5. PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Bahwa pada akhirnya berdasarkan uraian-uraian sebelumnya Penulis dapat menyimpulkan sebagai berikut:
1. Bahwa perkembangan mengenai pelarangan Perdagangan orang di Indonesia, telah dimulai sejak berlakunya Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) pada tahun 1918, dimana dapat dijumpai sejumlah pasal yang menunjukan bahwa pada masa penjajahan pun perdagangan orang dianggap sebagai perbuatan yang tidak manusiawi yang layak mendapat sanksi pidana, namun secara substansial belum dapat mengakomodir terhadap upaya pencegahan dan pemberantasan perdagangan orang secara maksimal. Mengingat kejahatan Perdagangan Orang semakin meluas dan bersifat antarnegara maupun dalam negeri, maka sebagai bagian dari masyarakat internasional, Indonesia telah meratifikasi beberapa perjanjian internasional, diantaranya:
a. UU No 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Convention on The Elimination of All Forms of Discrimination Against Woman 1979 (Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan).
b. UU No. 20 Tahun 1999 tentang Pengesahan ILO Convention No. 138 Concerning Minimum Age for Admission to Employment (Konvensi ILO tentang Usia Minimum Untuk Diperbolehkan Bekerja);
c. UU No. 1 Tahun 2000 tentang Pengesahan ILO Convention No. 182 Concerning the Prohibition and Immediate Action for the Elimination of the Worst Forms of Child Labour (Konvensi ILO
No. 182 tentang Pelarangan dan Tindakan Segera Penghapusan Bentuk-Bentuk Pekerjaan Terburuk Untuk Anak).
Pemerintah Indonesia juga ikut menandatangani United Nations Convention Against Transnational Organized Crime (Konvensi tentang Menentang Organisasi Kejahatan Lintas Batas) dan Protocol to Prevent, Suppress, and Punish Trafficking in Person, Especially Woman and Children (Protokol untuk Mencegah, Memberantas dan Menghukum Perdagangan Orang, Khususnya Perempuan dan Anak) yang memuat rumusan perdagangan orang, khususnya perdagangan perempuan dan anak (Trafficking). Pada tahun 1999 pemerintah Indonesia memberlakukan Undang-Undang tentang Hak Asasi manusia, yang menjadi payung dalam perlindungan HAM di Indonesia yang mengisyaratkan bahwa setiap orang berhak untuk memperoleh perlindungan, termasuk dari kegiatan perdagangan orang. Namun ketentuan ini tidak mengatur sanksi terhadap pelanggaran Hak Asasi manusia. Untuk mengantisipasi perdagangan orang, selanjutnya pemerintah Indonesia mengeluarkan Keputusan Presiden No. 88 Tahun 2002 tentang Rencana Aksi Penghapusan Perdagangan Perempuan dan Anak (RAN-P3A), yang dilanjutkan dalam implementasi dari rencana aksi ini dengan membentuk Gugus Tugas Lintas Sektoral. Kemudian melalui Surat Edaran Menteri Dalam Negeri No. 560/1134/PMD/2003 yang ditujukan kepada Gubernur, Bupati, dan Walikota seluruh Indonesia diinstruksikan untuk membentuk Gugus Tugas Daerah yang mempunyai wewenang menangani urusan perempuan dan anak. Namun semua peraturan perundang-undangan tersebut belum sepenuhnya menjangkau masalah perdagangan orang dan belum sesuai dengan perkembangan hukum internasional, dimana belum ada satupun peraturan perundang-undangan nasional yang memberikan batasan/definisi tentang perdagangan orang, sehingga menjadi kendala dalam upaya penegakan hukum terhadap perdagangan orang, ditambah pula peraturan perundang-undangan yang telah ada selama ini yang berkaitan dengan perdagangan orang belum memberi landasan hukum yang menyeluruh dan terpadu bagi upaya pemberantasan tindak pidana perdagangan orang, maka
pada tanggal 19 April 2007, Indonesia mengesahkan Undang-Undang No.21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. Dengan berlakunya UU No.21 Tahun 2007, maka Pasal 297 dan Pasal 324 KUHP dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi. Namun segala perkara tindak pidana perdagangan orang yang masih dalam proses penyelesaian di tingkat penyidikan, penuntutan, atau pemeriksaan di sidang pengadilan, tetap diperiksa berdasarkan Undang-Undang yang mengaturnya.
2. Dalam penerapan hukum terhadap pelaku tindak pidana perdagangan orang dalam kasus putusan No.1049/Pid/B/2008/PN.JKY.UT ini, Majelis Hakim telah menggunakan Undang-Undang No.21/2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang Pasal 10 Jo. Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHP terhadap para pelaku, dan terbukti bahwa Lasiati alias Tia dan Herlina alias Herni alias Nila telah melakukan perbuatan yang memenuhi semua unsur tindak pidana Perdagangan orang yang dilakukan secara bersama-sama sehingga keduanya dijatuhi pidana penjara selama 5 (lima) tahun dan denda sebesar Rp.100.000.000,- (seratus juta rupiah). Namun Majelis Hakim seharusnya bersikap pro aktif untuk menggali lebih jauh duduk perkara tindak pidana ini, sehingga substansi persoalan kejahatan terhadap kemanusiaan ini dapat lebih terungkap. Majelis Hakim juga tidak konsisten dengan keputusan yang telah diambil berdasarkan pertimbangan- pertimbangannya, karena seharusnya Hakim menyadari bahwa Lasiati alias Tia dan Herlina alias Herni alias Nila bukanlah pelaku utama. Berdasarkan kesaksian dipersidangan jelas bahwa yang menyuruh untuk mencari anak-anak gadis untuk dipekerjakan di Pekan Baru Riau adalah Lubis selaku General Manager karaoke di Mall Plaza Pekan Baru, tempat Lasiati bekerja sebagai pemandu lagu, sehingga seharusnya hakim tidak hanya menjerat kedua terdakwa, tetapi ada orang lain yang juga harus bertanggung jawab atas percobaan tindak pidana perdagangan orang ini, yaitu Lubis.
Dalam tindak pidana perdagangan orang ini, Lasiati dan Herlina melakukan kejahatan perdagangan orang tidak hanya bertujuan untuk
kepentingan dan keuntungan mereka sendiri, tetapi ada pihak lain yang menggerakan mereka untuk melakukan tindak pidana ini demi kepentingannya, namun dalam persidangan kasus ini, sangat disayangkan Majelis hakim tidak berusaha menggali lebih dalam untuk mencari kebenaran materiel atau kebenaran yang sebenar-benarnya, misalnya dengan memperjelas peranan Lubis yang dikatakan oleh Lasiati adalah General Manager dari tempat Lasiati bekerja, yang berarti adalah atasan dari Lasiati, agar dapat dibuktikan bahwa memang ada hubungan langsung maupun tidak langsung antara Lasiati dengan Lubis, sehingga terbukti bahwa kejahatan ini dilakukan oleh kelompok yang terorganisasi, karena Dalam penjelasan Pasal 16 Undang-Undang No.12/2007 dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan “kelompok yang terorganisasi” adalah kelompok terstruktur yang terdiri dari 3 (tiga) orang atau lebih, yang eksistensinya untuk waktu tertentu dan bertindak dengan tujuan melakukan satu atau lebih tindak pidana yang diatur dalam Undang- Undang ini dengan tujuan memperoleh keuntungan materiil atau finansial baik langsung maupun tidak langsung.
Dalam kasus ini, penerapan hukum terhadap pelaku juga telah mencederai rasa keadilan karena seharusnya sebelum proses pemeriksaan dimulai, Penyidik atau petugas polisi wajib memberitahukan kepada tersangka mengenai haknya untuk mendapatkan bantuan hukum atau ditemani oleh pengacara, apalagi ancaman hukuman dari tindak pidana ini diatas 5 (lima) tahun, sehingga pihak penegak hukum dapat dianggap telah melanggar KUHAP Pasal 56. Dalam penerapan hukum terhadap pelaku dalam kasus ini Pihak penegak hukum seharusnya memenuhi kewajiban untuk mengakui dan melindungi hak asasi manusia setiap individu tanpa membedakan latar belakangnya (non discriminative). Secara konstitusional pengakuan negara telah tercermin dalam konstitusi yang mengatakan semua orang memiliki hak diperlakukan sama di hadapan hukum (equality before the law), dan hak untuk mendapat bantuan hukum (access to legal counsel) adalah hak asasi manusia yang sangat mendasar bagi setiap orang dan oleh karena itu merupakan salah satu syarat untuk memperoleh
keadilan bagi semua orang, namun sangat disayangkan hal tersebut telah gagal dilakukan.