BAB II LANDASAN TEORI
D. Hipotesis Tindakan
Dalam penelitian ini, peneliti mengajukan hipotesis sebagai jawaban sementara terkait masalah yang telah dirumuskan, sebagai berikut:
1. Penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan keterampilan berpikir kreatif dalam materi IPA pada siswa kelas V SD Kanisius Jomegatan.
2. Penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan keterampilan pemecahan masalah dalam materi IPA pada siswa kelas V SD Kanisius Jomegatan.
37 BAB III
METODE PENELITIAN
Bab III memuat tentang jenis penelitian, setting penelitian, rencana tindakan, teknik pengumpulan data, instrumen penelitian, teknik pengujian instrumen, teknik analisis data, dan kriteria keberhasilan.
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah “Penelitian Tindakan Kelas” yang berasal dari bahasa Inggris Classroom Action Research. Classroom Action Research adalah penelitian yang berkembang dari action research (penelitian tindakan) yang lebih dikenal di Indonesia dengan sebutan penelitian tindakan kelas (Suryadi dan Berdiati, 2018: 66). Arikunto (dalam Muliawan, 2018: 1) mengemukakan bahwa PTK merupakan salah satu bentuk penelitian yang dilakukan di kelas. Penelitian ini dilakukan oleh guru guna memecahkan masalah pembelajaran yang terjadi di kelasnya (Daryanto, 2018: 3).
Penelitian ini bertujuan untuk meneliti objek maupun sasaran pendidikan yang berpengaruh terhadap hasil pembelajaran di kelas (Muliawan, 2018: 3).
Berdasarkan beberapa pengertian menurut para ahli di atas, peneliti mengemukakan bahwa Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) merupakan penelitian tindakan yang dilakukan di kelas guna pemecahan masalah pembelajaran yang mempengaruhi hasil pembelajaran.
Karakteristik penelitian tindakan kelas, antara lain: (1) permasalahan muncul dari kesadaran guru sendiri untuk memperbaiki kendala yang terjadi dalam pembelajaran di kelasnya, (2) penelitian yang dilaksanakan dengan adanya refleksi diri (self reflective inquiry) dari guru terkait proses pembelajaran yang telah dilakukan, (3) pelaksanaan PTK di dalam kelas berfokus pada kegiatan pembelajaran terkait perilaku interaksi antara guru dan siswa, (4) PTK bertujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran secara bertahap dan terus-menerus, dan (5) PTK adalah bagian fundamental dari usaha pengembangan profesionalisme guru (Daryanto, 2018: 5-6). Selain karakteristik tersebut, PTK juga memiliki prinsip dasar. Arikunto (2008)
mengemukakan prinsip dasar PTK, antara lain: (1) kegiatan nyata dalam situasi rutin, (2) adanya kesadaran diri untuk memperbaiki kinerja, (3) SWOT sebagai dasar berpijak, (4) upaya empiris dan sistematis, serta (5) SMART dalam perencanaan (Ningrum, 2014: 32-34).
Dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini, peneliti menggunakan teori dari John Elliot yang terdiri dari empat langkah, yaitu: menjaring gagasan untuk penelitian tindakan, perencanaan, tindakan dan pengamatan, serta reconnaissance (Suryadi dan Berdiati, 2018: 81-82). Empat langkah tersebut memiliki keterkaitan dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas dan lebih dikenal sebagai suatu siklus atau daur penelitian (Daryanto, 2018: 23).
1. Menjaring gagasan untuk penelitian tindakan
Langkah pertama yang dilakukan dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas model Elliot adalah menjaring gagasan untuk penelitian tindakan. Pada langkah ini, peneliti merefleksikan praktik pembelajaran yang sudah maupun sedang dilakukan dan menjaring masalah yang muncul. Selanjutnya, peneliti mencari fakta dan informasi pendukung yang meyakinkan jika masalah tersebut terbukti ada disertai alasan yang kuat untuk diteliti (Suryadi dan Berdiati, 2018: 81). Apapun masalah yang diangkat dalam penelitian, harusnya tetap berada dilingkup permasalahan yang dihadapi oleh guru dalam praktik hariannya di kelas dan merupakan sesuatu yang ingin diperbaiki (Kusumah dan Dwitagama, 2010: 21) 2. Perencanaan
Perencanaan pada model Elliot dipaparkan dalam langkah tindakan atau action step untuk seluruh siklus yang mana peneliti dapat merencanakan beberapa langkah tindakan atau action step dalam penelitiannya (Suryadi dan Berdiati, 2018: 82).
3. Tindakan dan pengamatan
Tahap ini merupakan penerapan langkah tindakan atau action step sembari mengamati proses dan dampaknya (Suryadi dan Berdiati, 2018:
82).
4. Reconnaissance
Penggunaan istilah reconnaissance pada model Elliot ini menggantikan istilah refleksi yang digunakan oleh model penelitian tindakan kelas yang lain (Suryadi dan Berdiati, 2018: 82). Langkah ini merupakan langkah sambung antara siklus I dan siklus II, upaya penemuan dampak negatif dari tindakan, serta identifikasi penyebab kelemahan tindakan tersebut (Suryadi dan Berdiati, 2018: 82).
Secara visual tahapan pada setiap siklus dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 3.1 Model PTK Menurut John Elliot
B. Setting Penelitian 1. Lokasi Penelitian
Penelitian Tindakan Kelas ini dilaksanakan di SD Kanisius Jomegatan yang terletak di Jalan Jomegatan, Jomegatan, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. SD Kanisius Jomegatan ini berdiri pada 9 November 1959. Letak sekolah yang berada di tengah desa Jomegatan dan cukup jauh dari jalan raya Bugisan ini membuat kondisi sekolah menjadi lebih kondusif untuk proses pembelajaran. Oleh karena itu, tak mengherankan jika sekolah yang sekarang dipimpin oleh bapak Stevanus Sarjiman ini berstatus terakreditasi A. Sekolah yang berada di bawah naungan yayasan kanisius ini bukan sekolah paralel. Pendidik dan tenaga pendidik di SD ini yaitu kepala sekolah, 6 guru kelas, 1 guru Bahasa Inggris, 1 guru agama, 1 guru olahraga, dan 1 tenaga pelaksana.
Bangunan sekolah ini berbentuk leter u yang terdiri atas ruang kepala sekolah, ruang guru, ruang komputer, ruang UKS, ruang perpustakaan, ruang kelas (6 kelas), toilet, dan tempat parkir.
2. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V SD Kanisius Jomegatan tahun ajaran 2019/2020 sejumlah 24 anak, yang terdiri dari 12 anak laki-laki dan 12 anak perempuan.
3. Objek Penelitian
Objek penelitian ini adalah keterampilan berpikir kreatif dan pemecahan masalah dalam materi IPA kelas atas. Penelitian kedua objek ini dilakukan melalui penerapan Problem Based Learning. Keterampilan berpikir kreatif dan pemecahan masalah dalam diri anak dapat dilihat dari keterlibatan mereka dalam proses pembelajaran harian di sekolah.
Penyajian materi pembelajaran yang menarik rasa keingintahuan anak secara tidak langsung menumbuhkan kemauan anak untuk bertanya terkait informasi baru yang diperolehnya maupun mengaitkan dengan pengalaman/ permasalahannya hingga akhirnya diperoleh solusi pemecahan masalah.
4. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada tahun ajaran 2019/2020. Waktu pelaksanaan selama sembilan bulan, yaitu bulan September 2019 s.d. Mei 2020.
Tabel 3.1 Kegiatan Penelitian
No Kegiatan
Bulan
September Oktober November Desember Januari Februari Maret April Mei
1. Penyusunan perangkat pembelajaran dan penelitian 2. Pengumpulan data awal
3. Validasi perangkat pembelajaran dan penelitian
4. Pelaksanaan siklus I 5. Pelaksanaan siklus II 6. Analisis data 7. Penyusunan skripsi
C. Rencana Tindakan
Pra penelitian, peneliti menyusun tahapan kegiatan penelitian. Penelitian tindakan kelas ini akan dilaksanakan dalam 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahap, yaitu: perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi.
1. Persiapan/Perencanaan
Peneliti mempersiapkan berbagai hal yang diperlukan dalam penelitian, antara lain:
a. Peneliti memilih sekolah yang digunakan untuk penelitian ini yaitu SD Kanisius Jomegatan.
b. Peneliti mengajukan permohonan surat izin dari universitas melalui sekretariat PGSD untuk melaksanakan penelitian di SD Kanisius Jomegatan.
c. Peneliti meminta izin kepada kepala sekolah dan guru kelas V untuk melakukan penelitian di SD Kanisius Jomegatan.
d. Peneliti melakukan observasi dan wawancara dengan guru kelas V SD Kanisius Jomegatan guna mengetahui gambaran awal terkait kondisi siswa selama proses pembelajaran.
e. Peneliti menganalisis RPPTH yang dibuat oleh guru kelas V guna melihat perencanaan guru dalam mengembangkan keterampilan berpikir kreatif dan pemecahan masalah siswa pada muatan pelajaran IPA.
f. Peneliti melakukan penyebaran data awal terhadap subjek penelitian guna mengetahui keterampilan berpikir kreatif dan pemecahan masalah siswa pada muatan pelajaran IPA dalam diri mereka.
g. Peneliti menyusun instrumen pembelajaran (silabus dan RPPTH) serta instrumen penelitian (lembar observasi dan lembar wawancara).
h. Peneliti mengajukan permohonan surat izin dari universitas melalui sekretariat PGSD untuk melaksanakan validasi RPPTH dengan guru kelas V SD Kanisius Ganjuran.
i. Peneliti melaksanakan validasi instrumen pembelajaran (silabus dan RPPTH) serta instrumen penelitian (lembar observasi dan lembar wawancara) kepada dosen pembimbing dan guru kelas V SD Kanisius Ganjuran.
j. Peneliti melaksanakan pembelajaran di kelas.
2. Rencana Tindakan Setiap Siklus
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan di kelas V SD Kanisius Jomegatan, peneliti memperoleh gambaran awal keadaan kelas V SD Kanisius Jomegatan sehingga dilakukan penelitian tindakan kelas sebagai berikut:
a. Siklus I
Pembelajaran pada siklus I akan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dengan menekankan variabel keterampilan berpikir kreatif dan pemecahan masalah IPA.
1) Perencanaan Tindakan Siklus I
Pada siklus I, peneliti melaksanakan pembelajaran sebanyak dua kali pertemuan dengan alokasi waktu setiap pertemuan 2 jam pembelajaran (2 35 menit). Pada pelaksanaan siklus I, peneliti mempersiapkan instrumen penelitian yang terdiri dari RPPTH, bahan ajar, dan kasus/permasalahan terkait topik bahan ajar yang mewadahi aktivitas diskusi kelompok dalam upaya pemecahan masalah. Selanjutnya, peneliti mempersiapkan kelas yang akan digunakan untuk pelaksanaan proses penelitian.
2) Pelaksanaan Tindakan Siklus I
Pelaksanaan tindakan dilakukan dengan berpedoman pada perencanaan yang telah disusun. Peneliti membagi siswa menjadi 4 kelompok dengan setiap kelompok terdiri dari 6 anak dengan kemampuan yang heterogen. Selanjutnya, siswa duduk sesuai kelompok yang telah ditentukan peneliti. Pada siklus I, peneliti akan menyampaikan materi tentang organ pencernaan manusia beserta fungsinya dan proses pencernaan manusia.
a) Pertemuan 1
Pada pertemuan 1 siklus I ini, peneliti hanya menyampaikan materi tentang organ pencernaan manusia beserta fungsinya.
(1) Kegiatan Awal: introduksi, literasi, apersepsi, orientasi, dan motivasi.
(2) Kegiatan Inti
Tabel 3.2 Kegiatan Inti Siklus I Pertemuan 1
Sintaks PBL Kegiatan Pembelajaran
1. Mengarahkan siswa pada masalah
Guru bertanya kepada siswa mengenai “Bagaimana cara kerja mulut ketika manusia menelan makanan yang memiliki beragam tekstur?”
Guru memotivasi siswa dalam aktivitas pemecahan masalah
Sintaks PBL Kegiatan Pembelajaran belajar yang berhubungan
dengan masalah.
3. Membantu penelitian mandiri dan kelompok
Siswa secara berkelompok mengumpulkan informasi yang digunakan untuk memecahkan masalah.
Siswa melakukan
penyelidikan guna mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.
Guru melakukan tanya jawab terkait aktivitas pemecahan masalah.
Siswa secara berkelompok mendiskusikan dan menyelesaikan LKPD sistem pencernaan manusia.
Guru mengamati dan mendampingi siswa selama aktivitas kelompok.
Siswa secara berkelompok melakukan refleksi dan evaluasi terhadap proses penyelidikan terkait pemecahan masalah.
Salah satu perwakilan kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya.
(3) Kegiatan Penutup: merangkum/menyimpulkan, refleksi, apresiasi/penguatan, tindak lanjut, dan doa penutup.
b) Pertemuan 2
Pada pertemuan 2 siklus I ini, peneliti hanya menyampaikan materi tentang proses pencernaan manusia.
(1) Kegiatan Awal: introduksi, literasi, apersepsi, orientasi, dan motivasi.
(2) Kegiatan Inti
Tabel 3.3 Kegiatan Inti Siklus I Pertemuan 2
Sintaks PBL Kegiatan Pembelajaran
1. Mengarahkan siswa pada masalah
Guru bertanya kepada siswa mengenai “Apakah usus buntu berperan dalam proses pencernaan manusia? Apakah proses pencernaan manusia mengalami hambatan jika terjadi gangguan pada usus
Sintaks PBL Kegiatan Pembelajaran buntu?”.
Guru memotivasi siswa dalam aktivitas pemecahan masalah belajar yang berhubungan dengan masalah.
3. Membantu penelitian mandiri dan kelompok
Siswa secara berkelompok mengumpulkan informasi yang digunakan untuk memecahkan masalah.
Siswa melakukan
penyelidikan guna mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.
Guru melakukan tanya jawab terkait aktivitas pemecahan masalah.
Siswa secara berkelompok mendiskusikan dan menyelesaikan LKPD proses pencernaan manusia.
Guru mengamati dan mendampingi siswa selama aktivitas kelompok.
Siswa secara berkelompok melakukan refleksi dan evaluasi terhadap proses penyelidikan terkait pemecahan masalah.
Salah satu perwakilan kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya.
(3) Kegiatan Penutup: merangkum/menyimpulkan, refleksi, apresiasi/penguatan, tindak lanjut, soal paska siklus I, dan doa penutup.
3) Observasi
Observasi berupa aktivitas pengambilan data yang dilakukan oleh observer dengan melihat kondisi yang terjadi di sekolah tempat pelaksanaan penelitian. Observasi ini dilaksanakan guna mengetahui keterampilan berpikir kreatif dan pemecahan masalah IPA di kelas V SD Kanisius Jomegatan selama proses
pembelajaran dengan cara mengisi lembar observasi yang sudah dipersiapkan peneliti.
4) Refleksi
Peneliti menentukan apakah tindakan yang dilakukan terhadap pemecahan masalah yang diteliti sudah mencapai tujuan atau belum, seperti:
a) Mengidentifikasi kesulitan, hambatan, dan peristiwa khusus yang terjadi pada siklus I.
b) Menganalisis peningkatan keterampilan berpikir kreatif dan pemecahan masalah IPA dalam diri siswa.
c) Menyimpulkan terkait peningkatan keterampilan berpikir kreatif dan pemecahan masalah IPA.
d) Merancang/memodifikasi siklus berikutnya (siklus II) jika target siklus I belum tercapai.
b. Siklus II
Pembelajaran pada siklus II akan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dengan menekankan variabel keterampilan berpikir kreatif dan pemecahan masalah IPA.
1) Perencanaan Tindakan Siklus II
Pada siklus II, peneliti melaksanakan pembelajaran sebanyak dua kali pertemuan dengan alokasi waktu setiap pertemuan 2 jam pembelajaran (2 35 menit). Pada pelaksanaan siklus II, peneliti mempersiapkan instrumen penelitian yang terdiri dari RPPTH, bahan ajar, dan kasus/permasalahan terkait topik bahan ajar yang mewadahi aktivitas diskusi kelompok dalam upaya pemecahan masalah. Selanjutnya, peneliti mempersiapkan kelas yang akan digunakan untuk pelaksanaan proses penelitian.
2) Pelaksanaan Tindakan Siklus II
Pelaksanaan tindakan dilakukan dengan berpedoman pada perencanaan yang telah disusun. Peneliti membagi siswa menjadi 4 kelompok dengan setiap kelompok terdiri dari 6 anak dengan
kemampuan yang heterogen. Selanjutnya, siswa duduk sesuai kelompok yang telah ditentukan peneliti. Pada siklus II, peneliti akan menyampaikan materi tentang gangguan pada proses pencernaan manusia dan cara merawat organ pencernaan manusia.
a) Pertemuan 1
Pada pertemuan 1 siklus II ini, peneliti hanya menyampaikan materi tentang gangguan pada proses pencernaan manusia.
(1) Kegiatan Awal: introduksi, literasi, apersepsi, orientasi, dan motivasi.
(2) Kegiatan Inti
Tabel 3.4 Kegiatan Inti Siklus II Pertemuan 1
Sintaks PBL Kegiatan Pembelajaran
1. Mengarahkan siswa pada masalah
Guru bertanya kepada siswa mengenai “Apakah penyebab terjadinya diare? Diare terjadi pada organ pencernaan apa?
Apakah penyebab terjadinya sembelit? Sembelit terjadi pada organ pencernaan apa?”.
Guru memotivasi siswa dalam aktivitas pemecahan masalah belajar yang berhubungan dengan masalah.
3. Membantu penelitian mandiri dan kelompok
Siswa secara berkelompok mengumpulkan informasi yang digunakan untuk memecahkan masalah.
Siswa melakukan
penyelidikan guna mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.
Guru melakukan tanya jawab terkait aktivitas pemecahan masalah.
Siswa secara berkelompok mendiskusikan dan menyelesaikan LKPD gangguan pada proses pencernaan manusia.
Guru mengamati dan mendampingi siswa selama
Sintaks PBL Kegiatan Pembelajaran
Siswa secara berkelompok melakukan refleksi dan evaluasi terhadap proses penyelidikan terkait pemecahan masalah.
Salah satu perwakilan kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya.
(3) Kegiatan Penutup: merangkum/menyimpulkan, refleksi, apresiasi/penguatan, tindak lanjut, dan doa penutup.
b) Pertemuan 2
Pada pertemuan 2 siklus II ini, peneliti hanya menyampaikan materi tentang cara merawat organ pencernaan manusia.
(1) Kegiatan Awal: introduksi, literasi, apersepsi, orientasi, dan motivasi.
(2) Kegiatan Inti
Tabel 3.5 Kegiatan Inti Siklus II Pertemuan 2
Sintaks PBL Kegiatan Pembelajaran
1. Mengarahkan siswa pada masalah
Guru bertanya kepada siswa mengenai gangguan asam lambung/Maag dan meminta siswa untuk menemukan cara mencegah gangguan tersebut.
Guru memotivasi siswa dalam aktivitas pemecahan masalah belajar yang berhubungan dengan masalah.
3. Membantu penelitian mandiri dan kelompok
Siswa secara berkelompok mengumpulkan informasi yang digunakan untuk memecahkan masalah.
Siswa melakukan
penyelidikan guna mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.
Guru melakukan tanya jawab terkait aktivitas pemecahan masalah.
Sintaks PBL Kegiatan Pembelajaran
Siswa secara berkelompok mendiskusikan dan menyelesaikan LKPD.
Guru mengamati dan mendampingi siswa selama aktivitas kelompok.
Siswa secara berkelompok melakukan refleksi dan evaluasi terhadap proses penyelidikan terkait pemecahan masalah.
Salah satu perwakilan kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya.
(3) Kegiatan Penutup: merangkum/menyimpulkan, refleksi, apresiasi/penguatan, tindak lanjut, soal paska siklus II, dan doa penutup.
3) Observasi
Observasi berupa aktivitas pengambilan data yang dilakukan oleh observer dengan melihat kondisi yang terjadi di sekolah tempat pelaksanaan penelitian. Observasi ini dilaksanakan guna mengetahui keterampilan berpikir kreatif dan pemecahan masalah IPA di kelas V SD Kanisius Jomegatan selama proses pembelajaran dengan cara mengisi lembar observasi yang sudah dipersiapkan peneliti.
4) Refleksi
Peneliti menentukan apakah tindakan yang dilakukan terhadap pemecahan masalah yang diteliti sudah mencapai tujuan atau belum, seperti:
a) Mengidentifikasi kesulitan, hambatan, dan peristiwa khusus yang terjadi pada siklus II.
b) Menganalisis peningkatan keterampilan berpikir kreatif dan pemecahan masalah IPA dalam diri siswa.
c) Menyimpulkan terkait peningkatan keterampilan berpikir kreatif dan pemecahan masalah IPA.
d) Merancang/memodifikasi siklus berikutnya (siklus III) jika target siklus II belum tercapai.
D. Teknik Pengumpulan Data 1. Non-tes
Bentuk nontes digunakan jika perubahan perilaku yang berhubungan dengan apa yang dikerjakan (bersifat konkret) dapat diamati oleh indera (Prijowuntato, 2016: 66).
a. Wawancara
Wawancara adalah salah satu bentuk penilaian nontes yang dilakukan melalui percakapan dan tanya jawab dengan responden baik secara langsung maupun tidak langsung dengan sumber data (Astiti, 2017: 63). Wawancara didefinisikan juga sebagai cara pengumpulan informasi melalui aktivitas tanya jawab antara pengumpul informasi dengan responden (Prijowuntato, 2016: 69). Wawancara atau interview adalah percakapan antar muka dalam kesempatan dimana seluruh pihak menggunakan keingintahuannya saling berbagi pengetahuan dan pemahaman terkait suatu masalah yang menjadi minat bersama (Basuki dan Hariyanto, 2015: 61).Wawancara dibagi menjadi dua, yaitu wawancara langsung dan wawancara tidak langsung. Wawancara langsung adalah wawancara yang dilakukan secara langsung antara pewawancara dan narasumber tanpa melalui perantara (Astiti, 2017: 63). Sedangkan, wawancara tidak langsung adalah wawancara yang dilakukan oleh pewawancara melalui perantara orang lain tidak langsung kepada narasumber (Astiti, 2017:
63). Panduan wawancara perlu digunakan oleh pewawancara supaya pelaksanaan wawancara terarah sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan (Prijowuntato, 2016: 69). Penelitian ini akan menggunakan jenis wawancara langsung. Kegiatan wawancara ini dilaksanakan guna memperoleh data keterampilan berpikir kreatif dan pemecahan
masalah IPA siswa kelas V SD Kanisius Jomegatan melalui bantuan guru kelas prasiklus I.
b. Observasi
Observasi adalah cara menghimpun data yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena yang menjadi sasaran pengamatan (Astiti, 2017: 64 - 65).
Suharsaputra (dalam Suyitno, 2018: 137) menjelaskan bahwa observasi adalah suatu kegiatan pencarian data yang digunakan untuk menyimpulkan atau mendiagnosis suatu penelitian. Teknik pengumpulan data observasi dapat dilakukan melalui beberapa cara, antara lain: pengamatan secara lengkap, pemeran sebagai pengamat, pengamat sebagai pemeran, dan pengamatan penuh (Suyitno, 2018:
138). Peneliti dalam mengumpulkan data observasi ini hanya melakukan dua dari empat cara yang dikemukakan Suyitno, seperti sebagai berikut:
1) Pengamat sebagai pemeran
Pada proses ini, pengamat sekaligus peneliti secara terbuka memberitahu siswa kelas V SD Kanisius Jomegatan terkait penelitiannya. Proses pengamatan memiliki kemungkinan pemerolehan data yang dibutuhkan dalam penelitian jika mendapatkan dukungan siswa kelas V SD Kanisius Jomegatan selaku subjek dalam proses pengamatan ini.
2) Pengamatan penuh
Pada proses ini, peneliti bebas melaksanakan pengamatan tanpa diketahui oleh siswa kelas V SD Kanisius Jomegatan selaku subjek yang diamati. Peneliti menjaga jarak dengan siswa kelas V SD Kanisius Jomegatan supaya identitasnya sebagai peneliti tidak diketahui mereka.
c. Dokumen
Banyak fakta maupun data tersimpan dalam bahan berbentuk dokumentasi, seperti: catatan harian, surat, laporan, foto, dan
sebagainya yang tak terbatas ruang serta waktu sehingga membantu evaluator dalam mengetahui kejadian sebelumnya (Arifin, 2019: 259).
Pengumpulan data objektif sekolah melalui format prapenelitian dan pengumpulan nilai yang ada (Tampubolon, 2014: 162). Pada penelitian ini, peneliti melihat dokumen terkait RPPTH dan informasi siswa kelas V SD Kanisius Jomegatan beserta pencapaian hasil belajar mereka.
2. Tes
a. Tes Objektif Tipe Pilihan Ganda
Tes tertulis bentuk ini merupakan tes yang jawabannya harus memilih dari beberapa kemungkinan jawaban yang telah disediakan (Tampubolon, 2014: 70). Tes bentuk ini terdiri dari pokok soal (stem) dan pilihan jawaban (option) yang berisikan kunci jawaban serta pengecoh (distractor) (Tampubolon, 2014: 70). Pokok soal (stem) terdiri dari satu atau beberapa kalimat yang berupa pertanyaan atau pernyataan (Astiti, 2017: 34). Kelebihan tes bentuk ini, antara lain:
mampu mengukur berbagai tingkatan kognitif; penskorannya mudah, cepat, objektif, dan mampu mencakup ruang lingkup materi yang luas; dan tepat untuk ujian yang pesertanya sangat banyak dan hasilnya harus segera diumumkan (Tampubolon, 2014: 70).
Pada penelitian ini, peneliti mengujikan beberapa butir soal objektif tipe pilihan ganda guna mengetahui keterampilan berpikir kreatif dan pemecahan masalah IPA siswa kelas V SD Kanisius Jomegatan sebanyak 18 soal pada kemampuan awal dan 10 soal pada akhir siklus I serta akhir siklus II. Soal diselesaikan dalam waktu 20 menit pada tes awal dan 15 menit pada akhir siklus I serta II.
E. Instrumen Penelitian
Peneliti akan menggunakan instrumen non-tes dan tes pada penelitian ini.
Instrumen non-tes yang digunakan, yaitu: pedoman wawancara dan lembar observasi. Sedangkan, instrumen tes yang digunakan berupa soal objektif tipe
pilihan ganda yang dilaksanakan pada pengambilan data awal, paska siklus I, dan paska siklus II. Instrumen non-tes dan tes ini berfungsi untuk mengetahui keterampilan berpikir kreatif dan pemecahan masalah siswa.
1. Non-tes
a. Pedoman Wawancara
Pedoman wawancara ini disusun guna membantu peneliti dalam perolehan informasi secara mendetail terkait kondisi siswa yang menjadi subjek penelitian serta permasalahan yang muncul dalam proses pembelajaran. Selain itu, peneliti juga dapat memperoleh data terkait pengunaan metode, model, dan media pembelajaran yang digunakan guru dalam pembelajaran. Narasumber wawancara ini adalah guru kelas V SD Kanisius Jomegatan. Berikut kisi-kisi pedoman wawancara yang digunakan pada penelitian ini:
Tabel 3.6 Kisi-kisi Pedoman Wawancara
Variabel Indikator
Variabel Kisi-kisi Pertanyaan 1. Keterampilan
Menganalisis maupun merumuskan masalah terkait fungsi dari organ pencernaan manusia, proses pencernaan manusia, proses pencernaan manusia, dan cara merawat organ pencernaan manusia Membangkitkan
keingintahuan dan hasrat ingin tahu
Bertanya terkait nama dan fungsi organ pencernaan manusia, proses pencernaan manusia, gangguan pada organ pencernaan manusia, serta cara merawat organ pencernaan manusia
Memandang informasi dari sudut pandang yang berbeda
Menyimpulkan informasi terkait nama dan fungsi organ pencernaan manusia, proses pencernaan manusia, gangguan pada organ pencernaan manusia, serta cara merawat organ pencernaan manusia berdasarkan pengetahuan maupun pengalaman yang dimiliki
Memprediksi dari informasi yang terbatas
Mengkomunikasikan hasil kesimpulannya dari informasi yang diperoleh terkait materi pembelajaran
Merumuskan masalah
Menemukan dan mengidentifikasi kasus terkait gangguan pada organ pencernaan
Mengungkapkan hipotesis terkait suatu
Mengungkapkan hipotesis terkait suatu