BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
B. Saran
Terkait infeksi kecacingan yang banyak ditemukan pada anak sekolah dasar, pemerintah telah menerapkan program pengendalian cacingan. Program
ini membutuhkan perhatian dan kerjasama dari berbagai pihak, sehingga direkomendasikan saran berikut :
1. Bagi Petugas Pelayanan Kesehatan
a. Diperlukan upaya promotif dalam mencegah terjadinya infeksi kecacingan pada anak sekolah dasar dengan memberikan edukasi melalui program UKS dan penyuluhan bagi masyarakat melalui posyandu.
b. Diperlukan pemberian obat cacing sesuai dengan program yang dicanangkan pemerintah.
c. Diperlukan upaya dalam memotivasi masyarakat agar senantiasa berperilaku hidup bersih dan sehat.
2. Bagi Pihak Sekolah
a. Diperlukan upaya penjagaan fasilitas kebersihan (tempat cuci tangan) dan air yang memadai bagi warga sekolah.
b. Diperlukan pengawasan terhadap perilaku bermain anak, khususnya dengan media tanah.
c. Diperlukan upaya edukasi agar anak dapat senantiasa menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
3. Bagi Orangtua
a. Diperlukan upaya menjaga kebersihan lingkungan rumah.
b. Diperlukan pembatasan waktu bermain anak.
c. Diperlukan perhatian agar perilaku hidup bersih dan sehat menjadi kebiasaan anak dalam kehidupan sehari-hari, seperti segera mencuci tangan dan kaki setelah bermain.
66
1. Bohari R. Model Kebijakan Pengelolaan Wilayah Pesisir Secara Terpadu Dan Berkelanjutan Di Pantai Makassar Sulawesi Selatan [Disertasi]. Bogor:
Institut Pertanian Bogor; 2009.
2. Wijianingsih SY. Hubungan Antara Infeksi Kecacingan Dengan Anemia Dan Status Gizi Pada Siswa SDN Purwosari I.1 Kecamatan Tamban Kabupaten Barito Kuala Tahun 2010 [Skripsi sarjana]. Banjarbaru: Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Husada Borneo; 2010.
3. Ipa A, Sirajuddin. Status Gizi Anak Sekolah Keluarga Nelayan di SDN 40 Lumpangang Desa Biangkeke Kabupaten Bantaeng. Media Gizi Pangan.
2010;IX(1):58-62.
4. Riset Kesehatan Dasar. Tabel Riskesdas 2013. Jakarta: Badan Penelitian Dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI; 2013.
5. Hotez, P.J; Brindley, P.J; Bethony, J.M; King, C.H; Pearce, E.J; Jacobson, J.
Helminth infections : the great neglected tropical disease. J. Clin. Invest. 2008.
Doi: 10.1172/JCI34261.
6. Pawestri, S. Galuh. Hubungan Pengetahuan, Sikap, Dan Perilaku Dengan Kejadian Cacingan Pada Siswa SDN Karang I, Wedi, Klaten, Jawa Tengah [Skripsi sarjana]. Yogyakarta: Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Islam Indonesia; 2010.
7. Direktorat Jenderal PP dan PL. Pedoman Pengendalian Kecacingan. Jakarta:
Direktorat Jenderal PP dan PL; 2012.
8. Andaruni, Adisti dkk. Gambaran Faktor-Faktor Penyebab Infeksi Cacingan pada Anak di SDN 01 Pasirlangu Cisarua [Skripsi sarjana]. Bandung: Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Padjajaran; 2012.
9. Siregar, Charles D. Pengaruh Infeksi Cacing Usus yang Ditularkan Melalui Tanah pada Pertumbuhan Fisik Anak Usia Sekolah Dasar. Sari Pediatri.
September 2006;8(2):112-117, hal 1 dan 3.
10. Krianto, Tri. Perilaku Hidup Bersih Sehat dengan Pendekatan Partisipatif.
Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional. 2009;3(6):254-258.
11. Johari. Pengembangan dan Aplikasi Sistem Informasi Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) di Kabupaten Purwakarta. Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional. 2008;2(5):226-233.
12. Siswoyo, Dwi dkk. Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: TIM Dosen PPB FIP UNY Press; 2007.
13. Ahmadi, Abu & Munawar Sholeh. Psikologi Perkembangan. Edisi Kedua.
Jakarta: PT Rineka Cipta; 2005.
14. Shulman, Stanford T, M.D., dkk. Diterjemahkan Dari Dasar Biologis Dan Klinis Penyakit Infeksi. Edisi Keempat. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press; 1994.
15. Supariasa, I Dewa Nyoman dkk. Penilaian Status Gizi. Jakarta: Buku Kedokteran EGC; 2002.
16. Abas Basuni, Jahari. Pemantauan Pertumbuhan Balita, Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi dan Makanan. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesehatan; 2003.
17. Almatsier, Sunita dkk. Gizi Seimbang Dalam Daur Kehidupan. Jakarta: PT Gramedia; 2011.
18. Dinsdale H, Ridler C, Ells LJ. A simple guide to classifying body mass index in children. Oxford: National Obesity Observatory; 2011.
19. Khumaidi dkk. Gizi Masyarakat. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia; 1996.
20. Soekirman. Ilmu Gizi dan Aplikasinya, Untuk Keluarga dan Masyarakat.
Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional; 2000.
21. Rohmat, Dede. Pedoman Lingkungan Hidup Kelas XI Semester I. Jawa Barat:
Pemerintah Jawa Barat; 2008.
22. Wahyudin, Y. Sistem Sosial Ekonomi dan Budaya Masyarakat Pesisir. Bogor:
PKSPL-IPB; 2011.
23. Mahmud, Amir. Model Komunikasi Pembangunan Dalam Penyediaan Prasarana Perdesaan Di Kawasan Pesisir Utara Jawa Tengah [Tesis].
Semarang: Program Magister Pada Program Studi Teknik Pembangunan Wilayah Dan Kota, Universitas Diponegoro; 2007.
24. Badan Pusat Statistik Kota Makassar. Makassar Dalam Angka 2010.
Makassar: Badan Pusat Statistik Kota Makassar; 2010.
25. Depkes. Gizi Dalam Angka. Jakarta: Departemen Kesehatan RI; 2005.
26. Keputusan Menteri Kesehatan No. 424/MENKES/SK/VI/2006. Pedoman Pengendalian Cacingan. Jakarta: Kementerian Kesehatan; 2006.
27. Rianto, Agus. Aplikasi Metodologi Penelitian Kesehatan. Yogyakarta: Nuha Medika; 2011.
28. Universitas Indonesia, FK, Bag. Parasitologi. Parasitologi Kedokteran, Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2004.
29. Suriptiastuti. Infeksi soil-transmitted helminth : ascariasis, trichuriasis dan cacing tambang. Bagian Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti. 2006;(25)2.
30. Pullan et al: Global Numbers of infection and disease burden of soil transmitted helminth infections in 2010. Parasites & Vectors. 2014; 7:37. Doi:
10.1186/1756-3305-7-37.
31. Sharon Angreany. Prevalensi Infeksi Cacing Yang Ditularkan Melalui Tanah Pada Murid SD Maradekaya I Kota Makassar Pada Bulan Oktober 2012.
Makassar: Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin; 2013.
Ahmed, Abulhamid., et al. 2012. The Nutritional Impact of Soil-Transmitted-Helminths Infections Among Orang Asli Schoolchildren in Rural Malaysia.
Hal 1.
Bohari, Ridwan. 2012. Strategi Kebijakan Pengelolaan Wilayah Pesisir Secara Berkelanjutan Di Perairan Pantai Makassar, [online].
[diakses tanggal 10 Februari 2013]
Brooker S., et al, 2000. Epidemology Single and Multiple Species of Helminth Infection Among School Children In Busia District, Kenya. East African Medical Journal, 77 (3), p. 1-9.
Drake, L.J, D.A.P Bundy. 2001. Multiple Helminth Infection in Children: Impact and Control. Parasitology, 122 (S73-S81), p. 4-11.
Elmi, dkk. 2004. Status Gizi dan Infestasi Cacing Usus pada Anak Sekolah Dasar.
e-USU Repository © 2004 Universitas Sumatera Utara. Fakultas Kedokteran Bagian Ilmu Kesehatan Anak. Universitas Sumatera Utara, Medan.
Festi, Pipit. 2009. Hubungan Antara Penyakit Cacingan Dengan Status Gizi Pada Anak Sekolah Dasar (SD) Di Sekolah Dasar Al Mustofa Surabaya. Skripsi sarjana. Fakultas Kedokteran. Universitas Muhammadiyah Surabaya.
Francis, L., Kirunda, B.E, & Orach, C.G. 2012. Intestinal Helminth Infections and Nutritional Status of Children Attending Primary Schools in Wakiso District, Central Uganda. International Journal of Environmental Research and Public Health, ISSN 1660-4601, p. 2910-2921.
Garba, C.M.G., & Mbofung, C.M.F. 2010. Relationship Between Malnutrition and Parasitic Infection among School Children in the Adamawa Region of Cameroon. Pakistan Journal of Nutrition, 9 (11), p. 1094-1099.
Gibney, dkk. 2009. Gizi Kesehatan Masyarakat. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Junqueira, Maria Imaculada Muniz dan Eduardo Flavio Oliviera Queiroz. 2002.
Relationship Between Protein-Energy Malnutrition, Vitamin A, and Parasitoses in Children Living in Brasilia, hal. 4.
Oppara, Kenneth N. et al. 2012. The Impact of Intestinal Parasitic Infections on the Nutritional Status of Rural and Urban School-Aged Children in Nigeria.
International Journal of MCH and AIDS, 1 (1), p. 73-82.
Quihui-Cota, L. et al. 2004. Prevalence and Intensity of Intestinal Parasitic Infections in Relation to Nutritional Status in Mexican Schoolchildren.
Transactions of The Royal Society of Tropical Medicine and Hygiene, 98, p.
653-659.
Ramli., et al. 2009. Prevalence and Risk Factors for Stunting and Severe Stunting Among Under-Fives in North Maluku Province of Indonesia. BMC Pediatrics, 9 (64), p. 1.
Salbiah. 2008. Hubungan Karakteristik Siswa Dan Sanitasi Lingkungan Dengan Infeksi Cacingan Siswa Sekolah Dasar Di Kecamatan Medan Belawan.
Tesis. Program Magister Pada Program Studi Administrasi Dan Kebijakan Kesehatan. Universitas Sumatera Utara, Medan.
Shang, Yu., et al. 2010. Stunting and Soil-Transmitted-Helminth Infection Among School-Age Pupils in Rural Areas of Southern China. Parasites and Vectors, 3 (97), p. 1-6.
Sumanto, Didik. 2010. Faktor Resiko Infeksi Cacing Tambang pada Anak Sekolah (Studi kasus kontrol di Desa Rejosari, Karangawen, Demak). Program Magister Pada Program Studi Epidemologi. Universitas Diponegoro, Semarang.
Tanner S., et al. 2009. Influence of Helminth Infection on Childhood Nutritional Status in Lowland Bolivia. American Jounal of Human Biology, 21, p. 651-656.
Ulukanligil, M, & A Seyrek. 2004. Antropometric Status, Anaemia and Intenstinal Heliminthic Infection in Shantytwon and Apartement Schoolchildren in the Sanliurfa Province of Turkey. Europan Jounal of Clinical Nutrition, 58, p. 1056-1061.
World Health Organization. 2000. Strengthening Interventions To Reduce Helminth Infections Through Schools. WHO Information Series On School Health, p. 1-27.
71
SEKOLAH DASAR DI WILAYAH PESISIR KOTA MAKASSAR TAHUN 2013
KUESIONER PENELITIAN IDENTITAS RESPONDEN 1. Nama Responden
2. Jenis Kelamin 1. Laki-laki
2. Perempuan 3. Stambuk
4. Kelas / Sekolah /
5. Alamat rumah 1. Jalan
2. Rumah di dekat 3. Desa/kelurahan 4. RW/RT
5. Kecamatan 6. Tempat lahir
7. Tangal lahir (tanggal/bulan/tahun) / /
8. Berat Badan/Tinggi Badan /
IDENTITAS ORANG TUA 9. Nama Orang tua
1. Bapak
2. Ibu 1.
2.
10. Suku
1. Bapak 2. Ibu
1 = Makassar 5 = jawa 2 = bugis 6 = madura 3 = mandar 7 = lainnya 4 = toraja
1. Bapak 2. Ibu PEMERIKSAAN LABORATORIUM
11. Jumlah telur/larva cacing 12. Jenis telur/larva cacing
Dengan Status Gizi Pada Anak Sekolah Dasar (SD) Di Sekolah Dasar Al Mustofa Surabaya
Surabaya, 30 sampel
disekolah dasar Al Mustofa Surabaya, sebagian besar bergizi baik.
2. Siswa yang berada disekolah dasar Al Mustofa Surabaya, sebagian besar dengan hasil negatif cacingan.
3. Menganalisis hubungan antara status gizi dengan penyakit cacingan didapatkan nilai pengujian p = 0,310 jika p > (0,05), maka H0diterima sehingga tidak ada hubungan antara status gizi dengan peyakit cacingan.
Sri Yani Wijianingsih/
2011
Hubungan Antara Infeksi
Kecacingan Dengan Anemia Dan Status Gizi Pada Siswa SDN Purwosari I.1 Kecamatan Tamban
Kabupaten Barito Kuala Tahun 2010
Cross
Sectional 100 siswa kelas I – IV SDNPurwosari I.1
1. Jumlah yang terinfeksi cacing adalah sebanyak 8 siswa dengan jenis cacing yang
ditemukan dari hasil penelitian adalah cacing kremi (Enterobius Vermicularis).
2. Jumlah yang positif anemia adalah sebanyak 16 siswa (16%) sedangkan yang tidak anemia sebanyak 84 siswa (84%).
3. Jumlah siswa dengan status gizi kurus sebanyak 16 orang (16%) sedangkan siswa
4. Jumlah siswa yang positif terinfeksi kecacingan dengan anemia adalah 5 orang (5%), negatif terinfeksi cacingan dengan anemia 8 orang (8%), positif terinfeksi cacingan dan tidak anemia sebanyak 3 orang (3%) sedangkan yang tidak terinfeksi cacingan dan tidak anemia sebanyak 84 orang atau 84% dari 91 total sampel yang diteliti dengan hasil uji statistik terdapat hubungan yang bermakna antara kejadian infeksi kecacingan dengan anemia.
5. Jumlah siswa yang anemia dengan status gizi kurus sebanyak 6 orang (6%), tidak anemia dengan status gizi kurus sebanyak 35 orang (35%), siswa yang anemia dengan status gizi normal sebanyak 12 orang sedangkan yang tidak anemia dan status gizinya normal sebanyak 47 orang atau 47% dari total sampel yang diteliti. dengan hasil uji statistik tidak terdapat hubungan yang bermakna
kurus sebanyak 1 orang (1%), positif terinfeksi cacingan dengan status gizi normal sebanyak 3 orang (3%), tidak terinfeksi cacingan dengan status gizi kurus sebanyak 39 orang (39%)
sedangan yang tidak terinfeksi cacingan dan status gizinya normal sebanyak 57 orang atau 57 % dari total sampel yang diteliti.
Dengan hasil uji statistik tidak terdapat hubungan yang bermakna antara status gizi dengan infeksi kecacingan.
Opara K.N., Udoidung N.I., Opara D.C., Okon O.E., Edosomwan E.U., Udoh A.J./2009
The Impact of Intestinal Parasitic Infections on the Nutritional Status of Rural and Urban School-Aged Children in Nigeria
Cross
Sectional 418 anak sekolah dasar dari wilayah pedesaan dan perkotaan, 405 sampel (220 sampel dari anak sekolah dasar di wilayah pedesaan dan 185 sampel dari anak sekolah dasar di perkotaan)
1. Prevalensi infeksi kecacingan secara signifikan lebih tinggi pada anak sekolah dasar di pedesaan (80,9%) dibanding perkotaan (51,4%).
2. Jenis cacing dengan prevalensi paling tinggi pada anak sekolah dasar di pedesaan maupun perkotaan adalah cacing tambang (55,9% vs 24,9%), kemudian
A.lumbricoides (30,5% vs 16,8%), T.trichuria (4,1% vs 5,4%), G.lamblia
sampel dengan hanya satu jenis cacing (49, 1% vs 32,4%), sampel dengan dua jenis cacing (23,6% vs 14,6%), sampel dengan tiga atau lebih jenis cacing (8,2% vs 4,3%) pada anak sekolahd asar di pedesaan maupun perkotaan.
4. Prevalensi status gizi pada anak sekolah dasar di pedesaan maupun perkotaan; stunting (TB/U) 42,3% vs 29,7%, underweight (BB/U) 43,2% vs 29,6%, wasting (BB/TB)10,9% vs 6,4%.
5. Anak sekolah dasar di pedesaan (p<0.001) secara signifikan lebih banyak mengalami malnutrisi dibanding anak sekolah dasar di perkotaan.
6. Hanya cacing tambang dan A.lumbricoides (p<0.001) yang berhubungan dengan rendahnya status gizi menurut TB/U, BB/U, dan BB/TB.
7. Anak sekolah dasar yang terinfeksi cacing memiliki Z-score lebih tinggi dibanding anak sekolah dasar yang tidak terinfeksi.
children in sanliurfa province of Turkey
2. Anak perempuan di sekolah mewah memiliki tingkat kurus lebih tinggi daripada anak perempuan di sekolah kumuh (P:0,02)
3. Tingkat anemia lebih tinggi pada anak di sekolah kumuh (45%) dibandingkan anak di sekolah mewah (15%) (P:0.01)
4. Prevalensi infeksi cacing usus lebih tinggi pada anak di sekolah kumuh (63%) dibandingkan sekolah mewah (37%)
(P<0.0001)
5. Infeksi cacing Ascaris Lumbricoides lebih tinggi diiukuti Trichuris trichuria, Hymenolepis nana dan Taeni dikedua tempat penilitian.
6. Infeksi pada anak terkait kependekan di sekolah kumuh (multiple
R=0.147;P:0.005) dan di sekolah mewah (multiple R=0.171;
P:0.02) Francis, L.,
Kirunda, B.E,
& Orach, C.G./
2012
Intestinal Helminth Infections and Nutritional Status of Children Attending Primary Schools in Wakiso District, Central Uganda
Cross
Sectional 432 anak sekolah usia 6-14 tahun yang telah dipilih secara acak dari 23 sekolah
1. Tingginya malnutrisi akut moderat dan kekerdilan pada anak sekolah dasar.
Tinggal di daerah kumuh perkotaan merupakan faktor risiko untuk pengerdilan saat remaja awal dan anak laki-laki berisiko terkena malnutrisi akut moderat.
kampanye dwi-tahunan terhadap penganggulangan cacingan yang telah berlangsung selama lebih dari 7 tahun.
3. Tidak adanya infeksi cacing pada anak sekolah merupakan peran utama dalam perbaikan status gizi anak-anak.
a. Sebelum pot tinja dibagi dilakukan wawancara tentang pengetahuan cacingan, kebiasaan hidup sehat dengan menggunakan kuesioner pengetahuan murid sekolah dasar atau responden.
b. Setelah wawancara, responden dibagikan pot tinja yang telah diberi kode sesuai dengan kode yang tertulis pada kuesioner. Pot tersebut diisi dengan tinjanya sendiri dan dikumpulkan pada keesokan harinya.
c. Jumlah tinja yang dimasukkan ke dalam pot / kantong plastik sekitar 100 mg (sebesar kelereng atau ibu jari tangan).
d. Spesimen harus segera diperiksa pada hari yang sama, sebab jika tidak telur cacing tambang akan rusak atau menetas menjadi larva. Jika tidak memungkinkan tinja harus diberi formalin 5-10% sampai terendam.
Pemeriksaan Kualitatif
Hasil pemeriksaan tinja kualitatif berupa positif atau negatif cacingan. Prevalensi cacingan
dapat berupa prevalensi seluruh jenis cacing atau per jenis cacing.
Cara Membuat Preparat
1. Pakailah sarung tangan untuk mengurangi kemungkinan infeksi berbagai penyakit.
2. Tulislah Nomor Kode pada gelas objek dengan spidol sesuai dengan yang tertulis di pot tinja.
3. Ambillah tinja dengan lidi sebesar kacang hijau, dan letakkan di atas gelas obyek.
4. Tutup dengan selofan yang sudah direndam dalam larutan Kato, dan ratakan tinja di bawah selofan dengan tutup botol karet atau gelas obyek.
5. Biarkan sediaan selama 20-30 menit.
6. Periksa dengan pembesaran lemah 100 x (obyektif 10 x dan okuler 10 x), bila diperlukan dapat dibesarkan 400 x (obyektif 40 x dan okuler 10 x).
7. Hasil pemeriksaan tinja berupa positif atau negatif tiap jenis telur cacing.
ringannya
penyakit dengan mengetahui jumlah telur per gram tinja (EPG) pada setiap jenis cacing.
Cara Membuat Preparat
a. Saringlah tinja menggunakan kawat saring.
b. Letakkan karton yang berlubang di atas slide kemudian masukkan tinja yang sudah disaring pada lubang tersebut.
c. Ambillah karton berlubang tersebut dan tutuplah tinja dengan selofan yang sudah direndam dalam larutan Kato.
d. Ratakan dengan tutup botol karet hingga merata. Diamkan kurang lebih sediaan selama 20 – 30 menit.
e. Periksa di bawah mikroskop dan hitung jumlah telur yang ada pada sediaan tersebut.
Cara Menghitung Telur
Hasil pemeriksaan tinja secara kuantitatif merupakan intensitas infeksi, yaitu jumlah telur
per gram tinja (Egg Per Gram/EPG) tiap jenis cacing.
(a) Intensitas Cacing Gelang = x 1000/R
(a) Intensitas Cacing Cambuk = x 1000/R
(a) Intensitas Cacing Tambang = x 1000/R
Keterangan :
R = berat tinja sesuai ukuran lubang karton (mg) Untuk program cacingan adalah 40 mg
cacing.
Klasifikasi tersebut digolongkan menjadi tiga, yaitu ringan, sedang dan berat. Intensitas infeksi menurut jenis cacing dapat dilihat pada tabel berikut.
lainnya yang berada di kepala.
2. Anak menghadap ke depan, membelakangi permukaan alat ukur, dengan kaki rapat menyentuh datar lantai, lengan di samping, lutut dan punggung lurus.
Bila memungkinkan, tumit, pantat, kepala, dan bahu menyentuh papan ukur (beberapa orang tidak mampu membuat keempat poin tersebut bersentuhan dengan papan ukur).
3. Saat anak menatap ke depan, turunkan papan kepala ke kepalanya dengan menekan rambutnya secara baik. Pastikan papan kepala berada pada levelnya dan pada posisi yang tepat untuk ditandai dan pastikan tumit masih menyentuh lantai.
4. Posisikan mata pada indikator, baca tingginya pada angka yang paling mendekati milimeter, dan catat.
5. Ulang kembali prosedur untuk mendapatkan hasil yang paling mendekati dengan tinggi anak.
Cara Pengukuran Berat Badan
1. Pastikan timbangan digital pada angka 0 sebelum tiap penggunaan.
2. Anak atau responden terlebih dahulu melepaskan jam tangan, jaket, topi, ornamen rambut/kepala, sepatu, dan benda lainnya yang dapat memberikan pengaruh signifikan pada berat anak. Hanya pakaian bersifat ringan yang dikenakannya.
3. Tempatkan anak pada tengah timbangan. Baca hasil pengukuran dan catat.
Cara Penggunaan Kalkulator Antropometri
1. Klik ikon WHO antroplus pada desktop komputer, klik anthropometric calculator.
2. Untuk memasukkan data dan berpindah dari satu bagian kolom ke lainnya bisa dengan menggunakan keyboard atau tekan <Tab> (<Shift + Tab> untuk kembali) atau <Enter>, atau gunakan mouse untuk menunjukkan kursor pada bagian yang kosong dan klik untuk mengaktifkannya. Masukkan data di tiap bagian.
3. Setelah data masuk, akan terlihat pada layar bagian results berupa persentil dan Z-score dari indeks antropometri (TB/U, BB/U, IMT/U) yang menunjukkan status gizi responden.
Statistics jenis kelamin
responden
umur responden
infeksi kecacingan
jenis cacing
status gizi (TB/U)
status gizi (IMT/U)
N Valid 113 113 113 113 113 113
Missing 0 0 0 0 0 0
Frequency Table
jenis kelamin responden
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid laki-laki 52 46.0 46.0 46.0
perempuan 61 54.0 54.0 100.0
Total 113 100.0 100.0
umur responden
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid 10 38 33.6 33.6 33.6
11 31 27.4 27.4 61.1
12 44 38.9 38.9 100.0
Total 113 100.0 100.0
infeksi kecacingan
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid positif 67 59.3 59.3 59.3
negatif 46 40.7 40.7 100.0
Total 113 100.0 100.0
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid negatif 46 40.7 40.7 40.7
ascaris 39 34.5 34.5 75.2
trichuris trichuria 8 7.1 7.1 82.3
tambang 2 1.8 1.8 84.1
ascaris trichuris 17 15.0 15.0 99.1
ascaris tambang 1 .9 .9 100.0
Total 113 100.0 100.0
status gizi (IMT/U)
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid sangat kurus 4 3.5 3.5 3.5
kurus 20 17.7 17.7 21.2
normal 85 75.2 75.2 96.5
gemuk 2 1.8 1.8 98.2
sangat gemuk 2 1.8 1.8 100.0
Total 113 100.0 100.0
Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Dan Umur
Case Processing Summary Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
jenis kelamin responden *
Sekolah 113 100.0% 0 .0% 113 100.0%
Total SD. Inp.
Mariso II
SDN Barombong
SDN Ujung Tanah I
SD Tallo Tua 69
SD. Inp.
Lae-Lae II jenis
kelamin responden
laki-laki Count 9 11 9 15 8 52
% within Sekolah 47.4% 47.8% 40.9% 60.0% 33.3% 46.0%
perempuan Count 10 12 13 10 16 61
% within Sekolah 52.6% 52.2% 59.1% 40.0% 66.7% 54.0%
Total Count 19 23 22 25 24 113
% within Sekolah 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0%
Case Processing Summary Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
umur responden * Sekolah 113 100.0% 0 .0% 113 100.0%
umur responden * Sekolah Crosstabulation Sekolah
Total SD. Inp.
Mariso II
SDN Barombong
SDN Ujung Tanah I
SD Tallo Tua 69
SD. Inp.
Lae-Lae II umur
responden
10 Count 8 8 11 0 11 38
% within Sekolah 42.1% 34.8% 50.0% .0% 45.8% 33.6%
11 Count 7 7 4 8 5 31
% within Sekolah 36.8% 30.4% 18.2% 32.0% 20.8% 27.4%
12 Count 4 8 7 17 8 44
% within Sekolah 21.1% 34.8% 31.8% 68.0% 33.3% 38.9%
Total Count 19 23 22 25 24 113
% within Sekolah 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0%
Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
infeksi kecacingan * Sekolah 113 100.0% 0 .0% 113 100.0%
infeksi kecacingan * Sekolah Crosstabulation Sekolah
Total SD. Inp.
Mariso II
SDN Barombong
SDN Ujung Tanah I
SD Tallo Tua 69
SD. Inp.
Lae-Lae II infeksi
kecacingan
positif Count 13 20 13 12 9 67
% within Sekolah 68.4% 87.0% 59.1% 48.0% 37.5% 59.3%
negatif Count 6 3 9 13 15 46
% within Sekolah 31.6% 13.0% 40.9% 52.0% 62.5% 40.7%
Total Count 19 23 22 25 24 113
% within Sekolah 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0%
Prevalensi Jenis Cacing
Case Processing Summary Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
jenis cacing * Sekolah 113 100.0% 0 .0% 113 100.0%
Total SD. Inp.
Mariso II
SDN Barombong
SDN Ujung Tanah I
SD Tallo Tua 69
SD. Inp.
Lae-Lae II jenis
cacing
negatif Count 6 3 9 13 15 46
% within Sekolah 31.6% 13.0% 40.9% 52.0% 62.5% 40.7%
ascaris Count 10 10 5 8 6 39
% within Sekolah 52.6% 43.5% 22.7% 32.0% 25.0% 34.5%
trichuris trichuria
Count 0 2 2 3 1 8
% within Sekolah .0% 8.7% 9.1% 12.0% 4.2% 7.1%
tambang Count 0 1 1 0 0 2
% within Sekolah .0% 4.3% 4.5% .0% .0% 1.8%
ascaris trichuris
Count 3 6 5 1 2 17
% within Sekolah 15.8% 26.1% 22.7% 4.0% 8.3% 15.0%
ascaris tambang
Count 0 1 0 0 0 1
% within Sekolah .0% 4.3% .0% .0% .0% .9%
Total Count 19 23 22 25 24 113
% within Sekolah 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0%
Distribusi Infeksi Kecacingan Dan Jenis Cacing Berdasarkan Jenis Kelamin Dan Umur
Case Processing Summary Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
jenis kelamin responden *
infeksi kecacingan 113 100.0% 0 .0% 113 100.0%
jenis kelamin responden * jenis
cacing 113 100.0% 0 .0% 113 100.0%
umur responden * infeksi
kecacingan 113 100.0% 0 .0% 113 100.0%
umur responden * jenis cacing 113 100.0% 0 .0% 113 100.0%
Total positif negatif
jenis kelamin responden laki-laki Count 29 23 52
% within infeksi kecacingan 43.3% 50.0% 46.0%
perempuan Count 38 23 61
% within infeksi kecacingan 56.7% 50.0% 54.0%
Total Count 67 46 113
% within infeksi kecacingan 100.0% 100.0% 100.0%
jenis kelamin responden * jenis cacing Crosstabulation jenis cacing
Total negatif ascaris
trichuris
trichuria tambang
ascaris trichuris
ascaris tambang jenis
kelamin responden
laki-laki Count 23 19 1 1 7 1 52
% within jenis cacing 50.0% 48.7% 12.5% 50.0% 41.2% 100.0% 46.0%
perempuan Count 23 20 7 1 10 0 61
% within jenis cacing 50.0% 51.3% 87.5% 50.0% 58.8% .0% 54.0%
Total Count 46 39 8 2 17 1 113
% within jenis cacing 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0%
umur responden * infeksi kecacingan Crosstabulation infeksi kecacingan
Total positif negatif
umur responden 10 Count 19 19 38
% within infeksi kecacingan 28.4% 41.3% 33.6%
11 Count 23 8 31
% within infeksi kecacingan 34.3% 17.4% 27.4%
12 Count 25 19 44
% within infeksi kecacingan 37.3% 41.3% 38.9%
Total Count 67 46 113
% within infeksi kecacingan 100.0% 100.0% 100.0%
Total negatif ascaris
trichuris
trichuria tambang
ascaris trichuris
ascaris tambang umur
responden
10 Count 19 10 4 0 5 0 38
% within jenis cacing 41.3% 25.6% 50.0% .0% 29.4% .0% 33.6%
11 Count 8 13 1 1 7 1 31
% within jenis cacing 17.4% 33.3% 12.5% 50.0% 41.2% 100.0% 27.4%
12 Count 19 16 3 1 5 0 44
% within jenis cacing 41.3% 41.0% 37.5% 50.0% 29.4% .0% 38.9%
Total Count 46 39 8 2 17 1 113
% within jenis cacing 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0%
Distribusi Intensitas Cacing A.lumbricoides Berdasarkan Jenis Kelamin Dan Umur
Case Processing Summary Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent
jenis kelamin responden *
intensitas Ascarislumbricoides 57 100.0% 0 .0% 57 100.0%
umur responden * intensitas
Ascarislumbricoides 57 100.0% 0 .0% 57 100.0%
jenis kelamin responden * intensitas Ascarislumbricoides Crosstabulation intensitas Ascarislumbricoides
Total ringan sedang
jenis kelamin responden
laki-laki Count 17 10 27
% within intensitas Ascarislumbricoides 51.5% 41.7% 47.4%
perempuan Count 16 14 30
% within intensitas Ascarislumbricoides 48.5% 58.3% 52.6%
Total Count 33 24 57
% within intensitas Ascarislumbricoides 100.0% 100.0% 100.0%
Total
ringan sedang
umur responden 10 Count 7 8 15
% within intensitas
Ascarislumbricoides 21.2% 33.3% 26.3%
11 Count 12 9 21
% within intensitas
Ascarislumbricoides 36.4% 37.5% 36.8%
12 Count 14 7 21
% within intensitas
Ascarislumbricoides 42.4% 29.2% 36.8%
Total Count 33 24 57
% within intensitas
Ascarislumbricoides 100.0% 100.0% 100.0%
Status Gizi (IMT/U)
status gizi (IMT/U) * Sekolah Crosstabulation Sekolah
Total SD. Inp.
Mariso II
SDN Barombong
SDN Ujung Tanah I
SD Tallo Tua 69
SD. Inp.
Lae-Lae II status gizi
(IMT/U)
sangat kurus Count 1 0 0 1 2 4
% within Sekolah 5.3% .0% .0% 4.0% 8.3% 3.5%
kurus Count 8 3 3 2 4 20
% within Sekolah 42.1% 13.0% 13.6% 8.0% 16.7% 17.7%
normal Count 10 18 18 21 18 85
% within Sekolah 52.6% 78.3% 81.8% 84.0% 75.0% 75.2%
gemuk Count 0 1 0 1 0 2
% within Sekolah .0% 4.3% .0% 4.0% .0% 1.8%
sangat gemuk Count 0 1 1 0 0 2
% within Sekolah .0% 4.3% 4.5% .0% .0% 1.8%
Total Count 19 23 22 25 24 113
% within Sekolah 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0%
Total sangat
kurus kurus normal gemuk
sangat gemuk jenis kelamin
responden
laki-laki Count 4 8 37 1 2 52
% within status gizi
(IMT/U) 100.0% 40.0% 43.5% 50.0% 100.0% 46.0%
perempuan Count 0 12 48 1 0 61
% within status gizi
(IMT/U) .0% 60.0% 56.5% 50.0% .0% 54.0%
Total Count 4 20 85 2 2 113
% within status gizi
(IMT/U) 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0%
umur responden * status gizi (IMT/U) Crosstabulation status gizi (IMT/U)
Total sangat
kurus kurus normal gemuk
sangat gemuk umur
responden
10 Count 0 6 31 0 1 38
% within status gizi
(IMT/U) .0% 30.0% 36.5% .0% 50.0% 33.6%
11 Count 2 8 19 1 1 31
% within status gizi
(IMT/U) 50.0% 40.0% 22.4% 50.0% 50.0% 27.4%
12 Count 2 6 35 1 0 44
% within status gizi
(IMT/U) 50.0% 30.0% 41.2% 50.0% .0% 38.9%
Total Count 4 20 85 2 2 113
% within status gizi
(IMT/U) 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0%
EPG Ascaris
N Valid 57
Missing 0
Mean 5595.18
Median 4075.00
Std. Deviation 6.442E3
Minimum 125
Maximum 32875
Statistics EPG c.cambuk
N Valid 25
Missing 0
Mean 213.00
Median 150.00
Std. Deviation 202.860
Minimum 50
Maximum 900
Statistics EPG c.tambang
N Valid 3
Missing 0
Mean 58.33
Median 50.00
Std. Deviation 38.188
Minimum 25
Maximum 100