BAB II LANDASAN TEORI
A. Kajian Pustaka
3. Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
a. Definisi Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
Problem Based Learning atau pembelajaran berbasis masalah adalah proses pembelajaran yang mengarahkan siswa pada suatu masalah pra proses pembelajaran (Haryono, 2019: 113). Model pembelajaran ini mengutarakan masalah kontekstual yang merangsang siswa untuk belajar melalui kegiatan berkelompok (Haryono, 2019:
113). Problem Based Learning dimanfaatkan guna mendukung pola berpikir tingkat tinggi dalam situasi yang berorientasikan masalah (Risyamawati, 2019: 147). Problem Based Learning atau pembelajaran berbasis masalah adalah model pembelajaran yang menyajikan masalah kontekstual sehingga merangsang siswa untuk belajar (Saefuddin dan Berdiati, 2015: 53). PBL adalah cara penyampaian pembelajaran melalui penyajian permasalahan,
pengajuan pertanyaan, adanya penyelidikan, dan dialog (Sani, 2014:
127).
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Problem Based Learning adalah proses pembelajaran yang mengutarakan masalah kontekstual guna merangsang siswa untuk belajar berpikir tingkat tinggi melalui kegiatan berkelompok serta dialog antarsiswa maupun antara siswa dengan guru.
b. Tujuan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
PBL bertujuan untuk mengembangkan dan menerapkan keterampilan vital, antara lain: pemecahan masalah belajar, kerjasama tim, dan pemerolehan pengetahuan luas (Wedyawati dan Lisa, 2018:
148). Arends (dalam Saefuddin dan Berdiati, 2015: 53) mengungkapkan bahwa Problem Based Learning (PBL) dirancang untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir, keterampilan penyelesaian masalah, dan keterampilan intelektualnya melalui situasi konkret. Model pembelajaran ini bertujuan membantu siswa dalam pengembangan keterampilan berpikir dan penyelesaian masalah (Sani, 2014: 2). Berdasarkan pendapat tersebut, Problem Based Learning (PBL) bertujuan untuk membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir, keterampilan penyelesaian masalah, keterampilan intelektualnya, kerjasama tim, dan pemerolehan pengetahuan luas melalui situasi konkret.
c. Karakteristik Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Wedyawati dan Lisa (2018: 151-152) mengemukakan karakteristik model pembelajaran Problem Based Learning (PBL), sebagai berikut:
1) Belajar dimulai dengan suatu masalah
2) Memastikan masalah tersebut berhubungan dengan dunia nyata siswa
3) Mengorganisasikan pelajaran seputar masalah
4) Memberikan tanggung jawab kepada siswa dalam menjalankan langsung proses pelajar
5) Menggunakan kelompok kecil
6) Menuntut siswa untuk mendemonstrasikan yang telah dipelajari dalam bentuk produk atau kinerja
Haryono (2019: 114-115) menyatakan karakteristik Problem Based Learning (PBL), sebagai berikut:
1) Mengorientasikan siswa pada masalah yang sebenarnya terjadi dan menghindari pembelajaran terisolasi
2) Berpusat pada siswa
3) Menciptakan pembelajaran interdisiplin
4) Penyelidikan terintegrasi dengan dunia nyata dan pengalaman praktis
5) Menghasilkan produk dan menyajikannya
6) Mengajarkan pada siswa untuk mampu menerapkan ilmu yang dipelajari dalam kehidupannya untuk jangka panjang
7) Pembelajaran secara kooperatif
8) Guru berperan sebagai fasilitator, motivator, dan pembimbing.
9) Masalah diformulasikan untuk memfokuskan dan merangsang pembelajaran
10) Masalah digunakan untuk mengembangkan keterampilan pemecahan masalah
11) Informasi baru diperoleh melalui belajar mandiri
Nuryati (2018: 8-9) mengungkapkan karakteristik Problem Based Learning (PBL), sebagai berikut:
1) Learning is driven by challenging, open-ended, defined and ill-structured, practical problems
2) Students generally work in collaborative groups 3) Teachers take on the role as “facilitators” of learning
Instructional activities are based on learning strategies, involving semantic reasoning, case based reasoning, analogical reasoning,
causal reasoning, and inquiry reasoning, these activities include creating stories, reasoning about case, concept mapping, causal mapping, cognitive hypertext crisscrossing, analogy making, and question generating
Berdasarkan pendapat di atas, peneliti menyimpulkan karakteristik Problem Based Learning (PBL), yaitu: (1) pembelajaran bersumber pada permasalahan kontekstual siswa; (2) pembelajaran berpusat pada siswa sehingga guru hanya berperan sebagai fasilitator, motivator, dan pembimbing; (3) adanya aktivitas siswa secara berkelompok; dan (4) tujuan pelaksanaan model pembelajaran ini yaitu mengembangkan keterampilan pemecahan masalah dalam diri siswa.
d. Kelebihan Problem Based Learning (PBL)
Wedyawati dan Lisa (2018: 160-161) mengemukakan kelebihan Problem Based Learning (PBL), sebagai berikut:
1) Siswa lebih memahami konsep yang diajarkan karena mereka yang menemukannya.
2) Melibatkan siswa secara aktif dalam memecahkan masalah dan menuntut keterampilan berpikir tingkat tinggi
3) Pembelajaran lebih bermakna karena pengetahuan tertanam berdasarkan skemata yang dimiliki oleh siswa
4) Siswa dapat merasakan manfaat pembelajaran karena masalah yang diselesaikan langsung dikaitkan dengan kehidupan nyata.
5) Menjadikan siswa mandiri, dewasa, mampu mengapresiasi pendapat orang lain, dan menanamkan sikap sosial yang positif dengan siswa lain
6) Pengkondisian siswa dalam belajar kelompok yang saling berinteraksi terhadap pembelajaran dan temannya sehingga pencapaian ketuntasan belajar dapat diharapkan
7) Menumbuhkembangkan kemampuan kreativitas siswa baik secara individual maupun berkelompok
Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (dalam Haryono, 2019: 119-120) menyatakan kelebihan Problem Based Learning (PBL), sebagai berikut:
1) Terjadi pembelajaran bermakna ketika siswa berhadapan dengan situasi dimana konsep diterapkan
2) Siswa mengintegrasikan pengetahuan dan keterampilan secara simultan dan mengaplikasikannya dalam konteks yang relevan 3) Meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan inisiatif
siswa dalam bekerja, motivasi belajar internal, dan mengembangkan hubungan interpersonal dalam bekerja kelompok Berdasarkan pendapat kedua ahli di atas, peneliti menyimpulkan bahwa kelebihan Problem Based Learning (PBL), antara lain: (1) pembelajaran bermakna karena siswa berhadapan dengan permasalahan yang berkaitan dengan konsep yang diajarkan sehingga memudahkan mereka memahami konsep; (2) mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi dalam diri siswa, seperti:
pemecahan masalah, berpikir kritis, berpikir kreatif; dan (3) melatih sikap menghargai pendapat orang lain, menanamkan sikap positif dalam bersosialisasi, serta mengembangkan keterampilan berkomunikasi melalui adanya kegiatan berkelompok.
e. Sintaks Problem Based Learning (PBL)
Di bawah ini tabel terkait sintaks model pembelajaran Problem Based Learning menurut Arends (Arends, 2013: 115).
Tabel 2.1 Sintaks untuk Problem Based Learning
Tahap Perilaku Guru
1. Mengarahkan siswa pada masalah
Guru meninjau ulang tujuan pembelajaran, menjabarkan persyaratan logistik yang penting dan memotivasi siswa untuk terlibat dalam kegiatan pemecahan masalah.
Tahap Perilaku Guru 2. Menyiapkan siswa
untuk belajar.
Guru membantu siswa mendefinisikan dan menyusun tugas-tugas belajar yang terkait dengan permasalahan.
3. Membantu
penelitian mandiri dan kelompok.
Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, mengadakan eksperimen, dan mencari penjelasan serta solusi.
4. Mengembangkan dan menyajikan artefak dan benda pajang.
Guru membantu siswa dalam merencanakan dan mempersiapkan artefak yang sesuai seperti laporan, video, dan model, serta membantu mereka membagikan pekerjaan mereka dengan orang lain.
5. Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan permasalahan.
Guru membantu siswa untuk merefleksikan penyelidikan mereka dan proses yang mereka gunakan.
Penjelasan rinci terkait tahapan Problem Based Learning dan perilaku guru yang diharapkan untuk setiap tahapnya, sebagai berikut:
1) Mengarahkan siswa pada masalah
Guru mengawali proses pembelajaran dengan mengomunikasikan tujuan pembelajaran, membentuk sikap positif terhadap pembelajaran, dan menjabarkan apa yang diharapkan dilakukan siswa. Guru menyajikan suatu permasalahan kepada siswa semenarik dan seakurat mungkin supaya menarik minat siswa sehingga menghasilkan rasa ingin tahu serta kesenangan dalam diri mereka.
2) Menyiapkan siswa untuk belajar
Model pembelajaran ini menuntut guru untuk mengembangkan keterampilan kolaborasi antarsiswa dan membantu mereka menyelidiki masalah bersama-sama.
3) Membantu penyelidikan mandiri dan kelompok
Investigasi secara mandiri, berkelompok, maupun tim kecil merupakan inti dari PBL.
4) Mengembangkan dan menyajikan artefak serta benda pajang
Tahap penyelidikan diikuti penciptaan artefak dan benda pajang.
Artefak tersebut lebih dari laporan tertulis yaitu seperti rekaman video yang menunjukkan situasi permasalahan beserta usulan solusinya, model yang merepresentasikan fisik dari situasi permasalahan atau solusinya, dan program komputer serta presentasi multimedia. Benda pajang dapat berupa pameran sains dimana siswa memamerkan karya mereka untuk ditonton dan dievaluasi orang maupun presentasi verbal/ visual yang bertukar gagasan serta memberikan balikan.
5) Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Tahap akhir model pembelajaran ini melibatkan kegiatan yang bertujuan membantu siswa menganalisis dan mengevaluasi proses-proses pemikiran mereka dan juga keterampilan penyelidikan serta intelektual yang digunakan. Guru meminta siswa merekonstruksi pemikiran mereka.