulan. Dan diberikan ulangan (booster) pada usia 6-7 tahun, cara pemberian adalah melalui suntikan subkutan, efek samping imunisasi, jarang terjadi reaksi akibat imunisasi, namun kadang terjadi demam ringan dan efek kemerahan atau bercak merah pada pipi dibawah telinga pada hari ke 7-8 setelah penyuntikan. Kontraindikasi imunisasi campak, adalah infeksi akut yang disertai demam dan kekurangan gizi berat

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

1. Cara Pemberian dan Dosis

Sebelum disuntikkan, vaksin campak terlebih dahulu harus dilarutkan dengan pelarut steril yang telah tersedia yang berisi 5 ml cairan pelarut. Dosis pemberian 0,5 ml disuntikkan secara subkutan pada lengan kiri atas, pada usia

9-11 bulan dan ulangan (booster) pada usia 6-7 tahun (kelas 1 SD) setelah catch-up campaign campak pada Anak Sekolah Dasar kelas 16

(Ditjen PP & PL Depkes RI, 2005).

2. Kontraindikasi

Individu yang mengidap penyakit immune deficiency atau individu yang diduga menderita gangguan respon imun karena leukemia, lymphoma (Ditjen PP & PL Depkes RI, 2005).

3. Efek Samping

Hingga 15 % pasien dapat mengalami demam ringan dan kemerahan

selama 3 hari yang dapat terjadi 8-12 hari setelah divaksinasi (Ditjen PP & PL Depkes RI, 2005). Walaupun dilaporkan ada beberapa variasi

temuan, efek samping vaksin campak hidup (tunggal atau gabungan) umumnya adalah ringan dan terbatas untuk anakanak yang rentan. Dengan menggunakan vaksin virus hidup yang dilemahkan, maka reaksi efek samping yang timbul kurang dibandingkan dengan virus mati. Tetapi sekitar 5-15% anak yang mendapat imunisasi akan mengalami demam tinggi sampai 39,40C. Suhu tubuh umumnya meningkat pada hari ke-7 sampai hari ke-12 sesudah imunisasi dan lamanya 1-2 hari.Tetapi panas yang timbul dirasakan tidak mengganggu anak. Kadang kadang dapat terjadi kejang-demam. Ruam pada

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

kulit muncul sekitar 5% anak yang mendapat imunisasi, biasanya terjadi pada hari ke-7 sampai hari ke-10 sesudah mendapat imunisasi dan lamanya sekitar 2 hari. Efek samping imunisasi ulang umumnya lebih ringan dan jarang terjadi dibandingkan dengan imunisasi pertama, karena anak sudah mendapat dosis pertama maka ia sudah imun, sehingga pada imunisasi kedua virus vaksin tidak dapat bereplikasi. Efek ikutan imunisasi kedua lebih sering terjadi bila diberikan pada umur 10-12 tahun dibandingkan dengan bila diberikan umur 4-6 tahun. Gejala ikutan yang terjadi 1 bulan sesudah imunisasi pada anak yang berumur 10-12 tahun sangat jarang 22 terjadi (1,7/1000), yang paling sering berupa munculnya ruam pada kulit dan nyeri sendi (Setiawan, 2008).

2.5 Jadwal Imunisasi Tabel 2.3 Tabel Imunisasi.

Vaksin Pemberian

2.6 Faktor yang Mempengaruhi Kelengkapan Imunisasi

Menurut Notoatmodjo (2007) terdapat teori yang mengungkapkan determinan perilaku berdasarkan analisis dari faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku khususnya perilaku kesehatan. Diantara teori tersebut adalah teori Lawrence Green (1980), yang menyatakan bahwa perilaku seseorang ditentukan oleh tiga faktor, yaitu : 1 Faktor Pemudah (Presdiposing Factors) Faktor-faktor

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

ini mencakup tingkat pendidikan ibu, pengetahuan ibu,pekerjaan ibu, pendapatan keluarga, jumlah anak, dan dukungan dari pihak keluarga. 2. Faktor Pendukung (enabling) perilaku adalah fasilitas, sarana dan prasarana atau sumber daya ataufasilitas kesehatan yang memfasilitasi terjadinya perilaku seseorang atau masyarakat, termasuk juga fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas, posyandu, polindes, pos obat desa, dokter atau bidan swasta dan sebagainya, serta kelengkapan alat imunisasi, uang, waktu, tenaga dan sebagainya. 3. Faktor Penguat (reinforcing) meliputi faktor sikap dan perilaku para petugas termasuk petugas kesehatan.

1. Tingkat Pendidikan Ibu Bayi

Ada pengaruh tingkat pendidikan terhadap penggunaan fasilitas pelayanan kesehatan. Bahwa penggunaan posyandu dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dapat membuat orang menjadi berpandangan lebih luas berfikir dan bertindak secara rasional sehingga latar belakang pendidikan seseorang dapat mempengaruhi penggunaan pelayanan kesehatan (Notoatmodjo, 2007).

Pendidikan terjadi melalui kegiatan atau proses belajar yang dapat terjadi dimana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja. Kegiatan belajar mempunyai ciri-ciri: belajar adalah kegiatan yang menghasilkan perubahan pada diri individu, kelompok, atau masyarakat yang sedang belajar, baik aktual maupun potensial.

Ciri kedua dari hasil belajar bahwa perubahan tersebut di dapatkan karena kemampuan baru yang berlaku untuk waktu yang relatif lama. Ciri yang ketiga adalah bahwa perubahan itu terjadi karena usaha, dan didasari bukan karena kebetulan (Notoatmodjo, 2007). Pada umumnya semakin tinggi pendidikan

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

seseorang maka akan semakin baik pula tingkat pengetahuannya. Ibu dengan pendidikan yang relatif tinggi cenderung memiliki kemampuan untuk menggunakan sumber daya keluarga yang lebih baik dibandingkan dengan ibu yang berpendidikan rendah, karena pengetahuan makanan yang bergizi sering kurang dipahami oleh ibu yang tingkat pendidikannya rendah, sehingga memberi dampak dalam mengakses pengetahuan khususnya dibidang kesehatan untuk penerapan dalam kehidupan keluarga terutama pada pengasuh anak balita (Notoatmodjo, 2007).

Pendidikan adalah proses seseorang mengembangkan kemampuan, sikap, dan bentuk-bentuk tingkah laku manusia di dalam masyarakat tempat ia hidup, proses sosial, yakni orang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol (khususnya yang datang dari sekolah), sehingga dia dapat memperoleh atau mengalami perkembangan kemampuan sosial, dan kemampuan individu yang optimal (Munib, dkk, 2006).

Wanita sangat berperan dalam pendidikan di dalam rumah tangga. Mereka menanamkan kebiasaan dan menjadi panutan bagi generasi yang akan datang tentang perlakuan terhadap lingkungannya. Dengan demikian, wanita ikut menentukan kualitas lingkungan hidup ini. Untuk dapat melaksanakan pendidikan ini dengan baik, para wanita juga perlu berpendidikan baik formal maupun tidak formal. Akan tetapi pada kenyataan taraf, pendidikan wanita masih jauh lebih rendah daripada kaum pria. Seseorang ibu dapat memelihara dan mendidik anaknya dengan baik apabila ia sendiri berpendidikan (Slamet, 2000).

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2. Tingkat Pengetahuan Ibu Bayi

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan itu terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu obyek tertentu. Pengindraan terjadi melalui pancaindra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (over behavior). Sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni : awareness (kesadaran), interest (tertarik), evaluation (menimbang nimbang baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya). Trial (orang telah mulai mencoba prilaku baru), adoption (subyek telah berperilaku

sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus) (Notoatmodjo, 2007).

Pengetahuan diperoleh dari pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain. Seseorang ibu akan mengimunisasikan anaknya setelah melihat anak tetangganya kena penyakit polio sehingga cacat karena anak tersebut belum pernah memperoleh imunisasi polio. Pengetahuan merupakan hasil dari tahu setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.

Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia yaitu penglihatan, pendengaran penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia dipengaruhi dari mata (penglihatan) dan telinga (pendengaran) (Notoatmodjo, 2010).

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

3. Status Pekerjaan Ibu Bayi

Pekerjaan menurut kamus besar Bahasa Indonesia adalah mata pencaharian, apa yang dijadikan pokok kehidupan, sesuatu yang dilakukan untuk mendapatkan nafkah (Anoraga, 2005).

Ibu yang bekerja mempunyai waktu kerja sama seperti dengan pekerja lainnya. Adapun waktu kerja bagi pekerja yang dikerjakan yaitu waktu siang 7 jam satu hari dan 40jam satu minggu untuk 6 hari kerja dalam satu minggu, atau dengan 8 jam satu hari dan 40 jam satu minggu untuk 5 hari kerja dalam satu minggu. Sedangkan waktu malam hari yaitu 6 jam satu hari dan 35 jam satu minggu untuk 6 hari kerja dalam 1 minggu (Anoraga, 2005).

Bertambah luasnya lapangan kerja, semakin mendorong banyaknya kaum wanita yang bekerja, terutama di sektor swasta. Di satu sisi berdampak positif bagi pertambahan pendapatan, namun di sisi lain berdampak negatif terhadap

Bertambah luasnya lapangan kerja, semakin mendorong banyaknya kaum wanita yang bekerja, terutama di sektor swasta. Di satu sisi berdampak positif bagi pertambahan pendapatan, namun di sisi lain berdampak negatif terhadap

Dalam dokumen BELLA RIDA SAFIRA NIM: (Halaman 23-0)

Dokumen terkait