• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ketahanan Pangan

Dalam dokumen BAB II GAMBARAN UMUM KABUPATEN BIREUEN (Halaman 107-113)

D. Daerah Rawan Longsor dan Gerak Tanah

2.3. Aspek Pelayanan Umum

2.3.1. Fokus Layanan Urusan Wajib 1. Pendidikan

2.3.1.20 Ketahanan Pangan

Ketahanan pangan saat ini menjadi salah satu isu sentral yang menjadi perhatian pemerintah dalam pelaksanaan pembangunan di Indonesia. Di tengah berbagai kondisi dan kendala seperti terus berkurangnya luas lahan produktif, perubahan iklim global, serta sejumlah permasalahan hama dan penyakit yang mempengaruhi produksi tanaman pangan di Indonesia. Berbagai kondisi tersebut pula yang menjadikan pemerintah terus berupaya dengan berbagai cara dan upaya untuk dapat terus menjaga dan mempertahankan ketersediaan pangan bagi kebutuhan masyarakat, dan untuk ini pula upaya pengembangan subsektor tanaman pangan di berbagai daerah dirasa sangat berperan penting dalam upaya mewujudkan ketahanan pangan daerah itu sendiri.

Sebagai daerah yang termasuk dalam kawasan lumbung pangan di Provinsi Aceh, diperlukan komitmen yang tinggi dari segenap unsur masyarakat, termasuk pemerintah daerah. Hal tersebut dikarenakan tuntutan perkembangan kawasan dalam pembangunan mengakibatkan aktifitas pembangunan fisik infrastruktur terus berkembang. Pembangunan perumahan, pengembangan kawasan pemukiman, pertokoan maupun bentuk bangunan fisik lainnya, berimplikasi negatif terhadap upaya pengembangan sektor pertanian tanaman pangan, yang berakibat pada menurunnya jumlah kapasitas produksi tanaman pangan. Kondisi ini harus dapat disadari dan perlu diwaspadai semua pihak.

Kenyataan tersebut antara lain dapat dilihat dari luas areal tanam dan luas panen tanaman padi pada lahan sawah di daerah ini, yang dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren penurunan. Jika pada tahun 2007 masih tercatat luas areal lahan sawah yang ditanami di wilayah Kabupaten Bireuen seluas 39.241 Ha, namun pada tahun 2012 luas areal lahan sawah yang ditanami tercatat seluas 37.740 Ha. Artinya terdapat penurunan luas lahan sawah yang ditanami sebesar 3,8 persen dalam periode tersebut.

Berikutnya juga dilihat berdasarkan produktifitas tanaman padi tersebut.

Pada tahun 2007, tercatat jumlah produksi padi di Kabupaten Bireuen sebanyak

207.350 ton, yang berarti terdapat produktivitas rata-rata sebesar 5,2 ton untuk setiap hektar lahan sawah yang ditanami tersebut. Sementara pada tahun 2012, selain terjadinya penurunan luas areal lahan sawah yang ditanami sebagaimana telah disebutkan tersebut, juga terjadi penurunan angka produktifitas hasil produksi padi menjadi sekitar 4,2 ton/hektar (jumlah produksi 157.564 ton).

Fenomena tersebut kiranya dapat menyadarkan semuja pihak, bahwa jika terjadi sedikit saja pengurangan luas areal lahan sawah, maka jumlah produksi padi juga akan mengalami penurunan dengan besaran jumlah yang lebih besar, sekalipun bila dibandingkan dengan besaran peningkatan jumlah produksi pada saat luas areal lahan sawah tersebut mengalami peningkatan.

Gambaran terkait luas areal penanaman, luas panen dan jumlah produksi padi di wilayah Kabupaten Bireuen selama beberapa tahun terakhir dapat dilihat pada tampilan gambar berikut.

Gambar 2.18

Luas Tanam, Luas Panen dan Produksi Padi Kabupaten Bireuen Tahun 2007-2011

Sumber : Dinas Pertanian dan Peternakan Kab. Bireuen, 2013

Untuk itulah segenap kalangan, terutama pemerintah Kabupaten Bireuen dalam hal ini dinilai perlu mengupayakan untuk menekan sekecil mungkin proses

alih fungsi lahan pertanian, terutama tanaman padi sebagai sumber bahan pangan utama yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat. Karena apabila hal tersebut terjadi nantinya dikhawatirkan justru pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat Kabupaten Bireuen akan bergantung pada pasokan yang berasal dari daerah lain, termasuk dari luar Provinsi Aceh.

Kekhawatiran akan turunnya jumlah produksi padi juga cukup berdasar apabila kita melihat gambaran kondisi lahan sawah menurut sumber pengairan di Kabupaten Bireuen dalam waktu beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2011, dari 23.413 hektar lahan sawah di daerah ini, hanya 16.664 hektar atau 71,17 persen yang dialiri oleh irigasi dengan berbagai tipe irigasi yang ada, sementara sisanya seluas 6,749 hektar atau 28,83 persen sawah yang ada merupakan sawah tadah hujan. Capaian tersebut cenderung mengalami penurunan dari kondisi tahun 2008, dimana dengan luas areal sawah 22.948 hektar pada tahun 2008, seluas 17.444 hektar atau 76,02 persen sawah telah dialiri air yang bersumber dari irigasi, dan hanya seluas 5.504 hektar atau 23,98 persen yang tidak dialiri irigasi (tadah hujan).

Akibat dari kondisi tersebut bahwa jumlah sawah masyarakat yang hanya mengharapkan sumber pengairan dari air hujan (tadah hujan), berarti semakin meningkat. Hal tersebut tentunya dapat berpengaruh pada jumlah produksi padi di daerah ini secara keseluruhan. Atas semua kenyataan tersebut pula kiranya dalam rencana pembangunan daerah Kabupaten Bireuen yang akan datang, perlu memprioritaskan upaya pemerintah Kabupaten Bireuen dalam menjaga dan mempertahankan ketersediaan dan ketahanan sumber pangan bagi kehidupan masyarakat dimasa mendatang. Gambaran secara rinci terkait sumber pengairan sawah tersebut dapat dilihat pada tampilan di halaman berikut.

Gambar 2.19

Luas Lahan Sawah menurut Sumber Pengairan Kabupaten Bireuen Tahun 2007-2011 (persen)

Sumber : BPS Kabupaten Bireuen, 2011

2.3.1.21. Pemberdayaan Masyarakat dan Desa

Sebagai basis kewilayahan suatu daerah bahkan negara, program pemberdayaan masyarakat desa yang dijalankan selama ini oleh pemerintah, baik di tingkat pusat hingga kabupaten/kota, selama ini juga dirasa cukup beragam dan signifikan. Konsep pembangunan berbasis masyarakat yang juga dikenal dengan konsep pembangunan partisipatif selama ini menjadi perhatian dan fokus daripada konsep sejumlah program pembangunan yang dilaksanakan, bahkan relatif cukup dirasakan manfaatnya oleh masyarakat itu sendiri.

Keberadaan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri perkotaan dan pedesaan selama ini menjadi salah satu wujud daripada pelaksanaannya. Kabupaten Bireuen juga menjadi target pelaksanaan program PNPM Mandiri Perkotaan yang selama ini berlangsung. Dengan sumber alokasi dana dari pemerintah pusat yang juga didukung dengan penyertaan dana dari pemerintah kabupaten dan dana yang bersumber dari swadaya masyarakat itu sendiri, pelaksanaan program PNPM Mandiri Perkotaan di Kabupaten Bireuen selama ini terus dapat berjalan semakin baik. Peran keterlibatan masyarakat yang

begitu dominan, sejak tahap perencanaan hingga ke tahap pelaksanaan dan pengawasan dari setiap kegiatan yang dilaksanakan, menjadikan keberadaan program ini benar-benar lebih memberikan makna dan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat itu sendiri. Peran pemerintah kabupaten dalam hal ini, selain dari fungsi koordinasi manajemen program, adalah melalui bentuk penyertaan dana daerah kedalam bagian dari dana pelaksanaan program tersebut secara keseluruhan, terutama yang menyangkut peruntukkannya bagi dana insentif yang diberikan kepada anggota kelompok/badan swadaya masyarakat pengelola program tersebut.

Selain itu, terkait dengan program pemerintah Aceh yang memberikan bantuan keuangan desa bagi seluruh desa yang ada di Provinsi Aceh, pemerintah Kabupaten Bireuen sejak tahun 2009 juga senantiasa mengalokasikan dana bantuan keuangan pemerintah desa sebesar Rp 6.394. 500.000.- sementara itu pada tahun 2010 Pemerintah Kabupaten Bireuen terus meningkatkan dana untuk pembangunan desa yaitu sebesar RP. 18.460.000.000.- untuk semua desa yang ada di daerah ini. Selanjutnya pada tahun 2011 Pemerintah Bireun terus meningkatkan dbantuan dana untuk pembangunan desa yatu sebanyak RP.20.680.000.000.- untuk semua desa yang berada di daerah ini. Keberadaan program maupun alokasi dana tersebut juga merupakan bagian dari wujud upaya untuk lebih meningkatkan pemberdayaan masyarakat desa dalam berbagai bidang, yang selain diharapkan dapat memberikan dampak bagi peningkatan kesejahteraan masyaraat itu sendiri, juga diharapkan dapat lebih meningkatkan peran serta dan partisipasi aktif masyarakat tersebut dalam kegiatan pembangunan. Dengan ini diharapkan masyarakat akan lebih merasa memiliki dan ikut bertanggung jawab terhadap keberhasilan pembangunan daerah, sehingga proses pembangunan daerah itu sendiri dapat berjalan dengan lebih bersinergi dan terintegrasi, menuju kearah keberhasilan pencapaian tujuan ataupun visi dan misi pemerintah Kabupaten Bireuen yang telah ditetapkan.

2.3.1.22. Statistik

Statistik memberikan peran paling besar bagi proses perencanaan dan pembangunan daerah. Di samping menghimpun dan menyediakan data dan informasi pokok terhadap penyusunan dokumen perencanaan pembangunan, juga menyalurkan data dan informasi pembangunan bagi masyarakat. Data dan informasi yang akurat akan menghasilkan output perencanaan yang sempurna serta memberikan informasi yang lebih tepat dan objektif kepada masyarakat terhadap hasil-hasil pembangunan yang dicapai. Untuk itu, selama lima tahun yang telah lalu, Pemerintah Kabupaten Bireuen telah mempublikasikan informasi penting bagi masyarakat, berupa Kabupaten Bireuen Dalam Angka, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), Statistik Daerah, maupun bentuk informasi dan data lainnya yang dapat menggambarkan perkembangan pembangunan daerah yang telah dicapai. Data statistik tersebut dinilai sangat penting karena memperlihatkan kinerja Pemerintah Kabupaten Bireuen yang dicapai setiap tahunnya.

2.3.1.23. Arsip

Untuk menjaga dan memelihara berbagai dokumen, data, dan informasi serta berkas administrasi pemerintahan lainnya, diterapkan sistim pengelolaan arsip secara baku, dengan mengacu kepada ketentuan-ketentuan yang berlaku.

Semua Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kabupaten Bireuen telah melaksanakan pengelolaan arsip secara baku, meskipun disadari bahwa pengelolaan arsip tersebut masih relatif belum cukup sempurna. Kondisi tersebut terjadi akibat terbatasnya sarana pendukung, disamping juga kemampuan sumberdaya manusia yang masih memerlukan peningkatan dalam hal kualitas penanganan data dan arsip, yang tentu dapat dilakukan melalui bentuk-bentuk kegiatan pelatihan teknis dan pembinaan secara berkelanjutan.

2.3.1.24. Komunikasi dan Informatika

Era “dunia tanpa batas” sejalan dengan perkembangan teknologi informasi, telah terwujud secara nyata di Kabupaten Bireuen. Layanan internet sebagai

kebutuhan masyarakat untuk memperoleh informasi yang aktual dan cepat, telah berkembang di Kabupaten Bireuen. Dukungan infrastruktur teknologi informasi dari Pemerintah Kabupaten dan berkembangnya investasi dunia usaha/swasta di sektor tersebut merupakan penyebab akses informasi dan layanan internet kian berkembang. Layanan komunikasi berupa telepon seluler/handphone sudah menjangkau ke wilayah gampong. Bahkan, para pelaku usaha yang menjual aksesoris-aksesoris handphone dan layanan pulsa sangat mudah ditemui di pusat kota dan gampong-gampong.

Selanjutnya, di Kabupaten Bireuen juga terdapat Kantor Pos sebanyak unit.

Keberadaan kantor pos tersebut telah memberikan jasa layanan yang cukup berarti bagi masyarakat, terutama pelayanan pengiriman paket barang, surat, dan keperluan jasa lainnya. Pengiriman paket barang juga dilakukan perusahaan ekspedisi milik swasta maupun perusahaan angkutan penumpang umum lainnya melalui kantor perwakilan ataupun loket yang ada di terminal bus antar provinsi.

2.3.2 Fokus Layanan Urusan Pilihan

Dalam dokumen BAB II GAMBARAN UMUM KABUPATEN BIREUEN (Halaman 107-113)

Dokumen terkait