BAB IV PERBANDINGAN KETENTUAN HADHANAH MENURUT
A. Perbandingan Secara Vertikal Mengenai Ketentuan Hadhanah di
2. Pihak yang paling utama dalam mengasuh anak setelah ibu
Wanita memiliki hak prioritas untuk mengasuh anak dibanding bapak karena wanita mempunyai naluri keibuan. Naluri itu secara otomatis dilakukan
163 Maldives Family Act 4/2000, Pasal 40.
kepada anak untuk dirawat, disusui, dididik, dan selalu sabar dalam mengurusi kehidupan anak.
Urusan pengasuhan anak bisa saja berpindah kepada orang yang dianggap pantas untuk mengasuk anak. Ibu yang sudah meninggal, ibu yang tidak berakal, atau yang lainnya bisa menjadi sebab berpindahnya hak asuh anak dari ibu ke orang lain. Para ulama fiqih dari kalangan mazhab Imam Syafi‟i sudah membagikan atau mengurutkan siapa saja orang-orang yang berhak mendapatkan hadhanah setelah ibu.
Dalam kitab Syafi‟iyyah diurutkan apabila pihak perempuan selain ibu berebut mendapatkan hak hadhanah maka yang paling diutamakan terlebih dahulu adalah bapak, kemudian selanjutnya pihak perempuan. Berikut urutannya adalah:
Pihak Perempuan
Klasik Kontemporer
1. Ibu
2. Nenek Jalur ibu dan seterusnya ke atas
3. Nenek Jalur ayah dan seterusnya ke atas
4. Kakak Kandung perempuan 5. Kakak Perempuan Sebapak 6. Kakak Perempuan Seibu 7. Bibi atau paman jalur ayah164
Tetapi bila ada bapak, maka anak lebih berhak padanya.165
1. Ibu
2. Nenek dari ibu dan seterusnya ke atas 3. Nenek dari ayah dan seterusnya ke
atas
4. Kakak Kandung perempuan 5. Bibi (saudara ibu)
6. Keponakan perempuan (anak saudari kandung) kemudian Keponakan
Muhammad Az-Zuhaili, al-Mu'tamad fi al-Fiqh al-Syafi'i (Damaskus: Darul Qalam, 2011) jilid 4 h. 307-308.
167 Mustafa al Khin, Mustafa al Bugha, Ali asy Syarbaji, al Fiqh al Manhaji „ala Madzhab al Imam al Syafi‟i (Damaskus: Darul Qalam, 1992) jilid 4 h. 192-193.
Berikut adalah pihak laki-laki yang berhak mengasuh anak. Yaitu
3. Ashobah (Paman dan lain-lain)
1. Bapak
6. Anak kakak laki-laki se bapak.
7. Paman,
8. Pamannya ayah,
9. Anak paman (Sepupu laki-laki), 10. Anak Pamannya ayah.168
2. Nenek dari ibu dan seterusnya ke atas170
3. Bibi (saudara ibu) 171 4. Ayah
168 Muhammad Az-Zuhaili, al-Mu'tamad fi al-Fiqh al-Syafi'i (Damaskus: Darul Qalam, 2011) jilid 4 h. 309
169 Abi Ishaq Al-Syirazi, al-Muhadzab fi Fiqh al-Imam al-Syafi‟i (Damaskus: Darul Qalam, 1996). Jilid 4 h. 646.
170 Muhammad Az-Zuhaili, al-Mu'tamad fi al-Fiqh al-Syafi'i (Damaskus: Darul Qalam, 2011) jilid 4 h. 309-310
171 Mustafa al Khin, Mustafa al Bugha, Ali asy Syarbaji, al Fiqh al Manhaji „ala Madzhab al Imam al Syafi‟i (Damaskus: Darul Qalam, 1992) jilid 4 h. 193-194
5. Nenek jalur bapak 6. Kakek jalur bapak
7. Kakak Perempuan Kandung 8. Kakak laki-laki Kandung 9. Paman/bibi172
Dilihat dari tabel di atas bahwasannya urutan yang ada di ketentuan fiqih mazhab imam Syafi‟i tidak sama. Bukan maksud tidak sama berati beda semua tetapi dalam Kitab Manhaj urutan yang berhaknya lebih banyak dibanding dengan kitab Al-Mu‟tamad. Tetapi hal itu tidak menjadi fokus penulis dalam hal terjadi perbedaannya.
Kemudian dalam Hukum Keluarga Indonesia pada Kompilasi Hukum Islam dijelaskan di pasal 156 ketika anak belum mumayyiz dan ibunya telah meninggal maka kedudukannya digantikan oleh:
1. Wanita-wanita dalam garis lurus ke atas dari ibu;
2. Bapak;
3. Wanita-wanita dalam garis lurus ke atas dari bapak;
4. Saudara perempuan dari anak yang bersangkutan;
5. Wanita-wanita kerabat sedarah menurut garis samping dari bapak.
Bilamana terjadi perselisihan akan ada yang menjamin kepastiannya karena penetapan hak hadhanah ini dilakukan oleh pengadilan. Sekiranya dari pihak lain merasa pemegang hadhanah ternyata tidak dapat menjamin keselamatan jasmani dan rohani si anak, maka pihak yang mengkhawatirkan keamanan si anak tersebut dapat memindahkan hak hadhanah ke pihak lain atas penetapan pengadilan. Ini sejalan dengan KHI pasal 156.
Selanjutnya adalah dalam Hukum Keluarga Maladewa tidak menyebutkan secara berurut siapa saja orang yang berhak mendapatkan hadhanah. Hanya pihak yang bisa dipercaya dan juga yang ada hubungannya dengan si anak. Artinya anak
172 Muhammad Az-Zuhaili, al-Mu'tamad fi al-Fiqh al-Syafi'i (Damaskus: Darul Qalam, 2011) jilid 4 h. 309-310
dapat diasuh oleh pihak laki-laki maupun perempuan sesuai dengan penetapan pengadilan di Maladewa.
Dalam pasal 40 c dijelaskan jika pengasuhan anak perempuan dipercayakan kepada seorang laki-laki, maka dia haruslah seseorang yang dilarang untuk menikah (yang muhrimnya). Berarti secara otomatis meskipun tidak diurutkan dalam aturan hukum keluarga Maladewa, hak hadhanah untuk anak laki-laki maupun perempuan dari pihak laki-laki adalah:
1. Bapak
2. Kakek dari bapak dan seterusnya ke atas 3. Kakek dari ibu dan seterusnya ke atas 4. Saudara laki-laki si anak
5. Paman dari bapak 6. Paman dari ibu
Dalam lain hal, dijelaskan pula jika pengasuhan seorang anak dipercayakan kepada lebih dari satu orang yang ada hubungannya dengan si anak, dan mereka memiliki tingkat hubungan yang sama dengan anak tersebut, maka hak pengasuhan anak akan dipercayakan kepada orang yang paling sayang kepada anak tersebut dan pada siapa yang paling membentuk karakternya.
Dalam hal pengasuhan anak setelah pihak ibu, Mazhab Imam Syafi‟i, Hukum Keluarga Indonesia, dan Hukum Keluarga Maladewa ditemukan banyak perbedaan. Bahkan ketentuan di Mazhab Imam Syafi‟i sendiri terdapat banyak perbedaan urutan siapa yang berhak mendapatkan hadhanah setelah ibu. Tetapi rata-rata pihak setelah ibu urutan kedua sampai urutan ketiga hampir sama, yang lainnya dilengkapi dengan pihak lain. Contohnya bisa dilihat kembali ke atas urutan dari pihak perempuan, urutan pihak laki-laki, dan urutan pihak dalam perselisihan.
Dalam ketentuan Hukum Keluarga di Indonesia dan Maladewa selalu melibatkan pihak Peradilan untuk memberikan kepastian yang jelas tentang siapa yang berhak mengasuh anak setelah ibu.
Dalam Hukum Keluarga Indonesia, ditetapkan dengan tegas bahwa urutannya adalah seperti di atas, ketentuan ini memberikan titik terang dan kepastian hukum tentang siapa yang berhak mendapatkan hadhanah setelah ibu.
Urutan ini mirip dengan ketentuan yang ada di dalam kitab Fiqih Manhaj dan Fiqih Al-Mu‟tamad dalam urutan siapa yang berhak mengasuh anak setelah ibu apabila pihak perempuan dan pihak laki-laki berselisih dan memperebutkan hadhanah.
Hanya saja dalam Hukum Keluarga Maladewa tidak mengurutkan siapa saja pihak yang berhak mendapatkan hadhanah. Penetapan pengadilan sangat kental dalam urusan hadhanah ini. Hakim akan menelusuri orang-orang yang paling dekat, yang paling sayang, yang melindungi si anak dari lingkungan yang tidak baik, dan yang dapat membentuk karakter baik untuk menetapkan siapa yang paling pantas mengasuh anak. Hal ini berarti keluar dari jalur ketentuan yang ada di Mazhab Syafi‟i. Itu terjadi bisa saja karena tidak semua masalah penetapan hak hadhanah harus sesuai dengan ketentuan fiqih Mazhab Syafi‟i, tapi di sesuaikan dengan kondisi dan sosialnya si anak. bisa jadi si anak dekat dengan bibi, paman, keponakan, sepupu, atau saudara se bapak.
Penulis melihat, Hakim benar-benar sangat hati-hati dalam memutuskan kepada siapa anak itu akan diasuh. Karena semuanya demi kemaslahatan si anak tersebut.
Syarat Seorang Pengasuh
Ada beberapa persyaratan yang harus dimiliki oleh seorang pengasuh anak. Ini sangat penting untuk kelangsungan hidup anak yang belum mumayyiz.
hal itu sudah ditetapkan oleh fiqih mazhab Imam Syafi‟i. Diantaranya adalah:
1. Berakal
Sangat penting seorang pengasuh sehat akalnya, orang gila tidak berhak untuk mengasuh anak karena kelemahan akal dikhawatirkan anak akan ditelantarkan dan tidak diperhatikan.
2. Islam
Fiqih mazhab imam Syafi‟i mengatur agar anak yang diasuh ikut bersama pemegang hak hadhanah yang beragama Islam. yang Orang kafir tidak berhak untuk mengasuh anak, karena dikhawatirkan si anak akan ikut agama si pengasuhnya.
3. Lembut dan Amanah
Sangat penting yang mengasuh anak kecil dengan lembut dan amanah, apabila tidak lembut maka dikhawatirkan anak akan tertekan dan terganggu psikologisnya. Dan juga apabila tidak amanah dalam mengasuh anak atau mempergunakan biaya untuk kebutuhan si anak maka itu harus dihindari.
4. Mukim tempat tinggalnya
Seorang yang tidak mukim tempat tinggalnya, maka orang itu tidak berhak untuk mengasuh anak.
5. Tidak menikah dengan laki-laki lain
Apabila menikah dengan laki-laki lain meskipun belum dukhul, maka ia tidak berhak untuk mengasuh anak. Karena si ibu akan disibukkan dengan anak dari laki-laki lain, disibukkan dengan mengurus suami, dan lain-lain. Kecuali ada izin dari suami bahwa anak boleh diurus oleh ibunya. Pengasuhan anak akan dipindahkan kepada urutan setelah ibu.
Apabila si ibu itu bercerai dengan laki-laki yang dinikahinya, maka hak mengasuh anak kembali lagi kepada ibu.
6. Tidak mempunyai penyakit yang permanen
Bagi orang sakit tidak ada hak pengasuhan anak, untuk dirinya sendiri juga masih perlu bantuan apalagi mengurus anak kecil. Intinya, apabila seorang yang mengasuh terkena penyakit permanen seperti struk, kusta, dll. Maka tidak ada hak pengasuhan anak.173
7. Pintar
173 Mustafa al Khin, Mustafa al Bugha, Ali asy Syarbaji, al Fiqh al Manhaji „ala Madzhab al Imam al Syafi‟i (Damaskus: Darul Qalam, 1992) jilid 4 h. 196-197
Disyaratkan seorang pengasuh itu pintar, jangan orang bodoh karena dikhawatirkan mengasuh anak dengan kebodohan yang dapat membahayakan kehidupan si anak.
8. Baligh
Baligh juga syarat seorang pengasuh untuk mengasuh anak, belum baligh tidak dapat mengasuh anak.
9. Disusui
Diharuskan seorang ibu menyusui terlebih dahulu apabila anak masih kecil. Dan jika bapak tirinya baik, lembut, dan mengizinkan anak tersebut utuk disusui maka boleh.174
Syarat-syarat di atas merupakan gabungan dari kitab Al-Majmu‟ dan kitab Al-Mu‟tamad. Kenapa dalam ketentuan fiqih mazhab syafi‟i syaratnya begitu banyak dan terperinci karena bisa saja para ulama tidak ingin anak diasuh dengan sembarangan dan asal-asalan.
Dalam ketentuan hukum keluarga Indonesia disebutkan pada Undang-undang No. 1 Tahun 1974 bahwa apabila yang mengasuh sangat melalaikan kewajibannya terhadap anaknya dan berkelakuan buruk sekali, maka hak hadhanahnya dicabut oleh pengadilan atas permintaan kerabat lain.
Dan dalam kompilasi hukum Islam disebutkan juga bahwa apabila salah seorang orang tua sangat melalaikan kewajiban terhadap anaknya, berkelakuan buruk, tidak menjamin keselamatan jasmani dan rohani anak maka hak hadhanah akan dipindahkan ke pihak lain yang berhak mengasuh anak.
Syarat yang mengasuh anak dalam ketentuan hukum keluarga Indonesia tidak merincikan seperti apa yang disebutkan pada ketentuan fiqih mazhab imam Syafi‟i, yaitu hanya menyebutkan tiga peryaratan agar bisa mengasuh anak, yaitu tidak lalai dalam melaksanakan kewajiban hadhanah, berkelakuan baik, dan menjamin keselamatan jasmani rohani.
Dalam ketentuan hukum keluarga Maladewa disyaratkan sebagai berikut, 1. Orang itu harus Muslim;
174 Muhammad Az-Zuhaili, al-Mu'tamad fi al-Fiqh al-Syafi'i (Damaskus: Darul Qalam, 2011) jilid 4 h. 310-311
2. Orang itu harus berakal sehat;
3. Orang itu mesti mampu memberikan kasih sayang dan perawatan yang diperlukan dalam membesarkan anak;
4. Orang itu harus tidak terlibat dalam tindakan yang dilarang dalam syariah.
5. tempat tinggal orang tersebut tidak boleh menjadi tempat yang menyebabkan anak terkena pengaruh fisik atau pengaruh tidak bermoral.
Sedangkan dalam ketentuan hukum keluarga Maladewa terdapat hal-hal yang bisa menggugurkan asuh anak, diantaranya adalah:
1. Ketika hak asuk anak akan dipercayakan kepada ibu si anak tersebut, pernikahannya dengan seseorang yang tidak berada dalam tingkat pernikahan yang dilarang sehubungan dengan anak tersebut. Artinya adalah apabila anak itu berada dalam asuhan ibunya, kemudian ibunya menikah lagi dengan orang yang bukan mahromnya si anak, maka hak asuhnya gugur. Tapi apabila si ibu menikah dengan pamannya si anak, maka hak asuh masih tetap berada di ibu.
2. Ketika hak asuh anak dipercayakan kepada seseorang yang secara terbuka melakukan tindakan yang dilarang secara syariah. Ketika si pengasuh anak melakukan tindakan kriminal yang dilarang oleh syariah, maka pengadilan akan mencabut hak asuh anak.
3. Ketika hak asuh anak dipercayakan kepada ibunya si anak, sedangkan si ibu tempat tinggalnya pindah ke pulau yang berbeda kecuali ke pulau tempat dia tinggal tanpa persetujuan bapak atau wali yang resmi dari anak. Atau pindah ke tempat tinggal ke tempat tinggal lain yang dapat menghambat mencederai hak berkunjung bapak dari anak.
4. Ketika orang yang diberi kepercayaan mengasuh anak tersebut murtad.
5. Ketika orang yang diberi kepercayaan mengasuh anak mengabaikan atau memperlakukan anak tersebut dengan kejam.
Tentunya hal itu dilakukan oleh penetapan pengadilan apabila pihak kerabat si anak merasa khawatir dengan anak yang diasuh oleh si pemilik hadhanah.
Apabila kita lihat dari ke tiga ketentuan, yaitu ketentuan fiqih mazhab Imam Syafi‟i, Hukum Keluarga Indonesia, dan Hukum Keluarga Maladewa. Dua ketentuan dari dua negara tersebut memiliki keberanjakan dari ketentuan fiqih Imam Syafi‟i.
Fiqih Imam Syafi‟i mengatur syarat yang harus di penuhi oleh Pemilik hak asuh anak ada 9 syarat. Yaitu Berakal, islam, lembut dan amanah, mukim ditempat tinggalnya, tidak menikah dengan laki-laki lain, tidak mempunyai penyakit yang permanen, Pintar, Baligh, Disusui. Sedangkan Indonesia hanya mensyaratkan 3 saja yaitu jangan melalaikan kewajiban terhadap anak, berkelakuan baik, dan menjamin keselamatan jasmani rohani. Maladewa mensyaratkan orang yang mengasuh anak dengan 7 syarat. Yaitu harus Muslim, berakal sehat, mampu membesarkan anak dengan baik, berkelakuan baik, tempat tinggal yang lingkunganya baik, ibunya tidak menikah lagi, dan tempat tinggalnya mukim.
Tetapi bukan berati aturan yang tidak tertulis dalam ketentuan tersebut tidak dilaksanakan. Semua ini dilakukan oleh pertimbangan hakim sebagai aparat negara. Apabila di Indonesia ada seorang anak yang diperebutkan hak asuhnya ketika seorang ibu murtad maka itu akan dipindahkan kepada bapak karena untuk melindungi rohani atau agama si anak. Seperti pada kasus yang terjadi di Pengadilan Agama Jakarta Timur Perkara Nomor 1700/Pdt.G/2010/PAJT).175
Dalam lain hal beberapa kali lembaga Pengadilan Agama pernah menetapkan hak asuh anak kepada ibu yang nonmuslim, contohnya saja di Pengadilan Tinggi Agama Jakarta dengan nomor perkara 5/Pdt.G/2016/PTA.JK dan 35/Pdt.G/2015/PTA.JK. Memutuskan hak asuh anak kepada ibu yang nonmuslim. Pemohon yaitu bapak memohon pengasuhan anak kepada pemohon karena termohon yaitu ibu murtad. Pada perkara 5/Pdt.G/2016/PTA.JK Hakim
175 Lilis Sumiyati, “Murtad Sebagai Pengahalang Hadhanah (Studi Analisis Pengadilan Agama Jakarta Timur Perkara Nomor 1700/Pdt. G/2010/PAJT).”, (Skripsi S-1 Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2015), h. 8.
mempertimbangkan penjelasan si ibu bahwa suaminya tidak pantas untuk mengasuh anak karena si bapak memiliki emosi yang tidak stabil, mempunyai perangai yang kasar, suak menampar, mencekik, menendang, dan sering tidak sabar kepada anak. termohon. Ibunya mengakui bahwa menganai masalah agama tidak pernah memaksakan kepada anak. Bahkan pernah pemohon memanggil guru ngaji al-Quran untuk anaknya.176
Kemudian pada perkara 35/Pdt.G/2015/PTA.JK, pemohon selaku suami ingin menceraikan Termohon yaitu istrinya karena menurutnya rumah tangganya sudah lagi tidak harmonis. Termohon juga dinilai bersifat egois ketika dinasehati dan termohon juga sudah kembali lagi ke agama asalnya yaitu Kristen. Pemohon ingin hak asuh dua anaknya ada pada dirinya dengan mengajukan alasan karena anaknya masih keci dan perlu bimbingan agama dadri ayahnya. Tetapi termohon menulak itu semua dan memberikan alasan bahwa pemohon memiliki emosi yang tidak stabil juga tidak sabar dan suka berkata kasar ketika memarahi anak.
Termohon lebih berhak karena anak masih di bawah umur dan masih membutuhkan kasih sayang seorang ibu. Dalam perkara ini, hakim Pengadilan Agama Jakarta Utara memberikan hak pengasuhan anak pertama yang berusia 5,5 tahun kepada ayahnya. Sedangkan hak pengasuhan anak kedua yang berusia 1,5 tahun diberikan kepada ibunya. perkara ini ternyata naik banding, dan Pengadilan Tinggi Agama Jakarta menguatkannya dan juga oleh Mahkamah Agung.177
Sama halnya dengan hukum keluarga di Maladewa. Syarat selain yang sudah ditetapkan dalam aturan hukum keluarga bukan berarti diabaikan karena tidak tercantum dalam aturan tersebut. Tetapi pengadilan akan berkuasa penuh sesuai permintaan kerabat si anak apabila khawatir terhadap kelangsungan hidup anak baik jasmani maupun rohani.
176 Fachra Irvania Aprilliani, “Hak Pengasuhan Anak Bagi Nonmuslim (Analisis atas Putusan Pengadilan Tinggi Agama Jakarta 5/Pdt.G/2016/PTA.JK dan 35/Pdt.G/2015/PTA.JK).”
(Skripsi S-1 Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2018), h. 3.
177 Fachra Irvania Aprilliani, “Hak Pengasuhan Anak Bagi Nonmuslim (Analisis atas Putusan Pengadilan Tinggi Agama Jakarta 5/Pdt.G/2016/PTA.JK dan 35/Pdt.G/2015/PTA.JK).” ...
, h. 4
Hal ini sangat penting terhadap kepastian dan kejelasan hukum di kedua negara tersebut, meskipun memang ada sedikit keberanjakan dari ketentuan fiqih mazhab Imam Syafi‟i.