BAB V. PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian dan pembahasan terhadap masalah yang dada, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Problematika Yang Dihadapi Jaksa Dalam Penyidikan Tindak Pidana Korupsi
a. Undang-Undang
Adapun argumentasi mengapa pihak kepolisian berwenang melakukan penyidikan terhadap perkara tindak pidana korupsi adalah sebagai berikut: 1) Bahwa melalui visi dari jawaban pemerintah atas Pandangan Umum para anggota DPR-GR mengenai rancangan mana diusulkan agar kata "penyidik" pada pasal 5 diganti dengan kata "Jaksa" sesuai dengan pasal 4 dan 6 Undang-Undang Nomor : 24 Prp 1960, maka jawaban pemerintah dengan tegas menentukan bahwa karena kewenangan dalam pasal 11,12 dan 13 Randangan Undang Pemberantasan Korupsi itu menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1961 tentang ketentuan-ketentuan Pokok kepolisian "Negara terdapat pula pada kepolisian negara, maka dipakai kata "penyidik". Sedangkan pengganti kata "penyidik" oleh "Jaksa" dalam pasal-pasal yang bersangkutan ini akan menimbulkan kesan seolah-olah jaksalah yang mempunyai wewenang itu".
2) Bahwa berdasarkan Keputusan Kapolri NOPOL KEP/14/XII/93 dan NOPOL Skep/15/XII/93 tanggal 13 Desember 1993 tentang penyempurnaan Pokok Organisasi dan Prosedur beserta susunan personalia dan perlengkapan badan pada tingkat kewilayahan Polri dan Ditserse Polisi Nopol TR/211A/VI/95 tanggal 21 April tentang pembentukan bagian Reserse Tindak Pidana Korupsi pada tingkat Polda besrta unit-unit Reserse Tindak
Pidana Korupsi kepada tingkat Polres/Polresta dimana ditentukan bahwa pada tingkat Polda dibentuk Kepala bagian Tindak Pidana Korupsi (Kabag Tipikor) dibawah Kadit Serse sedang pada tingkat Polres/Polresta dibertuk unit Tipikor dibawah Kasatserse.
3) Ketentuan pasal 14 ayat (1) huruf a Undang-undang Nomor 28 tahun 1997 (LNRI 1997 Nomor 81, TLNRI Nomor 3710) tanggal 7 Oktober 1997 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia yang menentukan bahwa Kepolisian Negara Repunlik Indonesia yang menerangkan bahwa Kepolisian Negara Republik Indonesia bertugas melakukan penyelidikan dan penyidikan terhadap semua tindak pidana sesuai dengan Hukum Acara Pidana dan Peraturan perundang-undangan lainnya.
Sedangkan mengenai asumsi dasar bahwa pihak Kejaksaan berhak melakukan penyidikan perkara tindak pidana korupsi didukung argumentasi-argumentasi sebagai berikut :
1) Bahwa sebagia bagian dari hukum pidana khusus (ius singulare, ius
specialle/bijzonder strafrech), maka modus operandi dan aspek
pembuktian tindak pidana korupsi harus ditangani secara lebih spesifik, sehingga dibutuhkan keterampilan dan profesionalisme tertentu.
2) Pasal 284 ayat (2) KUHAP jo. Pasal 17 Peraturan Pemerintah Nomor 27 tahun 1983.
3) Ketetapan MPR RI Nomor XI/MPR/1998 tentang penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari KKN jo. Instruksi Presiden Nomor 30 Tahun 1998 tanggal 2 Desember tentang Pemberantasan KKN, yang berisi antara lain : Pertama segera mengambil tindakan pro aktif, efektif dan efisien dalam memberantas koruspi, kolusi dan nepotisme guna memperlancar dan meningkatkan pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka terwujudnya nasional bangsa Indonesia.
4) Undang-undang Nomor 28 Tahun 1999 tanggal 19 Mei 1999 tentang penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas dari KKN, yang berisi
antara lain kewenangan Jaksa sebagai penyidik tercantum dalam pasal 1, 12, 17, 18, 20, 21, dan 22 beserta penjelasannya.
5) Keputusan Presiden Nomor 86 tahun 1999 Tanggal 30 Juli 1999 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kejaksaan RI, dimana dalam pasal 17 disebutkan: " Jaksa agung Muda Tindak Pidana khusus mempunyai tugas dan wewenang melakukan penyelidikan, penyidikan, pemeriksaan tambahan, penuntutan, pelaksanaan penetapan hakim dan putusan pengadilan, pengawasan terhadap pelaksanaan keputusan lepas bersyarat dan tindakan hukum lain mengenai tindak pidana ekonomi, tindak pidana korupsi, dan tindak pidana khusus lain berdasarkan peraturan perundang-undangan dan kebijaksanaan yang ditetapkan oleh Jaksa Agung".
6) Undang-undang Nomor 32 Tahun 1999 tanggal 16 Agustus 1999 tentang pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, dimana dalam pasal 27 disebutkan : " Dalam hal ditemukan tindak pidana korupsi yang sulit pembuktiannya, maka dibentuk Tim gabungan dibawah koordinasi Jaksa agung".
Akan tetapi justru Undang-undang Nomor 30 tahun 2002 tentang Pemberantasan tindak Pidana Korupsi, memberikan kewenangan kepada Jaksa untuk melakukan penyidikan terhadap semua tindak pidana korupsi. Alasan yuridis yang mendasari kewenangan Jaksa melakukan penyidikan Tindak Pidana Korupsi dapat ditafsirkan di dalam Pasal 39 ayat (1), pasal 44 ayat (3),(4), dan pasal 50.
b. Penegak Hukum / Birokrat
Halangan-halangan yang mungkin dijumpai pada penerapan peranan yang seharusnya dari golongan panutan atau penegak hukum, mungkin berasal dari dirinya sendiri atau dari lingkungan. Halangan-halangan yang memerlukan penanggulangan tersebut, adalah :
1. Keterbatasan kemampuan untuk menempatkan diri dalam peranan pihak lain dengan siapa dia berinteraksi.
2. Tingkat aspirasi yang relatif belum tinggi.
3. Kegairahan yang sangat terbatas untuk memikirkan masa depan, sehingga sulit sekali untuk membuat suatu proyeksi.
4. Belum adanya kemampuan untuk menunda pemuasan suatu kebutuhan tertentu, terutama kebutuhan material.
5. Kurangnya daya inovatif yang sebenarnya merupakan pasangan konservatisme.
Dari uaraian tersebut dapat di temukan adanya problematika dalam proses penyidikan tindak pidana korupsi yang berasal dari penegak hukum yaitu :
1. Terdapatnya Penghentian Penyidikan
Alasan penghentian penyidikan disebutkan dalam pasal 109 ayat (2) KUHAP, meliputi :
a. Tidak terdapat cukup bukti.
Apabila penyidik tidak memperoleh cukup bukti untuk menuntut tersangka atau bukti yang diperoleh penyidik tidak memadai untuk membuktikan kesalahan tersangka jika diajukan kedepan sidang pengadilan. Atas dasar ketidak cukupan bukti inilah penyidik berwenang melakukan penghentian penyidikan.
Ditinjau dari satu segi pemberian wewenang ini membina sikap mental penyidik untuk tidak secara serampangan mengajukan begitu saja segala hasil penyidikan yang telah dilakukan. Penyidik diharapkan lebih selektif mengajukan setiap kasus yang mereka
periksa, apakah cukup bukti atau tidak sebelum perkara dilimpahkan kapada Penuntut Umum.
b. Peristiwa yang disangkakan bukan merupakan tindak pidana.
Apabila dari penyidikan dan pemeriksaan, penyidik berpendapat bahwa apa yang disangkakan terhadap tersangka bukan merupakan perbuatan pelanggaran dan kejahatan, dalam hal ini berwenang melakukan penghentian penyidikan. Atau tegasnya, jika apa yang disangkakan bukan kejahatan maupun pelanggaran yang termasuk kompetensi peradilan umum, jika tidak merupakan pelanggaran dan kejahatan seperti yang diatur dalam KUHp atau dalam peraturan perundang-undangan tindak pidana khusus yang termasuk dalam ruang lingkup wewenang peradilan umum, penyidikan beralasan untuk dihentikan. Hal tersebut justru merupakan keharusan bagi penyidik untuk menghentikan pemeriksaan penyidikan.
c. Penghentian Penyidikan Demi Hukum
Penghentian penyidikan atas dasar alasan demi hukum pada pokoknya sesuai dengan alasan-alasan hapusnya hak menuntut dan hilangnya hak menjalankan pidana yang diatur dalam Bab VIII Kitab Undang-undang Hukum Pidana sebagaimana yang dirumuskan dalam ketentuan pasal 76, 77, 78, antara lain :
1). Nebis in idem, seseorang tidak dapat lagi dituntut untuk yang kedua kalinya atas dasar perbuatan yang sama, terhadap mana atas perbuatan itu orang yang bersangkutan telah pernah diadili dan telah diputus perkaranya oleh Hakim atau pengadilan yang berwenang untuk itu di indonesia, serta putusan itu telah memperoleh kekuatan hukum tetap.
2). Tersangka meninggal dunia (pasal 77 Kitab Undang-undang Hukum Pidana). Dengan meninggalnya tersangka, dengan sendirinya penyidikan harus dihentikan. Hal ini sesuai dengan prinsip hukum yang berlaku universal pada abad modern, yakni kesalahn tindak pidana yang dilakukan oleh seseorang adalah menjadi tanggung jawab sepenuhnya dari pelaku yang bersangkutan.
3). Karena kadaluwarsa, seperti yang dijelaskan dalam pasal 78 KUHP, apabila telah dipenuhi tenggang waktu penutupan seperti yang diatur dalam pasal 78 KUHP dengan sendirinya menurut hukum penuntutan terhadap pelaku tindak pidana tidak boleh lagi dilakukan.
2. Kurang Profesionalnya Jaksa
Kejaksaan Negeri karanganyar dinilai kurang profesional dalam menjalankan tugasanya dalam menangani kasus korupsi. Hal ini dapat dilihat dalam kasus dugaan korupsi dana peningkatan kerja DPRD kabupaten Karanganyar senilai 450 juta. Berkas perkara dari Polres karanganyar sempat dikembalikan sampai lima kali. Padahal menurut Purwanto selaku kepala Pengadilan Negeri Karangnyar mengemukakan bahwa pihaknya sebagai aparat penegak hukum menilai Kejaksaan Negeri karangnyar tidak profesional dalam menangani kasus dugaan korupsi tersebut. Menurut dia semua kasus harua ada akhirnya, dan tidak bisa dikatung-katungkan begitu saja57. Selain itu masih adanya yang masih bisa disuap.
57
3. Terbatasnya jumlah personil penyidik dari kejaksaan.
Adanya keterbatasan jumlah personil penyidik Kejaksaan menjadikan suatu problematika dari penyidikan, karena proses penyidikan yang diharapkan bisa segera selesai dilaksanakan tetapi karena kurangnya jumlah personil penyidik maka proses penyidikan tidak bisa selesai dengan cepat. Sebagaimana diketahui bahwa jumlah anggota penyidik kejaksaan karanganyar sendiri hanya 11 orang, padahal di setiap tahun kasus korupsi yang terjadi di Kabupaten karanganyar lebih dari 10 kasus. Hal ini menyebabkan terjadinya beban berat dalam proses penyidikan sehingga penyidikan berjalan dengan lambat atau bahkan penyidikan kasus korupsi teresbut berhenti ditempat.
4. Manajemen sumber daya manusia
Sebagai penyidik, kurang profesionalitas dan terspesialisasi, kecermatan dan kecepatan suatu tim dalam menyelesaikan penyidikan suatu kasus yang dikualifikasikan sebagai suatu tindak pidana korupsi didukung dengan kemampuan masing-masing individu penegak hukum atau petugas. Jadi diharapkan agar penyidik tindak pidana korupsi tersebut benar-benar merupakan seseorang yang profesional, tepat dan cermat dalam menangani penyidikan kasus korupsi.
3. Faktor Sarana atau Fasilitas
1. Kurangnya sarana dan prasaran yang dimiliki oleh Kejaksaan
Adanya sarana dan prasarana yang belum memadai, ketepatan, kecermatan, dan kecepatan suatu tim penyidik dalam meyelesaikan proses penyidikan suatu kasus, selain tergantung pada tingkat profesionalisme dan spesialisasi masing-masing individu juga memerlukan dukungan sarana dan prasarana yang memadai yang dapat menunjang keberhasilan
dan kecepatan proses penyidikan. Sarana dan prasarana yang dimaksud antara lain adalah seperti ruang kerja yang memadai, kendaraan operasional, alat perekam, alat penyadap, kamera foto, komputer akses internet, foto kopi, video. Kerena sepanjang pengetahuan penulis ketika melaksanakan penelitian, Kejaksaan Negeri Karanganyar belum dilengkapi dengan komputer yang berakseskan internet juga belum dilengkapi dengan foto kopi.
4. Faktor Masyarakat
Mengacu Soerjono Soekanto, maka apabila dikaitkan fakta dari hasil penelitian maka akan didapat sebuah problematika penyidikan yang muncul dari masyarakat, yaitu :
" Masyarakat cenderung juga melindungi si pelaku korupsi. hal itu didasarkan masih adanya perkataan ewuh-pekewuh dalam masyarakat kita yang mana masyarakat diharapkan dapat membantu proses penyidikan tetapi karena alasan suatu hal dan ewuh-pekewuh dari sekelompok masyarakat yang mengetahui adanya Tindaka Pidana Korupsi tadi proses penyidikan tindak pidana korupsi tidak bisa segera dilaksanakan dan akhirnya terpaksa mengalami sebuah problematika yang panjang".
Seperti yang terdapat didalam Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi masyarakat dapat berperan serta membantu upaya dan pemberantasan tindak pidana korupsi, peran serta masyarakat dapat diwujudkan dalam bentuk :
1. Hak mencari, memperoleh dan memberikan informasi telah terjadi tindak pidana korupsi kepada penegak hukum yang menangani perkara tindak pidana korupsi.
2. Hak menyampaikan saran dan pendapat secara bertanggung jawab kepada penegak hukum yang menangani perkara tindak pidana korupsi.
3. Hak untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan tentang laporan yang diberikan kepada penegak hukum dalam waktu paling lama 30 hari.
4. Hak untuk memperoleh pelayanan dalam reformasi adanya dugaan telah terjadinya tindak pidana korupsi kepada penegak hukum yang menangani perkara tindak pidana korupsi.
5. Hak untuk memperoleh perlindungan hukum
Jadi, faktor budaya masyarakat disini tidak selalu cenderung melindungi si pelaku korupsi tetapi juga melaporkan telah terjadinya suatu tindak pidana korupsi. Masyarakat yang cenderung melindungi pelaku tindak pidana korupsi umumnya adalah masyarakat yang mempunyai hubungan dengan si pelaku saja.
5. Faktor Kebudayaan
1. Nilai ketertiban dan nilai ketentraman.
2. Nilai jasmani/kebendaan dan nilai rohani/keakhlakan.
3. Nilai kelanggengan/konservatisme dan nilai kebaruan/inovatisme.
2. Upaya-upaya Yang dapat Dilakukan Jaksa Untuk Mengatasi Problematika Tersebut
a. Kejaksaan jika telah menangani suatu kasus tindak pidana korupsi, maka sebaiknya diberi tembusan surat perintah penyelidikan/penyidikan kepada Kapolda dan / atau Kapolres, agar tidak terjadi tumpang tindih. Demikian
pula sebaliknya jika penyidik Polri mulai menangani tindak pidana korupsi, maka harus diupayakan agar Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan sesegera mungkin dikirim ke Kejaksaan dengan tembusan kepada Kepala kejaksaan Negeri setempat.
b. Aparat Kejaksaan dituntut bekerja secara intervensi atau dipengaruhi oleh lembaga lain, sehingga hasil penyidikan dan penuntutan murni mengacu kepada undang-undang yang berlaku.
c. Penanganan kasus-kasus tindak pidana korupsi diselesaikan secara CTT (cepat, tepat dan tuntas). Cepat artinya tidak berlarut-larut; Tepat artinya sesuai pedoman yang ada (profesional), dan Tuntas tidak menimbulkan masalah-masalah yang baru yaitu mempercepat penyidikan dalam waktu 3 bulan sudah harus dilimpahkan ke Pengadilan dan adanya pengendalian serta pengawasan dari pejabat struktural yang terkait seperti Asisten Tindak Pidana Khusus / Kepala kejaksaan Negeri / kepala Seksi Tindak Pidana Khusus dalam kegiatan penyidikan dan kegiatan penuntutan.
d. Mempersiapkan para penegak hukum untuk mempunyai keahlian khusus dalam menangani tindak pidana korupsi, memberikan pengetahuan tentang penguasaan hukum dan peraturan-peraturan tindak pidana korupsi kepada petugas-petugas yang menangani tindak pidana korupsi. Misalnya dengan mengadakan pendidikan Jaksa Tindak Pidana Korupsi, sehingga ada Jaksa Khusus dalam menangani tindak pidana korupsi. Mengadakan penataran kepada petugas-petugas yang terkait dalam penanganan tindak pidana korupsi untuk lebih menguasai peraturan tindak pidana korupsi. Mengadakan pertemuan-pertemuan antara sesama penegak hukum dan instansi yang terkait, untuk mendapatkan kesatuan persepsi dalam penanganan perkara tindak pidana korupsi.
e. Meminta kepada pembuat Undang-undang untuk membenahi sistem perundang-undangan yang ada. Seperti yang terdapat dalam pasal 2 dan 3 Undang-undang Tindak pidana korupsi. Jaksa dan Hakim sering bingung dalam menafsirkan isi dari pasal tersebut. Karena tanpa adanya sistem
perundang-undangan yang baik, maka proses penyidikan tindak pidana korupsi tidak akan bisa berjalan sebagaimana yang diharapkan. Seperti kita ketahui bahwa tindak pidana korupsi merupakan kejahatan yang bersifat luar biasa atau extraordinary crime atau biasa juga disebut dengan kejahatan kerah putih. Dimana korupsi sendiri merupakan kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang yang berkuasa atau Pejabat Tinggi Negara. Jaksa penyidik tindak pidana korupsi memberikan bimbingan kepada masyarakat umum agar melaporkan setiap pelaku kejahatan tindak pidana korupsi yang mereka ketahui, jangan berusaha melindungi si pelaku korupsi dengan berbagai alasan.
f. Dalam rangkaian tahap penyidikan upaya-upaya yang dilakukan oleh Jaksa Penyidik adalah :
• Dalam hal pemanggilan saksi
Apabila saksi bertempat tinggal jauh maka harus dipersiapkan panggilan jauh-jauh hari sebelumnya dengan menggunakan sarana tercepat. Apadila identitas saksi tidak diketahui secara jelas maka jaksa penyidik memnita info kepada orang yang relevan dan bila saksi tidak bekerja di suatu instansi tertentu maka akan disisir dari nama kota untuk mengetahui secara pastidimana saksi tinggal, misal dikelurahan ditanyakan kepada Kepala Desa, RT, atau RW setempat. • Pemanggilan dan pemeriksaan tersangka
Apabila tersangaka tidak berada ditempat maka penyidik memberikan tenggang waktu kepada tersangka dan apabila tersangka berusaha melarikan diri maka akan dilakukan upaya paksa, tetapi apabila tersangka memberikan keterangan yang berbelit-belit mak penyidik tidak akan memaksa tersangka karena itu merupakan hak ingkar dari tersangka yang harus dihargai.
Prosedur ideal dari penggeledahan adalah meminta ijin kepada ketua pengadilan negeri setempat, dan setelah itu langsung dilakukan penggeledahan. Apabila tidak mendapatkan ijin dari ketua pengadilan maka akan tetap dilakukan penggeledahan oleh penyidik dari kejaksaan.
• Penyitaan
Penyitaan bisa dilakukan tanpa ijin dari Ketua Pengadilan Negeri. • Penangkapan dan penahanan
Dalam hal tersangka melarikan diri maka maka membutuhkan waktu yang lama untuk bisa dilakukan penahanan karena harus dilakukan terlebih dahulu pencarian terhadap tersangka ke rumahnya atau ketempat dia bekerja, apabila tidak ditemukan juga maka akan dimasukkan kedalam daftar DPO, jika ketemu maka tersangka langsung ditangkap.
• Pemberkasan
Upaya jaksa dalam hal pemberkasan adalah bahwa Jaksa akan lebih teliti dan cermat supaya pemberkasan yang dilakukan tidak terjadi kesalahan.