Heni Holiah
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Kesimpulan ... 96 Rekomendasi ... 97
DAFTAR PUSTAKA ... 98
xiii
DAFTAR TABEL
Halaman 1 Jadwal Pelaksanaan Kajian ... 26 2 Masalah, Topik, Sumber data,
Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data ... 28 3 Peruntukan Lahan di Kelurahanan Kebon Waru
Tahun 2005 ... 31 4 Jumlah Penduduk Kelurahan Kebon Waru
Berdasarkan Umur dan Jenis Kelamin Tahun 2005 ... 33 5 Komposisi Penduduk Kelurahan Kebon Waru
Berdasarkan Tingkat Pendidikan Tahun 2005 ... 35 6 Komposisi Penduduk Kelurahan Kebon Waru
Berdasarkan Mata Pencaharian Tahun 2005 ... 37 7 Keanggotaan dan Jenis Usaha KUBE HPMBK
di Kelurahan Kebon Waru Tahun 2005 ... 50 8 Perkembangan Modal KUBE HPMBK (dalam ribuan)
Di Kelur ahan Kebon Waru tahun 2005/2006 ... 52 9 Komposisi Anggota KUBE HPMBK Berdasarkan Pendidikan
di Kelurahan Kebon Waru Tahun 2005 ... 54 10 Stuktur Kepengurusan KUBE HPMBK
di Kelurahan Kebon Waru Tahun 2006 ... 56 11 Tahap Perkembangan KUBE HPMBK
di Kelurahan Kebon Waru Tahun 2006 ... 63 12 Pencapaian Tingkat Keberhasilan KUBE HPMBK
di Kelurahan Kebon Waru Tahun 2006 ... 68 13 Masalah Umum dan Khusus pada KUBE HPMBK
Di Kelurahan Kebon Waru Tahun 2006 ... 71 14 Masalah, Sebab-sebab Masalah dan Cara Mengatasi Masalah
pada KUBE HPMBK-2 dan HPMBK-3 (Tipologi Tumbuh) ... 84 15 Masalah, Sebab-sebab Masalah dan Cara Mengatasi Masalah
pada KUBE HPMBK-1 (Tipologi Berkembang) ... 86 16 Rencana Program Peningkatan Motivasi dan Pengelolaan
KUBE HPMBK-2 dan KUBE HPMBK-3 (Tipologi Tumbuh) ... 88 17 Rencana Program Penge lolaan KUBE HPMBK-1
xiv
Halaman 1 Bagan Kerangka Pemikiran Kajian ... 23 2 Piramida Penduduk Kelurahan Kebon WaruTahun 2005 ... 33 3 Komposisi Keluarga Miskin di Kelurahan
Kebon Waru Berdasarkan Pendidikan Tahun 2005 ... 36 4 Komposisi Keluarga Miskin di Kelurahan Kebon Waru
Berdasarkan Jenis Pekerjaan Tahun 2005 ... 38 5 Pelapisan Sosial di Kelurahan Kebon Waru ... 40 6 Kondisi dan Kualitas KUBE HPMBK
di Kelurahan Kebon Waru Tahun 2005 ... 49 7 Perkembangan Modal KUBE HPMBK (dalam Ribuan)
xv
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman 1 Peta Lokasi Kajian ... 101 2 Pedoman Studi Dokumen ... 102 3 Pedoman Pengamatan Berperanserta ... 103 4 Pedoman Wawancara ... 105 5 Pedoman Diskusi Kelompok Terfokus ... 111
Latar Belakang
Kegagalan program-program pembangunan di masa lampau berimplikasi pada bergesernya paradigma baru yang memandang pentingnya masyarakat sebagai pelaku utama dalam pembangunan. Kesadaran tersebut semakin meningkat sejalan bangkitnya era reformasi setelah terjadi perubahan besar dalam sistem pemerintahan dan kenegaraan sejak tahun 1997. Menurut Adi (2001), pentingnya menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama dalam pembangunan menunjukkan perubahan paradigma pembangunan dari pendekatan pertumbuhan
(growth approach) kepada pendekatan kemandirian (self-reliance approach). Namun demikian, akibat telah terma rjinalisasi dalam waktu lama, masyarakat mengalami kesulitan untuk mengartikulasikan otonominya sebagai pelaku utama pembangunan. Dalam konteks ini, pemberdayaan sangat diperlukan sebagai strategi dalam pengembangan masyarakat
Pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu pendekatan yang kini sering digunakan dalam meningkatkan kualitas kehidupan dan mengangkat harkat martabat keluarga miskin. Konsep ini menjadi sangat penting terutama karena memberikan perspektif positif terhadap orang miskin. Orang miskin tidak dipandang sebagai orang yang serba kekurangan (misalnya, kurang makan, kurang pendapatan, kurang sehat, kurang dinamis) dan objek pasif penerima pelayanan belaka, melainkan sebagai orang yang memiliki beragam kemampuan yang dapat diberi kesempatan untuk memperbaiki hidupnya. Konsep pemberdayaan memberi kerangka acuan mengenai kemampuan yang melingkup aras sosial, ekonomi, budaya, politik dan kelembagaan. Pemberdayaan adalah serangkaian kegiatan untuk memperkuat kekuasaan atau keberdayaan kelompok lemah dalam masyarakat, termasuk individu-individu yang mengalami masalah kemiskinan (Suharto, 2005).
2 Salah satu aspek penting dalam pemberdayaan adalah pemberian akses kepada masyarakat untuk meningkatkan kehidupan ekonomi, sosial dan politik. Hal ini disandarkan pada kenyataan bahwa salah satu penyebab kemiskinan dalam masyarakat adalah kurangnya akses terhadap sumberdaya yang disebabkan kurangnya pengetahuan dan keterampilan dan kurangnya kesediaan pemerintah atau kelompok kuat untuk membagi sumberdaya kepada kelompok lemah (Haeruman dan Eriyatno, 2001)
Kemiskinan merupakan kondisi ketidakmampuan memenuhi kebutuhan yang dialami oleh individu maupun kelompok masyarakat yang didasarkan pada nilai atau norma yang berlaku dalam masyarakat. Dengan kata lain, seseorang dikatakan miskin apabila tingkat pendapatan mereka tidak memungkinkan untuk mentaati tata nilai dan norma masyarakat (Nugroho dan Dahuri , 2004). Lebih lanjut, Supriatna (1997), mengemukakan bahwa umumnya suatu keadaan disebut miskin bila ditandai oleh kekurangan atau tidak mampu memenuhi tingkat kebutuhan dasar manusia. Termasuk dalam kebutuhan dasar ini adalah kebutuhan akan sandang, pangan dan tempat tinggal.
Pendekatan kelompok melalui kelompok usaha merupakan strategi pemberdayaan masyarakat yang efektif untuk masyarakat lapisan bawah (Sumodiningrat, 1997). Keberadaan kelompok akan memberikan manfaat lebih besar bagi anggotanya karena dapat dipakai untuk meningkatkan kemampuan berusaha, mengembangkan pengetahuan dan sistem nilai yang mendukung kehidupan usaha, menyuburkan moralitas usaha yang baik, dan meningkatkan kualitas kehidupan yang lebih luas seperti usaha, kerumahtanggaan, kemasyarakatan dan sebagainya (Supriyanto, 1997).
Salah satu program penanggulangan kemiskinan dengan pendekatan kelompok adalah pembentukan Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dalam program Asistensi Kesejahteraan Sosial Keluarga. Asistensi Kesejahteraan Sosial Keluarga (AKSK) adalah program penanggulangan kemiskinan dari Departemen Sosial sebagai tahapan lanjut baik melalui bantuan dan jaminan sosial, pelayanan
dan rehabilitasi, serta pemberdayaan dengan melibatkan pendamping sosial pada KUBE agar program dapat dilaksanakan secara optimal. Pendamping sosial dapat diartikan sebagai interaksi dinamis antara kelompok miskin dan pengembang masyarakat untuk secara bersama-sama menghadapi beragam tantangan seperti: merancang program perbaikan kehidupan sosial ekonomi, memobilisasi sumber daya setempat, memecahkan masalah sosial, menciptakan atau membuka akses bagi pemenuhan kebutuhan, dan menjalin kerjasama dengan berbagai pihak. Pendamping sosial merupakan agen perubahan yang turut terlibat membantu memecahkan persoalan yang dihadapi keluarga miskin yang disebabkan oleh lemahnya kondisi sumberdaya manusia untuk mengakses sumberdaya ekonomi dan sosial (Suharto, 2005).
Bagi keluarga miskin, manfaat KUBE tidak hanya mencakup pengembangan aspek ekonomi, tetapi juga aspek sosial. KUBE merupakan media untuk meningkatkan pendapatan, mengembangkan usaha, membangun interaksi dan kerjasama dalam kelompok, mendayagunakan potensi dan sumber ekonomi lokal, memperkuat budaya kewirausahaan, mengembangkan akses pasar, menyelesaikan berbagai masalah serta memenuhi kebutuhan (Departemen Sosial, 2005). Namun demikian, banyak KUBE yang telah dibentuk dan dikembangkan oleh pemerintah tidak mencapai sasaran bahkan banyak pula yang mengalami kegagalan. Hal ini disebabkan oleh penyeragaman tindak lanjut dari program, sedangkan perkembangan KUBE itu tidak sama sehingga permasalahan dan kebutuhannya pun berbeda.
Menurut Departemen Sosial (2005), tahap perkembangan KUBE digolongkan kedalam 3 tipologi, yaitu tumbuh, berkembang, dan maju atau mandiri. KUBE Tumbuh adalah KUBE yang kegiatan kelompok baru berjalan, telah menerima bantuan UEP dan telah memiliki pendamping sosial. KUBE berkembang adalah KUBE yang kegiatannya telah didasarkan pada pembagian kerja sesuai dengan kepengurusannya, keuntungan usaha berkembang dan telah
4 terbentuk modal. KUBE Maju atau mandiri adalah KUBE yang telah menjalankan manajemen dengan baik.
Bila mengacu pada tipologi perkembangan KUBE, maka terdapat KUBE dengan tahap perkembangan berbeda walaupun pada awal pembentukannya memiliki kondisi dan kualitas relatif sama, yaitu ada KUBE yang tidak berkembang dalam arti masih tergolong tipologi tumbuh, ada yang tergolong tipologi berkembang bahkan maju atau mandiri. Kondisi ini memunculkan permasalahan sehingga perlu dilakukan tindak lanjut yang efektif untuk mengatasi tahap perkembangan KUBE yang berbeda tersebut.
Di Kelurahan Kebon Waru Kecamatan Batununggal Kota Bandung, program AKSK diselenggarakan sebagai salah satu upaya untuk menanggulangi kemiskinan mengingat di wilayah ini jumlah keluarga miskin merupakan mayoritas dibandingkan dengan jumlah Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) lainnya, yakni 1.780 KK (38, 12%) dari 4.669 KK (Sumber: Praktek lapangan 1). Program AKSK di wilayah ini dilakukan dalam bentuk penyerahan bantuan stimulan usaha ekonomi produktif (UEP) selama dua periode, yaitu periode pertama pada akhir tahun 2003 dan periode kedua pada akhir tahun 2004 yang dilaksanakan melalui Kelompok Usaha Bersama Himpunan Pemberdayaan Masyarakat Bhakti Kesuma (KUBE HPMBK). Di wilayah ini terdapat tiga KUBE dengan jumlah anggota masing- masing 10 orang yaitu KUBE HPMBK-1, KUBE HPBMK-2, dan KUBE HPMBK-3. Ketiga KUBE tersebut dibentuk dengan kondisi dan kualitas relatif sama, baik dari aspek permodalan, kepemilikan aset maupun kualitas SDM anggota dan pengurus.
Jenis usaha yang dilakukan anggota KUBE bervariasi. Sebagian besar anggotanya bergerak dalam bidang usaha dagang dan sebagian lainnya mempunyai bidang usaha olahan makanan dan konveksi yang dijalankan oleh masing- masing anggota. Walaupun kegiatan usaha dijalan secara individu, hal ini tidak melanggar ketentuan KUBE karena berdasarkan acuan KUBE usaha boleh dijalankan secara individu tetapi tetap berada dalam ikatan kelompok. Masing-
masing anggota menerima bantuan stimulan Usaha Ekonomi Produktif (UEP) secara bergulir.
Permasalahan yang kemudian muncul adalah dari ketiga KUBE di Kelurahan Kebon Waru memiliki tingkat perkembangan yang berbeda. Tingkat perkembangan KUBE HPMBK-1 lebih baik daripada KUBE HPMBK-2 dan KUBE HPMBK-3 yang ditunjukkan dari perkembangan permodalan lebih besar, peran pemimpin dan pembagian kerja lebih jelas serta anggota berpartisipasi dalam berbagai kegiatan kelompok, padahal ketiga KUBE tersebut pada awal pembentukannya memiliki kondisi dan kualitas relatif sama. Hal ini menunjukkan adanya ketimpangan dalam tingkat perkembangan KUBE.
Oleh karena itu menarik untuk mengkaji permasalahan yang menyebabkan terjadinya tingkat perkembangan KUBE yang berbeda tersebut, sehingga dapat disusun strategi yang tepat untuk mengatasi perbedaan tingkat perkembangan KUBE dengan mengacu pada tipologi perkembangan KUBE. Tujuannya agar tingkat perkembangan setiap KUBE relatif sama dan tidak terjadi ketimpangan, sehingga keberhasilan KUBE baik dari aspek organisasi, ekonomi dan sosial dapat tercapai.
Rumusan Masalah
Sebagai upaya untuk memecahkan masalah di atas, maka permasalahan dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana keragaan ketiga KUBE di Kelurahan Kebon Waru?
2. Bagaimana tingkat perkembangan ketiga KUBE mengacu pada tipologi perkembangan KUBE?
3. Apa saja permasalahan yang menyebabkan terjadinya tingkat perkembangan KUBE yang berbeda pada ketiga KUBE yang pada awal pembentukannya memiliki kondisi dan kualitas relatif sama?
4. Bagaimana strategi yang dapat dilakukan agar ketiga KUBE tidak mengalami ketimpangan dalam perkembangannya?
6
Tujuan Kajian
Berdasarkan permasalahan yang dirumuskan, tujuan kajian secara terperinci adalah:
1. Mengetahui keragaan ketiga KUBE di Kelurahan Kebon Waru.
2. Mengetahui tingkat perkembangan ketiga KUBE mengacu pada tipologi perkembangan KUBE.
3. Mengidentifikasi dan menganalisis permasalahan yang menyebabkan terjadinya tingkat perkembangan KUBE yang berbeda pada ketiga KUBE yang pada awal pembentukannya memiliki kondisi dan kualitas relatif sama. 4. Menyusun strategi agar ketiga KUBE tidak mengalami ketimpangan dalam
perkembangannya.
Manfaat Kajian
Manfaat yang diharapkan dari kajian ini adalah:
1. Memberikan masukan tentang model dalam mengatasi perbedaan tingkat perkembangan KUBE mengacu pada tipologi perkembangan KUBE kepada pendamping sosial, pengurus dan anggota KUBE.
2. Memberikan masukan kepada Departemen Sosial selaku penyelenggara program di tingkat pusat dan Dinas Sosial selaku penanggungjawab program di daerah tentang strategi berupa program untuk mengatasi ketimpangan tingkat perkembangan KUBE mengacu pada tipologi perkembangan KUBE agar setiap KUBE mengalami tingkat perkembangan relatif sama, sehingga keberhasilan KUBE dapat tercapai baik dari aspek organisasi, ekonomi dan sosial.
T
TININJJAUAUAANN PPUUSSTTAKAKAA
Kemiskinan
Kemiskinan lazimmya dilukiskan sebagai kekurangan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang paling pokok. Mereka berada di bawah garis kemiskinan apabila pendapatannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok, seperti sandang, pangan, tempat berteduh dan lain- lain (Salim, 1984). Selanjutnya Baharsjah dalam Jamasy (2004), menyatakan bahwa kemiskinan bukan hanya suatu ketidakmampuan penduduk dalam memenuhi kebutuhan dasar bagi suatu kehidupan yang layak, tetapi juga berkaitan erat dengan keadaan sistem kelembagaan yang tidak mampu memberikan kesempatan yang adil bagi anggota masyarakat untuk memanfaatkan dan memperoleh manfaat dari sumberdaya yang tersedia. Menurut Rusli (1995), kemiskinan dapat merupakan kemiskinan absolut ataupun kemiskinan relatif. Kemiskinan absolut dikaitkan dengan kemampuan pemenuhan kebutuhan minimum, kebutuhan pokok ataupun kebutuhan dasar sehingga dapat hidup (survive), sedangkan kemiskinan relatif, ditekankan pada kesenjangan antar golongan, lapisan atau kelompok dalam masyarakat.
Suharto (2005) menyatakan bahwa kemiskinan dapat dikategorikan pada empat kategori, yakni kemiskinan absolut, kemiskinan relatif, kemiskinan kultural dan kemiskinan struktural.
1. Kemiskinan absolut adalah keadaan miskin yang diakibatkan oleh ketidakmampuan seseorang atau kelompok orang dalam memenuhi kebutuhan pokoknya, seperti untuk makan, pakaian, pendidikan, kesehatan dan transportasi.
2. Kemiskinan relatif adalah keadaan miskin yang dialami individu atau kelompok dibandingkan dengan kondisi umum suatu masyarakat. Jika batas kemiskinan misalnya Rp 100.000,- per kapita per bulan, maka seseorang yang memiliki pendapatan Rp 125.000,- per bulan secara absolut tidak miskin, tetapi jika pendapatan rata-rata masyarakat setempat adalah Rp 200.000,- per kapita per bulan, maka secara relatif orang tersebut termasuk orang miskin.
8 3. Kemiskinan kultural mengacu pada sikap, gaya hidup, nilai, orientasi sosial
budaya masyarakat yang tidak sejalan dengan etos kemajuan (masyarakat modern). Sikap malas, tidak memiliki kebutuhan berprestasi (needs for achievement), fatalis, berorientasi ke masa lalu, tidak memiliki jiwa wirausaha.
4. Kemiskinan struktural adalah kemiskinan yang diakibatkan oleh ketidakberesan atau ketidakadilan struktur, baik strruk tur politik, sosial, maupun ekonomi yang tidak memungkinkan seseorang atau kelompok orang menjangkau sumber-sumber penghidupan yang sebenarnya tersedia untuk mereka.
Kemiskinan dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal berupa ketidakmampuan dari dalam individu atau kelompok masyarakat seperti rendahnya kualitas sumberdaya manusia, sikap dan perilaku miskin, ketidakcakapan bekerja, pasrah terhadap kondisi miskin. Faktor eksternal, yaitu faktor dari luar yang menyebabkan mereka tidak berdaya untuk memiliki akses dan sumberdaya. Namun demikian, sangat sulit untuk memisahkan faktor penyebab kemiskinan karena penyebab kemiskinan sangat kompleks dan saling berkaitan satu dengan yang lainnya. Kemiskinan yang terjadi di masyarakat dapat dikatakan karena disebabkan gabungan berbagai faktor yang saling terkait, yaitu: ekonomi misalnya tidak punya pendapatan tetap, tidak punya modal usaha; politik misalnya tidak pernah aktif dalam urusan pemerintahan, tidak aktif berpartisipasi dalam pembangunan di daerahnya/lingkungannya, diskriminasi dan eksploitasi; dinamika sosial misalnya pasif, kurang pergaulan, tidak mau bergaul, tidak mau bermasyarakat; dan latar belakang sikap atau budaya misalnya pemalas, gengsi, tidak kreatif, tidak mau bekerja keras ( Jamasy, 2004).
Terlepas dari faktor- faktor yang menyebabkan miskin, kemiskinan merupakan kondisi yang menggambarkan ketidakberdayaan. Kemiskinan dalam masyarakat menunjukkan lemahnya kemandiriaan masyarakat. Oleh karena itu, upaya untuk mengatasi kemiskinan adalah dengan membuat mereka berdaya, baik dalam dimensi sosial, ekonomi maupun politik. Strategi untuk membuat masyarakat berdaya adalah dengan pemberdayaan masyarakat.
Pemberdayaan Masyarakat
Pemberdayaan masyarakat merupakan upaya untuk meningkatkan harkat dan martabat lapisan masyarakat yang berada dalam kondisi tidak mampu untuk melepaskan diri dari perangkap kemiskinan dan keterbelakangan. Dalam konteks ini, upaya memberdayakan masyarakat dimulai dengan menciptakan iklim yang memungkinkan potensi masyarakat berkembang. Di sini titik tolaknya adalah pengenalan bahwa setiap manusia, setiap masyarakat, memiliki potensi atau daya yang dapat dikembangkan. Dalam hal ini, pemberdayaan adalah upaya untuk membangun daya itu, dengan mendorong, memotivasi, dan membangkitkan kesadaran akan potensi yang dimilikinya serta berupaya untuk mengembangkannya (Kartasasmita, 1995). Selanjutnya Hikmat (2004), menyatakan bahwa pemberdayaan masyarakat merupakan strategi pembangunan yang menitikberatkan pada kepentingan dan kebutuhan rakyat yang mengarah pada kemandirian masyarakat, partisipasi, jaringan kerja dan keadilan. Dengan kata lain pemberdayaan masyarakat adalah sebuah konsep pembangunan ekonomi yang merangkum nilai-nilai sosial dan mencerminkan paradigma baru pembangunan yang bersifat people-centred, participatory, empowering, dan
sustainable.
Pemberdayaan masyarakat menyangkut dua kelompok yang saling terkait, yaitu masyarakat yang belum berkembang sebagai pihak yang harus diberdayakan, dan pihak yang menaruh kepedulian sebagai pihak yang memberdayakan. (Sumodiningrat, 1997). Pemberdayaan rakyat mengandung makna mengembangkan, memandirikan, menswadayakan dan memperkuat posisi tawar masyarakat lapisan bawah terhadap kekuatan-kekuatan penekan di segala bidang dan sektor kehidupan. Hal tersebut mengandung arti melindungi dan membela dengan berpihak pada yang lemah. (Priyono, 1996).
Menurut Suharto (2005), pemberdayaan menunjuk pada kemampuan orang, khususnya kelompok rentan dan lemah sehingga mereka memiliki kekuatan atau kemampuan dalam:
1. Memenuhi kebutuhan dasarnya sehingga mereka memiliki kebebasan (freedom), dalam arti bukan saja bebas mengemukakan pendapat,
10 melainkan bebas dari kelaparan, bebas dari kebodohan, bebas dari kesakitan.
2. Menjangkau sumber-sumber produktif yang memungkinkan mereka dapat meningkatkan pendapatannya dan memperoleh barang-barang dan jasa-jasa yang mereka perlukan.
3. Berpartisipasi dalam proses pembangunan dan keputusan-keputusan yang mempengaruhi mereka.
Beragam definisi pemberdayaan menjelaskan bahwa pemberdayaan adalah sebuah proses dan tujuan. Sebagai proses, pemberdayaan adalah serangkaian kegiatan untuk memperkuat kekuasaan atau keberdayaan kelompok lemah dalam masyarakat, termasuk individu- individu yang mengalami masalah kemiskinan. Sebagai tujuan, maka pemberdayaan menunjuk pada keadaan atau hasil yang ingin dicapai oleh sebuah perubahan sosial; yaitu masyarakat miskin yang berdaya, memiliki kekuasaan atau mempunyai pengetahuan dan kemampuan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya baik yang bersifat fisik, ekonomi, maupun sosial seperti memiliki kepercayaan diri, mampu menyampaikan aspirasi, mempunyai mata pencaharian, berpartisipasi dalam kegiatan sosial, dan mandiri dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupannya. Pengertian pemberdayaan sebagai tujuan seringkali digunakan sebagai indikator keberhasilan pemberdayaan sebagai sebuah proses.
Menurut Payne dalam Adi (2001), mengemukakan proses pemberdayaan pada intinya ditujukan untuk membantu masyarakat memperoleh daya untuk menga mbil keputusan dan menentukan tindakan yang akan dilakukan yang terkait dengan diri mereka, termasuk mengurangi efek hambatan pribadi dan sosial dalam melakukan tindakan yang dilakukan melalui peningkatan kemampuan dan rasa percaya diri untuk menggunakan daya yang dimiliki, antara lain dengan menggunakan daya dari lingkungan.
Modal Sosial
Dalam pemberdayaan masyarakat, tujuan-tujuan organisasi akan tercapai secara efektif apabila didukung oleh sumberdaya yang memadai (Siswanto, 2005). Sumberdaya dapat berupa human capital, social and institutional assets, natural resources dan man mad assets (Syaukat dan Hendrakusumaatmadja, 2005). Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa KUBE sebagai organisasi akan
efektif dalam mencapai tujuannya apabila didukung oleh sumberdaya. Salah satu sumberdaya tersebut adalah modal sosial.
Modal sosial menunjuk pada hubungan sosial, institusi dan struktur sosial serta berhubungan dengan trust, resiprositas, hak dan kewajiban dan jejaring sosial. Secara umum modal sosial didefinisikan sebagai “informasi, kepercayaan, dan norma- norma timbal balik yang melekat dalam suatu sistem jaringan sosial“ (Woolcock dalam Nasdian dan Utomo, 2005). Modal sosial merupakan suatu sistem yang mengacu kepada hasil dari organisasi sosial dan ekono mi, seperti pandangan umum (world view), kepercayaan (trust), pertukaran (reciprocity), pertukaran ekonomi dan informasi (informational and economic exchange), kelompok-kelompok formal dan informal (formal and informal groups), serta asosiasi-asosiasi yang melengkapi modal- modal lainnya (fisik, manusiawi, budaya) sehingga memudahkan terjadinya tindakan kolektif, pertumbuhan ekonomi dan pembangunan (Colletta dan Cullen dalam Nasdian dan Utomo, 2005)
Berbeda dengan modal fisik dan modal manusia yang sifatnya lebih kongkret, dapat diukur dan dapat diperhitungkan secara eksak untuk suatu proses produksi, wujud modal sosial tidak sejelas kedua jenis modal tersebut. Pemahaman tentang modal sosial menekankan pada hubungan timbal balik antara modal dan sifat sosial yang menjelaskan modal tersebut. Sifat sosial dalam modal sosial tidak bersifat netral, ditandai dengan adanya hubungan saling menguntungkan antara dua orang, kelompok, kolektivitas, atau katagori sosial atau manusia pada umumnya.
Modal sosial menurut Grootaert yang dikutip Marliyantoro (2002), adalah sebagai kemampuan seseorang untuk memanfaatkan berbagai keunggulan jaringan sosial atau struktur sosial dimana ia menjadi anggotanya. Selanjutnya Hanifan dalam Marliyantoro (2002), menyatakan bahwa modal sosial sebagai kenyataan yang dimiliki warga berupa kehendak baik, simpati, persahabatan, hubungan antar individu dan antar keluarga yang dapat mengatasi persoalan warga masyarakat.
Menurut Woolcock yang dikutip Colletta dan Cullen dalam Nasdian dan Utomo (2005), modal sosial memiliki empat dimensi, yaitu:
12 1. Integrasi (integration), yaitu ikatan-ikatan berdasarkan kekerabatan, etnik dan
agama.
2. Pertalian (linkage), yaitu ikatan dengan komunitas lain di luar komunitas asal berupa jejaring (network) dan asosiasi-asosiasi bersifat kewargaan (civic association) yang menembus perbedaan kekerabatan, etnik dan agama
3. Integritas organisasional (organizational integrity), yaitu keefektifan dan kemampuan institusi negara untuk menjalankan fungsinya, termasuk menciptakan kepastian hukum dan menegakkan peraturan.
4. Sinergi (sinergy), yaitu relasi antara pemimpin dan institusi pemerintahan dengan komunitas (state-community relations).
Motivasi
Sebagai upaya pemberdayaan keluarga miskin melalui KUBE, permasalahan yang ada dalam KUBE sebagaimana telah dikemukakan dalam latar belakang kajian bahwa perkembangan usaha KUBE tidak dapat mencapai tingkat keberhasilan sesuai dengan yang diharapkan. Meskipun sumberdaya berupa modal sosial, pasar, institusi pemerintah terdapat disekitar Kelurahan Kebon Waru, tetapi mereka tidak dapat memanfaatkan sumberdaya tersebut untuk peningkatan usaha. Hal ini mengindikasikan ada faktor- faktor yang mempengaruhi arah perilaku anggota KUBE sebagai organisasi. Faktor penting yang mempengaruhi perilaku selain pengetahuan dan keterampilan juga motivasi, yaitu dorongan untuk melakukan suatu tindakan. Siagian (2004), mengemukakan bahwa motivasi adalah daya pendorong yang mengakibatkan seseorang anggota organisasi mau dan rela untuk mengerahkan kemampuan dala m bentuk keahlian atau keterampilan, tenaga dan waktunya untuk melakukan kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya dan melaksanakan kewajibanya dalam rangka pencapaian tujuan organisasi. Dalam hal ini motivasi sangat berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk memuaskan berbagai kebutuhannya
Motivasi menurut Gray dan Starke sebagaimana dikutip oleh Pandjaitan (2005), menunjuk pada proses yang menimbulkan antusiasme dan kemantapan untuk melakukan tindakan tertentu. Lebih lanjut Pandjaitan (2005) menyatakan
bahwa orang akan termotivasi untuk menghasilkan aktivitas yang baik jika mereka dapat memuaskan kebutuhan-kebutuhan pribadinya.