KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Mekanisme pengalihan hak atas tanah dalam sistem hukum agraria dilakukan dengan beberapa cara, antara lain dengan cara jual beli, tukar menukar, hibah, pemasukan dalam perusahaan dan perbuatan hukum pemindahan hak lainnya, kecuali pemindahan hak melalui lelang hanya dapat didaftarkan jika dibuktikan dengan akta yang dibuat oleh PPAT yang berwenang. membuat pengalihan hak atas tanah harus memastikan kebenaran mengenai hak atas tanah (hak milik) tersebut, dan mengenai kecakapan dan kewenangan bertindak dari mereka yang akan mengalihkan dan menerima pengalihan hak atas tanah tersebut. Pengalihan hak atas tanah juga dapat dilakukan dengan cara penguasaan fisik hak atas tanah., sesuai dengan ketentuan PP No. 24 Tahun 1997 yang menyebutkan bahwa masa penguasaan fisik di atas 20 tahun dapat dijadikan dasar pendaftaran hak atas tanah.
2. Kedudukan pihak ketiga yang menguasai objek hak atas tanah terhadap terjadinya pengalihan hak atas tanah adalah merupakan pihak yang tidak memiliki hak, karena pihak ketiga menguasai objek hak atas tanah dengan mengabaikan pihak lain yang sudah menguasai fisik hak atas tanah selama lebih dari 20 tahun. Hal ini menyebabkan pihak ketiga tidak berhak atas bentuk
pengalihan apapun, termasuk cara yang tidak sah. Hal ini berakibat pemilik asli harus melakukan upaya-upaya hukum yang tentu saja akan menghabiskan banyak waktu dan biaya.
3. Dalam Putusan Mahkamah Agung No. 475 K/Pdt/2010, disebutkan bahwa pengalihan hak atas tanah dapat dilakukan berdasarkan penguasaan fisik atas tanah. Pihak penggugat yang menguasai tanah garapan selama 31 (tiga puluh satu) tahun memiliki hak prioritas kesempatan pertama untuk mengajukan permohonan sertifikat hak milik atas tanah obyek sengketa, sesuai dengan Yurisprudensi Putusan Mahkamah Agung RI Nomor 3283 K/Pdt/1994 tertanggal 27 Maret 1997 menyatakan bahwa “Penggarap yang menguasai tanah milik Negara mempunyai prioritas untuk memperoleh hak atas tanah”. Hal ini berbeda dengan dua putusan sebelumnya, yang tidak mengakui keberadaan penggugat sebagai penguasa fisik hak atas tanah.
B. Saran
1. Kepada masyarakat sebaiknya menghindari adanya kepemilikan hak atas tanah yang tidak sekaligus dikuasai secara fisik. Hal ini akan menimbulkan sengketa di belakang hari, karena dapat mengakibatkan pihak lain menempati tanah tersebut dalam waktu yang lama, dan akhirnya memberi kesempatan pada pihak lain untuk menguasainya.
2. Diharapkan lebih meningkatkan lagi sosialisasi mengenai cara mendaftarkan tanah dan arti pentingnya pendaftaran tanah, dengan dituangkan dalam bahasa yang sederhana agar mudah dipahami oleh masyarakat
3. Hendaknya masyarakat, ketika akan melakukan pengalihan hak atas tanahnya sekaligus juga melakukan pendaftaran pengalihan haknya pada Kantor Pertanahan. Hal ini untuk menghindari adanya penguasaan hak atas objek tanah sekaligus penerbitan sertifikat palsu, jika pemilik asli tidak segera melakukan pendaftaran atas tanah miliknya.
DAFTAR PUSTAKA
A. Buku-buku
Sutedi Adrian, 2009,Pengalihan Hak Atas Tanah dan Pendaftarannya,Jakarta: Sinar Grafika.
Noor Aslan, 2006, Konsep Hak Milik atas Tanah Bagi Bangsa Indonesia, Mandar Maju, Bandung.
Nasution Bahder Johan, 2008, Metode Penelitian Ilmu Hukum, Bandung: Mandar Maju.
Harsono Boedi, 2007, Menuju Penyempurnaan Hukum Tanah Nasional, Penerbit Universitas Trisakti, ed. 3 Jakarta.
Dalimunthe Chadijah, 2000, Pelaksanaan Landreform di Indonesia dan Permasalahnya, Fakultas Hukum USU Press, Medan.
Djuhaendah Hasan, 1996,Lembaga Jaminan Kebendaan Bagi Tanah dan Benda Lain yang Melekat Pada Tanah Dalam Konsepsi Penerapan Asas Pemisahan Horisontal, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung.
Perangin Effendi, 1994, Mencegah Sengketa Tanah. Jakarta: Rajawali Press.
Harsono Boedi, 2003, Hukum Agraria Indonesia (Sejarah Pembentukan Undang- undang Agraria, Isi dan Pelaksanaannya), Djambatan, Jakarta, 2003.
Soesangobeng Herman,Filosofi Adat dalam UUPA,Makalah dipresentasikan dalam Sarasehan Nasional “Peningkatan Akses Rakyat Terhadap Sumberdaya Tanah”, Diselenggarakan oleh Kantor Menteri Negara Agraria/BPN bekerjasama dengan ASPPAT, tanggal 12 Oktober 1998, di Jakarta, 1998, Kamello Tan, Perkembangan Lembaga Jaminan Fiducia: Suatu Tinjauan Putusan
Pengadilan dan Perjanjian di Sumatera Utara(Medan: PPs-USU, 2002). Soemarjono Maria S.W.. Kebijakan Pertanahan Antara Regulasi dan Implementasi,
Kompas Jakarta, 2001.
Badrulzaman Mariam Darus, Mencari Sistem Hukum Benda Nasional, BPHN, Alumni, Bandung, 1997
Yamin Muhammad.. Beberapa Dimensi Filosofis Hukum Agraria, Pustaka Bangsa Press, Medan, 2003.
Yamin Muhammad, dan Abd. Rahim Lubis, Hukum Pendaftaran Tanah, Mandar Maju, Bandung, 2010.
Parlindungan A. P., 1994, Bunga Rampai Hukum Agraria Serta Landreform, Bagian II, Mandar Maju, Bandung.
Perangin Efendi.1994.Hukum Agraria Indonesia.Jakarta. PT Raja Grafindo Persada. Saleh K. Wantjik, 1977, Hak Anda Atas Tanah,Ghalia Indonesia: Jakarta.
Sauni Herawan dan M. Yamani Komar (ed), 1998, Hukum Agraria, Beberapa Pemikiran dan Gagasan Prof. A. P. Parlindungan, USU Press, Medan.
Seoprapto R., 1986, UUPA Dalam Praktek, Mitra Sari, Jakarta.
Siregar Tampil Anshari, 2001, Undang-undang Pokok Agraria dalam Bagan,
Kelompok Study Hukum dan Masyarakat, Fakultas Hukum USU, Medan. Soejendro J. Kartini, 2001, Perjanjian Pengalihan Hak atas Tanah yang Berpotensi
Konflik, Kanisius, Jakarta.
Subekti,Aneka Hukum Perjanjian,Pradnya Paramita, Bandung, 1995.
Sumardjono Maria S.W, 2001, Kebijakan Pertanahan antara Regulasi & Implementasi, Penerbit Buku Kompas, Jakarta.
Supriadi,Hukum Agraria,(Jakarta: Sinar Grafika, 2008).
Sutan Remy Sjahdeini, Kebebasan Berkontrak Dan Perlindungan Yang Seimbang Bagi Para Pihak Dalam Perjanjian Kredit Bank di Indonesia(Jakarta: Institut Bankir Indonesia, 1993),
Tampil Anshari, Undang-undang Pokok Agraria dalam Bagan, Kelompok Study Hukum dan Masyarakat, Fakultas Hukum USU, Medan, 2001.
A. Karya Ilmiah
Iswan B. Padu. Dkk. “Laporan Orientasi di Direktorat Sengketa Tanah BPN RI.” http://sarmanpsagala.wordpress.com/2010/06/02/laporan-orientasi-di-
Muliadi Nur,Tipologi Penelitian Hukum,Pojok Hukum Online Meia belajar Hukum dan Ilmu Hukum, diakses tanggal 09 Juli 2010.
Redaksi,”Kriminalisasi Penyerobotan Tanah Bukan Solusi”, http://www. riaumandiri.net/rm/index.php?option=com, diakses tanggal 20 Nopember 2010.
B. Peraturan Perundang-undangan Kitab Undang-undang Hukum Dagang Kitab Undang-undang Hukum Perdata