BAB III METODE PENELITIAN
H. Kriteria Keberhasilan
Indikator keberhasilan digunakan untuk mengetahui target yang dicapai pada keterampilan berpikir kreatif dan pemecahan masalah. Kriteria keberhasilan dapat dikatakan berhasil apabila hasil penelitian telah melampaui target yang ditetapkan peneliti. Kriteria keberhasilan keterampilan berpikir kreatif dan pemecahan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Tabel 3.28 Indikator Keberhasilan
Variabel Indikator
Pra-siklus
Kondisi Akhir Siklus I Siklus II Berpikir
Kreatif
Rata-rata kelas terkait hasil penyelesaian soal berpikir kreatif
58
Rata-rata kelas terkait hasil penyelesaian soal pemecahan masalah
56,67 didapatkan tergolong dalam nilai terendah walaupun tergolong dalam kategori sedang berdasarkan PAP II yang dikemukakan oleh Prijowuntato.
Oleh sebab itu, peneliti menetapkan target siklus I disesuaikan dengan KKM IPA yaitu 70 dengan harapan hasil kedua variabel penelitian dapat mengikuti KKM IPA. Target kondisi akhir pada siklus II yaitu 75. Penetapan nilai 75 pada akhir siklus II ini karena peneliti ingin melihat adanya perpindahan kategori dari kondisi awal yang tergolong sedang menjadi tinggi dan mendekati nilai maksimal pada kategori tinggi yaitu 80.
73 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pada bab IV ini, peneliti menguraikan penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning untuk meningkatkan keterampilan berpikir kreatif dan pemecahan masalah, peningkatan keterampilan berpikir kreatif dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning, peningkatan keterampilan pemecahan masalah dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning, dan pembahasan.
A. Penggunaan Model Pembelajaran Problem Based Learning untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kreatif dan Pemecahan Masalah
Penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning dalam penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan sebagai upaya peneliti dalam meningkatkan keterampilan berpikir kreatif dan pemecahan masalah pada siswa kelas V SD Kanisius Jomegatan. Lima langkah dalam model pembelajaran ini merupakan pendapat Arends (2013: 114-118). Kelima langkah tersebut adalah sebagai berikut:
1. Mengarahkan Siswa pada Masalah
Pada tahap ini, peneliti memberikan suatu kasus/permasalahan yang berkaitan dengan materi pembelajaran. Penyajian kasus/permasalahan ini berguna supaya siswa mampu menemukan solusi pemecahan masalah untuk kasus tersebut. Hal ini diperkuat dengan pendapat Arends (2013: 114) yang menyatakan bahwa guru menyajikan situasi permasalahan kepada siswa semenarik serta seakurat mungkin dan harus menangkap minat mereka sehingga menghasilkan rasa ingin tahu serta kesenangan dalam diri mereka.
2. Menyiapkan Siswa untuk Belajar
Pada langkah ini, guru membagi siswa dalam kedalam kelompok dan membantu mereka mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan kasus/permasalahan yang disajikan sebelumnya. Hal ini sejalan dengan Arends (2013: 116) yang berpendapat bahwa model
pembelajaran ini menuntut guru untuk mengembangkan keterampilan kolaborasi antarsiswa dan membantu mereka menyelidiki masalah bersama-sama.
3. Membantu Penelitian Mandiri dan Kelompok
Pada langkah ini, siswa secara berkelompok mengumpulkan informasi yang digunakan untuk memecahkan masalah. Selain itu, siswa juga melakukan penyelidikan guna mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah. Sedangkan, guru melakukan tanya jawab terkait aktivitas pemecahan masalah. Hal ini diperkuat oleh pendapat Arends (2013: 116) yang menyatakan bahwa investigasi secara mandiri, berkelompok, maupun tim kecil merupakan inti dari PBL.
4. Mengembangkan dan Menyajikan Artefak dan Benda Pajang
Siswa berdiskusi kelompok dan menyelesaikan LKPD. Ada bagian LKPD yang meminta siswa untuk membuat poster, peta pikiran, maupun gambar yang berkaitan dengan materi pembelajaran dan bisa dijadikan sebagai benda pajang. Hal ini sesuai dengan pendapat Arends (2013: 118) yang menyatakan bahwa benda pajang dapat berupa pameran sains dimana siswa memamerkan karya mereka untuk ditonton dan dievaluasi orang maupun presentasi verbal/visual yang bertukar gagasan serta memberikan balikan.
5. Menganalisis dan Mengevaluasi Proses Pemecahan Permasalahan
Pada tahap terakhir ini, siswa secara berkelompok melakukan refleksi dan evaluasi terhadap proses penyelidikan terkait pemecahan masalah.
Hal ini diperkuat pendapat Arends (2013: 118) yang menyatakan bahwa tahap akhir model pembelajaran ini melibatkan kegiatan yang bertujuan membantu siswa menganalisis dan mengevaluasi proses-proses pemikiran mereka dan juga keterampilan penyelidikan serta intelektual yang digunakan.
Pelaksanaan Prasiklus, Siklus I, dan Siklus II yang telah peneliti lakukan, sebagai berikut:
1. Prasiklus
Peneliti melakukan persiapan terlebih dahulu sebelum pelaksanaan penelitian. Persiapan yang dilakukan pada penelitian ini, antara lain:
wawancara kepada guru kelas V, observasi, dan pengujian soal data awal pada siswa kelas V SD Kanisius Jomegatan. Pelaksanaan pra siklus terhadap 24 siswa kelas V SD Kanisius Jomegatan pada tanggal 12 November 2019. Peneliti terlebih dahulu melaksanakan wawancara kepada guru kelas V SD Kanisius Jomegatan sebelum melaksanakan penelitian. Wawancara ini bertujuan untuk mengetahui kondisi sebenarnya siswa selama mengikuti proses pembelajaran.
Peneliti mengajukan beberapa pertanyaan kepada guru kelas V SD Kanisius Jomegatan terkait penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning serta keterampilan berpikir kreatif dan pemecahan masalah dalam diri siswa kelas V SD Kanisius Jomegatan. Berdasarkan hasil wawancara, peneliti mendapatkan informasi, antara lain: guru kelas V SD Kanisius Jomegatan mengetahui model pembelajaran Problem Based Learning tetapi tidak menerapkannya dalam proses pembelajaran karena sudah terbiasa menyampaikan materi melalui ceramah serta kurang dikembangkannya keterampilan berpikir kreatif dan pemecahan masalah dalam diri siswa kelas V SD Kanisius Jomegatan.
Selain melaksanakan wawancara, peneliti juga melakukan observasi.
Berdasarkan observasi, peneliti mendapatkan informasi bahwa masih terdapat masalah terkait keterampilan berpikir kreatif dan pemecahan masalah IPA. Kondisi ini terlihat dari sedikitnya jumlah siswa yang bertanya (bertentangan dengan indikator keterampilan berpikir kreatif yaitu membangkitkan keingintahuan dan hasrat ingin tahu) maupun mengemukakan pendapatnya (bertentangan dengan indikator pemecahan masalah yaitu memahami masalah) terkait materi pembelajaran yang sedang dipelajari.
Peneliti membuktikan permasalahan rendahnya keterampilan berpikir kreatif dan pemecahan masalah IPA tidak hanya dengan instrumen nontes tetapi juga menggunakan instrumen tes. Peneliti mengujikan soal
terkait kedua variabel penelitian guna memperkuat hasil wawancara dan observasi yang telah dilakukan sebelumnya. Soal yang diujikan berupa soal objektif tipe pilihan ganda yangmana setiap butir soal tersebut berpedoman pada indikator variabel keterampilan berpikir kreatif dan pemecahan masalah. Pengambilan tes data awal ini bertujuan untuk melihat sejauh mana keterampilan berpikir kreatif dan pemecahan masalah IPA pada diri siswa sebelum pelaksanaan siklus I dan II.
Tes prasiklus dilaksanakan setelah peneliti melakukan wawancara kepada guru kelas V SD Kanisius Jomegatan. Tes yang dilaksanakan pada tanggal 12 November 2019 ini diujikan kepada siswa kelas V SD Kanisius Jomegatan sejumlah 24 anak dengan materi sistem gerak manusia. Bentuk soal tes berupa tes objektif tipe pilihan ganda sebanyak 18 soal (8 soal terkait keterampilan berpikir kreatif dan 10 soal terkait pemecahan masalah). Hasil perhitungan dari tes yang diujikan menunjukkan bahwa rata-rata keterampilan berpikir kreatif siswa kelas V SD Kanisius Jomegatan pada kondisi awal yaitu 58 (sedang) sedangkan pemecahan masalah 56,67 (sedang).
2. Siklus I
Peneliti melaksanakan penelitian di kelas V SD Kanisius Jomegatan pada siklus I ini dalam dua kali pertemuan, yaitu pada tanggal 19 dan 23 November 2019. Peneliti bertindak sebagai pengajar sedangkan kedua rekan peneliti bertindak sebagai observer. Pada siklus I pertemuan 1 peneliti mengajarkan tema 3 subtema 1 pembelajaran 2. Sedangkan, pada siklus I pertemuan 2 peneliti mengajarkan tema 3 subtema 1 pembelajaran 5. Alokasi waktu untuk setiap pertemuannya 235 menit.
a. Perencanaan Tindakan
Perencanaan tindakan pada penelitian ini meliputi penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), bahan ajar, media pembelajaran, lembar observasi, dan soal tes objektif tipe pilihan ganda yang diujikan pada akhir siklus I (pertemuan 2). Pengujian soal ini bertujuan untuk mengukur keterampilan berpikir kreatif dan
pemecahan masalah siswa kelas V SD Kanisius Jomegatan selama proses pembelajaran yang telah peneliti laksanakan pada siklus I.
b. Pelaksanaan Tindakan 1) Pertemuan 1
Siklus I pertemuan 1 dilaksanakan pada tanggal 19 November 2019 dengan alokasi waktu 235 menit. Pada pertemuan ini, peneliti hanya menyampaikan materi tentang organ pencernaan manusia beserta fungsinya. Selama peneliti mengajar di kelas, kedua rekan peneliti berperan sebagai observer.
a) Kegiatan Awal
Peneliti yang bertindak sebagai guru memulai kegiatan awal dengan ucapan salam yang kemudian dilanjutkan dengan meminta salah satu siswa untuk memimpin doa dan presensi. Usai presensi, peneliti menyiapkan bacaan literasi yang berkaitan dengan materi pembelajaran yang akan dibaca siswa. Selanjutnya, peneliti mengajukan beberapa pertanyaan kepada mereka terkait teks bacaan tersebut. Tak lupa, peneliti juga menyampaikan pokok materi yang akan dipelajari dan kegiatan yang akan dilakukan kepada mereka.
Peneliti mengajak siswa melakukan tepuk tunggal, ganda, dan angin supaya mereka lebih bersemangat selama pembelajaran.
b) Kegiatan Inti
Kegiatan pembelajaran dalam penelitian ini menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning dengan pendekatan saintifik. Model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) memiliki lima tahapan/langkah, antara lain: (1) mengarahkan siswa pada masalah, (2) menyiapkan siswa untuk belajar, (3) membantu penelitian mandiri dan kelompok, (4) mengembangkan dan
menyajikan artefak dan benda pajang, serta (5) menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.
Berikut tabel pelaksanaan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada siklus I pertemuan 1:
Tabel 4.1 Pelaksanaan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada Siklus I Pertemuan 1
Sintaks Kegiatan (RPPTH) Pelaksanaan 1.
Mengarah-kan siswa pada masalah
Guru bertanya kepada siswa mengenai
“Bagaimana cara kerja mulut ketika manusia menelan makanan yang memiliki beragam
Guru memotivasi siswa dalam aktivitas kedalam kelompok yang beranggotakan 6 orang. yang digunakan untuk memecahkan masalah.
Guru melakukan tanya jawab terkait aktivitas pemecahan masalah.
Sintaks Kegiatan (RPPTH) Pelaksanaan refleksi dan evaluasi terhadap proses penyelidikan terkait pemecahan masalah.
c) Kegiatan Akhir
Peneliti mengawali kegiatan akhir ini dengan meminta siswa untuk menyimpulkan apa saja yang telah dipelajari pada pembelajaran ini. Selain itu, peneliti juga memberikan mereka kesempatan untuk menanyakan hal-hal yang belum dipahami. Selanjutnya, siswa bersama peneliti melakukan refleksi atas kegiatan yang telah dilakukan dengan cara meminta siswa menyampaikan pendapat maupun perasaan mereka setelah mengikuti pembelajaran. Tak lupa, peneliti memberikan apresiasi/penguatan kepada mereka setelah melaksanakan pembelajaran dan memberikan tugas rumah kepada mereka untuk menuliskan rangkuman mengenai organ pencernaan manusia beserta fungsinya. Peneliti mengakhiri pembelajaran dengan mempersilahkan siswa beristirahat dan menutup pembelajaran dengan mengucapkan salam.
2) Pertemuan 2
Siklus I pertemuan 2 dilaksanakan pada tanggal 23 November 2019 dengan alokasi waktu 235 menit. Pada pertemuan ini, peneliti hanya menyampaikan materi tentang proses pencernaan manusia. Selama peneliti mengajar di kelas, kedua rekan peneliti berperan sebagai observer.
a) Kegiatan Awal
Peneliti yang bertindak sebagai guru memulai kegiatan awal dengan ucapan salam yang kemudian dilanjutkan dengan meminta salah satu siswa untuk memimpin doa dan presensi. Usai presensi, peneliti menyiapkan bacaan literasi yang berkaitan dengan materi pembelajaran yang akan dibaca siswa. Selanjutnya, peneliti mengajukan beberapa pertanyaan kepada mereka terkait teks bacaan tersebut. Tak lupa, peneliti juga menyampaikan pokok materi yang akan dipelajari dan kegiatan yang akan dilakukan kepada mereka.
Peneliti mengajak siswa melakukan tepuk tunggal, ganda, dan angin supaya mereka lebih bersemangat selama pembelajaran.
b) Kegiatan Inti
Kegiatan pembelajaran dalam penelitian ini menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning dengan pendekatan saintifik. Model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) memiliki lima tahapan/langkah, antara lain:
(1) mengarahkan siswa pada masalah, (2) menyiapkan siswa untuk belajar, (3) membantu penelitian mandiri dan kelompok, (4) mengembangkan dan menyajikan artefak dan benda pajang, serta (5) menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Berikut tabel pelaksanaan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada siklus I pertemuan 2:
Tabel 4.2 Pelaksanaan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada Siklus I Pertemuan 2
Sintaks Kegiatan (RPPTH) Pelaksanaan 1.
Mengarah-kan siswa didik pada masalah
Guru bertanya kepada siswa mengenai “Apakah usus buntu berperan dalam proses pencernaan manusia? Apakah proses pencernaan manusia
Sintaks Kegiatan (RPPTH) Pelaksanaan terjadi gangguan pada
usus buntu?”.
berpikir untuk menemukan jawaban dari kasus tersebut.
Guru memotivasi siswa dalam aktivitas kedalam kelompok yang beranggotakan 6 orang. yang digunakan untuk memecahkan masalah.
Guru melakukan tanya jawab terkait aktivitas pemecahan masalah. refleksi dan evaluasi terhadap proses penyelidikan terkait pemecahan masalah.
c) Kegiatan Akhir
Peneliti mengawali kegiatan akhir ini dengan meminta siswa untuk menyimpulkan apa saja yang telah dipelajari
pada pembelajaran ini. Selain itu, peneliti juga memberikan mereka kesempatan untuk menanyakan hal-hal yang belum dipahami. Selanjutnya, siswa bersama peneliti melakukan refleksi atas kegiatan yang telah dilakukan dengan cara meminta siswa menyampaikan pendapat maupun perasaan mereka setelah mengikuti pembelajaran. Tak lupa, peneliti memberikan apresiasi/penguatan kepada siswa setelah melaksanakan pembelajaran dan memberikan tugas rumah kepada mereka untuk mencari informasi mengenai makanan yang bermanfaat untuk proses pencernaan manusia dari buku maupun sumber belajar lainnya. Sebelum mengakhiri pembelajaran, peneliti mengujikan soal tes objektif tipe pilihan ganda kepada siswa guna mengetahui bagaimana keterampilan berpikir kreatif dan pemecahan masalah mereka paska pelaksanaan siklus I. Peneliti mengakhiri pembelajaran dengan mempersilahkan mereka beristirahat dan menutup pembelajaran dengan mengucapkan salam.
c. Observasi
Observer dalam penelitian ini adalah kedua rekan peneliti yaitu Benediktus Febriyanto dan Cornelia Deriyanti. Kegiatan observasi dilaksanakan selama proses pembelajaran berlangsung guna melihat keterampilan berpikir kreatif dan pemecahan masalah siswa kelas V SD Kanisius Jomegatan. Sebelum melaksanakan observasi, peneliti terlebih dahulu menyiapkan lembar observasi yang digunakan sebagai tolak ukur dalam kegiatan observasi ini.
Pada siklus I ini, peneliti mendapatkan data dari lembar observasi dan tes akhir siklus I.
d. Refleksi
Proses pembelajaran pada siklus I berjalan dengan lancar sesuai dengan rencana peneliti. Walaupun dikatakan lancar, peneliti juga mengalami kendala pada pelaksanaan siklus I sehingga memutuskan
untuk melanjutkan penelitian ke siklus II. Berikut tabel terkait kendala yang dialami peneliti pada siklus I beserta rencana perbaikan yang akan dilakukan pada siklus II.
Tabel 4.3 Kendala Siklus I dan Rencana Siklus II
Kendala Rencana Siklus II
1. Adanya siswa yang enggan satu kelompok dengan salah satu teman kelompoknya
Peneliti dalam pembentukan kelompok memperhatikan relasi yang terjalin antaranggotanya supaya kegiatan kelompok berjalan dengan lancar dan semua anggota terlibat aktif.
2. Ada beberapa siswa yang tidak memiliki kemauan untuk bertanya maupun mengemukakan pendapatnya terkait materi pembelajaran
Peneliti bertanya kepada siswa yang pasif bertanya maupun mengemukakan pendapatnya terkait materi pembelajaran supaya keterampilan berpikir kreatif dan pemecahan masalah mereka berkembang.
Berdasarkan tabel 4.3 diketahui bahwa ada dua kendala dalam pelaksanaan siklus I sehingga peneliti membuat rencana perbaikan untuk pelaksanaan siklus II guna mengatasi kendala tersebut supaya tidak terulang kembali pada siklus II.
3. Siklus II
Peneliti melaksanakan penelitian di kelas V SD Kanisius Jomegatan pada siklus II ini dalam dua kali pertemuan, yaitu pada tanggal 27 dan 30 November 2019. Peneliti bertindak sebagai pengajar sedangkan kedua rekan peneliti bertindak sebagai observer. Pada siklus II pertemuan 1 peneliti mengajarkan tema 3 subtema 2 pembelajaran 1. Sedangkan, pada siklus II pertemuan 2 peneliti mengajarkan tema 3 subtema 2 pembelajaran 5. Alokasi waktu untuk setiap pertemuannya 235 menit.
a. Perencanaan Tindakan
Perencanaan tindakan pada penelitian ini meliputi penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), bahan ajar, media pembelajaran, lembar observasi, dan soal tes objektif tipe pilihan ganda yang diujikan pada akhir siklus II (pertemuan 2). Pengujian soal ini bertujuan untuk mengukur keterampilan berpikir kreatif dan
pemecahan masalah siswa kelas V SD Kanisius Jomegatan selama proses pembelajaran yang telah peneliti laksanakan pada siklus II.
b. Pelaksanaan Tindakan 1) Pertemuan 1
Siklus II pertemuan 1 dilaksanakan pada tanggal 27 November 2019 dengan alokasi waktu 235 menit. Pada pertemuan ini, peneliti hanya menyampaikan materi tentang gangguan pada proses pencernaan manusia. Selama peneliti mengajar di kelas, kedua rekan peneliti berperan sebagai observer.
a) Kegiatan Awal
Peneliti yang bertindak sebagai guru memulai kegiatan awal dengan ucapan salam yang kemudian dilanjutkan dengan meminta salah satu siswa untuk memimpin doa dan presensi. Usai presensi, peneliti menyiapkan bacaan literasi yang berkaitan dengan materi pembelajaran yang akan dibaca siswa. Selanjutnya, peneliti mengajukan beberapa pertanyaan kepada mereka terkait teks bacaan tersebut. Tak lupa, peneliti juga menyampaikan pokok materi yang akan dipelajari dan kegiatan yang akan dilakukan kepada mereka.
Peneliti mengajak siswa melakukan tepuk tunggal, ganda, dan angin supaya mereka lebih bersemangat selama pembelajaran.
b) Kegiatan Inti
Kegiatan pembelajaran dalam penelitian ini menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning dengan pendekatan saintifik. Model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) memiliki lima tahapan/langkah, antara lain: (1) mengarahkan siswa pada masalah, (2) menyiapkan siswa untuk belajar, (3) membantu penelitian mandiri dan kelompok, (4) mengembangkan dan
menyajikan artefak dan benda pajang, serta (5) menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.
Berikut tabel pelaksanaan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada siklus II pertemuan 1:
Tabel 4.4 Pelaksanaan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada Siklus II Pertemuan 1
Sintaks Kegiatan (RPPTH) Pelaksanaan 1.
Mengarah-kan siswa pada masalah
Guru bertanya kepada siswa mengenai “Apakah penyebab terjadinya diare? Diare terjadi pada organ pencernaan apa?
Apakah penyebab terjadinya sembelit?
Sembelit terjadi pada organ pencernaan apa?”.
Guru memotivasi siswa dalam aktivitas kedalam kelompok yang beranggotakan 6 orang. yang digunakan untuk memecahkan masalah.
Guru melakukan tanya jawab terkait aktivitas pemecahan masalah. gangguan pada proses
Sintaks Kegiatan (RPPTH) Pelaksanaan refleksi dan evaluasi terhadap proses penyelidikan terkait pemecahan masalah.
c) Kegiatan Akhir
Peneliti mengawali kegiatan akhir ini dengan meminta siswa untuk menyimpulkan apa saja yang telah dipelajari pada pembelajaran ini. Selain itu, peneliti juga memberikan mereka kesempatan untuk menanyakan hal-hal yang belum dipahami. Selanjutnya, siswa bersama peneliti melakukan refleksi atas kegiatan yang telah dilakukan dengan cara meminta siswa menyampaikan pendapat maupun perasaan mereka setelah mengikuti pembelajaran. Tak lupa, peneliti memberikan apresiasi/penguatan kepada siswa setelah melaksanakan pembelajaran dan memberikan tugas rumah kepada mereka untuk menuliskan gangguan pencernaan yang pernah dialami dan bagaimana cara menghindari gangguan pencernaan tersebut. Peneliti mengakhiri pembelajaran dengan mempersilahkan siswa beristirahat dan menutup pembelajaran dengan mengucapkan salam.
2) Pertemuan 2
Siklus II pertemuan 2 dilaksanakan pada tanggal 30 November 2019 dengan alokasi waktu 235 menit. Pada pertemuan ini, peneliti hanya menyampaikan materi tentang cara merawat organ pencernaan manusia. Selama peneliti mengajar di kelas, kedua rekan peneliti berperan sebagai observer.
a) Kegiatan Awal
Peneliti yang bertindak sebagai guru memulai kegiatan awal dengan ucapan salam yang kemudian dilanjutkan dengan meminta salah satu siswa untuk memimpin doa dan presensi. Usai presensi, peneliti menyiapkan bacaan literasi yang berkaitan dengan materi pembelajaran yang akan dibaca siswa. Selanjutnya, peneliti mengajukan beberapa pertanyaan kepada mereka terkait teks bacaan tersebut. Tak lupa, peneliti juga menyampaikan pokok materi yang akan dipelajari dan kegiatan yang akan dilakukan kepada mereka.
Peneliti mengajak siswa melakukan tepuk tunggal, ganda, dan angin supaya mereka lebih bersemangat selama pembelajaran.
b) Kegiatan Inti
Kegiatan pembelajaran dalam penelitian ini menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning dengan pendekatan saintifik. Model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) memiliki lima tahapan/langkah, antara lain: (1) mengarahkan siswa pada masalah, (2) menyiapkan siswa untuk belajar, (3) membantu penelitian mandiri dan kelompok, (4) mengembangkan dan menyajikan artefak dan benda pajang, serta (5) menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.
Berikut tabel pelaksanaan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada siklus II pertemuan 2:
Tabel 4.5 Pelaksanaan Model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) pada Siklus II Pertemuan 2
Sintaks Kegiatan (RPPTH) Pelaksanaan 1.
Mengarah-kan siswa pada masalah
Guru bertanya kepada siswa mengenai
Sintaks Kegiatan (RPPTH) Pelaksanaan
tersebut. berpikir untuk
menemukan jawaban dari kasus tersebut.
Guru memotivasi siswa dalam aktivitas kedalam kelompok yang beranggotakan 6 orang. yang digunakan untuk memecahkan masalah.
Guru melakukan tanya jawab terkait aktivitas pemecahan masalah. refleksi dan evaluasi terhadap proses penyelidikan terkait pemecahan masalah.
c) Kegiatan Akhir
Peneliti mengawali kegiatan akhir ini dengan meminta siswa untuk menyimpulkan apa saja yang telah dipelajari pada pembelajaran ini. Selain itu, peneliti juga memberikan
mereka kesempatan untuk menanyakan hal-hal yang belum dipahami. Selanjutnya, siswa bersama peneliti melakukan refleksi atas kegiatan yang telah dilakukan dengan cara meminta siswa menyampaikan pendapat maupun perasaan mereka setelah mengikuti pembelajaran. Tak lupa, peneliti memberikan apresiasi/penguatan kepada mereka setelah melaksanakan pembelajaran dan memberikan tugas rumah kepada mereka untuk membuat peta pikiran yang berisi tentang cara merawat organ pencernaan manusia. Sebelum mengakhiri pembelajaran, peneliti mengujikan soal tes objektif tipe pilihan ganda kepada siswa guna mengetahui bagaimana keterampilan berpikir kreatif dan pemecahan masalah mereka paska pelaksanaan siklus II. Peneliti mengakhiri pembelajaran dengan mempersilahkan siswa beristirahat dan menutup pembelajaran dengan mengucapkan salam.
c. Observasi
Observer dalam penelitian ini adalah peneliti beserta kedua rekan peneliti yaitu Benediktus Febriyanto dan Cornelia Deriyanti.
Kegiatan observasi dilaksanakan selama proses pembelajaran berlangsung guna melihat keterampilan berpikir kreatif dan pemecahan masalah siswa kelas V SD Kanisius Jomegatan. Sebelum melaksanakan observasi, peneliti terlebih dahulu menyiapkan lembar observasi yang digunakan sebagai tolak ukur dalam kegiatan observasi ini. Pada siklus II ini, peneliti mendapatkan data dari lembar observasi dan tes akhir siklus II.
d. Refleksi
Pelaksanaan pembelajaran pada siklus II berjalan dengan lancar karena siswa kelas V SD Kanisius Jomegatan dapat terkondisikan selama proses pembelajaran sehingga suasana kelas menjadi kondusif untuk belajar. Merekapun tak lagi enggan untuk bertanya
maupun mengungkapkan pendapat terkait materi pembelajaran.
Kondisi ini mempengaruhi keterampilan berpikir kreatif dan
Kondisi ini mempengaruhi keterampilan berpikir kreatif dan