BAB V KESIMPULAN, SARAN DAN KELEMAHAN
A. Kesimpulan
diambil pun kurang tepat.
3) Intuisi yang salah
Menurut Suparno (2005), intuisi yang salah adalah
suatu perasaan dalam diri sesorang yang secara spontan
mengungkapkan sikap dan gagasannya tentang sesuatu
sebelum secara obyektif dan rasional diteliti. Miskonsepsi
17 kali dari 9 sampel. Sampel 3 banyak memiliki
miskonsepsi yang disebabkan oleh intuisi yang salah yaitu
sebanyak 5 kali.
Pada penelitian ini ditemukan bahwa sampel secara
spontan mengungkapkan gagasan bahwa :
a) zat alir selalu mengarah pada tekanan yang lebih
tinggi,
b) tabung berlubang yang tidak diisi air secara
terus-menerus akan lebih jauh memancarkan air daripada
yang diisi air secara terus-menerus karena ada
kecepatan air turun,
c) air dapat disedot karena memiliki tenaga yang
cukup,
d) volume dan berat fluida dapat berubah hanya jika
ditambah atau dikurangi jumlah fluidanya atau
dengan mengubah wadahnya,
e) gaya gravitasi dapat berkurang karena terhalang
oleh meja sehingga tekanan semakin kecil,
f) udara panas memiliki tekanan besar,
g) sesuatu yang ditekan oleh dua jenis fluida akan
mendapat tekanan lebih besar daripada yang ditekan
h) tekanan zat cair ada apabila ada benda di dalam zat
cair tersebut.
4) Pemikiran asosiatif mahasiswa.
Miskonsepsi yang disebabkan oleh pemikiran
asosiatif mahasiswa dialami sebanyak 11 kali dari 7 sampel.
Sampel 10 banyak memiliki miskonsepsi yang disebabkan
oleh pemikiran asosiatif mahasiswa yaitu sebanyak 3 kali.
Pada penelitian ditemukan bahwa mahasiswa
mengasosiasikan gaya dengan tekanan. Asosiasi ini
ditimbulkan karena selama ini mahasiswa mengerti gaya
sebagai suatu tarikan atau dorongan. Sedangkan tekanan
berarti kita memberikan dorongan. Maka, mahasiswa akan
mengasosiasikan gaya dengan tekanan. Asosiasi ini
cenderung akan menyebabkan kesalahan pada nomor 13
dan 15. Mahasiswa yang mengasosiasikan gaya dengan
tekanan akan menganggap bahwa pada saat kita menghisap
air dari gelas menggunakan sedotan, berarti kita melakukan
suatu tarikan yang berarti juga melakukan gaya. Gaya itulah
yang menyebabkan air bergerak naik ke atas.
Mengasosiasikan gaya dengan tekanan juga akan
menyebabkan sampel untuk menggambarkan tekanan fluida
atas berasal dari gaya ke atas air sedangkan arah tekanan
yang ke bawah berasal dari gaya berat benda.
Pada penelitian juga ditemukan bahwa mahasiswa
mengasosiasikan tekanan dengan gaya berat. Semakin berat
benda akan menyebabkan benda tersebut memberikan
tekanan semakin besar. Mahasiswa yang mengasosiasikan
tekanan dengan gaya berat akan menganggap bahwa makin
besar volume, semakin besar gaya beratnya. Sehingga,
tekanan semakin besar.
5) Kemampuan mahasiswa menggambar.
Miskonsepsi yang disebabkan oleh kemampuan
mahasiswa menggambar dialami sebanyak 7 kali dari 5
sampel. Sampel 2 dan 4 mengalami miskonsepsi yang
disebabkan oleh kemampuan mahasiswa menggambar yaitu
sebanyak 3 kali.
Miskonsepsi yang disebabkan oleh kemampuan
mahasiswa menggambar kurang yaitu dialami untuk nomor
15. Contohnya seperti gambar-gambar berikut :
Sampel sebenarnya ingin menggambarkan arah
tekanan fluida ke segala arah tetapi mendapat kesulitan
begitu menggambarkan. Sehingga, arah tekanan yang
digambar seperti gambar 30 di atas yaitu arah ke atas (Gaya
ke atas dari air) dan ke bawah (Berat benda) saja seperti
yang mereka lihat pada gambar-gambar di buku. Di buku,
gambar bejana seperti soal 15 yang di dalamnya ada benda,
ada gambar tanda panah ke atas dan ke bawah saja.
Padahal, gambar di buku digunakan untuk menjelaskan
peristiwa tenggelam, melayang dan terapung. Bukan
menjelaskan arah tekanan fluida.
Gambar 31. Gambar pada soal angket nomor 15 sampel 4 Sedangkan pada gambar 31 di atas, sebenarnya
sampel ingin menggambarkan bahwa “Fluida selalu
memberikan tekanan pada benda yang disentuhnya.” Akan
tetapi, arah tekanan yang digambarkan hanya ke permukaan
air bagian atas dan ke dinding bejana.
Contoh lainnya yaitu pada nomor 29, sampel
sebenarnya ingin menggambarkan bahwa “Jauhnya
pancaran air jatuh di titik yang sama seperti pada gambar
berikut :
Gambar 32. Gambar pada soal angket nomor 29 sampel 4 b. Buku teks :
1) Penjelasan keliru.
Miskonsepsi yang disebabkan oleh penjelasan dari buku
yang keliru dialami sebanyak 4 kali dari 2 sampel. Sampel 4
banyak memiliki miskonsepsi yang disebabkan oleh penjelasan
dari buku yang keliru yaitu sebanyak 3 kali.
Sebagai contoh, berikut ini penulis kutipkan salah satu
penjelasan dari buku, yaitu buku Fisika 2000 1B, halaman 171
mengenai pengertian tekanan hidrostatik :
Jika Anda mengisi sebuah tangki dengan air, kemudian Anda membuat tiga buah lubang pada tangki tersebut dengan ketinggian yang berbeda, maka air akan memancar dari ketiga lubang itu. Anda dapatkan bahwa pancaran air dari lubang yang paling bawah akan menempuh lintasan yang paling jauh (Gambar 12.3). Peristiwa ini membuktikan pernyataan di atas, yakni makin dalam letak suatu tempat di dalam zat cair, makin besar tekanan pada tempat itu. (Kanginan, M, 2000 : 171).
Penjelasan seperti yang dikutip di atas, kurang jelas.
Karena penjelasan mengenai besarnya ketiga lubang, jarak
permukaan tempat air jatuh kurang jelas. Penjelasan dari buku
tersebut dapat menyebabkan terjadinya miskonsepsi mengenai
jauhnya pancaran air seperti soal nomor 28 dan 30 pada angket.
Miskonsepsinya yaitu lubang paling bawah memancarkan air
paling jauh.
2) Kartun salah konsep.
Miskonsepsi yang disebabkan oleh kartun salah konsep
dialami sebanyak 4 kali dari 3 sampel. Sampel 9 banyak
memiliki miskonsepsi yang disebabkan oleh kartun salah
konsep yaitu sebanyak 2 kali.
Pada bagian buku yang ingin menjelaskan bahwa
“Makin dalam, tekanan zat cair makin besar“, di dekat
penjelasan tersebut terdapat gambar tabung seperti gambar
berikut yang juga dikutip dari buku Fisika 2000 1B, halaman
171.
Gambar 33. Tekanan hidrostatik (Kanginan, M. 2000 : 171)
Selain gambar di atas, miskonsepsi pada nomor 28 dan
30 karena gambar salah konsep dapat juga disebabkan gambar
yang dikutip dari buku Fisika SLTP 1B berikut :
Gambar 34. Makin dalam, tekanan zat cair makin besar (Kanginan, M. 2000 : 7)
Dua penyebab miskonsepsi yang disebabkan oleh buku di atas
saling berkaitan. Tetapi selain dua penyebab di atas, miskonsepsi juga
dapat terjadi karena mahasiswa tidak tahu bagaimana caranya
membaca dan belajar dari buku fisika. Hal ini terjadi pada sampel 2.
Untuk menjelaskan “Mengapa kapal laut terapung,” sampel
menggambar gambar berikut :
Gambar 35. Gambar pada soal angket nomor 20 sampel 2
Sedangkan pada buku Fisika 2000 1B halaman 179 terdapat
gambar sebagai berikut :
Gambar 36. Sebuah galangan kapal (Kanginan, M. 2000 : 197)
Dari hasil interview I dengan sampel 2 pun dapat diketahui
komik. Buku dibaca dengan cepat bahkan hanya melihat gambarnya
saja. Gambarnya pun yang dianggap menarik. Selain itu mahasiswa
malas untuk membaca keterangan di buku tetapi hanya melihat
gambarnya. Gambar di atas ingin menjelaskan mengenai galangan
kapal. Bukan alasan mengapa kapal laut dapat terapung.
3. Efektivitas Kegiatan Eksperimen untuk Mengatasi Miskonsepsi
Dari kegiatan eksperimen yang dilakukan dan dari perbandingan
antara hasil pre test (test uraian ketiga) dan pos test (test uraian keempat)
dapat diketahui bahwa kegiatan eksperimen tidak terlalu dapat membantu
mengatasi miskonsepsi mekanika fluida yang dialami oleh mahasiswa.
Adapun datanya dapat dilihat pada tabel lampiran 26. Miskonsepsi yang
terdapat pada pre test (test uraian ketiga), masih terulang pada post test
(test uraian keempat). Pada kegiatan eksperimen, sampel telah
mendapatkan data yang benar, tetapi tidak dapat menyimpulkan hasil
eksperimen dengan baik. Sehingga data yang didapat pun tidak dapat
membantu mengurangi miskonsepsi yang dialami mahasiswa. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa eksperimen yang dilakukan hanya
sedikit mengurangi miskonsepsi mekanika fluida pada mahasiswa Program
Studi Pendidikan Fisika Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Perubahan berarti hanya terlihat pada 3 sampel dan pada 7 sampel lainnya
BAB V
KESIMPULAN, SARAN DAN KELEMAHAN
65
A. Kesimpulan
Dari data penelitian yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa
masih terdapat miskonsepsi mekanika fluida pada mahasiswa Program Studi
Pendidikan Fisika Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Dengan
menganalisis angket yang diberikan pada mahasiswa dapat diketahui bahwa
miskonsepsi yang paling banyak terjadi antara lain miskonsepsi mengenai :
1. Hukum Archimedes yaitu kayu terapung dan logam tenggelam dalam
air.
2. Persamaan Bernoulli dan teori Torricelli yaitu jauhnya pancaran air
dari lubang tidak dipengaruhi oleh kecepatan penurunan permukaan air,
dan jarak antar lubang.
3. Fluida adalah zat cair.
4. Teori Torricelli dan hukum I Hidrostatika yaitu besarnya tekanan
hidrostatika dipengaruhi oleh luas penampang.
Dari hasil interview dapat diketahui bahwa penyebab terjadinya miskonsepsi yang dominan yaitu :
1. Mahasiswa : konsep awal mahasiswa, alasan yang tidak lengkap atau
salah generalisasi, intuisi yang salah, pemikiran asosiatif mahasiswa,
dan kemampuan mahasiswa mengambar.
Dengan membandingkan hasil pre test dan post test dapat diketahui bahwa metode eksperimen yang digunakan hanya sedikit mengurangi
miskonsepsi mekanika fluida yang terjadi pada beberapa mahasiswa Program
Studi Pendidikan Fisika Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.