• Tidak ada hasil yang ditemukan

KETERANGAN TENTANG INDUSTRI Makroekonomi Indonesia

OEMAH HERBORIST

T.9. KETERANGAN TENTANG INDUSTRI Makroekonomi Indonesia

(Sumber : Publikasi Bank Indonesia Mei 2020 dan publikasi Badan Pusat Statistik 2020)

COVID-19 mulai menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2020. Perekonomian nasional tumbuh 2,97% (yoy) pada triwulan I 2020, melambat dibandingkan triwulan sebelumnya. Capaian pertumbuhan ekonomi tersebut disebabkan oleh menurunnya kinerja pertumbuhan ekonomi di hampir seluruh daerah, kecuali Kalimantan Selatan dan Papua. Menurunnya kinerja ekonomi di berbagai daerah terutama dipengaruhi oleh permintaan domestik, terutama konsumsi swasta dan investasi. Konsumsi swasta melambat di seluruh wilayah, terutama dipengaruhi oleh dampak pembatasan aktivitas sosial-ekonomi dalam rangka menekan penyebaran COVID-19. Demikian halnya dengan kinerja investasi bangunan yang terindikasi melemah di sebagian besar wilayah, meski di Sumatera dan Sulampua masih dapat mencatat level pertumbuhan yang cukup tinggi. Kinerja investasi nonbangunan juga terindikasi melambat di sebagian besar wilayah, meski tertahan oleh Sumatera dan Sulampua sebagaimana tercermin dari pertumbuhan impor barang modal yang masih positif. Di sisi lain, konsumsi pemerintah membaik terutama terjadi di wilayah Jawa karena didorong meningkatnya belanja bantuan sosial dan subsidi, meski rendahnya realisasi dana transfer pusat ke daerah.

Produk Domestik Bruto (PDB) triwulan I-2020 atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp 2.703,07 triliun.

PDB tersebut naik 2,97 persen dibanding PDB atas dasar harga konstan 2010 pada triwulan yang sama tahun 2019 (y-to-y), dan secara q-to-q turun 2,41 persen. Sementara itu, PDB atas dasar harga berlaku triwulan I-2020 mencapai Rp3.922,61 triliun dengan sektor Industri Pengolahan sebagai penyumbang PDB terbesar (19,98 persen), yang diikuti oleh Sektor Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor (13,20 persen) dan Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan (12,84 persen).

Dari sisi pengeluaran, PDB triwulan I-2020 tersebut utamanya masih didominasi oleh konsumsi rumah tangga dengan proporsi 58,14 persen, sedangkan untuk pembentukan modal tetap bruto dan ekspor barang dan jasa masing-masing sekitar 31,91 persen dan 17,43 persen. Bila dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun 2019 atas dasar harga konstan 2010, pengeluaran konsumsi rumah tangga naik 2,84 persen, pembentukan modal tetap bruto naik 1,70 persen dan ekspor barang dan jasa naik 0,24 persen.

Di sisi lapangan usaha (LU), kinerja LU perdagangan dan industri pengolahan di hampir semua wilayah menghadapi tekanan dari permintaan domestik yang menurun. Secara umum, kinerja LU perdagangan melambat di semua wilayah sejalan dengan perlambatan permintaan domestik dan pembatasan aktivitas masyarakat terkait COVID-19. Melemahnya permintaan domestik dan global juga mengakibatkan aktivitas industri di hampir seluruh wilayah menurun, kecuali Kalimantan. Kinerja industri Kalimantan yang tumbuh lebih baik ditopang program implementasi B30, peningkatan produksi industri karet, industri pupuk, serta perbaikan produksi kilang minyak. LU pertanian juga melambat di semua wilayah, kecuali Sumatera, karena faktor cuaca menyebabkan pergeseran masa panen tanaman pangan.

Realisasi inflasi pada akhir triwulan I 2020 di seluruh daerah masih tetap rendah dan sejalan dengan sasaran inflasi nasional 3,0%+1%. Secara nasional, inflasi IHK pada triwulan I 2020 tercatat 2,96% (yoy), masih relatif rendah meski sedikit lebih tinggi dibandingkan akhir tahun 2019 yang sebesar 2,72% (yoy). Perkembangan inflasi pada triwulan I 2020 dipengaruhi oleh peningkatan inflasi volatile food (VF) yang merata di seluruh daerah di tengah terkendalinya inflasi inti dan menurunnya inflasi administered prices (AP). Tekanan inflasi VF dipengaruhi oleh kenaikan harga berbagai komoditas hortikultura, seperti aneka bawang dan aneka cabai. Di sisi lain, terkendalinya inflasi inti dan penurunan inflasi AP dipengaruhi terjangkarnya ekspektasi inflasi, melambatnya permintaan domestik pada saat pandemi COVID-19, serta penurunan tarif angkutan udara sesuai pola siklikal di periode low season awal tahun yang disertai penurunan harga BBM nonsubsidi seiring dengan penurunan harga minyak dunia.

Pandemi COVID-19 diperkirakan menekan perekonomian global dan memengaruhi kinerja pertumbuhan ekonomi nasional pada 2020. Penurunan pertumbuhan ekonomi global mengakibatkan volume perdagangan dunia mengalami kontraksi, diikuti menurunnya harga komoditas dan harga minyak. Dengan kondisi tersebut pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 diperkirakan turun sejalan dengan dampak COVID-19. Secara

Produk Domestik Bruto (PDB) triwulan I-2020 atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp 2.703,07 triliun.

PDB tersebut naik 2,97 persen dibanding PDB atas dasar harga konstan 2010 pada triwulan yang sama tahun 2019 (y-to-y), dan secara q-to-q turun 2,41 persen. Sementara itu, PDB atas dasar harga berlaku triwulan I-2020 mencapai Rp3.922,61 triliun dengan sektor Industri Pengolahan sebagai penyumbang PDB terbesar (19,98 persen), yang diikuti oleh Sektor Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi Mobil dan Sepeda Motor (13,20 persen) dan Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan (12,84 persen).

Dari sisi pengeluaran, PDB triwulan I-2020 tersebut utamanya masih didominasi oleh konsumsi rumah tangga dengan proporsi 58,14 persen, sedangkan untuk pembentukan modal tetap bruto dan ekspor barang dan jasa masing-masing sekitar 31,91 persen dan 17,43 persen. Bila dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun 2019 atas dasar harga konstan 2010, pengeluaran konsumsi rumah tangga naik 2,84 persen, pembentukan modal tetap bruto naik 1,70 persen dan ekspor barang dan jasa naik 0,24 persen.

Di sisi lapangan usaha (LU), kinerja LU perdagangan dan industri pengolahan di hampir semua wilayah menghadapi tekanan dari permintaan domestik yang menurun. Secara umum, kinerja LU perdagangan melambat di semua wilayah sejalan dengan perlambatan permintaan domestik dan pembatasan aktivitas masyarakat terkait COVID-19. Melemahnya permintaan domestik dan global juga mengakibatkan aktivitas industri di hampir seluruh wilayah menurun, kecuali Kalimantan. Kinerja industri Kalimantan yang tumbuh lebih baik ditopang program implementasi B30, peningkatan produksi industri karet, industri pupuk, serta perbaikan produksi kilang minyak. LU pertanian juga melambat di semua wilayah, kecuali Sumatera, karena faktor cuaca menyebabkan pergeseran masa panen tanaman pangan.

Realisasi inflasi pada akhir triwulan I 2020 di seluruh daerah masih tetap rendah dan sejalan dengan sasaran inflasi nasional 3,0%+1%. Secara nasional, inflasi IHK pada triwulan I 2020 tercatat 2,96% (yoy), masih relatif rendah meski sedikit lebih tinggi dibandingkan akhir tahun 2019 yang sebesar 2,72% (yoy). Perkembangan inflasi pada triwulan I 2020 dipengaruhi oleh peningkatan inflasi volatile food (VF) yang merata di seluruh daerah di tengah terkendalinya inflasi inti dan menurunnya inflasi administered prices (AP). Tekanan inflasi VF dipengaruhi oleh kenaikan harga berbagai komoditas hortikultura, seperti aneka bawang dan aneka cabai. Di sisi lain, terkendalinya inflasi inti dan penurunan inflasi AP dipengaruhi terjangkarnya ekspektasi inflasi, melambatnya permintaan domestik pada saat pandemi COVID-19, serta penurunan tarif angkutan udara sesuai pola siklikal di periode low season awal tahun yang disertai penurunan harga BBM nonsubsidi seiring dengan penurunan harga minyak dunia.

Pandemi COVID-19 diperkirakan menekan perekonomian global dan memengaruhi kinerja pertumbuhan ekonomi nasional pada 2020. Penurunan pertumbuhan ekonomi global mengakibatkan volume perdagangan dunia mengalami kontraksi, diikuti menurunnya harga komoditas dan harga minyak. Dengan kondisi tersebut pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2020 diperkirakan turun sejalan dengan dampak COVID-19. Secara

spasial perlambatan ekonomi diperkirakan terjadi di hampir seluruh wilayah, kecuali Sulampua. Pertumbuhan ekonomi yang lebih baik yang hanya terjadi di Sulampua diperkirakan ditopang oleh produksi tembaga yang mulai pulih pasca transisi tambang, serta kinerja produksi hilirisasi nikel. Di sisi eksternal, tekanan terhadap kinerja ekspor diperkirakan masih cukup berat di seluruh wilayah, terutama di Balinusra yang sangat tergantung pada ekspor jasa dari aktivitas pariwisata. Sementara dari sisi domestik, pembatasan aktivitas masyarakat untuk mitigasi penyebaran COVID-19 diperkirakan menahan dorongan konsumsi swasta dan investasi, termasuk dengan kemungkinan penundaan beberapa event berskala besar seperti Pemilihan Kepala Daerah, dan Pekan Olah Raga Nasional XIX (PON), serta penyesuaian sejumlah rencana investasi, baik oleh Pemerintah maupun pelaku usaha. Pembatasan aktivitas masyarakat juga mengakibatkan dorongan konsumsi pada periode hari besar keagamaan nasional (HBKN), terutama di triwulan II 2020, tidak setinggi pola normalnya di seluruh wilayah. Pemulihan ekonomi di berbagai daerah diperkirakan mulai berangsur terlihat pada triwulan III 2020.

Secara keseluruhan, respons kebijakan fiskal menjadi kunci untuk menahan perlambatan lebih dalam akibat pelemahan permintaan domestik dan ekspor di seluruh wilayah pada 2020. Guna menanggulangi dampak sosial ekonomi COVID-19, Pemerintah Pusat maupun Daerah telah melakukan berbagai upaya untuk tetap menjaga daya beli serta tingkat kesejahteraan masyarakat, yang tercermin dari kenaikan alokasi anggaran APBN dan APBD untuk bantuan sosial. Peran bantuan sosial sangat penting, khususnya dalam mendorong tingkat konsumsi masyarakat yang berada di kelas bawah atau ”bottom of the pyramid". Kebijakan Pemerintah untuk mengakselerasi dan memperluas penyaluran bantuan sosial secara non tunai akan menjadikan kebijakan ini lebih efisien dan efektif. Selain itu, program ini juga berdampak besar untuk memperluas akses keuangan mengingat jumlah penerima program bansos dan subsidi sangatlah besar.

Industri Kosmetik Indonesia

(Sumber : Publikasi eibn.org, 2019)

Saat ini orang Indonesia lebih sadar akan citra dan fashion pribadi daripada sebelumnya. Dan untuk semua kategori kosmetik seperti produk perawatan rambut, perawatan kulit, makeup, wewangian dan kebersihan, 75%

wanita Indonesia lebih menyukai produk kecantikan yang dibuat dengan bahan alami. Pelanggan Indonesia pada umumnya juga lebih tertarik pada merek-merek asing dan sejenisnya dari pada lokal.

Di Indonesia, perawatan pribadi dan kosmetik dijual melalui berbagai media antara lain toko khusus, toko obat, department store, supermarket, pemasaran langsung (Multi Level Marketing/MLM), klinik perawatan kulit, dan salon kecantikan. Namun tren terkini menunjukkan bahwa produk kosmetik Indonesia yang dipasarkan melalui media sosial meraih pangsa pasar yang cukup besar. Ada juga tren oleh produsen untuk membuat produknya tampil dan terasa lebih premium bagi konsumen. Produk ini menyasar pasar masstige (“mass” dan “prestige”) yang merupakan zona pasar kosmetik terbesar di Indonesia dan diantisipasi akan tetap memiliki pertumbuhan yang kuat. Produk Masstige mengacu pada produk yang "lebih mahal daripada produk yang diproduksi secara massal, tetapi lebih terjangkau dibandingkan dengan produk prestise".

Kosmetik impor terutama menyasar penduduk kelas ekonomi menengah ke atas dan didominasi produk dari Eropa, Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Sedangkan produk dari Thailand, Korea Selatan, dan Malaysia khusus menyasar kelas menengah. Adapun produk-produk yang diproduksi di Indonesia tidak hanya untuk kebutuhan dalam negeri, tetapi juga untuk ekspor dengan tujuan antara lain negara-negara ASEAN, Afrika dan Timur Tengah. Bahkan beberapa merek pabrikan lokal kini mencoba merambah Australia dan Amerika Latin. Bisnis kosmetik di nusantara telah dinikmati oleh beberapa pemain brand nasional seperti Mustika Ratu, Wardah dan Sariayu Martha Tilaar. Selain itu, ada juga brand internasional yang menanamkan modal di pabrik lokal seperti Unilever, Mandom dan L'Oréal. Merek terkenal internasional lainnya yang masuk dan mendistribusikan produknya di Indonesia antara lain dari Eropa, Amerika, Jepang dan Korea Selatan sejalan dengan kecenderungan konsumen Indonesia yang lebih memilih merek global atau trend budaya populer.

Merek-merek lokal yang lebih kecil seperti Make Over, PAC, Polka, Rollover Reaction, BLP, Mizzu, ESQA Cosmetics dan Mineral Botanica juga menunjukkan penjualan yang menjanjikan yang berarti merek-merek Made-in-Indonesia dapat berjuang dalam persaingan yang ketat dan berhasil mendapatkan porsi pasarnya.

share terutama di sektor make-up.

Peluang besar ada di sektor kosmetik Indonesia karena pasar domestik yang besar dan terus berkembang, biaya produksi yang kompetitif dan preferensi konsumen terhadap merek internasional dan produk buatan Indonesia. Kendati demikian, tantangan di sektor ini juga masih tetap ada seperti adanya produk Illegal dan halal serta kendala teknis lainnya yang meliputi kesiapan infrastruktur untuk verifikasi, sinkronisasi dengan standar internasional dan lembaga sertifikasi serta SDM lokal.

Sebagai salah satu negara dengan ekonomi terbesar di dunia dengan Produk Domestik Bruto (PDB) lebih dari USD 1 triliun dan tingkat pertumbuhan PDB sebesar 5,17% (BPS, 2018), penduduk muda negara Indonesia dilaporkan semakin menghasilkan lebih banyak uang dari tahun ke tahun. Dari kelompok ini, perempuan secara khusus mengalami peningkatan angka pekerjaan dari 46% penduduk usia kerja menjadi 52% dalam satu dekade (ecommerceiq.asia, 2017). Terlepas dari perlambatan ekonomi yang ditandai dengan kenaikan harga produk, perempuan Indonesia terus membeli banyak produk kecantikan. Sejalan dengan tren tersebut, produk kosmetik telah menjadi kebutuhan primer kaum wanita Indonesia yang pada umumnya menjadi incaran utama industri kosmetik dunia. Namun seiring dengan perkembangan saat ini, industri kosmetik nasional juga mulai berinovasi menyasar laki-laki dan anak-anak.

Total penjualan domestik produk kecantikan dalam negeri mencapai Rp11 triliun atau USD 818 juta pada 2015 berdasarkan data Kementerian Perindustrian. Sementara itu, sebagaimana dilaporkan dalam Eurocham position paper 2018, industri kosmetik Indonesia mengalami peningkatan nilai dari sekitar Rp 15 Triliun pada tahun 2008 menjadi Rp 355,4 Triliun pada tahun 2017. Kontribusi terbesar berasal dari produk rambut (35,8%) diikuti oleh produk kulit (31,7%), riasan (10,5%), wewangian (7,2%) dan kebersihan (14,8%).

Laju perkembangan industri kosmetik di seluruh Indonesia juga menunjukkan tanda positif. Selama tahun 2016-17, industri kosmetik tumbuh 20%, 3-4 kali lebih besar dari pertumbuhan ekonomi nasional. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan permintaan pasar domestik dan ekspor (cnnindonesia.com, 2018) Nilai ekspor pada tahun itu adalah sebesar USD 517 juta merupakan peningkatan sebesar 9% dibandingkan tahun sebelumnya dengan tujuan utama negara-negara ASEAN, Afrika dan Timur Tengah. Sementara pada 2018, ekspor kosmetik dan perlengkapan mandi Indonesia mencapai 1,67 miliar USD dan diperkirakan akan meningkat menjadi 1,81 miliar USD pada 2019 (gbgindonesia.com, 2019)

Negara ini memiliki 12-15% dari seluruh populasi di kisaran pendapatan menengah ke atas. Konsumen yang sebagian besar tinggal di kota besar ini mampu membeli produk impor kelas atas. Untuk populasi kelompok tertentu ini, kualitas yang baik, citra merek, dan tren teratas/terbaru adalah beberapa parameter penting sebelum membeli produk impor kelas atas. Secara statistik, Indonesia telah menyaksikan pertumbuhan pesat pusat perbelanjaan selama 10 tahun terakhir. Di ibu kota Jakarta, lebih dari 100 pusat perbelanjaan telah terdaftar.

Lebih dari 10% di antaranya ditujukan untuk produk impor kelas atas atau mewah. Hal ini memberikan peluang besar bagi merek Eropa yang dianggap mahal tetapi hadir dengan kualitas terbaik dan status tertentu sehingga sangat diminati.

Regulasi halal khususnya telah memberikan peluang baru bagi industri kosmetik nasional. Tidak hanya memberikan merek lokal keunggulan kompetitif atas merek global di pasar domestik, namun juga memungkinkan produsen kosmetik bersertifikasi halal berbasis lokal membangun kehadiran mereka di ceruk pasar luar negeri.

Misalnya, raksasa kosmetik Prancis L'Oréal di Indonesia sudah memiliki pabrik bersertifikat halal, yang memasok pasar domestik dan kawasan Asia Tenggara. Sebagian besar produk dijual dengan merek Garnier, mulai dari pembersih wajah hingga krim pencerah kulit yang disetujui halal.

Industri kosmetik Indonesia tetap menarik bagi investor asing dan domestik. Dengan jumlah penduduk yang diperkirakan mencapai 270 juta pada tahun 2020, prospek industri kosmetik di ekonomi terbesar Asia Tenggara ini masih sangat cerah untuk tahun-tahun mendatang. Penyebabnya antara lain karena masyarakat Indonesia semakin sadar akan kesehatannya serta kosmetik semakin menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Indonesia. Kementerian Perindustrian memproyeksikan nilai industri kosmetik Indonesia dalam waktu dekat mencapai Rp 100 triliun dari angka yang tercatat pada 2017 sebesar Rp 46,4 triliun.

Peluang besar ada di sektor kosmetik Indonesia karena pasar domestik yang besar dan terus berkembang, biaya produksi yang kompetitif dan preferensi konsumen terhadap merek internasional dan produk buatan Indonesia. Kendati demikian, tantangan di sektor ini juga masih tetap ada seperti adanya produk Illegal dan halal serta kendala teknis lainnya yang meliputi kesiapan infrastruktur untuk verifikasi, sinkronisasi dengan standar internasional dan lembaga sertifikasi serta SDM lokal.

Sebagai salah satu negara dengan ekonomi terbesar di dunia dengan Produk Domestik Bruto (PDB) lebih dari USD 1 triliun dan tingkat pertumbuhan PDB sebesar 5,17% (BPS, 2018), penduduk muda negara Indonesia dilaporkan semakin menghasilkan lebih banyak uang dari tahun ke tahun. Dari kelompok ini, perempuan secara khusus mengalami peningkatan angka pekerjaan dari 46% penduduk usia kerja menjadi 52% dalam satu dekade (ecommerceiq.asia, 2017). Terlepas dari perlambatan ekonomi yang ditandai dengan kenaikan harga produk, perempuan Indonesia terus membeli banyak produk kecantikan. Sejalan dengan tren tersebut, produk kosmetik telah menjadi kebutuhan primer kaum wanita Indonesia yang pada umumnya menjadi incaran utama industri kosmetik dunia. Namun seiring dengan perkembangan saat ini, industri kosmetik nasional juga mulai berinovasi menyasar laki-laki dan anak-anak.

Total penjualan domestik produk kecantikan dalam negeri mencapai Rp11 triliun atau USD 818 juta pada 2015 berdasarkan data Kementerian Perindustrian. Sementara itu, sebagaimana dilaporkan dalam Eurocham position paper 2018, industri kosmetik Indonesia mengalami peningkatan nilai dari sekitar Rp 15 Triliun pada tahun 2008 menjadi Rp 355,4 Triliun pada tahun 2017. Kontribusi terbesar berasal dari produk rambut (35,8%) diikuti oleh produk kulit (31,7%), riasan (10,5%), wewangian (7,2%) dan kebersihan (14,8%).

Laju perkembangan industri kosmetik di seluruh Indonesia juga menunjukkan tanda positif. Selama tahun 2016-17, industri kosmetik tumbuh 20%, 3-4 kali lebih besar dari pertumbuhan ekonomi nasional. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan permintaan pasar domestik dan ekspor (cnnindonesia.com, 2018) Nilai ekspor pada tahun itu adalah sebesar USD 517 juta merupakan peningkatan sebesar 9% dibandingkan tahun sebelumnya dengan tujuan utama negara-negara ASEAN, Afrika dan Timur Tengah. Sementara pada 2018, ekspor kosmetik dan perlengkapan mandi Indonesia mencapai 1,67 miliar USD dan diperkirakan akan meningkat menjadi 1,81 miliar USD pada 2019 (gbgindonesia.com, 2019)

Negara ini memiliki 12-15% dari seluruh populasi di kisaran pendapatan menengah ke atas. Konsumen yang sebagian besar tinggal di kota besar ini mampu membeli produk impor kelas atas. Untuk populasi kelompok tertentu ini, kualitas yang baik, citra merek, dan tren teratas/terbaru adalah beberapa parameter penting sebelum membeli produk impor kelas atas. Secara statistik, Indonesia telah menyaksikan pertumbuhan pesat pusat perbelanjaan selama 10 tahun terakhir. Di ibu kota Jakarta, lebih dari 100 pusat perbelanjaan telah terdaftar.

Lebih dari 10% di antaranya ditujukan untuk produk impor kelas atas atau mewah. Hal ini memberikan peluang besar bagi merek Eropa yang dianggap mahal tetapi hadir dengan kualitas terbaik dan status tertentu sehingga sangat diminati.

Regulasi halal khususnya telah memberikan peluang baru bagi industri kosmetik nasional. Tidak hanya memberikan merek lokal keunggulan kompetitif atas merek global di pasar domestik, namun juga memungkinkan produsen kosmetik bersertifikasi halal berbasis lokal membangun kehadiran mereka di ceruk pasar luar negeri.

Misalnya, raksasa kosmetik Prancis L'Oréal di Indonesia sudah memiliki pabrik bersertifikat halal, yang memasok pasar domestik dan kawasan Asia Tenggara. Sebagian besar produk dijual dengan merek Garnier, mulai dari pembersih wajah hingga krim pencerah kulit yang disetujui halal.

Industri kosmetik Indonesia tetap menarik bagi investor asing dan domestik. Dengan jumlah penduduk yang diperkirakan mencapai 270 juta pada tahun 2020, prospek industri kosmetik di ekonomi terbesar Asia Tenggara ini masih sangat cerah untuk tahun-tahun mendatang. Penyebabnya antara lain karena masyarakat Indonesia semakin sadar akan kesehatannya serta kosmetik semakin menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Indonesia. Kementerian Perindustrian memproyeksikan nilai industri kosmetik Indonesia dalam waktu dekat mencapai Rp 100 triliun dari angka yang tercatat pada 2017 sebesar Rp 46,4 triliun.

Konsumen terbesar produk kosmetik di Indonesia adalah masyarakat yang berdomisili di kota besar, namun masyarakat pedesaan juga menunjukkan antusias yang tinggi terhadap produk kosmetik. Indonesia memiliki populasi besar yang PDB per kapita-nya meningkat, sehingga terjadi peningkatan jumlah konsumen berpenghasilan menengah dan kaya. Melihat potensi industri kosmetik dalam negeri, pemerintah Indonesia menempatkan industri ini sebagai salah satu industri prioritas dalam Rencana Pembangunan Nasional Industri hingga tahun 2019. Oleh karena itu, kosmetik telah diberi peran penting dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Hal ini melibatkan pengembangan industrialisasi substitusi impor (saat ini sebagian besar bahan baku untuk sektor kosmetik masih perlu diimpor), dengan tujuan untuk membuka banyak lapangan kerja bagi pekerja lokal. Modal asing dan domestik sangat dipergiat di sektor ini.

Dengan jumlah penduduk yang besar dengan daya beli yang relatif baik, Indonesia telah menjadi salah satu negara tujuan ekspor. Studi terbaru menunjukkan bahwa dalam dekade mendatang, Indonesia diperkirakan akan berada di peringkat 5 atau bahkan 3 pasar terbesar di kawasan Asia Pasifik. Tidak hanya pasar yang bagus untuk produk kosmetik impor, Pemerintah Indonesia ingin Indonesia menjadi tempat yang baik untuk memproduksinya. Terdapat beberapa pabrikan raksasa nasional/internasional yang ada di tanah air seperti PT L‟Oréal Indonesia, PT Mandom Indonesia Tbk, PT Paragon Technology and Innovation, PT Martina Berto Tbk, PT. Mustika Ratu Tbk dan PT. Unilever Indonesia Tbk. Beberapa tahun belakangan ini, pemerintah telah menerapkan berbagai insentif untuk meningkatkan ekspor kosmetik khususnya ke negara tetangga kawasan ASEAN, negara Timur Tengah, Afrika, Amerika Latin bahkan Australia.

Prospek positif industri kosmetik Indonesia mengakibatkan semakin banyaknya merek lokal yang masuk ke pasar, sehingga berdampak pada lanskap persaingan yang semakin ketat. Namun menarik untuk dicatat bahwa sebagian besar konsumen Indonesia suka mencoba merek baru terutama merek asing (atau setidaknya terdengar / terlihat seperti merek asing). Namun, jika mereka merasa nyaman dengan merek tertentu, kemungkinan besar ia tidak akan beralih ke merek lain. Oleh karena itu, perusahaan disarankan untuk berinovasi

Prospek positif industri kosmetik Indonesia mengakibatkan semakin banyaknya merek lokal yang masuk ke pasar, sehingga berdampak pada lanskap persaingan yang semakin ketat. Namun menarik untuk dicatat bahwa sebagian besar konsumen Indonesia suka mencoba merek baru terutama merek asing (atau setidaknya terdengar / terlihat seperti merek asing). Namun, jika mereka merasa nyaman dengan merek tertentu, kemungkinan besar ia tidak akan beralih ke merek lain. Oleh karena itu, perusahaan disarankan untuk berinovasi