• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1 Analisis Data

5.4.1 Keterbatasan Penelitian

Pengamatan terhadap efetktivitas kontrasepsi hormonal dan non hormonal dibutuhkan waktu yang lama, minimal dalam satu tahun pemakaian. Namun karena adanya keterbatasan waktu, penelitian ini hanya dilakukan dalam waktu yang kurang dari 1 tahun sehingga masih terdapat beberapa kekurangan. Selain itu, dalam pengambilan sampel dengan purposive sampling juga terdapat keterbatasan yaitu sampel tidak representatif untuk mengambil kesimpulan secara umum (generalisasi).

5.4.2 Pembahasan

Penelitian ini dilakukan untuk melihat efektivitas dari kontrasepsi hormonal suntik DMPA dan kontrasepsi non hormonal IUD di dua Puskesmas yaitu Puskesmas Kecamatan Kebayoran Baru dan Kecamatan Cilandak pada tahun 2012. Dalam penelitian ini efektivitas kontrasepsi dilihat dari hamil atau tidak hamil, efek samping, keluhan,interaksi obat, serta kepatuhan pengguna kontrasepsi. Dari data yang didapatkan melalui wawancara mendalam dan kuesioner yang disebar diketahui bahwa

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta semua responden adalah wanita usia subur. Wanita usia subur yaitu wanita yang berumur 18- 49 tahun.

Efek samping adalah hal yang tidak bisa dilepaskan dari pemakaian kontrasepsi jenis apapun. Efek samping pada penelitian ini terbagi dalam 3 kategori yaitu efek samping berat, sedang, dan ringan. Efek samping berat dari IUD yaitu berupa vagina kering, reaksi alergi, dan ekspulsi, sedangkan pada suntik DMPA berupa turunnya libido, perasaan tertekan. Efek samping sedang dari suntik DMPA yaitu berupa nervositas, jerawat, dan penambahan berat badan sedangkan efek samping sedang IUD yaitu terjadinya pendarahan. Efek samping ringan pada pengguna IUD dan suntik yaitu berupa mual, mata berkunang- kunang, sakit kepala dan lemas.

Dalam penelitian ini didapatkan bahwa mayoritas pengguna suntik DMPA mengalami efek samping sedang. Sedangkan pengguna IUD dalam penelitian ini sebagian besar tidak mengalami efek samping. Efek samping sedang yang paling banyak terjadi pada pengguna suntik DMPA adalah bertambahnya berat badan. Menurut teori yang dikemukaan oleh Hanafi, penambahan berat badan umumya antara 1kg- 5kg dalam satu tahun pertama pemakaian kontrasepsi suntik. Penyebab kenaikan berat badan tidak jelas, namun tampaknya disebabkan oleh bertambahnya lemak tubuh bukan akibat dari retensi cairan tubuh. DMPA merangsang pusat pengendali nafsu makan di hipotalamus sehingga menyebabkan akseptor makan lebih banyak dari biasanya.

Pada penelitian ini juga melihat ada tidaknya riwayat penyakit penyakit darah tinggi dan diabetes yang dialami oleh pengguna kontrasepsi hormonal suntik DMPA maupun non hormonal IUD. Dari 100 responden terdapat 6 orang yang mengalami darah tinggi, 3 orang pengguna IUD dan 3 orang pengguna suntik DMPA. Ditinjau dari waktu terjadinya penyakit darah tinggi yang dialami subyek didapatkan 3 orang mengalami darah tinggi setelah menggunakan kontrasepsi, 2 orang mengalami darah tinggi sebelum menggunakan kontrasepsi, dan 1 orang mengalami darah tinggi saat menggunakan kontrasepsi. Menurut Ali

48

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2002), kontrasepsi hormonal yang mengandung gestagen atau depo gestagen tidak meningkatkan tekanan darah. Namun kalau sudah menderita hipertensi sebelumnya, depo gestagen dapat meningkatkan tekaan darah. Berdasarkan teori ini dapat dipastikan bahwa kontrasepsi yang mengandung hormon dan yang tidak mengandung hormon tidak dapat menyebabkan naiknya tekanan darah, kecuali sudah menderita hipertensi sebelumnya. Berdasarkan hasil wawancara kepada subyek yang mengalami tekanan darah tinggi didapatkan bahwa sebelumnya subyek pernah menderita penyakit darah tinggi, jadi kontrasepsi hormonal maupun non hormonal bukanlah penyebab utama dari terjadinya tekanan darah tinggi yang diderita oleh subyek.

Kontrasepsi hormonal juga mempunyai pengaruh terhadap wanita dengan kencing manis. Kontrasepsi hormonal tidak menyebabkan kencing manis, namun kontrasepsi ini dapat menyebabkan resistensi insulin ringan sehingga memperburuk toleransi glukosa. Oleh karena itu wanita dengan kencing manis memerlukan alat kontrasepsi yang aman, terutama yang tidak mengandung hormon. Pada penelitian ini tidak ada pengguna kontrasepsi baik suntik DMPA maupun IUD yang menderita penyakit diabetes.

Dalam penelitian ini dilihat juga penggunaan obat / produk herbal lain yang dapat menurunkan efektivitas kontrasepsi hormonal. Obat- obatan tersebut adalah obat penginduksi enzim seperti barbiturat, fenitoin, dan St.John’s wort. (Handbook of Contraception, 2006). Berdasarkan hasil penelitian ini, tidak ada pengguna kontrasepsi suntik DMPA maupun IUD yang mengonsumsi obat penginduksi enzim tersebut.

Selain penggunaan obat lain, kepatuhan pengguna kontrasepsi suntik DMPA untuk datang pada jadwal suntikan selanjutnya juga diteliti. Jika telat dalam jadwal suntikan berikutnya, maka akan berakibat kegagalan dalam penggunaan kontrasepsinya atau terjadi kehamilan, karena ovulasi sudah dapat timbul kembali setelah 73 hari penyuntikan, tetapi pada umumnya 4 bulan atau lebih. (Hartanto,2004) Dalam penelitian

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini tingkat kepatuhan pengguna kontrasepsi suntik DMPA sangat tinggi. Tidak ada yang telat untuk datang pada jadwal penyuntikan selanjutnya.

Hasil penelitian yang dilakukan didapatkan bahwa kedua kontrasepsi yaitu IUD dan suntik DMPA sama- sama efektif dalam mencegah kehamilan, hal ini karena semua subyek yang menggunakan kontrasepsi IUD maupun suntik DMPA tidak ada yang mengalami kehamilan dalam satu tahun pertama penggunaan kontrasepsi tersebut. Hasil tambahan dari penelitian ini adalah kedua kontrasepsi ini dapat menjadi lebih efektif baik IUD lebih efektif daripada suntik DMPA maupun suntik DMPA lebih efektif daripada IUD karena beberapa faktor. Menurut Hartanto, 2004, DMPA memiliki efektivitas yang tinggi dalam mencegah kehamilan, yaitu 1 dari 100 orang wanita akan mengalami kehamilan pada satu tahun pertama pemakaian kontrasepsi ini. Kegagalan terjadi pada umumnya karena ketidakpatuhan untuk datang pada jadwal penyuntikan yang telah ditetapkan atau teknik penyuntikan yang salah. IUD juga memiliki efektivitas yang tinggi dalam mencegah kehamilan, sebagaimana dipaparkan oleh Everett (1998) bahwa efektivitas IUD adalah hampir 100 % efektif pada tahun pertama penggunaan.

Menurut Hanafi (2004) dalam pemilihan kontrasepsi yang efektif untuk digunakan ada beberapa hal yang dilihat, yaitu efek samping yang sedikit, keluhan sedikit, angka kegagalan rendah, dan aman digunakan. Berdasarkan hal ini dapat dinyatakan bahwa kontrasepsi non hormonal IUD lebih efektif dalam mencegah kehamilan dibandingkan kontrasepsi hormonal suntik DMPA. Hal ini dilihat dari lebih sedikitnya efek samping yang terjadi pada kontrasepsi IUD, selain itu kontrasepsi IUD merupakan kontrasepsi yang cukup aman digunakan dan dapat digunakan dalam jangka waktu yang cukup lama yaitu hingga 12 tahun ( Family Planning Global Handbook For Providers 2011).

Hasil penelitian ini juga didukung dengan penelitian yang serupa yang dilakukan oleh Trussell pada tahun 2007 yaitu angka kegagalan IUD pada 1 tahun pemakaian yaitu 0,8 per 100 orang wanita sedangkan untuk kontrasepsi suntik DMPA angka kegagalannya yaitu 3 per 100 orang

50

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta wanita. Angka kegagalan IUD lebih sedikit dibanding suntik DMPA, oleh karena itu kontrasepsi non hormonal IUD lebih efektif dibandingkan kontrasepsi hormonal suntik DMPA.

Tetapi menurut penelitian lain yang dilakukan oleh Clealand dan Ali pada tahun 2004 angka kegagalan IUD dan suntik DMPA sama yaitu 2 per 100 orang wanita pada pemakaian 1 tahun pertama.

51 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

KESIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait