BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisa yang diperoleh dalam penelitian ini, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Faktor yang melatarbelakangi para partisipan menjadi gay adalah beragam. Faktor yang menyebabkan partisipan pertama (Rudi) menjadi gay adalah pengalaman gay di masa lalu. Faktor yang menyebabkan partisipan kedua (Hadi) menjadi gay adalah pengalaman gay di masa lalu. Faktor yang menyebabkan partisipan ketiga (Willy) menjadi gay adalah herediter. 2. Religiusitas pada ketiga partisipan :
a. Partisipan I (Rudi)
Rudi sudah mendapatkan pengetahuan tentang keesaan Allah SWT dan ajaran Islam sejak ia kecil. Hal ini yang membuat hingga kini Rudi sangat meyakini keberadaan Allah SWT dan kebenaran agama Islam. Ia juga sudah memiliki pengetahuan tentang gay dalam Islam. Namun ia belum mengetahui bahwa yang menimbulkan dosa itu bukanlah orientasi sebagai gay, melainkan apabila orientasi tersebut
dilanjutkan ke dalam bentuk perilaku seksual sesama jenis. Yang ia ketahui masih sebatas bahwa yang namanya gay itu pasti berdosa. Namun meskipun begitu, ternyata tidak melunturkan keyakinan dan keinginannya untuk dekat dengan Allah SWT, karena ia menganggap bahwa keadaannya sebagai gay merupakan cobaan dari Allah SWT yang harus ia jalani dan sebisa mungkin ia menjauhi perilaku seksual kaum gay. Karena keyakinannya yang tinggi kepada Allah SWT, pengetahuannya akan kewajiban-kewajiban dalam agama Islam, dan anggapannya bahwa keadaannya sebagai gay merupakan cobaan, maka ia tetap mau menjalankan ibadah dan berusaha untuk terus meningkatkan ibadah, karena menurutnya dengan beribadah ia akan memperoleh ketenangan dan meredam kesedihan terkait orientasinya sebagai gay. Keadaannya sebagai gay juga tidak menghalanginya untuk mengamalkan perbuatan-perbuatan baik. Justru hal tersebut semakin membuatnya ingin menolong orang yang membutuhkan. Ia ingin menolong orang lain karena ia tahu bagaimana rasanya membutuhkan pertolongan. Dengan tetap menjalankan ibadah, dan mengamalkan perbuatan baik meskipun ia gay, maka Rudipun tetap bisa merasakan pengalaman-pengalaman kedekatan dengan Allah SWT seperti perasaan tenang setelah beribadah dan perasaan senang setelah menolong orang lain, dan pengalaman lainnya. Dengan adanya pengalaman-pengalaman berupa perasaan tenang setelah menjalankan ibadah akhirnya juga membuat dirinya bertahan untuk tetap
176
menjalankan ibadah tersebut. Intinya adalah meskipun dirinya seorang gay, namun adanya pengetahuan yang baik tentang Allah SWT dan agama Islam yang kemudian menyebabkan keyakinan yang tinggi pula terhadap Allah SWT dan agama Islam serta penilaian bahwa orientasi sebagai gay merupakan cobaan dari Allah SWT, membuat Rudi akhirnya memutuskan untuk tidak menjauhi Allah SWT dan agama Islam melainkan ingin tetap dekat dengan Allah SWT, yang tujuannya adalah agar memperoleh ketenangan dalam menjalani hidup sebagai gay. Hal lain yang didapat dari uraian tentang Rudi ini adalah bahwa selain dimensi religiusitas itu sendiri tenyata ada faktor lain yang membuatnya tetap ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT dan agama Islam, yaitu faktor penilaian terhadap orientasi sebagai gay itu sendiri, yang dalam kasus Rudi adalah menganggapnya sebagai cobaan yang harus dijalani.
b. Partisipan II (Hadi)
Hadi sudah mendapatkan pengetahuan tentang keesaan Allah SWT dan ajaran Islam sejak ia kecil, yaitu dari sekolah dan ditambah juga dari orang tuanya yang tergolong sangat taat beragama. Hal ini yang membuat hingga kini Hadi sangat meyakini keberadaan Allah SWT dan kebenaran agama Islam. Ia juga sudah memiliki pengetahuan tentang gay dalam Islam. Namun ia belum mengetahui bahwa yang menimbulkan dosa itu bukanlah orientasi sebagai gay, melainkan
apabila orientasi tersebut dilanjutkan ke dalam bentuk perilaku seksual sesama jenis. Yang ia ketahui masih sebatas bahwa yang namanya gay itu pasti berdosa apalagi sampai melakukan perilaku seksualnya. Namun meskipun tahu, Hadi tetap belum bisa meninggalkan perilaku seksual gay. Namun bagaimanapun juga, hal itu tidak melunturkan keyakinan dan keinginannya untuk dekat dengan Allah SWT, karena ia menganggap bahwa keadaannya sebagai gay merupakan cobaan dari Allah SWT dan kehidupan sebagai gay bisa berjalan bersamaan dengan kehidupan beragama.Karena keyakinannya yang tinggi kepada Allah SWT, pengetahuannya akan kewajiban-kewajiban dalam agama Islam, dan anggapannya bahwa keadaannya sebagai gay merupakan cobaan dan bisa berjalan bersamaan dengan kehidupan agama, maka ia tetap mau menjalankan ibadah meskipun semakin dewasa intensitasnya semakin menurun yang disebabkan karena faktor malas dan kesibukan. Ia tetap mau menjalankan ibadah karena menurutnya dengan beribadah maka ia bisa terhindar dari pikiran dan keinginan yang negatif. Keadaannya sebagai gay juga tidak menghalanginya untuk tetap mengamalkan perbuatan-perbuatan baik karena pada dasarnya Hadi memang merupakan orang yang baik hati. Dengan tetap menjalankan ibadah, dan mengamalkan perbuatan baik meskipun ia gay, maka Hadipun tetap bisa merasakan pengalaman-pengalaman kedekatan dengan Allah SWT seperti perasaan tenang setelah beribadah dan perasaan senang setelah menolong orang lain, dan pengalaman lainnya.
178
Dengan adanya pengalaman-pengalaman berupa perasaan tenang setelah menjalankan ibadah akhirnya juga membuat dirinya bertahan untuk tetap menjalankan ibadah tersebut. Intinya adalah meskipun dirinya seorang gay, namun adanya pengetahuan yang baik tentang Allah SWT dan agama Islam yang kemudian menyebabkan keyakinan yang tinggi pula terhadap Allah SWT dan agama Islam serta penilaian bahwa orientasi sebagai gay merupakan cobaan dari Allah SWT dan tetap dapat berjalan bersamaan dengan kehidupan beragama, membuat Hadi tidak menjauhi Allah SWT dan agama Islam melainkan ingin tetap dekat dengan Allah SWT, meskipun usaha untuk mendekatkan diri tersebut bisa dikatakan belum maksimal. Namun yang penting tujuannya adalah agar memperoleh ketenangan dalam menjalani hidup sebagai gay. Hal lain yang didapat dari uraian tentang Hadi ini adalah adalah bahwa selain dimensi religiusitas itu sendiri tenyata ada faktor lain yang membuatnya tetap ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT dan agama Islam meskipun dengan usaha yang belum maksimal, yaitu faktor penilaian terhadap orientasi sebagai gay itu sendiri, yang dalam kasus Hadi adalah menganggapnya sebagai cobaan yang harus dijalani, dan menggap bahwa hal itu bisa berjalan bersamaan dengan kehidupan beragama.
c. Partisipan III (Willy)
Willy sudah mendapatkan pengetahuan tentang keesaan Allah SWT dan ajaran Islam sejak ia kecil dari sekolah dan ditambah juga dari orang tuanya. Hal ini yang membuat hingga kini Willy sangat meyakini keberadaan Allah SWT dan kebenaran agama Islam. Willy juga sudah memiliki pengetahuan yang benar tentang bagaimana gay dipandang dalam Islam, yaitu bahwa yang dianggap dosa itu bukanlah orientasinya melainkan perilaku seksual sesama jenisnya. Karena pengetahuannya itulah maka keadaannya sebagai gay tidak melunturkan keyakinan dan keinginannya untuk dekat dengan Allah SWT, karena ia menganggap bahwa keadaannya sebagai gay merupakan cobaan dari Allah SWT yang harus ia jalani dan tentunya sambil menjauhkan diri dari perilaku seksual tersebut. Dengan adanya keyakinan yang tinggi kepada Allah SWT, pengetahuan tentang bagaimana gay dipandang dalam Islam dan kewajiban-kewajiban dalam agama Islam, serta anggapan bahwa keadaannya sebagai gay merupakan cobaan, maka ia tetap mau menjalankan ibadah. Ia tetap mau menjalankan ibadah karena dengan beribadah ia bisa memperoleh ketenangan dan meredam kesedihan terkait orientasinya sebagai gay, dan jika dibandingkan dengan Rudi dan Hadi, ibadah Willylah yang paling baik. Keadaannya sebagai gay juga tidak menghalanginya untuk tetap mengamalkan perbuatan-perbuatan baik karena pada dasarnya Willy juga merupakan orang yang baik hati. Dengan tetap menjalankan
180
ibadah, dan mengamalkan perbuatan baik meskipun ia gay, maka Willypun tetap bisa merasakan pengalaman-pengalaman kedekatan dengan Allah SWT seperti perasaan tenang setelah beribadah dan perasaan senang setelah menolong orang lain, dan pengalaman lainnya. Dengan adanya pengalaman-pengalaman berupa perasaan tenang setelah menjalankan ibadah akhirnya juga membuat dirinya bertahan untuk tetap menjalankan ibadah tersebut. Intinya adalah meskipun dirinya seorang gay, namun adanya pengetahuan yang baik tentang Allah SWT, agama Islam, dan bagaimana gay dipandang dalam Islam yang kemudian menyebabkan keyakinan yang tinggi pula terhadap Allah SWT dan agama Islam serta penilaian bahwa orientasi sebagai gay merupakan cobaan dari Allah SWT, membuat Willy tidak menjauhi Allah SWT dan agama Islam melainkan ingin tetap dekat dengan Allah SWT. Tujuannya adalah agar memperoleh ketenangan dan pertolongan dalam menjalani hidup sebagai gay. Hal lain yang didapat dari uraian tentang Willy ini adalah adalah bahwa selain dimensi religiusitas itu sendiri tenyata ada faktor lain yang membuatnya tetap ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT dan agama Islam, yaitu faktor penilaian terhadap orientasi sebagai gay itu sendiri yaitu sebagai cobaan dari Allah SWT.