TAHUN 2007 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK
PIDANA PERDAGANGAN ORANG
(STUDI KASUS PUTUSAN NO. 1049/Pid./B/2008/PN.JKT.UT)
SKRIPSI
RAKHMAT HIDAYAT 0599231874
UNIVERSITAS INDONESIA FAKULTAS HUKUM
PROGRAM STUDI ILMU HUKUM KEKHUSUSAN III (Praktisi Hukum)
TAHUN 2007 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK
PIDANA PERDAGANGAN ORANG
(STUDI KASUS PUTUSAN NO. 1049/Pid./B/2008/PN.JKT.UT)
SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana
RAKHMAT HIDAYAT 0599231874
UNIVERSITAS INDONESIA FAKULTAS HUKUM
PROGRAM STUDI ILMU HUKUM KEKHUSUSAN III (Praktisi Hukum)
Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri,
dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk
telah saya nyatakan dengan benar
Nama : Rakhmat Hidayat
NPM : 0599231874
Tanda Tangan :
Penulis mengucapkan syukur Alhamdulillah atas ijin Allah SWT, pada akhirnya penulis dapat menyusun skripsi yang berjudul : “Percobaan Tindak Pidana Perdagangan Orang Ditinjau Dari KUHP Dan Undang-Undang No. 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang”, yang diajukan guna melengkapi tugas akhir dan memenuhi persyaratan untuk menyelesaikan Program Studi Ilmu Hukum (S1) serta mencapai gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia.
Dalam penulisan skripsi ini penulis telah banyak mendapat bantuan dan dorongan dari berbagai pihak, baik secara moril maupun spirituil yang sangat berarti bagi penulis. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya, terutama kepada:
1. Bapak Chudry Sitompul, S.H., M.H., selaku Ketua Bagian Hukum Acara Fakultas Hukum Universitas Indonesia, dan selaku Pembimbing skripsi I. 2. Ibu Sri Laksmi S.H., M.H., selaku Pembimbing skripsi II.
3. Bapak Junaedi, S.H., Msi., L.L.M., yang telah bersedia meluangkan waktu untuk memberikan sumbangan pikiran untuk penulis.
4. Segenap pimpinan akademik, segenap dosen, dan staf pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia.
5. Istri tercinta Lihanna Susanti, motivator dan sumber inspirasiku, yang selalu memberikan dorongan dan do’a tanpa kenal lelah untuk penulis, serta membuat hidup semakin lengkap dan berarti.
6. Ibunda Titi Marhati dan Ayahanda M. Rasjid, orangtua-ku yang telah memberikan kasih sayang tidak terhingga dan memberikan Do’a tanpa kenal lelah untuk penulis.
7. Mbak Surya, mbak Dewi, dan seluruh Staf Sekretariat Fakultas Hukum Universitas Indonesia
10. Mbak Rinno Arna, S.H., yang telah bersedia meluangkan waktu dan memberikan sumbangan pikiran untuk penulis.
11. Sahabat-sahabatku tercinta di ekstensi UI Angkatan ’99, Edy Siswoyo, Rizki Ismanto, Muchlis, Adhi, dan lain lain yang telah bersedia meminjamkan buku maupun bantuan lainnya.
12. Teman-teman seperjuangan di Koalisi Perempuan Indonesia, Dian, Liessya, Heni, Diana, Ime, Agustin, Mimi, Lina, Bayu, Nunung, Lolly, Yunani, Nurmalia, Tarsa, Ari, Bu Rini, Lia Anggi yang telah memberikan support dan bantuan baik langsung maupun tidak langsung kepada penulis. 13. Semua pihak yang telah membantu penulis.
Akhir kata, penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih banyak kekurangan dan kelemahan, baik dari segi isi maupun tekhnis. Sehingga saran, kritik serta perbaikan yang membangun dari para pengajar dan pembaca akan penulis terima dengan segala kerendahan hati.
Depok, Juni 2010
Sebagai sivitas akademik Universitas Indonesia, saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Rakhmat Hidayat
NPM : 0599231874
Program Studi : Ilmu Hukum Fakultas : Hukum Jenis Kara : Skripsi
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas IndonesiaHak Bebas Royalti Noneksklusif (Non-exclusive Royalty Free Right)atas karya ilmiah saya yang berjudul:
Percobaan Tindak Pidana Perdagangan Orang ditinjau dari KUHP dan Undang-Undang No.21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (Studi Kasus No.1049/Pid/B/2008/PN.JKT.UT)
Beserta perangkat yang ada (jika diperlukan). Dengan Hak Bebas Royalti Noneksklusif ini Universitas Indonesia berhak menyimpan, mengalihmedia/format-kan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat, dan memublikasikan tugas akhir saya tanpa meminta izin dari saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta.
Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di : Depok Pada tanggal : 26 Juni 2010
Yang menyatakan
Program Studi : Ilmu Hukum
Judul : Percobaan Tindak Pidana Perdagangan Orang Ditinjau Dari KUHP Dan Undang-Undang No. 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang
Diperkirakan setiap tahunnya 600.000 - 800.000 laki-laki, perempuan, dan anak-anak diperdagangkan menyeberangi pebatasan-perbatasan internasional. Di Indonesia jumlah anak yang tereksploitasi seksual sebagai dampak perdagangan anak diperkirakan mencapai 40.000 - 70.000 anak. Disamping itu, dalam berbagai studi dan laporan NGO menyatakan bahwa Indonesia merupakan daerah sumber dalam perdagangan orang, disamping juga sebagai negara transit dan penerima perdagangan orang. Perdagangan orang yang mayoritas korban adalah anak perempuan, merupakan salah satu bentuk perlakuan terburuk dari tindak kekerasan yang dialami anak perempuan yang jelas-jelas melanggar Hak Asasi Manusia (HAM), Undang-Undang Dasar 1945, serta merendahkan martabat bangsa dan negara. Berangkat dari masalah Perdagangan orang yang semakin meluas, baik dalam bentuk jaringan kejahatan yang terorganisir dan tidak terorganisir, baik bersifat antar negara maupun dalam negeri, dimana hal ini dirasakan merupakan ancaman bagi masyarakat, bangsa dan negara, serta terhadap norma-norma kehidupan yang dilandasi penghormatan terhadap hak asasi manusia. Ditambah pula peraturan perundang-undangan selama ini yang berkaitan dengan perdagangan orang belum memberi landasan hukum yang menyeluruh dan terpadu bagi upaya pemberantasan tindak pidana perdagangan orang, maka pada tanggal 19 April 2007 Indonesia mengesahkan Undang-Undang No. 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. Mengingat bahayanya tindak pidana Perdagangan Orang, maka penting untuk kita melihat seberapa jauh peraturan perundang-undangan nasional yang ada dan berlaku saat ini, dan perubahan cara pandang penegak hukum dalam menyikapinya, agar dapat memadai upaya penanggulangan perdagangan orang, guna menjerat para pelaku perdagangan orang (traffickers) serta memenuhi rasa keadilan bagi perlindungan korban dan atau saksi dalam implementasinya.
Kata Kunci:
Name : Rakhmat Hidayat Studies Program : Legal Studies
Title : Experiment the Crime of Trafficking in Persons Seen From the Criminal Code And Act No. 21 Year 2007 on Eradication of Trafficking in Persons Crime
It is estimated that each year 60.0000-80.0000 men, women, and children are trafficked across international borders. In Indonesia the number of children sexually exploited as a result of child trafficking is estimated at 40.000-70.000 children. Besides, in various studies and reports of Non Government Organization (NGO) stating that Indonesian is an original area for trafficking in persons, as well as transit and recipient countries of trafficking in persons. Majority of victims of trafficking are young girls, is one of the worst treatment from the violence experienced by girls who clearly violate the Human Rights (HAM), Constitution of 1945, as well as demeaning state and nation. From the issues of expanding trafficking in persons, both in the form of organized crime networks and disorganized, both the character of domestic and transnational, where this is considered a threat to society, nation and state, as well as against the norms of life which are based on respect for human rights. Plus legislation also been associated with trafficking in persons not providing the legal basis for comprehensive and integrated effort to combat crime of trafficking in persons, then on April 19, 2007, Indonesia ratified the Law No. 21 Year 2007 on Combating the Crime of Trafficking in Persons. Given the danger of the crime of Trafficking in Persons, it is important for us to see how far national laws and regulations that exist and current, and changes in the law enforcement perspective, respond, in order to adequately control efforts trafficking in persons, in order to capture the perpetrators of trafficking in persons ( traffickers) and fulfill a sense of justice for the protection of victims and or witnesses in the implementation.
Keywords:
HALAMAN JUDUL... i
LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS ... ii
LEMBAR PENGESAHAN ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... vi
ABSTRAK ... vii
DAFTAR ISI... ix
1. PENDAHULUAN... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Pokok Permasalahan ... 5
1.3. Tujuan Penulisan... 5
1.4. Definisi Operasional... 6
1.5. Metode Penelitian... 7
1.6. Sistematika Penulisan ... 9
2. TINJAUAN UMUM MENGENAI TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG... 11
2.1. Sejarah Perdagangan Orang ... 11
2.1.1. Sejarah Perdagangan Orang di Dunia ... 11
2.1.2. Sejarah Perdagangan Orang di Indonesia ... 19
2.2. Pengertian Tindak Pidana Perdagangan Orang... 21
2.3. Usaha Penghapusan Tindak Pidana Perdagangan Orang di Tingkat Internasional, Rgional,dan di Indonesia... 25
2.3.1. Usaha Penghapusan Tindak Pidana Perdagangan Orang di Tingkat Internasional dan Regional ... 25
2.3.2 Usaha Penghapusan Tindak Pidana Perdagangan Orang di Indonesia ... 31
2.4. Ketentuan Tindak Pidana Perdagangan Orang Berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)... 35
3. UNDANG-UNDANG NOMOR 21 TAHUN 2007 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG... 47
3.1. Latar belakang... 47
3.2. Ketentuan Pidana Materil Tindak Pidana Perdagangan Orang dan Tindak Pidana Perdagangan Anak ... 58
3.2.1. Unsur Tindak Pidana Perdagangan Orang ... 58
3.2.2. Pihak-Pihak yang Dapat Dijerat dengan UU No. 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang... 60
3.3. Ketentuan Pidan Formil Tindak Pidana Perdagangan Orang dan Tindak Pidana Perdagangan Anak ... 64
3.3.5. Perlindungan dan Pelayanan Saksi – Korban Tindak Pidana
Perdagangan Orang ... 85
4. PRAKTEK PENERAPAN HUKUM TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG DI INDONESIA SETELAH DIBERLAKUKANNYA UNDANG-UNDANG NOMOR 21 TAHUN 2007 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG... 93
4.1. Kasus Posisi ... 93
4.1.1. Dasar Pertimbangan Surat Tuntutan Jaksa Penuntut Umum . 95 4.1.2. Dasar Pertimbangan Pembelaan Penasehat Hukum Terdakwa 103 4.2. Pertimbangan dan Amar Putusan Hakim ... 104
4.3. Analisa Kasus ... 108
4.3.1. Penerapan Hukumnya ... 109
4.3.2. Mencari Kebenaran Materiil ... 111
5. PENUTUP... 116
5.1. Kesimpulan ... 116
5.2. Saran ... 120
DAFTAR REFERENSI ... 123
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Masalah perdagangan orang, khususnya perempuan dan anak (trafficking in person, especially women and children), tidak bisa dipisahkan dari sejarah perbudakan yang melanda dunia sejak ribuan tahun lalu terutama di zaman Romawi. Dahulu tradisi ini selalu dihubungkan dengan dunia yang penuh peperangan dan penaklukan suatu negeri. Saat itu yang diperdagangkan di pasar budak adalah rakyat, serdadu, perwira, dan bahkan bangsawan dari negara-negara yang kalah perang dan kemudian dijual sebagai budak. Selama Perang Salib/Sabil yang berlangsung sekitar 200 tahun, ratusan ribu orang dari berbagai etnis yang ditawan, dijual sebagai budak sehingga membanjiri pasar budak, dan mengakibatkan anjloknya harga budak waktu itu.1
Dari abad 15 sampai akhir abad 19, seiring dengan kolonialisme negara-negara Eropa terhadap negara-negara-negara-negara atau wilayah yang mereka duduki di Asia, Afrika, dan Amerika, perdagangan budak menjadi sangat marak, juga terutama untuk benua Amerika, di mana para penjajah memerlukan tenaga kerja untuk menggarap lahan pertanian dan perkebunan. Di Amerika Serikat, negara yang mengklaim sebagai sokoguru demokrasi, perbudakan secara resmi baru dihapus tahun 1865.
Praktek perdagangan orang secara terorganisir di Indonesia pada masa penjajahan Belanda terjadi dan dibuktikan dengan keberadaan Gedung tua yang
1
terletak di Jalan Kalibesar Timur, Jakarta Utara yang merupakan saksi bisu kelamnya sejarah kemanusiaan bangsa kita. Konon, sekitar tahun 1619, ribuan manusia berstatus budak pernah dilelang di tempat itu. Mereka didatangkan dari berbagai tempat di Tanah Air sebagai tawanan perang. Belanda kemudian menjual para budak itu kepada para bangsawan dari seluruh dunia. Biasanya mereka selain dipekerjakan sebagai pekerja kasar tanpa upah, khusus untuk budak perempuan, juga diperlakukan sebagai pelampiasan seks para majikan mereka. Bisa jadi, dari sini muncul julukan gundik dan nyai. Itu ditujukan kepada para budak perempuan yang menjadi “simpanan” bangsawan Belanda dan saudagar Cina2.
Namun dewasa ini, perdagangan manusia malah menjadi jauh lebih kompleks. Dengan kemajuan teknologi, informasi, dan transportasi semakin berkembang pula modus kejahatannya. Perdagangan perempuan dilakukan oleh jaringan-jaringan kriminal internasional dan menghasilkan keuntungan berjuta-juta dolar setiap tahunnya. Menurut data Europol, terdapat lebih dari 3.000 organisasi perdagangan manusia dan sedikitnya 30.000 orang yang melaksanakan aktifitas perdagangan manusia secara pribadi3.
Diperkirakan setiap tahunnya 600.000 - 800.000 laki-laki, perempuan, dan anak-anak diperdagangkan menyeberangi pebatasan-perbatasan internasional. Di Indonesia jumlah anak yang tereksploitasi seksual sebagai dampak perdagangan anak diperkirakan mencapai 40.000 - 70.000 anak. Disamping itu, dalam berbagai studi dan laporan NGO menyatakan bahwa Indonesia merupakan daerah sumber dalam perdagangan orang, disamping juga sebagai negara transit dan penerima perdagangan orang4.
Adapun beberapa faktor pendorong terjadinya perdagangan orang di Indonesia antara lain meliputi kemiskinan, pendidikan dan keterampilan yang rendah, Pernikahan dan perceraian pada usia dini, dan desakan kuat untuk bergaya hidup materialistik, serta kurangnya informasi tentang perdaganganan orang
2
Alwi Shahab, Lelang Budak di Batavia, dalam Republika, 3 September 2000.
3
www.kajianeropa.org, 08 Oktober 2006, Perdagangan Perempuan (Women Trafficking) di Eropa diunduh tgl. 14 April 2010
4
sehingga masyarakat menjadi kurang peduli terhadap praktek-praktek perdagangan orang5.
Dari waktu ke waktu praktek-praktek perdagangan orang semakin menunjukkan kualitas dan kuantitasnya. Untuk itu perlu penanganan secara serius dan terkoordinasi pula oleh pemerintah Indonesia, tidak terkecuali Indonesia dalam kapasitasnya sebagai negara, sehingga perlu kepedulian dan langkah-langkah konkrit dari semua lembaga baik eksekutif, legislatif, yudikatif, sampai pada masyarakat luas.
Perdagangan orang yang mayoritas korban adalah anak perempuan, merupakan salah satu bentuk perlakuan terburuk dari tindak kekerasan yang dialami anak perempuan yang jelas-jelas melanggar Hak Asasi Manusia (HAM), Undang-Undang Dasar 1945 (Pasal 28 huruf G dan I), serta merendahkan martabat bangsa dan negara, Perdagangan orang merupakan kejahatan kemanusiaan yang harus dicegah dan diberantas keberadaannya yang dalam bentuk maupun modus operandinya sangat beragam. Kenyataannya bahwa korban lebih dominan terhadap anak, karena merekalah kelompok yang sering tersubordinasi dan dianggap paling rentan untuk diperlakukan sebagai pekerja seks komersial, diperalat sebagai pengemis, dan atau bentuk-bentuk lain untuk tujuan eksploitasi.
Bentuk-bentuk eksploitasi itu sendiri diantaranya dengan cara memperlakukan korban untuk kerja yang mengarah pada praktek-praktek eksploitasi seksual, perbudakan atau bentuk-bentuk perbudakan modern, perbuatan transplantasi organ tubuh untuk tujuan komersial sampai pada penjualan bayi yang dimaksudkan untuk tujuan dan kepentingan keuntungan besar bagi para pelaku perdagangan perempuan dan anak. Lalu lintas perdagangan orang itu sendiri dalam praktek maupun operasinya dilakukan secara rapi oleh para pelaku (traffickers) melalui jaringannya baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Pada umumnya jaringan pelaku ini memangilegal, namun keberadaannya yang terselubung tersebut dapat terorganisir secara rapi.
5
Gejala ini semakin menunjukkan kecenderungannya yang terus meningkat, bersamaan dengan modus operandi yang semakin beragam dan kompleks sehingga dibutuhkan penanganan secara komprehensif dan sinergis pula. Berlangsungnya lalu lintas perdagangan orang khususnya anak perempuan menjadi semakin memprihatinkan sekaligus menyedihkan, ketika akibatnya telah membelenggu hak-hak asasi serta kemerdekaan diri korban yang mayoritas adalah perempuan atau menghambat pertumbuhan dan perkembangan atas diri pribadi anak yang bersangkutan, yang lebih lanjut akan menghambat pula terhadap proses pembangunan sumber daya manusia Indonesia yang potensial dan berkualitas.
Dampak psikologis dan sosiologis yang dialami para korban telah menghalangi mereka untuk berfungsi secara sosial, dan pada gilirannya akan menghambat mereka dalam pembangunan regenerasi yang berkualitas. Hal ini mengingat bahwa pada dasarnya kelompok anak adalah bagian yang sangat penting bagi kelangsungan dan kualitas hidup serta penentu masa depan bangsa. Sehingga sudah seharusnya ketika tindak kejahatan perdagangan orang menimpa pada diri mereka, upaya perlindungan perlu segera dan secara khusus wajib dilakukan mengingat mereka adalah aset-aset bangsa yang sangat essensial dan potensial.
Seberapa jauh peraturan perundang-undangan nasional yang ada dan berlaku saat ini dapat memadai upaya penanggulangan perdagangan orang seperti Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang6, guna menjerat para pelaku perdagangan orang (traffickers) serta memenuhi rasa keadilan bagi perlindungan korban dan atau saksi dalam implementasinya. Disisi lain, ketika harus dihadapkan dengan praktek-praktek perdagangan anak yang sudah melewati batas wilayah negara, keterbatasan jangkauan hukum yang ada telah menjadi permasalahan tersendiri yang perlu dicari solusinya. Terutama dalam menentukan unsur-unsur perbuatan atas jenis tindakan kejahatan perdagangan anak dan ketentuan-ketentuan terhadap kerjasama internasional dalam proses pidananya. Hal demikian dibutuhkan pengaturan yang bisa secara komprehensif untuk mengatasinya, dengan tetap mempertimbangkan
prinsip-6
prinsip kedaulatan negara serta kehormatan sebagai bangsa yang beradab dan hidup ditengah-tengah kehidupan masyarakat internasional.
Langkah-langkah Indonesia yang secara sungguh-sungguh untuk menanggulangi tindak kejahatan perdagangan orang ini sangat baik dengan munculnya Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (PTPPO). Disisi lain sebagai upaya untuk memajukan perlindungan hak-hak asasi manusia utamanya terhadap kaum rentan yaitu anak khususnya yang selama ini masih sering disesalkan bahwa hukum belum berpihak pada kepentingan korban, utamanya perempuan dan anak yang seringkali pula terdiskriminasi secara gender.
Berdasarkan latar belakang di atas, penulis tertarik untuk menyusun skripsi yang berjudul “PERCOBAAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG DITINJAU DARI KUHP DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 21
TAHUN 2007 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA
PERDAGANGAN ORANG”. (Studi Kasus Putusan Nomor
1049/Pid/B/2008/PN.JKT.UT)”. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui penerapan hukum terhadap suatu tindak pidana perdagangan orang sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang mengaturnya.
1.2 POKOK PERMASALAHAN
Oleh karena itu, timbul beberapa permasalahan yang ingin penulis kemukakan, antara lain adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana perkembangan mengenai pelarangan Perdagangan Orang di Indonesia?
2. Bagaimana penerapan hukum terhadap pelaku tindak pidana perdagangan orang dalam kasus ini?
1.3 TUJUAN PENULISAN
PERDAGANGAN ORANG DITINJAU DARI KUHP DAN
UNDANG-UNDANG NOMOR 21 TAHUN 2007 TENTANG PEMBERANTASAN
TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG”. (Studi Kasus Putusan
Nomor 1049/Pid/B/2008/PN.JKT.UT)”.
Adapun tujuan khusus dari penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut: 1. Memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang perkembangan
pelarangan perdagangan orang.
2. Memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang peraturan perundang-undangan yang dapat diterapkan dalam penyelesaian tindak pidana perdagangan orang khususnya anak di Indonesia.
3. Memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang penerapan hukum terhadap pelaku tindak pidana perdagangan orang khususnya anak dalam kasus ini.
1.4 DEFINISI OPERASIONAL
Di dalam penulisan ini dikemukakan definisi operasional yang dimaksudkan untuk memudahkan bagi pihak-pihak yang mengetahui materi tulisan ini.
Adapun definisi operasional yang dikemukakan adalah sebagai berikut:
budak, adalah:
“orang yang dieksploitasi melalui perbudakan.”7 Perbudakan, adalah:
“sebuah kondisi di mana terjadi pengontrolan terhadap seseorang (disebut budak) oleh orang lain. Para budak adalah golongan manusia yang dimiliki oleh seorang tuan, bekerja tanpa gaji dan tiada punya hak asasi manusia. Perbudakan biasanya terjadi untuk memenuhi keperluan akan buruh atau kegiatan seksual.”8
Perdagangan Orang, adalah:
7
http://wikipedia.org/wiki/Slavery.diunduh tgl. 14 April 2010 8
“Perdagangan orang adalah tindakan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang atau memberi bayaran atau manfaat, sehingga memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain tersebut, baik yang dilakukan di dalam negara maupun antar negara, untuk tujuan eksploitasi atau mengakibatkan orang tereksploitasi.”9
Tindak Pidana Perdagangan Orang, adalah “Setiap tindakan atau serangkaian tindakan yang memenuhi unsur-unsur tindak pidana yang ditentukan dalam Undang-Undang ini.”10
Anak, adalah “Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.”11
1.5 METODE PENELITIAN
Penelitian hukum merupakan suatu kegiatan ilmiah, yang didasarkan pada metode, sistematika dan pemikiran tertentu, yang bertujuan untuk mempelajari satu atau beberapa gejala hukum tertentu, dengan jalan menganalisanya. Kecuali itu, maka juga diadakan pemeriksaan yang mendalam terhadap fakta hukum tersebut, untuk kemudian mengusahakan suatu pemecahan atas permasalahan-permasalahan yang timbul di dalam gejala yang bersangkutan.12
Di dalam penelitian ini mempergunakan metode penelitian normatif yaitu penelitian yang mempergunakan data sekunder atau mempergunakan bahan pustaka sebagai dasar penelitian, yang diperoleh melalui studi kepustakaan.
Untuk menganalisa data yang diperoleh, dipergunakan pendekatan kualitatif dan yuridis. Metode penelitian kualitatif dipergunakan untuk menganalisa berbagai informasi guna memahami aspek-aspek tertentu dari sikap tindak manusia dalam tindak pidana perdagangan anak, yang dikaitkan dengan
faktor-9
Indonesia (1),Op, cit., Pasal 1 angka 1. 10
ibid., Pasal 1 angka 2. 11
ibid., Pasal 1 angka 5. 12
faktor lainnya, seperti sosial dan ekonomi. Bogdan dan Taylor mendefinisikan metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu tersebut secara holistik (utuh)13.
Pendekatan yuridis di dalam menganalisa data yang diperoleh adalah memahami peraturan perundang-undangan yang berlaku yang berkaitan dengan tindak pidana perdagangan anak.
Pengumpulan data dilakukan dengan cara studi kepustakaan. Data kepustakaan antara lain dapat berupa perundang-undangan yang berkaitan dengan tindak pidana perdagangan anak, buku-buku, putusan pengadilan tentang tindak pidana perdagangan anak, karya tulis ilmiah, dan artikel-artikel. Sebagai bahan pendukung dipergunakan buku pegangan penelitian hukum, sarana ajar teknik menyusun karya ilmiah dan kamus. Menurut Soerjono Soekanto, studi kepustakaan adalah studi dokumen yang merupakan suatu alat pengumpulan data yang dilakukan atas data tertulis. Dalam hal ini, peneliti membaca, mempelajari, dan mengkaji dari buku-buku, dokumen, dan bahan tulisan yang berhubungan dengan penelitian yang akan diadakan.14
Teknik analisis data adalah tahap yang penting dalam menentukan suatu penelitian. Analisis data dalam suatu penelitian adalah menguraikan atau memecahkan masalah yang diteliti berdasarkan data yang diperoleh kemudian diolah ke dalam pokok permasalahan yang diajukan terhadap penelitian yang bersifat deskriptif.15
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode analisis isi (content analysis) yaitu mendeskripsikan dan menganalisis materi isi dan keabsahan data yang ditemukan dalam perundang-undangan dengan cara mempelajari norma dan aturan hukum yang ada, khususnya
13
Robert Bogdan dan Steven. J. Taylor, Introduction to Qualitative Research Methods, (USA: John Wiley & Sons Inc, 1975), p.4
14
Soerjono Soekanto.Pengantar Penelitian Hukum.Jakarta: UI Press, 1984 Hal. 21. 15
yang berkaitan dengan rumusan tindak pidana, pertanggungjawaban pidana, dan sanksi pidana bagi pelaku perdagangan orang sesuai dengan tujuan penelitian dan untuk menjawab rumusan permasalahan.
1.6 SISTEMATIKA PENULISAN
Penulisan ini terdiri dari lima bab, dengan sistematika sebagai berikut:
BAB 1 PENDAHULUAN
Bab 1 membahas mengenai latar belakang, pokok permasalahan, tujuan penulisan, definisi operasional, metode penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB 2 TINJAUAN UMUM MENGENAI TINDAK PIDANA
PERDAGANGAN ORANG
Bab 2 ini membahas mengenai sejarah perdagangan orang, pengertian Tindak Pidana Perdagangan Orang, usaha penghapusan tindak pidana perdagangan orang di tingkat Internasional dan regional, maupun di Indonesia, dan Ketentuan tindak pidana perdagangan orang berdasarkan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP).
BAB 3 UNDANG-UNDANG NOMOR 21 TAHUN 2007 TENTANG
PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG
Bab 3 ini membahas mengenai latar belakang pembentukan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang, ketentuan pidana materil Tindak Pidana Perdagangan Orang dan Tindak Pidana Perdagangan Anak, serta ketentuan pidana formil Tindak Pidana Perdagangan Orang dan Tindak Pidana Perdagangan Anak
BAB 4 PRAKTEK PENERAPAN HUKUM TIDAK PIDANA
PERDAGANGAN ORANG DI INDONESIA SETELAH
DIBERLAKUKANNYA UNDANG-UNDANG NOMOR 21 TAHUN 2007
TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN
ORANG
BAB 5 PENUTUP
2.1 Sejarah Perdagangan Orang
2.1.1 Sejarah Perdagangan Orang di Dunia
Kata slave yang dalam bahasa Indonesia berarti Budak berasal dari kata dalam bahasa Inggris yang berasal dari bahasa Scotlandia kuno yaitu sclaveatau dalam bahasa Perancis kuno yaituesclave, atausklabosdalam bahasa Yunani atau yang dalam terminologi latin berarti sclavus adalah merujuk pada kata Slavia, yaitu rakyat Eropa Tengah dan Timur yang merupakan kelompok etnis terakhir yang ditangkap dan diperbudak di benua itu.16 Perdagangan Manusia atau yang dahulu lebih dikenal dengan istilah Perbudakan menurut catatan sejarah pertama kali dilakukan di suatu wilayah/daerah yang relatif maju pada masanya, hal ini terjadi karena Perbudakan memasuki sejarah manusia diawali dengan berkembangnya peradaban.
Perbudakan jarang terjadi di antara populasi pemburu dan pengumpul, perbudakan tergantung pada sistem stratifikasi sosial. Perbudakan juga memerlukan surplus ekonomi dan kepadatan penduduk yang tinggi dan layak. Karena faktor-faktor ini, praktek perbudakan hanya akan berkembang biak setelah penemuan pertanian selama revolusi Neolitikum sekitar 11.000 tahun yang lalu.17
Pada masa awal manusia, dimana mereka menghidupi diri dan kaumnya dengan menjadi pemburu, pengumpul, dan petani primitif akan tidak ada gunanya
16
Merriam-Webster's,http://www.merriam-webster.com/dictionary/slave. diunduh tgl.17 Desember 2009
17
bagi mereka untuk memiliki budak. Mereka berburu dan mengumpulkan bahan makanan atau tumbuhan hanya cukup untuk makanan diri mereka sendiri, jadi tidak ada keuntungan ekonomi dalam memiliki manusia lain.
Segera setelah manusia mulai berkumpul di dalam wilayah yang maju atau dikenal dengan nama kota, maka akan dimulailah suatu peradaban yang harus ditopang dengan bahan makanan yang biasanya disuplai oleh peternakan dan perkebunan di pedesaan sekitar kota, dan setelah itu berbagai bentuk kerajinan berkembang. Dalam berbagai peternakan dan perkebunan serta bengkel-bengkel kerajinan itulah dibutuhkan tenaga murah yang dapat dipercaya. Inilah kondisi yang ideal untuk mulai tumbuhnya perbudakan. Setiap peradaban kuno menggunakan budak, dan terbukti masa itu mudah mendapatkan mereka (budak).
Perang adalah sumber utama pasokan, dan perang diawal peradaban sering terjadi dan brutal, sehingga ketika suatu kota jatuh ke tangan tentara yang bermusuhan, adalah normal mengambil penduduk dan pasukan yang masih sehat dari pihak yang kalah untuk menjadi berguna bagi pihak yang memenangkan peperangan tersebut, dan membunuh sisa musuh yang dianggap tidak berguna. Perbudakan dengan cara seperti ini bukan termasuk kategori perdagangan orang.
Selain melalui peperangan, ada beberapa cara lain dalam memperoleh budak, yaitu dengan jalan:
1. Para Bajak laut yang menawarkan tawanan mereka untuk dijual. 2. Seorang kriminal dapat dijatuhi hukuman perbudakan.
3. Sebuah utang yang tidak terbayar dapat membawa seseorang untuk mengakhiri kebebasannya.
4. Keluarga yang miskin menjual anak mereka sendiri; 5. Dan anak-anak dari budak-budak itu sendiri.18
2.1.1.1 Perbudakan Pada masa awal Sejarah
Catatan paling awal dari perbudakan dapat dilacak dalam Hukum Hammurabi (sekitar 1760 SM), dan Alkitab menyebutnya sebagai lembaga yang
18
Gascoigne, Bamber. “History of Slavery” HistoryWorld. From 2001,
mapan.19Hukum Hammurabi tertulis pada prasasti terkenal yang ditemukan pada tahun 1901, mencakup semua aspek kehidupan di Babylon atau babilonia. Ada tiga kelas sosial, dan kelas sosial yang ketiga adalah budak. Tetapi bahkan budak di babilonia diizinkan untuk memiliki properti, dan seorang budak laki-laki bisa menikahi seorang perempuan merdeka (anak-anak mereka lahir bebas).20
Perbudakan itu diketahui telah terjadi setua peradaban Sumeria, dan juga hampir semua peradaban kuno lainnya, termasuk Mesir Kuno, Cina Kuno, Kekaisaran Akkadia, Asyur, India Kuno, dan Yunani Kuno. Hal yang sama juga terjadi pada masa Kekaisaran Romawi, Kekalifahan Islam dan peradaban pra-Columbus dari Amerika. Institusi perbudakan semacam itu merupakan campuran dari perbudakan dikarenakan hutang yang tidak terbayar, perbudakan sebagai hukuman untuk kejahatan, perbudakan karena tawanan perang, penelantaran anak, dan kelahiran anak dari para budak.21
Catatan dari perbudakan di Yunani Kuno telah ada sejauh Mycenaean Yunani. Dua-perlima (beberapa pihak berwenang mengatakan empat-perlima) dari penduduk klasik Athena adalah budak.22 Filsuf Yunani, seperti Aristoteles menerima teori perbudakan alami, yaitu bahwa beberapa pria adalah budak oleh alam.[23] [ 24]
Ketika Republik Romawi diperluas ke luar, seluruh populasi diperbudak, sehingga menciptakan banyak pasokan dari seluruh Eropa dan Mediterania. Yunani, Illyria, Barbar, Jerman, Briton, Thracians, Galia, Yahudi, Arab, dan
19
"Mesopotamia: The Code of Hammurabi"http://www.wsu.edu/~dee/MESO /CODE.HTM "e.g. Prologue, "the shepherd of the oppressed and of the slaves". Code of Laws #7, "If any one buy from the son or the slave of another man". Diunduh tgl.8 Maret 2010
20
Gascoigne, Bamber.“History of Babylon”History World. From 2001, http://www.historyworld.net /wrldhis/Plain Text Histories. diunduh tgl. 8 Maret 2010
21
Demography, Geography and the Sources of Roman Slaves, by W. V. Harris: The Journal of Roman Studies, 1999
22
http://en.wikipedia.org/wiki/History_of_slavery, Peradaban Romawi, cms 206/206 sejarah. Diunduh tgl.8 Maret 2010.
23
Ben Kierrnan "Blood and Soil: A World History of Genocide and Extermination from Sparta to Darfur", USA:Yale University Press, 2007, Pages 65-68
24
banyak lagi adalah wilayah penyuplai budak yang digunakan tidak hanya untuk tenaga kerja, tetapi juga untuk hiburan (misalnya gladiator dan budak seks). Penindasan oleh minoritas elite ini akhirnya menyebabkan pemberontakan-pemberontakan budak, dan dalam Perang Budak Ketiga yang dipimpin oleh Spartacus adalah perang yang paling terkenal dan berat. Perjuangan Spartacus, sering dianggap sebagai perjuangan dari kaum yang tertindas untuk kebebasan mereka terhadap aristokrasi pemilik budak. Pemberontakan Spartacus, juga terbukti telah menjadi inspirasi bagi banyak penulis sastra dan politik modern, membuat Spartacus menjadi seorang pahlawan rakyat antara budaya kuno dan modern.25
Sebelumnya dalam perang budak pertama (135–132 SM) yang terjadi di pulau Sisilia, tepatnya di Enna yang dipimpin olehEunus, seorang mantan budak yang mengaku Nabi dan Cicilian bernama “Cleon” sebagai jenderal militernya. Setelah beberapa pertempuran kecil dimenangkan oleh para budak, tentara Romawi yang lebih besar tiba di Sisilia dan mengalahkan pemberontak.26 Pada Perang budak kedua (104–100 SM) yang juga terjadi di Sisilia, dimana budak dengan nama Salvius mengikuti jejak Eunus, memperjuangkan hak-haknya dan menjadi pemimpin pemberontakan ini. Ia mengumpulkan tentara yang berasal dari ribuan budak terlatih dan dilengkapi, termasuk 2.000 kavaleri dan 20.000 infanteri, dan bergabung dengan Cicilian bernama Athenion dan anak buahnya dari barat Sisilia. Konsul Romawi yang bernama Manius Aquillius bersama pasukannya akhirnya berhasil memadamkan pemberontakan ini setelah melalui usaha yang keras dan melelahkan.27
Pada akhir zaman Republik, perbudakan telah menjadi pilar ekonomi yang penting dalam kekayaan Roma, serta bagian yang sangat signifikan dari
25
Bradley, Keith R., Slavery and Rebellion in the Roman World 140BC-70BC, Bloomington, USA: Indiana University Press, 1989. (Chapter V) The Slave War of Spartacus, pages 83-101.
26
Arnold, History of Rome, Vol.III Pages 317-318, London Edition.
27
masyarakat Romawi.28 Diperkirakan bahwa lebih dari 25% dari penduduk Romawi Kuno itu diperbudak. Di kota Roma sendiri, di bawah Kekaisaran Romawi, ada sekitar 400.000 budak. Selama satu milenium dari munculnya Kekaisaran Romawi yang akhirnya menurun, setidaknya 100 juta orang ditangkap atau dijual sebagai budak di seluruh Mediterania dan daerah-daerah pedalaman.29
Pada periode setelah runtuhnya kekaisaran Romawi di barat, perbudakan terus berlangsung di negara-negara di sekitar Laut Tengah. Tapi para budak bekerja hampir secara eksklusif dalam rumah tangga, bengkel kerja, toko dan sebagai tentara. Karakteristik perbudakan Romawi dimana para budak bekerja pada perkebunan besar tidak muncul sampai saat tumbuhnya perkebunan tembakau dan kapas dari masa Koloni Amerika (satu pengecualian yang penting adalah tambang garam Sahara).
Namun demikian perdagangan budak terus berkembang, dan Mediterania adalah titik pusat nya. Lebih daripada di tempat lain, wilayah Mediterania menyediakan lingkungan geografis dan ekonomi untuk mendorong perdagangan budak. Daerah-daerah peradaban yang mengelilingi laut Tengah. Ke utara dan selatan mencakup wilayah yang luas, dan dihuni oleh suku-suku yang relatif sederhana. Di perbatasan wilayah kerap terjadi perang antar suku, sehingga menjamin ketersediaan budak yang berasal dari tawanan perang. Selain itu, mendorong kekuatan-kekuatan pasar yang berasal dari suku-suku yang ada untuk merebut tawanan suku-suku mereka sendiri, dan hal-hal tersebut membuat semakin berkembang perdagangan budak saat itu.
2.1.1.2 Perbudakan dan Agama
Pada masa-masa awal agama Kristen, perbudakan adalah sebuah gambaran normal dari ekonomi dan masyarakat di kekaisaran Romawi, dan hal ini tetap berlangsung hingga abad pertengahan dan setelahnya.30Kebanyakan tokoh kristen
28
http://www.dl.ket.org/latinlit/mores/slaves/. Diunduh tgl.08 Maret 2010.
29
Bradley, Keith R., Slave and Masters in the Roman Empire: A Study in Social Control, Oxford University Press, 1987.
30
di masa awal, seperti Agustinus dari Hippo, mendukung berlangsungnya perbudakan, sedangkan beberapa tokoh lain seperti Santo Patrick menentang praktek perbudakan tersebut. Berabad-abad kemudian, ketika gerakan penghapusan perbudakan mengambil bentuk di seluruh dunia, kelompok-kelompok yang menganjurkan penghapusan perbudakan bekerja dengan memanfaatkan ajaran-ajaran Kristen untuk mendukung posisi mereka, dengan menggunakan ”semangat kekristenan” (spirit of Christianity), ayat-ayat Alkitab yang menentang perbudakan dan argumentasi tekstual.31
Dalam Alkitab terdapat beberapa referensi tentang perbudakan. Meskipun perbudakan secara universal telah dikutuk dalam masyarakat pasca-modern sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan , namun pada jaman dahulu hal tersebut itu adalah bagian dari adat yang dianggap lumrah pada masa itu, dan merupakan bagian integral dari ekonomi dan masyarakat saat itu. Alkitab menggunakan bahasa Ibrani, yaitu Ebed istilah untuk merujuk pada perbudakan, namun, Ebed memiliki makna yang jauh lebih luas daripada istilah perbudakan atau Slavery dalam istilah bahasa Inggris, dan di beberapa situasi lebih akurat diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris sebagai pelayan(servant)atau upahan(hired worker).32
Dalam kitab Kejadian (Genesis), Nuh dan keturunan Ham mengutuk untuk perbudakan abadi: "Terkutuklah Kanaan! Ia dan saudara-saudaranya akan menjadi budak yang paling rendah" (Kej 9:25). T. David Curp mencatat bahwa episode ini telah digunakan untuk membenarkan sikap rasial (racialized) dari perbudakan, sejak Kristen dan bahkan beberapa Muslim yang akhirnya diidentifikasi sebagai keturunan Ham Afrika hitam (black Africans). 33
Perbudakan merupakan kebiasaan di zaman kuno, dan beberapa bentuk dapat dimaafkan oleh Taurat34. Dalam Alkitab, kaum Ibrani dilarang untuk
31
Samuel Sewall, The Selling of Joseph: A Memorial, USA: Boston: Green and Allen,
page1700.
32
Jewish Encyclopedia (1901), artikel tentang Budak dan Perbudakan (slave and slavery)
33
Curp, T. David (2009-02-07)"A Necessary Bondage? When the Church Endorsed Slavery" Retrieved 2009-09-13
34a b
melukai atau membunuh budak35, memaksa seorang budak untuk bekerja pada hari Sabat36, dan mengembalikan budak yang berusaha lari37. Adalah hal yang lumrah bagi seseorang untuk secara sukarela menjual dirinya ke dalam perbudakan untuk jangka waktu yang telah ditetapkan, baik untuk melunasi hutang atau untuk mendapatkan makanan dan tempat tinggal.38Juga dianggap sah untuk memperbudak tawanan yang diperoleh melalui perang39, tetapi memperoleh budak melalui penculikan dilarang40 dengan tujuan untuk memperbudak mereka. Anak-anak juga dapat di jual ke dalam lilitan hutang (debt bondage)41, yang kadang-kadang diperintahkan oleh pengadilan hukum42.
Pada masa pra Islam di Arab, perbudakan secara luas dipraktekan, serta pada sisa masa kuno dan awal abad pertengahan dunia. Sebagian besar budak di Arabia berasal dari Ethiopia, yang dijual melalui pedagang budak. Minoritas adalah budak kulit putih yang berasal dari ekstraksi asing, yang kemungkinan dibawa oleh suku Badui pemburu (Arab caravaners) merujuk kembali ke zaman Alkitab. Budak asli Arab juga ada, contoh utamanya adalah Zaid bin Haritsah, yang kemudian menjadi anak angkat nabi Muhammad S.AW. Budak Arab biasanya diperoleh sebagai tawanan, dan umumnya ditebus dari antara suku-suku nomaden43.
Pada masa awal Islam, sejarah mencatat Sumayya binti Khubbat terkenal sebagai martir pertama Islam, Beliau dibunuh dengan tombak oleh Abu Jahal karena menolak untuk berpaling dari keimanannya. Demikian pula Bilal yang
35
Isaiah 22:2-3, 2 Kings 4:1-7
43
dibebaskan oleh Abu Bakar ketika tuannya, Umayya ibn Khalaf meletakan batu besar di dadanya dalam upaya agar Bilal mau kembali kepada kepercayaan nenek moyang sang majikan44.
Kata-kata budak disebutkan setidaknya sebanyak dua puluh sembilan ayat-ayat Al Qur’an, sebagian besar merupakan ayat-ayat-ayat-ayat yang turun di Madinah dan mengacu pada status hukum budak. Bahan hukum tentang perbudakan dalam Al Qur’an sebagian besar dibatasi untuk pembebasan dan hubungan seksual45. Menurut Sikainga, referensi Al Qur’an terhadap perbudakan terutama mengandung ”Proporsi luas, umum dan bersifat etis daripada formulasi hukum tertentu”46.
Terdapat banyak features atau aturan umum antara lembaga perbudakan yang ada dalam Al Qur’an dengan budaya negeri tetangga yang non muslim. Namun dalam Al Qur’an terdapat beberapa aturan baru yang lebih maju. Bernard Lewis menyatakan bahwa Al Qur’an membawa dua perubahan besar pada perbudakan kuno yang memiliki efek sangat luas, yaitu: Praduga kebebasan, dan larangan perbudakan terhadap orang bebas kecuali dalam keadaan tertentu47. Menurut Brockopp, ide untuk menggunakan zakat untuk pembebasan budak tampaknya menjadi unik dengan Al Qur'an, dengan asumsi penafsiran tradisional Al Qur’an 2:177 dan Al Qur’an 9:60. Demikian pula, praktik membebaskan budak untuk dosa-dosa tertentu nampaknya diperkenalkan oleh Al-Qur'an. Pelacuran paksa budak perempuan, yang merupakan kebiasaan wilayah sekitar Timur Dekat kuno, dikutuk di dalam Al Quran.48Gordon Murray mencatat bahwa larangan ini adalah "Hal yang penting dan tidak kecil artinya."49 Brockopp menulis: "budaya lain membatasi hak seorang tuan (master) untuk menyakiti
44
Lewis, Diedit oleh Dammen McAuliffe et al Jane., Ensiklopedi Alquran, Edisi 1., 5 jilid. plus index., Leiden: Brill Publishers, 2001-2006, page15.
45
Encyclopedia of the Qur'an,Slaves and Slavery
46
Sikainga (2005), page.5-6
47
Lewis, Diedit oleh Dammen McAuliffe et al Jane., Ensiklopedi Alquran, Edisi 1., 5 jilid. plus index., Leiden: Brill Publishers, 2001-2006, page6.
48
Al Qur an 24:33
49
seorang budak dan menasihati untuk memperlakukan budak mereka dengan baik, dan penempatan budak dalam kategori yang sama sebagai anggota masyarakat lemah lainnya yang berhak menerima perlindungan ini tidak dikenal di luar Al Qur’an. Kontribusi unik dari Al Qur'an, kemudian, harus ditemukan dalam penekanan pada tempat budak di masyarakat dan tanggung jawab masyarakat terhadap budak, mungkin undang-undang yang paling progresif pada perbudakan pada waktu itu. "50
2.1.2 Sejarah Perdagangan Orang di Indonesia
Sejarah perdagangan orang di Indonesia, dimulai dengan perjalanan Bangsa Eropa melalui jalur laut diawali oleh Vasco da Gama, yang pada tahun 1497-1498 berhasil berlayar dari Eropa ke India melalui Semenanjung Harapan (Cape of Good Hope) di ujung Selatan Afrika, sehingga mereka tidak perlu lagi bersaing dengan pedagang-pedagang Timur Tengah untuk memperoleh akses ke Asia Timur, yang selama ini ditempuh melalui jalur darat yang sangat berbahaya.51
Pada awalnya, tujuan utama bangsa-bangsa Eropa ke Asia Timur dan Tenggara termasuk ke Nusantara adalah untuk perdagangan, demikian juga dengan bangsa Belanda. Misi dagang yang kemudian dilanjutkan dengan politik pemukiman (kolonisasi) dilakukan oleh Belanda dengan kerajaan-kerajaan di Jawa, Sumatera, dan Maluku, sedangkan di Suriname dan Curaçao, tujuan Belanda sejak awal adalah murni kolonisasi (pemukiman).
Bangsa Portugis, yang terlebih dahulu datang ke Indonesia sebelum Belanda, selain di Malaka, memusatkan perhatian mereka di kepulauan Maluku, yang kaya akan rempah-rempah yang merupakan komoditi langka dan sangat mahal di Eropa pada waktu itu. Setelah dapat mematahkan perlawanan rakyat Maluku tahun 1511, Portugis menguasai perdagangan rempah-rempah di kepulauan Maluku selama sekitar 100 tahun.
50
Encyclopedia of the Qur'an,Slaves and Slavery
51
Pada akhir abad 16, Inggris dan Belanda mulai menunjukkan minatnya di wilayah Asia Tenggara dan melakukan beberapa pelayaran ke wilayah ini, antara lain dilakukan oleh James Lancaster tahun 1591, dua bersaudara Frederik dan adiknya, Cornelis de Houtman tahun 1595 dan kemudian tahun 1599, Jacob van Neck tahun 1598. Lancaster datang lagi tahun 1601. Ketika de Houtman bersaudara tahun 1596 pertama kali tiba di Banten, mereka disambut dengan sangat ramah, demikian juga dengan para pedagang lain, yang setelah itu makin banyak datang ke Jawa, Sumatera, dan Maluku.
Adalah para pedagang Inggris yang memulai mendirikan perusahaan dagang di Asia pada 31 Desember 1600 yang dinamakan The British East India Companydan berpusat diCalcutta. Kemudian Belanda menyusul tahun 1602 dan Perancis pun tak mau ketinggalan dan mendirikan French East India Company tahun 1604. Pada 20 Maret 1602, para pedagang Belanda mendirikan Verenigde Oost Indische Compagnie - VOC (Perkumpulan Dagang India Timur). Di masa itu, terjadi persaingan sengit di antara negara-negara Eropa, yaitu Portugis, Spanyol kemudian juga Inggris, Perancis, dan Belanda, untuk memperebutkan hegemoni perdagangan di Asia Timur. Untuk menghadapi masalah ini, oleh Staaten Generaal di Belanda VOC diberi wewenang memiliki tentara yang harus mereka biayai sendiri. Selain itu, VOC juga mempunyai hak, atas nama Pemerintah Belanda yang waktu itu masih berbentuk Republik, untuk membuat perjanjian kenegaraan dan menyatakan perang terhadap suatu negara.
Ketika Jan Pieterszoon Coen menjadi Gubernur Jenderal (1618–1623), ia mendirikan lagi bangunan yang dinamakan Mauritius Huis, dan membangun tembok batu yang tinggi, di mana ditempatkan beberapa meriam. Tak lama kemudian, ia membangun lagi tembok setinggi 7 meter yang mengelilingi areal yang mereka sewa, sehingga kini benar-benar merupakan satu benteng yang kokoh, dan mulai mempersiapkan untuk menguasai Jayakarta.
namun de Heeren Seventien di Belanda memutuskan untuk menamakan kota ini menjadi Batavia, untuk mengenang bangsa Batavir, yaitu bangsa Germania yang bermukim di tepi Sungai Rhein yang kini dihuni oleh orang Belanda. Dan nama Batavia ini digunakan oleh Belanda selama lebih dari 300 tahun. Dengan demikian, Batavia (Sunda Kalapa, Jayakarta, Jakarta) adalah jajahan Belanda pertama di Nusantara. Tanggal 30 Mei 1619 dapat ditetapkan sebagai awal penjajahan Belanda di bumi Nusantara, yang berakhir tanggal 9 Maret 1942, yaitu dengan resmi menyerahnya Pemerintah India Belanda kepada Jepang di Kalijati, Subang, Jawa Barat.
Perbudakan memang telah ada sebelum orang-orang Eropa datang ke Asia Tenggara, namun di masa VOC, berdasarkanBataviase Statuten(Undang-Undang Batavia) tahun 1642, perbudakan diresmikan dengan adanya Undang-Undang Perbudakan. Sebagian besar perbudakan terjadi di Jawa, namun budak-budak tersebut berasal dari luar Jawa, yaitu para tawanan dari daerah-daerah yang ditaklukkan Belanda, seperti dari pulau Banda tahun 1621, di mana 883 orang (176 orang mati dalam perjalanan) dibawa ke pulau Jawa dan dijual sebagai budak.52
Dalam masa sekarang ini, perdagangan manusia muncul untuk berbagai tujuan eksploitatif yang tidak pernah disetujui sebelumnya oleh korban perdagangan tersebut, tetapi tidak terbatas pada kerja paksa dan/atau mengikat, termasuk di dalam perdagangan seks, perkawinan paksa, dan praktek seperti perbudakan lainnya.
2.2 Pengertian Tindak Pidana Perdagangan Orang
Fenomena Perdagangan Manusia khususnya anak dan perempuan atau dikenal dengan istilahTraffickingbukanlah merupakan hal yang asing lagi dewasa ini. IstilahTraffiicdalam Edisi kedelapanBlack’s Law DictionaryadalahTo trade or deal in goods, illicit drugs or other contraband.53 Perdagangan manusia ini
52
http://www.scribd.com/doc/13353992, 17 maret 2009, Sejarah VOC di Indonesia, diunduh tgl.09 Februari 2010.
53
diartikan sebagai suatu fenomena perpindahan orang atau sekelompok orang dari satu tempat ketempat lain, yang kemudian dibebani utang untuk biaya proses berimigrasi ini.54 Menurut GAATW (Global Alliance Against Traffic in Women) traffickingadalah:“Semua usaha atau tindakan yang berkaitan dengan perekrutan, transpotasi di dalam atau melintasi perbatasan, pembelian, penjualan, transfer, pengiriman, atau penerimaan .seseorang dengan menggunakan penipuan atau tekanan termasuk penggunaan ancaman, penggunaan kekerasan atau penyalahgunaan kekuasaan atau lilitan hutang dengan tujuan untuk menempatkan atau menahan orang tersebut, baik dibayar ataupun tidak, untuk kerja yang tidak diinginkannya (domestik, seksual, atau reproduktif), dalam kerja paksa atau ikatan kerja atau dalam kondisi seperti perbudakan, dalam suatu lingkungan lain dari tempat dimana orang itu tinggal pada waktu penipuan, tekanan untuk lilitan hutang pertama kali”.
Pada saat ini, tidak ada definisi perdagangan manusia yang disepakati secara internasional. Istilah “perdagangan manusia” digunakan oleh berbagai pihak yang berbeda untuk menggambarkan rentangan kegiatan-kegiatan dari migrasi secara suka rela, difasilitasi, sampai eksploitasi prostitusi, dan perpindahan manusia karena diancam ataupun penggunaan kekuasaan, pemaksaan, kekerasan, dan sebagainya untuk tujuan-tujuan eksploitasi tertentu. Semakin banyak kalangan yang mengakui bahwa karakterisasi historis perdagangan manusia sudah kadaluwarsa, definisinya buruk dan tidak tanggap terhadap kenyataan mutakhir dari perpindahan dan perdagangan manusia dan terhadap sifat alami dan luasnya perlakuan kejam yang inheren dan insidental dalam perdagangan manusia.
Perdagangan manusia adalah sebuah konsep dinamis, parameternya secara tetap berubah untuk menanggapi perubahan keadaan ekonomi, sosial, dan politik. Inti dari semua definisi perdagangan manusia adalah adanya pengakuan bahwa perdagangan manusia tidak pernah berdasarkan persetujuan dari pihak yang diperdagangkan. Sifat perdagangan yang tanpa persetujuan inilah yang
54
membedakannya dari bentuk-bentuk migrasi lainnya. Tidak adanya pernyataan persetujuan jangan dikacaukan dengan ketidaklegalan beberapa bentuk migrasi. Sementara semua perdagangan manusia adalah, atau seharusnya, tidak legal, semua migrasi ilegal belum tentu merupakan perdagangan manusia. Adalah penting untuk menahan diri untuk tidak meneropong secara bersama konsep perdagangan manusia dan migrasi ilegal. Inti dari perbedaan ini adalah keberadaan persetujuannya.
Definisi perdagangan orang seharusnya mensyaratkan bahwa perpindahan kemudian menempatkan korban perdagangan pada lingkungan yang asing dimana ia terisolasi secara budaya, bahasa atau fisik, dan diingkarinya identitas hukum ataupun aksesnya pada keadilan. Selain itu, dengan memperhatikan urgensi wujud modern perdagangan perempuan dan anak perempuan, maka definisi perdagangan manusia pun berfokus pada “kerja paksa atau praktek seperti perbudakan”, daripada secara sempit hanya berfokus pada prostitusi atau eksploitasi seksual.
Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) mendefinisikan trafficking sebagai: Perekrutan, pengiriman, pemindahan, penampungan, atau penerimaan seseorang, dengan ancaman, atau penggunaan kekerasan, atau bentuk-bentuk pemaksaan lain, penculikan, penipuan, kecurangan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, atau memberi atau menerima bayaran atau manfaat untuk memperoleh ijin dari orang yang mempunyai wewenang atas orang lain, untuk tujuan eksploitasi. (Protokol PBB tahun 2000 untuk Mencegah, Menanggulangi dan Menghukum Trafficking terhadap Manusia, khususnya perempuan dan anak-anak; Suplemen Konvensi PBB mengenai Kejahatan Lintas Batas Negara).
Proses
Kerja Paksa/upah yang tidak layak Atau
Perbudakan/Praktek-praktek lain serupa perbudakan
1 + 1 + 1
PERSETUJUAN KORBAN TIDAK RELEVAN
2.3 Usaha Penghapusan Tindak Pidana Perdagangan Orang di Tingkat
Internasional, Regional, dan di Indonesia.
2.3.1 Usaha Penghapusan Tindak Pidana Perdagangan Orang di Tingkat
Internasional dan Regional
Pada era sebelum berdirinya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Masyarakat internasional telah melakukan usaha dalam perlindungan terhadap martabat manusia melalui instrumen internasional. Konferensi Internasional pertama“Trafficking in Woman” diadakan di Paris tahun 1895. Pada tahun 1904 di kota yang sama, 16 negara kembali mengadakan pertemuan yang menghasilkan kesepakatan internasional pertama yang menentang perdagangan budak berkulit putih yang dikenal melalui International Convention for the Suppresion of The White Slave Trade. Kesepakatan tersebut menentang dipindahkannya perempuan ke luar negeri dengan tujuan pelanggaran kesusilaan. Konvensi awal ini membatasi diri pada pertentangan bentuk pemaksaan dalam perdagangan perempuan.
Pada tahun 1910, konvensi tersebut diperluas cakupannya dengan memasukan persoalan perdagangan perempuan di dalam negeri dan mewajibkan negara untuk menghukum siapapun yang membujuk orang lain, baik dengan cara menyelundupkan atau dengan menggunakan kekerasan, paksaan, penyalahgunaan kekuasaan atau dengan cara lain dalam memaksa, mengupah, menculik atau membujuk perempuan dewasa untuk tujuan pelanggaran kesusilaan. Konvensi ini dikenal dengan International Convention for the suppression of White Slave Traffic. Kedua konvensi tersebut secara eksplisit masih membatasi diri pada proses rekruitmen yakni proses sampai seseorang perempuan dipindah tangankan.
Kemudian pada era Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1949 instrumen-instrumen internasional tersebut dikonsolidasikan melalui “Convention for the Suppression of Traffic in Person and of the Exploitation of the Prostitution of Others”, yang menggantikan semua traktat/instrumen terdahulu. Menurut preambul konvensi ini menentukan “prostitusi dan semua perbuatan jahat yang menyertai perdagangan orang untuk tujuan prostitusi bertentangan dengan harga diri, kepatutan dan kehormatan, serta membahayakan kesejahteraan individu, keluarga dan komunitasnya”. Selanjutnya konvensi baru ini mewajibkan negara peserta untuk menghukum siapa pun yang:
a. Memberikan jalan dan membujuk perempuan untuk tujuan prostitusi walaupun dengan persetujuannya.
b. Menjalankan, membiayai, atau mengambil bagian dalam pembiayaan sebuah rumah bordil; dan
c. Secara sadar membiarkan atau menyewa bangunan atau tempat lain atau bagian, dalam usaha memprostitusikan orang lain.
Mencermati konvensi-konvensi tersebut perbedaan antara perdagangan perempuan ke luar negeri dan dalam negeri, kedua-duanya dapat dihukum meskipun ada persetujuan dari perempuan yang bersangkutan. Untuk mengatasi kompleksitas perdagangan perempuan, definisi perdagangan perempuan terus diperluas.
Namun sebelumnya, pada tanggal 10 Desember 1948 Perserikatan Bangsa-Bangsa (MU PBB) telah mengeluarkan Universal Declaration of Human Rights (Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia (DUHAM). Yang memuat pokok-pokok hak asasi manusia dan kebebasan dasar manusia yang menegaskan, bahwa "setiap orang dilahirkan mempunyai hak akan kebebasan dan martabat yang setara". Penegasan ini merupakan simbol suatu kehidupan bermasyarakat dengan suatu visi tentang perlunya menghormati kemanusiaan setiap orang tanpa membedakan ras, warna kulit, keyakinan agama, dan politik, bahasa dan jenis kelamin. Dengan demikian perempuan dan anak berhak memperoleh perlindungan hak asasi manusia.
tegas berkaitan dengan perdagangan orang, khususnya anak, tetapi Deklarasi ini sebagai suatu deklarasi yang menegaskan setiap individu mempunyai hak bebas, yang secara mendasar terbebas daritrafiking.
Pada tahun 1979 PBB mengeluarkan Convention on The Elimination of All Forms of Discrimination Against Woman (Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan), kemudian pada tahun 1989 disahkan Konvensi Hak Anak, yang secara tegas mengatur hak anak yang berbeda dengan orang dewasa. Pada pasal 34 dan 35 konvensi ini berkaitan langsung dengan penentangan terhadap eksploitasi seksual, perlakuan salah secara seksual, dan perdagangan anak.
Pada tanggal 15 November 2000 melalui Resolusi MU PBB No.55/25 dikeluarkan Konvensi tentang Kejahatan Terorganisir (The United Nation Convention Against Transnational Organized Crime)beserta Protocol Agains the Smuggling of Migrants by Land and Sea dan Protocol to Prevent, Suppress and Punish Trafficking in Persons, Especially Women and Children.Konvensi beserta protocol ini mengatur tentang pembentukan struktur internasional guna memberantas kejahatan lintas batas di sektor produksi dan pergerakan obat-obat terlarang, perdagangan orang, dan pengiriman imigran secara tidak sah.
Sebagai bagian dari masyarakat internasional, Indonesia telah meratifikasi beberapa perjanjian internasional, diantaranya:
1. UU No 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Convention on The Elimination of All Forms of Discrimination Against Woman 1979. 55
2. UU No. 20 Tahun 1999 tentang Pengesahan ILO Convention No. 138 Concerning Minimum Age for Admission to Employment (Konvensi ILO tentang Usia Minimum Untuk Diperbolehkan Bekerja);56
3. UU No. 1 Tahun 2000 tentang Pengesahan ILO Convention No. 182 Concerning the Prohibition and Immediate Action for the Elimination
55
Indonesia, Pengesahan Konvensi mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita, UU No. 7 Tahun 1984.
56
of the Worst Forms of Child Labour (Konvensi ILO No. 182 tentang Pelarangan dan Tindakan Segera Penghapusan Bentuk-Bentuk Pekerjaan Terburuk Untuk Anak).57
Selanjutnya Indonesia juga ikut menandatangani United Nations Convention Against Transnational Organized Crime (Konvensi tentang Menentang Organisasi Kajahatan Lintas Batas) danProtocol to Prevent, Suppress, and Punish Trafficking in Person, Especially Woman and Children (Protokol untuk Mencegah, Memberantas dan Menghukum Perdagangan Orang, Khususnya Perempuan dan Anak) yang memuat rumusan perdagangan orang, khususnya perdagangan perempuan dan anak (Trafficking), dimana disebutkan bahwa yang dimaksudkan dengan Trafficking adalah perekrutan, pengangkutan, pemindahan, penyembunyian atau penerimaan seseorang melalui penggunaan ancaman atau tekanan atau bentuk-bentuk lain dari kekerasan, penculikan, penipuan, kecurangan, penyalahgunaan kekuasaan, atau posisi rentan atau memberi/menerima pembayaran atau memperoleh keuntungan sehingga mendapatkan persetujuan dari seseorang yang memegang kendali atas orang lain tersebut untuk tujuan eksploitasi.
Sehubungan dengan perdagangan anak, yakni mereka yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan, UN Trafficking Protokol menegaskan bahwa sepanjang berkaitan dengan anak-anak sebagai korbanTrafficking, tidak satupun dari cara-cara pemaksaan atau penipuan perlu digunakan untuk pembuktian ada atau tidaknya tindak pidana perdagangan manusia. Dengan demikian Protokol tidak mentolerir anak dalam situasi apapun untuk dijadikan objek eksplotasi.
Dalam Convention on the Rights of Child (Konvensi Hak Anak), pada Pasal 2 dan 3 menyebutkan tentang perdagangan anak meliputi:
1. Penjualan anak adalah setiap tindakan atau transaksi dimana seorang anak dipindahkan kepada orang lain oleh siapapun atau kelompok demi keuntungan atau dalam bentuk lain;
57
2. Prostitusi anak yaitu menggunakan seorang anak untuk aktivitas seksual demi keuntungan dalam bentuk lain;
3. Pornografi anak yaitu pertunjukan apapun atau dengan cara apa saja yang melibatkan anak dalam aktivitas seksual yang nyata atau eksplisit atau yang menampilkan bagian tubuh anak demi tujuan seksual.
Konvensi Hak Anak juga menyatakan bahwa setiap negara harus menjamin bahwa standar minimum, perbuatan dan aktivitas berikut ini dianggap sebagai tindak kriminal, baik yang dilakukan di dalam negeri atau antarnegara atau berbasis individu atau terorganisir, dalam hal:
1. Menawarkan, mengantarkan atau menerima anak dengan berbagai cara untuk tujuan eksploitasi seksual anak, mengambil organ tubuh anak untuk suatu keuntungan dan keterlibatan anak dalam kerja paksa.
2. Penculikan anak untuk diadopsi.
3. Menawarkan, mendapatkan, dan menyediakan anak untuk prostitusi. 4. Memproduksi, mengirimkan, menyebarkan, mengimpor, mengekspor,
menawarkan, menjual atau memiliki untuk tujuan pornografi anak, tujuan eksploitasi seksual anak, mengambil organ tubuh anak untuk suatu keuntungan dan keterlibatan anak dalam kerja paksa.
Secara regional pada tahun 2004 negara-negara anggota ASEAN telah menyepakati suatu tekad untk memerangi segala bentuk perdagangan dan eksploitasi seksual dan komersial terhadap perempuan dan anak melalui penandatanganan yang dilakukan oleh Kepala Pemerintahan masing-masing negara di kota Vientiane ibukota Laos. Sebagai tindak lanjutnya maka pada tahun 2006 di Davao Philipina Menteri-Menteri Pariwisata ASEAN menyepakati untuk secara bersama-ama menyelenggarakan kampanye dan mensosialisasikan tekad ASEAN untuk menghapus perdagangan dan eksploitasi seksual komersial dan anak, terutama atas kasus-kasus yang terjadi pada jalur-jalur dan di lingkungan pariwisata.58
58
Dalam mengatasi perdagangan orang juga diperlukan kerjasama secara bilateral antar negara. Walaupun belum secara khusus dilakukan kerjasama tentang perdagangan orang, Indonesia telah melakukan kerjasama dalam hal penindakan hukum dengan negara-negara lainnya melalui ratifikasi perjanjian bilateral, antara lain melalui:
1. Tahun 1998, Indonesia menandatanganiBangkok Accord and Plan of Action to Combat Traffickin in Women, yang merupakan konsensus bagi negara-negara di wilayah regional Asia Pasifik dalam memerangi perdagangan perempuan di kawasan ini. Pemerintah menetapkan Kementerian Nasional Pemberdayaan Perempuan sebagai penggiat (focal point) dalam menindaklanjuti untuk memerangi maupun memberantasnya.
2. UU No. 1 Tahun 1999 tentang pengesahan perjanjian antara Republik Indonesia dan Australia tentang Treaty Between RI and Australia on Mutual Assistance in Criminal Matters.59
3. UU No. 1 Tahun 2001 tentang Agreement between the Government of Indonesia and Government of Hongkong for the Surrender of Fugitive offerders.60
Indonesia dapat mengambil manfaat dari adanya kerjasama ini jika masalah perdagangan orang melibatkan kedua negara secara bilateral. Sedangkan dalam Perjanjian Ekstradisi, hal ini tergantung kesepakatan kedua negara yang mengadakan perjanjian untuk mencantumkan tentang tindak pidana perdagangan orang apakah dimasukkan dalam naskah perjanjian atau tidak. Perjanjian ekstradisi mengisyaratkan bahwa hanya hal-hal yang termaktub dalam perjanjian itu saja yang dapat dimintakan ekstradisi. Dengan demikian perjanjian ekstradisi
59
Indonesia, Pengesahan Perjanjian Antara Republik Indonesia dan Australia Mengenai Bantuan Timbal Balik Dalam Masalah Pidana (Treaty Between The Republic of Indonesia and Australia on Mutual Assistance in Criminal Matters), UU No. 1 Tahun 1999.
60
secara limitatif menentukan jenis-jenis tindak pidana yang dapat dilakukan ekstradisi.61
Melihat dampak yang serius dari perdagangan orang secara nasional maupun internasional, sebaiknya didalam klausula perjanjian tentang ekstradisi perlu dicantumkan ketentuan tentang perdagangan orang. Dengan demikian pelaku perdagangan orang dapat dijerat walaupun sudah melarikan diri ke negara lain.
2.3.2 Usaha Penghapusan Tindak Pidana Perdagangan Orang di Indonesia
2.3.2.1 Era Sebelum keluarnya UU No. 21 Tahun 2007
UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia62 memang mengisyaratkan bahwa setiap orang berhak untuk memperoleh perlindungan, termasuk kegiatan perdagangan orang. Namun ketentuan ini tidak mengatur sanksi terhadap pelanggaran Hak Asasi Manusia. Untuk mengantisipasi perdagangan orang selanjutnya Indonesia mengeluarkan Keputusan Presiden No. 88 Tahun 2002 tentang Rencana Aksi Penghapusan Perdagangan Perempuan dan Anak (RAN-P3A), yang dilanjutkan dalam implementasi dari rencana aksi ini dengan membentuk Gugus Tugas Lintas Sektoral. Selanjutnya melalui Surat Edaran Menteri Dalam Negeri No. 560/1134/PMD/2003 yang ditujukan kepada Gubernur, Bupati, dan Walikota seluruh Indonesia diinstruksikan untuk membentuk Gugus Tugas Daerah yang mempunyai wewenang menangani urusan perempuan dan anak.
Khusus bagi Propinsi Sumatera Utara yang merasakan bahwa perdagangan perempuan dan anak merupakan tindakan yang bertentangan dengan harkat dan martabat manusia dan melanggar Hak Asasi Manusia. Perdagangan perempuan dan anak juga dirasakan mempunyai jaringan yang luas, baik secara nasional
61
Indonesia pada tanggal 27 April 2007 yang lalu sudah menandatangani perjanjian ekstradisi dengan negara Singapura. Kesepakatan ini akan berlaku jika kedua negara telah meratifikasi perjanjian ekstradisi tersebut. Sebelumnya Indonesia juga sudah menjalin perjanjian ekstradisi dengan negara-negara lain, seperti Malaysia, Philipina, Thailand, dan lain-lain. Lihat Perjanjian Ekstradisi Indonesia-Singapura Masih Perlu Ratifikasi, (3-04-2007), etai. asp?id=166078&cl=berita>, diunduh 08 Maret 2010.
62
maupun internasional sehingga merupakan ancaman terhadap masyarakat, bangsa dan negara serta norma-norma kehidupan yang dilandasi dengan penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia. Pada tahun 2004 Propinsi Sumatera Utara mengeluarkan Peraturan Daerah Propinsi Sumatera Utara No. 6 Tahun 2004 tentang Penghapusan Perdagangan (Trafiking) Perempuan dan Anak.
Sehubungan dengan perdagangan anak, Pasal 6 Peraturan Daerah Propinsi Sumatera Utara No. 6 Tahun 2004 merumuskan bahwa anak yang akan pindah tempat tinggal ke luar desa/kelurahan wajib meminta surat pindah dari kepala desa atau lurah setempat dan harus didampingi oleh orang tua atau wali.
Untuk mengefektifkan dan menjamin terlaksananya pencegahan perdagangan perempuan dan anak, maka perlu dibentuk gugus tugas tentang Rencana Aksi Nasional Penghapusan Perdagangan Perempuan dan Anak (RAN P3A), di tingkat Propinsi, Kabupaten/Kota.
Setiap perempuan dan anak yang menjadi korban perdagangan anak, berhak mendapat bantuan hukum dari gugus tugas sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hak atas korban perdagangan perempuan dan anak meliputi juga memperoleh rehabilitasi baik fisik maupun psikis akibat perdagangan, dan berhak diintegrasikan atau dikembalikan kepada lingkungan keluarga, masyarakat dan lembaga pendidikan bagi yang masih
berstatus sekolah.
Jika dilihat pada Peraturan perundang-undangan nasional pada era sebelum keluarnya UU No. 21 Tahun 2007, belum sepenuhnya menjangkau masalah perdagangan orang dan belum sesuai dengan perkembangan hukum internasional. Belum ada satupun peraturan perundang-undangan nasional yang memberikan batasan/defenisi tentang perdagangan orang. Hal ini juga menjadi kendala dalam upaya penegakan hukum terhadap perdagangan orang.
2.3.2.2 Era Setelah Keluarnya Undang-Undang No. 21 Tahun 2007 Tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang.
ancaman bagi masyarakat, bangsa dan negara, serta terhadap norma-norma kehidupan yang dilandasi penghormatan terhadap hak asasi manusia. Ditambah pula peraturan perundang-undangan selama ini yang berkaitan dengan perdagangan orang belum memberi landasan hukum yang menyeluruh dan terpadu bagi upaya pemberantasan tindak pidana perdagangan orang, maka pada tanggal 19 April 2007 Indonesia mengesahkan Undang-Undang No. 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang.
Dengan berlakunya UU No. 21 Tahun 2007 maka Pasal 297 dan Pasal 324 KUHP dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi. Namun segala perkara tindak pidana perdagangan orang yang masih dalm proses penyelesaian di tingkat penyidikan, penuntutan, atau pemeriksaan di sidang pengadilan, tetap diperiksa berdasarkan undang-undang yang mengaturnya. Pasal 2 UU No. 21 Tahun 2007 memberikan rumusan tentang tindak pidana perdagangan orang sebagai berikut:
(1) Setiap orang yang melakukan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang atau memberi bayaran atau manfaat walaupun memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain, untuk tujuan mengeksploitasi orang tersebut di wilayah negara Republik Indonesia, dipidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp. 120.000.000 (seratus dua puluh juta) dan paling banyak Rp. 600.000 juta.
(2) Jika perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang ter-eksploitasi, maka pelaku dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
pengiriman anak ke dalam atau ke luar negeri dengan cara apapaun yang mengakibatkan anak tereksploitasi dipidana dengan masa hukuman dan denda yang sama dengan hukuman yang termaktub dalam Pasal 5.
UU No. 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang telah disahkan, selanjutnya diperlukan kegiatan sosialisasi dengan unsur-unsur masyarakat, antara lain dengan aparat penegak hukum (polisi, jaksa, dan hakim), kaukus anak dan NGO anak, kaukus perempuan dan NGO perempuan, sektor pemerintah yang terkait, perguruan tinggi dan masyarakat luas. Melalui pendekatan yang dikemukakan oleh Lawrence M. Friedmandalam Legal System, maka upaya penegakan hukum dapat dilakukan melalui pembenahan struktur hukum (legal structure). Struktur hukum yang terdiri dari Kepolisian, Kejaksaan, Pengadilan, Pengacara/Konsultan Hukum, LSM (Lembaga Swadaya Masyarakatan). Untuk membangun sistem penegakan hukum yang baik, peningkatan kesejahteraan aparat penegak hukum (kepolisian, kejaksaan, dan pengadilan) yang dibarengi dengan sistemReward and Punishment, menjadi suatu yang harus mendapat prioritas utama.
Legal culture (budaya hukum) berkaitan dengan persepsi dan apresiasi masyarakat terhadap hukum. Dengan demikian diperlukan upaya membangun kesadaran dan partisipasi masyarakat terhadap penegakan hukum, khususnya penegakan hukum terhadap perdagangan orang. Dengan demikian dalam konteks upaya penegakan hukum, akan sangat tergantung pada kualitas substansi hukum, kinerja struktur hukum, dan kesadaran masyarakat yang merupakan suatu sistem.
Akhirnya dengan mengambil teori hukum Roscoe Pound yang menyatakan bahwa law is a tool of social engineering/ social engineering by law. Roscoe Pound ingin memberikan gambaran tentang apa yang sebenarnya yang diinginkan dan apa yang telah diinginkan oleh pengguna hukum sebagai alat rekayasa sosial. UU No. 21 Tahun 2007 telah disahkan, namun sekarang tergantung kepada kita mau diapakan undang-undang ini, karena undang-undang ini hanya sebagai alat.