KABUPATEN GAYO LUES TAHUN 2018
SKRIPSI
OLEH :
BELLA RIDA SAFIRA NIM: 131000710
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2018
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
KABUPATEN GAYO LUES TAHUN 2018
Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Kesehatan Masyarakat
OLEH :
BELLA RIDA SAFIRA NIM: 131000710
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2018
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
iii
semua orang, terutama bayi dan anak sejak lahir untuk melindungi tubuhnya dari peyakit-penyakit yang berbahaya. Kelengkapan imunisasi dasar di Gayo Lues terutama dikecamatan pining yang paling rendah yaitu 38 bayi (64,41%) pencapaian ini masih sangat jauh dari target yang ingin di capai sebesar 90%.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian Deskriptif analitik dengan rancangan Cross Sectional yaitu untuk mengetahui pengaruhi karakteristik ibu, dukungan keluarga, dan sikap petugas kesehatan terhadap kelengkapan imunisasi dasar pada bayi di wilayah kerja Puskesmas Pining Kecamatan Pining Kabupaten Gayo Lues. Pengumpulan data primer dapat dilakukan dengan cara wawancara langsung dengan responden dengan berpedoman dengan kuesioner penelitian yang telah disiapkan sebelumnya kelengkapan imunisasi dasar lengkap pada bayi dan lembar obeservasi. Data sekunder dapat diperoleh Profil Puskesmas Kecamatan Pining, catatan bulanan di Puskesmas Pining serta catatan yang diperoleh dari Posyandu antar desa.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada tiga variabel yang berpengaruh signifikan terhadap kelengkapan imunisasi yaitu variabel sikap tenaga kesehatan , dukungan keluarga atau suami dan pekerjaan. Variabel sikap tenaga kesehatan dengan koefisien regresi= 3,374, sig.= 0,001, dan nilai Exp(β)=
29,192. Variabel dukungan keluarga atau suami dengan koefisien regresi= 1,932, sig.=0,040, dan nilai Exp(β)= 6,903. Variabel pekerjaan dengan koefisien regresi= 1,445, sig.=0,075, dan nilai Exp(β)= 4,290.
Berdasarkan hasil penelitian, disarankan pada tenaga kesehatan untuk tetap ramah dan mempertahankan sikap baik kepada ibu serta tetap memberikan penyuluhan atau pendidikan kesehatan kepada ibu mengenai pentingnya imunisasi dasar yang lengkap kepada bayi. Disarankan ibu bertanya pada tenaga kesehatan tentang imunisasi dan tujuan pentingnya kelengkapan imunisasi tersebut sehingga pengetahuan ibu meningkat dan ibu bisa memberikan pemahaman kepada suami agar melakukan imunisasi lengkap kepada bayi.Suami disarankan untuk dapat memberikan dukungan moril pada istri serta memberi izin kepada istri untuk melakukan imunisasi lengkap kepada bayi.
Kata Kunci : Kelengkapan Imunisasi
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
iv
from dangerous diseases. Completeness of basic immunization in Gayo Lues Regency especially in the most low pining sub-district, namely baby 38 (64.41%) This achievement is still very far away from the target that you want to accomplish in the amount of 90%.
This research used Descriptive analytic research method with Cross Sectional design that was to know impact of mother characteristics, family support and attitudes of health workers on the completeness basic immunization coverage on infant in work area of Pining Puskesmas Pining District of Gayo Lues Regency. Primary data collection can be done by direct interviews with respondents by guided by the research questionnaire which has been prepared before. Secondary data can be obtained through Puskesmas Profile of Pining District, monthly record at Pining Puskesmas and note obtained from Posyandu between villages.
The results of this study show that three variables that significantly affected the completeness of the immunization of health staff attitudes, family support or husband and work. Variable attitude of health manpower with regression coefficient = 3,374, sig. = 0,001, and value Exp (β) = 29,192. Family support variable or husband with regression coefficient = 1.932, sig. = 0,040, and value Exp (β) = 6,903. Job variables with regression coefficients = 1.445, sig. = 0.075, and the value Exp (β) = 4,290
Based on the results of the research, it is suggested on the health workers to remain friendly and maintain good attitude to the mother and still provide counseling or health education to mothers on the importance of complete basic immunization to infants. Mothers are advised to ask health workers about immunization and the importance of the goal immunization completeness so that the knowledge of mothers increases and mothers can provide understanding to the husband are advised to be able give moral support to the wife and give permission to the wife for complete immunization.
Keywords: Completeness of Immunization
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
v
yang berjudul Pengaruh Karekteristik Ibu, Dukungan Keluarga dan Sikap Petugas Kesehatan Terhadap Kelengakapn Imunisasi Dasar Lengkap Pada Bayi di Wilayah Kerja Puskesmas Pining Kecamatan Pining Kabupaten Gayo Lues Tahun 2018. Skripsi ini adalah salah satu syarat yang ditetapkan untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyakarat di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
Selama proses penyusunan skripsi ini, penulis banyak mendapat bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak baik secara moril maupun meteri.
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada :
1. Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H, M.Hum, selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si, selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
3. Dr. Drs. Zulfendri, M.Kes, selaku Ketua Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
4. dr. Rusmalawaty, M.Kes, selaku Dosen Pembimbing I yang telah memberikan waktu, bimbingan, saran, masukan dan arahan dalam penyusunan skripsi ini.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
vi
6. Dr. Juanita, SE, M.Kes, selaku Dosen Penguji I yang telah memberikan masukan dan koreksi bermanfaat untuk perbaikan skripsi ini.
7. Putri Citra Cinta Asyura Nasution, SKM, M.Kes, selaku Dosen Penguji II yang telah memberikan masukan dan koreksi bermanfaat untuk perbaikan skripsi ini.
8. Dr. Lita Sri Andayani, SKM, M.Kes, selaku Dosen Penasehat Akademik yang telah membimbing penulis selama menjalani perkuliahan di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.
9. Seluruh Dosen dan Staf Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan bekal ilmu selama penulis menjalani pendidikan khususnya Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan.
10. Kepala Puskesmas Pininig, Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues yang telah memberikan izin memperoleh data-data yang mendukung penulis dalam menyelesaikan penelitian ini.
11. Kedua orang tua saya tercinta Ir. Eriono dan Ibunda Dra. Juraida, MM yang telah memberikan dukungan moril maupun materil dan do’a dalam cintanya di setiap langkah penulis.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
vii dapat bermanfaat.
Medan, Juli 2018 Penulis
Bella Rida Safira
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
viii
ABSTRACT ... iv
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR TABEL... xi
DAFTAR GAMBAR ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiii
RIWAYAT HIDUP ... xiv
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 7
1.3 Tujuan Penelitian ... 7
1.3.1 Tujuan Umum ... 7
1.3.2 Tujuan Khusus ... 7
1.4 Manfaat Penelitian ... 8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Imunisasi ... 9
2.1.1 Tujuan Imunisasi ... 10
2.1.2 Manfaat Imunisasi ... 11
2.2 Sasaran Imunisasi ... 11
2.3 Jenis – Jenis Imunisasi ... 12
2.4 Kelengkapan Imunisasi ... 14
2.4.1 Imunisasi Hepatitis B ... 14
2.4.2 Imunisasi BCG (Bacillus Calmette-Guerin) ... 15
2.4.3 Imunisasi DPT/HB ... 17
2.4.4 Imunisasi Polio ... 18
2.4.5 Imunisasi Campak ... 20
2.5 Jadwal Imunisasi ... 22
2.6 Faktor yang Mempengaruhi Kelengkapan Imunisasi ... 22
2.7 Kerangka Konsep ... 28
2.8 Hipotesis Penelitian ... 28
BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian ... 30
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 30
3.2.1 Lokasi Penelitian ... 30
3.2.2 Waktu Penelitian ... 30
3.3 Populasi dan Sampel ... 30
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
ix
3.5 Variabel dan Definisi Operasional ... 32
3.5.1 Variabel Penelitian ... 32
3.5.2 Definisi Operasional ... 33
3.6 Aspek Pengukuran ... 34
3.7 Metode Analisis Data ... 35
3.7.1 Pengolahan Data ... 35
3.7.2 Analisis Univariat ... 36
3.7.3 Analisis Bivariat ... 36
3.7.4 Analisis Multivariat ... 36
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 37
4.1.1 Wilayah Kerja Puskesmas Pining ... 37
4.1.2 Keadaan Demografi ... 38
4.2 Analisis Univariat... 38
4.2.1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Variabel Independen .. 39
4.2.2 Distribusi Frekuensi Kelengkapan Imunisasi Berdasarkan Lembar Observasi (Dependen) ... 45
4.3 Analisis Bivariat ... 47
4.3.1 Hubungan Pendidikan dengan Kelengkapan Imunisasi di Puskesmas Pining ... 47
4.3.2 Hubungan Pekerjaan dengan Kelengkapan Imunisasi di Puskesmas Pining ... 48
4.3.3 Hubungan Pengetahuan dengan Kelengkapan Imunisasi di Puskesmas Pining ... 49
4.3.4 Hubungan Sikap Petugas Kesehatan dengan Kelengkapan Imunisasi di Puskesmas Pining ... 50
4.3.5 Hubungan Dukungan Keluarga/Suami dengan Kelengkapan Imunisasi di Puskesmas Pining ... 51
4.3.6 Kesimpulan Hasil Uji Chi-Square ... 51
4.4 Anasisi Multivariat ... 51
V PEMBAHASAN 5.1 Kelengkapan Imunisasi ... 54
5.2 Pengaruh Pendidikan Terhadap Kelengkapan Imunisasi ... 57
5.3 Pengaruh Pekerjaan Terhadap Kelengkapan Imunisasi ... 59
5.4 Pengaruh Pengetahuan Terhadap Kelengkapan Imunisasi ... 60
5.5 Pengaruh Sikap Tenaga Kesehatan Terhadap Kelengkapan Imunisasi ... 65
5.6 Pengaruh Dukungan Keluarga/Suami Terhadap Kelengkapan Imunisasi .... 68
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
x LAMPIRAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
xi
Tabel 2.2 Cara Pemberian Imunisasi Dasar ... 13
Tabel 2.3 Tabel Imunisasi ... 22
Tabel 3.1 Metode Pengukuran Variabel Independen ... 33
Tabel 3.2 Metode Pengukuran Variabel Dependen... 34
Tabel 4.1 Distribusi Penduduk Wilayah Kerja Puskesmas Pining ... 37
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Karakteristik Responden ... 38
Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Berdasarkan Pengtahuan Ibu Tentang Imunsasi Dasar Lengkap ... 39
Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Pengkategorian variable independen ... 43
Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Kelengkapan Imunisasi bayi di wilayah kerja puskesmas pining ... 45
Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Kelengkapan Imunisasi Dasar ... 46
Tabel 4.7 Tabulasi Silang Pendidikan Dengan Kelengkapan Imunisasi di Puskesmas Pining ... 47
Tabel 4.8 Tabulasi Silang Pekerjaan Dengan Kelengkapan Imunisasi di Puskesmas Pining ... 48
Tabel 4.9 Tabulasi Silang Pengetahuan Dengan Kelengkapan Imunisasi di Puskesmas Pining ... 49
Tabel 4.10 Tabulasi Silang Sikap Petugas Kesehatan Dengan Kelengkapan Imunisasi ... 49
Tabel 4.11 Tabulasi Silang Dukungan Keluarga/Suami Dengan Kelengkapan Imunisasi ... 50
Tabel 4.12 Hasil Uji Chi-square ... 51
Tabel 4.13 Hasil Analisis Multivariat Uji Regresi Logistik Ganda ... 52
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
xii UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
xiii Lampiran 3 Surat Balasan Izin Penelitian Lampiran 4 Surat Keterangan Selesai Penelitian Lampiran 5 Output Analisis Data
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
Imunisasi dan vaksinasi seringkali diartikan sama. Imunisasi dianjurkan diberikan sesegera mungkin setelah bayi lahir dikarenakan pencegahan penyakit secara primer dapat dilakukan melalui vaksinasi. Dengan diberikannya imunisasi dini kepada bayi maka akan meminimaliskan keajadian terkena penyakit yang berbahaya dan terhindarnya dari kecacatan.
Imunisasi adalah suatu upaya untuk menimbulkan atau meningkatkan kekebalan seseorang terhadap suatu penyakit tertentu, sehingga bila suatu saat terpapar dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan. Beberapa penyakit menular yang termasuk ke dalam Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I). Program imunisasi merupakan salah satu upaya untuk memberikan perlindungan terhadap penyakit tertentu (Depkes, 2016).
Menurut Undang-Undang nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan, imunisasi merupakan salah satu upaya untuk menurunkan angka kematian pada anak. Pemerintah wajib memberikan imunisasi lengkap kepada setiap bayi dan anak, serta setiap anak berhak memperoleh imunisasi dasar sesuai dengan ketentuan yang berlaku untuk mencegah terjadinya penyakit yang dapat dihindari melalui imunisasi.
Imunisasi dasar adalah pemberian imunisasi awal pada bayi untuk mencapai kadar kekebalan di atas ambang perlindungan (Mulyani, 2016). Jenis-
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
jenis imunisasi dasar, yaitu: BCG, yaitu imunisasi dasar yang diberikan untuk mencegah penyakit TBC. Kemudian imunisasi dasar Hepatitis B, yang diberikan untuk mencegah penyakit hepatitis B. Selanjutnya DPT, yaitu imunisasi dasar yang diberikan untuk mencegah penyakit difteri, pertusis, dan tetanus. Kemudian imunisasi dasar Campak, yang diberikan untuk mencegah penyakit campak dan yang terakhir imunisasi dasar Polio, yang diberikan untuk mencegah penyakit polio (IDAI, 2014). Jadwal imunisasi nasional berdasarkan ketetapan menteri kesehatan RI nomor 1059/Menkes/SK/IX/2004, pada umur 0-7 hari jenis imunisasi yang dberikan adala HB0, umur 1 bulan BCG dan Polio 1, umur 2 bulan DPT/HB 1 dan Polio 2, umur 3 bulan DPT/HB 2 dan Polio 3, umur 4 bulan DPT/HB 3 dan Polio 4, umur 9 bulan Campak.
Tujuan imunisasi adalah mencegah terjadinya penyakit tertentu pada seseorang. Menghilangkan penyakit tertentu pada populasi. Sedangkan manfaat imunisasi adalah 1. Untuk anak: mecegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit, dan kemungkinan cacat atau kematian, 2. Untuk keluarga:
menghilangkan kecemasan dan psikologi pengobatan bila anak sakit. Mendorong pembentukan keluarga apabila orang tua yakin bahwaa anaknya akan menjalani masa kanak-kanak yang nyaman, 3. Untuk negara: memperbaiki tingkat kesehatan, menciptakan bangsa yang kuat dan berakal untuk melanjutkan pembangunan negara (Marimbi, 2016).
Proporsi imunisasi dasar lengkap menurut survei Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2010 (53,8%) dan 2013 (59,2%) belum mencapai target yang ditetapkan pada tahun tersebut. Akan tetapi telah mengalami peningkatan
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
yang cukup baik. Data yang dilansir oleh Kementerian Kesehatan RI cakupan imunisasi dasar lengkap masih mencapai angka 86,8% pada april 2015.
Sedangkan pada tahun 2019 Kemenkes menargetkan cakupan imunisasi perlu ditingkatkan hingga mencapai target 93%. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa masih ada kelompok masyarakat yang belum terjangkau oleh pelayanan kesehatan.
Kesehatan individu atau masyarakat dipengarui oleh dua faktor pokok yaitu faktor-faktor di luar perilaku (non perilaku) seperti tersedianya sarana pelayanan imunisasi dan faktor perilaku. Faktor perilaku ini mempunyai pengaruh yang besar terhadap status kesehatan individu maupun masyarakat. Orangtua khususnya ibu adalah faktor yang sangat penting dalam mewariskan status kesehatan bagi bayi mereka. Lengkap atau tidaknya imunisasi dasar lengkap sangat tergantung pada perilaku ibu dalam mengimunisasikan bayinya (Notoatmodjo, 2012).
Dalam pelaksanaan program imunisasi, keberhasilannya tergantung pada faktor pelayanan kesehatan, masyarakat umum dan faktor ibu sendiri. Seorang anak di imunisasi atau tidak, dipengaruhi beberapa faktor dari ibu antara lain tingkat pendidikan ibu, tingkat pengetahuan ibu mengenai imunisasi, bekerja
tidaknya seorang ibu, dan jumlah anak yang dimiliki (Abbas dan Licthman, 2005).
Perilaku manusia merupakan hasil daripada segala macam pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkungan yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan. Dengan kata lain, perilaku merupakan respon
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
atau reaksi seorang individu terhadap stimulus yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya (Notoatmodjo, 2012).
Menurut hasil peneliti sebelumnya, yaitu yang dilakukan oleh peneliti di Desa Kumpulrejo Kecamatan Argomulyo Kota Salatiga, peneliti mendapatkan informasi yang menunjukkan hubungan antara tingkat pendidikan ibu, pengetahuan ibu, status pekerjaan ibu, dukungan anggota dalam keluarga dengan kelengkapan imunisasi dasar pada bayi, maka hubungan antara tingkat pendidikan ibu dengan kelengkapan imunisasi dasar pada bayi dapat disimpulkan ibu dengan tingkat pendidikan lanjut cenderung memberikan imunisasi dasar lengkap kepada anaknya, sedangkan ibu dengan tingkat pendidikan dasar memiliki risiko 4,279 kali tidak memberikan imunisasi dasar lengkap kepada anaknya (Istriyati, 2011).
Hubungan antara tingkat pengetahuan ibu dengan kelengkapan imunisasi dasar pada bayi dapat disimpulkan ibu dengan tingkat pengetahuan tinggi cenderung memberikan imunisasi dasar lengkap kepada anaknya, sebaliknya ibu dengan tingkat pengetahuan rendah memiliki risiko 4,750 kali tidak memberikan imunisasi dasar lengkap kepada anaknya. Hubungan antara status pekerjaan dengan kelengkapan imunisasi dasar pada bayi dapat disimpulkan ibu yang tidak bekerja cenderung memberikan imunisasi dasar lengkap kepada anaknya, sebaliknya ibu yang bekerja memiliki risiko 7,667 kali tidak memberikan imunisasi dasar lengkap kepada anaknya.
Hubungan antara dukungan anggota dalam keluarga dengan kelengkapan imunisasi dasar lengkap pada bayi dapat disimpulkan ibu yang didukung anggota keluarganya untuk mengimunisasikan anaknya cenderung memberikan imunisasi
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
dasar lengkap kepada anaknya, sebaliknya ibu yang tidak didukung anggota keluarganya untuk mengimunisasikan anaknya memiliki risiko 5,714 kali tidak memberikan imunisasi dasar lengkap kepada anaknya (Istriyati, 2011).
Persentase imunisasi dasar lengkap pada bayi di Indonesia pada bulan September tahun 2014 yaitu cakupan imunisasi dasar lengkap pada bayi sebesar 48,4% dengan Provinsi tertinggi Bali (62,0%) dan terendah Maluku Utara (17,7%). Pada persentase imunisasi dasar lengkap pada bayi di wilayah Provinsi Aceh pada bulan September tahun 2014 yaitu sebesar 49% dengan Kabupaten/kota tertinggi yaitu Kabupaten Aceh Tenggara (76,3%) dan terendah Kabupaten Aceh Timur (26,7%) (Ditjen PP&PL, Kemenkes RI, 2014).
Kabupaten Gayo Lues terletak pada bagian tengah dari Provinsi Aceh, yang berbatasan dengan Kabupaten Aceh Tengah, Nagan Raya dan Aceh Timur disebelah utara. Dari selatan berbatasan dengan Kabupaten Aceh Tenggara dan Aceh Barat Daya, sedangkang dari arah Timur berbatasan dengan Kabupaten Aceh Tamiang. Aceh Barat Daya merupakan daerah yang berbatasan dengan Kabupaten Gayo Lues. Kabupaten Gayo Lues dengan luas 5.549,92 km2 merupakan daerah perbukitan dengan pegunungan sehingga berjuluk sebagai Negeri seribu Bukit
Daerah Kabupaten Gayo Lues terdiri dari 11 Kecamatan dengan ibu kota Kabupaten Blangkejeren. Jumlah penduduk kabupaten Gayo Lues berdasarkan Data Biro Pusat Statistik Kabupaten Gayo Lues tahun 2016 adalah 89.500 jiwa.
Jumlah penduduk laki-laki 44.534 dan perempuan 44.966.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Berdasarkan data yang diperoleh dari dinas Kabupaen Gayo Lues cakupan imunisasi dasar lengkap sebesar 1.872 bayi (93,9%). Dari 11 kecamatan yang terdapat di Gayo Lues, cakupan imunisasi pada Kecamatan Pinning yang paling rendah sebesar 38 bayi (64,41%). Pencapaian ini masih sangat jauh dari target yang ingin dicapai sebesar 90%. Kelengkapan imunisasi dasar di wilayah Pinning belum mencapai target. (Dinkes Kabupaten Gayo Lues, 2016).
Berdasarkan survey awal yang saya lakukan melalui wawancara dari beberapa ibu, banyakya ibu yang kurang akan pengetahuan tentang apa itu imunisasi dasar lengkap pada bayi, sebagian dari mereka tidak mengetahui bahwa adanya pemberian pengulangan dan juga dalam imunisasi mereka masih menganggap bahwa itu hal yang tidak baik dilakukan karena menyebabkan anak mereka menjadi sakit. Kurangnya dukungan dari keluarga atau pun suami karena sangat minimnya pengetahuan tentang hal tersebut. Terlebih lagi dalam waktu melakukan imunisasi banyakya keluhan dari ibu bahwa mereka menganggap waktu untuk imunisasi tidak tepat karena dilakukan pada waktu mereka bekerja.
Menurut kepala puskesmas Pining, masyarakat di daerah tersebut masih berada tinggal dirumah orang tuanya dan masih belum mengerti manfaat dari imunisasi, beberapa masyarakat disana belum yakin kalau imunisasi itu sebuah pencegahan melainkan menambah penyakit dan masih kurangnya petugas kesehatan untuk menyampaikan pentingnya imunisasi itu di lakukan.
Berdasarkan hal tersebut diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul ”Pengaruh Karakteristik Ibu, Dukungan Keluarga dan Sikap Petugas Kesehatan Terhadap Kelengkapan Imunisasi Dasar Lengkap di
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Pining Kabupaten Gayo Lues Tahun 2018”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah pengaruh karakteristik ibu, dukungan keluarga dan sikap petugas kesehatan terhadap kelengkapan imunisasi dasar lengkap pada bayi di wilayah kerja puskesmas pining kecamatan pining kabupaten gayo lues.
1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum
Adapun tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh karakteristik ibu, dukungan keluarga dan sikap petugas kesehatan terhadap kelengkapan imunisasi dasar lengkap pada bayi di wilayah kerja puskesmas pining kecamatan pining kabupaten gayo lues.
1.3.2. Tujuan Khusus
1. Mengetahui pengaruh karakteristik ibu terhadap kelengkapan imunisasi dasar lengkap pada bayi
2. Mengetahui pengaruh pendidikan ibu terhadap kelengkapan imunisasi dasar lengkap pada bayi
3. Mengetahui pengaruh pengetahuan ibu terhadap kelengkapan imunisasi dasar lengkap pada bayi
4. Mengetahui pengaruh status pekerjaan ibu terhadap kelengkapan imunisasi dasar pada bayi
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
5. Mengetahui pengaruh dukungan keluarga terhadap kelengkapan imunisasi dasar pada bayi
6. Mengetahui pengaruh sikap petugas kesehatan terhadap kelengkapan imunisasi dasar lengkap pada bayi
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian yang dilakukan adalah : a. Bagi pihak Dinas Kesehatan Gayo Lues
Sebagai bahan masukan dan informasi mengenai cakupan imunisasi dasar lengkap pada bayi dalam rangka untuk meningkatkan upaya cakupan imunisasi dasar lengkap pada bayi.
b. Sebagai bahan masukan bagi Puskesmas Pining di Kecamatan Pining Kabupaten Gayo Lues
Melaksanakan program Imunisasi dan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan untuk cakupan imunisasi dasar lengkap pada bayi.
c. Bagi masyarakat umum
Penelitian ini dapat memberikan pengetahuan dan ilmu tentang Imunisasi dasar lengkap pada bayi.
d. Sebagai bahan referensi untuk penelitian selanjutnya.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Imunisasi
Imunisasi berasal dari kata imun, kebal, atau resisten. Anak diimunisasi berarti diberikan kekebalan terhadap suatu penyakit tertentu. Anak kebal atau resisten terhadap suatu penyakit, tetapi belum tentu kebal terhadap penyakit yang lain (Notoatmodjo, 2007).
Imunisasi bertujuan untuk memberikan kekebalan terhadap tubuh anak.
Caranya dengan pemberian vaksin. Vaksin ini berasal dari bibit penyakit tertentu yang dapat menimbulkan penyakit, tetapi penyakit ini terlebih dahulu dilemahkan atau dimatikan sehingga tidak berbahaya lagi terhadap kelangsungan hidup manusia (Riyadi.s & Sukarmin, 2009).
Imunisasi suatu upaya yang dilakukan untuk mencegah terjadinya suatu penyakit dengan cara memberikan mikroorganisme bibit penyakit berbahaya yang telah dilemahkan dalam bentuk vaksin kedalam tubuh sehingga merangsang sistem kekebalan tubuh terhadap jenis antigen. Imunisasi dasar lengkap memberikan upaya imunisasi pada bayi berusia 0-12 bulan agar terhindar dari berbagai penyakit, imunisasi ini meliputi Polio, HB, DPT, BCG, dan Campak (Depkes RI, 2016).
Imunisasi yang wajib diberikan pada balita dibawah 12 bulan adalah BCG, Hepatitis B, polio, DPT dan campak. Berfungsi untuk menangkis penyakit- penyakit yang menimbulkan kematian serta kecacatan. Seperti TBC, Hepatitis dan Polio. Sedangkan reaksi masing-masing imunisasi juga berbeda-beda pada
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
setiap anak, tergantung pada penyimpanan vaksin dan sensutivitas tubuh tiap anak.
Imunisasi dasar adalah imunisasi pertama yang perlu diberikan pada semua orang, terutama bayi dan anak sejak lahir untuk melindungi tubuhnya dari peyakitpenyakit yang berbahaya. Lima jenis imunisasi dasar yang diwajibkan pemerintah adalah imunisasi terhadap tujuh penyakit, yaitu TBC, difteri, tetanus, pertusis (batuk rejan), poliomyelitis, campak dan hepatitis B. Kelima jenis imunisasi dasar yang wajib diperoleh bayi sebelum usia setahun tersebut adalah:
imunisasi BCG, yang dlakukan sekali pada bayi usia 0-11 bulan. Imunisasi DPT, yang diberikan 3 (tiga) kali pada bayi usia 2-11 bulan dengan interval minimal 4 minggu. Imunisasi polio, diberikan 4(empat) kali pada bayi 0-11 bulan dengan interval minimal 4 minggu. Imunisasi campak, yang diberikan 1 (satu) kali pada bayi usia 9-11 bulan. Imunisasi hepatitis B, yang diberikan 3 (tiga) kali pada bayi usia 1-11 bulan, dengan interval minimal 4 minggu (Maryunani, 2010).
2.1.1 Tujuan Imunisasi
Tujuan imunisasi adalah Program imunisasi bertujuan untuk memberikan kekebelan kepada bayi agar dapat mencegah penyakit dan kematian bayi serta anak yang disebabkan oleh penyakit yang sering berjangkit. Secara umum tujuan imunisasi, antara lain : 1. Melalui imunisasi, tubuh tidak mudah terserang penyakit menular, 2. Imunisasi sangat efektif mencegah penyakit menular, 3.
Imunisasi menurunkan angka mordibitas (angka kesakitan) dan mortalitas (angka kematian) pada balita. Sedangkan manfaat imunisasi adalah 1. Untuk anak:
mecegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit, dan kemungkinan cacat atau
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
kematian, 2. Untuk keluarga: menghilangkan kecemasan dan psikologi pengobatan bila anak sakit. Mendorong pembentukan keluarga apabila orang tua yakin bahwaa anaknya akan menjalani masa kanak-kanak yang nyaman , 3.
Untuk negara: memperbaiki tingkat kesehatan, menciptakan bangsa yang kuat dan berakal untuk melanjutkan pembangunan negara (Proverawati, 2014).
2.1.2 Manfaat Imunisasi
Manfaat imunisasi bagi anak yaitu mencegah penderitaan yang disebabkan oleh penyakit, dan kemungkinan cacat atau kematian. Bagi keluarga yaitu menghilangkan kecemasan dan psikologi pengobatan bila anak sakit. Mendorong pembentukan keluarga apabila orang tua yakin bahwa anaknya akan menjalani masa kanak-kanak yang nyaman. Bagi negara yaitu memperbaiki tingkat kesehtan, menciptakan bangsa yang kuat dan berakal untuk melanjutkan pembangunan negara (Marimbi, 2016).
2.2 Sasaran Imunisasi 1. Imunisasi Rutin
Diberikan pada bayi di bawah umur 1 tahun, wanita usia subur yaitu wanita usia 15 hingga 39 tahun termasuk ibu hamil dan calon pengantin.
Vaksin yang diberikan pada imunisasi rutin pada bayi meliputi hepatitis B, BCG,polio, DPT, dan campak. Pada usia anak sekolah meliputi DT campak, dan tetanus toksoid, sedangkan pada wanita usia subur diberikan tetanus toksoid.
2. Imunisasi Tambahan
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Imunisasi tambahan akan diberikan bila diperlukan. Imunisasi tambahan diberikan kepada bayi dan anak usia sekolah dasar. Imunisasi tambahan sering dilakukan misalnya ketika terjadi suatu wabah penyakit tertentu dalam wilayah dan waktu tertentu, misalnya pemberian polio pada Pekan Imunisasi Nasional (PIN) dan pemberian imunisasi campak pada anak sekolah. Pekan Imunisasi Nasional, dilaksanakan serentak secara nasional untuk mempercepat pemutusan mata rantai penularan virus polio importasi dengan cara memberikan vaksin polio kepada setiap balita (usia 0-5 tahun) termasuk bayi baru lahir tanpa mempertimbangkan status imunisasi sebelumnya. Pemberian imunisasi dilakukan dua kali masing-masing dua tetes selang waktu dua bulan. Pemberian imunisasi polio pada waktu PIN disamping untuk memutus mata rantai penularan, juga berguna sebagai booster atau imunisasi ulangan polio (Achmadi, 2006).
2.3 Jenis-jenis Imunisasi
Imunisasi merupakan suatu tindakan dasar untuk memberikan perlindungan atau kekebalan di dalam tubuh bayi, serta untuk mencegah terpaparnya anak dari berbagai penyakit yang berpotensi menggangu tumbuh kembang anak bahkan dari penyakit yang bisa menyebabkan kematian. Berikut adalah jadwal imunisasi nasional berdasarkan ketetapan menteri kesehatan RI nomor 1059/Menkes/SK/IX/2004:
1. Hepatitis B-0 diberikan satu kali (diberikan 0-7 hari setelah kelahiran) 2. BCG diberikan satu kali (pada usia 1 bulan)
3. DPT/HB diberikan tiga kali (pada usia 2,3,4 bulan)
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
4. Polio diberikan 4 kali (pada usia 1,2,3,4 bulan) 5. Campak diberikan 1 kali (pada usia 9 bulan)
Tabel 2.1 Jadwal Imunisasi Dasar Nasional Berdasarkan Golongan Umur
Umur Jenis Imunisasi
0-7 hari HB 0
1 bulan BCG, Polio 1
2 bulan DPT/HB 1, Polio 2
3 bulan DPT/HB 2, Polio 3
4 bulan DPT/ HB 3, Polio 4
9 bulan Campak
Sumber: Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1059/Menkes/SK/IX/2004 Cara Pemberian Imunisasi
Tabel 2.2 Cara pemberian imunisasi dasar Vaksin Dosis Cara pemberian
BCG 0,05 ml Disuntikkan secara intrakutan didaerah kanan atas
(insertio musculus deltoideus) DPT 0,5 ml Secara intramuscular
Polio 2 tetes Diteteskan ke mulut
Campak 0,5 ml Subkutan, biasanya dilengan kiri atas Hepatitis B 0,5 ml Intramuscular pada anterolateral paha
Bayi dikatakan telah mendapatkan imunisasi lengkap jika bayi telah mendapatkan imunisasi yang meliputi imunisasi BCG (Bacillus ClamatereGuerin) Imunisasi DPT (difteri, pertusis, tetanus), imunisasi polio, imunisasi campak dan imunisasi hepatitis B.
Tempat Mendapatkan Pelayanan Imunisasi 1) Puskesmas
a) KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) b) UKS (Usaha Kesehatan Masyarakat) c) Posyandu
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
d) Balai pengobatan 2) Non Puskesmas, meliputi :
a) Rumah sakit
b) Rumah sakit bersalin c) Rumah bersalin d) Dokter praktek anak e) Dokter umum praktek f) Dokter spesialis kebidanan g) Bidan praktek
h) Balai kesehatan masyarakat 2.4 Kelengkapan Imunisasi
2.4.1 Imunisasi Hepatitis B
Imunisasi hepatitis B gunanya untuk pemberian kekebalan aktif terhadap infeksi yang disebabkan oleh virus hepatitis B. Vaksin hepatitis B adalah vaksin virus rekombinan yang telah diinaktivasikan dan bersifat non-infectious, berasal dari HbsAg yang dihasilkan dalam sel ragi (Hansenula Polymorpha) menggunakan teknologi DNA rekombinan (Ditjen PP & PL Depkes RI, 2005).
1. Cara Pemberian dan Dosis
Sebelum digunakan vaksin harus dikocok terlebih dahulu agar suspensi menjadi homogen. Vaksin disuntikkan dengan dosis 0,5 ml atau 1 buah HB PID, pemberian suntikan secara intra muskuler sebaiknya pada anterolateral paha.
Pemberian sebanyak 3 dosis, dosis pertama
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2. Kontraindikasi
Hipersensitif terhadap komponen vaksin sama halnya seperti vakisn- vaksin lain, vaksin ini tidak boleh diberikan kepada penderita infeksi berat yang disertai kejang (Ditjen PP & PL Depkes RI, 2005).
3. Efek Samping
Reaksi lokal seperti rasa sakit, kemerahan, dan pembengkakan di sekitar tempat penyuntikan. Reaksi yang terjadi bersifat ringan dan biasanya hilang setelah 2 hari (Ditjen PP & PL Depkes RI, 2005).
2.4.2 Imunisasi BCG (Bacillus Calmette-Guerin)
Bacillus Calmette-Guerin adalah vaksin hidup yang dibuat dari Mycobacterium bovis yang dibiak berulang selama 1-3 tahun sehingga
didapatkan hasil yang tidak virulen tetapi masih mempunyai imunogenitas (Ranuh, 2008).
Imunisasi BCG adalah imunisasi yang diberikan untuk menimbulkan kekebalan aktif terhadap penyakit TBC. Pemeberian imunisasi BCG dan usia pemberian, frekuensi pemeberian imunisasi BCG adalah 1 kali dan tidak perlu diulang (booster). Cara pemberian imunisasi BCG sesuai anjuran WHO adalah melalui internal dengan lokasi penyuntikan pada lengan kanan atas atau penyuntikan pada paha. Tanda keberhasilan, adalah timbulnya indurasi (benjolan) kecil dan eritema (merah) di daerah bekas suntikan, setelah 1 atau 2 minggu kemudan yang berubah menjadi pustula, kemudian pecah menjadi ulkus (luka).
Tidak menimbulkan nyeri dan panas. Luka ini akan sembuh sendiri dan meninggalkan tanda parut.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
1. Cara Pemberian dan Dosis
Pemberian imunisasi BCG sebaiknya diberikan kepada bayi umur < 2 bulan. Pada bayi yang kontak erat dengan pasien TB dengan bakteri tahan asam (BTA) +3 sebaiknya diberikan INH profilaksi dulu, apabila pasien kontak sudah tenang bayi dapat diberi BCG (Ranuh, 2008).
Sebelum disuntikan, vaksin BCG harus dilarutkan terlebih dahulu, melarutkan dengan menggunakan alat suntik steril (ADS 5 ml). Dosis pemberian
0,05 ml sebanyak 1 kali. Disuntikan secara intrakutan di daerah lengan kanan atas (insertion musculas deltoideus), dengan menggunakan ADS 0,05 ml.
Vaksin yang sudah dilarutkan harus digunakan sebelum lewat 3 jam (Ditjen PP & PL Depkes RI, 2005).
2. Kontraindikasi
Imunisasi BCG tidak boleh digunakan pada orang yang reaksi uji tuberkulin >5 mm, menderita infeksi HIV atau dengan risiko tinggi infeksi HIV, imunokompromais akibat pengobatan kortikosteroid, obat imuno-supresif, mendapat pengobatan radiasi, penyakit keganasan yang mengenai sumsum tulang atau sistem limfe, menderita gizi buruk, menderita demam tinggi, menderita infeksi kulit yang halus, pernah sakit tuberkulosis, kehamilan (Ranuh, 2008).
3. Efek Samping
Imunisasi BCG tidak menyebabkan reaksi yang bersifat umum seperti demam 1-2 minggu kemudian akan timbul indurasi dan 16 kemerahan di tempat suntikan yang berubah menjadi pustula, kemudian pecah menjadi luka. Luka tidak perlu pengobatan, akan sembuh secara spontan dan meninggalkan tanda parut.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Kadang-kadang terjadi pembesaran kelenjar regional di ketiak dan atau leher,
terasa padat, tidak sakit, dan tidak menimbulkan demam. Reaksi ini normal, tidak memerlukan pengobatan, dan akan menghilang dengan sendirinya (Ditjen PP & PL Depkes RI, 2005).
2.4.3 Imunisasi DPT/HB
Imunisasi DPT gunanya untuk pemberian kekebalan secara simultan terhadap difteri, pertusis, dan tetanus (Ditjen PP & PL Depkes RI, 2005).
Imunisasi DPT/HB adalah imunisasi yang diberikan untuk mencegah terjadinya penyakit difteri, pertusi, dan tetanus. Serta penyakit hepatitis. Pemeberian imunisasi dan usia pemeberian, imunisasi DPT/HB diberikan sebanyak 3 kali yaitu pada usia 2 bulan untuk dosis pertama, dosis selanjutnya dengan interval minimal 4 minggu. Sehingga pada bulan ke 3 dan bulan ke 4, cara pemberian:
disuntikkan melalui intramuskuler (IM). Efek samping imunisasi ini biasanya hanya demam dan rewel selama 1-2 hari, kemerahan, pembengkakan, agak nyeri atau pegal-pegal pada daerah penyuntikan yang akan hilang sendiri dalam beberapa hari. Bila demam dapat diberikan pada bayi yang sedang demam, mudah kejang, dan menderita infeksi otak.
1. Cara Pemberian dan Dosis
Sebelum digunakan vaksin harus dikocok terlebih dahulu agar suspensi menjadi homogen. Disuntikkan secara intramuskuler dengan dosis pemberian 0,5 ml sebanyak 3 dosis. Dosis pertama diberikan pada umur 2 bulan, dosis selanjutnya diberikan dengan interval paling cepat 4 minggu (1 bulan). Di unit
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
pelayanan statis, vaksin DPT yang telah dibuka hanya boleh digunakan selama 4 minggu, dengan ketentuan :
a. Vaksin belum kadaluwarsa
b. Vaksin disimpan dalam suhu 20C – 80C c. Tidak pernah terendam air
d. Sterilitasnya terjaga Sedangkan di posyandu, vaksin yang
sudah terbuka tidak boleh digunakan lagi untuk hari berikutnya (Ditjen PP & PL Depkes RI, 2005).
2. Kontraindikasi
Gejala-gejala keabnormalan otak periode bayi baru lahir atau gejala serius keabnormalan pada saraf merupakan kontraindikasi pertusis. Anak yang mengalami gejala-gejala parah pada dosis pertama, komponen pertusis harus dihindarkan pada dosis kedua, dan untuk meneruskan imunisasinya dapat diberikan
DT (Ditjen PP & PL Depkes RI, 2005).
3. Efek Samping
Gejala-gejala yang bersifat sementara seperti lemas, demam, kemerahan pada tempat suntikan. Kadang-kadang terjadi gejala berat seperti demam tinggi,iritabilitas, dan meracau yang biasanya terjadi 24 jam setelah imunisasi (Ditjen PP & PL Depkes RI, 2005).
2.4.4 Imunisasi Polio
Vaksin oral polio hidup adalah vaksin polio trivalent yang terdiri dari suspensi virus poliomyelitis tipe 1, 2, dan 3 (strain sabin) yang sudah dilemahkan,
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
dibuat dalam biakan jaringan ginjal kera dan distabilkan dengan sukrosa.
Imunisasi polio ini memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit poliomyelitis (Ditjen PP & PL Depkes RI, 2005).
Imunisasi polio adalah imunisasi yang diberikan untuk menimbulkan kekebalan terhadap penyakit poliomielitis, yaitu penyakit radang yang menyerang saraf dan dapat mengakibatkan kelumpuhan. Waktu pemberian adalah pada bayi usia 0-11 bulan, namun biasanya pemberian vaksin diberikan pada bulan 1-4 bulan bersama dengan imunisasi BCG d bulan pertama dan imunisasi DPT/HB di bulan selanjutnya (2,3,4). Cara pemberian imunisasi polio melalui oral/mulut 1 dosis adalah sebanyak 2 tetes sebanyak 4 kali (dosis) dengan interval dosis minimal 4 minggu
1. Cara Pemberian dan Dosis
Diberikan secara oral (melalui mulut), 1 dosis adalah 2 tetes sebanyak 4 kali(dosis) pemberian, dengan interval setiap dosis minimal 4 minggu. Setiap membuka vial baru harus menggunakan penetes (dropper) yang baru. Di unit pelayanan statis polio yang telah dibuka, hanya boleh digunakan selama 2 minggu dengan ketentuan :
a. Vaksin belum kadaluwarsa
b. Vaksin disimpan dalam suhu +20C - +80C c. Tidak pernah terendam air
d. Sterilitasnya terjaga Sedangkan di posyandu, vaksin yang sudah terbuka tidak boleh digunakan lagi untuk hari berikutnya
(Ditjen PP & PL Depkes RI, 2005).
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2. Kontraindikasi
Pada individu yang menderita “immune deficiency” tidak ada efek yang berbahaya yang timbul akibat pemberian polio pada anak yang sedang sakit.
Namun jika ada keraguan, misalnya sedang menderita diare, maka dosis ulangan dapat diberikan setelah sembuh (Ditjen PP & PL Depkes RI, 2005).
3. Efek Samping
Pada umumnya tidak terdapat efek samping berupa paralisis yang disebabkan oleh vaksin sangat jarang terjadi (Ditjen PP & PL Depkes RI, 2005).
2.4.5 Imunisasi Campak
Vaksin campak merupakan vaksin virus hidup yang dilemahkan. Setiap dosis (0,5 ml) mengandung tidak kurang dari 1000 infective unit virus strain CAM 70 dan tidak lebih dari 100 mcg residu canamycindan 30 mcg residu erythromycin. Imunisasi campak ini untuk pemberian kekebalan aktif terhadap penyakit campak (Ditjen PP & PL Depkes RI, 2005).
Imunisasi campak adalah imunisasi yang diberikan untuk mencegah penyakit campak pada anak karena penyakit ini sangat menular pemberian imunisasi dan usia pemberian, frekuensi pemberian imunisasi campak adalah 1 kali dan diberikan pada usia bayi 9 bulan. Dan diberikan ulangan (booster) pada usia 6-7 tahun, cara pemberian adalah melalui suntikan subkutan, efek samping imunisasi, jarang terjadi reaksi akibat imunisasi, namun kadang terjadi demam ringan dan efek kemerahan atau bercak merah pada pipi dibawah telinga pada hari ke 7-8 setelah penyuntikan. Kontraindikasi imunisasi campak, adalah infeksi akut yang disertai demam dan kekurangan gizi berat
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
1. Cara Pemberian dan Dosis
Sebelum disuntikkan, vaksin campak terlebih dahulu harus dilarutkan dengan pelarut steril yang telah tersedia yang berisi 5 ml cairan pelarut. Dosis pemberian 0,5 ml disuntikkan secara subkutan pada lengan kiri atas, pada usia 9-
11 bulan dan ulangan (booster) pada usia 6-7 tahun (kelas 1 SD) setelah catch-up campaign campak pada Anak Sekolah Dasar kelas 16
(Ditjen PP & PL Depkes RI, 2005).
2. Kontraindikasi
Individu yang mengidap penyakit immune deficiency atau individu yang diduga menderita gangguan respon imun karena leukemia, lymphoma (Ditjen PP & PL Depkes RI, 2005).
3. Efek Samping
Hingga 15 % pasien dapat mengalami demam ringan dan kemerahan
selama 3 hari yang dapat terjadi 8-12 hari setelah divaksinasi (Ditjen PP & PL Depkes RI, 2005). Walaupun dilaporkan ada beberapa variasi
temuan, efek samping vaksin campak hidup (tunggal atau gabungan) umumnya adalah ringan dan terbatas untuk anakanak yang rentan. Dengan menggunakan vaksin virus hidup yang dilemahkan, maka reaksi efek samping yang timbul kurang dibandingkan dengan virus mati. Tetapi sekitar 5-15% anak yang mendapat imunisasi akan mengalami demam tinggi sampai 39,40C. Suhu tubuh umumnya meningkat pada hari ke-7 sampai hari ke-12 sesudah imunisasi dan lamanya 1-2 hari.Tetapi panas yang timbul dirasakan tidak mengganggu anak. Kadang kadang dapat terjadi kejang-demam. Ruam pada
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
kulit muncul sekitar 5% anak yang mendapat imunisasi, biasanya terjadi pada hari ke-7 sampai hari ke-10 sesudah mendapat imunisasi dan lamanya sekitar 2 hari. Efek samping imunisasi ulang umumnya lebih ringan dan jarang terjadi dibandingkan dengan imunisasi pertama, karena anak sudah mendapat dosis pertama maka ia sudah imun, sehingga pada imunisasi kedua virus vaksin tidak dapat bereplikasi. Efek ikutan imunisasi kedua lebih sering terjadi bila diberikan pada umur 10-12 tahun dibandingkan dengan bila diberikan umur 4- 6 tahun. Gejala ikutan yang terjadi 1 bulan sesudah imunisasi pada anak yang berumur 10-12 tahun sangat jarang 22 terjadi (1,7/1000), yang paling sering berupa munculnya ruam pada kulit dan nyeri sendi (Setiawan, 2008).
2.5 Jadwal Imunisasi Tabel 2.3 Tabel Imunisasi.
Vaksin Pemberian imunisasi
Selang waktu
pemberian Umur
BCG 1x 0-11 bulan
DPT 3x(DPT 1,2,3) 4 minggu 2-11 bulan
Polio 4x
(Polio 1,2,3) 4 minggu 0-11 bulan
Hepatitis B 4x
(Polio 1,2,3) 4 minggu 9-11 bulan
Campak 1x 0-11 bulan
2.6 Faktor yang Mempengaruhi Kelengkapan Imunisasi
Menurut Notoatmodjo (2007) terdapat teori yang mengungkapkan determinan perilaku berdasarkan analisis dari faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku khususnya perilaku kesehatan. Diantara teori tersebut adalah teori Lawrence Green (1980), yang menyatakan bahwa perilaku seseorang ditentukan oleh tiga faktor, yaitu : 1 Faktor Pemudah (Presdiposing Factors) Faktor-faktor
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
ini mencakup tingkat pendidikan ibu, pengetahuan ibu,pekerjaan ibu, pendapatan keluarga, jumlah anak, dan dukungan dari pihak keluarga. 2. Faktor Pendukung (enabling) perilaku adalah fasilitas, sarana dan prasarana atau sumber daya ataufasilitas kesehatan yang memfasilitasi terjadinya perilaku seseorang atau masyarakat, termasuk juga fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas, posyandu, polindes, pos obat desa, dokter atau bidan swasta dan sebagainya, serta kelengkapan alat imunisasi, uang, waktu, tenaga dan sebagainya. 3. Faktor Penguat (reinforcing) meliputi faktor sikap dan perilaku para petugas termasuk petugas kesehatan.
1. Tingkat Pendidikan Ibu Bayi
Ada pengaruh tingkat pendidikan terhadap penggunaan fasilitas pelayanan kesehatan. Bahwa penggunaan posyandu dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dapat membuat orang menjadi berpandangan lebih luas berfikir dan bertindak secara rasional sehingga latar belakang pendidikan seseorang dapat mempengaruhi penggunaan pelayanan kesehatan (Notoatmodjo, 2007).
Pendidikan terjadi melalui kegiatan atau proses belajar yang dapat terjadi dimana saja, kapan saja, dan oleh siapa saja. Kegiatan belajar mempunyai ciri- ciri: belajar adalah kegiatan yang menghasilkan perubahan pada diri individu, kelompok, atau masyarakat yang sedang belajar, baik aktual maupun potensial.
Ciri kedua dari hasil belajar bahwa perubahan tersebut di dapatkan karena kemampuan baru yang berlaku untuk waktu yang relatif lama. Ciri yang ketiga adalah bahwa perubahan itu terjadi karena usaha, dan didasari bukan karena kebetulan (Notoatmodjo, 2007). Pada umumnya semakin tinggi pendidikan
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
seseorang maka akan semakin baik pula tingkat pengetahuannya. Ibu dengan pendidikan yang relatif tinggi cenderung memiliki kemampuan untuk menggunakan sumber daya keluarga yang lebih baik dibandingkan dengan ibu yang berpendidikan rendah, karena pengetahuan makanan yang bergizi sering kurang dipahami oleh ibu yang tingkat pendidikannya rendah, sehingga memberi dampak dalam mengakses pengetahuan khususnya dibidang kesehatan untuk penerapan dalam kehidupan keluarga terutama pada pengasuh anak balita (Notoatmodjo, 2007).
Pendidikan adalah proses seseorang mengembangkan kemampuan, sikap, dan bentuk-bentuk tingkah laku manusia di dalam masyarakat tempat ia hidup, proses sosial, yakni orang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol (khususnya yang datang dari sekolah), sehingga dia dapat memperoleh atau mengalami perkembangan kemampuan sosial, dan kemampuan individu yang optimal (Munib, dkk, 2006).
Wanita sangat berperan dalam pendidikan di dalam rumah tangga. Mereka menanamkan kebiasaan dan menjadi panutan bagi generasi yang akan datang tentang perlakuan terhadap lingkungannya. Dengan demikian, wanita ikut menentukan kualitas lingkungan hidup ini. Untuk dapat melaksanakan pendidikan ini dengan baik, para wanita juga perlu berpendidikan baik formal maupun tidak formal. Akan tetapi pada kenyataan taraf, pendidikan wanita masih jauh lebih rendah daripada kaum pria. Seseorang ibu dapat memelihara dan mendidik anaknya dengan baik apabila ia sendiri berpendidikan (Slamet, 2000).
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2. Tingkat Pengetahuan Ibu Bayi
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan itu terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu obyek tertentu. Pengindraan terjadi melalui pancaindra manusia, yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (over behavior). Sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), di dalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni : awareness (kesadaran), interest (tertarik), evaluation (menimbang nimbang baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya). Trial (orang telah mulai mencoba prilaku baru), adoption (subyek telah berperilaku
sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus) (Notoatmodjo, 2007).
Pengetahuan diperoleh dari pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain. Seseorang ibu akan mengimunisasikan anaknya setelah melihat anak tetangganya kena penyakit polio sehingga cacat karena anak tersebut belum pernah memperoleh imunisasi polio. Pengetahuan merupakan hasil dari tahu setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.
Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia yaitu penglihatan, pendengaran penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia dipengaruhi dari mata (penglihatan) dan telinga (pendengaran) (Notoatmodjo, 2010).
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
3. Status Pekerjaan Ibu Bayi
Pekerjaan menurut kamus besar Bahasa Indonesia adalah mata pencaharian, apa yang dijadikan pokok kehidupan, sesuatu yang dilakukan untuk mendapatkan nafkah (Anoraga, 2005).
Ibu yang bekerja mempunyai waktu kerja sama seperti dengan pekerja lainnya. Adapun waktu kerja bagi pekerja yang dikerjakan yaitu waktu siang 7 jam satu hari dan 40jam satu minggu untuk 6 hari kerja dalam satu minggu, atau dengan 8 jam satu hari dan 40 jam satu minggu untuk 5 hari kerja dalam satu minggu. Sedangkan waktu malam hari yaitu 6 jam satu hari dan 35 jam satu minggu untuk 6 hari kerja dalam 1 minggu (Anoraga, 2005).
Bertambah luasnya lapangan kerja, semakin mendorong banyaknya kaum wanita yang bekerja, terutama di sektor swasta. Di satu sisi berdampak positif bagi pertambahan pendapatan, namun di sisi lain berdampak negatif terhadap pembinaan dan pemeliharaan anak (Anoraga, 2005).
Hubungan antara pekerjaan ibu dengan kelengkapan imunisasi dasar bayi adalah jika ibu bekerja untuk mencari nafkah maka akan berkurang kesempatan waktu dan perhatian untuk membawa bayinya ke tempat pelayanan imunisasi, sehingga akan mengakibatkan bayinya tidak mendapatkan pelayanan imunisasi.
4. Dukungan Keluarga
Dukungan sosial secara psikologis dipandang sebagai hal yang kompleks.
Wortman dan Dunkell-Scheffer (1987) mengidentifikasikan beberapa jenis dukungan yang meliputi ekspresi perasaan positif, termasuk menunjukkan bahwa seseorang diperlukan dengan rasa penghargaan yang tinggi, ekspresi persetujuan
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
dengan atau pemberitahuan tentang ketepatan keyakinan dan perasaan seseorang.
Ajakan untuk membuka diri dan mendiskusikan keyakinan dan sumber-sumber juga merupakan bentuk dukungan sosial (Abraham, 1997).
Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu perbuatan yang nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas. Sikap ibu yang positif terhadap imunisasi harus mendapat konfirmasi dari suaminya dan ada fasilitas imunisasi yang mudah dicapai, agar ibu tersebut mengimunisasi anaknya. Disamping faktor fasilitas, juga diperlukan dukungan/support dari pihak lain, misalnya suami/istri/orangtua/mertua.
5. Sikap Petugas Kesehatan
Petugas Kesehatan adalah semua orang yang memiliki potensi dan berperan dalam bidang pelayanan kesehatan melalui pengetahuan dan keterampilan yang mereka miliki dengan tujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat serta memiliki kewenangan dalam menjalankan pelayanan kessehatan. Sedangkan sikap merupakan reaksi atau proses seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap tidak dapat dilihat langsung tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesusaian reaksi terhadap stimulus tertentu. Dalam kehidupan sehari-hari adalah merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus emosional (Notoatmojo, 2012).
Sikap merupakan reaksi internal seseorang yang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Semakin bagus sikap pelayanan kesehatan yang diberikan oleh tenaga kesehatan maka hal ini akan berdampak pada semakin meningkatnya derajat
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
kesehatan, begitu juga dengan imunisasi, semakin bagus pelayanan imunisasi yang didapatkan oleh orang tua dan bayi maka semakin besar cakupan pemberian imunisasi dasar lengkap (Triana, 2016).
2.7 Kerangka Konsep
Variabel Independen Variabel Dependen
2.8 Hipotesis Penelitian
2.8 Hipotesis Penelitian
Hipotesis penelitian ini meliputi:
1. Ada pengaruh pendidikan ibu dengan imunisasi dasar lengkap pada bayi di Wilayah Kerja Puskesmas Pining Kecamatan Pining Kabupaten Gayo Lues pada tahun 2018.
2. Ada pengaruh pengetahuan ibu dengan imunisasi dasar lengkap pada bayi Wilayah Kerja Puskesmas Pining Kecamatan Pining Kabupaten Gayo Lues pada tahun 2018.
- Karakteristik Ibu o Pendidikan ibu o Status pekerjaan ibu o Pengetahuan ibu - Dukungan Anggota dalam
Keluarga Kelengkapan imunisasi
dasar pada bayi
Sikap Petugas Kesehatan
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
3. Ada pengaruh status pekerjaan ibu dengan imunisasi dasar lengkap pada bayi Wilayah Kerja Puskesmas Pining Kecamatan Pining Kabupaten Gayo Lues pada tahun 2018.
4. Ada pengaruh dukungan anggota keluarga dengan imunisasi dasar lengkap pada bayi Wilayah Kerja Puskesmas Pining Kecamatan Pining Kabupaten Gayo Lues pada tahun 2018.
5. Ada pengaruh sikap petugas kesehatan dengan imunisasi dasar lengkap pada bayi Wilayah Kerja Puskesmas Pining Kecamatan Pining Kabupaten Gayo Lues pada tahun 2018.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
30 BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian Deskriptif analitik dengan rancangan Cross Sectional yaitu untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi cakupan imunisasi dasar lengkap pada bayi di wilayah kerja Puskesmas Pining Kecamatan Pining Kabupaten Gayo Lues.
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 3.2.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Pining Kecamatan Pining Kabupaten Gayo Lues. Pemilihan lokasi ini didasarkan atas pertimbangan cakupan imunisasi dasar di Wilayah Kerja Puskesmas Pining Kecamatan Pining Kabupaten Gayo Lues tahun 2018dengan cakupan imunisasi lengkap masih rendah yaitu 64,41% dan lokasi ini belum pernah dilakukan penelitian mengenai kelengkapan imunisasi dasar pada bayi tahun 2018.
3.2.2 Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan sejak Januari 2018 sampai dengan proses penelitian hingga selesai.
3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi penelitian
Dalam penelitian ini yang di jadikan populasi kasus adalah ibu yang mempunyai bayi yang mencapai umur 12 bulan yang bertempat tinggal di wilayah
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
kerja Puskesmas Pining, menurut catatan wilayah kerja Puskesmas Pining berjumlah 68 orang.
3.3.2 Sampel Penelitian
Pengambilan sampel dilakukan dengan cara total populasi. Total populasi adalah semua populasi di jadikan sebagai sampel yaitu sebanyak 68 orang.
Sampelpenelitian diambil dengan menggunakan dan mempertimbangkan kriteria inklusi dan eksklusi. Kriteria inklusi merupakan kriteria dimana subjek penelitian mewakili sampel penelitian yang memenuhi syarat sebagai sampel . Kriteria inklusi dalam penelitian ini yakni sebagai berikut
1. Anak bayi (0-12 bulan) yang datang berkunjung dan terdaftar di wilayah kerja
Puskesmas Pining Kecamatan Pining Kabupaten Gayo Lues.
2. Anak bayi yang memiliki KMS (Kartu Menuju Sehat)
3. Anak bayi yang bertempat tinggal di wilayah kerja Puskesmas Pining
4. Ibu bayi yang bersedia menjadi responden penelitian 3.4 Metode Pengumpulan Data
3.4.1 Data Primer
Data primer adalah pengumpulan data yang dilakukan secara langsung pada lokasi penelitian. Pengumpulan data primer dapat dilakukan dengan cara wawancara langsung dengan responden dengan berpedoman dengan kuesioner penelitian yang telah disiapkan sebelumnya kelengkapan imunisasi dasar lengkap pada bayi. Data ini dapat diperoleh dengan menggunakan metode:
a. Kuesioner
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Kuesioner merupakan alat teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan atau pertanyaan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang efisien bila penelitian tahu pasti variabel yang akan diukur dan tahu apa yang bisa diharapkan dari responden (Iskandar,2008).
3.4.2 Data Sekunder
Data sekunder yang diperlukan diperoleh dari wilayah kerja Puskesmas Pining Kecamatan Pining Kabupaten Gayo Lues, data sekunder yang dikumpulkan berkaitan dengan tujuan penelitian seperti data jumlah ibu yang memiliki bayi usia 0-12 bulan diseluruh wilayah kerja Puskesmas Pining, jumlah bayi di wiliayah kerja Puskesmas Pining, jumlah bayi yang di imunisasi, dan batasan wilayah penelitian, dan lain-lain diperoleh dari Profil Puskesmas Kecamatan Pining, catatan bulanan di Puskesmas Pining serta catatan yang diperoleh dari Posyandu antar desa.
3.5 Variabel dan Definisi Operasional 3.5.1 Variabel Penelitian
1. Variabel Bebas
Variabel bebas atau disebut sebagai variabel independen adalah variabel yang memengaruhi atau yang menjadi sebab timbulnya atau berubahnya variabel yang dipengaruhi (Sugiyono, 2007). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pendidikan ibu, pengetahuan ibu, status pekerjaan ibu, dukungan anggota keluarga dan sikap petugas kesehatan.
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2. Variabel Terikat
Variabel terikat atau disebut sebagai variabel dependen merupakan variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2007) dalam penelitian ini yang menjadi variabel terikat adalah kelengkapan imunisasi dasar pada bayi.
3.5.2 Definisi Operasional
1. Tingkat pendidikan ibu bayi adalah jenjang sekolah tertinggi yang di tamat kan ibu.
2. Tingkat pengetahuan ibu adalah kemampuan ibu untuk menjawab pertanyaan tentang imunisasi dasar.
3. Status pekerjaan ibu bayi adalah kegiatan yang dilakukan ibu sehari-hari dalam mencari nafkah untuk mendapatkan uang ataupun untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
4. Dukungan anggota keluarga terhadap imunisasi adalah peran keluarga yang diberikan terhadap ibu bayi menganjurkan, mengingatkan, dan mengantarkan ke tempat pelayanan imunisasi
5. Sikap petugas kesehatan adalah sikap yang dilakukan petugas kesehatan kepada masyarakat dalam pelayanan imunisasi. Petugas kesehatan adalah semua orang yang memiliki potensi dan berperan dalam bidang kesehatan melalui pengetahuan dan keterampilan yang mereka miliki dengan tujuan meningkatkan derajat kesehatan dan memiliki kewenangan dalam menjalankan pelayanan kesehatan, contohnya: perawat, bidan dan dokter (Medis).
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
6. Kelengkapan imunisasi dasar adalah kelengkapan imunisasi dasar yang diberikan pada bayi ≤ 12 bulan yang dibedakan atas imunisasi lengkap atau imunisasi tidak lengkap.Imunisasi dasar lengkap di katakana lengkap apabila telah melakukan HB0 pada umur(0-7 hari), BCG (1 Bulan), DPT (2 Bulan, 3 Bulan, 4 Bulan), Polio (1 Bulan, 2 Bulan, 3 Bulan, 4 Bulan), dan Campak (9 Bulan). Apabila dikatakan tidak lengkap jika salah satu atau beberapa imunisasi tidak dilaksanakan dan tidak tepat waktu.
3.6 Aspek Pengukuran
Tabel3.1 metode pengukuran variable independen No Variable
independen
Pertany aan
Katrgori jawaban
Bobot nilai
Kriteria Skor Skala ukur 1 Pendidikan
Ibu
Rendah Tinggi
Ordinal
2 Status
PekerjaanIbu
Bekerja Tidak Bekerja
Ordinal
3 PengetahuanI bu
18 1. Tahu 2.
TidakTa hu
1 0
Baik TidakBaik
10-18 0-9
Interval
4 DukunganAn ggotadalamK eluarga
7 1.Ya
2. Tidak 1 0
Baik TidakBaik
4-7 0-3
Interval
5 SikapPetugas Kesehatan
7 1. Ya 2. Tidak
1 0
Baik TidakBaik
4-7 0-3
Interval
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Tabel 3.2 metode pengukuran variable dependen No Variabel
dependen
Pertanyaan Kategori jawaban
Bobot nilai
Kriteria skor Skala ukur 1 Kelengkapan
imunisasi
10 1. Lengkap 2. Tidak
lengkap 1 0
1. Lengkap 2. Tidak
lengkap
6-10 0-5
Interval
3.7 Metode Analisis Data
Analisa data berfungsi untuk meringkas atau mengklarifikasi, dan menyajikan data yang merupakan langkah awal dari analisis lebih lanjut dalam penggunaan uji statistik (Hidayat, 2011). Dalam proses menganalisis data terlebih dahulu melalui tahap pengolahan data.
3.7.1 Pengolahan Data
1. Editing adalah upaya memeriksa kembali kebenaran data yang diperoleh atau dikumpulkan. Editing dapat dilakukan pada tahap pengumpulan data atau setelah data terkumpul.
2. Coding adalah suatu usaha memeberikan kode/menandai jawaban-jawaban responden atas pertanyaan yang ada pada kuisioner yang nantinya akan memudahkan proses dengan komputer.
3. Data Entry adalah kegiatan memasukkan data yang telah dikumpulkan melalui pengolahan komputer dengan menggunakan program SPSS (Statistical Product and Service Solution).
4. Cleaning data adalah pemeriksaan semua data yang telah dimasukan kedalam computer guna menghindari terjadinya kesalahan dalam pemasukan data dan telah sesuai dengan yang sebenarnya
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
5. 3.7.2 Analisis Univariat
Analisis univariat dilakukan untuk mendeskripsikan hasil distribusi frekuensi dan persentase dari masing-masing variabel independen (pendidikan ibu, pengetahuan ibu, status pekerjaan ibu, dukungan anggota keluarga, sikap petugas kesehatan) dan variabel dependen ( kelengkapan imunisasi dasar) sesuai dengan tujuan penelitian.
3.7.3 Analisis Bivariat
Analisis Bivariat digunakan untuk mengetahui hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen, sehingga dapat diketahui hubungan antara pendidikan ibu, pengetahuan ibu, status pekerjaan ibu, dukungan anggota keluarga, sikap petugas kesehatan dan kelengkapan imunisasi dasar pada bayi.
Analisa yang digunakan adalah hasil tabulasi silang. Untuk menguji hipotesa dilakukan uji statistik dengan menggunakan uji data kategori Chi-Square Test pada tingkat kepercayaan 95% (α = 0,05), sehingga apabila ditemukan hasil analisis statistik p < 0,05 maka variabel tersebut dinyatakan berhubungan secara signifikan dan data yang diperoleh dengan menggunakan SPSS (Statistical Product and Service Solution).
3.7.4 Analisis Multivariat
Analisis multivariat digunakan untuk mengetahui pengaruh lebih dari satu variabel independen dengan satu variabel dependen. Dalam penelitian ini teknik analisis data yang digunakan adalah dengan regresi logistik. Uji regresi logistik dipakai untuk mengetahui faktor yang paling dominan mempengaruhi variabel terikat (Saryono, 2008).
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
37 BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 HASIL PENELITIAN
4.1.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian 4.1.1.1 Wilayah Kerja Puskesmas Pining
Puskesmas Pining terletak di Jalan Ladia Galaska Pining Kecamatan Pining. Puskesmas Pining mempunyai wilayah kerja seluas 135 Ha. Wilayah kerja Puskesmas Pining terdiri atas 5 desa, yaitu:
a. Desa Pining b. Desa Pertik c. Desa Ekan d. Desa Pasir Putih e. Desa Lesten
Batas wilayah kerja Puskesmas Pining adalah sebagai berikut:
a. Sebelah Utara: Kecamatan Rikit Gaib b. Sebelah Selatan: Kecamatan Aceh Tamiang c. Sebelah Barat: Kecamatan Dabun Gelang d. Sebelah Timur: Kecamatan Aceh Timur
Wilayah kerja Puskesmas Pining memiliki 5 posyandu, disetiap desa memiliki satu posyandu desa pining terdapat posyandu mawar, desa pertik terdapat posyandu melati, desa ekan terdapat posyandu anggrek, desa pasir putih terdapat posyandu delima, desa lesten terdapat posyandu matahri. Visi dari puskesmas pining adalah masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat dan misi dari puskesmas pining adalah membuat rakyat sehat
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA