Pada penelitian ini tentunya peneliti menginginkan da mengupayakan semaksimal mungkin sesuai dengan maksud dan tujuan penelitian. Namun pada pelaksanaannya dirasa masih ada keterbatasan yang dialami yaitu perhitungan daya pembeda soal tes uji coba nomor 3 memperoleh hasil yang jelek dan peneliti tidak melakukan revisi soal, sehingga soal uji coba kurang bisa membedakan siswa yang kurang menguasai kompetensi dengan siswa yang sudah menguasai kompetensi.
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan penyajian data, temuan penelitian, dan pembahasan penelitian yang telah diuraikan, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1. Berdasarkan hasil penelitian dari awal hingga akhir dilihat dari hasil dan analisis wawancara peneliti dapat menyimpulkan bahwa letak-letak kesalahan siswa dalam pemecahan masalah soal cerita Persamaan Linear Satu Variabel ialah:
a. Memahami masalah, meliputi:
1. Tidak utuh dalam mengidentifikasi informasi yang diketahui . 2. Tidak tepat dalam mengidentifikasi hal yang ditanyakan atau
permasalahan dalam soal. b. Transformasi Masalah, meliputi:
1. Kesalahan dalam merencanakan penyelesaian
2. Tidak dapat membuat model matematis yang tepat dan memaknai variabel dengan benar.
c. Ketrampilan proses, meliputi :
1. Kesalahan dalam melakukan operasi hitung aljabar seperti operasi kurang menjadi operasi tambah.
2. Kurang memahami sifat-sifat kesetaraan persamaan linear satu variabel sehingga operasi hitungnya kurang tepat.
d. Penyelesaian masalah, meliputi : 1. Tidak membuat kesimpulan
2. Tidak tepat menemukan hasil akhir penyelesaian 3. Tidak tepat dalam menuliskan kesimpulan
4. Tidak mengecek kembali hasil pekerjaan.
2. Pemberian scaffolding dalam pemecahan masalah soal cerita pokok bahasan persamaan linear satu variabel, adalah sebagai berikut :
a. Scaffolding yang diberikan pada tahap pemahaman masalah yaitu : 1) Explaining :
Memfokuskan perhatian siswa pada soal dengan membacakan ulang soal.
Memberikan penekanan berintonasi pada kalimat yang memberikan informasi penting.
2) Restructuring :
Mengajukan pertanyaan arahan hingga siswa dapat menemukan semua informasi penting yang ada pada soal.
b. Scaffolding yang diberikan pada tahap transformasi masalah yaitu : 1) Reviewing :
Meminta siswa untuk membaca soal kembali dan memintanya untuk mengungkapkan informasi apa yang saja yang ia dapat.
Meminta siswa membaca apa yang diketahui dan ditanyakan dalam soal.
Mengajukan pertanyaan pada siswa untuk mengarahkan siswa pada kata kunci yang terdapat pada soal
Meminta siswa untuk mencermati variabel yang sudah ditentukan.
Membawa siswa ke situasi terkait yang telah siswa kenal.
Membawa siswa untuk mengingat kembali materi terkait yang telah dipelajari sebelumnya.
2) Restructuring :
Meminta siswa untuk mengungkapkan informasi apa yang saja yang ia dapat.
Mengarahkan siswa untuk mengidentifikasi dari apa yang diketahui.
Mengajukan pertanyaan pada siswa untuk mengarahkan siswa pada kata kunci yang terdapat pada soal
Mengarahkan siswa untuk membuat pemisalan.
Menyederhanakan sesuatu yang abstrak pada soal menjadi yang lebih diterima oleh siswa.
Mengarahkan siswa menghubungkan pemisalan yang sudah dibuat dan apa yang diketahui untuk membuat model matematika.
c. Scaffolding yang diberikan pada tahap ketrampilan proses yaitu : 1) Restructuring :
Melakukan tanya jawab untuk membawa siswa ke situasi terkait yang telah siswa kenal atau dipelajari sebelumnya.
2) Reviewing :
Meminta siswa untuk teliti dalam mengoprasikan bentuk-bentuk aljabar.
d. Scaffolding yang diberikan pada tahap penulisan jawaban yaitu : 1) Developing Conceptual Thinking :
Meminta siswa untuk menghubungkan jawaban yang diperoleh dengan apa yang ditanyakan dalam soal.
Meminta siswa untuk menghubungkan nilai variabel yang didapatkan dengan apa yang dimisalkan
Perlu diingat bahwa pada proses pemberian scaffolding ini tetap disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing siswa. B. Saran
1. Bagi Kepala Sekolah
Bagi kepala sekolah selaku pemimpin dan penanggung jawab jalannya pembelajaran di SMP Stella Duce 2 Yogyakarta ini. Diharapkan berkenan untuk mempertimbangkan hasil penelitian ini untuk dijadikan salah satu solusi dalam mencapai tujuan pembelajaran khususnya mata pelajaran matematika. Selain itu juga menjadi sarana memajukan kegiatan pembelajaran di sekolah.
2. Bagi Guru
Bagi guru mata pelajaran, khususnya mata pelajaran matematika. Diharapkan hasil penelitian ini dapat mejadi solusi untuk membantu siswa dalam mengahadapi kesulitan-kesulitan yang siswa hadapi dalam proses pembelajaran, kususnya pada materi persamaan linier satu variabel.
Sehingga dapat membantu guru sebagai pendidik untuk mencapi tujuan pembelajaran.
3. Bagi peneliti mendatang
Bagi peneliti yang berminat untuk melakukan penelitian yang sama ataupun pengembangan dari hasil penelitian ini. Diharapkan dapat lebih teliti dan kristis terhadap informasi-informasi dari subjek baik yang tersirat ataupun tersurat. Sehingga data yang diperoleh dapat lebih baik. Selain itu, akan lebih baik jika dilakukan pengembangan soal-soal tes pada level yang lebih tinggi dalam memaksimalkan tujuan dari scaffolding yang dikemukakan oleh Vygotsky. Semoga hasil penelitian ini dapat menjadi acuan ataupun kajian penunjang bagi penelitian di masa depan.
115
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, M., (2003), Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, Rineka Cipta, Jakarta.
Ali, Muhammad. 2004. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar, Bandung : Sinar Baru Algesindo.
Anghileri, J. 2006. Scaffolding Practice that Enhance Mathematics Learning. Journal
of Mathematics Teacher Education,Vol. 9, p.33-52.
Arikunto, S. 2013. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Chairani, Zahra. 2015. Scaffolding Dalam Pembelajaran Matematika. Diakses dari http://jurnal.stkipbjm.ac.id/index.php/math/article/view/12 [diakses pada tanggal 20 November 2017].
Cunayah, Cucun. 2005. Kompetensi Matematika untuk SMP/MTs. Kelas VII Semester
1 dan 2. Bandung: Yrama Widya.
Harmini dan Endang S. Winarni. 2012. Matematika untuk PGSD. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Hartini. 2008. Analisis Kesalahan Siswa Menyelesaikan Soal Cerita pada Kompetensi
Dasar Menemukan Sifat dan Menghitung Besaran-besaran Segi Empat Siswa Kelas VII Semester II SMP It Nur Hidayah Surakarta Tahun Pelajaran 2006/2007. Tesis. Surakarta: Program Pascasarjana Universitas Sebelas Maret.
Hudojo, H. (2005). Pengembangan Kurikulum Pembelajaran Matematika. Malang: UM Press.
Hudoyo, H. 2003. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika. Malang: FMIPA Universitas Negeri Malang.
Hudoyo, Herman. 1990. Mengajar Belajar Matematika. Malang: IKIP.
Jha, S. K. 2012. Mathematics Performance of Primary School Students in Assam (India): An Analysis Using Newman Procedure. International Journal of
Computer Applications in Engineering Sciences, Vol II.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 2014. Buku Guru Matematika SMP/MTS
Kelas VII Kurikulum 2013 Edisi Revisi 2014. Jakarta: Politeknik Negeri
Media Kreatif.
Machmud, Tedy. 2011. Scaffolding Strategy In Mathematics Learning. Proceeding
International Seminar and the Fourth National Conference on Mathematics Education. Yogyakarta: Yogyakarta State University. ISBN:
978-979-16353-7-0. Hal 429-440
Moleong, Lexy J. 2007. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
N cahyo, Agus. 2013. Panduan Aplikasi Teori-teori Belajar Mengajar Teraktual dan
Terpopuler. Jogjakarta: Diva Press.
Nasution. 2003. Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung : Tarsito.
Prakitipong, Natcha and Nakamura, Satoshi. (2006). “Analysis of Mathematics Performance of Grade Five Students in Thailand Using Newman Procedure”
CICE Hiroshima University, Journal of International Cooperation in Education, Vol.9, No.1, (2006) pp.111 122
Matematika.
Retno Dewi Tanjung, Edy Soedjoko, dan Mashuri. 2012. Diagnosis Kesulitan Belajar
Matematika SMP Pada Materi Persamaan Garis Lurus. Hal: 53. Unnes
Journal of Mathematics Education. Vol 1 No.1 Hal 52-57
Ruseffendi. 1994. Dasar-dasar Penelitian Pendidikan dan Bidang Non-Eksata
Lainnya. Semarang: IKIP Semarang Press.
Saleh, Haji. 1994. Diagnosis Kesulitan Siswa dalam Menyelesaikan Soal Cerita di
Kelas V SD Negeri Percobaan Surabaya. Tesis. PPs IKIP Surabaya.
Sardiman. 2007. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Setyosari, Punaji. 2010. Metode Penelitian Pendidikan dan Pengembangan. Jakarta: Kencana Prenada Group.Uno, Hamzah B. 2008. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.
Singh, P., Rahman, A.A., Sian Hoon, T. (2010). The Newman Procedure for Analyzing Primary Four Pupils Errors on Written Mathematical Task: A Malaysian Perspective. Procedia on International Conference on Mathematics
Education Research 2010 (ICMER 2010). Procedia Social and Behavioral
Sciences 8 (2010) 264-271. Shah Alam: University Technology MARA.
Sudjana. Nana. 2007. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Supiyani, Anik, dkk. Proses Berpikir Siswa Kelas IX-G SMP Negeri I Wlingi Dalam
Memecahkan Masalah Persamaan Garis Lurus dengan Scafolding. Makalah
Prosiding Konferensi Nasional Pendidikan Matematika, Malang 27-30 Juni 2013
Suyono dan Hariyanto. 2014. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Slavin, Robert E. 2009. Psikologi Pendidikan: Teori dan Praktik. Indonesia PT Macanan Jaya Cemerlang.
Tanzeh, Ahmad. Metodologi Penelitian Praktis, Teras, Yogyakarta, 2011), hal. 70-72.
Vygotsky, L.S. (1978). Mind in Society. Cambridge : Harvard University Press. Wena, Made. 2009. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer. Jakarta: Bumi
Aksara.
White, A. L. 2010. Numeracy, Literacy, and Newman’s Error Analysis. Journal of
Science and Mathematics Education in Southeast Asia, Vol.33 No.2,
LAMPIRAN
Lampiran A. 4 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (Review Materi)
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Nama Sekolah : SMP Stella Duce 2 Yogyakarta Mata Pelajaran : Matematika
Kelas/Semester : VII Gaharu
Materi Pokok : Persamaan Linear Satu Variabel (Review Materi) Alokasi Waktu : 2 x 40 menit
A. Kompetensi Inti
1. Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya
2. Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya 3. Memahami pengetahuan (faktual, konseptual, dan prosedural) berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya terkait fenomena dan kejadian tampak mata
4. Mencoba, mengolah, dan menyaji dalam ranah konkret (menggunakan, mengurai, merangkai, memodifikasi, dan membuat) dan ranah abstrak (menulis, membaca, menghitung, menggambar, dan mengarang) sesuai dengan yang dipelajari di sekolah dan sumber lain yang sama dalam sudut pandang/teori
B. Kompetensi Dasar dan Indikator
No Kompetensi Dasar Indikator
1. 1.1 Menghargai dan menghayati ajaran agama yang dianutnya
1.1.1 Bersemangat dalam mengikuti pembelajaran Matematika 1.1.2 Serius dalam mengikuti
pembelajaran matematika
2.
2.2 Memiliki rasa ingin tahu, percaya diri, dan ketertarikan pada matematika serta memiliki rasa percaya pada daya dan kegunaan matematika, yang terbentuk melalui pengalaman belajar
2.2.1 Suka bertanya selama proses pembelajaran
2.2.2 Suka mengamati sesuatu yang
berhubungan dengan
menemukan konsep persamaan linear satu variabel
2.2.3 Tidak menggantungkan diri pada orang lain dalam menyelesaikan masalah yang
berhubungan dengan
menemukan konsep persamaan linear satu variabel
2.2.4 Berani presentasi di depan kelas
3.
3.1 Menentukan nilai variabel dalam persamaan dan pertidaksamaan linear satu variabel
3.1.1 Memberi contoh konsep persamaan linear satu variabel dalam kehidupan sehari-hari 3.1.2 Menemukan konsep persamaan
linear satu variabel
model matematika dari masalah nyata yang berkaitan dengan persamaan linier satu variabel PLSV untuk menyelesaikan masalah. C. Tujuan Pembelajaran KI 1 dan KI 2 Siswa:
1.1.1.1 bersemangat dalam mengikuti pembelajaran Matematika 1.1.2.1 Serius dalam mengikuti pembelajaran Matematika 2.2.1.1 Suka bertanya selama proses pembelajaran
2.2.2.1 Suka mengamati sesuatu yang berhubungan dengan menemukan konsep persamaan linear satu variabel
2.2.3.1 Tidak menggantungkan diri pada orang lain dalam menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan menemukan konsep persamaan linear satu variabel
2.2.4.1 Berani presentasi di depan kelas
KI 3 dan KI 4
Setelah mengikuti serangkaian kegiatan pembelajaran, siswa dapat: 1. Menentukan nilai variabel dalam persamaan linear satu variabel
2. Menyelesaikan permasalahan nyata yang terkait dengan persamaan linear satu variabel
D. Materi Pembelajaran
c. Kalimat Tertutup atau Pernyataan Kalimat tertutup atau pernyataan adalah kalimat yang dapat dinyatakan benar saja atau salah saja atau tidak dua-duanya. Contoh:
Berapakah dua ditambah lima?; Ibu kota Indonesia adalah Jakarta; atau satu merupakan bilangan prima.
d. Kalimat Terbuka, Kalimat terbuka adalah kalimat yang belum dapat ditentukan nilai kebenarannya, karena memiliki unsur yang belum diketahui nilainya. Contoh: Dua dikurangi m adalah satu. Dalam matematika sesuatu yang belum diketahui nilainya dinamakan variabel atau peubah. Variabel atau adalah simbol/lambang yang mewakili sebarang anggota suatu himpunan semesta. Variabel biasanya disimbolkan dengan huruf kecil.
Contoh: “ 9 diukurangi suatu bilangan hasilnya 5 “, jika suatu bilangan diganti dengan x, maka kalimat itu dapat ditulis dalam simbol matematika yaitu : 9 – x = 5.
Kalimat terbuka yang menggunakan tanda penghubung “ = “ disebut persamaan. Jika variabel suatu persamaan memiliki pangkat bulat positif dan pangkat tertingginya adalah satu maka persamaan tersebut disebut persamaan linear. Persamaan linear yang hanya memuat satu variabel adalah persamaan linear satu variabel (PLSV). Bentuk umum dari persamaan linear satu variabel adalah :
ax+b = 0
2. Sifat-sifat Kesetaraan Persamaan Linear Satu Variabel
Penentuan penyelesaian persamaan linear satu variabel dapat dilakukan dengan sifat-sifat kesetaraan persamaan linear satu variabel berikut.
1) Jika masing-masing ruas kiri dan ruas kanan pada persamaan linear satu variabel dijumlahkan dengan bilangan yang sama, maka menghasilkan persamaan linear satu variabel yang setara.
2) Jika masing-masing ruas kiri dan ruas kanan pada persamaan linear satu variabel dikurangi dengan bilangan yang sama, maka menghasilkan persamaan linear satu variabel yang setara.
3) Jika masing-masing ruas kiri dan ruas kanan pada persamaan linear satu variabel dikalikan dengan bilangan yang sama, maka menghasilkan persamaan linear satu variabel yang setara.
4) Jika masing-masing ruas kiri dan ruas kanan pada persamaan linear satu variabel dibagi dengan bilangan yang sama dan bukan nol, maka menghasilkan persamaan linear satu variabel yang setara.
3. Membuat Model Matematika dan Menyelesaikan Masalah Sehari-hari yang berkaitan dengan Persamaan Linear Satu Variabel
Beberapa permasalahan dalam kehidupan sehari-hari dapat diselesaikan dengan perhitungan yang melibatkan persamaan linear satu variabel. Permasalahan sehari-hari tersebut biasanya disajikan dalam bentuk soal cerita. Langkah-langkah menyelesaikan soal cerita sebagai berikut:
4) Mengubah kalimat-kalimat pada soal cerita menjadi beberapa kalimat matematika (model matematika), sehingga membentuk persamaan linear satu variabel.
5) Menyelesaikan persamaan linear satu variabel yang dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut :
a. Buatlah diagram (sketsa), jika soal berhubungan dengan geometri. b. Misalkan besaran yang belum diketahui dengan sebuah variabel. c. Terjemahkan kalimat pada soal cerita menjadi model matematika
dalam bentuk persamaan.
d. Selesaikan persamaan yang diperoleh dengan informasi-informasi yang telah kamu ketahui pada materi sebelumnya.
6) Menggunakan penyelesaian yang diperoleh untuk menjawab pertanyaan pada soal cerita.
Contoh Masalah sehari-hari yang berkaitan dengan persamaan linear satu variabel :
Adit membeli kamera dengan harga Rp 1.600.000,00. Ia telah
membayar Rp
700.000,00 sedangkan kekurangannya diangsur sebanyak enam kali . jika tiap angsuran besarnya sama , berapa rupiah yang harus dibayar Adit tiap kali mengangsur ?
Memahami masalah Diketahui :
Harga kamera yang dibeli oleh Adit Rp 1.600.000,00.
Biaya yang sudah dibayar Adit Rp 700.000,00.
Kekurangan biaya diangsur sebanyak enam kali dan tiap angsuran besarnya sama.
Ditanya :
Berapa rupiah yang harus dibayar Adit tiap kali mengangsur ? Menuliskan model matematika : Kekurangan biaya yang harus diangsur Adit = 1.600.000 – 700.000 = 900.000.
Karena x adalah besar angsuran yang harus dibayar Adit dan kekurangan biaya diangsur sebanyak enam kali dengan tiap angsuran besarnya sama. Maka, didapat model matematika : 6x = 900.000
Menyelesaikan model : 6x = 900.000
x = 150.000
Menyelesaikan masalah :
E. Metode Pembelajaran
Tanya jawab dan Diskusi kelompok. F. Media Pembelajaran
1. Papan tulis 2. LKS
G. Sumber Belajar
Buku Siswa Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia 2014 SMP Kelas VII Semester 2
H. Langkah-langkah Pembelajaran a. Pendahuluan (10 menit)
1. Guru mengucapkan salam, memimpin doa, mengecek kehadiran, dan menyiapkan siswa untuk siap menerima pelajaran
2. Siswa mendengarkan cerita dan menanggapi cerita tentang manfaat belajar menemukan konsep persamaan linear satu variabel dalam kehidupan sehari-hari
3. Siswa menyimak tujuan pembelajaran dan hasil belajar yang diharapkan akan dicapai dalam pertemuan
4. Siswa menyimak informasi tentang cara belajar yang akan ditempuh 5. Guru mengecek kemampuan prasyarat siswa dengan tanya jawab
b. Kegiatan Inti (60 menit) 1. Mengamati
Secara klasikal siswa mengamati dan mencermati contoh permasalahan yang berhubungan dengan menemukan konsep persamaan linear satu
harus dibayar oleh Adit adalah Rp. 150.000,00 .
variabel, sifat-sifat Kesetaraan Persamaan Linear Satu Variabel, dan menyelesaikan masalah sehari-hari yang berkaitan dengan Persamaan Linear Satu Variabel
2. Menanya
Siswa didorong untuk mengajukan pertanyaan terkait hal-hal yang diamati atau dicermati. Siswa mengembangkan sikap ingin tahu
3. Mengumpulkan data atau informasi
Siswa mengerjakan latihan soal yang terkait dengan pertanyaan-pertanyaan pada contoh permasalahan yang diberikan.
4. Mengasosiasikan/menganalisa data atau informasi
Melalui diskusi kegiatan diskusi, siswa menganalisis, menalar, menyimpulkan informasi yang telah diperoleh dalam rangka memahami cara menyelesaikan masalah sehari-hari yang berkaitan dengan Persamaan Linear Satu Variabel. Siswa mengembangkan sikap tanggung jawab 5. Mengkomunikasikan
a. Secara klasikal, salah satu siswa mengkomunikasikan pemahamannya dengan menggunakan bahasa sendiri tentang konsep persamaan linear satu variabel, sifat-sifat kesetaraan persamaan linear satu variabel, dan penyelesaian masalah sehari-hari yang berkaitan dengan persamaan linear satu variabel. Siswa mengembangkan sikap ingin tahu
b. Siswa yang lain memberikan tanggapan atas presentasi yang disajikan dengan cara bertanya, mengkonfirmasi, melengkapi informasi ataupun tanggapan lainnya
c. Guru memberi umpan balik atau konfirmasi 6. Penguatan
a. Secara individu siswa dilatih menyelesaikan soal Latihan yang diberikan guru di papan tulis. Siswa mengembangkan sikap tanggung jawab
b. Salah satu siswa mempresentasikan hasil latihan soal
c. Siswa lain memberikan tanggapan atas presentasi yang disampaikan dengan cara bertanya jawab, mengkonfirmasi, melengkapi informasi, ataupun tanggapan lainnya. Siswa mengembangkan sikap ketertarikan d. Guru memberi umpan balik atau konfirmasi
c. Penutup (10 menit)
Secara klasikal dan melalui tanya jawab, siswa dibimbing untuk memberikan kesimpulan mengenai konsep persamaan linear satu variabel serta bentuk ekuivalen persamaan linear satu variabel.
I. Pengamatan / Observasi
No Aspek yang diamati Teknik Waktu Penilaian
1. Sikap ingin tahu Pengamatan Kegiatan inti dan penutup 2. Sikap ketertarikan Pengamatan Kegiatan inti dan penutup 3. Pengetahuan:
Kemampuan menyelesaikan permasalahan sehari-hari yang berkaitan dengan persamaan linear satu variabel
Memberikan soal latihan
LEMBAR KERJA SISWA Ayo coba pecahkan permasalahan berikut :
KUNCI JAWABAN
Penyelesaian Skor
Memaknai kata, simbol atau istilah dalam soal : Misalkan usia Arin : y
Menunjukan dan menuliskan unsur yang diketahui dan ditanya : Diketahui :
Usia ayah 29 tahun lebih tua dari usia Arin. Maka usia ayah = y+29
Usia Arin ditambah dengan usia ayah = 55 tahun. Ditanya :
Berapa usia Arin sekarang …?
2
Menuliskan model matematika :
Usia ayah 29 tahun lebih tua dari usia Arin. Maka usia ayah = y+29
Usia Arin ditambah dengan usia ayah = 55 tahun. Maka, y + (y+29)=55
2 Setiap Minggu pagi Arin bersama ayahnya mengikuti senam pagi di halaman balai kota Wonosobo. Suatu ketika instruktur senam mereka menanyakan usia Arin. Bukannya langsung menjawab, Arin malah meminta instruktur senam tersebut menebak usianya. Arin menjelaskan bahwa usia ayahnya ketika Arin lahir adalah 29 tahun, dan saat ini ketika usia Arin dan usia ayahnya dijumlahkan didapat 55 tahun. Berapakah usia Arin saat ini?
Mengetahui
Dosen Pembimbing Guru Mata Pelajaran
NIP/NPP NIP/NPP Menyelesaikan model : y + (y+29) = 55 2y+29 = 55 2y+29-29 = 55-29 2y = 26 y = 13 4 Menyelesaikan masalah :
Jadi, usia Arin sekarang adalah 13 tahun.
2
Lampiran A. 5 Rubrik Penilaian Tes Soal Cerita
ANALISIS JAWABAN SOAL TES UTAMA
Kompetensi Dasar : 4.2 Membuat dan menyelesaikan model Matematika dari masalah nyata yang berkaitan dengan persamaan linear satu variabel.
Indikator : 4.2.1 Dapat menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari yang terkait persamaan linear satu variabel.
No Soal Prosedur
Newman
Penyelesaian Rubrik Skor
1 Ade ingin membuat sebuah kolam ikan yang berbentuk balok tanpa tutup dengan lebar alas kolam 3 meter kurang dari panjangnya. Jika keliling bagian alas dari kolam tersebut 34 m. Tentukan panjang Membaca masalah (Reading) Memahami masalah (Comprehension)
Memaknai kata, simbol atau istilah dalam soal :
Misalkan panjang permukaan alas kolam = p
Menunjukan dan menuliskan unsur yang diketahui dan ditanya :
Diketahui :
lebar kolam 3 meter kurang dari panjangnya dan
keliling kolam 34 m.
1. Tidak memaknai kata, istilah atau simbol dalam soal.
2. Hanya memaknai sebagian kata, istilah atau simbol dalam soal yang dibaca. 3. Memaknai sebagian
kata, istilah atau simbol dalam soal yang dibaca secara keseluruhan.
4. Memaknai dengan baik kata, istilah atau simbol dalam soal
alas kolam ikan yang akan dibuat Ade!
Ditanya : Panjang alas kolam ikan yang harus dibuat Pak Adi adalah...?
yang dibaca secara keseluruhan.
5. Tidak menuliskan apa yang diketahui dan ditanyakan pada soal. 6. Hanya menuliskan apa yang diketahui saja atau apa yang ditanyakan saja. 7. Kurang
lengkap/sesuai dalam menuliskan apa yang diketahui dan ditanyakan pada soal. 8. Sudah lengkap, sesuai dan terperinci dalam menuliskan apa yang diketahui
Transformasi Masalah
(Transformation)
Menuliskan model matematika :
Karena lebar kolam 3 meter kurang dari panjangnya serta keliling permukaan alas kolam 34 m, dan rumus untuk keliling adalah
1. Tidak menuliskan model matematika sama sekali.
2. Masih salah dalam menulis semua model
matematikanya.
2(p + l), maka model matematikanya adalah : 2(p + (p – 3 )) = 34 3. Ada beberapa kesalahan dalam membuat model matematika baik dalam penulisan maupun pemilihan operasi hitungnya. 4. Model matematika
yang dituliskan sudah benar baik dalam penulisan maupun pemilihan operasi hitungnya. Ketrampilan Proses/Prosedur (Process Skill) Menyelesaikan model : 2(p + (p – 3 )) = 34 2(p + p – 3 )) = 34 2(2p– 3 ) = 34 (4p– 6 ) = 34 4p– 6 + 6 = 34 +6 4p = 40 p= 10 1. Tidak menyelesaikan model matematika sama sekali. 2. Cara penyelesaian model matematika yang digunakan masih salah atau tidak sesuai dengan permasalahan. 3. Cara penyelesaian
model matematika yang digunakan sudah benar dan
sesuai dengan permasalahan, tetapi terdapat kesalahan dalam proses perhitungan. 4. Cara penyelesaian model matematika yang digunakan sudah benar dan sesuai dengan permasalahan, serta sudah benar dalam proses perhitungan.
Penulisan Jawaban (Encoding)
Menyelesaikan masalah :
Jadi, panjang alas permukaan kolam yang akan dibuat adalah 10 meter.
1. Tidak menuliskan kesimpulan jawaban