• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ketentuan Hadhanah dalam Hukum Keluarga di Indonesia

BAB II HADHANAH MENURUT FIKIH MAZHAB SYAFI’I

A. Indonesia

2. Ketentuan Hadhanah dalam Hukum Keluarga di Indonesia

Ketentuan Hadhanah di Indonesia diatur dalam dua peraturan. Yaitu Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1991.

Undang-undang tidak secara khusus membicarakan pemeliharaan anak sebagai akibat putusnya perkawinan, apalagi menggunakan nama hadhanah.

Namun undang-undang secara umum mengatur hak dan kewajiban orang tua terhadap anaknya.

Kemudian Hadhanah sebagai salah satu akibat putusnya perkawinan diatur secara panjang lebar dalam Kompilasi Hukum Islam dan materinya hampir keseluruhannya mengambil dari fiqihnmenurut jumhur ulama, khususnya Syafi‟iyah.135

a. Yang berhak melakukan hadhanah

Pada Undang-undang No. 1 Tahun 1974 pada bab 8 Pasal 41 a dalam hal Putusnya Perkawinan serta akibatnya dan bab 10 dalam hal hak dan kewajiban antara orang tua dan anak, pasal 45 ayat 1. Juga dalam KHI disebutkan pada pasal 98 dan di bagian ketiga akibat perceraian pasal 156.

Undang-undang No. 1 Tahun 1974 Pasal 41

Akibat putusnya perkawinan karena perceraian ialah:

a. Baik ibu atau bapak tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya, semata-mata berdasarkan kepentingan anak, bilamana ada perselisihan mengenai penguasaan anak-anak, Pengadilan memberi keputusan. 136

134 Saiful Milah, Asep Saepudin Jahar, Dualisme Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, ... , h.73.

135 Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia (Antara Fiqh Munakahat dan Undang-undang Perkawinan, (Jakarta: Prenada Media Group, 2006), h. 333-334.

136 Direktur Urusan Agama Islam, dkk, Himpunan Peraturan Perundang-undangan tentang Perkawinan, Undang-undang No. 1 Tahun 1974 Pasal 41 butir a, h. 33.

Pasal 45

(1) Kedua orang tua wajib memelihara dan mendidik anak-anak mereka sebaik-baiknya.

(2) Kewajiban orang tua yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini berlaku sampai anak itu kawin atau dapat berdiri sendiri kewajiban mana berlaku terus meskipun perkawinan antara kedua orang tua putus.137

Kompilasi Hukum Islam Pasal 98

(1) Batas usia anak yang mampu berdiri sendiri atau dewasa adalah 21 tahun, sepanjang anak tersebut tidak bercacat fisik maupun mental atau belum pernah melangsungkan perkawinan.

(2) Orang tuanya mewakili anak tersebut mengenai segala perbuatan hukum di dalam dan di luar Pengadilan.138

Pasal 105 Dalam hal terjadinya perceraian:

a. Pemeliharaan anak yang belum mumayyiz atau belum berumur 12 tahun adalah hak ibunya; 139

Akibat Perceraian Pasal 156

Akibat putusnya perkawinan karena perceraian ialah :

a. anak yang belum mumayyiz berhak mendapatkan hadhanah dan ibunya, ...140

137 Direktur Urusan Agama Islam, dkk, Himpunan Peraturan Perundang-undangan tentang Perkawinan, Undang-undang No. 1 Tahun 1974 Pasal 45, h. 34

138 Direktur Urusan Agama Islam, dkk, Himpunan Peraturan Perundang-undangan tentang Perkawinan, Instruksi Presiden RI No. 1 Tahun 1991, Kompilasi Hukum Islam Pasal 98, h. 264

139 Direktur Urusan Agama Islam, dkk, Himpunan Peraturan Perundang-undangan tentang Perkawinan, Instruksi Presiden RI No. 1 Tahun 1991, Kompilasi Hukum Islam Pasal 105, h. 266.

140 Direktur Urusan Agama Islam, dkk, Himpunan Peraturan Perundang-undangan tentang Perkawinan, Instruksi Presiden RI No. 1 Tahun 1991, Kompilasi Hukum Islam Pasal 156 butir a, h. 280.

pasal-pasal di atas dari dua aturan yang berbedamerupakan pelengkap dari aturan ketentuan hadhanah. Di mana Undang-undang No.1 tahun 1974 merupakan aturan yang umum dan berlaku untuk seluruh warga Indonesia, sedangkan KHI merupakan aturan khusus yang berlaku hanya untuk urang Islam saja. Oleh karena itu, dalam UU No. 1 Tahun 1974 tidak ditegaskan siapa yang paling berhak ketika ibu bercerai dengan bapak. KHI menegaskan bahwa dalam hal perceraian ibulah yang paling berhak.

b. Pengasuhan anak setelah ibu

Pada Kompilasi Hukum Indonesia disebutkan pada pasal 98 dan pasal 156.

Pasal 98

(3) Pengadilan Agama dapat menunjuk salah seorang kerabat terdekat yang mampu menunaikan kewajiban tersebut apabila kedua orang tuanya tidak mampu.141

Pasal 156

Akibat putusnya perkawinan karena perceraian ialah :

a. anak yang belum mumayyiz berhak mendapatkan hadhanah dan ibunya, kecuali bila ibunya telah meninggal dunia, maka kedudukannya digantikan oleh:

1. Wanita-wanita dalam garis lurus ke atas dari ibu;

2. Ayah;

3. Wanita-wanita dalam garis lurus ke atas dari ayah;

4. Saudara perempuan dari anak yang bersangkutan;

5. Wanita-wanita kerabat sedarah menurut garis samping dari ayah. 142

141 Direktur Urusan Agama Islam, dkk, Himpunan Peraturan Perundang-undangan tentang Perkawinan, Instruksi Presiden RI No. 1 Tahun 1991, Kompilasi Hukum Islam Pasal 98 pasal 3, h. 264.

Undang-undang No.1 tahun 1974 tidak mengatur ketentuan pihak pengganti ibu untuk mengasuh anak. tapi dalam KHI diaturnya.

c. Masa pengasuhan anak

Mengacu pada Kompilasi Hukum Islam disebutkan pada pasal 105 a bahwa (Pemeliharaan anak yang belum mumayyiz atau belum berumur 12 tahun adalah hak ibunya). Artinya anak yang belum berusia 12 tahun adalah hak ibunya. Setelah anak tersebut berusia 12 tahun maka dia diberikan kebebasan memilih untuk diasuh oleh ayah atau ibunya, sesuai KHI pasal 105 b (Pemeliharaan anak yang sudah mumayyiz diserahkan kepada anak untuk memilih diantara ayah atau ibunya sebagai pemegang hak pemeliharaanya).143

d. Syarat seorang pengasuh

Pada Undang-undang No. 1 Tahun 1974 pasal 49 dan Pada Kompilasi Hukum Islam disebutkan di bagian pasal 156 b.

Undang-undang No. 1 Tahun 1974 Pasal 49

(1) Salah seorang atau kedua orang tua dapat dicabut kekuasaannya terhadap seorang anak atau lebih untuk waktu yang tertentu atas permintaan orang tua yang lain, keluarga anak dalam garis lurus ke atas dan saidara kandung yang telah dewasa atau pejabat yang berwenang dengan keputusan Pengadilan dalam hal-hal :

a. Ia sangat melalaikan kewajibannya terhadap anaknya;

b. Ia berkelakuan buruk sekali.

142 Direktur Urusan Agama Islam, dkk, Himpunan Peraturan Perundang-undangan tentang Perkawinan, Instruksi Presiden RI No. 1 Tahun 1991, Kompilasi Hukum Islam Pasal 156 butir a, h. 280.

143 Direktur Urusan Agama Islam, dkk, Himpunan Peraturan Perundang-undangan tentang Perkawinan, Instruksi Presiden RI No. 1 Tahun 1991, Kompilasi Hukum Islam Pasal 105 butir a dan b, h. 266.

(2) Meskipun orang tua dicabut kekuasaannya, mereka masih berkewajiban untuk memberi pemeliharaan kepada anak tersebut.144

Kompilasi Hukum Islam Pasal 156

c. Apabila pemegang hadhanah ternyata tidak dapat menjamin keselamatan jasmani dan rohani anak, meskipun biaya nafkah dan hadhanah telah dicukupi, maka atas permintaan kerabat yang bersangkutan Pengadilan Agama dapat memindahkan hak hadhanah kepada kerabat lain yang mempunyai hak hadhanah pula;145

e. Biaya Pemeliharaan

Undang-undang No. 1 Tahun 1974 Pasal 41

b. Bapak yang bertanggung jawab atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikan yang diperlukan anak itu, bilamana bapak dalam kenyataannya tidak dapat memberi kewajiban tersebut pengadilan dapat menentukan bahwa ikut memikul biaya tersebut.

c. Pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami untuk memberikan biaya penghidupan dan/atau menentukan sesuatu kewajiban bagi bekas isteri. 146

Kompilasi Hukum Islam Pasal 104

(1) Semua biaya penyusuan anak dipertanggungjawabkan kepada ayahnya.

Apabila ayahnya telah meninggal dunia, maka biaya penyusuan

144 Direktur Urusan Agama Islam, dkk, Himpunan Peraturan Perundang-undangan tentang Perkawinan, Undang-undang No. 1 Tahun 1974 Pasal 49, h. 35.

145 Direktur Urusan Agama Islam, dkk, Himpunan Peraturan Perundang-undangan tentang Perkawinan, Instruksi Presiden RI No. 1 Tahun 1991, Kompilasi Hukum Islam Pasal 156 butir c, h. 281.

146 Direktur Urusan Agama Islam, dkk, Himpunan Peraturan Perundang-undangan tentang Perkawinan, Undang-undang No. 1 Tahun 1974 Pasal 41 butir b dan c, h. 33.

dibebankan kepada orang yang berkewajiban memberi nafkah kepada ayahnya atau walinya.

(2) Penyusuan dilakukan untuk paling lama dua tahun, dan dapat dilakukan penyapihan dalam masa kurang dua tahun dengan persetujuan ayah dan ibunya.147

Pasal 105 Dalam hal terjadinya perceraian :

b. biaya pemeliharaan ditanggung oleh ayahnya.

Pasal 156 Akibat perceraian

d. semua biaya hadhanah dan nafkah anak menjadi tanggung jawab ayah menurut kemampuannya, sekurang-kurangnya sampai anak tersebut dewasa dapat mengurus diri sendiri (21 tahun).

e. bilamana terjadi perselisihan mengenai hadhanah dan nafkah anak, Pengadilan Agama memberikan putusannya berdasarkan huruf (a),(b), dan (d);

f. pengadilan dapat pula dengan mengingat kemampuan ayahnya menetapkan jumlah biaya untuk pemeliharaan dan pendidikan anak-anak yang tidak turut padanya. 148

Dua aturan ketentuan hadhanah dari UU No. 1 Tahun 1974 dan KHI sama-sama mengatur tentang siapa yang berkewajiban untuk membiayai pemeliharaan anak.

f. Usia anak boleh memilih wali asuh Kompilasi Hukum Islam

Pasal 105

147 Direktur Urusan Agama Islam, dkk, Himpunan Peraturan Perundang-undangan tentang Perkawinan, Instruksi Presiden RI No. 1 Tahun 1991, Kompilasi Hukum Islam Pasal 104 ayat 1, h. 281.

148 Direktur Urusan Agama Islam, dkk, Himpunan Peraturan Perundang-undangan tentang Perkawinan, Instruksi Presiden RI No. 1 Tahun 1991, Kompilasi Hukum Islam Pasal 156 butir d, e, dan f, h. 281.

Dalam hal terjadinya perceraian :

b. Pemeliharaan anak yang sudah mumayyiz diserahkan kepada anak untuk memilih diantara ayah atau ibunya sebagai pemegang hak pemeliharaanya;149

Pasal 156

b. Anak yang sudah mumayyiz berhak memilih untuk mendapatkan hadhanah150

Hanya dalam KHI yang mengatur usia anak boleh memilih setelah mumayyiz atau sampai usia 12 tahun.